[Ficlet] Winter’s Story

WINTER’S STORY

winter's story

Summary

Semua berawal dari musim dingin, dan berakhir pada musim dingin pula

Salju pertama turun seiring dengan kisahku yang pertama kalinya benar-benar harus berakhir

written by : Aikochan

Main Cast(s) ;

Jung Soojung || Kim Myungsoo

Other Cast(s) ;

Sooyoung || Suzy (just mentioned)

Genre ;
Romance(?), Hurt/comfort

Rate ;
T, G

“A lil bit based on true story”

***

Hembusan angin menerpa wajahku dan sukses mempermainkan geraian rambutku kesana kemari. Dinginnya malam menyeruak ke celah-celah baju dengan bebas, memaksa bulu romaku meremang. Walaupun cuaca tak begitu baik, tak membuat orang-orang enggan berlalu lalang. Incheon ternyata kota yang ramai juga.

Mungkin sudah hampir 15 menit aku terduduk disini menunggunya untuk mengucapkan sesuatu padaku. Kami duduk berdampingan dan saling terdiam satu sama lain, sejak kalimat sapaan mengawali perjumpaan diantara kami. Tak ada yang berani berbicara, tak ada yang berani mengawali pembicaraan. Ah, aku terlalu dikuasai rasa gugup.

“Kapan kau tiba di Incheon?” Tanyanya tiba-tiba, memecah kesunyian diantara kami.

“Aku tiba sekitar pukul 4 sore tadi.” Jawabku, aku tak berani menatapnya. Sungguh aku gugup, jantungku berdegup kencang sedari tadi. Bahkan sebelum sampai di taman kota ini, aku sampai merasa mulas saking nervousnya. Ini pertemuan pertama kali selama hampir 1 tahun lebih saling mengenal melalui situs jejaring sosial. Ternyata, keakraban kami di maya tak membuat pertemuan ini berjalan lancar.

Lagi-lagi hening..

Perlahan kuberanikan diri untuk memandangnya. Sejurus pandangan kami berserobok, kupalingkan wajahku karena malu. Ini membuat jantungku semakin berputar-putar dan kurasakan pipiku memanas. Oh tolong aku!

“Kita nampak seperti orang bodoh disini,” Ia tertawa, menertawakan kekakuan kami. “Kita bahkan menjalin kasih selama 1 tahun tapi setelah bertemu.. kenapa seperti ini.”

Aku tersenyum kecut, membenarkan perkataannya. Bukankah ini yang kami harapkan? Pertemuan, namun saat masing-masing bergelanggang dimata orang banyak yang ada hanya kediaman kami.

“Aku terlalu gugup.” Ujarku jujur. Aku tertunduk mengalihkan pandangan, kemudian mengusap kedua telapak tanganku yang mendingin diterpa angin malam.

“Begitupun aku..”

“Oppa…”

“Ya?” ia memandangku, menanti kalimat selanjutnya dariku. Akupun juga berbalik memandangnya, kemudian tersenyum.

***

Musim Dingin tahun lalu,

“Seohyun-ssi, maukah kau menjadi kekasihku di sini?”

Itu kalimat yang pernah ia ketikkan satu tahun lalu, saat kami masih bermain bersama dalam sebuah permainan Roleplayer. Dari sana kami bertemu sebagai SNSD’s Seohyun dan Super Junior’s Kyuhyun.

Dan dari sana pulalah semua kisah itu bermula..

“Tak ada yang kuharapkan disini selain dirimu. Entah mengapa tapi aku benar-benar tak ingin kehilanganmu walaupun ini hanya sekedar permainan..”

Hari demi hari dan minggu berlalu. Kami menikmati permainan kami walaupun hanya sekedar di dalam dunia yang tak nyata. Berpura-pura sebagai sepasang kekasih yang—cukup membuat yang lainnya iri. Semuanya berjalan dengan manis. Saling menunggu, mengucap kata rindu adalah kegiatan tak terhentikan setiap hari. Yah meskipun perjanjiannya kami tak boleh benar-benar jatuh cinta lebih dari sekedar permainan, kadang aku berpikir apa memang baginya adalah hal yang mudah untuk berpura-pura seakan dia benar-benar tak mau kehilanganku?

Musim dingin berlalu, berganti dengan musim semi dan itu musim semi pertama yang kami lalui bersamaan dengan bunga-bunga yang tumbuh bermekaran…

Kami berpisah. Ini yang kedua kalinya kami memutuskan untuk berpisah. Ia meninggalkanku begitu saja karena kesalah pahaman antara kami dan teman dekatku. Sebenarnya sedikit lucu, ia hanya cemburu karena aku dekat dengan namja lain dan namja itu terlihat menyukaiku. Dia berpikir untuk membiarkanku dengan yang lain agar aku lebih bahagia dibanding dengannya, sungguh itu salah.

Untungnya tak berapa lama setelah itu, aku berhasil membujuknya untuk kembali. Anehnya, putusnya hubungan kami kala itu yang berlangsung lebih lama dari sebelumnya membuatku benar-benar merasa tak bersemangat menjalani aktifitas harianku. Membuatku malas makan dan menghabiskan malamku dengan menangis tersedu sendirian di kamar. Rasanya hari-hariku berbeda tanpanya, tak ada namja berwatak dingin tapi juga bisa berubah penuh perhatian padaku, tak ada lagi kelakuannya yang kadang-kadang begitu menyebalkan dan suka menggodaku. Aku tak bisa tanpanya..

“Unnie, oppa juga tampak tak bersemangat sejak kalian berpisah. Dia lebih sering diam, dan.. mengamuk sendirian di kamar.” Adiknya sering mengatakan padaku tentang keadaannya di rumah. Ya, aku mengenal adik kandungnya bahkan tak jarang kami menghabiskan waktu untuk bercerita bersama.

