A Case [1/3]

A Case

acase

a movie by ©  Mizuky

Main Cast:

|| Myungsoo [Infinite] ||

|| Krystal [F(x)] ||

 Duration:

Threeshoot

Genre:

|| AU, Friendship, Mistery, Romance, Detective Story, Tragedy, Fiction ||

Rating:

|| G ||

Summary:

Myungsoo.. seorang detective muda yang sangat menggilai buku dan misteri. Hingga suatu hari, rasa penasarannyalah yang membawanya masuk ke jurang kematian bagi dirinya.

Inspired by:

|| Detective Conan © Aoyama Gosho ||

.

.

Langit biru yang terjuntai luas di angkasa raya biru bersih tanpa adanya kapas-kapas putih bertebaran dibawahnya. Sebuah tinta hitam yang menari-nari diatas papan tulis putih, turut menjadi pemandangan siang itu.

Eits, jangan lupakan pemandangan-pemandangan indah para siswa yang menguap dengan mulut yang terbuka lebar. Tak heran mereka semua berbuat demikian, siapa yang tak pening dengan pelajaran menghitung di tengah teriknya matahari?

Dengan deretan rumus-rumus tak jelas, bahkan sanggup untuk merontokkan rambut Albert Einstein –sang jenius- sekalipun. Parah bukan?

“Myungsoo!”

Lelaki itu tergelak oleh seruan dari sang guru. Dari sekian banyaknya murid yang menyeleweng, mengapa harus ia yang ditegur? Bahkan, temannya -yang duduk di pojok kelas- sedang asyik bermain dengan mimpinya, tak ditegur. Guru tua satu ini memang aneh.

“Ah, iya..”

Semua mata kini serentak memandang si lelaki tampan itu. Tak merasa bersalah atau apapun, dia hanya memasang raut wajah datar.

Rasa kantuk yang menyergap seluruh siswa, menghilang entah kemana setelah mereka menangkap adanya “adegan” menarik ditengah penyiksaan ini.

Siapa yang ditegur? Dan itulah pertanyaan yang selalu terbesit di benak mereka pada awalnya.

“Lihat ke depan! Saya sedang mengajar!” Myungsoo pun mengangguk. Lalu, guru itupun mulai menerangkan kembali pelajaran.

Semua murid di kelas itu kompak mendesah kecewa. Mereka berharap akan mendapatkan pertunjukkan sedikit lebih lama dan seru, namun yang didapat tak seperti yang diharap.

Myungsoo tak jera rupanya. Ia masih saja memandang ke arah luar. Menatap langit yang sedikit kelam menurut pandangannya.

Mengapa aku tak bisa tenang hari ini?

Dia tak sadar bahwa ada sepasang manik lain yang menatapnya seksama.

Myungsoo, apa yang sedang kau pikirkan, huh? Mengapa aku tak pernah bisa menyelami pikiranmu itu?

+===+

Pulang sekolah..

Hyaatt!!”

Bug..

Sebuah pukulan lumayan keras mendarat di sebuah kapuk berbentuk tubuh anak kecil.

Woahh..” semuanya terperangah, dengan masing-masing mulut yang terbuka lebar. Terkejut akan aksi sang senior. Mereka mungkin tak tahu bahwa senior mereka rupanya berada diatas level lebih tinggi dari mereka.

“Nah, saat pertandingan nanti, yang harus kalian perhatikan adalah sabuk lawan kalian. Lawan boleh saja melakukan gerak tipu, namun pusar mereka tak dapat melakukan gerak tipu. Satu lagi, jangan terbawa emosi. Mengerti?!”

“Ya!!” teriak semuanya dengan patuh.

“Baiklah, latihan karate kita cukupkan sampai disini. Kalian bisa pulang dan beristirahatlah untuk pertandingan satu minggu ke depan.”

Semua anak-anak yang rata-rata berusia 15-17 tahun mengangguk serentak mematuhi anjuran sang pelatih. Mereka lalu beranjak dari tempat itu. Mengganti baju mereka setelah mengemas barang-barang mereka.

“Kau tidak pulang, Soojung?”

“Tentu saja aku mau pulang. Aku sedang menunggu Myungsoo. Kau duluan saja.”

Sang teman memandang ragu ke arahnya. Pasalnya Soojung hanya berdiri seorang diri di depan gerbang. Latihan karate memang menguras waktu, karena waktu pertandingan semakin dekat.

“Yasudah, aku duluan. Pulang dulu, ya.”

Soojung lantas tersenyum. Tangannya lalu melambai ke arah kawan perempuannya itu.

Ditengokkan kepalanya untuk memandang sekeliling, dan memang benar sekolahnya telah sepi. Agak bimbang dia apakah Myungsoo masih menunggunya atau dia sudah pulang terlebih dahulu. Ia menggigit ujung bibirnya gugup. Sedikit banyak rasa takut mulai sedikit bermunculan. Tentu saja tak heran. Hari sudah menjelang kelabu, namun Myungsoo masih tak menampakkan batang hidungnya.

Soojung menghela napas panjang. Sialnya dia lupa untuk membawa ponselnya.

“Apa dia benar-benar sudah pulang?”

Ketika dia baru melangkah, sebuah tangan tiba-tiba menepuknya dari belakang. Soojung tersentak kaget. Tentulah organ dalam tubuhnya semakin menambah produksi adrenalin. Sedikit berani, ia melihat ke arah belakang.

“MYUNGSOO!!” pekiknya kesal. Ia segera menyingkap tangannya dan memandang ke arah Myungsoo geram.

Seperti biasa, Myungsoo hanya menampakkan raut wajah tak berdosa, “Sudah selesai latihan karatenya?”

Soojung berdecak kesal, “Sudah. Aku tadi menunggumu! Tapi kau tak kunjung datang.  Aku kira kamu sudah pulang ke rumah, makanya aku tadi pergi. Lain kali jangan menyentuh pundakku seperti tadi! Kau menakutiku!”

“Ah, baiklah. Ayo kita pulang.”

“Kau menungguku dimana memangnya?” tanya Soojung.

“Di banyak tempat.”

“Maksudmu?”

“Ya aku jalan-jalan. Memutari sekolah.”

Soojung mengangguk sejenak. Setelah itu mereka berjalan dalam diam. Tak cukup lama memang karena Soojung angkat bicara sesudahnya.

“Kita makan dulu, ya. Latihan karate tadi benar-benar menguras tenagaku,” keluh Soojung.

“Setiap pulang sekolah kau pasti akan merengek untuk mampir ke suatu tempat membeli makanan. Yasudah kita ke tempat biasa saja,” ujar Myungsoo jujur yang menambah rasa kesal Soojung terhadapnya.

“Kau ini menyebalkan ya!”

Myungsoo tidak menanggapi sindiran Soojung. Bukan karena tak peduli. Namun instingnya menangkap ada sesuatu yang janggal.

