Red Boots

Red Boots

Kau pelakunya, ‘kan, Myungsoo? Ayo, mengaku.

Title: Red Boots

Author: azureveur

Main Cast: Kim Myungsoo (L), Jung Soojung (Krystal)

Support Cast: Kim Sunggyu, Hoya, Lee Sungyeol, Jang Dongwoo

Genre: Crack, Fluff, Friendship

Length: Vignette (1242 words)

Rating: PG-13

A/N: Terima kasih untuk Ed Sheeran dan tembang “Firefly” yang mencitrakan sebuah sekolah ala pedesaan usang. Infinite dan para personelnya yang terlampau seru untuk dirangkum menjadi satu repertoar.

RED BOOTS

-azureveur

© 2013

.

.

.

Kaki-kaki kerdil itu seharusnya berbanjar. Tertata seperti bot-bot lusuh yang mengayom di bibir beranda. Jumlahnya empat pasang. Satu berwarna merah, sedangkan tiga lagi berwarna kelabu, Kim Myungsoo tak mungkin melupakannya. Bahkan hari itu kedua kaki pendeknya malah menjadi pasangan kelima. Ditatar menciumi gada rotan milik Kim ssaem[1] lantaran terpergok membentuk perserikatan arena gasing di tengah pelajaran matematika.

Delapan bulan tujuh, tentu senja yang berbeda. Kaki-kaki kerdil itu tak berjumlah lima. Melainkan empat dengan tiga buah kecurigaan yang meletup di tiap kening personelnya.

“Jadi, kalian enggan mengaku siapa yang memulai pertarungan itu terlebih dahulu?” Kim ssaem berdeham. Tangannya bersedekap, setelah sebelumnya perut buncit itu berkacak pinggang, mendorbak pintu kantor konseling.

“Si Bot Merah, mungkin,” tuduh Kim Sunggyu—si Jenderal Regu. Ia menggaruk tengkuk acuh tak acuh.

“Bot merah?” Dongwoo, si murid separuh dungu itu, tertawa tak percaya.

“Er, siapa lagi si Bot Merah itu?” Bahkan Sungyeol, yang pendiam, tak pernah tahu kalau mereka memiliki seorang personel berbot merah.

“Myungsoo-yah, bukannya kau yang tahu siapa si Bot Merah itu,” Hoya tiba-tiba berbisik. Matanya mengerling. Sebentar-sebentar menatap depan—lantaran takut dituduh mencuri bincang, lantas menyikut teman sejawatnya di kolom samping.

“Er?” Kim Myungsoo, yang mengenakan seragam berpantalon pendek, meliriknya tak percaya. “Aku—”

“—Myungsoo tahu siapa pelakunya, Ssaem!” Tiba-tiba saja Sunggyu mengangkat tangan sambil mengikik.

“Sunggyu-yah.” Myungsoo nyaris memekik kalau saja Kim ssaem tak keburu membeliakkan mata. Pemuda itu menekuri parket beranda. Sial, sial, sial. Sunggyu tahu benar perangai pria paruh baya itu; ia tak mungkin terang-terangan menghukum anaknya sendiri.

“Apakah itu benar, Myungsoo?” Suara bariton itu hanya menyisakan tiga perempat inci untuk berkelit.

Entah sejak kapan Kim Myungsoo menjadi kikuk seperti itu. Ubun-ubunnya tak menyembul. Terlebih sepasang bibir pucat, yang menggembani kedua puluh gigi-separuh-susunya, dibui tanpa meninggalkan setitik celah.

“Um, a-aku tahu siapa pemilik bot merah itu.” Lidahnya terkepit. Myungsoo menyaru seperti orang linglung. “T-tapi yang jelas, bukan ia pelakunya.” Kalimat itu terdengar begitu yakin.

“Lantas, siapa yang melakukannya?” tanya Kim ssaem. Kelopaknya menyipit.

Keempatnya terdiam. Sunggyu melirik penjuru luar. Tentu saja itu bukan salahnya. Salahkan saja yang lain. Dongwoo, mungkin?

Hoya memilih melipat tangan—mengamati jungur botnya yang berkemedang lumpur—sambil menggerundel.

Kim ssaem menghela napas. “Tidak ada yang mengaku?” tanyanya. Lagi-lagi dentaman gada rotan yang sama. Ritme satu per satu di telapak tangan kiri. “Kalau begitu, Appa ingin bicara denganmu nanti malam. Jangan mencoba untuk kabur, Myungsoo.”

Sorot mata itu menyudutkan keberadaan Kim Myungsoo seketika.

