Memories

MEMORIES

memories

a movie by Mizuky

Main Cast(s):

|| [f(x)] Jung Soojung, [Infinite] Kim Myungsoo, [A-Pink] Son Naeun ||

 Duration:

|| Oneshoot ||

Genre:

|| AU, Romance, Friendship!!, Sad ||

Rating:

|| G ||

Summary:

Alzheimer.

Suatu penyakit yang menyerang otak dimana si penderita pasti akan mengalami penurunan daya ingat. Dan, Soojung merupakan salah satu penderita dari penyakit itu. Mampukah Myungsoo untuk membantu Soojung mengingat semua kenangannya? Walau ia harus melawan hati nuraninya sendiri?

 

+====+

Memories

Grusak.. grusak..

Myungsoo merasa terusik oleh suara bising pagi itu. Ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara yang rupanya berasal dari kamar Soojung. Segera ia menekan knop pintu.

Kakinya perlahan mendekat, ketika ia melihat Soojung yang sibuk berlarian kesana kemari.

“Sedang apa?”

Soojung yang kaget, segera menoleh ke arah Myungsoo. Wajahnya diliputi hawa kekhawatiran. Peluh mulai memenuhi pelipisnya. Bajunya berlumuran debu dimana-dimana.

“Aku sedang mencari bolpoin. Kau melihatnya? Aku sudah mencarinya dari tadi, tapi aku tak menemukannya dimana pun.”

Myungsoo kemudian memandang sekelilingnya. Mencoba membantu Soojung untuk menemukan tinta besi itu.

“Itu, diatas meja bacamu,” ujarnya.

Soojung kemudian mengikuti arah pandang Myungsoo. Ia menghampiri meja baca, tempat dimana bolpoinnya tergeletak.

Ia memegang benda itu. Menggenggamnya erat dengan mata berkaca-kaca.

“Myungsoo, bagaimana bisa? Bagaimana aku bisa melupakan tempat aku menaruh bolpoin ini? Padahal aku baru saja memakainya. Kenapa aku bisa melupakannya, Myungsoo?” suaranya bergetar. Menahan rasa sakit yang menyelimuti dada.

Pria itu tak kuasa menahan gejolak jiwanya. Ia melangkah mendekati Soojung. Memberikannya sebuah pelukan penenang. Tangannya dengan lembut menyisir rambut Soojung yang cukup berantakan.

“Tidak apa-apa. Kau hanya lupa meletakkannya dimana. Tenang saja. Aku pun sering seperti itu. Tak apa-apa, oke. Sudah, tenanglah, Soojung.”

Tahap awal dari penyakit itu adalah si penderita yangperlahan akan mulai melupakan hal-hal disekitarnya.

Semuanya terjadi begitu saja. Suatu penyesalan yang sering disayangkan oleh Myungsoo ataupun Soojung. Mengapa harus Soojung yang mengalaminya?

Mungkin takdir sedang mempermainkan dua sekawan itu.

Masih terngiang di benak Myungsoo saat dokter mengatakan kepadanya pertama kali perihal penyakit Soojung. Masih sangat ia ingat bagaimana terpukulnya Soojung kala itu.

Ketika dilihatnya diagnosa dokter yang mengatakan Soojung positif menderita penyakit Alzheimer, sukses membuat dunianya runtung begitu saja.

.

.

“Myungsoo, bagaimana kalau kita pergi keluar?”

Myungsoo hanya menatap wanita yang berdiri di hadapannya dengan pandangan lelah. Bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya dan Soojung benar-benar membuatnya lelah. Disamping itu ia masih sangat belia. Seharusnya ia masih bisa bebas, bermain sampai tengah malam bersama teman-temannya. Ia sebenarnya bisa, hanya saja ia tak ingin. Meninggalkan Soojung sendiri di tengah penyakitnya, merupakan perbuatan bodoh.

Ia tak ingin Soojung celaka. Hanya itu.

“Maaf, Naeun. Aku tak bisa. Aku harus menjaga Soojung. Maafkan aku,” tolaknya dengan halus, walau separuh hatinya ingin mengiyakan ajakan wanita itu.

