A Case [2/3]

A Case

acase

a movie by ©  Mizuky

Main Cast:

|| Myungsoo [Infinite] – Krystal [F(x)] ||

Support Cast:

|| OC ||

 Duration:

Threeshoot (Untuk chapter ini supeeerrr panjaaanggggggg!!!)

Genre:

|| AU, Friendship, Mistery, Romance, Detective Story, Tragedy, Fiction ||

Rating:

|| G ||

Summary:

Myungsoo.. seorang detective muda yang sangat menggilai buku dan misteri. Hingga suatu hari, rasa penasarannyalah yang membawanya masuk ke jurang kematian bagi dirinya.

Inspired by:

|| Detective Conan © Aoyama Gosho ||

Preview:

 1 | 2 | 3

 

oOoOo

Kim Myungsoo, dan Jung Soojung.

Dua orang pemuda-pemudi yang tak berbeda dengan kita. Layaknya seorang siswa lainnya  yang masih bersekolah di sekolah menengah, mereka pun melewati kehidupan sesuai dengan kebanyakan remaja pada umumnya.

Khusus untuk Kim Myungsoo, semuanya terasa istimewa.

Wajah tampan, orang tua yang mumpuni, pewaris perusahaan Hyundai yang mampu menyongsong masa depannya, tak luput pula ia dianugerahi dengan otak yang berkapasitas tinggi.

Siapa pula yang tak mengenal Kim Myungsoo? Pemuda yang tak hanya berbakat di akademik dan atletik itu, pun terkenal di kalangan kepolisian. Bukan karena dia anak nakal, tetapi kecerdasannya untuk mengungkapkan kebenaran itulah yang membawanya kepada puncak keagungan.

Memiliki hubungan dekat dengan Jung Soojung.

Ia berteman dengan gadis itu kurang lebih sejak mereka masih kanak-kanak. Hal itu karena kedua orang tua mereka yang saling mengenal satu-sama lain. Usut punya usut, tampaknya kedua sejoli ini sudah saling dijodohkan.

Soojung tidak termasuk ke dalam jajaran gadis istimewa. Wajah yang tak begitu istimewa (mengingat banyaknya siswi yang lebih cantik darinya), keluarga sedehana, berotak rata-rata, kurang ahli dalam bidang akademik, namun ia adalah Ratu Karate, begitulah orang-orang menyebutnya jika ia sedang mengenakan karategi–pakaian karate.

Petualangan demi petualangan berdarah dan sarat akan kemisteriusan, telah menanti mereka..

.

.

.

Siang hari, sekitar pukul dua siang, matahari tidak terlalu menyengat dengan ganasnya. Sedikit berbaik hati kepada pemuda yang tengah berlarian dengan peluh membasahi pelipis. Ia terus berlari, kemana pun tempat dimana orang yang dicarinya berada. Sekonyong-konyong bahunya bertabrakan dengan pundak lainnya, namun ia tak peduli.

Hanya nama Soojung yang terus di pikirkannya. Ia meremas surat itu dengan geram.

Sial! Pria itu benar-benar serius akan ancamannya! Sial! Soojung, dimana kamu?

“Soojung! Soojung! Kau dimana?” teriak Myungsoo panik.

Matanya terus saja berlarian kesana-kemari. Mencari sosok gadis muda berambut panjang dengan sebuah pita rambut yang menghiasi rambut indah menawannya.

Kakinya gemetar takut, seiring otaknya yang mulai memikirkan hal-hal buruk.

“Myungsoo..”

Bisikan itu. Myungsoo berhenti berlari. Kini, ia berdiri di tempat itu.

“Myungsoo..”

Matanya menelusur tiap jengkal tempat itu. Bisikan suara Soojung yang terus menggema di kepalanya, membawanya kepada sebuah realita yang menyesakkan.

“Myungsoo..”

Untuk ketiga kalinya suara itu berbisik. Ia bersumpah bahwa dirinya pasti sudah gila saat ini.

“Myungsoo..” ketika suara itu semakin mendekat, Myungsoo hanya terdiam. Dia justru memejamkan matanya untuk mengurangi nyeri yang mulai menggerayangi sel-sel otaknya.

“Myungsoo, kau aku panggil! Kenapa tidak menoleh?! Dasar, malah kau tidur seperti itu! Ck.. kau ini aneh!”

Myungsoo mengerjapkan matanya dalam gerak lambat.

Bukan, itu bukan ilusi. Itu suara Soojung! Ya, itu bukan ilusi.

Matanya terbuka sempurna. Ia menatap gadis yang mengenakan seragam serupa dengannya tidak percaya.

“Hei, kau kenapa? Kau sakit?”

Tak disangka oleh si perempuan, Myungsoo menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat. Pemuda itu mendekapnya erat sekali, seolah tak ingin melepaskan gadis itu pergi.

“Kau ke mana saja tadi? Aku pusing mencarimu, bodoh! Dasar kau bodoh! Aku hampir mati karena tidak bisa menemukanmu!” isak Myungsoo.

Soojung yang pada dasarnya tak mengerti situasi yang terjadi, hanya dapat kebingungan di tempat. Namun, hati kecilnya tersenyum cerah. Ia tahu bahwa Myungsoo mengkhawatirkannya, dan ia sangat senang olehnya.

“Sudah kubilang jangan pergi jauh-jauh! Kenapa kau tak menurutiku?!”

Kini, senyuman itu perlahan muncul di bibirnya. Tangannya ia gerakkan untuk menepuk ringan punggung Myungsoo yang sedikit bergetar.

Ia menyadari bahwa hampir sekujur tubuh pemuda itu basah oleh keringat, namun tak tahu mengapa ia tak ingin melepaskan pelukan itu. Tak ada rasa jijik sama sekali. Ia justru tersenyum malu.

