A Case [3B/END]

A Case || a movie by ©  Mizuky

acase

Main Cast: Myungsoo [Infinite] – Krystal [F(x)] || Support Cast: OCs

 Duration: Threeshoot || Rating: G

 Genre:

|| AU, Friendship, Mistery, Romance, Detective Story, Sci-fi ||

Summary:

Myungsoo.. seorang detective muda yang sangat menggilai buku dan misteri. Hingga suatu hari, rasa penasarannyalah yang membawanya masuk ke jurang kematian bagi dirinya.

Inspired by:  Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning: BANYAK TERDAPAT FLASHBACK DI DALAM CERITA. PARAGRAF YANG BERCETAK MIRING ADALAH FLASHBACK!

Preview:

 1 | 2 | 3A | 3B | Scheme | Side Story

–=oOo=–

 

“Kemampuanmu semakin meningkat, Soo Won. Terakhir kali aku melihatmu memegang panah, kau bahkan tidak bisa memegang busur dengan benar,” ujar Soojung.

“Itu karena kau tak pernah memperhatikanku. Haha..”

“Ya ya, terserahmu saja. Ngomong-ngomong, kau belum merayakan kemenanganmu bersama kami berdua..” bujuk Soojung dengan sedikit menunjukkan raut wajah membujuk.

Soo Won yang sedang sibuk untuk memasukkan peralatan latihnya, berhenti sebentar, lalu ia memandang Soojung sinis.

“Iya, kapan-kapan. Kau cerewet sekali, sih. Sebaiknya kau tiru sikap Myungsoo yang kalem. Kau itu perempuan, Soojung,” tanggapnya.

Soojung mendengus dibandingkan seperti itu dengan Myungsoo. “Myungsoo? Kalem? Coba kalau kau sepertiku, 12 tahun bersama Myungsoo. Kau pasti akan mencabut perkataanmu mengenai sikap Myungsoo tadi.”

Ehem, rupanya ada dua penggemarku di sini,” tahu-tahu Myungsoo—orang yang sedang dibicarakan—rupanya sudah berdiri di hadapan Soojung dan Soo Won dengan membawa dua botol minuman di kedua tangannya.

“Ini, kubelikan untukmu,” ujar Myungsoo. Lalu, ia memberikan sebuah botol kepada Soo Won. Sedang Soojung, ia mengambil botol terakhir dari tangan Myungsoo dengan cekatan—dan sebuah cengiran lebar.

“Terima kasih, Myungsoo.”

Soo Won pun meneguk habis minuman itu. Tangannya terangkat untuk mengusap peluh yang sudah memenuhi pelipis klimisnya itu.

“Hei, kawan! Bisa bantu aku membawa tas-tas ini ke dalam? Aku tak sanggup membawa semuanya sendirian,” ujar Soo Won tiba-tiba sambil menunjuk ke arah tiga buah tas yang tergeletak di atas bangku besi panjang itu.

“Kau menyuruhku?” tanya Myungsoo. Ia bingung dengan siapa permintaan Soo Won ditujukan. Kepada dirinya atau Soojung? Perkaranya, mata Soo Won menatap ke arahnya, pun kepada Soojung.

“Tentu saja kepadamu, Myungsoo! Tidak mungkin aku menyuruh wanita untuk membawa tas berat ini,” ujar Soo Won sembari melirik Soojung, bermaksud untuk meledek wanita itu.

Pssh.. bilang saja kau yang lemah sebagai lelaki,” balas Soojung.

“Ahaha, sudah kuduga kau akan membalasku. Baiklah, ayo, Myungsoo!”

Myungsoo pun mengangguk. Ia lalu membawa sebuah tas besar di pundaknya.

Lumayan berat ternyata. Tidak sebanding dengan penampilan luarnya yang mengatakan bahwa berat tas itu di bawah 500 gram—sepertinya.

Tas ini kenapa berat sekali?! Apa yang dibawanya? Beberapa bom?

Soojung pun duduk di sebuah bangku panjang. Ekor matanya masih mengikuti tiap iringan langkah Myungsoo dan Soo Won yang kebanyakan diisi dengan banyolan-banyolan khas seorang Kim Soo Won.

Mau tak mau, ia tersenyum.

Tak terasa sudah tiga tahun ini aku berteman dengannya. Sejak kelas satu SMA. Ck.. dasar Soo Won.

Sambil mengisi waktu, Soojung pun sedikit demi sedikit mengeluarkan kepingan memorinya. Sedikit bernostalgia untuk mengingat jaman dirinya dan Myungsoo bisa berteman dengan Soo Won.

Dia tak sadar. Persahabatan itu sudah terjalin selama tiga tahun, sejak mereka kelas 1 SMA.

Tampak mengalir begitu saja. Tidak ada unsur kesengajaan.

Karena, memang dalam persahabatan, jalan seperti itulah yang terbaik.

–=oOo=–

“Nah, anak-anak. Kita kedatangan seorang keluarga baru di sini. Ia merupakan pindahan dari Jepang. Kalian harus bersikap ramah terhadapnya, ya.”

“Baiklah, Bu.”

“Muridnya perempuan atau laki-laki, bu?” celetuk  salah seorang siswa di sudut ruangan.

“Nanti kau akan tahu. Ibu persilahkan masuk, ya? Ayo, kau bisa mulai memperkenalkan diri.”

Kemudian, seseorang muncul dari balik pintu usai dipanggil oleh guru muda cantik itu. Penampilannya cukup rapi. Mencerminkan sosok seorang pelajar.

“Hi, perkenalkan namaku Kim Soo Won. Kalian bisa memanggilku Soo Won—atau apapun. Selama nyaman di dengar, tak masalah buatku. Aku merupakan orang asli Korea. Masa kecilku—sampai aku SD, kuhabiskan di Korea ini. Sedang, masa SMP-ku, kuhabiskan di Jepang sana. Senang berkenalan dengan kalian,” ucap pemuda itu. Kemudian ia membungkukkan badannya sedikit.

“Nah, anak-anak. Sudah tahu namanya, kan? Nah, Soo Won. Kau bisa duduk di sebelah Myungsoo. Myungsoo, dia akan menjadi teman barumu. Sapa dia baik-baik,” pesan guru itu.

Pemuda itu lalu berjalan menuju sebuah bangku kosong yang terletak di sebelah Myungsoo.

