A Case [3A]

A Case || a movie by ©  Mizuky

acase

Main Cast: Myungsoo [Infinite] – Krystal [F(x)] || Support Cast: OC

 Duration: Threeshoot || Rating: PG

 Genre:

|| AU, Friendship, Mistery, Romance, Detective Story, Tragedy, Fiction ||

Summary:

Myungsoo.. seorang detective muda yang sangat menggilai buku dan misteri. Hingga suatu hari, rasa penasarannyalah yang membawanya masuk ke jurang kematian bagi dirinya.

Inspired by:  Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning: BANYAK TERDAPAT FLASHBACK DI DALAM CERITA. PARAGRAF YANG BERCETAK MIRING ADALAH FLASHBACK!

Preview:

 1 | 2 | 3A | 3B

 

“Soojung, kenapa kau diam saja?”

“Myungsoo.. aku.. kenapa perasaanku tak enak?”

–=oOo=–

“Melamun saja. Ada apa?” tanya Soojung yang seketika membuyarkan lamunan Myungsoo.

“Soojung, apa kau merasa aneh?”

“Aneh? Apa maksudmu? Iya, perutku daritadi bunyi terus. Sepertinya, perutku sedang mengalami keanehan,” ujar Soojung polos.

Ish! Itu namanya lapar! Maksudku, apa kau masih ingat tentang kasus empat tahun lalu? Seorang laki-laki yang membunuh pacarnya sendiri. Lalu, kau bilang padaku kalau perasaanmu tak enak setelah kasus itu selesai. Kau ingat?”

Soojung pun berpikir keras untuk mencari-cari memori lamanya.  Memang dirinya merasa tak asing dengan wajah korban saat pertama kali melihatnya.

Wajah menyeramkan itu..

Perlahan, kenangan lamanya berturut-turut menyeruak ke permukaan.

Malam minggu itu, aku dan Myungsoo memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton sebuah film di Bioskop.

Kenangan pertama yang ia ingat adalah menonton bersama dengan Myungsoo di bioskop.  Kemudian, sederet kenangan lainnya pun mulai bermunculan.

Secret Guardian.. lalu, kalau tidak salah saat itu ada kasus pembunuhan.

“Pelakunya adalah kau ‘kan, Kim Nam Hee?”

Lagak Myungsoo saat mengungkapkan kasus, benar-benar telah membuatnya mengingat kejadian empat tahun silam.

“Maksudmu, saat kejadian di Seoul Film Centre?” tanya Soojung memastikan.

Myungsoo mengangguk, “Aku mulai menduga sepertinya rentetan kejadian ini ada hubungannya dengan kasus empat tahun silam.”

“Maksudmu?”

“Aku merasa ada yang aneh. Entahlah, kepalaku pusing. Kita pulang saja, bagaimana?”

Soojung mengangguk, “Baiklah. Lagipula tampilanmu parah sekali. Pulang,  lalu tidur. Jangan terlalu dipikirkan kasus ini,” ujar Soojung menasehati.

Myungsoo kemudian berjalan sebentar kepada Inspektur Nakawara untuk meminta izin. Keadaan memang sudah tak seramai tadi. Hanya tersisa beberapa polisi saja yang masih berjaga-jaga.

“Baiklah. Kalau hasil sidik jarinya sudah keluar, aku akan memberitahumu.”

Myungsoo mengangguk paham. Kemudian, dia beranjak dari tempat itu untuk menyusul Soojung.

+===+

Hyung, sebentar lagi semuanya akan terungkap. Kebenaran akan terbongkar, Hyung.”

Diantara remang-remangnya cahaya, sesosok pria terlihat tengah membaca. Di tangannya terdapat sebuah koran dengan lampiran—yang ia baca—kasus mengenai peledakan Museum Oyaku dan pembunuhan Kim Jae Won.

Bukannya merasa miris, namun ia justru menampakkan senyum kepuasan.

“Perlahan, semuanya akan mengerti siapa yang bersalah disini, Hyung.”

Ia beranjak berdiri. Diambilnya sebuah anak panah kecil berwarna merah.

Syut…

Ia tembakkan panah pertama itu kepada sasaran.

“Target pertama, Museum Oyaku. Musnah.”

Syut..

Ditembakkannya lagi anak panah kedua.

“Target kedua, Kim Jae Won. Lenyap.”

Saat ia ingin melemparkan anak panah ketiga, ia urungkan niatnya. Diletakkannya kembali anak panah kecil itu ke tempat semula.

“Target ketiga, Jung Soojung.. dan Kim Myungsoo. Mereka berdua harus lenyap!” ujarnya. Kemudian, pria itu mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku celananya.

“Target ke empat, Song Ae Ri. Lalu, sekretaris sialan, Jung Song Hwa. Mereka berlima pantas mati!”

Ia lemparkan anak panah terakhir kepada titik pusat sasaran.

Dan..

Berhasil.

“Semuanya.. semuanya.. mereka semua harus merasakan penderitaan yang lebih pedih darimu, Nam Hee hyung!”

o.O.o.O.o

“Soo Won, kau harus belajar yang giat ya di Jepang sana. Semoga cita-citamu menjadi Insinyur tercapai.”