Seluruh indera perasanya ia pasangkan dalam mode waspada. Tak satupun ocehan Soojung yang ditanggapinya. Sedang kedua matanya melihat ke arah papan kaca yang berukuran cukup besar yang samar-samar memantulkan sosok seorang pria.

Myungsoo curiga terhadap pria itu. Firasatnya tak mungkin meleset. Sebagian wajahnya yang ditutupi masker penutup hidung dan mulut berwarna hitam, mengenakan kacamata hitam, dan delingkapi dengan jaket abu-abu dengan tudung kepala yang menyamarkan identitasnya.

“Apa kau ada janji dengan seseorang?” tanya Myungsoo tiba-tiba yang membuat Soojung berhenti berkicau. Sebaliknya, gadis itu menatap kawan laki-lakinya heran.

“Nanti sore memang aku ada janji dengan Sulli. Kami akan pergi ke toko kaset. Hunting beberapa film terbaru. Ada apa memangnya? Kau mau ikut?”

Myungsoo mendengus, “Bukan janji itu yang kumaksud. Tapi, apa kau memiliki janji dengan seorang pria sehabis pulang sekolah?”

Matanya kembali menatap ke arah benda-benda berlapis kaca atau cermin yang dapat memantulkan bayangan pria penguntit tadi. Pria itu masih menjaga jaraknya dengan mereka. Meski kedua matanya terhalangi oleh kacamata hitam, namun hati Myungsoo percaya bahwa pandangan pria itu tertuju pada mereka.

“Aku tidak memiliki janji dengan siapapun. Ada apa memangnya? Kau membuatku takut!” Soojung cemas, terlebih ia perhatikan sikap Myungsoo seperti waspada.

“Tidak apa-apa, sih. Aku hanya bertanya. Tidak penting. Ayo kita jalan lagi,” ujar Myungsoo.

Meski ia menatap ke arah jalan setapak, diam-diam ia sedang memikirkan identitas pria itu.

Siapa pria itu? Sejak pagi saat aku berangkat sekolah, aku tidak melihat keberadaannya yang mengikutiku. Apa dia sedang menguntit Soojung? Ada masalah apa dengannya? Kalau begitu, Soojung dalam bahaya.

“Soojung, tolong dengarkan aku! Sore ini kamu jangan pergi kemana-mana, mengerti?! Kalau kau ingin pergi, ajaklah aku. Jangan sampai kau pergi sendirian, apalagi pergi tanpa adanya seorang laki-laki disampingmu. Tidak boleh!” tegas Myungsoo. Ia menatap mata Soojung tajam. Meyakinkah Soojung agar mengikuti arahannya.

Soojung yakin ada masalah disini. Ditilik dari sikap Myungsoo yang seperti tadi, tak mungkin tak ada masalah. Perkataannya tadi adalah sinyalnya.

“Tapi-”

“Tidak ada tapi-tapi! Kalau kau tetap mau keluar rumah, kau harus ajak aku. Biar aku yang mengantarmu! Kau mengerti?!”

“Jadi, ada apa, Myungsoo? Bisa kau jelaskan padaku? Apa ada orang yang mengikutiku?” Soojug cemas.

Ketika kepalanya ingin ia tolehkan ke belakang, namun Myungsoo segera mencegahnya, “Jangan menoleh ke belakang! Tetap menatap ke depan. Ada yang mengikuti kita sejak tadi.”

Glek..

Soojung segera meneguk salivanya kuat-kuat, “Myungsoo, aku takut..”

“Tidak apa-apa..”

Aku akan memastikan bahwa kau akan selamat, Soojung.

Soojung takut. Sangat jelas terpancar dari raut wajahnya. Dia hanya bisa pasrah.

Mudah-mudahan dia tak akan lagi bertemu dengan polisi kali ini.

+===+

Mereka sudah sampai di depan rumah Soojung. Setelah melemparkan senyum, Soojung kemudian masuk ke dalam rumahnya. Myungsoo melirik sejenak ke arah belakang. Ekor matanya masih menangkap pria misterius itu. Benar adanya bahwa pria itu menguntit mereka. Myungsoo tetap tenang. Masih didepan rumah Soojung, ketika pria itu lengah, secepat kilat dia menghilang.

Pria itu tampak kaget dengan kehilangan sasarannya tiba-tiba. Bertambah kagetlah ia manakala sebuah suara dalam menegurnya.

“Mencariku?”

Pria itu tersentak, dan menoleh dengan cepat. Ia tampak sedikit ketakutan ketika didepan mata sudah berdiri sasarannya.

Tsk, kau menyadari kehadiranku rupanya. Kau detective muda yang sungguh berbakat, Kim Myungsoo,” ujar pria itu dengan suara yang sedikit ditahan.

“Katakan apa tujuanmu mengikutiku?!”

“Siapa bilang aku mengikutimu?”

Myungsoo semakin geram tampaknya. Hipotesanya benar bahwa pria itu memang mengincar Soojung sejak awal.

“Kau mengincar Soojung?! Apa tujuanmu, ha?!”

Bukannya takut oleh geraman Myungsoo, namun pria itu justru tertawa lepas. Layaknya ia mendapatkan sebuah mainan lucu.

Ckck, tak usah menakutkan seperti itu, Kim Myungsoo. Bagaimana kalau kita berduel? Bukankah kau seorang mystery-addict?”

“Ini tidak lucu!” sergah Myungsoo.

“Haha, tenang, kawan. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang jahat. Bermain-main sebentar tidak apa ‘kan?”

“Apa tujuanmu?”

“Tidak akan seru kalau aku memberitahu tujuanku sejak awal. Bagaimana apakah kau ingin bermain petak umpet denganku tidak?”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

You haven’t any choices, Myungsoo.”

“Katakan apa permainanmu?!” tak memiliki pilihan lain, terpaksa dirinya harus mengikuti pria misterius itu.

“Sangat mudah. Kau hanya perlu mengikuti semua petunjuk yang kuberikan. Jika tidak, maka kau akan mendapatkan hukumannya. Simple, bukan?”

“Hukuman? Kau licik!”

“Karena kau dulu yang memulai, Myungsoo. Baiklah, sampai berjumpa di petunjuk pertama,” ujar pria itu. Kemudian, ia pergi meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo hanya berdiri diam saja. Tak mencegah pria itu sama sekali.

Ia tahu bahwa pria itu sungguh berbahaya. Dari cara berjalannya, dia cukup tenang. Diseluruh psychopath di dunia ini, tipe penenanglah yang paling menyeramkan diantara semuanya.

+===+

Suatu tempat..

“Kak, tenang saja. Aku akan membalas dendammu, kak. Tenang saja. Serahkan pada adikmu ini. Aku tak akan mengecewakanmu.”

