Wager

wager

Title: Wager

Main Cast: Krystal F(x) | Myungsoo Infinite

Supporting Cast: OC

Genre: Friendship, Romance, Action, Adult, Violence

Duration: Oneshoot

Scriptwriter: Mizuky (@qy_zu)

Rating: PG-15!

Summary: Semuanya berawal dari sebuah judi. Bukan sembarang judi biasa. Melainkan ini berhubungan dengan judi nyawa.

 

Ketika kau menatap mataku, percayalah kau akan terjebak selamanya di dalamnya.

Karena mataku adalah sihir. Dan kau adalah korban utamaku, Jung Soojung.

 

.

.

.

Tik.. tik.. tik..

Raungan tetesan air terdengar jelas di tempat itu. Tempat yang sangat lembab. Lorong-lorong saluran air mengalir. Hanya ada sedikit celah dari luar yang masuk melalui tralis besi.

“Kau baik-baik saja?”

“Jangan cemaskan aku! Bagaimana dengan luka di tanganmu?”

“Tenang saja aku ini wanita kuat. Luka ini kecil bagiku.”

Sang pria tersenyum kecil mendengarnya. Ya, dia tahu kalau wanita itu kuat.

“Apa mereka sudah pergi?” tanya si pria.

Wanita itu kemudian berjengit sedikit, mengintip melalu celah untuk melihat kondisi di luar. Kedua ujung bibirnya tertarik begitu dia melihat beberapa polisi berlari melewatinya.

“Aman,” serunya.

“Sepertinya kita akan kaya beberapa minggu ini.”

Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. “Kita bisa membeli beef steak, chicken flavour, salassa steak, beef stealu..”

“Tenang saja, semua makanan yang kau sebutkan tadi bisa kita beli semuanya. Dengan uang 800 juta dollar ini, kita akan kaya selama beberapa minggu.”

Sang wanita terkekeh. “Kau benar, Myungsoo. Cepat kita kembali. Dongwoo dan Hyorim pasti sudah menunggu kita.”

“Ayo, Krystal!”

Kemudian mereka berdua membungkuk rendah sambil melangkah dari tempat semula. Mereka berjalan sepelan mungkin supaya tidak menimbulkan suara. Menyusuri tiap jalan disepanjang lorong-lorong pembuangan air yang tentu sepanjang sisi air mengalir menemani mereka.

.

.

Suatu Hari..

 

“Hap. Yes!”

Myungsoo berhasil dengan mulus melakukan skate jump. Decak kagum pun tak urung terdengar jua. Bahkan, ada yang sampai bertepuk tangan dengan antusias.

“Seperti biasa, kau selalu hebat, Myungsoo!”

Sang empunya nama hanya tersenyum saja dipuji seperti itu. Ah, itu sudah biasa. Dia memang ahli di bidang skateboard dan juga di bidang kriminal tentunya.

“Lain kali berusahalah yang giat agar kalian bisa mengalahkanku.”

“Ah, aku sudah berusaha kuat. Tidak lihat luka di lenganku ini? Kau itu yang terlalu hebat, Hyung,” gerutu salah seorang temannya.

Myungsoo lagi-lagi hanya tersenyum, yang menyebabkan kedua matanya tenggelam di balik kedua pipinya. Tangannya bergerak untuk menepuk pundak temannya. Memberikan semangat tak ada salahnya bukan?

“Haha. Ya, mungkin aku yang terlalu hebat. Haha.”

Tak ayal sebuah pukulan di pundak ia dapatkan.

“Hei, ngomong-ngomong kalian sudah dengar berita ini belum?”

Ucapan Dongwoo menarik perhatian Myungsoo. Dengan sebuah botol di tangannya, Myungsoo segera memasang telinganya segesit mungkin untuk mendengarkan seksama apa yang akan diceritakan oleh sahabatnya itu.

“Kalian lihat bangunan itu?” tunjuknya yang mengarah kepada sebuah bangunan yang berdiri megah diantara ribuan rumah kumuh lainnya.

“Ya, memangnya ada apa?”

“Tapi, ini aneh. Bukankah pendiri bangunan itu sudah di protes oleh warga?” tanya Jikyung.