Wanita yang dipanggil Naeun hanya bisa menghela napasnya dan mencoba mengerti. Seperti itulah Myungsoo. Ia sebenarnya merasa Myungsoo lebih memperhatikan Soojung ketimbang dirinya, namun semua itu segera ditepis oleh laki-laki itu dengan membuat kenangan manis bersamanya.

“Baiklah. Jaga kesehatanmu. Kau terlihat letih sekali, Myungsoo.”

Laki-laki itu hanya tersenyum tipis mendengar perhatian dari kekasih. “Iya, setelah memberikan laporan ini ke dosen, aku akan pulang.”

Setelah mengangguk kecil, dia lalu meninggalkan Myungsoo di ruangan itu sendiri. Berkutat dengan segala macam tugasnya.

Myungsoo ingin tidur. Dia lelah dengan semua ini.

Dia bisa bebas kalau dia mau. Dia bisa merasakan kehidupan luar seperti teman-temannya. Dia bisa.

Namun, bayangan wajah Soojung yang putih pucat segera menepiskan bisikan setan di hatinya.

.

.

Malam Harinya.

Myungsoo yang sudah selesai menyelesaikan tugasnya, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepertinya ia tak jadi untuk menyerahkan laporan itu karena rupanya sang dosen sudah pulang terlebih dahulu. Jadilah dia berada di ruang tamu. Menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan pikiran yang kusut.

Suasana rumah terlampau sepi. Ia memutuskan untuk melihat Soojung di kamarnya.

“Kau belum tidur?”

Soojung yang tengah memegang kalender, menoleh ke arah Myungsoo. Bibirnya tersenyum cerah ke arahnya.

“Ah, untung kamu sudah pulang! Sini, sini! Ada yang ingin kutanyakan padamu, Myungsoo,” seru Soojung.

Myungsoo tersenyum, lantas ia mendekati Soojung yang duduk di tepi tempat tidur.

“Ya?”

“Kau tahu hari ini hari apa?”

Lagi, pertanyaan itu berhasil membuatnya bungkam. Sebuah pertanyaan yang paling ingin dihindarinya.

Gejala lain penyakit Alzheimer adalah disorientasi dengan tanggal dan waktu. Penderita tidak bisa tahu waktu, seperti hari apa dan tanggal berapa.

“Myungsoo?”

Pria itu tersadar dari keterlamunannya. Ia lalu menatap Soojung sendu.

“Hari ini hari Rabu, tanggal 3 Oktober, Soojung. Memangnya ada apa?”

Soojung mengangguk samar. “Tidak apa-apa, sih. Aku hanya sedang ingin mengetahui tanggal. Aku tiba-tiba lupa saja tadi,” ujarnya.

“Kalau ingin mengetahui tanggal dan waktu, kau bisa melihat ponselmu. Disitu ‘kan ada aplikasi penanggalan dan waktu.”

Soojung segera ingat ponselnya. “Ah, iya! Ponsel! Kenapa tidak kepikiran, ya?” dia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan segera berlarian tak menentu kesana kemari.

Tangannya beberapa kali membuka laci-laci meja, melihat ke bawah meja atau tempat tidur, dibukanya lemari, menggeledah tasnya. Ia terlihat bingung sekali.

“Kau sedang apa?”

Soojung menghentikan sejenak aktifitasnya. Ia menoleh ke arah Myungsoo cemas.

“Aku lupa dimana aku meletakkan ponselku.”

Myungsoo menghela napasnya. Lagi-lagi penyakit lupa itu.

“Kau tidak lihat ponselmu ada di kantong celana?”

Soojung segera tersadar lalu mengambil ponselnya. Dia tertawa, bukan jenis tawa lucu atau bagaimana. Namun, tawanya sarat akan kekhawatiran.

“Myungsoo.. sebenarnya sudah seberapa gawat penyakitku?”

.

.

Akhir pekan..

“Hi, Soojung!” sapa beberapa orang.

Yang disapa hanya menampakkan senyum kecil. Dia terlihat sebenarnya. Tak ada satupun orang-orang disitu yang dikenalnya, kecuali Myungsoo.