“Hi, Soo Won. Kau sudah tahu namaku, kan? Aku, Kim Myungsoo. Senang berkenalan denganmu juga,” ujar Myungsoo sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Soo Won pun membalas jabat tangan itu. “Iya. Semoga kita bisa menjadi teman baik,” ujarnya sembari tersenyum.

.

.

.

Istirahat.

 

“Kau ada latihan sepak bola nanti, Myungsoo?”

“Tidak. Kebetulan diliburkan karena kelas tiga ada ujian. Kau ada latihan karate?”

“Tentu saja ada. Pertandingan semakin dekat. Aku juga harus giat berlatih.”

“Baiklah. Semoga kau menang.”

Soojung lalu memasukkan daging Obuya[1] ke dalam mulutnya. Efek tidak sempat sarapan tadi, akhirnya dia merasa kelaparan. Untung saja ibunya sudah membekalinya dengan makanan yang menyedapkan.

“Makanlah pelan-pelan. Toh daging itu tidak akan loncat pergi ke mana-mana,” ujar Myungsoo. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin yang sudah dipadati oleh banyak orang. Bahkan, sebuah tempat duduk kosong pun merupakan barang mahal di tempat seperti ini.

“Hei, Soo Won! Kau bisa bergabung dengan kami,” seru Myungsoo. Ia tersenyum dan melambai ke arah anak baru itu yang terlihat bingung untuk duduk di mana.

Soojung yang sedang sibuk menyantap bekal sarapannya pun ikut menoleh ke arah si anak baru.

Soo Won yang ditawari oleh Myungsoo itu, mengangguk senang. Lalu, ia berjalan menuju meja kedua orang itu dengan membawa semangkok mie di tangannya.

“Terima kasih, Kim Myungsoo. Kantin ini sama seperti rumah makan kesukaanku di Osaka. Untuk duduk saja rasanya sulit sekali. Ck..” keluhnya.

“Memang seperti inilah keadaan kantin ini. Namanya juga satu-satunya. Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Jung Soojung. Panggil Soojung saja ya, Soo,” ucap Soojung.

“Soo?” kedua alis pemuda itu pun terangkat tinggi.

“Iya. Ada apa?”

“Kau memanggilku dengan nama Soo? Kenapa tidak Soo Won saja? Soo[2] itu terdengar seperti nama anjing peliharaan tetanggaku..” ucapnya dengan mimik wajah kesal.

Soojung pun tertawa terpingkal-pingkal—termasuk  Myungsoo—karena mendengar keluhan Soo Won barusan. Akhirnya, tawanya itu berimbas kepada perutnya yang sakit.

Makanan yang baru saja menggugah selera makannya, kini sama sekali lupa ia sentuh. Bercakap-cakap dengan Soo Won benar-benar mengasyikkan.

“Haha, jangan salah paham. Aku memanggilmu dengan sebutan Soo bukan bermaksud untuk meledekmu,” ujar Soojung.

“Iya, aku tahu,” ujar Soo Won.

Hm, Soo Won,  memangnya kau tinggal di mana ketika di Jepang?” kini, Myungsoo angkat bicara setelah sebelumnya ia hanya menjadi pendengar  percakapan Soojung dengan Soo Won.

“Hm, selama ini aku tinggal bersama kakek dan nenekku di Osaka.”

“Apa?! Osaka?! Wah, tempat tinggal Heiji Hattori!” teriak Soojung tanpa sadar. Untung saja ia masih bisa mengontrol amplitudo suaranya. Jika tidak.. mungkin seisi kantin akan menengok ke arah mereka.

“Kau suka serial Detective Conan? Mau kuberi satu komik yang bertanda tangan oleh sang penulis, Aoyama Gosho?”

“Apa?! Mau, mau! Tentu saja aku sangat mau!” ujar Soojung sangat berantusias. Terlebih di depan matanya, telah tersanding sebuah buku komik dengan pengarang kesukaannya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Itu melebihi ia mendapatkan nilai sepuluh dalam ujian.

“Soojung.. Soojung.. ck.. dasar penggila Conan!”

“Diam kau, Myungsoo! Jadi, kapan aku bisa memiliki komik itu, Soo Won? Itu tanda tangan asli dari Aoyama Gosho? Aoyama Gosho yang itu? Wah, keren! Aa, aku tak sabar untuk memilikinya..” begitulah percakapan siang hari di kantin sekolah yang terisi oleh seruan dan gumaman tak jelas dari seorang Jung Soojung.

Kira-kira sejak saat itulah persahabatan antara ketiganya terjalin.

–=oOo=–

“Tas itu diletakkan saja di depan lokerku. Besok aku akan ke sini lagi. Terima kasih, ya,” ucap Soo Won.

“Ya ampun, badanku pegal semua!” Myungsoo pun segera melakukan peregangan otot-ototnya yang tiba-tiba kaku semua itu. “Pantas saja kau tak menyuruh Soojung untuk membawa tas itu. Memang isinya apa? Kenapa berat sekali?” tanya Myungsoo.

“Haha. Tentu saja berat. Isinya semua peralatan yang terbuat dari besi—tentu saja semua itu termasuk alat-alat pemanahan. Kalau kusebutkan satu per satu, kau tak akan mungkin mengerti,” ujar Soo Won yang diberi tanggapan sebuah dengusan kesal dari Myungsoo.

Soo Won pun sibuk memasukkan satu persatu barangnya ke dalam loker. Dia terlalu fokus, sehingga Myungsoo sedikit terabaikan di sini. Sebuah keheningan pun tercipta.

Untuk menyibukkan diri, Myungsoo memutuskan untuk berjalan menyusuri tiap deret loker yang berdiri kokoh di sana. Loker-loker itu tercantum nama yang berbeda-beda, sesuai pemilik.

Matanya pun menatap ke arah dinding yang terdapat sebuah fentilasi satu-satunya di tempat itu.

Tempat ini memiliki sistem sirkulasi yang buruk.

“Myungsoo.. kau percaya kalau waktu itu adalah sebuah permainan domino efek?” tanya Soo Won tiba-tiba.

Myungsoo kontan memandang Soo Won langsung. Mereka berdua saling pandang sepersekian detik, karena Soo Won telah lebih dulu memutuskan koneksi mata mereka berdua.