Ne, Eomma. Soo Won akan belajar yang giat.”

“Dan juga jangan nakal sama kakek dan nenek di sana. Kasihan, mereka sudah tua.”

Ne, Hyung. Tenang saja. Soo Won akan belajar yang giat, tidak menyusahkan kakek dan nenek, serta akan membuat Nam Hee hyung dan eomma bangga.”

“Bagus, itulah Kim Soo Won yang hyung kenal.”

Kedua kakak beradik itu pun saling menepuk kedua telapak tangan mereka tinggi-tinggi. Mereka pun tertawa lepas.

“Pesawatmu sudah tiba. Semoga kau mendapatkan SMP yang kau inginkan,” ujar sang eomma.

Pemuda itu pun mengangguk sembari tersenyum yang menunjukkan deret gigi putih rapinya. Tak lupa ia memeluk kakaknya dan ibunya sangat  rindu. Bagaimana tidak? Ia akan menghabiskan separuh waktu remajanya di Jepang sana dan jauh dari keluarga yang ia cintai.

“Iya, Eomma. Soo Won berangkat dulu!” ucapnya.

Eomma dan kakaknya pun melepas kepergian keluarga bungsu mereka dengan harap-harap cemas. Keluarga termuda mereka sendirian di dalam pesawat sana untuk menyongsong masa depannya yang cerah.

Semoga kau bisa meraih mataharimu, Soo Won, doa sang Kakak.

 

+===+

 

5 bulan kemudian..

Kini, si Anak Bungsu itu telah berpulang ke Korea. Tidak dengan wajah ceria, namun wajah tampannya yang terlapisi oleh awan mendung yang terus ia tampakkan seiring decitan roda kopernya yang berbunyi.

Terlalu terburu-buru ia.

Bukan untuk memberi kejutan kepada sang Ibu dengan kertas yang berisi deretan-deretan nilainya yang selalu memuaskan.

Bukan.

Kalau seperti itu, tak mungkin mendung yang menghiasi parasnya.

Satu berita yang baru saja ia terima tadi pagi.

Sebuah berita bagai petir yang menyambar di siang bolong, tentulah berita itu membawa dampak emosi teramat sangat baginya.

Ibu Soo Won meninggal.

Ia berdiri di depan rumahnya. Bendera putih pun sudah berkobar diterpa angin. Rumahnya ramai, disesaki para tamu yang kebanyakan berpakaian hitam.

Tanpa basa-basi lagi, ia segera berlari menuju dalam rumahnya. Mencari keberadaan mendiang ibunya.

Dan di sanalah ia mendapati peti mati ibunya.

Semua orang yang ada di sana pun, menoleh kepada si Bungsu itu. Mereka iba kepadanya.

Sedang si Bungsu itu tak mempedulikan tatapan dari semua orang. Kakinya lemas seketika. Wajah senyum ibunya yang terbingkai manis benar-benar memukul tepat di ulu hatinya.

Menyisakan kepingan-kepingan air mata pilu. Perlahan, ia melangkah maju. Lalu, ia duduk di depan peti mati ibunya.

Tak disangka, lelehan air mata setitik demi setitik, terjun bebas dari mata kirinya. Ia menangis sendu di hadapan peti mati mendiang ibunya. Tak lagi peduli bahwa ia seorang laki-laki.

Ia hanya ingin menangis. Menumpahkan seluruh tekanan batin di hatinya.

Baru ia ingat sekitar lima bulan yang lalu, ibunya tersenyum sembari melambai tangan kepadanya ketika ia bertolak menuju Jepang. Ibunya memberikan sebuah ciuman di pipi kanannya. Tak lupa ia akan pelukan hangat dari sang Ibu.

Namun, semuanya sirna tepat pada hari ini.

14 Maret 2003.

“Soo Won, jangan menangis seperti itu. Ingat kata ibu, laki-laki harus kuat! Laki-laki tidak boleh menangis,” tegur sang Kakak  yang tanpa ia sadari sudah berada di sampingnya.

“Tapi, Hyung.. mengapa harus secepat ini? Aku masih tidak rela.. aku belum bisa melihat ibu tersenyum bangga kepadaku. Aku masih belum bisa menyembuhkan luka ibu atas perselingkuhan ayah. Dan lagi..” pegangannya pada beberapa lembar kertas pun semakin mengerat,”..untuk apa aku membawa nilai-nilai ini kalau ibu tak bisa melihatnya? Untuk apa hyung semua ini?! Untuk apa aku susah payah meraih pendidikan di Jepang kalau ibu tidak ada lagi?! Untuk apa, Hyung?!”

“Soo Won..” tak urung sang Kakak ikut terlarut di dalam pusaran kesedihan milik adiknya.

Ia merengkuh tubuh ringkih Soo Won untuk diberinya kehangatan di dalam pelukannya.

Tugasnyalah sebagai seorang kakak untuk mengayomi adiknya. Ia belai tiap helai rambut kasar dan berantakan milik adiknya.