“Maaf. Tadi karena menunggumu lama dan aku sedang haus, aku tadi membeli minuman sebentar. Maaf ya sudah membuatmu cemas.”

Setelah mendapatkan jawaban, Myungsoo lalu melepaskan pelukannya. Ia kini memandang Soojung dengan mata kecemasan.

“Harusnya kalau kamu tidak sabar, masuk saja ke ruang pemeriksaan. Daripada kau pergi seperti tadi. Bagaimana kalau pria misterius kemarin berbuat yang tidak baik kepadamu? Siapa yang mau bertanggung jawab?! Kau itu kenapa selalu menyusahkanku, sih?!” keluh Myungsoo.

Rasa iba Soojung baru muncul tadi, kini telah sirna begitu Myungsoo kembali mengeluarkan sifat setannya.

“Bagaimana aku mau masuk kalau semua orang di kantor polisi pria semua?! Apalagi tempat itu bau rokok! Kau seharusnya yang paling tahu bahwa aku paling benci oleh bau rokok!” seru Soojung.

Myungsoo segera menyadari sikapnya, rahangnya perlahan mengendur, lalu tergantikan oleh sebuah senyum tipis laksana mentari yang bersinar cerah saat ufuk menyingsing di barat.

Kembali Myungsoo memeluk Soojung hangat, “Aku sangat mencemaskanmu.”

“Iya, aku tahu. Maafkan aku, Myungsoo.”

Kini Myungsoo dapat tersenyum lega. Senyumnya berhasil ia dapatkan kembali. Ditengah kepelikan ini, senyum Soojunglah yang dapat menjadi arah hidupnya.

+====+

Kepedihan, kepilauan, kesedihan, amarah, kekecewaan.. semua kesengsaraan hidup dirasakannya. Lewat kedua bola mata penuh dendam itu, ia perhatikan lagak Myungsoo dan Soojung.

Tak ayal sebuah seringai licik pun ia munculkan.

“Bersenang-senanglah kau Myungsoo. Akan kuberi kau kesempatan merasakan hidup terakhirmu. Bukan sekarang waktumu untuk menderita. Nikmatilah saat-saat kebersamaanmu bersama sang kekasih..”

Ponselnya bergetar pelan, namun cukup untuk memberikan tanda peringatan kepada pria misterius itu.

“Aku sudah menyelesaikan pekerjaan. Di mana kita akan bertransaksi?”

Mendengar perkataan dari lawan bicaranya, bagaikan ia mendapatkan sebuah bintang kejora. Ia tersenyum-lebih tepatnya menyeringai-senang. Masih pandangannya tertuju pada sosok Myungsoo dan Soojung yang sibuk bercakap-cakap.

Tangan kanannya ia gunakan untuk mengeluarkan sebuah benda yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang saku celananya.

Sebuan benda metalik yang tajam dengan ujung berkeliauan karena diterpa sinar matahari. Sebuah benda yang tak dapat dibayangkan oleh siapapun jua..

Benda itu..

Pisau..

“Benarkah? Baiklah kita bertemu di taman kota. Aku tunggu kehadiranmu disana.”

“Taman kota? Bukankah tempat itu terlalu ramai? Bagaimana kalau ada orang yang curiga?”

“Mau bertaruh? Sekitar pukul dua sampai tiga siang, taman kota akan sepi pengunjung. Sudahlah! Temui aku di taman kota, atau kau tak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan,” ancam pria itu.

“Baiklah, baiklah. Awas saja kalau kau ingkar janji. Kau akan tahu akibatnya!”

Aw, men. Tak usah menggarang seperti itu. Santai saja kepadaku. Baiklah, sampai bertemu denganku satu menit dari sekarang.”

Pria itu pun menutup ponselnya. Matanya melirik ke arah jam kulit yang setia bertengger di tangannya itu.

“Sampai bertemu satu menit dari kematianmu sekarang, Kim Jae Won,” ucapnya sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.

.

.

.

“Myungsoo, ada apa?”

Pandangan pemuda itu pun kembali pada Soojung.

“Tidak ada apa-apa.”

“Daritadi kau terus saja melihat ke arah pohon itu. Ada apa memangnya dengan pohon itu?” tanya Soojung dengan mata sedikit mencuri pandang ke arah sebuah pohon.

“Tidak. Aku tadi merasa seperti melihat seseorang berdiri di bawah pohon itu sambil memandangi kita. Tapi, ketika kulihat kembali, tidak ada siapapun,” ungkap Myungsoo.

“Mungkin hanya halusinasimu saja. Sudah, ah. Ayo, kita pulang. Aku kepanasan di sini,” keluh Soojung. Tangannya menarik Myungsoo agar ikut serta bersamanya.

Tidak, aku tidak mungkin salah. Auranya menyeramkan.. atau mungkin, benar kata Soojung? Aku hanya salah lihat.

+===+

Ckit..

Suara decitan per mobil, membuat pria berjaket abu-abu menampakkan dirinya.

Ia pun menghampiri pria yang baru saja turun dari mobil, setelah sebelumnya tersenyum tipis melihat bercak kehitaman di aspal.

“Menungguku lama?”

“Tak juga.”

“Baiklah. Tak usah berbasa-basi. Mana uangnya?”

“Ada di mobil. Lalu, fotonya?”

“Ini,” pria berjaket itu kemudian mengacungkan sebuah pembungkus berwarna cokelat. Lawan bicaranya pun tersenyum simpul.

“Baiklah. Aku ambil dulu uangnya,” pria yang bernama Kim Jae Won itu kemudian berjalan menuju mobil merah- metalic -nya.

“Ini.”

Keduanya pun saling bertransaksi. Si pria berjaket mendapatkan uangnya, dan Jae Won mendapatkan barang incarannya.

