Black Revenge

blackrevenge

Summary:

Pembalasan dendam yang dilatarbelakangi rasa sakit hati karena kedua orang tuanya tewas di tangan sekelompok geng mafia, membuat Kim Myungsoo harus menentukan pilihannya.

Black Revenge || a movie by ©  Mizuky

Main Cast: Myungsoo [Infinite] – Krystal [F(x)] || Support Cast: Jung Yunho [TVXQ]

 Duration: Vignette [> 2300 words] || Rating: PG-13

 Genre:

|| Romance, Action, Tragedy, Dark ||

–=oOo=–

Minggu, 24 Oktober 2000.

Sore itu seperti biasanya, sebuah sore yang cerah. Langit sepertinya bersahabat dengan anak-anak yang sedang bermain. Di taman itu, terlihat banyak sekali anak-anak yang berlari ke sana-ke mari dengan senangnya. Bahkan, jatuh pun mereka masih sempat tertawa.

Meski pukul sudah menunjukkan setengah lima sore, namun anak-anak itu urung untuk meninggalkan kesenangan mereka.

“Myungsoo, Myungsoo kau tidak ikut bermain dengan kita?!”

Seorang anak laki-laki yang terus saja memandang ke atas itu, sejenak menghadapkan fokusnya untuk menatap temannya tadi.

Anak kecil itu tersenyum kecil. Lalu, dia melangkah mendekati temannya yang sedang bermain kelereng itu.

Dia hanya berdiri di sana tanpa mau melibatkan dirinya di dalam permainan itu.

Tidak, bukan malas. Dia hanya sedang resah saja.

.

.

===

.

.

“Kau sudah pulang?” seorang ibu rumah tangga keluar dari dalam rumah untuk menyambut suami tercintanya.

“Iya. Mana Myungsoo?”

“Oh, anak itu sedang bermain di taman kompleks,” jawabnya.

“Bagus. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ayo, kita ke kamar,” ajak suaminya dengan raut wajah..  entahlah, mungkin antara gelisah, cemas, dan takut.

.

.

“Sebuah anggota mafia akhir-akhir ini sedang meresahkan polisi.”

“Polisi? Maksud ayah apa?” tanya sang istri yang sama sekali tak paham dengan pembicaraan suaminya.

“Aku dan teman-temanku sedang mengusut sebuah kasus mengenai kematian seorang pemuda di sebuah gang sempit. Kau sudah tahu berita itu, ‘kan? Lalu, kami menemukan indikasi keterlibatan mafia di dalamnya. Kupikir, mafia itu berasal dari Korea Selatan. Namun, aku salah. Rupanya para mafia itu berasal dari Jepang,” ungkap sang suami.

“La-lalu?”

“Para mafia itu sepertinya menyadari kalau mereka sedang dalam pantauan polisi. Mereka berniat untuk membungkam mulut polisi.”

“Tujuan mereka.. jangan-jangan kematian Ji Hwan dan Si Wan adalah..”

“..ya, mereka berdua dibunuh. Yang tersisa hanya tinggal aku dan Beok Gyeong. Aku tidak tahu siapa yang akan menjadi korban selanjutnya. Tapi, seluruh data-data penyeledikan mafia, akulah yang pegang—”

“—dan aku bermaksud memberikan ini kepada Myungsoo. Setidaknya agar data-data ini ada yang menyimpan. Sebaiknya, kau dan Myungsoo segera pergi dari tempat ini!” ujar sang suami.

“Ta-tapi, bagaimana denganmu?”

“Tak usah mempedulikan aku! Yang penting selamatkan dirimu dan Myungsoo terlebih dahulu!”

Wanita itu mengangguk. Dia lalu bergegas memasukkan beberapa baju ke dalam koper.

Brruuak!

Sebuah suara dobrakan pintu yang sangat keras terdengar dari arah ruang tamu. Sepasang suami istri itu dibuatnya kaget. Sang istri bertambah cemas. Ia meremas kedua tangannya kuat-kuat. Sang suami segera beranjak dari ranjangnya. Ia mengambil pistol yang biasanya ia simpan di laci meja.

“Mereka ada di sini!” seru pria itu setelah ia mendengar bunyi derap langkah dari luar.

“Cepat-cepatlah kau keluar! Lewat jendela itu!”

Dor!

Engsel pintu yang tadinya terkunci rapat, menjadi terbuka sempurna.

Empat orang berpakaian hitam dengan sebuah pistol berselaras 4 cm, masuk ke dalam kamar itu.