Berbanding terbalik dengan Soojung, Myungsoo justru nampak senang. Ia bersyukur teman-teman lamanya dan Soojung mau membantunya untuk melakukan therapy ingatan. Mungkin inilah yang bisa dilakukan Myungsoo. Membantu Soojung untuk menemukan kenangan lama.

“Myungsoo, siapa mereka? Aku sama sekali tak mengenalnya,” bisik Soojung pelan kepada Myungsoo.

Sedang pria itu hanya tersenyum masam. Rupanya penyakit Soojung sudah menapakkan akhirnya. Myungsoo gelisah, namun cepat-cepat ia tepiskan rasa itu ketika ia menyadari Soojung tengah melihatnya dengan pandangan tanya.

“Tak apa. Nanti kamu juga tahu. Ayo kita bergabung,” ajaknya.

+===+

Cafe..

“Halo, Soojung. Namaku, Sulli. Kau ingat padaku?”

Soojung hanya bisa tersenyum tipis. Miris ia tak dapat mengenal gadis cantik itu, walau jelas-jelas perempuan itu mengenalnya.

“Dia itu Sulli, temanmu sejak kecil sampai SMA. Dia melanjutkan kuliahnya di boston, lalu dia sedang libur summer, alhasil dia ingin berjumpa denganmu,” terang Myungsoo.

Soojung mengangguk samar. Agak pilu sebenarnya, namun ia tak ingin menunjukkan rasa sakitnya di hadapan banyak orang, terutama Myungsoo.

“Hi, Soojung! Bagaimana kabarmu?”

Soojung memandang pria yang sedang tersenyum ke arahnya penuh heran. Namun, ia hanya bisa menjawab “baik” saja kepadanya. Dia canggung dengan semua ini.

“Sst.. Myungsoo..” Soojung ingin bertanya sesuatu kepada Myungsoo, namun pria itu justru beranjak dari tempat duduknya dengan tangannya yang memegang sebuah ponsel.

“Ya, Naeun. Ada apa?”

“Kau sedang sibuk?”

Myungsoo diam sebentar. Dia menatap Soojung dan teman-temannya yang saling bercengkrama. Ia kasihan melihat Soojung yang nampak kesusahan menjawab beberapa pertanyaan dari teman-temannya yang lain. Terlebih Soojung terlihat canggung kala itu.

“Iya, aku sedang sibuk. Kalau tidak ada yang penting, aku tutup teleponnya.”

“Sebentar! Ini ‘kan akhir pekan, bisakah menemaniku pergi keluar sebentar? Aku ingin membeli beberapa buku.”

Myungsoo mendesah panjang. “Maaf, malam ini aku harus menemani Soojung check-up. Kamu bisa sendiri ‘kan? Atau kalau tidak, minta tolong saja sama temanmu. Aku sama sekali tidak bisa mengantarmu, Naeun. Maaf ya.”

Naeum menggeram pelan.

Lagi-lagi Soojung, lagi-lagi Soojung! Kenapa Myungsoo tak bisa untuk mementingkan aku dari segala kepentingan gadis cacat itu?!

“Tolong, hanya kali ini saja. Kau tidak bisa sama sekali?” suara Naeun sarat akan permohonan.

“Maafkan aku..” Myungsoo lalu menutup ponselnya ketika ia melihat Soojung yang sedikit limbung.

Dia panik.

Segera saja ia berlari menghampiri Soojung tanpa terbersit suatu pikiran bahwa gadisnya di sana sedang menangis kecewa atas penolakannya.

“Kau baik-baik saja, Soojung?” bisik Myungsoo.

Soojung menggeleng. “Kepalaku pusing. Bisakah kita pulang?”

Myungsoo mengangguk. Dia lalu berdiri. “Teman-teman, aku dan Soojung ada keperluan lainnya. Kami duluan ya.”

Semuanya mengangguk. “Iya, hati-hatilah di jalan,” ujar seorang temannya.

Kemudian, dua kawan itu melangkahkan kakinya untuk pergi dari dalam cafe itu.