“Yah, apa menurutmu perkataan rakyat kecil selalu di dengar? Tidak pernah kan? Lagipula sepertinya pendiri bangunan itu memberi uang pemulus kepada pemerintah. Lihat saja surat teguran tak pernah datang lagi dan tidak ada pegawai pemerintah yang datang ke sana bukan?” ungkap Dongwoo panjang lebar. Kelima lelaki itu hanya mengangguk serempak, minus Myungsoo tentunya. Pemuda itu sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Park Jae Hee.. kau tak jera rupanya. Sudah kuberi surat ancaman, tapi kau tetap nekat. Baiklah, mari kita lihat apa yang akan kulakukan padamu.

“Lalu, bagaimana? Aku dengar, rumah-rumah di sebelahnya akan digusur.”

Dongwoo mengangguk. “Iya, kudengar sih begitu. Tapi, aku merasa kasihan saja.”

Semuanya langsung terdiam. “Hei, sudah sore. Kita pulang, yuk. Aku lelah.” keluh Jikyung.

Yang lain hanya mengangguk serempak. Mereka semua lalu saling membereskan barang mereka masing-masing.

“Hei, Myungsoo. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu.” ujar Dongwoo dengan memicingkan matanya, menatap Myungsoo dengan sejuta rasa penasaran.

“Hm, menurutmu?”

Tangannya bergerak untuk memasukkan handuk kecil.

“Ayo, beritahu aku!” pintanya dengan menunjukkan wajah aegyo buruknya. Hm..

Myungsoo kemudian menegakkan tangannya dengan papan skateboard berada di genggamannya.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Iya..iya.. aku janji tidak akan katakan kepada siapapun.”

Mata Dongwoo berusaha untuk terlihat tajam, setajam tatapan milik Myungsoo. Setidaknya dia ingin menunjukkan keseriusannya.

“Aku berencana untuk mengajak Krystal taruhan. Dia pasti sangat bosan saat ini. Kau tahu kan gadis itu pecinta misteri dan hal semacam ini. Dia pasti mau melakukannya,” jelas Myungsoo. Tersimpan suatu arti yang mengerikan di balik dua iris kelas itu. Mulutnya menyeringai, menganggap taruhan yang akan ia lakukan itu menarik. Sedang Dongwoo hanya terbengong saja, tak mengerti.

“Taruhan? Maksudmu? Taruhan apa?”

Tangan Myungsoo bergerak untuk mengambil sesuatu di celana pendeknya.

“Kau tahu apa ini?”

Dia mengacungkan sebuah microchip, hampir mirip seperti chip kebanyakan pada kartu memory atau flashdisk.

Chip? Ada apa dengan benda itu?” Dongwoo semakin bingung rupanya. Terlihat dengan bertambahnya kerut-kerut di sekitar dahi.

“Ini chip berisi mengenai kejahatan terselubung dari Park Jae Hee, pemilik bangunan itu. Aku dengar hari ini dia sedang melakukan suatu transaksi gelap dengan seseorang di Hotel Kamayama.” Myungsoo berhenti sebentar untuk menambah rasa penasaran di diri Dongwoo. Dia suka ini. Permainan tebak ayo tebak. Perang psychology.

“Lalu? Tapi, tunggu sebentar! Aku mencium sesuatu yang buruk disini.”

Myungsoo tertawa kecil melihat ekspresi Dongwoo. Ya, permainan yang dianggap mengerikan oleh sahabatnya ini, justru permainan yang paling menarik bagi dirinya.

Saat kau terdesak oleh musuh, diambang kritis, kau harus bisa mengoptimalkan kerja otakmu seribu kali lebih cepat dari musuh. Atau kau harus bersiap melihat sisi lain dari dunia.

Bukankah itu sangat menarik? Atau.. gila?

“Tentu saja setiap transaksi selalu membawa uang bukan? Aku hanya akan bertaruh pada Krystal tentang itu saja. Jika Krystal bisa mendapatkan uang itu, maka aku akan menuruti semua permintannya selama satu minggu. Tetapi, jika dia gagal, dia harus menuruti semua permintaanku.”

Wa-wa-wa, kau gila! Kau menyuruh Krystal untuk mengambil uang itu?! Kau gila, Myungsoo?! Pasti di sekitar pria itu ada banyak bodyguard! Bisa-bisa bukan Krystal yang akan datang ke kita, melainkan hanya namanya saja yang akan kita dengar. Kau gila!” seru Dongwoon.

