Change

Change || a movie by ©  Mizuky

change

Main Cast: Myungsoo [Infinite] – Krystal [F(x)], Minho SHINee

 Duration: Vignette || Rating: G

 Genre:

|| Romance, Hurt/Comfort, Life, Sad, Angst ||

Summary:

Tiga tahun menjadi seorang penghuni panti rehabilitasi, sedikit membuat jiwanya tertekan. Namun, semangat karena ingin melihat senyuman seseorang, terus memberinya dukungan moril.

Lalu, saat ia berhasil memerangi semuanya, justru itulah saat titik balik dari seorang Kim Myungsoo.

“Maafkan aku, Myungsoo.. kita tak mungkin bersama.”

 

–=oOo=–

Ketika Tuhan sudah membalikkan jam pasir itu..

Pasirnya perlahan berjatuhan; membuat irama desiran tersendiri..

Semuanya pun berjalan sesuai aliran pasir..

Dan itu semua, membentuk suatu energi yang telah berubah..

–=oOo=–

Terik matahari langsung menyinarinya manakala ia menapakkan kaki di rumahnya dulu. Untuk itulah sebuah topi telah terpasang di atas kepalanya. Melindungi si Pemilik agar tak terlalu kepanasan.

Dengan sebuah tas yang dibawa di pundaknya, ia lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Tiga tahun rumah itu sudah tak berpenghuni. Tiga tahun lamanya ia menjalankan rehabilitasi untuk memerangi rasa ketergantungannya pada zat adiktif yang sudah banyak menelan korban itu.

Cklek..

Ia  lalu melihat sekeliling rumahnya. Untuk ukuran rumah yang ditinggal penghuninya selama tiga tahun, rumah itu cukup bersih. Bahkan, sarang laba-laba, dan debu yang menumpuk, tak terlihat sama sekali.

“Apa ada yang membersihkan rumah ini? Aneh sekali..” gumamnya.

Setelah puas melihat keadaan rumahnya,  kakinya melangkah ke kamar tidurnya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.

Cklek..

Tak hanya ruang tamunya saja yang bersih, pun dengan kamar tidurnya.

“Siapa yang melakukan hal ini?” gumamnya. Ia mengendikkan bahunya seolah tak begitu peduli. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas buntalan kapas-kapas itu.

Matanya pun terpejam.

Besok, adalah hari yang menyenangkan. Ya, hari yang sangat.. sangat.. sangat menyenangkan!

Ia sudah memiliki rencana untuk esok hari rupanya. Biarlah hari ini tubuhnya beristirahat. Besok, ia akan paksa tubuhnya untuk menghadapi kejutan besar yang menantinya.

+===+

Eomma.. Eomma!”

“Ah, Yoogeun! Sudah selesai bermainnya?” perempuan itu lalu memeluk anaknya, dan mencium ujung kepalanya.

Ia berjongkok sedikit untuk menyamaratakan tinggi dengan anaknya itu. Lalu, ia mengacak-acak rambut anaknya, membuat anaknya sedikit kesal akan tingkah ibunya itu.

“Sudah. Yoogeun capek sekali, Eomma. Yoogeun mau es..” rengeknya.

“Iya.. iya, nanti kalau sudah sampai di rumah, Eomma akan buatkan es. Yuk, pulang. Minho Oppa sudah menunggu kita,” ujarnya.

“Siap, Eomma.”

Mereka berdua lalu pulang ke rumah dengan jalan kaki. Kebetulan, jarak taman bermain dengan rumah mereka dekat. Jadilah, mereka menghabiskan perjalanan pulang dengan diisi obrolan-obrolan tak menentu.

“Eomma.. matahari tenggelam itu sangat indah, ya? Lihat, langitnya, Eomma! Berwarna-warni!” ujar anaknya.

Perempuan itu lalu melihat ke atas. “Langitnya memang indah, Yoogeun-a..”

tapi, warnanya.. terlalu merah, seperti darah. Kelam dan menusuk. Aku sama sekali tidak suka suasana seperti ini..

Eomma, kenapa diam saja?”

“Tidak ada apa-apa, kok , Yoogeun.”

.

.

.

Malam Harinya..

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Cukup menyenangkan?” tanyanya sembari melepaskan ikatan dasi suami tercintanya.

“Menyenangkan? Mungkin menghadapi mulut cerewenya Direktur Lee, itulah definisi menyenangkanmu, Soojung. Kau harus berada di sana ketika mulut dan air liurnya itu menceramahi semua karyawan. Ck.. dia itu benar-benar menyebalkan!”

Soojung pun tertawa lepas karena ucapan suaminya itu.

“Untung saja aku sudah pindah dari perusahaan itu. Lama-lama, kita berdua bisa mati muda. Yang sabar saja untukmu, Minho Oppa,” ujarnya.