Suasana menjadi kacau seketika.

“Serahkan data-data mengenai kami, dan kalian akan bebas,” ucap salah satu pemimpin mereka.

“Tidak akan! Aku tidak percaya padamu!” ujar sang suami.

“Barang itu pasti ada padamu. Kalau kau menyerahkannya sekarang, kau dan istrimu masih bisa hidup bebas.”

Cih. Kau mengatakan itu, namun anak buahmu mengacungkan pistol ke arah kami. Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Aku tidak bodoh.”

Psst.. baiklah. Turunkan senjata kalian semua,” ujar si pria pemimpin itu kepada ketiga anak buahnya. Lalu, mereka semua kompak menyimpan masing-masing senjata mereka di saku celana.

“Sekarang di mana barang itu?”

“Sudah kubuang.”

“Katakan yang sebenarnya!” bentak pria berpakaian hitam itu.

Suaranya benar-benar menggelegar, membuat wanita istri polisi itu menjadi takut. Ia mengeratkan pegangan tangannya di lengan suaminya.

“Di mana pun data-data itu berada, yang pasti kalian tidak akan pernah mendapatkannya.”

“Baiklah. Sepertinya percuma aku berlama-lama di sini,” ujar pria hitam itu. “Kalian bereskan mereka. Sesudah itu, geledah tempat ini untuk mendapatkan data-data mengenai kita,” kemudian, pria itu pergi dari dalam kamar. Tak disangka beberapa pria berbaju hitam lainnya  masuk dari arah luar ke dalam kamar.

Dor.. dor.. dor..

Bruk..

Kedua, suami istri itu meninggal dengan beberapa tembakan di sekujur tubuh mereka.

Tidak ada suara tembakan yang terdengar, komplotan pria berbaju hitam itu menggunakan semacam peredam di moncong pistol mereka.

Pats..pats..pats..

Burung-burung bertebangan ketakutan ke tempat yang aman. Mereka saling berkicau sengau, merasakan adanya kematian di dekat mereka.

.

.

===

.

.

“Myungsoo, ayo sekarang giliranmu!”

Anak kecil itu masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia melihat gerombolan merpati putih yang terbang terburu-buru.

“A-aku.. aku pulang dulu. Giliranku dimainkan siapa saja,” ujarnya, lalu ia berlari tergesa-gesa menuju rumahnya.

.

.

Mata kecilnya menatap ke arah rumah yang terlihat berantakan.

“Oh, tidak! Apa yang terjadi?”

Ia bingung akan keadaan rumahnya. Berantakan, hancur, dan kacau.

Siapa yang berbuat seperti ini?

“Ayah, Ibu kalian di mana?!” teriaknya. Tak ada sahutan. Anak kecil itu mengigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang sudah membendung di kelopak kecilnya.

“Ayah, Ibu!!” teriaknya sekali lagi. Matanya kemudian fokus kepada pintu kamar yang terbuka.

“Ayah, Ibu!” ia berlari ke arah dua mayat yang sudah terbujur kaku itu. Anak kecil itu tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Melihat kedua orang tuanya yang meninggal dengan banyak peluru bersarang di tubuh mereka, membuat anak itu sedih bukan main.

“Ayah, Ibu!!”

.

.

===

.

.

Rabu, 24 Oktober 2012 .

“Lewat sini, Tuan!”

Brak..

Pintu mobil terbuka dengan cepat. Seorang pria tua memasuki mobil itu dengan sebuah tas abu-abu di tangannya.

Dor.. dor.. dor..

Seorang pemuda menembaki ke arah bangunan kosong. Sebuah bangunan yang belum selesai konstruksinya, dan di tempat itulah sebuah transaksi telah selesai dilakukan.

Beberapa pria dari dalam gedung berlindung di balik tembok untuk melindungi diri dari rentetan peluru yang di tembaki oleh seorang pemuda yang bahkan berumur jauh di bawah mereka semua.

Mengambil kesempatan dari ketidakwaspadaan musuh, pemuda cakap itu segera memasuki mobil dan membawanya jauh dari gedung tua itu.

“Kerja yang sangat bagus, Myungsoo.”

“Terima kasih, tuan,” ucap pemuda itu sambil mengusap keringatnya.

“Tidak sia-sia kau menjadi bodyguard pribadiku. Aku sangat percaya padamu.”

“Saya akan menjaga kepercayaan tuan dengan sepenuh hati,” balasnya.

.

.

===

.

.