.

.

Rumah Sakit.

“Bagaimana perkembangannya, Dok?”

Dokter itu menghela napasnya, membuat Myungsoo bertambah khawatir. Berulangkali ia meremas kedua tangannya kuat-kuat. Ia sangat berharap kalau kali ini dia akan mendapatkan sebuah pencerahan.

Namun, dokter itu menggelengkan kepalanya. Jadilah Myungsoo bertambah khawatir.

“Sudah tak bisa.”

Cukup dengan deretan tiga kata itu, dia seakan mati saat itu juga. “Ma-maksud dokter?”

“Penyakitnya sudah dalam tahap kritis. Hanya menunggu waktu, maka ia akan benar-benar melupakan semuanya, termasuk namanya sendiri.”

Myungsoo tersentak.

Semakin dekat..

Menyerah saja, Myungsoo..

Kau hanya menghabiskan waktumu percuma..

Tinggalkan Soojung dan hidup bebas. Bukankah kau ingin semua itu?

Semua bisikan setan terus menggerayanginya. Lagi-lagi wajah Soojung yang  berseri menampik semua itu. Ia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa.

“Tapi, masih ada kesempatan ‘kan?”

Dokter itu hanya menggeleng.

Kini, dunianya serasa runtuh begitu saja. Tak tersisa suatu apapun.

“Anda ini dokter! Seharusnya anda bisa mengatakan hal yang menghibur! Untuk apa anda mengenakan jas putih itu dengan stetoskop di tangan anda kalau anda hanya bisa menggeleng saja?! Untuk apa anda bekerja sebagai dokter kalau anda tak bisa menyembuhkan penyakitnya?!” Myungsoo naik pitam.

Sebelum tangannya terangkat tinggi, ia mengontrol emosinya. Pikirannya benar-benar keruh.

“Saya hanya manusia biasa. Tidak semua penyakit memiliki obat, anak muda. Tidak semua penyakit dapat disembuhkan oleh tangan para dokter. Kami bukan Tuhan. Kita ambil sisi positifnya saja. Kita bisa bersyukur nona Soojung kehilangan sebagian ingatan. Perlu diingat, tidak semua kenangan itu baik. Pasti ada beberapa kenangan buruk yang ingin dilupakan. Kalau sudah pada waktunya penyakit itu merenggut semua ingatan Nona Soojung, kita hanya bisa membantunya mengingat semampunya. Kau bisa setiap hari bercerita mengenai kehidupannya. Aku juga akan berusaha dengan melakukan beberapa terapi.”

Myungsoo mengambil nafas panjang. “Maafkan saya, Dok. Saya hanya khawatir terhadap keadaannya. Maafkan atas kekurang-ajaran saya,” tak lupa pria itu membungkuk sedalam-dalamnya.

Dokter itu hanya tersenyum. “Tidak apa-apa. Saya bisa merasakan betapa cemasnya anda terhadap keadaan Nona Soojung.”

Myungsoo mengangguk kecil. Ia lalu mengambil sebuah map coklat lalu menyembunyikannya di balik jaket hitam itu. Ia membungkuk sekali lagi sebelum keluar dari ruangan serba putih itu.

“Ada apa? Tadi aku mendengar ribut-ribut dari dalam. Apa yang terjadi?” tanya Soojung begitu Myungsoo keluar dari kamar itu.

“Tidak apa-apa. Tadi aku tak sengaja menjatuhkan kerangka manusia. Hehe, aku memang ceroboh.”

Begitulah Myungsoo. Ia selalu menyembunyikan kenyataan pahit. Tak sanggup matanya untuk menangkap Soojung yang sedang menangis.

Mengetahui bahwa mungkin sebentar lagi semuanya akan berakhir, dengan suksesnya membuat Myungsoo terkapar.

“Lalu, bagaimana dengan penyakitku?”

Myungsoo tertohok. Dia hanya diam, namun ia segera memasang topeng muka duanya. Topeng yang selama ini menolongnya untuk menyembunyikan ekspresinya dari kenyataan yang membelit mereka berdua.