“Haha.. sudah ah, jangan bicarakan tentang orang tua itu. Kasihan, nanti dia bersin saat makan,” ujarnya sambil diiringi dengan kekehan panjang.

Eomma, Appa! Kapan kalian akan keluar dari kamar?! Yoogeun lapar sekali!” sepertinya, anak mereka sudah protes ‘tuk diberi makan.

–=oOo=–

Hari Minggu.

“Hi, Paman!”

Orang tua yang bertubuh cukup gempal itu, berhenti sejenak dari kegiatannya membersihkan kaca rumah makannya.

“Kau.. ehm.. Kim.. Myungsoo? Kau.. Kim Myungsoo?!”

Pria yang memakai topi dengan sebuah lap –yang cukup—kotor  di tangannya itu, mendekati Myungsoo untuk melihat muka pemuda itu lebih dekat.

Myungsoo menyambutnya dengan sebuah senyuman manis.

“Kau banyak berubah. Sudah lima tahun lamanya—kalau tidak salah, kita tidak berjumpa. Kau makin berisi dengan otot-oto ternyata. Kau ikut wajib militer?” tanya orang tua itu sambil menepuk sebelah lengan Myungsoo yang cukup kekar itu.

“Haha, tidak. Aku selama ini sedang mengerjakan sesuatu. Ngomong-ngomong, aku rindu padamu, paman,” ujar Myungsoo yang memeluk orang tua itu.

Keduanya pun sejenak saling berpelukan, melepaskan kerinduan lama diantara mereka.

“Kau sudah besar, ya. Ke mana kau selama ini? Tidak ada kabar sama sekali! Kau tahu, pelanggan wanita toko ini selalu bertanya ke mana perginya kau. Sepertinya, mereka jatuh ke dalam pesonamu, Myungsoo,” ujar paman itu sambil tertawa kecil.

“Tentu saja. Aku ini tampan. Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi pesonaku. Ahaha..” tanggapnya dengan jenaka juga.

“Ngomong-ngomong, kau mau ke mana? Rapih sekali pagi-pagi. Ah, ingin berkencan, ya?!”

Myungsoo pun tersenyum malu. Terlihat, semburat merah tipis menghiasi dua pipinya itu.

“Paman, bisa saja. Tidak, hanya sekedar bertemu dengan teman lama.”

“Teman lama yang spesial, maksudmu? Wangi sekali. Haha, ya sudah. Semoga hari ini merupakan keberuntunganmu.”

Myungsoo mengangguk. “Terima kasih, paman. Aku duluan..” ujarnya. Ia melambai tangan sebentar, lalu mulai bergabung bersama puluhan—atau mungkin ribuan, pejalan kaki Seoul saat itu.

–=oOo=–

“Tolong, jauhi barang itu! Benda itu sama sekali tidak baik untukmu, Myungsoo!”

“Diam kau! Tahu apa kau tentang diriku?!”

“Aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi, aku satu-satunya orang yang peduli terhadapmu. Tolong, buang benda itu sekarang juga, Myungsoo!”

“Soojung.. tak usah munafik. Kau sebenarnya ingin merasakan benda ini, kan?”

“Apa?! Tidak sama sekali! Myungsoo, tolong jauhi obat-obatan itu! Masih ada jalan keluar di tiap masalah, Myungsoo!”

“Tidak ada jalan keluar sama sekali, Soojung-a. Semuanya adalah jalan buntu!”

“Tidak! Tidak semuanya adalah jalan buntu!”

“Kau tidak mencintaiku! Kau tak pernah mau membalas perasaanku! Dan itu merupakan jalan buntu bagiku, Soojung!”

Wanita itu menghela napas panjang. Memberi kesempatan paru-parunya untuk merasakan oksigen karena perdebatan panjang ini.

“Jadi, kau mau seperti itu? Baiklah.. aku mencintaimu. Dan mulai detik ini, aku sudah membalas perasaanmu.”

Sang pria tersentak. Ia memegang kedua tangan Soojung erat-erat.

“Itu.. benar?”

Soojung mengangguk.

“Ya. Asal kau mau di rehabilitasi.”

“Iya, aku mau. Tapi, berjanjilah setelah aku pulih, kau akan hidup bersamaku.”

“…….”

“Soojung…”

“Ya, aku berjanji, Myungsoo. Apapun, demi kamu.”

Maafkan aku, Myungsoo.. kita tak mungkin bersama.

–=oOo=–

“Jadi, ini taman bermainnya Yoogeun? Cukup ramai juga.”

“Appa, appa.. temani Yoogeun bermain ayunan itu, ya,” ajak sang anak.

Minho mengangguk setuju. “Ya. Soojung, aku akan menemani Yoogeun. Kau kalau mau menunggu, di sini saja.”

Soojung mengangguk. “Aku mengerti.”