“Aku senang kita bisa bersama lagi, karena kenyataannya aku memang tak ingin kehilanganmu Soojung-ah,” ucapnya setelah ia kembali padaku. Untuk pertama kalinya dia memanggil namaku, bukan Seohyun. Aku tersenyum membacanya, ada sebalut rasa bahagia ketika dia memanggilku bukan lagi sebagai Seohyun tapi benar-benar memanggilku dengan nyata siapa aku yang sesungguhnya. Sejak saat itulah aku berharap akan adanya keajaiban, kalau segala rasa yang kami curahkan adalah nyata…

Musim silih berganti lagi. Summer menyapaku sedikit lebih awal dari perkiraan cuaca setelah musim semi melenggang berlalu. Aku tak suka suasana musim panas.

Hubungan kami baik-baik saja. Segalanya terasa lebih manis. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, sikapnya terlihat lebih possesive dibanding sebelumnya. Tapi aku menikmatinya, sungguh membuatku bahagia. Hingga satu saat, aku tahu kalau sebenarnya dia ternyata punya kekasih di dunianya sendiri. Ini sangat mengejutkanku dan kurasakan hatiku bagai dihianati. Sebenarnya itu haknya, tak pantas rasanya jika aku mengatakan bahwa aku terluka. Hei, aku hanya sebagian kecil dari hidup nyatanya yang bahkan dia saja mungkin tak menganggapku ada dibagian tertentu? Ya, aku hanya maya.

“Kalau boleh aku jujur, aku sangat kecewa kenapa oppa lebih memilih menutupi tentang itu daripada harus jujur kalau oppa memang memiliki kekasih. Oh, maaf aku memang lancang untuk mengatakannya. Lupakan saja, aku sungguh tak tahu diri kalau harus mempermasalahkan hal ini.” Tak tahan juga untuk memendamnya, aku berusaha mengatakan semuanya hari itu dan memutuskan untuk meninggalkan semuanya.

“Maaf, aku hanya tak ingin melukaimu.. maafkan aku.”

“Ini justru membuatku semakin terluka. Karena..”

“Karena?”

“Aku menyukaimu Kim Myungsoo…”

Aku pikir mudah untuk melepaskannya setelah aku mengatakan apa yang kurasa. Begitupun dengannya, aku pikir dia akan membiarkanku pergi. Berbanding terbalik dengan yang aku perhitungkan, ia justru menahanku untuk tetap bersamanya dan melupakan yeojachingunya di antara kami.

Yeah, like out of character aku menyukainya lebih dari sekedar permainan, sebuah kepura-puraan, dan apalah namanya aku tak peduli. Perasaanku padanya tulus, nyata, seorang Jung Soojung yang.. yang memiliki cinta pada Kim Myungsoo. Haahh, iya aku mencintainya. Saat menyadari itu, aku selalu diliputi rasa bersalah. Mungkin kalau ia tahu perasaan ini lebih dari suka, ia akan membenciku dan menyalahkanku.

“Mereka bilang semuanya yang ada disini tak semestinya terikat dengan nyata. Semuanya hanya maya, termasuk kata cinta. Tapi itu sungguh perkataan yang konyol, sedangkan sebelum mengetikkan kata-kata kemudian merangkainya sebagai kalimat, kita butuh kinerja otak kita dan itu membutuhkan keterkaitan hati hingga akhirnya tersampaikan.” Tak seperti biasanya, malam itu ia membicarakan tentang perasaan antara dunia nyata dan maya. “Nyata ataupun maya, yang membedakan hanyalah cara penyampaiannya, subjeknya tetap nyata. Aku rasa seperti itu,” lanjutnya.

“Ya, tentu. Kita disini memang bertemu dan berbicara melalui media komputer atau semacamnya. Tapi kembali lagi pada individunya kan? Terkadang, aku juga tak habis pikir kenapa mereka menentang segala perasaan yang terlihat nyata? Toh, sekalipun berbicara melalui komputer dan media sosial semua itu juga menggunakan perasaan kita sendiri. This isn’t computer’s feeling nor facebook or twitter’s feeling.” Timpalku, menanggapi kata-katanya sebelumnya.

“Iya kau benar soojung-ah.”

“Jadi dengan kata lain oppa menyesal pernah membuat peraturan kalau kita tak boleh terlalu terbawa perasaan?”

“Sepertinya begitu, hahaha” Dia  sungguh aneh…

Tak terasa sengatan musim panas berlalu.. Daun-daun mulai berguguran meninggalkan dahan dan ranting masing-masing. Musim gugur menghembuskan nafas angin dinginnya…

“Tebak! Aku menyiapkan kado paling special untuk hari jadi kita yang ke 6.” Kami sering sekali merayakan hari jadi kami setiap bulan, tapi tak biasanya dia menyiapkan kado special untukku. Sepertinya hubungan kami semakin meningkat. Tentunya tanpa menyangkut tentang kekasih nyatanya.

“Benarkah? Aku ingin segera melihatnya..” ujarku antusias. Tak berapa lama setelahnya, ia mengunggah selcanya untukku dengan sebuah ucapan ‘Happy 6th monthsarry’. Aku sangat terkejut, ini juga kali pertama tanpa ragu ia menunjukkan foto realnya untukku.

“Aku berpikir, mungkin kau membutuhkan ini. Bukankah rasanya tak adil untukmu, aku pernah melihatmu melalui akun pribadimu sedangkan kau belum sekalipun melihatku.”

“Bukan masalah bagiku oppa, aku menghargai prinsipmu. Tapi, aku sungguh berterima kasih untuk ini. Kado yang tak terlupakan.”

“Sebagai balasannya, berjanjilah jangan meninggalkanku..”

Seiring berjalannya waktu, kembali riak ombak menghadang kapal kami yang berlayar. Sebuah hubungan tak akan mungkin terus menerus baik-baik saja kan? Tentu akan ada beberapa hal yang akan membumbui perjalanannya. Hanya saja kali ini nampak lebih besar ombaknya, masalah silih berganti datang. Seolah tak memberikan waktu kami bernafas.

Seseorang dari masa laluku datang untuk mencoba memisahkanku dengannya. Aku sangat bersyukur, Myungsoo oppa mempercayaiku dan tak menghiraukan provokasi mantan kekasihku agar ia meninggalkanku. Namun tak lama berselang setelah itu, aku mendengar kabar dari adiknya kalau Myungsoo oppa dan kekasihnya putus. Saat itu emosinya kacau, dia jadi mudah tersinggung. Aku berusaha membujuknya untuk jangan datang online kalau emosinya masih memuncak, tapi tetap saja ia keras kepala ingin menemaniku.