“Tenang saja. Tidak apa-apa. Menurut dokter, kau akan bisa melakukan terapi sebentar lagi.”

Soojung hanya diam. Tak percaya ia dengan kata-kata Myungsoo, sebab di kedua pupil mata pria itu tak tenang seperti yang diceritakannya.

Namun, ia mempercayai Myungsoo. Sebab, Myungsoo selalu melakukan yang terbaik untuknya.

Kim Myungsoo..

Ia tak boleh untuk melupakan nama itu.

Tak boleh!

+===+

Sore Hari..

@Rumah..

“Kau pasti lelah. Sudah sana tidur,” ujar Myungsoo.

Soojung mengangguk. Dia lalu meninggalkan Myungsoo sendiri di ruang tamu.

Ting-tong..

Myungsoo  agaknya sedikit malas untuk beranjak. Ia biarkan saja tamu itu. Matanya tetap terpejam dengan punggung yang bersandar pada sofa.

Ting-tong..

Tetap ia biarkan.

Ting-tong..

Myungsoo menggeram. Rupanya tamu itu keras kepala. Sedikit kesal ia berjalan untuk membuka pintu dengan menggerutu.

“Naeun!” ia sedikit terkejut ketika kekasihnyalah tamu itu.

Bertambah heranlah ia ketika melihat wajah masam sang kekasih. Myungsoo lalu mempersilahkannya masuk.

“Mau minum apa?”

“Tidak usah. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Myungsoo hanya bisa menatapnya penuh tanda tanya. “Kau kenapa?”

Yang ditanya tak menjawab. Hanya sibuk memainkan jemarinya.

“Tetap tak mau buka mulut?”

Ditatapnya sang kekasih tajam layaknya elang yang tengah memburu mangsanya.

Rupanya wanita itu tetap bungkam dalam diamnya. Tak mau membiarkan pita suaranya bergetar sedikitpun.

“Baiklah. Aku membuang waktuku percuma disini.”

Myungsoo lalu bangkit dari duduknya. Baru saja ingin beranjak, namun suara memelas Naeun membuatnya urung.

“Aku tidak suka kamu masih perhatian kepadanya, Myungsoo.” akhirnya perempuan itu menyuarakan isi hatinya.

Pria yang rupanya bernama Myungsoo itu lalu duduk kembali. Ia menghela napasnya panjang dan berat.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau aku tetap akan merawat Soojung? Aku sudah bilang itu sejak pertama kali kita berpacaran.”

“Aku ini pacarmu! Kau bahkan tak pernah memperhatikanku sampai seperti itu!”

Myungsoo pusing kali ini. Ia tahu bahwa hari ini pasti akan datang.

Sooner or later..

“Jadi, kau mau apa?”

“Berhenti untuk memberi perhatian lebih ke Soojung daripadaku!”

“Aku tidak bisa, Naeun. Dia itu rapuh! Dia butuh sebuah tiang kokoh untuk menopangnya, dan itu aku!”

Naeun menggeram kesal. “Kenapa Myungsoo? Kenapa harus dirimu?! Masih banyak pria diluar sana yang bisa menjadi tiang penyangganya!”

“Ini tidak semudah yang dipikirkan. Soojung itu lemah. Dia tak bisa mengingat apapun sekarang. Kalau aku menyerahkan tanggung jawab ini kepada pria yang salah, bisa-bisa Soojung yang menjadi taruhannya. Aku tidak ingin berjudi dengan maut! Aku yang menjaganya. Aku tidak ingin Soojung berbuat sesuatu jika tak ada yang menjadi pegangannya.”

“Kau suka ‘kan kepadanya?! Kau tidak menyukaiku, Myungsoo!” bentak Naeun.

Dia kini diambang kekecewaan. Semuanya sudah jelas baginya.

Myungsoo tak menyukainya.

Cukup tiga kata itu membuat jantungnya seakan berhenti memacu darah. Dia ingin pingsan, kalau dia bisa.

Ketika kalimat Myungsoo selanjutnya, benar-benar membuat dia jatuh saat itu juga.