Minho mengangguk sejenak. Lalu, ia mulai menyusul Yoogeun yang terus saja memanggil namanya itu.

“Soojung!”

Cukup lama ditinggal Minho, Soojung tersentak oleh seseorang yang memanggil namanya. Ia lalu bangkit berdiri, dan melihat ke arah sang penyapa.

Seorang pria—kira-kira berumur sama sepertinya, tengah tersenyum ke arahnya. Wajah yang sangat familier.

“Myungsoo!” seru Soojung.

Dia kaget bukan main. Pria yang sudah tiga tahun tak bertemu dengannya itu. Sekaligus, pria yang selama ini terus membuat batinnya resah.

Entah, melihatnya berdiri di depannya dengan fisik yang sehat, ia bingung harus merasa senang atau sedih.

“Sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

Soojung menggigit ujung bibirnya. Ia melirik sekilas ke arah suaminya dan Yoogeun yang tengah bermain itu.

“A-aku.. baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Seperti yanng kau lihat. Aku kini jauh lebih baik. Kau tahu.. aku berhasil bebas dari jeratan narkoba hanya dalam tiga minggu saja! Bukankah itu hebat? Semua ini karenamu, Soojung. Lalu, selama tiga tahun, aku menjalani pelatihan militer. Lihatlah, otot-otot di lenganku ini. Kau pasti bangga akan memiliki suami sepertiku,” ujar Myungsoo.

Soojung semakin kuat meremas kedua tangannya. Ia kembali melirik ke arah suaminya. Dan, untunglah suaminya merasakan adanya ketidakberesan saat itu.

“Soojung, kau kenapa? Kau tak senang bertemu denganku?”

Soojung yang tak fokus memandang Myungsoo, kini ia memandang Myungsoo dengan perasaan serba salah.

“Bu-bukan. Aku justru senang sekali, Myungsoo! Tapi.. sebenarnya.. a-aku..”

“Tapi, apa, Soojung?” Myungsoo terenyak setelah melihat sebuah cincin yang terlingkar indah di jari manis wanita itu.

Dia terlambat!

“So-Soojung, katakan ada apa sebenarnya!”

“Sayang, siapa dia?”

Ditengah kepelikan itu, Minho dan Yoogeun datang menemui keduanya. Aura ketegangan pun semakin bertambah.

Myungsoo dan Minho pun saling memandang. Keduanya bersama-sama menatap Soojung untuk menuntut jawaban.

“Myungsoo, kenalkan. Ini keluargaku. Pria ini adalah suamiku, Choi Minho. Lalu, anak kecil ini adalah anakku. Namanya Jung Yoogeun. Dan.. Minho, Yoogeun, kenalkan ini adalah temanku. Namanya Kim Myungsoo.”

Ia terdiam. Dunianya serasa runtuh saat itu juga.

Suami.. dan anak?

Ia tahu semuanya telah berubah. Perasaan dua tahun lalu. Ketika langit sudah menunjukkan takdirnya.

Ia tahu bahwa ada yang salah.

.

.

.

| E N D |

Hahaha, bukannya ngelanjutin A Case, malah buat fic ini -_- Ya Tuhaan..

Sad story lagi -_- entahlah, aku buru-buru buat ini supaya ide di otak ga terbuang sia-sia. Ini ide udah dari siang menganggu tidurku, daaan.. tarraa~ jadilah fic sedih ga jadi ini u,u

Hahaha.. anyway, makasih yo udah baca dan setia berkomentar di A Case-ku T.T #elapingus..

Ini cerita juga—akan—di publish di For MyungSOOjung. Kunjungi yaaaaaak xD

10 responses to “Change

  1. Salam kenal thor
    Maaf baru sekarang bisa ngasih koment’a hehehe,,
    Astaga!!! Mo nangis baca’a T_T kenapa klee’a am minho sih kan kasian myung,,
    Tapi ga ppa kok thor mo sad ending kek mo happy ending kek tetep aja daebak

    • salam kenal^^ ah, gapapa asalkan kamu mau ninggalin komen, aku aja udah seneng banget kok >< akikikik~
      waduh, maaf ya kalau ini nyesekTT selamat membaca xD

  2. kyaaa, patah hati deh si Myungsoo nyaa.. udah nunggu tiga tahun😦 ckck sabar yaa Myungsooo🙂
    mizuuu, lain kali harus bikin MyungStal yang lebih gereget lagi yoooo😀

    • ah kamu kok bisa sih nyasar ke sini? .___. /dordor
      ahaha, yah begitulah, ngenes juga sih ya udah di rehab, eh malah si Krys ninggalin gitu aja.. /dor
      okeeeh, makasih atas komennya yaa Rimaaa xD hihi

  3. yah, ko krystalnya malah sama minho?
    kasian uri myungie😥 hiks

    tapi tetep gga bisa dibohongin sih, ff nya keren

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s