“Kau lupa kalau Krystal sejenisku? Psychopath! Dia pasti langsung menyutujui taruhan ini.”

“Iya, tapi kau gila!” rupanya Dongwoo masih saja bersikeras untuk menolak rencana gila milik Myungsoo.

“Tenang saja. Gadis itu pasti akan baik-baik saja. Ayo, kita pulang. Mereka meninggalkan kita.”

Mereka lalu melangkah pulang. Myungsoo selalu terlihat tenang. Berpikiran ke depan. Orang yang kritis dan cepat tanggap.

Setidaknya itulah yang dikenal Dongwoo dari sosok Myungsoo selama ini. Mereka memang selalu menghadapi berbagai kasus. Dan inilah yang ia benci dari mereka. Ketika mereka mengungkapkan sebuah rencana gila -baginya-, Dongwoo selalu merasa cemas. Tentu saja karena dia menyayangi keduanya.

Myungsoo bodoh! Sebenarnya apa sih yang dipikirkannya hingga ia berani menempatkan Krystal sebagai umpan?! Benar-benar bodoh!

Air yang terlihat tenang di permukannya, kita tak pernah tahu apa yang ada di dalamnya. Apakah air itu jernih atau malah sebaliknya.

Walau dia bersikap tenang, namun yakinlah di pikirannya kini ia sedang memikirkan semuanya.

Tentang taruhan itu. Tentang rencananya .

Aku yakin kalau Krystal pasti akan selamat. Tapi, bagaimana kalau gadis itu terluka? Aku tidak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai gadis itu terluka!

Tapi, kalau bukan Krystal siapa lagi? Aku juga harus menyebarkan isi dari chip ini. Lalu, siapa yang akan menolong Krystal kalau aku sibuk dengan chip ini? Dongwoo? Tidak mungkin! Dia itu buta teknologi. Bisa-bisa chip ini hancur di tangannya.

Tunggu! Sebarkan saja melalui dunia maya! Ah, benar. Sekali saja berita itu terekspos, tamatlah riwayatmu!

Sekali Myungsoo sudah menetapkan mangsanya, tak akan ada yang bisa melepaskan rusa malang itu.

.

.

“Satu bintang. Dua bintang. Tiga bintang. Empat bintang..”

Krystal sedang menghabiskan waktu luangnya dengan menghitung bintang-bintang di angkasa. Sungguh, mukanya tidak mencerminkan semangat untuk hidup. Kentara sekali bahwa dia benar-benar bosan saat ini.

“Hei, kenapa kau?”

Krystal yang sedang melamun tentu saja melonjak kaget seiring ditemuinya sebuah suara dalam yang menegurnya.

“Aku bosan,” ujarnya. Pandangannya kembali ke arah angkasa. Jemarinya kembali terangkat untuk menghitung tiap bintang di angkasa sana.

“Hei, aku memiliki sebuah mainan seru,” ujar Myungsoo yang sudah duduk di samping Krystal.

“Mainan? Apa?”

“Iya, mainan seru. Lebih seru dari menghitung bintang.”

Krystal merasa tertarik. Untuk itulah ia segera menatap Myungsoo dengan binar mata antusias di kedua kelereng indah itu.

“Iya, ayo jelaskan padaku. Aku penasaran.” tangannya menggenggam erat kedua tangan dingin Myungsoo.

Myungsoo tersenyum. Rencana pertamanya berjalan mulus.

“Kau tahu bangunan yang disana itu? Yang menjulang tinggi disana.” jari telunjuknya mengacung ke arah bangunan yang sore tadi ia bicarakan bersama Dongwoo.

“Memangnya ada apa? Bukannya kau sudah mengirimkan ultimatum kepada pemiliknya?”

“Kau tahu kan surat kecil seperti itu tak akan mempan. Bagaimana kalau kita bertaruh tentangnya?”

“Maksudmu?”

“Kau penasaran?”

Tak perlu dipertanyakan lagi oleh Myungsoo, kini Krystal benar-benar diambang batas rasa penasaran.

“Aku sangat sangat penasaran, kau tahu. Ayolah cepat ceritakan padaku! Aku bisa-bisa mati penasaran karenamu!”