“Kau tidak terima? Baiklah, kita akhiri saja. Untuk apa kita masih berhubungan kalau kau saja tak bisa menepati perjanjian kita.”

Naeun segera bangkit. Ia sudah tak peduli bahwa Myungsoo melihatnya menangis. Ia segera keluar dari rumah itu dengan sejuta rasa perihnya.

Myungsoo terduduk lemah. Melihat kepergian sang hati dengan nanar. Ia terluka.

Tidak apa, semua demi Soojung. Dia menyayangi perempuan itu lebih dari nyawanya.

Ya, tak apa Naeun menganggapnya brengsek. Toh, dia memang brengsek.

Tak apa, asal Soojung tetap bahagia.

Maafkan aku, Naeun. Percayalah aku mencintaimu.

Myungsoo terduduk lemas di sofa.

Pranggg…

Suara vas bunga yang terjatuh menghancurkan keheningan kala itu. Myungsoo yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, segera berlari ke arah suara.

Didapatinya Soojung yang sedang memungut kepingan vas itu.

“Soojung, kau tidak apa-apa?”

Wanita itu menoleh ke arah orang yang kini turut membantunya untuk memunguti tiap pecahan kaca itu.

Dahi Soojung berkerut. “Kau siapa? Aku tidak mengenalmu. Mengapa kau bisa masuk ke rumahku?”

Myungsoo terdiam. Cukuplah ia merasa sakit, dan kini Soojung menambah kepedihannya.

Dia tak lagi mengingatnya. Dia melupakannya.

Akhir dari segalanya..

Sia-sia sudah segala upayanya untuk memerangi penyakit itu. Sia-sia ketika penyakit itu berhasil merenggut segala ingatan Soojung.

Penyakit itu menang, dan dia kalah.

Kedua matanya berkaca-kaca menampung kristal-kristal bening yang nampaknya siap jatuh dari kedua pipi pria itu.

“Namaku Kim Myungsoo. Kau sama sekali tak mengingatnya?”

Awal dari segalanya..

.

.

.

| E N D |

Aaaaaaaaaaaaaaaaa…

Akhirnya ini fic selesai juga xD hahahaha xD duh, aku kok yang baca ikutan nyesek sendiri ya pas tiba-tiba Soojung melupakan Myungsoo u_u kasian banget kamu nak T.T

Kenapa Soojung harus melupakan Myungsoo?!! KENAAPAAAHHH #lebeh #skip

Akhir kata, terima kasih untuk semua yang sudah meninggalkan komentar dan mau membaca fic ini^^ maafkan saya apabila ini fic jelek banget, typo yang berserakan, dan MAAF untuk para Pink-Finite shipper aku buat hubungan mereka agak gimanaa gitu >_<

SAMPAI BERTEMU KEMBALI DI FIC SAYA BERIKUTNYAAA😀 #lambailambaitanganbarengWoohyun

15 responses to “Memories

  1. ZUKYY!! ENGKAU BEGITU JAHAT SAMPAI MYUNGSOO NANGIS *digampar
    bagus-bagus! kata-katanya menusuk hati, membuatku ingin menangis #lebe
    btw, Alzheimer itu penyakit asli ya? =.=”

    DAEBAK

  2. omooooooooo…. sedih banget banget banget T_T
    aaaaa… itaaaal :”””””
    naeun kenapa tak bisa mengerti :”
    hampir nangis bacanya… aku agak lebay ya? -_-a hmm…

  3. yah ilaaaah, Soojung kenapa engkau melupakan Myungsoo? hwaaaa, sedih bener deh ini fic, nyesek banget waktu Soojung nanya ‘siapa kamu?’, hiyaaaa, mizu kenapa kamu demen banget buat fic sedih siiiiiiiih? udah gitu korbannya MyungStal, hadeeeeuh -___-

    • aaah, kenapa yah? aku juga nyesek di sini sih TT ahtapi gitulah TT gapapalah x) sekali kali menistakan MyungStal itu bagus😀
      anw, kapan nih kamu mau buat MyungStal?😎 /reqterselubung

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s