“Tenangkan aku soojungie, aku ingin bersamamu saat ini. Maaf membuatmu khawatir.”

Dan kemudian, tak hanya itu saja.. masalah yang harus dia hadapi semakin parah. Ada masalah dengannya dan keluarganya. Bahkan hal itu memaksanya untuk tak datang padaku beberapa hari. Saat kuberanikan diri bertanya tentang keadaanya pada Sooyoung adiknya, ia mengatakan padaku kalau Myungsoo oppa kabur dari rumah beberapa hari setelah terakhir ia bicara denganku. Aku terkejut, tak biasanya dia bersikap kekanakan seperti itu.

“Maaf beberapa hari ini aku tak menemuimu..” malam setelah aku menghubungi adiknya, ia datang dan menanyakan keadaanku. Cukup lega, setidaknya ia baik-baik saja.

“Adikmu menangis saat aku menghubunginya dan bertanya tentangmu. Dia bilang tak sanggup untuk menghadapi keadaan rumah sendirian. Bisakah kau pulang?” lama kutunggu balasnya, mungkin ia sedang gamang disana memikirkan semua yang sedang ia hadapi. Aku memang tak tau persis tentang masalahnya, tapi aku yakin itu memang masalah yangs serius sampai-sampai Myungsoo oppa kabur dari rumah. “Kedua adikmu sedang sakit oppa. Mereka membutuhkanmu untuk menghadapi masalah itu bersama-sama. Aku memang tak tahu apa masalahnya, tapi aku mohon jangan bersikap seperti ini. Ibumu mengkhawatirkanmu pasti,” lanjutku.

“Ibu pasti repot mengatur semuanya sendirian..” balasnya.

“Tentu saja, tanpamu dirumah. Sooyoung sampai harus berbohong tentang keberadaanmu pada beliau. Ini seperti bukan dirimu, pulanglah.. mereka butuh oppa sebagai kakak tertua.” Bujukku sehalus mungkin sampai akhirnya ia mengalah dan luluh.

“Soojungie, terimakasih membantuku untuk menjaga Sooyoung walaupun dari jauh. Dan, terimakasih karena kau sangat memeperhatikanku. Maaf aku selalu meninggalkanmu dan bersikap seperti anak kecil, aku malu padamu. Betapa beruntungnya diriku, inilah kenapa aku tak pernah berhenti mencintaimu..”

Deg..

Jantungku berdegup kencang saat membacanya. Tapi karena keadaannya tidak memungkinkan, aku urungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut. Aku tak ingin menambah bebannya.

Jung Soojung, kau benar.. apa yang aku tulis bukanlah sekedar ketikan tak bermakna.

Semuanya kutulis dari hati, dan semuanya terasa hidup.

Dan ini membuatku tersadar bahwa selama ini

aku mencintaimu bukan hanya sebagai seorang Kyuhyun kepada Seohyun,

lebih dari itu.. aku, Kim Myungsoo mencintai seorang Jung Soojung dan itu nyata.

***

 “Aku bahagia bisa mengenalmu oppa. Kau tau, hanya denganmu aku bisa bersabar menunggu dan rela menekan keegoisanku,” lanjutku. Aku menerawang memandang langit malam sambil tersenyum. Tanpa terasa ia sudah menggamit tanganku, membuatku terhenyak dan sontak memandangnya tersenyum. Matanya yang sipit begitu teduh dan menyorotkan rasa tulus.

“Terlebih aku. Kau mengajarkanku segalanya,” ia berdecak sambil menundukkan wajahnya menatap lantai taman. “Sungguh memalukan, aku yang lebih tua darimu justru belajar pendewasaan diri darimu,” sunggingan senyum kecut terulas di wajahnya. Aku hanya terkekeh menanggapinya.

“Berjanjilah untuk lebih menahan emosimu oppa,” kueratkan tanganku pada genggamannya dan kupandangi tangan kami yang saling bertaut. Rasa haru menyeruak di relung hatiku, memaksa air mataku saling berhimpitan hingga akhirnya mengalir bebas membentuk anak sungai di pipiku. Myungsoo oppa menggeser duduknya menghilangkan jarak antara kami, lalu menyeka airmataku.

“Jahat sekali, kau ingin melumpuhkanku dengan tangismu? Aku rasa kau cukup hafal diluar kepala, aku benci kapanpun aku tahu kalau kau sedang menangis soo-yah.”

“Ini terlalu cepat bagiku, sungguh aku—”

“Aku tahu.. maafkan aku membuat segalanya semakin sulit. Aku hanya ingin kau bahagia, sungguh.”

“Bagaimana kalau kenyataannya aku hanya bisa bahagia denganmu oppa? Aku hanya ingin bersamamu,” tangisku semakin deras. Perlahan ia menarikku kedalam pelukannya yang hangat.

“Karenamu aku sadar, perasaan bukanlah sebuah permainan. Kemudian kau mengajarkanku untuk menampik segala emosi ketika menghadapi masalah. Aku bersyukur saat aku putus dengan Suzy yang dengan kejamnya hanya memanfaatkan uangku, memberikan dampak buruk pada pergaulanku, kau ada untuk menyembuhkanku dan mengingatkanku. Jujur, tak ingin rasanya aku melepaskan gadis berhargaku ini. Aku pikir tanpa memberikan nomor ponsel ataupun info pribadiku akan membuatku terhindar dari perasaan semacam ini namun aku salah. Bodoh sekali, aku bahkan lebih menikmati waktuku denganmu daripada dengannya,” ia memelukku semakin erat dan perkataannya benar-benar membuatku tak sanggup membendung tangisku lagi. Tak berapa lama ia kemudian melepaskan pelukannya dan menelungkupkan kedua tangannya di wajahku. Aku tak berani memandangnya.