Myungsoo tersenyum, bukan jenis senyuman yang indah. Dan, tentu saja senyumannya mengandung suatu arti terdalam.

“Mari ikut aku.”

.

.

@Night Club..

 

“Untuk apa kau mengajakku kesini? Jangan bilang kalau taruhanmu siapa yang terkuat untuk minum?” ujar Soojung. Matanya menyipit tajam menatap Myungsoo.

“Bodoh! Terakhir kali kau mabuk, kau menyusahkanku! Bahkan kau mengotori baju favoritku dengan muntahanmu yang menjijikan itu..”

Tapi, aku bersyukur kau mabuk, Krystal. Karena sekali saja dalam hidupku, aku ingin memberikan sebuah tanda bahwa kau milikku di bibirmu.

Krystal bermuka masam ketika Myungsoo mengingatkannya akan hal memalukan itu.

“Sudah kubilang kan, lupakan saja kejadian itu! Jangan diingat lagi!” sungutnya.

Myungsoo terkekeh pelan, mendapati raut wajah yang sangat manis dari Krystal.

Ah, dia selalu suka tiap detil wajahnya. Masihkah dia akan melihat kulit mulus Krystal? Tanpa ada luka disana?

Tidak! Dia harus memastikan tidak. Tak akan dibiarkannya kulit indah Krystal terluka. Meski hanya secuil.

“Lalu, apa taruhan itu?”

“Kau lihat pria tua itu? Pria tua yang sedang mencium leher seorang slut.”

Krystal secara otomatis mengikuti arah pandang Myungsoo. Dia bergidik ngeri tatkala mendapati seseorang yang tengah memegang bottom milik salah seorang slut yang berkerumun di dekatnya.

“Kau menantangku untuk membunuhnya? Dengan senang hati aku akan membunuhnya,” serunya.

“Haha, tidak.. tidak. Jangan kau kotori tanganmu hanya untuk mencabut nyawa orang laknat itu. Aku mendapatkan info bahwa besok orang tua itu akan melakukan suatu transaksi dengan seseorang di Hotel Kamayama. Kau cukup ambil saja uangnya. Mengerti? Hanya mengambil uang. Tak membunuh siapapun. Aku memiliki rencana lain untuk menjatuhkannya. Setidaknya dia harus merasakan sedikit penderitaan sebelum akhirnya meninggal,” ujar Myungsoo.

“Jadi, taruhannya adalah aku akan mengambil uang itu?” tanya Krystal.

Myungsoo mengangguk. “Cukup mengambil uang, tanpa terluka. Jadi, ketika kau membawa uang, usahakan tubuhmu tanpa lecet sedikitpun. Kalaupun kau berhasil membawa uang itu, tapi kau terluka, maka itu akan dihitung gagal.”

“Lalu, apa hadiahnya?”

“Kalau kau menang, aku akan menjadi pesuruhmu selama satu minggu. Namun, jika kau kalah dan tak bisa menyelesaikan taruhan, kau harus melakukan perintahku.”

“Lalu, apa perintahmu?” tanyanya. Krystal menjetikkan jarinya bermaksud untuk memanggil bartender. “Bourbon satu.” Bartender itu mengangguk, lalu dia mengambil sebuah botol dari rak.

“Rahasia. Kau tidak perlu tahu sekarang.”

“Oh, ingin bermain kuis denganku rupanya.”

Myungsoo tersenyum. “Wine satu.” Bartender itu kembali mengangguk.

“Lalu, bagaimana dengan rencanamu mengenai pria tua itu?”

“Aku sudah mengumpulkan beberapa kejahatan yang pernah ia lakukan. Lalu, aku akan menyebarkannya ke seluruh penjuru Korea. Kau pasti tahu kan reputasinya sebagai orang baik di Korea, akan hancur sekejap mata. Polisi juga pasti akan menindaklanjuti.”

“Kau licik, Myungsoo.”

Myungsoo tersenyum tipis.

“Kapan taruhannya akan dimulai?”

“Besok malam. Sekitar pukul 8 malam. Kau juga akan kuberi tahu rute mana saja yang harus kau lewati.”

“Tuan, Nona, ini minuman anda.” Sang Bartender lalu menaruh dua gelas yang sudah berisi dan dua botol minuman beralkohol.

“Mari kita bersulang.”