Ruangan gelap, hanya sedikit pelita di sudut ruangan sebagai penerang. Sunyi, hanya dentang jarum jam yang menggema di seluruh ruangan. Terlalu suram, bahkan angin pun takut untuk berhembus di dalamnya.

Pria itu duduk di sebuah kayu kumuh dengan memegang sebuah bingkai foto kakaknya.

“Tenang saja, kak. Kim Myungsoo akan mendapatkan balasannya. Beraninya dia melakukan itu terhadap kakak. Lihat saja, aku akan membuatnya menangis darah di depan makam kakak. Perlahan, aku akan menyakiti barang berharganya. Kakak apa yang kau pikirkan? Kau senang bukan? Semuanya akan terbalaskan.”

Jemarinya perlahan menelusuri tiap ukiran di bingkai kayu tersebut. Matanya berusaha untuk tetap tegar agar tak meneteskan setetes air mata pun.

Ditengah kesunyian, hembusan napasnya terdengar menggaung. Ia bangkit berdiri yang menyebabkan lantai berdecit karena gesekan antar dua permukaan kayu tersebut. Kemudian, ia meletakkan bingkai itu diatas meja yang dihadapannya terdapat dua lilin yang menyala tenang.

Langkahnya pelan, namun untuk ruangan sesunyi itu, tentulah suara langkahnya terdengar begitu nyaring. Ia tak peduli. Terus saja berjalan hingga mencapai ambang pintu. Tangannya memegang knop pintu, sebelum benar-benar menutupnya, ia lemparkan sebuah senyum ke arah foto mendiang kakaknya. Terus hingga pintu tua itu menutup sepenuhnya.

+===+

“Ada apa denganmu?” pemuda disampingnya tertegun kaget akan teguran yang didapatnya kembali.

“Apa?”

“Kau kenapa? Daritadi diam saja begitu.”

“Aku memang pendiam. Ada yang salah?”

Kali ini Soojung mendengus keras. Terkadang sikap Myungsoo dapat menjadi sangat menyebalkan.

“Daritadi kau melamun. Ada masalah? Apa ini berkaitan dengan pria penguntit kemarin?” tanya Soojung.

“Ohya, kemarin kau tidak pergi kemana-mana ‘kan?” tanya Myungsoo dengan cepat.

“Mana berani aku keluar rumah setelah tahu ada yang menguntitku,” dengus Soojung.

“Kau bisa karate ‘kan? Kenapa tidak kau hajar saja orang itu dengan tendanganmu?”

“Berbicara memang mudah, Tuan Myungsoo. Tapi, melakukannya yang sulit.”

“Dasar penakut,” ledek Myungsoo.

Soojung menoleh dengan cepat ke arah pemuda yang sedang tertawa itu.

“Kau!! Dasar!” Soojung pun segera memukul lengan Myungsoo. Lumayan keras sepertinya, karena pemuda itu meringis sambil mengusap lengannya itu.

“Kalau kau memukulku lagi, aku tak akan membantumu untuk mengerjakan tugas Matematika,” ancam Myungsoo.

Soojung menggerutu asal. Heran dirinya mengapa ia bisa menyukai pemuda yang menyebalkan ini.

Alhasil, sebagai balas dendamnya, ia hanya diam saja. Myungsoo geli akan sikap kekanakkan yang ditunjukkan oleh Soojung.

Soojung memang istimewa baginya. Tak akan dibiarkannya perempuan itu terluka. Oleh siapapun juga.

+===+

“Hahh..” desah Soojung.

Myungsoo pun menoleh, “Kau kenapa?”

“Aku hanya malas saja ke sekolah,” ujar Soojung, “Kenapa rasanya cepat sekali sampai di sekolah sih?!”

“Pantas saja kalau nilaimu selalu dibawah. Kau ini memang pemalas,” ledek Myungsoo. Mereka melanjutkan langkah masing-masing. Setapak demi setapak mereka lalui.

Soojung sudah terbiasa dengan semua kata-kata pedas milik Myungsoo. Dia hanya bisa mengunci mulutnya, sambil berdoa agar dirinya tak gelap mata untuk membunuh pria satu ini.

“Ya-ya, terserah apa katamulah.”

Drrt..drrt..

Myungsoo merasakan getar ponselnya di dalam saku kemeja cokelatnya. Langkah terhenti sejenak. Soojung yang disampingnya pun turut berhenti, sedang ia menatap Myungsoo dengan herannya.

“Pesan dari siapa?”

“Kau duluan saja,” ujar Myungsoo.

Soojung mengendikkan bahunya. Lantas ia berjalan mendahului Myungsoo.

Pemuda itu sedikit penasaran akan pesan yang ia terima.

Dibukanya pesan itu perlahan.

Petunjuk pertama akan kau temukan di coklat sebelum putih berisi nol dan garis.

Myungsoo terheran.

Coklat sebelum putih berisi nol dan garis? Apa maksudnya?

Selama perjalanan pemuda itu terus saja memikirkan kata-kata itu. Ia berani bertaruh jika si pengirim pesan itu adalah pria misterius kemarin.

Bahkan, hingga bel masuk berbunyi, Myungsoo belum mendapatkan cahaya sedikit pun.

+===+

“Memikirkan apa, sih?” tanya Soojung.

Ha?” rupanya Myungsoo setengah sadar ditanya begitu oleh Soojung.

“Daritadi kau terlihat serius sekali. Ada apa memangnya? Siapa tahu aku bisa membantu.”

Myungsoo sekilas tampak ragu. Tapi, daripada ia memikirkan sendiri tanpa tahu apapun, bahkan sampai seabad lamanya ia tak mungkin dapat memecahkan teka-teki itu.

“Kau tahu apa maksud dari cokelat sebelum putih berisi nol dan garis?”

Hm, apa mungkin kue tart? Kue tart kan didalamnya cokelat lalu dilapisi oleh krim putih. Jadi, bisa diasumsikan sebagai coklat sebelum putih,” seru Soojung dengan bangga.

Ia yakin bahwa pemikirannya adalah cemerlang.

Ah, kau pintar sekali Soojung!

Myungsoo tampak bimbang, “Lalu maksud dari berisi nol dan garis itu apa? Kalau yang dimaksud kue, seharusnya bunyi petunjuknya di depan terdapat nol dan garis dengan isi cokelat atau putih di dalamnya. Warna dalam kue itu cokelat, jadi seharusnya yang berisi itu cokelatnya, bukan nol ataupun garis. Lalu, maksud dari nol disini apa?”

Soojung mengangguk-ngangguk saja, “Hm, nol itu ‘kan angka. Lalu, garis.. itu kan petunjuk yang merujuk pada hitung-hitungan.”

Hm, masuk akal juga. Lalu, biasanya dimana kita bisa menemukan nol dan garis, kalau bukan..”

“Di buku!” seru Soojung segera, “Cokelat sebelum putih berisi nol dan garis. Mungkin sampul buku berwarna cokelat, lalu putih itu warna kertas. Isi buku ‘kan nol atau angka dan garis.”