“Soojung-ah, berjanjilah kau akan hidup bahagia setelah ini, aku mohon. Jika setelah ini kita bertemu lagi, aku tak akan melepaskanmu kalau waktu itu datang pada kita. Kalau saja jarak diantara kita tak membuatku ragu, aku tak akan melepaskanmu sekarang,” jemarinya mengangkat daguku perlahan dan sedetik kemudian wajahnya semakin memperpendek jarak di antara kami. Seolah paham dengan keadaan, aku menutup kedua kelopak mataku. Benar saja, setelah itu.. bibir lembutnya mendarat dengan tepat pada bibirku. Ditengah suasana haru, ia menciumku. Ciumannya seakan berbicara puluhan ribu permintaan maaf dan kesakitan, tak ingin kehilanganku namun perpisahan adalah sebuah keharusan yang tak terelakkan.

Satu tahun bersama bukanlah hal yang mudah untuk melepaskan segalanya. Sementara aku yakin perasaan kami saling terikat kuat. Suka dan duka tak jarang kita lalui bersama. Hanya saja cinta ini tak mampu meruntuhkan prinsipnya yang telah tertanam lama.

***

Musim dingin ketiga sejak namanya menghiasi hatiku, dan musim dingin kedua sejak kami berpisah..

Aku menikmati suasana sore itu, sedikit berbeda karena aku tak lagi berada di Busan, kota kelahiranku. Kini aku telah bekerja di daerah Sowon, dan tentu saja hal itu memaksaku untuk berpindah dari Busan.

Kuamati toko-toko yang mulai menyiapkan pernak-pernih natal. Oh, sebentar lagi natal ya? Pikirku. Tak heran beberapa pusat perbelanjaan mulai memajang pohon natal berbagai bentuk dan warna walau belum lengkap dengan gantungan dan lampu. Beberapa rumahpun mulai berasap, cerobong asap di atap-atap mereka nampak sedang bekerja menghangatkan si empunya rumah. Sekalipun salju belum turun, tapi dinginnya benar-benar tak tertahankan.

Kulangkahkan kakiku menuju supermarket yang memang hendak kutuju. Ini jadwalku untuk membeli kebutuhan bulananku, beberapa persediaan sudah mulai habis di apartement. Karena Jinri—teman sekamarku— tengah mendapat shift sampai malam, terpaksa aku belanja sendirian. Yah setidaknya aku juga perlu waktu sendirian di awal musim dingin untuk mengingat kisahku dengan Kim Myungsoo. Haah, entah dimana dia sekarang. Akupun juga tak pernah berhubungan dengan adiknya.

Kisahnya telah berlalu sangat lama, tapi terasa tak pernah tergantikan dalam hatiku. Aku mengingat segalanya sembari berjalan-jalan perlahan menyusuri stand-stand sayuran yang berjejer rapi dan tampak menyegarkan. Aku terhenti sesaat, kemudian terulas senyum di wajahku ketika mengingatnya.

Aku ingin merasakan makanan buatanmu, pasti nikmat..”  aku segera menyadarkan diriku dari lamunan dan bergegas mencari barang yang lain sambil mendorong trolli belanjaku. Tapi hanya sekitar tiga langkah seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh ke arahnya kemudian..

DEGG..Dia..

Aku amati lagi wajahnya lekat-lekat. Laki-laki dihadapanku juga nampaknya terkejut padaku. Mataku membulat seiring perasaan terkejut yang berkecamuk di dadaku.

“Jung Soo.. Jung?” tanyanya memastikan apakah namaku semaksud dengan yang ia katakan.

“Myu-Myungsoo oppa?” ini benar-benar tak dapat dipercaya. Dia ada di Sowon? Bukankah dia orang Incheon?

“A-aku melihat kalungmu terjatuh tadi.. Engg, disana,” ia menunjuk arah tempat kalungku jatuh, ia terlihat gugup. Seperti orang bodoh aku hanya mengikuti gerakan tangannya. Ya Tuhan, pertemuan tak terduga ini benar-benar membuat kami kikuk. Secara refleks aku meraba leherku, benar kalungku tak ada.

Aku menyesap mocca latteku di gelas kertas yang kupegang. Membiarkan hangatnya mengisi perutku yang terasa mendingin. Sekarang aku sedang duduk di sebuah cafe di sekitar supermarket tempatku berbelanja tadi. Aku terpaksa menunda kegiatanku berbelanja karena Myungsoo oppa mengajakku berbicara sebentar.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya mengawali pembicaraan di antara kami. Ia duduk berhadapan denganku.

“Baik, bagaimana denganmu dan keluargamu?”

“Kami baik-baik saja. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini. Aku juga tak menyangka pemilik kalung itu adalah dirimu.” Ia menyunggingkan senyum sambil menundukkan kepalanya sesaat. Aku merindukannya.

Hening.. aku tak tahu harus berkata apa. Pertemuan ini seolah membuat sarafku lumpuh seketika. Apa ini pertanda kalau kami…

“Kau pindah ke Sowon?” pertanyaannya membuatku tersadar dari alam lamunku.

“Ah, emm hanya karena aku bekerja disini makanya aku tinggal di Sowon sampai kontrakku habis. Oppa sejak kapan ada di Sowon?”

“Tepat setahun lalu..” rupanya sejak kami berpisah ya? “Aku kira akan bisa melupakan semuanya jika aku kerja dan berpindah kesini, tetapi sama saja.”

Aku mengerutkan dahiku, tak mengerti dengan kata-kata terakhirnya. Apa maksudnya melupakan aku? Ia terkekeh sesaat, menyesap kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Belum, aku belum bisa melupakanmu,” ia menatapku dengan tatapan lembutnya. Kualihkan pandanganku darinya. Menatap matanya hanya membuat nafasku sesak. Terdengar desahan nafasnya yang berat, mengisyaratkan sebuah kekecewaan.

“Sayangnya semua terlambat, dan aku sangat menyesali ini. Aku seharusnya mencarimu dari awal, mengusahakan hubungan kita. Maaf aku terlalu naif dan egois. Prinsip bodohku hanya membuat kita tersiksa. Setelah kalimat ‘aku bosan denganmu’ sebelum kita berakhir di Roleplayer, sekarang aku harus mematahkan segalanya lagi.”

Aku tetap memilih diam sambil melayangkan ingatanku pada semua kenangan kami.