Cheers.”

.

.

Next Night..

Basement Parking Area.

 

“Kau sudah paham?” Krystal mengangguk.

“Nah, mereka sudah datang. Selamat berjuang.”

Sebelum pergi, Myungsoo menepuk sebelah pundak Krystal. Tak perlu diragukan, ada perasaan berat di hatinya.

 

===

 

“Satu, dua tiga, total ada enam bodyguard. Dua belakang, depan dan samping. Dan uangnya..” mata tajamnya tak hentinya berhenti untuk mengikuti tiap gerakan mafia tersebut.

“Ah itu dia!”

Seorang lagi yang berbadan kekar membawa sebuah tas besar yang berisi uang. Pria itu lalu berjalan di samping Park Jae Hee.

Tak luput, dia juga memandangi lokasi sasarannya. Tempat yang luas, dengan tiang yang berjarak berjauhan. Dia juga sudah menempatkan mobilnya di dekat tempat itu.

“Tunggu, kacamata mereka itu. Total ada tiga orang yang memakai kacamata. Semoga bukan night vision.”

Dia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.

“Baiklah, pertunjukkan akan segera dimulai.”

Krystal kemudian melemparkan sebuah koin ke arah mereka.

“Tring..” bunyi dentang koin yang menggema rupanya berhasil mengacaukan mereka. Dengan sekali percepatan, mereka langsung mengumpul, melindungi Sang Tuan.

“Siapa disana?!” teriak salah seorang bodyguard yang paling depan.

Krystal hanya diam. Dia berdiri bersembunyi di balik tiang.

“Ah, hanya sebuah koin bos,” ujar salah satu bodyguard yang memakai setelan jas dengan kacamata hitam.

“Huh, menyusahkah saja! Cepat kita pergi! Kita sudah terlambat. Aku tidak ingin perjanjian penting ini di batalkan,” ujar Sang Bos.

Lalu, kawanan itu bergerak kembali.

Krystal tersenyum. Rupanya dia sudah memakai penutup wajahnya. Gadis itu kembali melemparkan sebuah benda yang berbentuk seperti bola kecil, mirip bola baseball. Terbuat dari logam.

Syut.. duaaarrr..

Ketika bola itu terkena lantai, kepulan asap mulai terlihat keluar. Asap putih yang pekat, sangat menganggu pemandangan dan juga pernapasan.

“Uhuk-uhuk.. kalian dimana?”

“Kami disini bos.”

“Sialan! Lindungi aku dan uangnya!”

“Tapi, kami tak bisa melihatmu bos.”

Sepertinya mereka mulai panik tatkala suara pukulan dan erangan muncul satu persatu.

 

Duagh!

 

“Arghh..”

Satu orang terkapar. Tiga orang.  Tidak, ada empat orang.

Baik sepertinya Krystal sudah mendapatkan barang incarannya. Dia kemudian berlari menuju mobilnya.

“Hei, wanita itu mengambil uangnya! Cepat kejar dia! Shit!” maki orang tua itu.

Dengan sigap bodyguard yang masih tersisa menyusul Krystal dengan mobil. Balap-balapan mobil pun tak dapat terelakkan.

Jae Hee menghubungi anak buahnya yang lain. “Hei, kalian cepat kejar mobil berwarna merah!”

“Sialan! Kalau begini, bisa-bisa aku akan celaka.”

.

.

Krystal melirik kaca spionnya.

“Sepertinya pak tua itu menghubungi anak buahnya yang lain.”

Dia melihat ada 4 mobil silver yang mengejarnya.

Sesekali Krystal melegokkan mobilnya ke arah kanan atau kiri untuk menghindari lalu lintas.

“Daerah selanjutnya adalah Carribean Boy.”

Dia kemudian mengambil arah kanan, menuju pusat perbelanjaan terbesar di Kota Seoul.

Empat mobil tadi juga ikut mengejarnya.

Krystal kemudian menghentikkan mobilnya di suatu gang sempit yang lembab, kotor dan hitam. Gang yang jarang dilewati orang.

“Ini terlalu mudah. Aku ingin bermain-main dengan orang-orang bodoh itu.”

Alhasil dia melangkah keluar. Penutup wajahnya pun sudah ia lepas. Kini, Krystal melenggang bebas diantara ribuan para pejalan kaki.