“Jangan pernah berkata seperti itu! Ibu selalu tersenyum bangga kepada kita. Ketika ibu melahirkanmu, ibu tersenyum lebar—tidak , sangat lebar! Ketika adik kecil hyung menangis di dalam pelukan ibu. Kau sudah membuat ibu bangga dengan menjadi anak ibu.”

“Jangan pernah kau membenci ayahmu. Sebrengsek apapun dia, dia masih orang tuamu. Dan lagi, jangan pernah mengatakan bahwa apa yang sudah kau lakukan selama ini sia-sia. Kau harus belajar lebih keras setelah ini. Buktikan bahwa semua kerja keras ibu selama beliau masih hidup, tidaklah terbuang percuma. Hyung tahu kalau adik hyung yang pintar. Jadi, jangan terlarut ke dalam kesedihan ini lebih lama. Kau harus bangkit, Kim Soo Won!”

Hyung, terima kasih..”

Tak urung, orang-orang sekitar pun terenyuh ke dalam kasih sayang kedua saudara kandung tersebut. Ada diantara mereka yang justru terharu, lalu menitikkan air mata.

Mereka sama-sama berdoa, agar dua bersaudara itu senantiasa tegar dalam menghadapi masalah ini.

“Sudah tidak apa-apa. Hyung berjanji akan bekerja keras supaya kau bisa meraih mimpimu di Jepang. Jangan menangis lagi.”

.

.

.

5 tahun kemudian..

Soo Won bungsu kini sudah bertolak ke Korea. Dia sudah menamatkan masa SMP-nya di Jepang sana.

Dengan sepasang headphone merah yang sudah bertengger di telinganya, ia menikmati perjalanan saat tangga berjalan bandara membawa tubuhnya ke lantai dasar.

Ditengokkan kepalanya ke arah kanan, melihat pemandangan luar dengan hamparan lautan biru yang maha luas dan burung-burung yang bertengger di atas tiang listrik.

Lagu akustik Magic Winter karya Thomas William, setia mengalun merdu di telinganya. Menciptakan hawa ketenangan sepanjang kakinya melangkah.

Semilir angin pun mulai menyambutnya kala ia sudah berada di luar bandara.

“Hm, Seoul tidak banyak yang berubah ternyata,” tangannya tak kosong rupanya. Terdapat selembar foto.

Lalu, matanya terarah ke foto itu. Perlahan, kedua ujung bibirnya tertarik tipis.

Fotonya saat sedang kelulusan.

“Hyung pasti senang.”

 

+===+

 

Krieett..

Pintu usang itu bersuara parau ketika Soo Won membukanya. Debu-debu tipis mulai menyambangi hidungnya, membuat pemuda itu bersin beberapa kali.

“Rumah ini.. seperti tidak berpenghuni. Ke mana perginya, Nam Hee hyung? Seperti rumah kosong saja,” gumamnya.

Ia telusuri langkah demi langkah tiap jengkal rumahnya terdahulu. Dilihatnya beberapa foto sudah berdebu. Banyak laba-laba  yang membangun pemukimannya di sudut atap-atap.

Rumahnya benar-benar buruk.

Bahkan, guci—tempat  abu mendiang ibunya disimpan—sudah menjadi sarang laba-laba.

Ia pun segera mengambil guci itu lalu membersihkannya.  Setelah cukup bersih, ia letakkan kembali. Dipandangnya kembali isi rumahnya.

Benar-benar buruk.

Ia lalu berlari keluar rumah. Diceknya meteran air dan listrik yang terpampang di depan rumahnya.

Meteran air  dan listrik sama-sama menunjukkan angka nol, tanda tidak pernah dipakai.

Mustahil. Ke mana perginya Nam Hee hyung?

Ia masuk lagi ke dalam rumahnya. Sekedar memastikan.

Tempat pertama yang ia tuju pastilah kamar tidur kakaknya.

Semua barang terletak pada tempatnya, lebih ke arah rapi—terlalu mencurigakan memang.

Pertama, ia membuka lemari kakaknya. Semua pakaian lengkap. Tak ada yang kurang satu pun. Bahkan, tas dan koper semuanya masih tersimpan rapi di dalam lemari.

Kedua, ia berjalan menuju tempat tidur. Ia perhatikan tempat tidur itu saksama.

Dingin. Dan.. mungkin terlalu rapi.

Untuk ukuran orang dewasa, terlebih laki-laki, seharusnya tempat tidur ini tidak serapi sekelihatannya.

Tentulah pasti ada sedikit lekukan-lekukan di ujung tempat tidur—serapi apapun.

Dan, dari semua ini, yang ia dapat  simpulkan bahwa rumahnya sudah lama tidak di huni.

Lantas, ke mana hyungnya pergi?

.

.

.

Hari berganti hari. Siang dan malam pun silih berganti.

Satu minggu sudah Soo Won berdiam diri di rumahnya. Ia merapikan dan membersihkan rumah usangnya itu sendiri.

Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor kakaknya, namun tidak pernah tersambung.

Ia bingung untuk melakukan apa. Sedang ayah maupun ibunya adalah anak tunggal. Dan ia hanya sendiri di Seoul ini.