“Seandainya saja aku tak egois meninggalkanmu dan menjalin hubungan dengan roleplayer lain hanya karena kebosanan sesaatku. Dan seandainya saja waktu itu aku tak terlalu bodoh untuk melepasmu. Ahh, aku benar-benar bodoh. Semuanya hanya bisa kusesali.”

Kurasakan mataku nanar, bendungan aimataku agaknya yang mengakibatkan pandanganku serasa kabur. Saat ingin mengalihkan pandanganku pada kedua manik matanya, tak sengaja aku menangkap sebuah cincin bertengger di jari manisnya. Oh, jadi itu? Jadi begitu ya? Semuanya memang harus selesai ternyata…

“Maafkan aku Soojung-ah..”

“Aku baik-baik saja Kim Myungsoo..”

Salju pertama turun seiring dengan kisahku yang pertama kalinya benar-benar harus berakhir. Kami bertemu, kemudian harus terpisah. Seakan jeda diantara kamipun juga tak membuktikan apapun tentang hubungan kami. Berpisah-kembali-berpisah lagi-kembali lagi begitu seterusnya, aku pikir kita memang ditakdirkan bersama. Tapi ternyata kali ini memang harus berakhir. Tepat di waktu yang sama saat kami bertemu, musim dingin membuat sebuah akhir yang—jujur terlalu menyakitkan untukku.

-FIN-

 

A/N ;

Maaf sekali kalau alurnya berantakan. Ini FF pertamaku disini ya, tolong kritiknya…😀

Karena waktu bikin ini, berasa lagi gak ada otak(?) dan selesai 2 hari ini TT

Ini memang sedikit—banyak based on true story sih.. Cuma ada penambahan banyaaaakkk disana sini wkwkkw /geplaked/ -_-

Dan maaf kalau kalimatnya terlalu adbkjfjkf, feelnya juga nggak dapet sama sekali >< /bows/

Terimakasih udah mau baca, ditunggu kritik sarannyaaaaaa~ ^^ /lambai-lambai/

20 responses to “[Ficlet] Winter’s Story

  1. halo kaaaak! aku datang buat me-review, hehe. bahasa kakak asyik juga lo, enak dibaca dan ngalir gitu :3 okaaay pertama koreksi dulu ya, baru aku mulai membahas kisah ini.

  2. Hembusan -> yang benar embusan.
  3. Mungkin sudah hampir 15 menit aku terduduk disini menunggunya untuk mengucapkan sesuatu padaku -> “disini” adalah kata yang menunjukkan tempat, jadi ditulisnya harus “di sini”.
  4. “Kapan kau tiba di Incheon?” Tanyanya -> “Tanyanya” t-nya tidak perlu di-kapital, karena setelah dialog yang diakhiri dengan tanda seru, tanya, atau koma, kalimat selanjutnya tidak usah di-kapital (contoh: tanya, kata, ujar, teriak, bujuk, dsb) kecuali jika kalimatnya sudah berbeda. Sama halnya dengan, “Aku tiba sekitar pukul 4 sore tadi.” Jawabku, jawabku ini j-nya tidak usah dikapital😀
  5. “merasa mulas saking nervousnya” -> aku saranin antara nervous dan -nya ini ada garis, karena nervous dan -nya itu berbeda bahasa, jadi tulis dengan, “nervous-nya”. berlaku juga untuk yang lainnya.
  6. “Oppa…” -> karena “oppa” bahasa asing, maka harus ditulis dengan di-italic. berlaku juga untuk bahasa asing yang lainnya.
  7. “Seohyun-ssi, maukah kau menjadi kekasihku di sini?” untuk membedakan, -ssi di sini tak perlu di-italic, karena dari kalimatnya ini di-italic dan bahasa asing tetap harus dibedakan. jadi ditulisnya: “Seohyun-ssi, maukah kau menjadi kekasihku di sini?”. berlaku juga untuk kalimat-kalimat lain yang dimiringkan dan menyimpan kata-kata asing di dalamnya.
  8. kehilanganmu walaupun ini hanya sekedar permainan..” -> “sekedar” bakunya “sekadar”
  9. “kesalah pahaman” -> eumm setauku ini ditulisnya jadi “kesalahpahaman”, digabung gitu😀
  10. “sikapnya terlihat lebih possesive dibanding sebelumnya” -> “possesive” di sini ngga diganti jadi “posesif” aja, kak?
  11. “dihianati.” -> yang benar dikhianati
  12. “nafas” bakunya “napas”
  13. “Myungsoo oppa mempercayaiku” -> ‘p’ pada mempercayai dilebur, menjadi ‘memercayaiku’
  14. “Tenangkan aku soojungie, aku ingin bersamamu saat ini. Maaf membuatmu khawatir.” -> soojungie-nya lupa dikapital
  15. ““Maaf beberapa hari ini aku tak menemuimu..” malam setelah aku menghubungi adiknya, ia datang dan menanyakan keadaanku. Cukup lega, setidaknya ia baik-baik saja.” -> “malam”nya karena udah beda kalimat, lebih baik di-kapital jadi Malam: ““Maaf beberapa hari ini aku tak menemuimu….” Malam setelah aku menghubungi adiknya, ia datang dan menanyakan keadaanku. Cukup lega, setidaknya ia baik-baik saja.”, berlaku juga untuk kalimat-kalimat sejenisnya.
  16. Terus ada beberapa yang ‘oppa’-nya lupa di-italic, contoh: “Myungsoo oppa kabur dari rumah.”
  17. “terhenyak” yang benar “terenyak”
  18. “airmata” setau aku dipisah sih kak, jadi “air mata”. terus orangtua dipisah menjadi “orang tua”
  19. terus imbuhan “-pun” itu berlaku untuk beberapa kata aja, contoh bagaimanapun, adapun, begitupun. “Beberapa rumahpun mulai berasap” -> berarti dipisah menjadi “rumah pun”, begitu juga dengan “Akupun juga tak pernah berhubungan dengan adiknya.” -> jadi aku pun
  20. “… beberapa persediaan sudah mulai habis di apartement. Karena Jinri—teman sekamarku— tengah mendapat shift sampai malam, terpaksa aku belanja sendirian.” -> apartement maksudnya apartemen atau apartment? Indonesia-nya apartemen, tapi inggrisnya apartment. terus shift kan juga bahasa inggris, jadi harus di-italic.
  21. “stand-stand sayuran yang berjejer rapi” -> kalau Indonesia-nya, stand itu stan kak.
  22. “trolli belanjaku.” -> yang benar troli dan ini bahasa Indonesia, kalau Inggrisnya trolley mungkin ya?
  23. “dihadapanku” -> sama, karena menunjukkan tempat jadi “di hadapanku”, setau aku gitu dari hasil baca-baca buku, hehe.
  24. OKEE maaf banget aku bawelnya parah kak huhu, semoga membantu yaa dan maaf kalau aku sok tau atau gimana, bukan bermaksud ngajarin kok, maunya ngebantu TT_TT