Matanya tak luput dari sekawanan orang yang tak lain adalah bodyguard dari Park Jae Hee.

“Kalian tidak menyadariku? Dasar bodoh! Myungsoo bersiaplah untuk menjadi pembantuku.”

Sial bukan kepalang! Salah satu diantara mereka melihat Krystal. Sepertinya, dia yang paling menyadari keberadaan Krystal.

“Gadis itu. Ya, gadis itu. Hei, kalian semua dia yang menyerang kita! Kejar dia!” serunya sambil menunjuk Krystal.

“O-ow.”

Krystal segera berlari menjauhi mereka. Melewati beberapa kerumunan orang-orang. Dia tak peduli bahunya kerap bertubrukan dengan orang lain. Dia terus berlari, berlari, dan berlari.

Ketika sampai di sebuah tikungan, dia mengambil arah kanan. Dia sudah mulai lupa jalur yang ditunjukan oleh Myungsoo. Sebisa mungkin dia menyelamatkan nyawanya.

Kawanan orang kekar-kekar itu semakin memperpendek jaraknya dengan Krystal.

Shit!” maki Krystal ketika dia terpojok di sebuah dinding berkawat.

Drap..drap..drap..

Langkah kaki mereka semakin terdengar membuat Krystal mengharuskan memutar otaknya seribu kali lebih cepat.

Dia kemudian memutuskan untuk menaiki dinding kawat itu.

Hap.. hap.. hap..

Dengan gerakan yang lincah ia melewati tiap kawat itu. Krystal berlari kembali. Kini, jantungnya sudah mulai protes diperlakukan kasar oleh Sang Pemilik. Namun, Krystal tak menghiraukannya. Dia terus berlari, berlari, dan berlari.

“Hei, itu dia! Sial!”

“Lewat sana!”

Orang-orang itu kemudian mengambil arah kanan. Krystal terus berlari melewati beberapa rumah-rumah kecil.

Tepat di percabangan, orang-orang itu membagi ke dalam dua kelompok. Satu ke arah kanan, sedang yang lainnya ke arah berlawanan.

Yah, mungkin sang dewi sial sedang berpihak pada Krystal. Dia terpojok oleh orang-orang itu. Jumlahnya sedikit, hanya empat. Tetapi, mengingat betapa kekarnya otot yang mereka punya, jika ia tak waspada, mungkin embel-embel almarhum akan segera melekat di depan namanya.

Krystal bersikap waspada. Dia tahu, masing-masing menyimpan dua pistol di saku kanan mereka.

“Cepat serahkan uangnya!”

“Tidak akan.”

“Hei, anak kecil! Kau tahu apa yang bisa kami perbuat untukmu? Kau itu masih kecil, sekali pukul langsung mati.”

Krystal tertawa. Lecehan seperti itu sudah berulangkali didengarnya ketika dia dalam kondisi seperti ini.

“Kau pernah mendengar istilah untuk tidak meremehkan hal-hal kecil?”

Dengan sekali gerak cepat, Krystal memukul bagian vital laki-laki yang mencemoohnya itu. Dia lantas memukul di bagian titik syaraf untuk melumpuhkan laki-laki itu.

Bugh!

Yah, laki-laki berbadan kekar itu segera tersungkur di tanah tak berdaya. Krystal sudah memukul tepat di titik pusat peredaran darah. Jadi, sementara peredaran darah milik pria itu akan terhenti sesaat, dan menyebabkannya pingsan.

“1 go, 3 left.

Dor..dor..dor..

Suara tembakan pistol secara beruntun terdengar menggaung di lorong sempit itu.

Untung saja Krystal berhasil menghindar ke arah kanan. Seperti tadi, dengan tubuh lincahnya ia segera menendang perut laki-laki itu. Dan, kena!

Spontan laki-laki itu mundur ke belakang dengan tangan yang memegangi perutnya. Satu lainnya membantunya berdiri. Sedang yang satu kini sedang berhadapan dengan Krystal.

Laki-laki yang tak berkacamata itu mengeluarkan pisaunya.

“Cih, kalian mau main senjata rupanya. Ini tak adil! Tiga orang laki-laki melawan satu perempuan lemah? Kalian pengecut!” ejeknya.

“Kami tak akan termakan umpanmu.”