“Tapi, buku siapa?”

“Memangnya ada kasus lagi? Kasus apa kali ini?” tanya Soojung.

Myungsoo menatap Soojung lama, sebelum ia menghela napas panjang, “Kasus pengancaman. Mungkin..”

“Siapa yang diancam? Lalu, korbannya?”

Myungsoo mencoba menghindar tatapan Soojung. Ia tak dapat membiarkan Soojung untuk mengetahui isi pikirannya.

“Bukan siapa-siapa. Sudahlah, kira-kira buku siapa yang dimaksud?”

Myungsoo kembali tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Disaat pikirannya kacau, ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan lagi.

Satu pertanyaan yang terus dipertanyakannya sejak pesan itu ia terima, darimana pria misterius itu mendapatkan nomor ponselnya? Yang tahu hanyalah Soojung. Tak mungkin Soojung memberikannya ke orang lain. Terlalu mustahil.

Segera Myungsoo membaca pesan itu.

 

From: Mr. X

Bagaimana? Sudah kau temukan petunjuk itu? Ah, dilihat dari wajahmu, sepertinya terlalu sulit, ya. Cobalah lihat ke depanmu. Kau akan segera menemukan apa yang ku maksud.

Urat di sekitar pelipisnya tak ayal saling berkerut. Bagaimana bisa pria itu mengetahui tentang kondisinya?

Ia segera mengedarkan pandangannya. Ingin mencari siswa yang sekiranya bisa menjadi tertuduh.

Namun..

Nihil.

Tak ada satu pun. Myungsoo mengerang kecil.  Dia kembali memikirkan maksud dari pesan.

Melihat ke depan? Berarti..

Ia tatap lurus ke arah depannya. Dan..

“Papan tulis?” ucap Myungsoo tanpa sadar. Soojung yang disebelahnya pun hanya bisa terduduk diam sambil memandang heran ke arahnya.

“Ah, benar!” pekik Myungsoo.

“Apa, Myungsoo? Kau sudah memecahkan teka-tekinya?” Soojung pun bangkit berdiri setelah ia melihat Myungsoo melakukan hal yang sama.

“Sudah, sudah! Aku sudah menemukannya! Jawabannya papan tulis!” pekik Myungsoo.

“Papan tulis? Kok bisa?”

Myungsoo dan Soojung pun berjalan mendekati tempat guru biasa menerangkan itu.

“Pelapis papan tulis adalah kayu, dan kayu itu cokelat. Lalu, bagian luar yang biasa untuk menulis adalah putih. Jadi, bisa dikatakan cokelat sebelum putih. Lalu, lihat ke arah papan tulis. Berisi nol dan garis..” ujar Myungsoo.

Sesuai apa yang dikatakan oleh pemuda itu, Soojung pun turut menoleh ke arah papan tulis. Dan memang benar. Isi papan tulis saat ini adalah kebanyakan nol dan garis.

“Jadi, menurutku petunjuk itu diletakkan di..” tangan Myungsoo kemudian menuju sebelah sisi papan tulis yang menghadap tembok. Dan benar saja, secarik kertas berhasil ia dapatkan.

Ice – Portuguis.

Ice Portuguis? Maksudnya es dari portugis begitu?” tebak Soojung agak asal.

“Bukan. Maksud ice disini bukan es dalam bahasa inggris. Tapi, huruf S. Telinga orang luar kalau mendengar orang portugis berbicara huruf S selalu terdengar seperti ais –ice (penyebutan dalam bahasa inggris)..”

“Jadi petunjuk disini mengarah pada hurus S begitu?”

“Hm, bisa jadi..”

Tapi, mengapa pria itu menuliskan portugis sebagai portuguis? Apa itu hanya salah tulis? Tapi, dilihat dari rencananya yang rapi, sepertinya huruf  ‘u’ disini mengandung arti tersendiri.

“Ohya, kau sudah dengar tentang Museum Oyaku belum? Katanya museum itu akan ditutup hari ini,” ujar Soojung.

“Jadi? Tch, apa gara-gara rumor tentang hantu itu?”

Soojung mengangguk, “Terlalu kekanak-kanakkan. Tapi, gara-gara rumor tentang hantu itu, museum berharga itu jadi ditutup.”

“Sebenarnya rumor hantu itu tidak benar adanya. Itu hanya gosip murahan yang disebarkan oleh pihak tak bertanggung jawab. Adanya benda-benda yang tergeser dari tempatnya semula itu juga merupakan ulah seseorang yang iseng. Aku lihat ada beberapa goresan di benda itu. Seperti diangkat,” ujar Myungsoo.

“Bagaimana kalau kita melihat penutupannya sore ini? Itu tempat pertama kali aku mengetahui sejarah tentang Korea.”

“Boleh saja.”

Kembali ponselnya bergetar.

Pesan darinya.

Dan benar saja ketika dibukanya pesan itu, nomor yang sama tertera kembali.

 

From: Mr. X

Bagaimana kau sudah mengetahuinya? Selamat, tuan detective! Apa kau merasa ada yang salah dengan surat itu? Ngomong-ngomong, apa kau sudah melihat berita?

“Dari si pelaku, ya?” tanya Soojung tiba-tiba.

Myungsoo yang saat itu tengah fokus, segera tersentak begitu Soojung menegurnya kembali.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Simple. Tiap kau mendapat pesan itu, urat leher, pelipis, dan matamu akan menegang seketika.”

“Sore ini kita harus melihat ke Museum Oyaku,” tegas Myungsoo.

 

Info:

Nama asli dari museum Oyaku adalah Uyako. Pendiri museum yang sudah berdiri sejak tahun 1683 itu merupakan orang Jepang yang mencintai budaya Korea. Museum itu terletak di tengah kota Seoul. Orang Korea Selatan yang sudah terbiasa mengucapkan Oyaku, maka hingga sekarang Museum Uyako disebut Oyaku.

+===+

Disaat Myungsoo sedang serius untuk memikirkan kiranya apa yang menjadi tujuan si pria, dan siapa pria misterius itu, seseorang di belakang sana tengah tersenyum licik ke arahnya.

Bagus dia termakan umpanku. Nah, bagaimana Myungsoo? Kau senang dengan permainanku ini? Seru, bukan? Sampai bertemu kembali di petunjuk lainnya.

Dia tersenyum senang. Terlihat sebuah pemantik api di tangannya. Diputar-putarnya pemantik itu.

Mungkin dia sudah gila. Iya, dia gila. Namun, semua ini karena pria yang bernama Kim Myungsoo itu.

.

.

Sore Hari..

Museum Oyaku..

Tak seperti sore biasanya, kali ini Museum Oyaku disesaki oleh para pengunjung dari berbagai kalangan. Setidaknya mereka ingin mengingat museum yang telah memberikan banyak pelajaran bagi mereka.