Ketika matanya menangkap tak sengaja kepada telepon rumahnya, ia melihat buku telepon tergeletak di atas sana.

Ia mendekati benda itu.

Ia buka buku itu. Jemarinya menelusuri tiap deret nama yang tertera di atasnya.

Tik.

Ia berhenti pada suatu nama. Kim Sang Hyun.

“Ah, iya! Paman Sang Hyun! Dia pasti tau!” serunya.

Segeralah ia mengambil jaketnya, lalu mulai pergi ke tempat pamannya berada.

Kim Sang Hyun, bukanlah saudara sedarah dari kedua orang tuanya. Orang tua, yang kira-kira sudah berumur 35 tahun itu, hidup bersama keluarga kecilnya dengan pekerjaannya sebagai koki di rumah makan pribad miliknya. Orang tua Soo Won merupakan pelanggan tetapnya. Tak heran orang tua itu dekat dengan mereka, dan mengetahui seluk beluk kehidupan mereka.

Mungkin, melalui Kim Sang Hyun, semua keterbingungannya akan terjawab.

Atau mungkin..

Dia lebih baik tak bertanya saja?

.

.

.

Kim Sang Hyun’s Restaurant.

12.15 waktu setempat.

“Paman, kumohon ceritakan semuanya padaku!”

“Tapi, Soo Won.. lebih baik kau tidak tahu.”

Perasaan pemuda itu semakin tak karuan. Cemasnya semakin bertambah ketika pamannya itu menolak untuk memandangnya.

“Paman, kumohon! Ke mana perginya Nam Hee hyung? Rumah akhir-akhir ini kosong, seperti sudah lama tidak dihuni.”

“Ah, maaf, Soo Won. Paman harus kembali bekerja.”

Ketika Sang Hyun sudah berdiri, dan berniat menyudahi percakapan yang menohok batinnya, namun, tangan Soo Won terulur menahan pergelangan tangan kanannya.

“Tidak, sebelum paman menceritakan kejadian sebenarnya.”

Orang tua itu mendesah napas panjang. Dia tak suka dengan topik pembicaraan ini.

“Kau benar-benar ingin mengetahui semuanya?” tanya Sang Hyun. Terpaksa, ia duduk kembali berhadapan dengan Soo Won.

Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu mengangguk penuh kemantapan, “Ya!”

“Tunggu sebentar,” ujarnya, lalu pria tua itu pergi ke belakang. Mata Soo Won pun tak bisa melihat jauh-jauh dari segala macam pergerakan pamannya itu.

Pertama, pamannya seperti hendak mencari sesuatu. Kedua, ia melihat dua koran berada di tangan pamannya. Ketiga, pamannya itu lalu melangkah menuju dirinya.

“Bacalah.”

Tanpa banyak kata, ia segera membaca berita itu.

“Pembunuhan di Seoul Film Centre.”

Itulah judul yang ia baca.

Pembunuhan? Mengapa paman menunjukkan ini? Tidak mungkin kalau Nam Hee hyung terlibat.

“Kasus pembunuhan kembali terjadi malam ini. Malam, 3 Oktober 2008, kali ini pembunuhan terjadi di Soul Film Centre. Seorang korban wanita yang menjadi korban. Belakangan korban diketahui bernama Park Jung Ah; seorang wanita karir berumur 23 tahun.

Ia dibunuh oleh kekasihnya sendiri. Pelaku bernama Kim Nam Hee, seorang marketer yang turut bekerja di perusahaan yang sama seperti korban.

Motif  terduga adalah perselingkuhan. Korban yang mendapati pacarnya selingkuh, saat itu langsung memarahinya. Akibatnya, pertikaian pun tak dapat dihindarkan.

Pertikaian itu terus berlanjut hingga membawa maut datang. Pelaku yang pada saat itu sedang gelap mata, sudah merencanakan untuk membunuh korban. Tidak secara langsung.

Pada malam harinya, bersama dengan kedua sahabatnya—Song Ae Ri dan Kim Jae Won, korban dan pelaku menghabiskan malam minggu bersama dengan menonton film yang berjudul ‘Secret Guardian.’

Korban meninggal tepat pada saat puncak ketegangan berlangsung. Diduga penyebab korban meninggal karena racun yang berasal dari Kalium Sianida. Sebuah zat berbahaya yang jika dikonsumsi manusia, meski dalam takaran sedikit, akan menimbulkan kejang-kejang yang berujung kematian. Pelaku menaruh racun itu di dalam minuman korban saat bersama-sama menonton film. Hingga berita ini diturunkan, pelaku sudah terjerat hukuman empat tahun penjara.

“Kim.. Nam.. Hee…? Maksud berita ini, Kim Nam Hee, hyung-ku? Paman.. ta-tapi.. bagaimana bisa? Hyung-? Tidak mungkin!”

“Tapi, itulah kenyataannya, Soo Won. Hyungmu.. dia.. dia yang membunuh Jung Ah,” ujar Sang Hyun dengan suara parau.