    “Ditengah suasana haru, ia menciumku. Ciumannya seakan berbicara puluhan ribu permintaan maaf dan kesakitan, tak ingin kehilanganku namun perpisahan adalah sebuah keharusan yang tak terelakkan.” AKU SUKA KALIMAT INIIII! aku suka gimana cara kakak bertutur kata, terkesan jujur dan diksinya pas, bagus banget. serasa soojung itu bercerita tepat di depan mukaku, alurnya ngalir dan bikin yang baca kebawa. aku senang tiap-tiap scene yang kakak tulis, di mana myungsoo emang terkesan sayang sama soojung dan soojung yang sulit melupakan myungsoo, tapi pada akhirnya aku harus sedih banget pas baca kalimat ini -> “Saat ingin mengalihkan pandanganku pada kedua manik matanya, tak sengaja aku menangkap sebuah cincin bertengger di jari manisnya. Oh, jadi itu? Jadi begitu ya? Semuanya memang harus selesai ternyata…” eh ini galaunya kerasa banget, berasa diombang-ambingin sama ceritanya dan kakak menutup ceritanya dengan hebat, meski aku nyesek banget sih, KENAPA MYUNG HARUS UDAH TUNANGAN/NIKAH?

    dan dia kejam banget ih, mutusinnya dengan alasan bosen tapi ternyata masih inget sama soojunga. ih aku kesel sekaligus terharu, dari awal sampai akhir ceritanya dirangkai dengan indah dan aku gapernah nyesel baca ini. cerita yang bagus banget, pokoknya cara kakak menulis ngaliiir aja dan enak dibaca, bahasanya juga ngga berat-berat amat tapi tetap terkesan bermutu. intinya aku suka banget, dan kakak harus terus nulis dengan semangat! lain kali buat yang happy ending, boleh? T.T

    eh ini based on true story? ahaha RP tuh banyak ya dramanya, aku sering nemu fic tentang RP begini, tapi yang ini beda! kakak juga pernah ngerasain kaya gini kah? dan harus berpisah? yang tabah ya kak, semangat teruuus!

    awesome fic, keep writing😀

    • ini jadi bingung mau bales dimanaaaaa😄
      aduhhh makasih banget deh sama reviewnya kawan! TT terharu /ambil tisu/

      Kebanyakan kapitalisasi setelah titik atau spasi itu karena udah ke-sett sendiri dari Ms.Word aku, dan aku emang ceroboh nggak bisa sejeli kalian ya kalau lihat kesalahan ya Tuhan u_u
      Makasih banget loh Fikha, aku jadi banyaaaaakkkkkkkkkk banget pengetahuan aku yang nambah, okesip ini mau aku copas buat jadi bahan belajar aku selanjutnya akakakak😄

      buat Zuky juga ya, duh itu segitu banyaknya bikin repot deh kamunya jadi harus melintir satu-satu~😄
      kebiasaan nulis inggris di RP jadi begitu deh jadinya #ngeles😄
      aku baru tau loh kalau ‘menggamit’ itu benernya mengamit, hembus itu benernya embus.. sumpah deh ._.v
      Duh, berharga banget ini komen kaliannnn /sujud sukur/😄

      Mengenai konsep cerita, iya ini line storynya emang aku ambil dari pengalamanku sama seseorang. Kami saling ehem ya begitu deh ya.. tapi mau gimana lagi takdir ngomong lain. Ya walaupun gitu, aku bersyukur banget deh paling nggak aku nggak kayak cewek lainnya yang harus bertepuk sebelah tangan atau tertipu kalau si kopelnya ternyata cewek pas udah mulai seneng-senengnya. Pas dia bilang udah bosen sama aku pun ternyata juga nggak bisa lupain gitu aja, aneh bener itu evil mah~
      Banyak kisahku dari RP dari yang lucu, nyenengin, indah sampai yang bener-bener tragedy banget. Jadi kadang ambil cerita dari sana wakakaka /plak/
      Sekarang udah mulai undur diri dari dunia sana, soalnya yaaaa begitu deh~

      Kalau masalah cerita yang masih dalam draft proyek aku selanjutnya ituuuuuuu BUKAN KOLOSAL Zukyyyyyyyy haduhhh masa iya namanya ala ala Kian Santang ma Mak Lampir sih😄 /getokin zuky/
      Aku ambil tema Saeguk, sejarah kerajaan dinasti Joseon. Jadi semuanya pada pake Hanbookkk yeay XDDD
      aku masih bingung narik konfliknya, soalnya ini ada kaitannya sama politik, tentu nggak ketinggalan bunuh-bunuhan. makanya aku mumeettt wekekeke.. castnya juga banyak banget haduhh~~ /.\

  25. Haaai kak Ochaaa, sesuai di sms.. kakak kan kepengen fic-nya di review kan? hihi, aku review yah, mungkin tambahan aja sih karena fikha udah sangaaaaaaat baik mereview banyak hal xD dan, yah reviewnya juga membantuku banyak banget sih xD haha…

    1. …..aku sampai merasa mulas (saking nervousnya). -> mungkin benar kata Fikha kalau Nervous dengan kata –nya dikasih tanda penghubung. Jadi, nervous-nya.

    Atau aku kasih opsi lainnya.. coba kalau: aku sampai merasa mulas karena terlalu gugup.