Begitu pun dengan Myungsoo dan Soojung. Keduanya sibuk memutari isi museum. Melihat barang-barang berharga disana, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

“Sayang sekali museum ini harus ditutup. Bisa tidak ya aku membawa pulang patung kelinci ini?” gumam Soojung. Ia tertarik oleh patung ukiran kelinci kuno. Mungkin usia benda itu sudah mencapai setengah abad. Dibuat pada masa Dinasti Joseyon oleh pengrajin terbaik mereka pada masa itu.

“Sembarangan kamu! Itu merupakan koleksi negara yang berharga,” tegur Myungsoo.

Soojung pun hanya dapat mendengus kesal. Sesudahnya ia kembali berjalan menuju rak-rak tempat peninggalan batu-batu berharga milik kerajaan pada masanya masing-masing.

Myungsoo pun turut melihat-lihat. Disamping itu matanya pun ia tajamkan untuk mencari petunjuk kedua secermat mungkin.

Tak ada yang ganjil. Sejauh mata memandang semuanya tampak normal.

“Eh-eh, Myungsoo, kemari! Ini-ini! Sepertinya jejak si hantu nakal itu,” pekik Soojung setelah ia mendapati sebuah goresan di leher guci antik tua.

Myungsoo pun segera mendekat. Diperhatikannya secara seksama.

Bekasnya ganjil. Bukan seperti goresan benda halu. Tapi, lebih ke.. benda tajam?

“Kau lihat ada benda tajam di sekitar sini?” tanya Myungsoo. Ia masih memperhatikan goresan pada guci tua itu rupanya. Tangannya mengusap pelan leher guci itu.

Kasar.

“Tidak ada benda tajam apapun disini,” ujar Soojung.

Myungsoo pun menegakkan tubuhnya, “Benda tajam bukan hanya pisau atau semacamnya. Bisa jadi benda yang permukaannya tajam atau kasar dan ujungnya runcing.”

“Kalau itu yang kau maksud, batu-batu disini bisa jadi benda tajam.”

Myungsoo pun memandang ke arah rak tempat batu-batu itu terpajang. Keningnya pun berkerut. Ia kemudian berjalan menyusuri tiap rak.

“Tunggu! Batu ini aneh,” ucap Myungsoo.

Myungsoo pun menghampiri sebuah batu yang letaknya terpojok sendiri.

“Terlalu lembut, dan permukaannya.. seperti dibuat-buat,” ia pun memegang batu itu. Dibukanya kulit batu berwarna abu-abu tersebut.

“BOM!!” pekik Soojung seketika. Seluruh pengunjung yang ada di daerah itu menjadi kaget ketika Soojung meneriakkan kata bom dengan lantangnya.

“Apa? Apa?” seru mereka.

Beberapa dari mereka yang melihat bom, segera berlari sambil berteriak panik.

“Myungsoo kita harus segera keluar dari sini!” pekik Soojung.

Sial! Bom ini sepertinya sudah dipasang agar meledek sesuai waktunya. Bom rakitan baru. Tidak ada kabel penghubungnya. Ini sungguh rumit.

“Myungsoo ayo kita keluar!”

Myungsoo pun mengangguk. Ia pun segera meletakkan bom itu di tempat yang jauh dari kaca.

“Semua pengunjung sudah keluar?” tanya Myungsoo. Soojung yang pikirannya sedang kalut, hanya bisa memberikan respon ala kadarnya.

“Kalian belum keluar?! Ayo, cepat keluar! Disini jalan keluarnya!” rupanya petugas pemadam kebakaran, polisi, dan petugas penjinak bom sudah tiba di tempat itu.

Setelah dipastikan tidak adanya orang di dalam, para petugas penjinak bom pun segera mendatangi Myungsoo.

“Kau temukan dimana bomnya?”

“Di dekat rak penyimpanan batu dan guci. Bentuk bomnya modern. Tak ada kabel pengubung. Sepertinya, bom itu sudah dipasang sejak tadi malam dan diwaktu agar meledek sepuluh menit dari sekarang, ” ujar Myungsoo selengkapnya.

Para petugas itu pun mengangguk. Mereka mempersiapkan beberapa perlatan yang sekiranya akan mereka butuhkan.

Yes, game over ..”

Dduaarrr…

Bom itu pun meledak keras. Semua orang yang berada disitu mencoba menutupi wajah mereka agar tak kena material-material berbahaya.

“Bagaimana mungkin sudah meledak? Aku melihat waktunya baru sampai pada hitungan lima puluh tadi,” gumam Myungsoo.

+===+

Myungsoo kini berada di sebuah kantor polisi untuk memberikan saksi. Soojung tidak ikut diperiksa karena alasan tertentu. Terlihat ramai ruangan itu. Kebanyakan dipadati oleh saksi mata kejadian pengeboman Museum Oyaku.

Menunggu giliran untuk diperiksa, mata Myungsoo memandang tempat itu seksama. Banyak simbol kepolisian yang tertempel pada dinding abu-abu itu. Tak luput banyak kertas yang bertumpuk memenuhi sudut ruangan, nampaknya itu merupakan berkas kasus-kasus yang terjadi di Seoul dan sekitarnya.

“Bisa kau berikan keterangan secara terperinci disaat kau menemukan bom itu?”

Myungsoo menarik napas sebentar, sebelum dirinya mulai bercerita panjang lebar, “Saat itu saya dengan Soojung hendak melihat-lihat Museum Oyaku untuk terakhir kalinya. Karena, menurut pemberitaan, museum itu akan ditutup hari ini.”

Diberikannya jeda sejenak untuk memberi waktu sang penanya mengetik semua penuturannya. Ia menimbang sebentar, apakah dirinya perlu memberitahukan perihal pria misterius itu dan segala tindak tanduknya?

Tapi kalau diberitahukannya sekarang, kasus ini akan berbuntut panjang.

“Setelah itu, kami berjalan-jalan mengitari isi museum. Hingga kami berhenti di tempat barang-barang antik. Saat itu kami tertarik berada disana, karena menurut rumor banyak sekali “hantu” yang berkeliaran di dalamnya. Sebenarnya, Soojung yang terus memintaku untuk kesana karena dia terlalu penasaran apakah rumor itu benar atau tidak. Aku memutuskan untuk memberi tahu Soojung bahwa rumor hantu itu hanya iseng. Aku kemudian melihat-lihat dan meneliti benda-benda disana untuk mencari celah. Dan rupanya bukti itu aku temukan disebuah guci.”

“Guci? Lalu, apa yang kau temukan disana?”

“Sebuah goresan kecil di sekitar lehernya. Soojung yang menemukan goresan itu, bukan aku. Kemudian, setelah aku tilik, goresan pada guci itu tak wajar. Terlalu kasar. Dan aku menemukan penggores itu pada batu yang rupanya berisi bom.”