“TIDAK MUNGKIN! Hyung sangat mencintai Jung Ah Noona! Tidak mungkin hyung tega membunuh noona seperti itu!” teriak Soo Won.

Suaranya yang tak dapat dikontrol, membuat seluruh pengunjung tempat makan itu serempak memandangnya. Ada beberapa diantara mereka yang saling berbisik. Tak sedikit pula yang berlaku sinis kepadanya.

“Paman, ini bohong, kan? Maksudku, paman tahu jelas siapa hyungku itu. Dia tak mungkin menyakiti noona!”

“Tapi, itulah kebenarannya Soo Won! Paman saja terpukul dengan pemberitaan itu. Paman yang menghadiri persidangan saat itu! Bahkan, kakakmu saja tak mengutarakan pembelaannya sedikitpun!”

“La-lalu, bisa paman antar aku ke penjara? Aku ingin bertemu dengan hyung.”

“Maafkan aku, Soo Won. Tapi, kakakmu sudah tak ada.”

Dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh pamannya, membawa Soo Won pada titik terendah. Hatinya kembali terpukul. Tidak, hatinya hanya tersisa separuh bagian saja. Dan itu semua sudah hancur setelah ia mendengar perkataan pamannya.

Mungkin, memang benar sejak awal sebaiknya ia tak mengetahui kebenarannya.

Tak ada.. maksudnya, lenyap? Manusia.. tak ada.. maksudnya, meninggal? Hyung.. meninggal? Setelah ayah, ibu, dan kini hyung-?

“Maksud paman apa? Tak ada bagaimana? Haha, paman.. jangan bercanda! Ini sama sekali tak lucu!”

“Paman tidak bercanda, Soo Won. Kau mau aku antarkan ke makam kakakmu?”

.

.

.

Ketika kita dapat menggapai angan, bisakah kita merasa senang?

Ketika sanggahan asa sudah terpanggil, masih bisakah kaki ini untuk menyongsong mentari?

Ketika semua mimpi harus hancur, hanya dalam sekali kerjap.

Lalu, bisakah kita menyalahkan takdir ini?

–=oOo=–

“Soo Won, paman tahu ini pasti sangat berat bagimu. Setelah ditinggal oleh ayah dan ibumu, kini kau pun harus ditinggal oleh hyungmu. Kau harus kuat, Soo Won. Semua ini sudah ada yang mengatur.”

“Paman.. a-aku.. aku sudah tak sanggup lagi. Semua ini.. terlalu berat bagiku. Aku hanya sendiri di sini paman. Semuanya perlahan pergi menjauhiku. Apa aku berdosa paman? Dosa apa yang aku miliki hingga kehidupanku harus mengenaskan seperti ini? Mengapa aku harus mempunyai kehidupan seperti ini, sedang teman-temanku memiliki kehidupan yang bahagia?! Mengapa aku tidak, Paman?!”

Si Bungsu itu mengusap pelan batu nisan milik kakaknya. Ia sandarkan kepalanya di atas batu itu.

Lagi-lagi butir-butir mutiara harus ia teteskan dari kedua matanya. Ia usap tanah makam kakaknya.

Matanya menatap kosong. Sinar-sinar harapan, sudah luntur dari kedua iris hitam itu.

“Tidak. Kau tidak sendiri, Soo Won. Ada paman dan keluarga paman di sini. Hye Jeong dan Ri Rin pasti akan senang menerima keluarga baru mereka. Kau sudah ku anggap anak sejak dulu, Soo Won. Sudah, jangan menangis.”

“Tapi, ini berbeda paman. Paman termasuk orang luar bagiku. A-aku..”

“Tidak. Paman bukan orang luar untukmu, Soo Won-ah. Kita adalah keluarga. Lagipula kau masih memiliki kakek dan nenek, bukan? Setidaknya kau tidak akan kesepian di sini.”

“Aku tahu paman..”

“Ya sudah. Hari sudah semakin siang. Bagaimana kalau kita pulang?” ajak Sang Hyun.

Soo Won menggeleng pelan, dengan mata kosong yang masih menatap ke arah gundukan tanah itu.

“Aku masih mau di sini. Aku ingin menemani hyung. Aku ingin berbagi cerita bersama Nam Hee hyung..”

“Baiklah. Aku tunggu kehadiranmu di restoranku,” ujar Sang Hyun sembari ia menepukkan tangannya pada pundak kanan Soo Won.

Pemuda itu tak bergeming. Meski pamannya sudah menghilang jauh, ia masih saja memandang pusara kakaknya.

Hyung..”

“Bagaimana kabarmu? Kau senang sudah melepaskan beban dari dunia ini? Kenapa kau harus sejahat ibu, Hyung?”

“Aku adik kecilmu. Aku sudah menyelesaikan pendidikan SMP-ku di Jepang. Seharusnya, kau menyambutku di bandara, lalu kau peluk aku. Tapi, kenapa kau justru menyambutku dengan berita duka darimu, Hyung?”

“Kenapa semuanya harus pergi, Hyung? Kenapa aku harus terpuruk seperti ini?! Kau jahat hyung! Kau jahat!”