“Oh ya, kau mau minum? Aku sengaja membeli dua. Satu untukmu,” ucap si pria.

Jae Won tersenyum, “Kau memang baik. Tahu saja aku sedang haus di siang terik begini. Terima kasih,” ujar Jae Won setelah ia menerima satu minuman itu.

“Minum dulu sebagai tanda terima kasihmu,” ujar si pria dengan nada bersahabat.

“Baiklah. Kau juga,” keduanya pun bersamaan meneguk minuman bersoda itu.

“Lega. Terima kasih lagi, kawan,” ujar Jae Won.

“Tak masalah. Senang bisa berbisnis denganmu. Sampai jumpa lagi,” kemudian pria berjaket abu-abu itu meninggalkan tempat itu.

Samar-samar, ia menyeringai ketika Jae Won mendekati mobilnya. Pegangan tangannya pada sebuah kaleng pun erat.

Aku ingin tahu, apa setelah ini kau masih sudi memanggilku kawan, Jae Won-ah? Dasar bodoh!

Pria itu pun sudah menghilang di antara gelapnya bayang-bayang pepohonan.

.

.

.

Jae Won pun meneguk minuman pemberian temannya itu hingga habis. Ia buang kalengnya ke sembarang tempat.

Namun, ketika dirinya memasukkan kunci mobil, sebuah hal yang tak terduga pun terjadi..

Tubuhnya kejang-kejang. Kunci yang tadi dipegangnya pun terpelanting ke tanah begitu saja. Tangannya terangkat untuk memegang tenggorokannya yang terasa perih.

Argh.. tolong-tolong!” teriaknya sekuat yang ia bisa.

Tenggorokannya terasa panas. Detak jantungnya melemah, seiring kesadarannya perlahan memudar.

Brukk..

Tubuhnya pun jatuh ke tanah, dengan mulut berbusa. Matanya masih terbuka, dan ia gunakan untuk menatap dua orang pemuda-pemudi yang lari ke arahnya dengan tergopoh-gopoh.

“Soojung, jangan!” bentak Myungsoo ketika Soojung ingin menyentuh tubuh Jae Won yang sudah tak berdaya.

“Ta-tapi.. Myungsoo, bagaimana bisa.. anda-?..” Soojung tercekat dan tak bisa meneruskan ucapannya. Ia iba melihat kondisi Jae Won saat itu. Tak terasa, air matanya pun jatuh ketika ia menyaksikan detik-detik terakhir orang itu.

“Daripada menangis, lebih baik cepat hubungi ambulans. Dia sudah tak dapat ditolong,” ujar Myungsoo setelah memeriksa denyut nadi Jae Won yang diambang batas.

Soojung mengangguk patuh. Sedikit terburu-buru ia mengambil ponselnya. Dengan cekatan ia menghubungi nomor darurat ambulans.

Saat Myungsoo ingin menghubungi polisi, tangannya dicegah oleh Jae Won.

Dengan sisa tenaganya ia memberikan isyarat pada Myungsoo bahwa ia ingin menuliskan sesuatu.

Myungsoo yang paham akan maksud Jae Won, segera mengambil sebuah pena dan buku dari dalam tasnya. Dibukanya sebuah lembaran kertas kosong, kemudian ia berikan pena hitam itu kepada Jae Won.

Pada saat terakhirnya, ia menuliskan sebuah simbol.

–>

“Se.. ko.. la.. hh..” ucapnya sedikit berbisik dengan jari yang mengacung ke arah Myungsoo.

“Sekolah?” ucap Soojung tanpa sadar.

Usai menuliskan pengharapannya, perlahan mata Jae Won menutup sempurna, seiring dengan jiwa yang terlepas dari raga.

.

.

.

Tak lama kemudian, beberapa polisi, tim penyidik, dan ahli forensik tiba di tempat. Dalam sekejap, tempat itu disesaki oleh orang-orang. Garis polisi sudah melingkar di sekitarnya.

Hm, korban bernama Kim Jae Won, seorang pekerja di salah satu bank swasta. Meninggal karena keracunan.”

Myungsoo berdiri di depan mobil milik korban sambil bertopang dagu.

Keracunan adalah penyebab utama. Keracunan.. minuman?

Kepalanya pun ia putar untuk mencari suatu benda yang sekiranya dapat menjadi tertuduh.

Matanya yang tajam pun melihat kepada seonggok kaleng yang terbuang begitu saja. Kaleng itu sudah tak mulus lagi. Banyak goresan di beberapa tempat akibat bergesekan dengan jalanan.

Tangannya-yang sudah terbungkusi oleh sapu tangan- pun terulur untuk mengambilnya. Hidungnya mengendus perlahan pada mulut kaleng.

Tak ada yang aneh, minuman ini biasa saja.

Ia pun turut melihat ingredients minuman itu.

Tak tampak keanehan satu pun. Semuanya normal. Terlebih masa kadaluarsa minuman itu masih tersisa lima bulan lagi. Jadi, cukup aman dan tidak mungkin menyebabkan keracunan.

“Hei, Myungsoo! Sedang apa kau di sana?! Jangan merusak TKP!” seru salah satu polisi berbadan cukup gemuk.

“Ah, Inspektur Nakawara! Saya menemukan ini di sekitar lokasi. Korban tewas karena keracunan, jadi kupikir botol minuman ini penyebabnya. Tapi, setelah kuperiksa, tak ada yang aneh. Coba tim forensik memeriksanya. Siapa tahu aku kurang teliti,” jelas Myungsoo.

Polisi gemuk itu pun melambai kepada salah satu petugas penyidik, bermaksud untuk menyuruhnya mendekat.

“Ini tolong periksa. Siapa tahu ada racun di dalamnya,” ujar Inspektur Nakawara dengan suara sedikit pelan.