“Aku percaya. Apa yang terjadi di masa lalu akan membawa dampak besar di masa depan. Karena masa depan tak akan pernah ada tanpa masa lalu. Jadi, keduanya saling berhubungan erat. Ada apa memangnya? Jarang-jarang kau bertanya hal berkelas seperti itu,” ujar Myungsoo.

“Tidak apa-apa. Mungkin kau harus merenungkan apa yang telah kau perbuat di masa lalu, Myungsoo,” ujar Soo Won. Dia masih saja sibuk memasukkan satu per satu barangnya ke dalam loker. Myungsoo kemudian memutuskan untuk melangkah mendekatinya.

“Maksudmu apa?” tanya Myungsoo tak mengerti.

Oh, dia tidak berbohong. Pemuda jenius itu sama sekali tak mengerti arah pembicaraan ini.

“Seperti yang sudah kau bilang kepadaku tadi. Waktu membawa efek domino. Apa yang kau lakukan di masa lalu, akan membawa dampak besar bagi masa depanmu.”

“Kau pusing setelah latihan memanah di siang hari ini? Beristirahatlah. Sepertinya, otakmu sedang mengalami sedikit gangguan,” ujar Myungsoo.

Soo Won pun menghentikan aktifitasnya sejenak. Dengan tangan yang setengah berada di dalam loker, ia menatap Myungsoo dengan sebuah ulasan senyum.

Dan mungkin.. tanpa kau sadari.. masa lalumu sudah menciptakan monster yang menyeramkan, Kim Myungsoo.”

“Monster? Monster apa, Soo Won? Pikiranmu sedang terganggu, ya?”

“Tidak. Aku hanya mengucapkan apa yang ingin aku utarakan. Berhati-hatilah, Myungsoo.”

Selesai. Ia sudah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam loker dengan rapi.

“Aku hanya ingin memperingatimu. Sebab, masa laluku sangat buruk dan itu sudah menciptakan bagian lain dari diriku.”

Soo Won lalu pergi meninggalkan Myungsoo. Derap langkahnya terdengar menggema di seluruh ruangan yang sangat sepi itu.

Myungsoo hanya terdiam berdiri, memandangi punggung Soo Won hingga punggung itu benar-benar menghilang di balik partikel-partikel cahaya sinar matahari.

Soo Won.. kenapa dia berkata seperti itu?

+===+

Malam Hari.

Rumah Myungsoo.

Dan mungkin.. tanpa kau sadari.. masa lalumu sudah menciptakan monster yang sangat menyeramkan, Kim Myungsoo.”

Berhati-hatilah, Myungsoo.

Sebab, masa laluku sangat buruk. Dan itu sudah membuat sisi lain dariku. Aku hanya ingin memperingatimu saja.

Mungkin inilah yang dinamakan pengaruh Hypotemusa[3]. Perkataan Soo Won terus saja termemori kuat di dalam otaknya. Faktanya, kata-kata itu saat ini terulang-ulang kembali di kepalanya.

Bahkan, hingga matahari sudah tertidur di peraduan pun, ia masih memikirkan semua perkataan Soo Won.

“Apa maksudnya?”

“Aku yakin dia tidak sedang bercanda. Matanya berbeda dari biasanya. Intonasi suaranya sangat tegas. Tidak seperti Soo Won jenaka yang kukenal. Ada apa dengan dia?”

Myungsoo pun mengarahkan badannya ke kanan dan ke kiri tanpa arah. Tak urung, tempat tidurnya menjadi berantakan oleh tindakannya itu.

“Maksud dari Kim Jae Won.. sekolah dan –>–ingat 2nd chapter—sekolah disini merujuk pada teman sekolahku. Lalu tanda itu.. kalau bukan merujuk pada arah, dengan kata lain.. panah? Dan, satu-satunya murid di sekolahku yang bisa memanah hanyalah Soo Won.”

“Apa maksud semua ini?”

“Kalau benar Soo Won-lah yang membunuh Jae Won, motif apa yang mendasari Soo Won berbuat hal itu? Lalu, kalau itu semua memang benar.. peledakan Museum Oyaku dan pria misterius itu—ingat 1st chapter—semuanya adalah perbuatan Soo Won? Tapi, mengapa?”

“TIDAK! Pasti semuanya salah. Aku harus membuktikan bahwa semua ini salah. Aku harus mencari bukti.”

Myungsoo pun bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu menyambar jaket dan helm-nya. Tempat yang ingin ia tuju adalah rumah Soo Won.

Tempat yang mungkin akan membawanya ke dalam benang merah kasus ini.

Kasus yang berawal dari empat tahun silam, rupanya belum selesai, bahkan kasus itu membawa dampak bagi kehidupannya di masa ini.

+===+

Rumah Soo Won.

Ting Tong..

Pemuda itu masih berdiri di depan rumah teman laki-lakinya itu. Ditengah udara malam yang cukup dingin itu, menunggu adalah sesuatu hal yang paling dibenci, bukan?

Untunglah, jaket kulitnya cukup dingin untuk melindungi tubuhnya agar tak membeku. Ia menggosok-gosokkan tangannya untuk menciptakan hawa panas dan menjaga agar suhu tubuhnya tetap stabil. Kepulan asap putih terlihat jelas ketika ia menghembuskan napas.

Ting tong..

Ia tekan sekali lagi bel rumah itu. Tak ada sahutan. Setelah lama menunggu, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk membuka pintu pagar rumah Soo Won.

Kriet..

“Tidak dikunci!” gumam Myungsoo yang sedikit kaget.

Ia pun memutuskan masuk ke dalam rumah itu. Rumah Soo Won tampak sepi. Dengan lampu yang dimatikan, menambah aura magis tersendiri dari rumah itu.

Ia buka pintu rumah itu.

Dan lagi-lagi tidak dikunci.

“Ceroboh sekali dia tidak mengunci rumah. Bagaimana kalau ada perampok masuk? Ck.. dasar Soo Won.”

Rumah Soo Won benar-benar gelap gulita. Bahkan, penerangan di sana sama sekali tak ada.

“Soo Won, kau ada di rumah? Soo Won?!” teriak Myungsoo.

Suaranya hanya memantul, tak ada sahutan yang terdengar sama sekali.

Sepertinya dia sedang tak berada di rumah. Apa dia sedang keluar?

Inilah kesempatan emas baginya. Ia tutup pintu rumah itu.