Isak tangis pun mulai mendera emosi pemuda itu. Ia terus menangis di bawah cerahnya lautan biru. Langit birulah yang menjadi saksi bisu atas semua tragedi ini.

Mungkin, hanya ketika Tuhan berkehendak, semua omong kosong ini akan berakhir.

.

.

.

Sang Hyun’s Restaurant.

 

Pemuda itu kini sedang berada di dalam rumah makan pamannya. Matanya sudah tak terlalu memerah. Emosinya pun kini sudah bisa ia jaga.

“Sudah agak baikan? Minumlah teh hangat itu.”

Soo Won mengangguk dalam diam. Tangannya bergerak pelan untuk mengambil minuman di dalam sebuah cangkir putih bermotifkan bunga.

Setelah berada di genggamannya, ia pun meminum teh itu.

“Terima kasih, Paman. Maaf atas sikapku tadi pagi. Pasti buruk sekali.”

“Tidak apa-apa. Paman memaklumimu. Kau pasti sangat terpukul.”

“Lalu, koran yang satunya lagi.. apa koran itu berisi mengenai bagaimana kakakku bisa terbunuh?” ujar Soo Won dengan suara pelan.

“Ko-koran?”

Anak ini masih ingat ternyata koran kedua yang tadi sempat kupegang rupanya.

“Iya. Aku ingin membacanya.”

“Kau yakin?”

Soo Won pun mengangguk.

Dengan perasaan sedikit cemas, Sang Hyun menyerahkan koran itu.

Namun, ia tetap memegang koran itu, meski tangan Soo Won sudah terulur untuk mengambilnya.

“Tidak sebelum kau benar-benar yakin,” ujarnya.

“Perasaanku sudah mati. Semua masalah ini sudah membuat hatiku kebal, paman.”

Sang Hyun hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya, ia menyerahkah koran itu.

“Pelaku Pembunuhan Seoul Film Centre Tewas Tertabrak.”

Tubuh Soo Won menjadi tegang seketika. Ini baru permulaan. Apa ia siap untuk membaca kelanjutannya?

“Pelaku pembunuhan yang bernama Kim Nam Hee, dengan korban kekasihnya sendiri, ditemukan tewas tertabrak mobil dekat jalan di sekitar Museum Oyaku.

Sebelumnya, pelaku dibebaskan karena terganggu jiwanya. Ia dibawa oleh polisi ke Rumah Sakit Jiwa. Mungkin, karena kelalaian pihak rumah sakit, korban dapat kabur.

Menurut keterangan para saksi, korban saat itu sedang berada di dalam Museum Oyaku, melihat deretan lukisan yang terpajang di sana.

Diduga korban berlari keluar, karena saat itu korban dicemooh oleh beberapa gerombolan anak-anak.

“Orang gila! Orang gila! Dasar kau orang gila!” begiulah para anak itu mengejeknya.

Korban yang sedikit terganggu jiwanya, tak terima lalu ia berusaha untuk mencekik leher salah satu anak yang berbaju merah.

Untunglah, datang ayah dari anak tersebut. Pelaku pun diusir keluar dari tempat itu. Ia berjalan sedikit limbung. Lalu, dari arah belakang, datanglah sebuah mobil berkecepatan cukup tinggi menabraknya.

Sang penabrak sedang dalam keadaan mabuk berat. Kim Nam Hee pun tewas seketika di lokasi TKP. Kini, korban sudah dimakamkah di pemakaman umum.”

Ia tak memberikan reaksi apapun. Bahkan ketika koran itu sudah tergeletak di atas meja, tubuhnya tak bereaksi.

“Terima kasih, Paman. Aku mau pulang. Semua ini membuat tubuhku lelah,” ujarnya.

Sang Hyun pun mengangguk. Ia bangkit berdiri, kemudian menepuk pundak Soo Won untuk memberinya sedikit dorongan moril.

“Iya, berisirahatlah. Nanti sore, kedua anak paman, Hye Jeong dan Ri Rin, akan pergi menemanimu. Mungkin mereka bisa sedikit menghiburmu, Soo Won-a.”

Soo Won mengangguk pelan. Setelah membungkuk sedikit, ia kemudian pamit kepada Sang Hyun.

Orang tua itu memandang kepergian si Bungsu dengan khawatir. Ia takut kalau-kalau Soo Won akan berbuat hal yang nekat. Mengingat banyaknya angka bunuh diri di Korea  yang sedang meningkat drastis.

+===+

 

Rumah Pribadi.

 

Pluk..

Ketika Soo Won sedang tidur di atas tempat tidur kakaknya, tak tahu dari mana asalnya, sebuah kertas melayang pelan, dan mendarat di atas wajahnya.

Ia pun segera membuka matanya.  Ia ambil kertas itu, lalu membacanya.

Soo Won, tolong bantu kakak mengungkap kebenarannya. Percayalah kakak tidak bersalah. Ini semua fitnah, Soo Won!

Badannya pun mejadi tegak seketika. Perlahan, bulir-bulir keringat mulai bermunculan, dan memenuhi pelipisnya.