Drap..drap..

Dia berlari maju untuk menerjang Krystal. Diarahkannya pisau ke arah kanan, dan Krystal berhasil menghindar. Dia kini berada di belakang si pria. Dengan bertumpu pada kakinya, dia menendang pria itu keras-keras yang menyebabkannya jatuh tersungkur.

Dor..dor..dor..

Kedua pria itu kembali memberi Krystal rentetan peluru, menyebabkan gadis itu sulit untuk menghindar mengingat betapa sempitnya gang itu.

Disaat fokusnya terbagi..

Sreet..

Pria yang jatuh itu menerjang Krystal ke arah belakang dengan mengacungkan pisaunya. Dengan insting yang cepat dan sudah terlatih, Krystal bergerak ke arah kiri. Dia bisa selamat dari tajamnya pisau itu. Namun, lengannya harus menjadi korban. Luka menganga dengan berhiaskan darah segar terlihat jelas di lengannya. Sungguh perih bukan main.

Shit!”

Dor..dor..dor..

Krystal segera meraih tubuh pria yang tadi melukainya. Dijadikan tubuh pria itu sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari rentetan peluru. Alhasi, peluru-peluru itu kini bersarang di tubuhnya. Sudah pasti pria itu ambruk dengan nyawa yang sudah tercabut dari raga.

“2 go, 2 left.

“Sial pelurunya habis!”

Krystal sudah tak fokus sekarang. Bayangannya sedikit buram. Rasa sakit di lengan ternyata memberikan efek dahsyat bagi dirinya. Perih, ketika luka itu bersentuhan dengan keringat yang sudah memenuhi pori-pori kulitnya.

Ayo, segera akhiri ini.

Krystal bergerak maju. Dia segera memukul wajah pria pendek itu. Darah segar mengucur dari hidungnya. Sang teman tak terima, dia menerjang maju Krystal dengan berbekalkan sebuah pisau di genggaman.

Sreet..

Untung pisau itu memotong rambutnya. Krystal terdiam sejenak, memberikan kesempatan bagi paru-parunya untuk melakukan pernafasan normal.

Drap..drap..drap..

Dilihatnya bayangan pria-pria yang tadi juga turut mengejarnya. Kalau ia tak segera menyelesaikan pertarungan ini, maka lawannya akan bertambah. Dan resiko untuk pergi ke akhirat pun semakin besar.

Krystal menggunakan pisau pria itu untuk menusuk pahanya. Meski terlibat aksi saling mendorong, akhirnya Krystal berhasil melukai paha orang itu.

“3 go, 1 left.

Dia benar-benar kelelahan sekarang.

Badannya lebih pendek dariku, seharusnya aku bisa mengalahkannya dengan mudah.

Keduanya saling bergerak mengelilingi. Melihat pergerakan lawan satu sama lain. Saling memikirkan rencana untuk menjatuhkan.

Berfikir, berfikir, dan terus berfikir.

Itu merupakan suatu tekanan tersendiri bagi pria pendek. Tubuhnya lebih kecil dari Krystal. Sedang tiga temannya yang lain, yang tentunya berbadan lima kali lebih besar darinya, berhasil dilumpuhkan oleh gadis itu.

“Aku akan melepaskanmu. Aku tahu kau tak bersalah. Sebentar lagi kejahatan tuanmu akan terbongkar. Kalau kau masih berfikir rasional, tinggalkan pekerjaanmu dan aku. Sebelum polisi menangkap kalian semua,” ujar Krystal. Rupanya dia berniat negosiasi. Tenaganya sudah terkuras habis untuk melawan 3 orang lainnya.

Pria pendek itu tampak berpikir sebentar. “Kau serius dengan ucapanmu? Kau akan melepaskanku?”

Krystal mengangguk. “Kau boleh mempercayaiku. Sekarang, pergilah!”

Pria itu terdiam. Tangannya hampir melepaskan pistolnya, tetapi suara teriakan Krystal membuyarkan lamunannya.

“Jangan biarkan pistol itu tergeletak disini. Itu akan menjadi barang bukti polisi untuk menangkapmu. Di pistol itu pasti ada sidik jarimu.”

Pria itu mengangguk. Lalu, ia memasukkan pistolnya ke tempat semula.