“Awalnya aku tak tahu kalau batu itu bom. Tapi, dari permukaannya yang tak wajar dan sedikit lunak, aku kemudian mengoyak kulit luarnya. Baru ketahuan kalau isi batu itu adalah bom.”

Hm, baiklah. Setelah itu, apa kau bisa memberi keterangan mengenai bayangan seseorang yang kau lihat di tengah malam kemarin?” kini penyidik itu berpaling kepada seorang pria.

Bernama; Kim Dae Won. Berumur 25 tahun. Seorang cleaning service Museum Oyaku. Bekerja kira-kira baru dua bulan ini.

“Iya, kemarin saat saya sedang shift malam, kira-kira pukul dua malam ada orang yang berada di tempat penyimpanan barang antik. Dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, sepertinya dia seorang pria. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena saat itu posisinya membelakangiku. Pria itu berdiri di dekat rak-rak batu dan dekat dengan sebuah guci antik. Mungkin, tempat batu itu yang ditemukan oleh pemuda ini; tempat bom berada. Kalau tidak salah tangannya sedang memegang sesuatu. Saat kutegur, pria itu langsung berlari ke luar jendela.”

“Sepertinya, benda yang dipegang oleh si pelaku adalah batu yang asli. Sedangkan batu yang berada di rak itulah bom sebenarnya. Jadi, mungkin goresan pada guci yang kulihat kemarin, mungkin reaksi spontan dari si pelaku,” Myungsoo angkat bicara.

“Reaksi spontan? Apa maksudmu, Myungsoo?”

“Iya, orang akan spontan bereaksi kaget jika ada sesuatu yang mengagetkannya. Reaksi kaget orang bermacam-macam. Sesuai dengan perintah otak tiap orang. Lalu, mungkin si pelaku saat bereaksi adalah tangan kanannya yang memegang batu sebenarnya, tak sengaja bergoresan dengan leher guci sehingga menimbulkan goresan kasar. Lalu, karena ia panik maka si pelaku segera meninggalkan tempat kejadian melalui jendela.”

Polisi yang kiranya masih berusia muda itu segera mencatat segala keterangan yang diberikan saksi mata.

“Myungsoo!”

Si empunya nama kemudian membalikkan tubuhnya, menatap sang penyapa akrab.

“Ya, pak?”

“Ada surat untukmu,” seru kepala kepolisian tersebut.

“Dari siapa memangnya?” tanya Myungsoo yang sudah menerima sepucuk surat.

“Aku tidak tahu. Tadi ada seekor anjing yang mengirimkan surat ini kepadaku. Lalu, ada namamu yang tertera disana. Jadi, aku kira pemilik anjing itu ingin menyampaikan surat ini untukmu.”

Myungsoo pun mengangguk, “Baiklah. Terima kasih, Pak.”

Pemuda itu kembali berkutat dengan surat yang ia terima. Pertama, kedua iris hitamnya menangkap tujuan si pengirim. Ia membolak-balikkan surat itu untuk melihat atas nama pengirim.

Tidak ada nama di atas surat itu selain namanya.

 

Aku tidak menyangka Museum Oyaku meledak hari ini. Kukira bom itu akan meledak esok hari. Ah, ini semua salahku. Pemantik apinya tak sengaja kutekan, dan.. DOR!

HAHAHAHA..

Menyenangkan bukan?

Petunjuk berikutnya: 20 dan 30. Dan, tebak hari ini tanggal berapa?

Selamat bersenang-senang, Kim Myungsoo!

Myungsoo menggeram. Pemikirannya benar bahwasanya pria misterius kemarin merupakan pelaku pengeboman.

Kasus ini harus segera kuselesaikan! Sebelum pria itu menyebabkan kerusakan yang lebih parah untuk ketiga kalinya! Sial!

Lagi-lagi pesan itu berhasil membuatnya berpikir keras.

20-30? Sekarang tanggal 23 Oktober. 23.. kalau angka 2 dan 3 disini aku hilangkan.. maka yang tersisa tinggal double 0. Tunggu! Petunjuk sebelumnya, S.. dan sekarang double 0. Nol disini kalau dibaca huruf “o”.. maka

 S.O.O..

SOOJUNG! Pria itu benar-benar ingin mendapatkan murka dariku!

Myungsoo segera berlari keluar untuk menemukan Soojung. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling untuk melihat sang gadis.

Dia mengepalkan tangannya keras, teramat keras hingga sang peluh bingung untuk mendarat kemana. Pelipisnya basah. Adrenalinnya meningkat drastis, mengikuti irama detak jantung yang berlebihan untuk berdetak.

Berlari, dan terus berlari..

Kakinya sudah mati rasa. Yang ia pentingkan hanyalah Soojung.

Ia harus bisa menemukan Soojung!

Sejauh kakinya berlari, setajam apapun fokusnya, ia tak dapat menemukan Soojung.

Satu kenyataan yang berhasil menghantamnya jauh dan membuatnya sekarat.

Soojung dalam bahaya..

.

.

.

| T B C |

Akhirnyaaa ini fic jadi jugaa >_< Niatnya pengen bikin misteris sekaliber Aoyama Gosho, eh malah jadinya fic busuk jelek ini >_< maaf banget ya kalau kasusnya ga jelas dan petunjuk-petunjuk membingungkan T.T jujur aku bikin ini ada beberapa bagian yang aku hapusin terus-terusan sampai pusing mikirinnya -_-

Ini fic termasuk berat kali ye .___. Habis bikinnya harus ngorek-ngorek kertas dulu sih T.T

Ohya, TOLONG JANGAN COPY-PASTE CERITA INI MESKIPUN FULL CREDIT! Kalau mau share, bisa tekan tombol share yang sudah tersedia, atau REBLOG, atau KASIH BACK-LINK! Ingat jangan COPY-PASTE ISINYA!

Sekian, terima kasih yang sudah mau memberikan komentar demi fic ini >_< #bungkuk90o

26 responses to “A Case [1/3]

      • hmm jujur aja, petunjuknya ga ruwet… tp agak jauh dari dunia perdetektifan hahahah😄
        tapi bagus, kamu bkin khas kamu sendiri❤ aku suka meski banyak typo sih, tapi biarkanlah😄 pertama aku pikir ini case conan yang di roller coaster yang ketemu anggota BO. apa ini kasus conan yang a bombeb time skyscraper ya? /mikir…/ seinget aku kasus yang berhubungan dengan museum dan bom hanya movie no1 itu😄 bahahaha.
        anyway, kamu bikin si Myung itu bikin lebih pinter dong, disana kesannya lemot banget (?)