Pria berbaju biru muda itu pun mengangguk paham, kemudian mengambil botol minuman itu. Ia pun segera undur diri dari hadapan si polisi.

“Nah, Myungsoo..” ucapannya tak berlanjut karena rupanya pemuda itu sudah tak ada lagi di tempat ia berdiri tadi.

Inspektur Nakawara yang sudah tak heran akan kelakuan ‘ajaib’dari pemuda itu, mengedarkan penglihatannya untuk menemukan Myungsoo.

“Ck, dasar anak muda jaman sekarang,” keluh orang tua itu manakala ia menemukan Myungsoo sedang melihat-mungkin menyelidiki- di sekitar mobil milik korban.

“Myungsoo, jangan sampai merusak TKP!” seru Inspektur Nakawara untuk kedua kalinya.

Myungsoo yang mendengar teguran itu mengangguk, tanpa sedikit pun menoleh ke arah lawan bicaranya.

Ia sibuk melihat bagian bawah mobil merah itu. Badannya sedikit ke bawah agar tangannya mudah menyentuh aspal.

Jejak aus ban roda karena pengereman mendadak.

Ia pun tak menemukan keanehan.

Kemudian rasa curiganya berpindah kepada substansi (bagian alas mobil-dasar- yang biasanya terdapat kabel rem, gas, dan sebagainya).

Saat menyentuh kepingan logam, refleks ia segera menarik tangannya karena kaget.

“Listrik stasis. Hampir saja,” keluhnya, “Pantas saja. Ada lempengan besi yang terjulur keluar begitu.”

“Tapi, tunggu!..”

Menyadari bahwa ia menemukan kejanggalan, badannya ia tegakkan. Matanya mencari-cari botol kaleng yang baru saja ia temukan tadi.

Dari kejauhan, ia melihat botol itu dibawa oleh salah satu tim forensik.

“Ah, permisi. Botolnya mau dibuang? Saya pinjam dulu sebentar,” tanpa tersisa sedikit kesopanan, ia segera menyambar botol itu, dan menyisakan petugas itu yang hanya berdiri sambil menggelengkan kepalanya.

“Listrik statis. Lalu, kalau tidak salah.. salah satu penyusun minuman ini adalah..” jemarinya menyusuri tiap deret kata, “..asam karbonat.”

Bibirnya seketika menyunggingkan sebuah senyum tipis.

Ia pun berjalan ke arah polisi untuk mengungkapkan analisanya.

Sret..

Kakinya tak sengaja menyenggol sebuah bungkusan cokelat.  Ia pun memungut bungkusan itu. Dibukanya pembungkus itu perlahan.

Ia tercenang ketika tahu bahwa isi dari bungkusan itu adalah beberapa foto.

“Foto ini..”

Dilihatnya lembar demi lembar foto. Beragam kenangan lama pun terbuka kembali.

“Pria ini.. apa dia merupakan benang merah kasus ini?” gumam Myungsoo.

Matanya masih terpaku pada selembar foto tersebut. Ia pun lalu membalikkan foto itu.

Kim Nam Hee..

Tetulis tiga nama itu di atas lembar putih.

Aku belum mati!

Myungsoo yang membaca kalimat terakhir, tak gentar sedikit pun.

“Pria ini.. bukankah dia yang waktu itu membunuh kekasihnya sendiri?” gumam Myungsoo.

“Myungsoo, kemari!”

Suara teriakan Soojung dari seberang segera membelah fokusnya.

Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Soojung.

“Sini!” Myungsoo kemudian mulai melangkah kembali, mendekati Soojung.

.

.

.

“Jadi, kau menemukan titik terang kasus ini?”

Myungsoo mengangguk, “Iya, semuanya sudah jelas sekarang.”

“Baiklah, jadi bisa kau terangkan kepada kami sekarang?”

“Korban meninggal karena keracunan. Tetapi, di botol minuman yang beberapa menit lalu ia minum, tak ada zat beracun. Minuman itu memang tampak tak membahayakan dari luar. Tetapi, sedikit pemancing saja, maka minuman itu akan berubah menjadi minuman iblis,” terang Myungsoo.

“Jangan bertele-tele, langsung pada inti permasalahan,” desak Inspektur Nakawara.

“Minuman itu mengandung suatu zat. Apa anda bisa menebaknya, Inspektur?” rupanya Myungsoo ingin bermain-main dengan polisi tua itu.

“Zat? Tapi, menurut tim forensik tidak ditemukan zat beracun di dalam botol itu. Lalu, zat apa yang kau maksud itu?” tanya Inspektur Nakawara.

“Asam karbonat,” ujar Myungsoo.

“Asam Karbonat itu biasa digunakan pada makanan atau minuman sebagai pengawet. Asam karbonat sudah dibolehkan pemerintah dalam penggunaannya. Lagipula, takaran zat tersebut masih wajar,” sergap salah satu polisi muda yang belakangan diketahui bernama Park Hae Jee.

“Memang  takaran asam karbonat di minuman itu masih dalam batas wajar. Tapi, dalam suatu kasus, asam itu akan berlebih dan menyebabkan kematian jika mereka bertemu dengan listrik.”

“Maksudmu?”

“Listrik statis. Kalian tidak menyadarinya?” ucap Myungsoo, kemudian ia memandang ke arah mobil korban.

“Periksa mobil itu!” seru Inspektur Nakawara.

“Memang ada aliran listrik di mobil ini, Inspektur. Aliran listriknya cukup tinggi. Sepertinya aki mobil ini bocor. Apa yang dikatakan oleh pemuda ini benar. Jika seseorang meminum minuman yang mengandung asam karbonat, lalu beberapa menit kemudian ia menyentuh peralatan yang menimbulkan listrik, maka tingkat keasaman pada lambung akan naik dan itu menyebabkan jantung kesulitan memompa darah karena adanya penyumbatan di pembuluh arteri. Jika tidak segera ditolong, korban akan meninggal,” jelas salah satu tim forensik.