Dengan berbekal penerang dari sinar ponselnya, ia mulai menelusuri tiap ruangan di rumah itu. Untunglah rumah Soo Won tak terlalu besar. Hanya terdiri dari ruang tamu, dapur, tiga kamar utama, dan kamar mandi—sepanjang yang Myungsoo perhatikan.

Pertama, ia memasuki kamar terdepan dari rumah itu.

Kamar itu cukup rapih. Ia lalu menyalakan lampunya.

Sinar-sinar terang pun langsung menerpanya, membuat matanya silau. Ia mengerjap beberapa kali untuk membiasakan matanya. Setelah terbiasa, barulah ia mulai melihat-lihat.

Setelah ia menyusuri tiap sudut ruangan itu, satu kesimpulan yang dapat ia tarik, sepertinya kamar itu milik ibunya Soo Won.

Terlihat dari beberapa baju wanita di lemari, dan beberapa peralatan makeup sederhana di meja rias.

“Apa ibu Soo Won masih hidup? Selama ini aku tidak pernah melihat keluarganya. Setiap kali aku berkunjung ke sini, Soo Won selalu bilang kalau ibu dan kakaknya sedang pergi. Aneh juga..” gumamnya.

Dia lalu keluar dari kamar, setelah sebelumnya mematikan lampu dan menutup pintu kamar.

Ia berjalan kembali.

Dilihatnya sebuah pintu ruangan yang terletak bersebelahan dengan kamar sebelumnya.

Cklek..

Sepertinya seluruh ruang di dalam rumah itu sama sekali tak dikunci dengan penerangan yang sangat minim sekali.

Myungsoo sudah berada di dalam ruangan itu.

Ada sebuah benda yang menarik perhatiannya sejak ia melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.

Sebuah benda dengan pigura coklat kayu berpahatkan motif parang. Benda yang tergantung di dinding terbuka; berhadapan langsung depan pintu kamar. Jadilah, jika ada orang yang masuk, hal yang pertama kali dilihat mereka pastilah foto itu.

Myungsoo melangkah mendekat. Kali ini ia tak menyalakan lampu. Cahaya malam kota cukup untuk memberinya penerangan di dalam ruangan sunyi itu.

“Apa ini foto keluarga Soo Won?” matanya menangkap sosok kecil Soo Won yang berdiri di depan ketiga keluarganya yang lain.

“Kalau benar.. pria yang berdiri di sebelah kiri pastilah ayahnya. Lalu, perempuan yang mengenakan long dress biru ini, ibunya. Lalu, pemuda ini.. apa dia kakaknya?”

Sedikit lama ia memandangi foto itu. Foto itu adalah foto pertama yang ia lihat sejak ia berada di dalam rumah Soo Won. Aneh sekali. Baru ia menyadari bahwa di rumah itu, sama sekali tak ada foto yang terpajang langsung.

Puas melihat-lihat, ia lalu keluar dari kamar itu.

Sekarang tibalah pada ruangan terakhir. Ruangan yang terletak di sudut rumah itu, pastilah kamar Soo Won.

Kakinya pun melangkah masuk. Berbeda dari dua ruangan sebelumnya, kamar itu terlihat sedikit lebih berantakan.

Aura menegangkan pun semakin terasa manakala Myungsoo berada di dalamnya. Benar-benar mencekam. Bahkan, tanpa Myungsoo sadari, pemuda itu meneguk salivanya kuat-kuat.

Ia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Terdapat sebuah box di bawah meja. Seingatnya, ketika ia dan teman-temannya yang lain berkunjung ke rumah Soo Won, box itu tidak pernah ada di sana.

Asal kau tahu, ingatan merupakan satu-satunya hal yang sangat ia banggakan dari sekian banyaknya anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya.

Ia melangkah mendekati box itu. Kemudian tangannya bergerak ‘tuk meletakkan box itu di atas tempat tidur. Untunglah, sinar lampu dari rumah tetangga dan sinar rembulan membantu sedikit matanya untuk berakomodasi.

“Memories of  My Complex Life.”

Begitulah tulisan yang tertera di atasnya. Adanya tulisan itu justru menambah rasa kecurigaan Myungsoo terhadap Soo Won.

Setelah di buka, lensa matanya menangkap buku-buku yang ditempatkan secara sembarangan di dalam kotak itu. Ia lalu meraih sebuah album dan membukanya. Sampul album foto itu berwarna merah hati, dengan suasana dipenuhi oleh kehangatan.

Myungsoo menebak, sepertinya album ini berisi ribuan foto bersama keluarga mereka.

“My Little Family.”

Sedikit melenceng dari perkiraan, buku itu rupanya didominasi oleh foto-foto masa kecil Soo Won. Sedang foto bersama satu keluarga, hampir jarang ditemukan di album ini. Album itu tidak terisi sepenuhnya. Hanya sampai setengah halaman. Seterusnya hanya dibiarkan kosong.

Anehnya, box ini sama sekali tidak berdebu. Sedangkan meja yang menjadi naungan box itu,  banyak sekali debu yang menempel di permukaan maupun di bawahnya.

Sepertinya, box ini sering dilihat. Terlihat dari banyaknya tekukan di banyak sudut, dan juga pembuka box itu yang tidak rapi.

Myungsoo menduga akan ada banyak album foto di dalam kardus itu, mengingat di sepanjang sisi dinding rumah, tidak ada satupun foto yang terpajang. Mungkin, kardus ini semacam tempat penyimpanan agar kenangan-kenangan lama bisa tersimpan dengan rapat.

Namun, ternyata ia salah. Rupanya hanya ada dua album saja di sana. Selebihnya, hanya ada beberapa lembar kertas koran yang dipotong-potong secara acak oleh Soo Won.

Myungsoo lalu mengambil album terakhir itu. Berkebalikan dari album pertama yang terkesan menunjukkan kasih sayang dan kehangatan, album ini sedikit berkesan kelabu. Dengan sampul buku cokelat kehitam-hitaman, dan bercorak hiasan klasik.

Ia lalu membuka album itu. Foto yang ia lihat pertama kali adalah foto Soo Won saat sedang kelulusan SD.

Dia terlihat begitu menggemaskan dengan tubuh gempal, dan pipinya yang sedikit berisi. Disampingnya telah berdiri ibu dan ayahnya. Sepertinya, yang memfoto mereka saat itu adalah sang kakak.

Selama empat halaman terdepan, semuanya berisi foto kelulusan Soo Won. Sepertinya, dia merupakan anak kesayangan dari keluarga ini.