      • iya, emang ngga ruwet, karena kalau lebih ruwet lagi mungkin kepalaku yang botak -__-
        haha xD iyalah, saya kan masih amatir-___- Aoyama Gosho kan udah kaliber banget >///<
        tapi, setiap kasusnya, aku bisa sih nebak siapa pelaku utama-__- #sombong.. #kicked..
        iya, banyak typo soalny di FMSJ belum aku edit sama sekali -__-
        yang di blog pribadi mending sih typo-nya ngga terlalu merajalela xD
        ah, ini ngga ada yang di Detective Conan The Movie xD ini asli buatanku makanya agak abal sedikit -__-
        haha xD kamu tahu ngga, coba deh kamu pahami lagi karakter Shinichi :p haha xD dia itu selalu bisa memecahkan kasus karena bantuan orang lain :p
        coba di telaah lagi xD hakhakhak xD

      • aku nonton conan kok, aku tau shinichi kalo mecahin masalah karena sadar akan sesuatu/disadarin orang secara ga langsung. tapi kan ga sering..
        dan kan aku bilangnya si myungie disana kelihatan lemot ;;AA;; bukannya masalah dibantuin orang lain apa gimana.. kan aku bilang myung kelihatan lemot gitu..
        oh ini dari kamu sendiri? aku kira peluncuran(?)dari komik😄 oh ya yahhh itu kan inspired by…. xD aku bacanya tadi ‘credit to’ *SUMPAH WEH ITU JAUH BNGT VIIII #tergampar*

      • tapi rata-rata dia kalau lagi lemot juga, gara-gara Ran kan baru bisa mecahin kasus xD
        jadi, yah intinya Sinichi juga ngga pinter-pinter amat.. #ditendang..
        iya, memang -__- aku rasa juga gitu -__- ngga tau sekali-kali disini dia aku buat lemot xD haha xD tapi, di chapter selanjutnya sih mudah-mudahan ngga xD #dicekek..
        iya, habis kalau dari komik, kan bejibun tuh kasusnya, jadi bingung sendiri pakai yang mana O_O hohoho.. terus ntar ga surprise lagi xD
        iya, waduh.. Credit To O_O noo..
        kalau aku nyantumin credit to harusnya kasusnya bisa LEBIH WOW dari ini u,u

  1. GILAAAA!!! KONSEPNYAAAAAA!!! AAAAAAAAAAAAA (?)
    Cepet lanjutinnya~ Alurnya ga seberapa ribet dan petunjuknya itu kreatif banget. Aku suka!
    SEMOGA JADINYA CEPET~~~~

  2. Zukyyy maaf baru baca, ada beberapa catatan dan tentunya komentar dari aku! Jangan bosen bacanya yaaa ehehe. Nemu typo di “dan delingkapi dengan jaket abu-abu dengan tudung kepala yang menyamarkan identitasnya”, “Meyakinkah Soojung agar mengikuti arahannya.”, “Bekasnya ganjil. Bukan seperti goresan benda halu. Tapi, lebih ke.. benda tajam?”

    Seksama bakunya saksama

    Untuk kata yang menunjukkan tempat, contohnya “disebuah guci” itu harus dipisah jadi “di sebuah guci”, berlaku juga buat “disamping” dan “disana”, jadiii pokoknya kalo menunjuk tempat harus dipisaaah. Selebihnya udah bagus! Tulisan kamu makin berkembang ke arah yang makinmakin bagusnya! Keep it up!😄

    Alurnya runtut dan bagus! Tapi aku mikirnya pas mereka jalan berdua itu keingetnya pas Shinichi ngeliat Vodca mau transaksi terus nyuruh Ran nunggu dia. Krik-_- tapi karakter yang kamu bentuk asyik! Soojung-Myungsoo pas kalo dibayangin sebagai perwujudan Shinichi dan Ran. Soalnya Soojung kan keliatan kuat dangaleyeh-leyehkayakopelmyunglainnya. Maaf aku agak jengah karena ff kopel ‘itu’ banyak lagi di ifk.. plus itu freelance semua jadi aku harus ngeliat pas mau ngejadwal-__- /protes/

    Uhhh kamu pinter banget bikin teka-tekinya di sini! Yang aku salut adalah kamu bikin riset dulu tentang museum dan sebagainya, ga asal buat aja. Tapi mungkin yang menurutku perlu ditambahin itu deskripsi latar kali, ya? Dengan deskripsi latar dan suasana aku yakin fic kamu bisa kerasa lebih idup😉

    “Dia hanya bisa mengunci mulutnya, sambil berdoa agar dirinya tak gelap mata untuk membunuh pria satu ini.” –> otakku yang salah atau aku mikirnya malah pelakunya Soojung? /HEH/ soalnya ummm ini bukan maksud konteks Soojungnya mau membunuh dengan bercanda gitu ‘kan ya? Kok aku kepikirannya kaya kakaknya itu Sooyeon, terus Sooyeon pernah kena sesuatu karena Myungsoo-_- entahlah padahal pelakunya itu lelaki. Duh kalo salah abaikan saja analisis ini..

    Yang pasti petunjuk dan misteri yang kamu kasih bagus banget! Sayangnya Myungsoo kaya terlalu butuh bantuan dari orang, mungkin lebih ngena kalo dia sadar sendiri tentang keberadaan papan tulisnya, bukan karena dikasih petunjuk? /protesmulu/ tapi sudahlah, segini aja udah cukup untuk membuktikan bahwa Myungie itu cowok pandai yang santai cekatan dan sayang sama Soojungie :3 OH! Hampir lupa, kayanya lebih enak kalau ada narasi yang nyeritain hubungan kaya gimana Myungsoo-Soojung ini. Contoh, “Kim Myungsoo dan Jung Soojung telah bersama sedari… blablabla”.

    Umm terus kok aku agak aneh ya pas adegan polisi dkk dateng? Kalo polisi masuk akal, karena mungkin mereka berjaga-jaga di sekitar museum, nah pemadam kebakaran sama penjinak bom? Kalo ga diminta ‘kan gamungkin dateng, penjinak bom juga mungkin bisa karena mereka ada hubungannya sama kepolisian, tapi logikanya gamungkin secepat itu sampai. Dan untuk selebihnya alur yang kamu susun dan segala-galanya oke juga asyik! Aku naksir ah sama tulisan kamu<3

    Kita kembangin FMSJ dan menyebarkan virus Myungstal sama-sama ya zukyyy! Eh bilangin kak ella aku kangen dia :3 myungsoojung jaya FMSJ jaya!!! \o/ ditunggu lanjutannya (dan sebenernya aku berharap ini bisa lebih dari 2 chapter, ehehe), semangat ujian-ujian dan UN kamuuu!