“Jadi, bisa dikatakan ini merupakan kecelakaan yang tak disengaja,” ujar Park Hae Jee.

“Sejak kapan kau ada di situ, Hae Jee?” tanya Inspesktur Nakawara yang sepertinya baru menyadari keberadaan polisi muda tersebut.

“Aku sudah lama berada di sini, Inspektur.”

“Bukankah kau polisi sektor pencurian? Kenapa bisa ada di sini?”

“Hehe, tadi tak sengaja aku melewati jalan ini saat beroperasi. Lalu, karena tertarik jadilah aku berdiri di hadapanmu saat ini, Inspektur,” ungkap Hae Jee.

Mereka itu.. mengapa bertengkar sendiri? Dasar. Polisi kekanak-kanakan.

Ehem! Menurutku, ini bukan kasus kecelakaan biasa,” sergap Myungsoo setelah ia kesal karena diacuhkan oleh dua polisi itu.

“Bukan kecelakaan? Apa maksudmu? Tadi kau baru saja menjelaskan bahwa penyebab kematian korban karena keracunan asam karbonat yang bertemu dengan listrik. Jelas itu adalah kecelakaan biasa.”

“Bukan. Aku memang mengatakan bahwa penyebab kematian korban karena keracunan asam karbonat. Tapi, aku tidak pernah mengatakan kalau kecelakaan ini biasa. Maksudku, ini pembunuhan. Apa kalian merasa tak wajar dengan aki yang bocor? Lalu, kalian tak merasa aneh dengan lempengan besi yang terjulur keluar padahal mobil korban termasuk mobil kelas atas. Bukankah itu lucu? Satu lagi. Aku menemukan ini di bawah ban mobil korban,” ungkap Myungsoo. Lalu, ia menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada mereka.

Inspektur Nakawara segera mengambil amplop itu. Ia membukanya, lalu menemukan beberapa lembar foto.

“Ini.. apa maksud semua ini?” gumamnya.

“Inspektur, coba lihat itu! Di balik foto ada sebuah tulisan!” seru Hae Jee.

Kim Nam Hee..

Aku belum mati!

“Kim Nam Hee.. sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi, di mana ya?” gumam Inspektur Nakawara.

“Kasus pembunuhan di Seoul Film Center. Pembunuhan berencana,” sergap Myungsoo.

“Sepertinya orang ini memiliki keterkaitan dengan kasus ini,” ujar Hae Jee.

“Aku juga berpikiran seperti itu. Kasus peledakan museum secara tiba-tiba, lalu pembunuhan Kim Jae Won. Semua ini tidak masuk akal. Dua kasus dalam kurun waktu kurang dari 24 jam? Menurutku, pelakunya adalah seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Kim Nam Hee dan juga memiliki dendam dengan Kim Jae Won,” ujar Myungsoo.

“Bagaimana kalau pelaku pembunuhan Jae Won dan peledakan adalah dua orang yang berbeda?” tanya Inspektur Nakawara.

“Tidak, aku yakin sekali pelakunya adalah orang yang sama. Lagipula kita bisa membuktikannya dengan tes sidik jari pada kaleng itu dan bom di Museum Oyaku.”

“Baiklah. Untuk sementara kita akan menunggu hasil sidik jari.”

“Jadi, kasus pembunuhan Kim Nam Hee akan kita buka kembali,” ujar Inspektur Nakawara.

Kemudian, kedua polisi itu pun meninggalkan Myungsoo di dalam ketermenungannya. Pikirannya berisikan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Kalau tidak salah kasus Kim Nam Hee terjadi sekitar empat tahun yang lalu.

Otaknya pun mulai memutar kilasan masa lalu mengenai Kim Nam Hee.

oOoOo

Malam Hari, 3 Oktober 2008.

Malam minggu, hari dimana para muda-mudi menghabiskan akhir pekan. Tentu saja bagi yang berpasangan, momen inilah yang paling ditunggu. Akhir pekan dihabiskan dengan hal-hal berbau romantis—karena itu menyenangkan.

Mungkin, salah satu pilihan yang menyenangkan adalah menonton sebuah film di bioskop. Myungsoo dan Soojung pun tak ingin melewatkan momen ini tanpa sebuah kenangan. Meski hubungan mereka yang mengambang, namun itu bukan merupakan hal besar.

Mencintai, bukan berarti harus memiliki.

Secret Guardian, itulah judul film yang ditonton oleh mereka.

Sesuai judulnya, film ini pun berkhas-kan film-film picisan seperti yang lainnya. Tentu saja ada sedikit bumbu misteri. Entah mengapa dua pasangan ini sama-sama penggila misteri.

Myungsoo yang menontonnya sama sekali tak fokus. Berulangkali ia terus menguap. Tampaknya film itu tak semenyenangkan seperti posternya. Ia heran mengapa Soojung—dan beberapa orang lainnya, bisa begitu serius memperhatikan film itu.

“Jung Ah, Jung Ah! Bangun! Hei, ayo bangun! Kenapa kau tak bangun-bangun juga, Jung Ah?!”

Seruan dari salah satu penonton, seketika memecahkan ketegangan kala itu. Soojung yang menyadari adanya ketidak-beresan, menolehkan kepalanya untuk berdiskusi dengan Myungsoo.

“Myung..-soo.. ke mana dia?” Tak membutuhkan waktu lama, gadis itu pun dapat menemukan kawan laki-lakinya.

Di mana lagi kalau bukan di tempat TKP. Tentu saja, yang kita bicarakan adalah Myungsoo, bukan?—si orang penggila misteri.

.

.