13:15

“Ayah, Soojung pulang!”

Teriak seorang gadis berpakaian seragam SMA dari arah luar. Pria yang baru saja mematikan putung rokoknya itu, bangkit berdiri, kemudian merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang putri.

“Hai, bagaimana harimu, sayang?”

Uh, rokok lagi? Sudah kubilang berhentilah merokok, ayah!” protes sang anak setelah mencium bau napas ayahnya itu.

Pria itu hanya menanggapi dengan sebuah senyum simpul.

Ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Seorang anak perempuan yang tumbuh menjadi seorang putri cantik jelita. Dengan kepintaran yang bisa dibanggakan, ia benar-benar menyayangi putri satu-satunya itu. Ia selalu senang tiap kali melihat putrinya tersenyum. Ia melihat senyum mendiang istrinya di dalam sana.

Meski pekerjaannya kotor—seorang mafia yang hidup dari transaksi kotor, dan kau pasti tahu apa yang diperjual-belikan oleh mereka—jangan kira sayangnya kepada sang anak hanya sebesar biji jagung.

Ia, Jung Yunho, seorang mafia yang terkenal akan kesadisannya, teramat sangat menyayangi putri kecilnya, Jung Soojung.

Persetan dengan hujatan orang-orang kepadanya, tapi ia tak akan tinggal diam jika melihat putrinya terluka.

“Kau senang sekali hari ini, Soojung. Adakah yang membuatmu bahagia hari ini?” selidik Yunho.

“Ayah, panggil aku Krystal! Ah, ketahuan ya?” pipi gadis itu menampilkan semburat merah di keduanya.

“Baiklah, Krystal kecil ayah. Itu sangat jelas sekali, sayang! Kau sedang menyukai seseorang?”

“Ada seorang sunbae di sekolahku. Ia sunbae yang sangat baik! Dia juga tampan. Namanya Kim Woo Bin. Awas saja kalau ayah mengirimkan anak buah ayah untuk mengawasinya. Krystal akan marah kepada ayah!” ancam gadis itu.

Ia ingat bagaimana anak buah ayahnya yang menakut-nakuti seorang pemuda yang ia taksir dulu pada masa SMP. Anak laki-laki malang yang ditaksir oleh Krystal itu sampai pindah sekolah karena anak buah ayahnya. Oleh karena itu, Krystal-lah menanggung malu. Jadilah ia merengek kepada ayahnya untuk turut pindah sekolah. Ia tak tahan dengan ejekan teman-temannya.

Psst, mempunyai ayah dengan kekuasaan tinggi benar-benar menyusahkan.

Lagi-lagi pria yang bernama Jung Yunho itu hanya tersenyum simpul menanggapi ancaman kecil dari Krystal. “Kau sudah besar. Kau sudah bisa menentukan sikapmu sendiri. Tapi, Krystal.. ada yang ingin ayah bicarakan denganmu,” kali ini Krystal yakin apa yang akan dikatakan Yunho selanjutnya adalah penting. Terbukti dari iris matanya yang sedikit mengecil dan menatap Krystal dalam.

“Taruh tasmu dulu. Pembicaraan kita kali ini tidak main-main.”

Mau tak mau Krystal meneguk air liurnya kuat-kuat.

Apa pembicaraan ini sebegitu penting hingga ayahnya membuat ruangan itu menjadi kedap suara?

Entahlah.

.

==

.

“Kau sudah tahu ayah ini adalah pemimpin geng mafia terbesar di Korea Selatan. Dan kami memiliki musuh di mana-mana. Itulah sebabnya ayah menyuruhmu untuk berlatih bela diri. Kalau-kalau ada salah satu dari musuh ayah yang mencoba mencelakaimu, setidaknya kau bisa melindungi dirimu sendiri, Krystal..”

“..tapi, tak selamanya ayah bisa menjagamu. Oleh karena itu, ayah sudah menitipkanmu kepada salah satu anak buah ayah yang paling kupercayai.”

“Apa? Anak buah? Siapa? Tapi, kenapa ayah? Itu tidak perlu,” sanggah Krystal.

“Itu perlu. Dia bernama Kim Myungsoo. Kau tentu tidak mengenalnya. Tapi, ayah sangat percaya padanya.”

“Myu-Myungsoo? Apa dia sama seperti anak buah ayah yang terlalu kaku dan membosankan yang rata-rata berumur diatas 30 tahun?” ucap Krystal.