    • ah, ya itu typo.. sorry banget ini fic emang banyak typo -__- mataku udah ngga jeli kalau suruh review fic berhalaman sampai 20+ >_< Maaf banget fik jadi buat ngga nyaman pas bacanya TT
      iya, memang penulisan yang merujuk ke tempat itu dipisah -__- tapi, spasi di keyboardnya mendadak ngga bisa berfungsi kalau pas lagi ngetik kata-kata itu.. HAHAHA LUCU BANGET.. #slapped..
      makasih reviewnya ya, Fik😀 membantu sangaaaaaaaaaaaat😀 #lempardaehyun..

      haduh, kamu mau nyamain Soojung dengan Mba S yang itu kayaknya JAAUUUHHH baaanggeeet -____- sudah ya, saya ngga mau nambah dosa lagi dengan mengebash -_- kamu tahu ngga kalau bahas mba s itu aku bawaannya pengen bawa obor -.- #kicked..

      Ohya, itu teka-teki abal, u know u,u punyamu pasti jauh jauh jauh jauh lebih bagus dariku xD apalagi teka-tekinya kak giri di SB -__- jangan ditanya lag -.- anywy, untuk museum itu.. itu ngga ada riset sama sekali.. jadi, MUSEUM ITU FIKTIF! asli, makanya namanya asal comot aja gitu, asal karang xD ASEEKKK~~ #killed..

      narasi itu memang konteksnya Soojung yang sedang bercanda -__- terlalu kasar kan? haha xD jadi, Soojung ngga polos-polos amat lah di cerita ini xd siip😉

      • — maaf aku jadiin 2shoot, karena biasanya wp akan labil suka motong komen orang -_-

        nah, itu! memang sengaja aku buat L agak bloon disini xD maklum, baru permulaan, jadi otaknya kurang keasah xD #slapped.. iya, rencananya sih pas awal-awal aku mau nambahin narasi gitu, kaya di Conan d’movie-nya.. tapi, menurutku ngga terlalu perlu kali ya.. nanti aku jabarin secara eksplisit aja deh😉

        gini, untuk penjinak bom, polisi, dan pemadam kebakaran.. itu otomatis kalau di pikiranku.. otomatis, orang-orang yang keluar dari gedung yang menyadari kalau ada bom, pasti mereka akan menghubungi polisi sambil bilang, “PAK, DI MUSEUM OYAKU ADA BOM! TOLONG, BOMNYA AKAN SEGERA MELEDAK! dan blahblahblah..” gitu.. jadi, pasti polisinya sampai disana sambil bawa tim penjinak bom sama pemadam kebakaran.. anyway, tugas pemadam kebakaran, bukan cuman “memadamkan api lho”😉 mereka juga berguna untuk mengevakuasi korban, dll.. terus, kalau aku lihat di komiknya, setiap ada kasus bom itu, rata-rata yang dateng polisi-penjinak bom-pemadam kebakaran ._.
        cepet nyampai? kan memang.. Museum Oyaku itu letaknya di tengah kota, jadi otomatis jarak kantor polisi-nya juga deketan dong :p lagian kalau ada kasus bom, ngga sampai satu menit, juga itu pasti polisi udah nyampai *_*

        Oh ya, kak ella udah mau kambek xD cuman, sayangnya dia kambek dengan Eunhye-Yonghwa, Krystal-Kai TT dia lagi ngga ada ide buat Myungstal fic >_<

  3. tidak tidak, conan IQnya 180 o_o tidak mungkin dirinya lemot *jambak2 he iji(?)* btw…….. *nunjuk comment atas* astaga fikha…. drabble😄 ROFL. kasus ini sudah WOW (?) kok *nyanri lagu wow-nya BTOB* i like it~ i like it *joget*
    dan oke itu melenceng, back to topic.. xD si shinichi biasa mecahin kasus lebih sering sadar sendiri kok A_A ada sih bbrp sadar krna perkataan agrup detektif cilik, ran, kogoro dan tersangka di tkp sendiri😀 kkkke

    • haha xD memang.. IQ kok tinggi-tinggi ya O_O JANGAN JAMBUKK RAMBUT HEIJI, NANTI KAZUHANYAA MARAAAAHHH >_<
      iya, dia kok bisa ya komen panjang no cutting -_- padahal aku kalau komen drabble kaya gitu, wp menjadi labil seketika -_-
      hahaha xD
      kasusnya sudah wow? wow buruknya kaaan? xD
      iya iya, daripada kita memperebutkan kepintarannya Sinichi, ntar shin bersin disana gimana? :p #slapped..
      siip, apa perlu aku tambahin tokoh kogoro disini ya? kayaknya seru sih ada orang dengan karakter semacam kogoro O_O

      • iya betuuul mereka jenius *garuk tanah* hahah ga takut sama kazuhaa :3 kasih setan juga kabur wuahahah😄 iya ntah lah dia niat sekali (?) rofl. enggaaa udah bagus bangetttt kok:/:/:/:/ gpp la bersin nnti diurus sama ran😄
        PERLUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU SERU SEKALI PASTI❤

  4. Annyeong~ I’m new reader ^^/
    kereeeeeenn ff nya… feel detektifnya dapet..
    itu aku sampe ikutan tegang pas yg malem2
    aku suka detektif conan..
    jadi Myungsoo dan Soojung ini Shinichi dan Ran yaa..
    aigoo.. cocok ^^d emang serasi mereka.
    kereeeeennnn bangeetttt ceritanya…
    bikin penasaran … daebak daebak \^0^/

    • Annyeeong, cantik^^ hehe.. okeh, semoga betah ya disini~ ada banyak ff MyungSoojung di sini lho~ ayoook bongkar bongkaar😀 /promosi/ /slapped/
      okeh, makasih.. awalnya kukira feel detektifnya itu ga kerasa banget -_- hehe.. okeh, memang ya sejenis itulah~ haha.. makaaasiihh..
      makasih cintaaaaaa.. aku jadi terharu nih :’)) makasih yaa :DDDD

  5. Suka bgt sama ff yg genrenya action apa lg cast nya klee yg emang pntes main cast genre action😀 good author seru bgt deh sumveh

  6. thorr kkeerreennn banget ini fff😀
    kenalin aku readers baru, saking bosennya dirumah aku nyoba2 ngubek2 googlee nyari ff klee akhirnya nemu ini ff :v
    daebbak bgt deh thor😀
    hihi
    ditunggu ff klee yg lain ^^

    • Halo, dewi^^
      Duh, makasih ya atas pujiannya, jadi malu :$ ff emang cocok jadi pengisi waktu luang :3 anw, Krystalized ya?:)
      Okey, di sini banyak kok ff Klee, atau berkunjung aja ke website-ku, thanks yaaa🙂

  7. aku telat banget baca ini… *garuk tanah*(?)
    KEREEEENNN!!! SUGOIIII!!(?) SUGEEEEE!!!(?) /ngomonapa/
    keren pokoknya! teka-tekinya juga kreatif! btw, teka-teki ‘coklat berisi putih nol, garis’ itu aku mikirnya donat-_-V emang, faktor karena aku lagi lapar ini hiks /slapped
    penasaran sama chap selanjutnya, aku chap dua ya~ bubayy~ /?

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s