.

 

“Jangan disentuh seperti itu! Kau akan merusak TKP nantinya. Korban sudah meninggal. Dari ciri-cirinya, sepertinya korban keracunan Kalium Sianida,” ujar Myungsoo ketika salah satu teman korban ingin menyentuh tubuh korban.

Setelah memerika keadaan korban, Myungsoo pun menegakkan badannya, “Soojung, kau sudah menghubungi polisi?”

Soojung mengangguk, mewakili jawaban untuk pertanyaan Myungsoo, “Sebentar lagi mereka akan tiba.”

Baru saja dibicarakan, rombongan polisi—dan tim medis pun—telah tiba di tempat itu.

“Lagi-lagi dirimu, lagi-lagi dirimu, Myungsoo! Kapan kau tidak mengundang kasus lagi? Aku bosan setiap menangani kasus selalu ada kamu. Ck.. sekarang kasus apa lagi ini?” tanya Inspektur Nakawara.

“Kematian. Dugaan sementara, sepertinya korban keracunan Kalium Sianida,” ujar Myungsoo.

Segera tempat itu pun dikosongkan dari para pengunjung, menghindari keributan. Garis polisi pun sudah terpasang di tempat itu. Yang tersisa hanyalah saksi mata kejadian.

Ada tiga orang yang menjadi tertuduh.

Seorang perempuan, bernama Song Ae Rin. Berumur 23 tahun—sama seperti korban. Berprofesi sebagai seorang penyiar di salah satu radio swasta.

Dua orang laki-laki; Kim Nam Hee dan Kim Jae Won.

Semua tersangka berumur sama seperti korban.

“Korban bernama Park Jung Ah. Dan kalian bertiga ini merupakan sahabatnya, benar? Lalu, kalian menghabiskan akhir pekan bersama dengan menonton film di bioskop ini. Kemudian, Kim Nam Hee.. anda adalah pacar korban, benar begitu?”

Pria bernama Kim Nam Hee itu pun mengangguk.

“Lalu, bisa kalian jelaskan kronologis kejadian saat saudari Jung Ah meninggal?”

“Aku duduk di sebelah Jae Won. Saat itu kami sedang asyik menonton peran Kurume Hayato dengan Park Min Young di film Secret Guardian. Saat itu aku hanya fokus melihat kepada film itu dan tidak memperhatikan keadaan sekeliling. Lalu, tiba-tiba pada saat adegan intim, Nam Hee berteriak memanggil Jung Ah. Saat itu aku dan penonton lainnya memandang Jung Ah. A-aku tidak tahu.. lalu, Jung Ah.. Jung Ah.. meninggal.. dia-dia.. kejang-kejang.. la-lalu, Jung Ah menutup matanya.. dia..” ujar Ae Rin sedikit terbata-bata karena terisak.

Tentu saja, kematian orang terdekat, sangat menyakitkan, bukan?

“Begitu.. lalu, apa kau tidak melihat gerak-gerik aneh yang diperlihatkan kedua temanmu?”

“Aku tidak tahu. Sudah kubilang kalau aku hanya fokus ke film. Tapi, siang tadi, Jung Ah sempat mengadu padaku mengenai hubungannya dengan Nam Hee,” ujar Ae Rin.

Seketika, mata Nam Hee memandang ke arah perempuan itu dengan maksud tertentu.

“A-apa maksudmu, Ae Rin-ah?”

“Jangan menginterupsi. Tolong lanjutkan.”

Ae Rin sekilas memandang Nam Hee, ia menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan kebenarannya.

“Jung Ah datang kepadaku dengan mata yang sembab. Awalnya, kukira dia ada masalah pribadi. Rupanya dia bertengkar dengan Nam Hee.”

Wajah Nam Hee menunduk sedikit. Tak urung jantungnya pun berpacu cepat sedemikian rupa.

“Jung Ah rupanya memergoki Nam Hee saat sedang selingkuh bersama sekretaris kantornya..”

“A-apa?! AKU TIDAK SELINGKUH! Dia hanya salah paham! Oh, tuhan!” teriak Nam Hee frustasi. Ia pun mengacak rambutnya untuk meluapkan kekesalan yang menerpanya.

“Saudara Nam Hee, bisa anda tenang sebentar? Mohon kerjasamanya,” tegur salah seorang polisi.

Ditegur seperti itu membuat Nam Hee mengunci rapat-rapat mulutnya.

“Mereka bertengkar hebat. Sebenarnya, setelah menonton film, Jung Ah berencana untuk membicarakan masalah ini baik-baik dengan Nam Hee. Ta-tapi.. aku tidak tahu kalau Jung Ah.. aku tidak percaya kau bisa membunuhnya setega itu, Nam Hee! Dasar kau busuk!” maki Ae Ri. Tangannya memukul Nam Hee layaknya lelaki itu telah berbuat sesuatu yang tidak baik kepadanya.

Keadaan yang sedikit kacau, memaksa beberapa polisi untuk membawa Ae Ri pergi keluar. Kondisi jiwa perempuan itu sedang tak stabil.

Soojung hanya diam saja, dan duduk di pojokan ruangan.

Pria yang bernama Kim Jae Won itu.. sorot matanya.. mengapa perasaanku tak karuan seperti ini?, pikir Soojung.

“Memang siang tadi, kami bertengkar hebat. Tapi, aku berani bersumpah, tidak ada niatan sedikit pun dalam diriku untuk membunuhnya! Aku sangat menyayangi Ae Ri. Aku bahkan tak mengira bahwa percakapan tadi siang adalah percakapan terakhirku dengannya..” Nam Hee pun turut terbawa emosi. Perlahan tetesan kristal bening keluar dari mata kirinya.

Ia menyesali semua ini.