Yunho tertawa kecil. “Myungsoo belum setua itu, Krystal. Umurnya baru 20 tahun. Haha, ayah tidak tahu apa Myungsoo ini sama seperti anak buahku yang lain. Tapi, yang jelas ayah sangat mempercayakannya padamu.”

Krystal menghela napas panjang. “Baik, baiklah. Tapi, awas saja kalau-kalau ia aku ajak shopping dengan memakai pakaian formalnya itu dan kacamata hitam. Aku tak mau dilindungi olehnya!” ucap gadis itu kemudian beranjak pergi dari ruangan.

Yunho hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap anaknya. Ia pun hanya bisa menghela napas panjang.

.

.

==

.

.

18:35

Tik..

Tik..

Krek..

Klik..

Myungsoo memicingkan matanya untuk menatap ke arah lubang kecil dari moncong pistolnya itu.

Ia lap pistol berselaras panjang itu hingga benar-benar bersih.

Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Matanya melihat ke arah sebuah foto.

“Ini.. akan menjadi hari besar, ayah, ibu. Aku akan menghabisi mereka semua,” kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya. Sebelum benar-benar beranjak keluar, ia memastikan magazine yang dibawanya cukup untuk ‘misi besar’-nya kali ini.

.

==

.

Dor.. dor.. dor..

Dor.. dor.. dor..

Dor.. dor.. dor..

Rentetan bunyi tembakan peluru terdengar saling bersahut-sahutan. Lantai putih yang tadinya bersih, kini sekejap berubah menjadi lautan merah darah, dengan tubuh manusia-manusia yang terbujur di atasnya.

Peluru itu tak hanya bersarang di tubuh orang-orang itu, namun ada beberapa diantaranya yang merusakkan fasilitas-fasilitas di dalam gedung.

Tak ada yang sempat membalas serangan Myungsoo. Mereka sedang dalam keadaan off. Myungsoo memang sudah lama mengincar hari ini lama sekali. Hari dimana tiap satu tahun sekali, gedung mewah-bertingkat-sepuluh itu bebas dari senjata.

Ia kini berdiri di depan sebuah kamar.

Klik..

Treengg..

Pintu kamar itu terbuka ketika dia memasukkan kode pinnya.

“Ah, Myungsoo!” sapa seseorang yang tengah duduk di atas ranjang mewah.

Tanpa mau membalas sapaan sang Tuan, Myungsoo mengacungkan pistolnya tinggi-tinggi, mengarah ke dahi tuannya itu.

Dia tak segan untuk menarik pelatuk pistol. Dan..

Dor!

“Myu-Myungsoo!” ucapannya terhenti. Ketika peluru itu bersarang di dadanya.

“K-Kau.. kenapa?”

“Ingat dengan Kim Jae Hee dan Lee Seo Hwa?” ucap Myungsoo sambil melangkah mendekat. Sepertinya, ia sengaja mendaratkan peluru tidak tepat sasaran. Ia ingin memberikan sejumlah ‘attack’  kepada tuannya itu.

Mata pria itu membulat besar. “Ki-Kim Jae Hee—? K-kau anak mereka?”

Myungsoo mengangguk. “Ya, tepat sekali. Kau pantas mati, tuanku tercinta.”

Dor!

Bunyi satu tembakan besar terdengar kuat menggema di ruangan itu. Tepat pada saat itu, tubuh pria itu ambruk ke tanah. Peluru itu tepat mengenai jantungnya. Membuat pria itu harus meregang nyawa dengan naas di tangan kanannya sendiri.

“Ayaah!” namun, seorang gadis yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu, tiba-tiba saja mendatangi pria tua yang sudah meninggal itu.

Myungsoo kaget. Terlebih karena ia sama sekali tak mengetahui siapa gadis itu.

“Ayaah!” teriaknya. Air mata yang sedari tadi terus ditahannya ketika ia melihat keganasan Myungsoo, tak sanggup lagi untuk ditahannya manakala di depan matanya sendiri, ayahnya terbujur lemas ditembak oleh anak buahnya.

“Kau! Kenapa kau membunuh ayahku?! Kau jahat!” umpatnya kepada Myungsoo.

Myungsoo melangkah mendekat. Sepertinya, ia tertarik dengan gadis itu.

“Kau! Berhenti di situ! Atau kau akan ku buat babak belur!” ancam Soojung.

Myungsoo berhenti di depan gadis itu. Ia tertawa sebentar.

“K-kau!” ucap gadis itu gemetar. Ia mundur selangkah karena Myungsoo berjongkok di hadapannya.