“Fit-fitnah? Hyung-? Sudah kuduga hyung tak bersalah. Ini semua pasti ada kesalah-pahaman. Tenang saja hyung. Aku akan membongkar semua ini. Mereka semua harus menerima pembalasan dariku! Tenang, Hyung. Aku akan membalaskan semuanya. Mereka harus lenyap!” seru Soo Won sembari meremas kertas itu menjadi bulatan tak teratur.

Tepat pada saat itu, Si Bungsu berhati malaikat, kini telah menjelma menjadi sesosok iblis kecil.

–=oOo=–

Keesokan Harinya.

Sekolah, 4 Januari 2012.

Hari ini pelajaran berjalan seperti biasa. Memusingkan, penuh dengan deretan angka dan huruf yang susah tuk dimengerti, dan pastinya sangat sangat menguras otak.

Dan, mungkin waktu istirahatlah merupakan waktu berharga untuk para siswa.

Myungsoo dan Soojung pun kini sedang menikmati santap siang mereka di kantin. Dua hari setelah kasus berjalan, Myungsoo lebih bersikap tenang. Meski hasil pemeriksaan sidik jari belum keluar, namun ia tak terlalu memikirkannya—sepertinya.

“Hei, aku bergabung boleh, ya?” tiba-tiba saja seorang laki-laki menghampiri meja mereka.

“Boleh saja, Soo,” ujar Soojung mempersilahkan.

“Kau ini kenapa suka sekali memanggil namaku dengan panggilan Soo? Soo juga nama depanmu kan?” tanya pemuda itu setelah ia sudah duduk di sebelah Myungsoo.

“Entahlah. Daripada memanggilmu Won,” ujar Soojung acuh. Dia kemudian menyesap chocolatte-nya.

“Namaku adalah Kim Soo Won. Panggil Soo Won saja lebih enak,” protesnya.

“Sudah, sudah! Kalian ini kenapa bertengkar sendiri?! Oh ya, kudengar kau memenangkan kejuaraan memanah kemarin ya? Selamat ya! Juara berapa?” tanya Myungsoo.

“Ahaha, kau mengetahuinya rupanya. Aku juara dua. Buruk ya? Lawanku dari Busan terlalu susah untuk dikalahkan. Dia penembak jitu.”

“Tapi, kemampuanmu juga hebat, Soo Won. Kalau tidak, mana mungkin kau dapat mewakili sekolah pada tingkat nasional? Ngomong-ngomong,  nanti sore kau mau berlatih?”

Pemuda yang ternyata bernama Soo Won itu mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Soojung.

“Ya, dan sebagai ganti kemarin siang kalian tidak datang mendukungku, kalian harus datang sore ini untuk menyemangati latihanku!” ujar Soo Won.

“Siap, Captain!” ujar Soojung.

Mereka bertiga pun terhanyut ke dalam gelak tawa. Perbincangan-perbincangan seru pun mulai berkembang. Dari seputar kuliner, hingga kebiasaan tidur mereka.

–=oOo=–

Untuk sekarang, mereka tidak tahu siapa harimau.

Untuk dua hari ke depan, mereka mengira bahwa harimau adalah hewan yang bertaring pada giginya.

Untuk empat hari ke depan, mereka tahu bahwa harimau itu kejam.

Untuk satu minggu ke depan, mereka tahu bahwa teman merekalah harimau yang sebenarnya.

Dan pada saat itu, it’s end of the all!

Mereka akan mati… di dalam penyesalan sampai maut menjemput mereka.

–=oOo=–

Rumah Myungsoo.

Pukul 13.30

Pemuda itu masih sibuk untuk membaringkan diri di atas buaian kapuk-kapuk halus.

Meski ia sudah berada di atasnya selama lebih dari setengah jam yang tadi, matanya masih tak mau terpejam.

Bukan tanpa penyebab pastinya.

Belakangan ini, otaknya ia paksa bekerja untuk menemukan arti dari petunjuk terakhir yang diberikan oleh Kim Jae Won.

–> dan sekolah.

Apa maksudnya? Sekolah? Apa teman sekolahku? Lagipula yang hanya dia tunjuk adalah aku. Jadi, mungkin saja yang ia maksud adalah salah satu siswa di sekolahku. Dan simbol itu.. maksudnya adalah kanan? Maksudnya apa? Dia menunjukku.. berarti sebelah kananku.. kalau begitu Soojung? Ah! wanita! Apa pelakunya wanita? Tapi, dari hasil yang dapat kusimpulkan kemarin, semua pelaku kejadian ini adalah pria.

Apa maksud sebenarnya dari Kim Jae Won itu?

Argh… aku pusing sekali!” erangnya.

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering pelan. Cukup untuk memberi tahu si empunya bahwa ada pesan masuk.

From: Soojung.

Kau jemput aku di rumah, ya? Aku menunggumu.

Myungsoo memejamkan matanya sebentar. Ia kemudian bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Bersiap untuk menjemput Soojung.

+===+

Syutt..

Sebuah anak panah melesat cepat ke arah Myungsoo dan Soojung. Tentu saja keduanya kaget. Tubuh mereka menegang seketika.