“Bukankah kau sedang dalam promosi jabatan? Dan lagi, Jung Ah adalah putri direktur. Bukankah kau tak ingin promosimu menjadi gagal karena takut Jung Ah akan mengadu pada ayahnya perihal perselingkuhanmu?” desak Jae Won. Bicaranya tenang, namun sarat akan mata pisau yang tajam.

“A-apa?!”

“Jadi, motif pertengkaran kalian adalah karena perselingkuhanmu?”

“SUDAH KUBILANG, AKU TIDAK BERSELINGKUH!” seru Nam Hee. Pria itu sudah benar-benar meledak sekarang.

“Inspektur, ditemukan sebuah sidik jari pada minuman korban. Dan setelah kami periksa, sidik jari itu sama persis dengan sidik jari saudara Kim Nam Hee,” ujar salah satu petugas forensik, lalu ia menyerahkan data lab kepada Inspektur Nakawara.

“Baiklah. Kau boleh pergi. Terima kasih.”

Nam Hee pun semakin tersudut.

Sial! Kenapa semuanya menjadi seperti ini?! Aku sama sekali tak membunuh Jung Ah!, makinya.

“Baiklah, bisa kau terangkan alibimu mengenai sidik jari di botol minuman ini?” ujar Inspektur Nakawara.

Nam Hee hanya terdiam. Sebagai gantinya, keringat dingin mulai membahasi pelipisnya.

“A-aku.. tentu saja ada sidik jariku di sana. Karena, aku yang membeli minuman itu,” ujarnya, “Ta-tapi, sungguh bukan aku pelakunya! Kenapa kalian seperti menyudutkanku seperti itu?! Kalian bahkan belum mendengarkan penurutan Jae Won!” seru Nam Hee.

“Baiklah, Kim Jae Won. Sekarang giliranmu.”

“Selama satu hari tadi aku sama sekali tidak bertemu dengan Jung Ah. Tentu saja karena aku ada di Busan tadi. Urusan bisnis. Aku diberitahu oleh Ae Ri bahwa akan ada acara kumpul-kumpul bersama malam ini sambil menonton film. Saat itu aku tidak tahu kalau hubungan Nam Hee dengan Jung Ah merenggang.”

“Malamnya, aku sama sekali tak curiga akan ada apa-apa. Oleh karena itu aku memutuskan untuk duduk di sebelah kiri Jung Ah. Sama seperti Ae Ri, aku terhanyut oleh suasana film Secret Guardian. Hingga, Nam Hee berteriak memanggil Jung Ah yang sedang sekarat,” papar Jae Won dengan tenang.

“Hm, film Secret Guardian apa bagus sekali hingga kalian hanya fokus kepada film itu?” gumam Inspektur Nakawara.

“Film itu benar-benar bagus. Aku saja yang melihat tidak bisa memalingkan fokusku. Sampai pada adegan intim, aku tidak sadar kalau sedang menahan napas,” ujar Soojung angkat bicara.

“Adegan intim yang kalian maksud itu..”

“Adegan ciuman. Dan memang benar, tidak ada satu pun penonton yang mampu menarik pandangannya dari film itu, laki-laki sekalipun. Semuanya tampak fokus melihat film itu. Seperti tak mengingat keadaan sekitar,” ujar Myungsoo.

“Kenapa kau bisa tahu itu semua, Myungsoo? Kau tidak melihat?”

“Tidak. Sejak awal yang berniat menonton film itu adalah Soojung. Aku hanya menemaninya. Saat melihat awal-awalnya, aku sama sekali tidak tertarik. Ya sudah, untuk seterusnya aku tidak menonton,” ujar Myungsoo.

“Ta-tapi, aku juga melihat film itu. Sumpah, aku bukan pelakunya!” ujar Nam Hee dengan suara yang bergetar.

Myungsoo yang sejak tadi memandang ketiganya pun, tengah menarik sebuah garis besar.

Song Ae Ri, Kim Nam Hee, dan Kim Jae Won.

Posisi duduk Ae Ri di sebelah Jae Won, sedangkan Jae Won duduk di sebelah kiri Jung Ah. Jadi, mustahil bagi Ae Ri untuk menaruh racun ke dalam botol minuman milik korban.

Jadi, alibi terkuat sekarang adalah Kim Jae Won, dan terlemah adalah Kim Nam Hee. Tunggu. Saat menonton film, orang-orang yang membawa makanan atau minuman selalu menaruhnya di tangan kanan mereka.

Lalu, rata-rata perempuan saat melihat adegan itu, mereka akan menahan napas, atau tubuhnya menegang. Sepertinya korban meminum minuman itu pada saat adegan itu. Kalium sianida butuh waktu kurang dari 1 menit untuk bereaksi. Jadi, pelaku bisa menaruh racun itu sesaat sebelum korban mengalami gejala.

Kim Nam Hee.. satu-satunya pelaku yang memungkinkan adalah dia.

Duduk di sebelah kanan Jung Ah-ssi. Jadi, dia bisa dengan mudah menaruh racunnya. Lalu, dengan adanya pertengkaran, semakin memperkuat dugaan.

Myungsoo pun kemudian bangkit berdiri.

“Pelakunya, kau kan Kim Nam Hee?” ujar Myungsoo.

“A-apa? Aku?”

Suasana yang tadinya hening, kini mulai menegang kembali.

“Kau, yang siang tadi bertengkar dengan Jung Ah, bisa menjadi motif terkuatmu untuk membunuh korban. Lalu, aku tidak habis pikir. Kalau kau sedang bertengkar dengan Jung Ah, mengapa kau mau membelikan minuman untuknya? Terlebih saat itu Jung Ah menuduhmu berselingkuh. Kalau dipikir akal sehat, seharusnya mustahil kau mau membelikan minuman. Dan dilihat dari penuturan Ae Rin, sepertinya kau keras kepala saat bertengkar. Tujuanmu untuk membelikan Jung Ah minuman sebagai permintaan maafmu, kan? Itulah yang kau katakan pada Jung Ah,” ujar Myungsoo.