“Baiklah, aku pergi.” Dia kemudian berlari menjauh membelakangi Krystal.

Gadis itu tersenyum lega. Setidaknya luka ini sudah menyita energinya, dan ia tak mau menyisakan sedikit kesadarannya terbuang untuk melawan pria itu.

Dia berjalan dengan langkah terseok-seok ketika sudut ekor pandangannya menangkap bayang-bayang orang tadi semakin mendekat.

“Bos, dua orang meninggal. Sedang yang satunya pingsan.”

“Brengsek! Mereka semua dikalahkan oleh cecunguk kecil itu! Apa-apaan mereka! Sial!” maki Jae Hee. Tangannya mengepal keras, seakan siap untuk meninju wajah Krystal.

“Bos, bos.. kabar buruk, bos. Transaksi illegal kita terbongkar. Lalu, masalah suap dan korupsi yang pernah bos lakukan, terbongkar. Berita ini sedang disiarkan oleh banyak televisi, bos.”

Jae Hee semakin geram mendengar laporan salah satu anak buahnya.

“Segera pesan tiket pesawat menuju Jerman. Kita akan berangkat kesana sekarang.”

 

===

 

Seorang pria misterius berdiri di balik tembok yang gelap. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, tidak. Mungkin lebih tepat seringaian.

Goodbye, Park Jae Hee..”

 

DUAARRR……

 

Dia tersenyum. Layaknya orang bahagia ketika dilihatnya sebuah mobil audi merah terbakar di tengah jalan raya.

.

.

“Berhasil?”

Krystal mendengus. “Aku gagal.”

Myungsoo melihat ke arah luka di lengan Krystal yang sudah terbungkus oleh perban.

Nih, uangnya.” tangan kanannya melempar sebuah koper ke arah Myungsoo.

Myungsoo berjalan mendekati koper itu kemudian dia membukanya. Ratusan dolar langsung menyambutnya ketika dia membuka kunci koper itu.

“Baguslah. Jadi, kau harus menuruti perintahku.”

Myungsoo tersenyum penuh arti. Dia melangkah perlahan ke arah Krystal, membuat gadis itu mengambil langkah ke belakang.

Terus seperti itu. Hingga membuat Krystal kembali terpojok.

“Apa maksudmu, Myungsoo?”

Dia -lagi-lagi hanya tersenyum. Sebuah senyum yang selalu berhasil membuat Krystal penasaran. Sebuah senyum yang selalu menyimpan mistery di dalamnya.

“Jangan menatapku seperti itu. Sekali kau menatapku, kau akan tenggelam ke dalam dua pesona mataku ini, Krystal.”

“Bicara apa kau, huh?”

Myungsoo menggerakkan tangannya, menyusuri tiap helai rambut halus milik perempuan itu. Ia terus mengusahakan pandangannya bertemu dengan mata Krystal, walau gadis itu sudah mencoba menolak.

“Selama ini selalu menilaimu. Apakah kau cukup baik untuk menjadi partnerku atau tidak. Ternyata dugaanku tak salah untuk memilihmu menjadi seorang partner. Kau gadis yang gesit, lincah, cerdik, dan licik. Kau serupa denganku. Ambisius, tak mempedulikan hal-hal lainnya. Kita sudah berpasangan selama 3 tahun. Dan itu bukanlah waktu yang lama..”

Myungsoo sengaja menghentikkan ucapan. Memberikan jeda untuk melihat emosi yang bergelung di manik hitam perempuan itu.

“Tak usah bertele-tele. Aku tak paham dengan ucapanmu.”

“Bagaimana kalau kita menjadi partner yang sesungguhnya?”

“Maksudmu?”

“Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”

 

.

.

.

| E N D |

Hyaa, akhirnya ini fic selesai jga xD tantangan tersendiri sih bagaimana kita bisa membuat fic action yang berhasil dengan membuat para pembaca juga ikut merasakan ketegangan saat itu.

Ah, tapi ini fic gagal -_- actionny jga ga kerasa T.T aku emg merasa kesulitan sih pas bagian pukul memukul, niat mencoba meniru film James Bond, Sky Fall, malah yang jadi actionny Giant-Nobita u,u deskripsiny kuraaang T.T ah sudahlah u_u terima kasih yang sudah mau membaca fic ini xD

One response to “Wager

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s