    2. …..Ternyata, keakraban kami (di maya) tak membuat pertemuan ini berjalan lancar. -> dunia maya ya kak😉

    3. … namun saat masing-masing bergelanggang dimata orang banyak yang ada hanya kediaman kami. -> aku udah sejak tadi mantengin kalimat ini tapi kenapa ga pernah paham jugaaaaaak?!!! TT doh maaf kak aku kurang bisa menangkap maksudnya.

    4. “Oppa…” -> karena ini kata asing (walau termasuk familiar) penggunaannya tetap harus di –italic yah kak.. ini juga berlaku untuk Saeng, Hyung, Eonni, dsb.. bahkan, kata dalam bahasa jawa, gaul atau apapun selama TIDAK TERMASUK BAHASA BAKU tetap harus di-italic😉

    5. … (Musim Dingin) tahun lalu, -> Musing dingin.

    6. Ia meninggalkanku begitu saja karena (kesalah pahaman) antara kami dan teman dekatku.-> setuju sama Fikha. Kesalahpahaman.

    7. “Iya kau benar (soojung-ah).” -> sebelumnya ini berarti flashback kan? kalau flashback, kata –ah nya jangan ikut dimiringkan ya kak.. yang benar: “Iya kau benar, Soojung-ah.” (maaf karena di komen tulisannya ga bisa dimiringkan, tapi semoga kakak paham sama penjelasannya^^)

    Flashback, kata hati, itu semua jika ada penggunaan kata asing, TIDAK PERLU dimiringkan kak^^ soalnya untuk membedakan mana kapitalisasi dengan flashback/kata hati tersebut🙂

    8. “Jadi dengan kata lain (oppa) menyesal pernah membuat peraturan kalau kita tak boleh terlalu terbawa perasaan?” -> Oppa huruf O-nya besar, dan dimiringkan ^^ ohya, kasus ini juga sama untuk penggunaan kata Saeng, Eonni, Kakak, Adik, Mbak.

    Contoh: “Jadi, siapa namamu, Dik?”

    “Iya, Oppa. Kau tidak perlu sebawel itu!” (PS: kata Oppanya bercetak miring.)

    “Maaf Eonni aku kurang paham sama kata-katamu tadi.” (PS: kata Eonni bercetak miring.)

    9. “Sepertinya begitu, hahaha()” Dia sungguh aneh… -> kurang tanda koma (,) jadi: “Sepertinya begitu. Hahaha…” dia sungguh aneh.

    10. …. Musim gugur (menghembuskan) nafas angin dinginnya… -> mengembuskan. Diambil dari kata embusan.

    11. “Tebak! Aku menyiapkan kado paling (special) untuk hari jadi kita yang ke 6.” Kami sering sekali merayakan hari jadi kami setiap bulan, -> lebih enak kalau pakai spesial.

    12. Sebuah hubungan tak akan mungkin terus menerus baik-baik saja() kan? -> kurang tanda koma (,) jadi: Sebuah hubungan tak akan mungkin terus menerus baik-baik saja, ‘kan?

    Kasusnya sama seperti:
    “Iya, Kak.”
    “Kau yang mencurinya, bukan?”
    “Apa yang kau katakan, eoh?” (PS: kata eoh-nya bercetak miring.)
    “Maksudmu apa, huh?” (PS: kata huh-nya bercetak miring.)

    13. …. Myungsoo (oppa) (mempercayaiku) dan tak menghiraukan provokasi… -> Oppa (bercetak miring juga) , memercayaiku.

    Jadi: …Myungsoo Oppa memercayaiku dan tak menghiraukan provokasi..

    14. Saat kuberanikan diri bertanya tentang (keadaanya) pada Sooyoung() adiknya, ia mengatakan padaku kalau Myungsoo (oppa) kabur dari rumah beberapa hari setelah terakhir ia bicara denganku.

    Coba: Saat kuberanikan diri bertanya tentang keadaannya pada Sooyoung, adiknya, ia mengatatakan padaku kalau Myungsoo Oppa kabur dari rumah beberapa hari setelah terakhir ia berbicara denganku.

    15. “Kedua adikmu sedang sakit oppa……” -> Oppa (bercetak miring.) jadi: “Kedua adikmu sedang sakit, Oppa……”

    16. “Tentu saja, tanpamu dirumah. Sooyoung sampai harus berbohong tentang keberadaanmu…. -> jadi: “Tentu saja, tanpamu dirumah, Sooyoung sampai harus berbohong tentang keberadaanmu…”

    17. …Tanpa terasa ia sudah (menggamit) tanganku,…. -> mengamit.

    18. “Berjanjilah untuk lebih menahan emosimu oppa,” ….. ->kasusnya sama seperti nomor 15.

    19. Rasa haru menyeruak di relung hatiku, memaksa air mataku saling (berhimpitan) hingga…. -> berimpitan.

    20. (Oh, sebentar lagi natal ya?) Pikirku. -> berhubung ini menunjukkan kata hati jadi penulisan kalimatnya bercetak miring ya kak.. soalnya kakak tadi lupa ngga di-italic.

    21. … tengah mendapat (shift) sampai malam,… | …. berjalan-jalan perlahan menyusuri (stand-stand) sayuran yang berjejer rapi… -> shift: ditulis miring | stand -> stan.

    —————

    HWAAAAAAAAAAAAAAAAAA aku lebih bawel dari Fikhaa ebuset O.O hehe, gimana kak reviewnya? Semoga cukup membantu yah^^

    Apanya yang kakak bilang ga sehebat aku? Kakak tuh lebih hebat dari aku :d buktinya fic ini! kalimatnya bagus bangeeeet😀 diksi yang ga terlalu dewa dengan kata-kata yang membuat pembaca membaca seperti air yang mengalir. Iya, aku baca aja seneeenggg banget.. :DDD fic ini beneran deh bagus😀

    Uh, jadi ga sabar sama fic kakak yang drama kolosal itu :d bakal sekeren apaa ya fic itu😀 apalagi nanti kayaknya bakal ada perang-perangan yah?😎 aku semakin ga sabar menunggu😀 pokoknya top untuk kakak deh😀

    Dan, masalah Roleplay itu.. aku gatau yah, tapi berdasarkan cerita dari teman-teman dunia mayaku, RP itu menyesatkan banget! Dulu sih aku pengen nyoba RP, ehtapi aku gatau teknis pelaksanaan dan penggunaannya (?) gimana.. haha, tapi ngeri juga sih TT

    Berawal dari RP yang saling bermain kata-kata manis harus berakhir dengan kata-kata yang pahit TT seriusan deh.. HEI MYUNGSOO KENAPA KAMU HARUS UDAH PUNYAAAA PACAR/ISTRI/TUNANGAN SIH!!!! KASIHAN KAN SOOJUNGNYAAA!! /mukulkepalaMyungsoo/ /dor/ hahaha..