“I-iya, aku memang membelikannya minuman sebagai permintaan maaf. Tapi, aku berani bersumpah minuman itu tidak aku apa-apakan!” ujar Nam Hee.

“Saat kau membelinya, memang kau belum menaruh kalium sianida ke minuman korban. Kalau sejak awal kau sudah menaruhnya, seharusnya korban sudah meninggal sebelum film dimulai. Kalium sianida hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk bereaksi. Jadi, kupikir kau meletakkan racunnya pada saat adegan ciuman dimulai. Saat itu biasanya orang-orang yang membawa minuman atau makanan ke dalam bioskop, secara refleks akan memakan atau meminum makanan atau minuman yang mereka beli. Begitulah kira-kira kronologisnya,” papar Myungsoo.

“A-apa? Aku benar-benar tidak..”

“Lalu, setelah kau memasukkan racun itu ke dalam minuman korban, kau kembali melihat ke film. Saat tubuh Jung Ah-ssi mulai bereaksi, kau berpura-pura meneriakkan namanya untuk memancing perhatian lainnya. Kau melakukan itu supaya terlihat tidak bersalah. Dan kalau dugaanku benar, maka racun itu ada di saku celanamu,” ujar Myungsoo.

Pria yang bernama Kim Nam Hee itu pun terduduk lemas begitu saja. Dua polisi lainnya segera menggeledah saku celana Nam Hee.

Dan, benar saja.. ditemukan sebuah plastik kecil berisikan bubuk putih.

“Memang benar aku bertengkar hebat dengan Jung Ah, hingga aku gelap mata. Seminggu sebelumnya, aku sedang dalam rangka promosi jabatan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk meraih jabatan sebagai direktur. Siang malam aku bekerja keras. Saat itu, dia salah paham. Sekretarisku tak sengaja menumpahkan teh ke jasku, dia menunduk sedikit untuk membersihkan sisa-sisa noda teh. Jung Ah yang pada saat itu datang disaat yang tidak tepat, mengira kami berciuman karena dia melihat dari sudut pandang yang salah. Aku sudah mencoba menjelaskan padanya, tapi dia tak mau mengerti. Aku benar-benar frustasi. Aku tahu dia adalah tipe gadis manja. Oleh karena itu, aku takut kalau-kalau Jung Ah akan membeberkan semuanya kepada ayahnya, yang merupakan pemilik perusahaan, lalu promosi jabatanku akan gagal.”

“Entah setan apa yang merasukiku, saat itu aku berniat untuk membunuhnya. Racun itulah yangkubawa untuk  membunuhnya. Aku berniat menaburkannya saat pertama kali aku membelinya minuman. Sebenarnya saat itu dia menolak minuman yang kuberi, namun aku terus membujuknya untuk meminum minuman itu.”

“Tapi, sungguh.. niatku tak jadi kulaksanakan. Aku menyadari bahwa aku masih sangat mencintainya. Aku tidak menaburkan racun itu sama sekali. Makanya racun itu masih utuh ada di saku celanaku. Sungguh, aku tidak berbohong.”

Myungsoo menghela napas pelan. Memang, cemburu dan harta dapat menjadi pedang bermata dua yang tajam dan menyakitkan.

Alhasil, Kim Nam Hee pun dibawa oleh polisi ke jeruji penjara.

Kasus itu pun selesai.

Myungsoo dan Soojung pulangke rumah saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

“Soojung, kenapa kau diam saja?” tanya Myungsoo yang heran akan keterdiaman Soojung.

“Tidak apa-apa. Aku.. entah mengapa, perasaanku tak enak, Myung..”

.

.

.

| T B C |

Bagaimana? Tambah jelekkan? PASTI! Ahaha.. maaf ya dengan segala macam alur ngga jelas, TYPO yang berkeliaran, dan KASUS yang sama sekali absurd =.=”

Terusterus, maaf ya aku ngga jadi – jadiin ini fic twoshoot-__- karena, ngga muat! Tentu saja! Rencana sih threeshoot dengan prolog.. ngga tau prolog itu jadi apa ngga -__- tergantung sikon aja deh..

Anyway, makasih ya udah baca cerita ini😀

NOTE:

NO REPOST! NO PLAGIARISM! DON’T CLAIM AS YOURS! NO COPY-PASTE!

Share: tekan aja tombol share yang sudah tersedia. Reblog boleh. TOLONG BEDAKAN REBLOG DENGAN REPOST!  Kalau ngga bisa, boleh kasih link judul! INGAT HANYA LINK JUDUL!

6 responses to “A Case [2/3]

  1. tambah bagus malah ^^d
    kereeeeennn ceritanya .. wowowow
    itu yg awalnya juga so sweet bangeeettt kyakyakya >///<
    MyungSOOjung forevaaa ^^9
    daebak \^0^/

    • aaaaaaaa, makasih cintaaaaa.. kamu juga keren ih :3
      haha..suka MyungStal ya? siip~ harusnya mereka buat fandom nama resmi nih TT__TT
      hehe.. makasih cintaaa udah komen :3

      • Suka laah sama MyungStal..I Yah yaa kan lucu tuh ada fandom MyungSooJung ihihi
        sama2 ^^>
        aku mau komen di yg 3a 3b tapi ga bisa entah kenapa jadi disini aja yaa…
        itu kereenn bangettt
        nyesek pas ternyata Soo won itu pelakunya…ckckck
        ikutan tegang aku bacanya wowowow
        dan ngakak pas endingnya … L itu semacam pencabut nyawa tidak langsung ahaha xD

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s