Perlahan, ia membuka lampiran-lampiran selanjutnya. Kali ini, Soo Won sudah dewasa.

“Siapa orang ini?” gumam Myungsoo saat ia melihat sosok seorang pria dewasa.

“Kakaknya?” seorang pria berjas hitam berdiri di sebelah Soo Won sembari tersenyum lebar, yang menampilkan deretan gigi putih bersihnya. Ia merangkul Soo Won dengan bangga, berbanding kontras dengan wajah anak kecil itu yang tak suka.

Ia buka lagi halaman selanjutnya.

“Sepertinya pria ini adalah kakaknya..” ia dapat menarik kesimpulan seperti itu setelah melihat keakraban dua insan manusia itu. “Tapi, wajah orang ini.. kenapa begitu kukenal? Mirip seseorang.. tapi, siapa-?”

Putus asa karena tak bisa menemukan file mengenai pria itu, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk mengambil koran-koran di bawahnya.

Cukup banyak. Pasti Soo Won memiliki maksud tertentu dengan memotong-motong koran ini di beberapa kasus. Mengingat Soo Won yang sangat antipati terhadap bacaan dan buku.

Lalu, untuk apa ia mengumpulkan semua koran-koran ini?

“Kim Nam Hee, Sang Revolusioner Dari Masa Depan.”

Begitulah bunyi dari judul koran yang pertama ia ambil.

Isinya tak lain mengenai seorang karyawan swasta yang berhasil mendongkrak perekomonian Korea Selatan saat itu. Mengingat tahun 2003 merupakan tahun kelam bagi Korea Selatan karena bersitegang dengan Korea Utara.

Setelah melihat potongan-potongan kertas secara keseluruhan, rupanya artikel-artikel yang dipotong oleh Soo Won—semuanya—memuat  berita mengenai Kim Nam Hee.

“Siapa Kim Nam Hee ini?” gumam Myungsoo. “Ta-tapi.. tunggu!”

Terbesit di benaknya untuk segera mengambil foto kakak Soo Won di salah satu album. Ia kemudian mencocokkan wajah pria—kakak Soo Won—di dalam album foto dengan foto Kim Nam Hee yang berada di koran.

Cocok.

Wajah kedua orang itu memiliki kemiripan. Sungguh. Myungsoo tersentak akan hal ini. Mengingat ia sama sekali tidak tahu perihal seluk beluk kehidupan Soo Won.

Selama ini, ia hanya tahu bahwa Soo Won hidup bersama ibu dan kakaknya, sedang ayahnya sudah meninggal. Itupun ia tidak pernah tahu siapa nama anggota keluarganya. Meski Soo Won termasuk orang yang banyak bicara, namun ia akan menjadi orang tertutup jika sudah membahas mengenai kehidupan keluarganya.

Entahlah, semua itu rumit.

“Jadi, Kim Nam Hee adalah kakak Soo Won? Lalu, tulisan di bawah foto saat kasus Kim Jae Won—ingat 2nd chapter—itu adalah tulisan Soo Won?”

“Jadi, apa dia ingin membalas dendam karena kematian kakaknya?”

Mata elang Myungsoo menangkap sebuah koran yang tergeletak di dalam kardus itu. Ia pun langsung meraih dan membacanya.

“Pelaku Pembunuhan Seoul Film Centre Tewas Tertabrak.”

Myungsoo hanya membaca sebagian isi berita itu. Ia sudah membaca berita itu sebelumnya. Hanya ingin menguatkan daya ingatnya saja.

“Rupanya benar Soo Won ingin membalas dendam.” Myungsoo lalu menghembuskan napasnya berat. Sungguh, melawan kawan adalah hal yang tersulit daripada kita melawan musuh yang tak terlihat.

Ini berkaitan dengan gejolak batin.

Matanya kemudian menjelajah tiap isi ruangan itu. Hatinya tertarik dengan keberadaan sebuah pintu di samping lemari.

“Kamar mandi?”

Karena penasaran, ia kemudian mencoba mendekati pintu itu.

Krieet..

Pintu usang itu mengeluarkan suara decitan yang kasar, seiring tangan Myungsoo mendorongnya. Ruangan itu.. di dominasi suasana merah.

Seperti ruangan pencucian film. Ya, mirip seperti itu.

Lampu-lampu remanglah yang menemaninya. Meski dengan ditemani penerangan yang minim, Myungsoo dapat melihat berbagai foto yang ada di sana.

Ada banyak orang. Tapi, setelah dilihatnya, ia sama sekali tak menemukan foto keluarga Soo Won di sana. Semuanya berisi foto-foto yang berbeda.

Sepertinya ruang tersembunyi ini sejenis ruang rahasia.

Tap.

Kakinya berhenti di salah satu lantai. Ia melihat ke arah papan panah yang berisi banyak foto.

Tidak, terlalu mengerikan!

Sebagian dari foto-foto itu diberi tanda silangan besar dengan tinta merah dan beberapa diantaranya yang ditancapkan sebuah busur.

Tepat pada titik pusat sasaran.

Myungsoo kemudian melangkah mendekat.

“Museum Oyaku?” foto Museum yang telah meledak itu, selain diberi tanda silang, foto itupun ditancapkan sebuah panah pada pintu masuknya.

“Sudah kuduga pelaku peledakan Museum adalah Soo Won. Lalu, kalau dia yang meledakkan Museum.. pelaku pembunuhan Kim Jae Won adalah..” matanya kemudian beralih kepada suatu foto seorang pria yang berada di dekat foto Museum itu.

Kondisinya pun sama; diberi tanda silang, dan tertancap panah.

“…Soo Won?”

Myungsoo kaget bukan main. Selama ini ia tak mengira orang yang selalu ceria dan ramah kepada siapapun itu, tega berbuat hal mengerikan seperti itu.

Sepertinya, Myungsoo sudah mengerti akan maksud dari pemberian tanda silang dan ditancapkan panah.

Itu seperti mission complete. Kalian paham? Semua foto yang berada di papan starbust[4] itu adalah target Soo Won, oleh karena itu semua foto-foto itu diberi tanda silang besar.

Lalu, sebuah panah yang sengaja ditancapkan itu menandai bahwa apa yang ingin ia lakukan terhadap sasarannya telah berhasil ia wujudkan.

“Lalu..” kemudian, mata Myungsoo menangkap sebuah foto di samping foto Kim Jae Won yang bertuliskan ‘Next Target.’