“Ah, maaf panahnya hampir mengenai kalian, ya? Maaf.. maaf.. aku tidak memperhitungkan arah anginnya. Maaf sudah membuat kalian takut begitu.”

Soojung pun mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang sejak tadi terus saja berdetak.

“Kau itu! Dasar! Kalau tadi mengenaiku bagaimana?! Dasar!” seru Soojung.

Karena, memang itulah tujuanku. Aku berharap panah itu bisa sedikit saja melukaimu, Soojung.

“Aku kan sudah meminta maaf. Aku benar-benar tak sengaja,” pemuda yang tengah mengenakan Vookooka[1], itu mengusap rambutnya dengan mulut yang menyengir lebar.

“Kalian itu kalau bertemu selalu saja bertengkar. Sudahlah. Soo Won, apa latihanmu sudah selesai?” tanya Myungsoo. Pemuda itu sudah tak kaget lagi. Terbukti dengan raut wajah tenang yang ia berikan.

“Lebih tepatnya, aku sedang latihan. Ayo, kalian harus berada di tribun penonton. Kalian harus melihatku menembak busur ini,” ujar Soo Won.

“Ya, ya. Baiklah.”

.

.

.

Syutt…

Clap..

“Bagus, Soo Won!” teriak Soojung.

Pemuda itu tersenyum bangga ke arahnya. Sekali lagi ia menarik anak panah itu. Ia picingkan matanya untuk membidik sasaran.

Ia mencuri pandang ke arah Myungsoo sebentar. Samar-samar kedua tepi bibirnya tertarik. Membentuk sebuah lengkungan kecil.

Myungsoo, kau harus lihat bagaimana seramnya harimau saat menerkam mangsanya.

Clap..

Tepat sasaran.

Soojung pun refleks bertepuk tangan riuh. Sepertinya, dia yang paling bersemangat menyemangati Soo Won ketimbang pelatihnya sendiri.

“Soo Won hebat ya Myungsoo. Dia bisa memanah. Ngomong-ngomong, kau sudah menemukan maksud dari petunjuk yang diberikan oleh Kim Jae Won?” tanya Soojung.

Myungsoo menggeleng pelan, “Aku tidak mengerti. Aku bingung dengan maksud simbol arah kanan yang ditulisnya kemarin. Kalau sekolah, aku paham. Maksudnya, siswa yang bersekolah di sekolah yang sama dengan kita, bukan?”

“Mengenai simbol.. sebenarnya sudah lama kupikirkan. Tapi, sepertinya.. ah, tidak. Itu pasti salah,” gumam Soojung.

“Memangnya apa yang kau pikirkan? Kau bisa menceritakan semuanya padaku,” bujuk Myungsoo. Sepasang kelereng hitamnya mengunci pandangan Soojung.

“A-aku.. ta-tapi.. sepertinya itu mustahil. Sudahlah lupakan saja semua perkataanku tadi.”

“Tidak. Ingatanku sudah mencatat semua perkataanmu. Dan otakku kini menyuruhku untuk memaksamu menceritakan semua pemikiranmu.”

“Simbol itu.. kau mengartikannya sebagai arah kanan, bukan? Awalnya, aku pun berpikir seperti itu. Namun, setelah dipikir-pikir simbol itu tidak mengacu pada arah kanan. Namun, lebih mengacu pada..”

“…panah ‘kan maksudmu?” ucap Myungsoo memotong perkataan Soojung.

“Lalu, mengenai sekolah..”

“Satu-satunya yang bisa menjadi tersangka adalah Kim Soo Won. Itu ‘kan maksudmu?”

Soojung mengangguk, “Semoga saja maksud dari sekolah itu adalah siswa lain yang seumuran dengan kita dan kebetulan bisa memanah.”

Myungsoo tak menanggapi ucapan Soojung. Matanya memperhatikan gerak-gerik Soo Won.

Pemuda itu masih bisa tertawa ketika berbincang bersama pelatihnya.

Myungsoo mengerjap ketika Soo Won melambai ke arahnya dengan senyum lebar yang ia tunjukkan.

Semoga semua ini hanya sebuah kesalahan.

.

.

.

| T B C |

Next to: 3B

J . U . N . G

“Kau seharusnya merenungkan apa yang telah kau perbuat di masa lalu, Myungsoo.”

“Waktu membawa efek domino. Apa yang kau lakukan di masa lalu, akan membawa dampak besar bagi masa depanmu.”

“Dan mungkin.. tanpa kau sadari.. masa lalumu sudah menciptakan sebuah monster yang sangat menyeramkan, Kim Myungsoo.”

“Berhati-hatilah.”

Note:

Vookooka: Pakaian yang biasa dikenakan oleh pemanah pro saat sedang bertanding.

7 responses to “A Case [3A]

  1. Seru bgt konfliknya >_< SooJung pinter juga toh:-/ agak gk terima sih pas part sebelumnya SooJung d jadiin punya wajah pas2an padahalkan cantiknya gk ketulungan*menurut aku .. Tp gpp lah toh kn cuman ff dan terserah yg bikin .. Wkekekekkk

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s