    Yah, aku bisa kebayang gimana nyeseknya Soojung di sini TT apalagi si Soojung udah denger pernyataan sukanya si Myung, doh itu berasa kaya ngasih harapan banget ke Soojungnya!

    Dan, eh si Myung enak sekali bilang “Aku bosan!” apa-apaan itu cobaaaaaaaakkk… mungkin aku kalau jadi Soojung udah bener-bener ngga mau ketemu sama Myung lagi…

    Myung jahat banget sih TT yaudah deh aku udahin dulu deh komen panjang ini .___. Ga sadar ini komen sampai 4 halaman ms. Word! .______.

    • DEMI TUHAN FIC DRAMA KOLOSAL? ADA PERANG? asik aku tunggu loh :9 ehiyaa kak ocha punya twitter kan? minta doooong!
      RP itu aneh loh ky, aku pernah jadi cowok di situ dan kopelku tergila-gila sama aku (dia cewek). karena aku ngerasa kasian harus nipu terus (soalnya kayanya dia suka sama aku beneran, serem ga sih?) jadi aku deact. nah tapi sampe udah punya kopel ke-berapa, mantan yang dia anggep cuma aku doang. padahal aku gatau aku ngapain aja hehe *ini kenapa pamer*

      • eh si fikhaa ternyata nongol disini.. doh aku jadi bocorin yaaah? .__. KAK OCHAAAA MAAFKAN AKUUU TT

        eh aneh? untung untung aku ga terjun ke dunia RP /elusdada/ ah apa? dia jadi suka sama kamu? .__. kamu apaain dia cobaa fikhaaaa? kamu pasti ngegombal ya? :p /heh/ /kicked/ hehe..
        terus akhirnya gimana? dia masih suka sama kamu? terus gimana? dia tahu kamu cewek? ehm, kok rumit yah .__.
        ntar mungkin kalau dia tau kamu cewe, dia bakalan pingsan kali -____-

      • ahaha gapapa kan ngga sampe spoiler ceritanya~

        sumpah deh aneh, aku aja gangerti skrg konsep RP tuh apa. aku gapernah ngegombal, aku tuh koplak banget di situ, cowok kocaklah, aku aja gapernah bilang dia cantik, kerjaannya ngatain mulu. kayanya sih udah mulai ngelupain, tapi perlakuannya dia ke aku dulu pas masih kopelan beda sama dia merlakuin kopel-kopelnya yang lain, aku seneng aja di situ tapi ngerasa bersalah juga ahaha xD kayanya gatau, diem-diem aja😡

    • buat Zuky juga ya, duh itu segitu banyaknya bikin repot deh kamunya jadi harus melintir satu-satu~😄
      kebiasaan nulis inggris di RP jadi begitu deh jadinya #ngeles😄
      aku baru tau loh kalau ‘menggamit’ itu benernya mengamit, hembus itu benernya embus.. sumpah deh ._.v
      Duh, berharga banget ini komen kaliannnn /sujud sukur/😄

      Mengenai konsep cerita, iya ini line storynya emang aku ambil dari pengalamanku sama seseorang. Kami saling ehem ya begitu deh ya.. tapi mau gimana lagi takdir ngomong lain. Ya walaupun gitu, aku bersyukur banget deh paling nggak aku nggak kayak cewek lainnya yang harus bertepuk sebelah tangan atau tertipu kalau si kopelnya ternyata cewek pas udah mulai seneng-senengnya. Pas dia bilang udah bosen sama aku pun ternyata juga nggak bisa lupain gitu aja, aneh bener itu evil mah~
      Banyak kisahku dari RP dari yang lucu, nyenengin, indah sampai yang bener-bener tragedy banget. Jadi kadang ambil cerita dari sana wakakaka /plak/
      Sekarang udah mulai undur diri dari dunia sana, soalnya yaaaa begitu deh~

      Kalau masalah cerita yang masih dalam draft proyek aku selanjutnya ituuuuuuu BUKAN KOLOSAL Zukyyyyyyyy haduhhh masa iya namanya ala ala Kian Santang ma Mak Lampir sih😄 /getokin zuky/
      Aku ambil tema Saeguk, sejarah kerajaan dinasti Joseon. Jadi semuanya pada pake Hanbookkk yeay XDDD
      aku masih bingung narik konfliknya, soalnya ini ada kaitannya sama politik, tentu nggak ketinggalan bunuh-bunuhan. makanya aku mumeettt wekekeke.. castnya juga banyak banget haduhh~~ /.\

  26. eh~
    1. ‘di maya’ aku sengaja nggak nulis di dunia maya karena ngerasa nggak nyaman kalau aku tulis ‘dunia maya’
    2. bergelanggang di mata orang banyak artinya sudah terlihat nyata

  27. ………..

    ga bisa berkata apa-apa karena kak Zuky dan Kak Fikha sudah mengkritiknya ._. tidak disangka idenya seperti ini^^ saya suka banget ide roleplayer-roleplayer ini^^ ahahaha~~

    daebak!! btw, sasha imnida~

  28. Pingback: [Ficlet] Winter’s Story | theskyfanfiction·

  29. sad ending T^T
    author ini ngenes bgt masa buat aku. jadi inget rp ku u_u
    kenapa myungstal nya tdk bersatu? u.u

    • Helloooo maaf baru bales hehe. Udah lama gak buka WP. Kalau cerita ini emang gak ada sequelnya udah stuck itu akhir ceritanya Bc
      Gimana kalau cerita yang lain hehe.. Thanks for reading anyway c;

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s