Matanya membelalak besar seiring ia sangat mengenal foto yang menjadi target sasaran Soo Won. Napasnya semakin memburu. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Sungguh, ia benar-benar emosi saat ini.

“Sial!” erangnya.

Ia lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan yang ditujukannya kepada seseorang.

To: Kim Soo Won.

Soo Won, aku tahu semua ini adalah perbuatanmu! Jangan kau coba berani untuk melukai Soojung! Kau akan tahu akibatnya kalau kau sampai membuat Soojung terluka!

Selesai mengirim pesan, Myungsoo segera menelepon Inspektur Nakawara.

“Halo, Inspektur! Ini saya, Myungsoo. Saya sudah mengetahui siapa pelakunya!”

+===+

Derungan mesin motor Honda CB150R terdengar meraung membelah jalanan padat kota Seoul saat itu. Dengan pengemudi seorang siswa sekolah menengah atas, motor itu terus melaju kencang bak pembalap profesional.

Sang pengemudi sedang tuli agaknya. Ia tak lagi mempedulikan berbagai hujatan-hujatan yang ditujukan padanya. Ia hanya fokus pada kendaraannya agar tak menabrak sesuatu.

Sekonyong-konyong motor itu bergerak ringan diatas angin malam yang menerpanya. Bergerak meliuk menghindari beberapa kendaraan di depannya. Menyisakan beberapa partikel sinar-sinar keemasan di angkasa malam.

Tak peduli seberapa aksinya ini. Isi kepalanya hanya dipenuhi oleh keselamatan orang terpenting bagi hidupnya.

“Soojung, di mana kamu?”

Mungkin, inilah hal tersial jika kau terlalu mencintai dan menyayangi seseorang. Seolah ada sinyal yang memberitahumu bahwa sang pujaan hati sedang dalam bahaya. Dan, tubuhmu akan secara refleks meresponnya.

Entah respon macam apa yang akan ditunjukkan.

Mungkin, semacam respon yang diberikan oleh tubuh Kim Myungsoo. Respon gila.

Tepat di pada tikungan di depan matanya, ia segera membelokkan stir motornya—tentu saja tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun. Terus saja meliuk hingga ia sampai di depan rumah Soojung.

Ting Tong..

Ia bunyikan bel rumah itu. Berharap yang datang menyambutnya adalah Soojung sendiri.

Cklek.

Ah, sial. Yang datang menyambutnya adalah ibu Soojung, seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian rumahan.

“Eh, Myungsoo. Ada apa? Soojung sedang keluar,” ujar ibu Soojung sembari melangkah mendekati Myungsoo. Sepertinya ia sudah tahu tujuan Myungsoo datang kemari.

Apalagi kalau bukan untuk menemui putrinya?

“Apa? Keluar? Ke mana? Apa dia bersama temannya?”

“Sepertinya tidak. Dia pergi sendiri ke toko buku. Katanya ada buku yang ingin dibelinya.”

“Oh, begitu. Terima kasih. Saya permisi dulu.”

Setelah mendapat jawaban untuk pertanyaannya, Myungsoo segera undur diri setelah sebelumnya menundukkan kepalanya sedikit.

“Apa kau tak mau mampir? Hei, Myungsoo!” ibu Soojung hanya menggelengkan kepalanya melihat gaya pembalap dari seorang Kim Myungsoo.

“Dasar anak muda.”

.

.

.

Rumah Kim Soo Won.

Usai Myungsoo memberitahukan Inspektur melalui telepon, dalam sekejap saja rumah itu sudah dikepung oleh polisi. Beberapa awak media pun turut menjadi penonton.

Kasus Kim Soo Won kali ini benar-benar menyorot perhatian publik. Dan itu memberi kesempatan bagi para kuli tinta untuk mengisi dapur mereka.

Beberapa polisi dengan alat penembak mereka sudah bersiap di depan rumah itu. Sorotan lampu sudah bersinar menyorot isi rumah.

Garis kuning panjang dengan bertuliskan ‘Police Line’ pun sudah terpasang mengitari rumah. Beberapa tim penyidik sudah memasuki rumah untuk menggeledah rumah kecil itu.

Beberapa warga pun terlihat mengerumuni daerah sekitar kejadian. Beberapa dari mereka saling berbisik, bertanya akan hal yang sedang terjadi.

“Inspektur, ada kejadian yang terjadi di sekitar jalan Cheo Bak. Dan Myungsoo terlibat di dalamnya,” ujar salah satu polisi muda yang melapor kepada Inspektur Nakawara.

“Baiklah. Segera kirim beberapa personil ke tempat Myungsoo berada. Sedangkan yang lainnya tetap berjaga disini!” perintahnya.

.

.

.

@Cheo Bak street.

Myungsoo sudah tiba di tempat itu. Sengaja ia memperlambat laju motornya untuk mencari keberadaan Soojung.

Tak berapa lama, fokusnya menemukan seorang perempuan berambut panjang tergerai, mengenakan jaket tipis biasa, dan celana jeans hitam.

Itu pasti Soojung!

Myungsoo kembali mengerahkan seluruh daya mesin motornya itu. Melaju cepat membelah angin dingin.

Namun, dia melihat sebuah pelita bersinar terang menerpa wajah gadis itu.

Sungguh. Hal itu berhasil membuat hatinya berkebit tak menentu.

Laksana waktu yang berjalan seperti desauan suatu napas yang menggila. Tubuhnya bergerak otomatis, tanpa perintah dari pusat. Ia meninggalkan motornya begitu saja.

Bahkan, kujamin, Myungsoo sendiri tidak tahu dengan apa yang sedang ia lakukan saat itu. Iris hitamnya hanya memantulkan sosok seorang gadis. Sedang, otaknya sedang memutar gerigi-gerigi roda di dalamnya agar bayangan ketakutannya tak terwujud.

Soojung yang terkapar di atas tanah dengan bermandikan darah segar.

Oh, Tuhan. Ia sama sekali tak menginginkan itu!

Segeralah ia rengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Melindungi si tubuh tak berdaya itu dari amukan besi beroda dua.

Motor itu hanya sedikit saja mengenai Soojung. Sedikit saja, hanya mengenai rambut hitam panjang gadis itu yang berkobar tertiup angin.

Semuanya tampak kisruh saat itu.

Pengemudi brengsek itu sama sekali tak berhenti, atau sekedar menengok keadaan Soojung.