“Siapa namamu?”

” …..”

“Diam? Kau mau kubuat menyusul orang tuamu?”

“Ju-Jung.. Soo- Jung.”

“Nama yang indah. Namaku, Kim Myungsoo.”

“Myu-Myungsoo?”

Bruk.

Gadis itu pingsan tiba-tiba.

“Yunho, kau tidak bilang kalau kau mempunyai seorang putri yang cantik,” ucap Myungsoo kepada jasad Yunho. Ia melirik sebentar ke arah Soojung yang telah dibuatnya tak berdaya itu.

“Sebagai penebus dosamu. Soojung harus menjadi milikku.”

.

.

==

.

.

Satu tahun kemudian.

“Soojung, kau ada di mana, sayang?” teriak Myungsoo dari arah ruang tamu.

“Aku sedang berada di dapur!” balas Soojung tak kalah lantangnya.

Alis Myungsoo bertautan.

Dapur?

.

.

“Ah, kau sedang memasak ya?” tanya Myungsoo. Ia memeluk Soojung dari arah belakang.

“Jangan menggangguku. Nanti masakannya bisa-bisa gosong,” peringat Soojung.

Myungsoo tersenyum. “Tidak akan,” kemudian, Myungsoo melepaskan pelukannya.

Psst.. bagaimana kau bisa seyakin itu?”

Myungsoo tak menjawab. Ia sibuk memandangi wajah Soojung dari arah meja makan.

Ia dan Soojung telah resmi menikah bulan lalu. Dan, kini mereka tinggal di Busan. Myungsoo telah melakukan hypnotherapy kepada Soojung dan menghilangkan seluruh ingatannya.

Atau, singkatnya praktek cuci otak.

Soojung tak tahu siapa dirinya, orang tuanya, teman-temannya, bahkan kapan dia lahir.

Itulah yang diinginkan Myungsoo. Ia tak mau Soojung mendapatkan kembali ingatannya. Mengingat kejinya dia saat membunuh ayahnya satu tahun silam.

Tentu kau bisa membayangkan tindakan Soojung ketika dia sudah mengetahui kebenarannya.

Myungsoo tak mau Soojung meninggalkannya.

Dia egois. Memang. Tapi, dia berhak untuk bahagia setelah kebahagiannya direbut oleh Yunho keparat.

“Myungsoo. Apa kau tahu siapa orang tuaku? Selama kita berhubungan, aku belum pernah sekalipun berjumpa dengan orang tuaku,” ucap Soojung tiba-tiba yang membuat pria itu terkaget.

Myungsoo bergeming. Tidak. Jangan pertanyaan itu lagi!

Ia tak akan pernah bisa menjawabnya. Tidak.

Tuhan, tolong jangan kembalikan ingatan Soojung. Aku masih ingin melihat senyumnya lagi.

.

.

.

| E N D |

A/N: Hallooooooo, semuanyaaaaaaah😀 saya kembali lagi😀 /lemparsenyumalapepsoedent/ #kicked.. dan, yah i’m back with another MyungStal failed action 😀 yuhuuuu~ adakah yang menganggap ini gagal?😀

Oh iya, kalau ada yang menunggu ff “A-Case” sequel, tunggu aja yaa~ udah ada kok ffnya😀 udah ada covernya jugaaak, tinggal publish😀 jadi, adakah yang menunggu? o.O

inthepast2

19 responses to “Black Revenge

  1. Sumpah ini blog FFnya keren-keren *A* /gigit sendal/
    Thor bikin sequelnya atulah D;
    oh ya, aku pengen jadi author juga bisa gak thor? Gimana caranya ._.

  2. Bisa lewat HP? Oke bakalan kesana nanti ^^
    enggg ya aku suka nulis, cuma ya masih amatiran hehe. Gomawooo /bows/

  3. kasian sih sebenernya krystal harus hilang ingatan gara2 kena praktek cuci otak, tp kalo dengan cara itu dia bisa nilah sama myungsoo .. yaa whatever lah😀
    yg penting hidup mereka bahagia biarpun ngegantung akhirnya .. hehhe
    tapi ini bagus kok😉

    • haha kata-katamu.. “kasian sih sebenernya krystal harus hilang ingatan gara2 kena praktek cuci otak, tp kalo dengan cara itu dia bisa nilah sama myungsoo .. yaa whatever lah :D” duh tapi aku juga gitu sih asalkan myungstal together, whateverlah sama apapun xD lol lol😆
      okeee makasih yaa😀

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s