“Sial!” umpatnya.

Ia gagal. Dan, pikirannya langsung memutar kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.

Ia akan mati. Atau ditangkap polisi.

Maka, otaknya bertitah agar ia segera pergi dari tempat itu.

.

.

.

“Soojung, tidak apa-apa. Tenangkan dirimu,” ujar Myungsoo sembari memegang wajah Soojung yang bercucuran keringat.

Untung saja, polisi sudah tiba di tempat itu, dan diekori oleh tim medis yang datang bersamaan.

“Sial!” umpat Myungsoo manakala dilihatnya penabrak itu bergerak menjauh.

Myungsoo menoleh sebentar ke arah Soojung yang sudah ditangani oleh tim medis. Untunglah Soojung sudah bisa mengendalikan emosinya. Dan itu cukup menenangkan bagi Myungsoo.

Myungsoo dan motornya itu segera melesat pergi, dan diikuti beberapa mobil polisi lainnya.

Tujuannya mereka hanya satu.

Mengejar si penabrak.

Aksi saling mengejar pun tak dapat diindahkan. Myungsoo berhasil menyamai kecepatannya dengan si penabrak.

Ia dan si penabrak itu terlibat aksi balapan. Terkadang, Myungsoo lebih unggul, pun dengan si penabrak.

Kemampuan mereka seimbang.

“Soo Won, hentikan! Berhenti!” teriak Myungsoo dari arah kiri si penabrak itu.

“Tidak!  Aku tidak akan berhenti sampai kalian semua harus merasakan akibatnya!” teriaknya. Tak diduga, pemuda itu justru semakin memacu motornya.

210 km/jam.

Apa itu masih termasuk kecepatan rata-rata? Memang tempat itu sepi, oleh karenanya hanya bunyi desingan mesin yang terdengar.

.

.

.

Kalian ingat mengenai hukum III Newton mengenai ‘Aksi-Reaksi’?

Setiap aksi, selalu menimbulkan reaksi. Setiap perbuatan, selalu ada balasan. Semacam hukum karma.

Kalian pernah mendengarnya?

Meski hitam dan putih selalu hidup berdampingan, namun, niscaya putih akan selalu mendominasi. Kiranya pemikiran seperti itu yang selalu tertanam di otak kita.

.

.

.

Soo Won semakin menggila bagai seekor anjing rabies. Ia tak sungkan untuk menekan dalam-dalam pedal gasnya. Mungkin bisa digambarkan laksana kuda kencana yang sedang mengamuk.

“Soo Won, AWAS!” selama sepersekian detik, Myungsoo berhasil menginjak remnya dalam-dalam. Sehingga, posisi motornya sempat mengalami hand-stand stucking.

Begitu pun dengan mobil-mobil polisi. Mereka semua kompak melakukan pemberhentian mendadak, hingga membentuk suatu formasi yang sedikit rancau.

Namun, semua teriakan Myungsoo teredam oleh gabus-gabus di pelindung kepalanya. Ia tak mendengar suara teriakan Myungsoo.

Ekor matanya melirik ke arah Myungsoo lewat kaca spion. Sebuah tajuk kemengan pun terpeta di bibirnya.

Itulah penyebab dari berakhirnya rantai takdir ini.

Soo Won kehilangan fokusnya. Ia tak melihat pembatas jalan, dimana setelahnya tercuat sebuah jurang terjal nan curam yang siap menelan siapa saja yang tak waspada.

Dan, Soo Won terlambat melakukan gerak refleks. Motornya menabrak pembatas besi itu, mengakibatkan tubuhnya terbang bebas tanpa suatu pengaman apapun ke arah jurang.

Myungsoo, dan beberapa polisi di sana menjadi kaget. Mereka semua segera menuju pembatas kayu itu, menengokkan sedikit kepala mereka ke arah bawah—jurang—untuk melihat keadaan Soo Won.

Perih.

Bagi Myungsoo, semua ini menyakitkan.

Tubuh sahabatnya terbujur kaku di atas bebatuan datar namun bersisi tajam, dengan bermandikan darah.

“Mungkin.. masa lalumu sudah menciptakan monster yang menyeramkan, Kim Myungsoo.”

Semua ini salahnya. Andai ia menyadari kesalahannya dulu selama beberapa detik saja, mungkin rentetan kejadian empat tahun silam, tak akan pernah terjadi.

Mungkin, jika ia melihat indikasi keterlibatan Jae Won di dalamnya, semua ini tak akan pernah terjadi.

Mungkin, jika ia lebih sering mengasah kepekaannya, semua ini tak akan pernah terjadi.

Mungkin..

Tidak mungkin.

Waktu membawa efek domino. Apa yang kau lakukan di masa lalu, akan membawa dampak besar bagi masa depanmu.”

Tidak usah mengingat masa lalu. Jika saja saat ia berbicara dengan Soo Won di tempat loker tadi siang dan membujuknya untuk mengakhiri semua permainan sadis ini, mungkin takdir pahit ini tak akan menelan korban lagi.

“SOO WON!” Myungsoo berteriak sekencang yang ia bisa.

Suaranya hanya menggaung di antara tebing-tebing jurang.

Sekencang apapun teriakanmu, kau tak mungkin bisa membawa ruh yang sudah terlepas dari raga, Kim Myungsoo.

“Soo Won..”

+===+

Sesaat sebelum cahanya putih terang mendatanginya, ia mendengar bisikan seseorang.

Begitu lembut dan sangat ia senangi.

Perlahan, bayangan putih itu memudar berganti ilustrasi, dimana terdapat dua pemuda yang sedang bercengkrama.

Keduanya sama-sama memegang gitar. Alunan musik mengalun merdu seiring petikan senar yang terdengar.

Mereka; Soo Won dengan Myungsoo.

Tepatnya, pada bulan desember awal. Mereka menghabiskan waktu minggu bersama di rumah Myungsoo.

Melakukan hal-hal yang biasa para pria lakoni. Seperti, bermain musik misalnya?

Lantunan lagu Im Yours terdengar sangat epik dinyanyikan oleh dua orang laki-laki itu. Mereka tampak senang saat itu. Saling melemparkan canda dan tawa.

Hati Soo Won menjerit. Semua ini, kenangan bersama Myungsoo dan Soojung, mengapa sama sekali tak berharga untuknya?

Gambar pun berganti kembali.

Nam Hee Hyung.

Seluruh kerja keras yang dilakukan kakaknya selama hidup, semuanya hanya menjadi serpihan debu saja.

Lihatlah dia sekarang.

Apa dia seorang Insinyur? Apa dia sudah menjadi orang sukses?

Bahkan, kini dia meninggal dengan menyisakan nama yang busuk.

Seorang pembunuh karena termakan dendam.

Maafkan aku, Nam Hee Hyung.

.

.

.

“SOO WON!!”

+===+

Satu minggu sudah terlewati.

Semuanya berlalu dengan normal. Soojung yang sempat menjadi korban incaran, kini sudah mulai bisa menebarkan senyumnya kembali.

Seperti sudah menjadi suatu kebiasaan yang mendarah daging, Myungsoo dan Soojung pulang sekolah bersama-sama. Menyusuri jalan setapak dengan diisi obrolan-obrolan ringan.

“Myungsoo, mungkin benar kata Inspektur Naka kalau kau harus mandi kembang tujuh rupa. Aku juga merasakan setiap kali kehadiranmu di suatu tempat, selalu saja mengundang kasus,” ujar Soojung sembari menendang ringan kerikil-kerikil kecil di hadapannya.

“Jangan berbicara ngelantur. Mana mungkin—”

Belum sempat Myungsoo meneruskan perkataannya. Tiba-tiba..

“Kyaaaa!!”

Semuanya menjadi tegang seketika. Jalanan yang lenggang itu kini menjadi ramai dengan adanya seseorang yang tergeletak di tengah jalan sambil bersimbah darah.

“Pembunuhan!” seru Myungsoo.

“Benar ‘kan kataku. Kau itu benar-benar malaikat maut,”  gumam Soojung. Kemudian, ia berlari sedikit untuk menyusul Myungsoo.

–=oOo=–

With a grudge, all of the things can be darkness.

With the darkness, you can’t feel happiness.

Just regreting at the end.

And all of this is over.

.

.

.

| E N D |

Ahaha, alohaa😀 fiuh~ selesai juga akhirnya.. #lapkeringat.. such a long one, ya? ;_; sejujurnya, maaf sekali kalau ini jelek banget dan penyelesaian konfliknya buruk banget -_- karena aku gatau musti digimanain endingnyaaaaaahhhh T.T

Scheme: Jadi, nanti setelah ini saya akan mengepos semacam Cast Intro gitu. Jadi, kalian bisa membayangkan seperti apa sih muka si A atau si B ini gitu. Lalu, akan ada conclusion. Tiap chapter kan berbeda konflik. Jadi, yah tunggu aja kapan keluarnyah😀

Side Story: Focusing on Kim Soo Won. Bagaimana dia bisa mengerti kebenarannya, cara membalaskan dendamnya, kehidupan normalnya, dan konflik batinnya. Jadi, di cerita itu mungkin Myungsoo-Soojung akan jarang muncul.

—————————————————————————————————————-

Obuya[1]: Sejenis daging yang dimasak seperti Bulgogi. Hanya pemasakannya sedikit lebih lama.

Soo[2]: Soo; bisa diartikan manis, dan hal-hal yang berkaitan dengan keindahan fisik. Selain itu, Soo disini dimaksudkan dengan penulisan 져조 (Jiyeo-Jo) Anjing manis.

Hypotemusa[3]: Suatu dampak psikologi dimana jika manusia mendapatkan suatu hal yang menurutnya berkesan, hal itu akan terulang secara terus menerus selama beberapa dekade ke depan.

11 responses to “A Case [3B/END]

  1. Annyeong, aku readers baru disini salam kenal ^^v
    biar lebih efisien aku comment ffnya sekalian disini aja ya, #plak
    Ceritanya KEREN BANGET THOR!!! pokoknya keren deh!!!😀
    Buatin lanjutan sequel myungstalnya dong, love storynya mereka di ff ini agak kegantung. terlalu banyak misterinya.. hehehe *maaf kepanjangan* (_ _)

    • annyeong😀 haha, semoga betah ya berkunjung ke mari😀 #tebaruang..
      oke, gapapa😀 haduh, benarkah ini cerita sekeren itu? :’))) aku jadi terharu.. #bighug
      haduh, sequel khusus MyungStal kayaknya ngga deh T.T soalnya aku lagi ada projek buat si Soo Won ini sih ya.. tunggu aja😀

      haha.. komen panjang-panjang gapapa kok cantik^^ jangan sungkan untuk berkomentar lagi yaa😀
      makasihh😀

  2. kereeeeen!
    Baru kali ini gue baca fanfic misteri yang bener bener misteri/? Haha ini beneran keren
    Emang sih kasus dan beberapa kode nya agak agak rancu dan kurang njelimet(?) tapi efek pemilihan kata dan bahsanya bisa nutupin kekurangan2 itu! Keren lah authornya😀
    sering sering ya bikin ff misteri! Tentunya dengan misteri kasus yang lebih keren lagi😀

    • aduh makasih😳 ehehe.. eh fanfic misteri yang bener-bener misteri? .__. aduh ini juga masih banyak kegagalan (/.\) ehehe.. hm, emang sih terlalu to the point kan? :p aku emang ngerasanya gitu suh XDD hehe..

      aduh makasih yaaa😳 pemilihan katanya masih banyak yang kaku dan terkesan dipaksakaan TT ehehe..
      iya iyaaa thanks yaaa :))

  3. Keren sih keren tp yg jadi korban tuh kasian myung -___-” bner kata Soo Jung mnding mandi kmbang 7 rupa sekalian aku mandiin >_<

  4. Dari chapter awal sampai chapter ini akan terus ada kata ‘KEREN’ di tiap komenku! beneran, ff ini KEREN BANGEEETTT! >3//< benar-benar pintar haha *curcol
    udah! daripada aku curcol di sini, lebih baik komennya aku akhiri. dah dah~ *ilang*(?)

    • komenku kepotong hiks ;-; aku jujur loh, ff ini KEREN!!
      Oh ya, karakter Myungsoo di sini jadi ngingetin aku sama Myungsoo-RP. dia pintar banget dan guru detective di sekolah RP. aku sampai kagum banget sama Myungsoo-RP yang itu >//< benar-benar pintar haha *curcol
      udah! daripada aku curcol di sini, lebih baik komennya aku akhiri. dah dah~ *ilang*(?)

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s