Sunggyu kegirangan bukan kepalang. Seringainya menyuruk sesekali seiring tatapan mata Kim ssaem yang meneduh. “B-baik, Appa[2].” Myungsoo membungkuk. Buku jemarinya kebas, wajahnya lesi, siapa lagi kalau bukan ulah jenderal sialan itu.

Kim ssaem kembali melengos pergi ke dalam selasar kantor.

“Kau hebat, Myungsoo!” ujar Hoya, sekonyong-konyong menepuk bahu ringkih di sisinya.

“Hebat apanya?” Myungsoo mendengus. “Sialan kalian,” umpatnya, menyeret langkah berat.

Sunggyu yang paling pertama menandak tanpa disuruh, menuruni ceruk-ceruk anak tangga, tak peduli Myungsoo hendak menjulukinya dengan imbuhan akhir apa setelah kata “jenderal”. Sungyeol menyejajarkan langkah; mengeratkan pegangan di susuran.

“Kami ‘kan tidak berkata apa-apa barusan,” Dongwoo berdalih tanpa disuruh. Percuma saja berdebat dengannya. Bahkan jangan-jangan ia tak pernah tahu alasan mengapa mereka dipanggil ke pondok konseling.

“O ya, kau ikut ‘kan, Myungsoo?” ajak Sunggyu.

“Ikut? Kalian hendak ke mana?” suara bocah itu meninggi.

“Bukankah semuanya sudah selesai? Woohyun hendak menantang kita bermain sepak bola,” tambah Sungyeol.

“Eh?” Alisnya berjengit, Myungsoo membenarkan letak suspenders-nya.

“Jangan bilang kau takut,” sindir Hoya.

“Aku tak habis pikir dengan tingkah Nam Woohyun. Bukankah arena gasing itu ciptaannya sendiri? Lalu, mengapa ia pergi paling pertama?” Dongwoo memberondongkan argumen panjang, setelah neuronnya yang raib semalam sekonyong-konyong tertancap di dendrit yang tepat.

“Dasar pengecut,” Sunggyu mengimbuh sembari berjalan mundur. Menyusuri ruas jalan renyuk; melingkar ke arah lapangan rumput.

“Kau juga.” Myungsoo merendengi langkahnya, selintas menendang angin kosong. “Untuk apa kau bilang kalau “si bot merah” mengikuti arena gasing kita?”

“Dan kau, mengapa kau juga tidak mengaku?” Sunggyu menelusupkan tangan ke dalam saku.

“Bukan aku yang melakukannya.” Bahu ringkih itu mengedik. Alis Myungsoo nyaris menyatu. Seseorang pasti tengah bercanda. Kim Sunggyu tak sedang menuduhnya tentang arena gasing itu, bukan?

“Senin. Baris kedua akhir tepat di kiri jendela. Kau dan si Bot Merah,” beber Sunggyu. “Benar, ‘kan?” Matanya memicing. Satu garis sempurna tanpa kedutan. Alih-alih, ia menyemburkan seleret kekehan.

“Ah! Kau!” Myungsoo berlari mendekat. Lengkingan itu terdengar sember. Pelupuk teduhnya sekonyong-konyong meningkap.

“Tunggu. Aku tak mengerti apa yang kalian perdebatkan?”

Hoya menepuk dahi, frustasi; Dongwoo berhasil menyisipi Myungsoo dan  jenderal regu. Tanpa ba-bi-bu, seringai tololnya sudah terekspos bak baliho. Membujur dari kanan ke kiri. Sama sekali tidak membantu.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku, bukannya seperti ini!” tuntut Sunggyu.

“Untuk apa berterima kasih?!” Suara Myungsoo ikut meninggi.

Sungyeol menendangi kerikil dari kejauhan. Debu-debu jalanan mengepul kisruh.

Sunggyu terbatuk. “Ya! Hentikan itu, Bodoh!” pekiknya ke arah belakang.

“Jangan mengalihkan topik, Sunggyu!” Myungsoo mencengkeram lapel kemejanya dengan sekali raup.

“Hentikan, kalian! Siapa si Merah itu?” Tak ada hal lain yang dapat dilakukan Dongwoo selain bertanya. Kali ini nadanya ketus. Myungsoo meniliknya tak suka. Sunggyu nyaris menghantam kepalanya memagut aspal.

“Dongwoo-yah!” Hoya serta-merta menarik bocah itu ke sisinya.

“Tapi—”

“Kim Myungsoo?” Kontan saja ada pekikan khas yang mencuat dari arah barat daya. Ligatur kaget seorang gadis muda. Dan Hoya bisa dibilang tengah mengukir senyum timpangnya. Sebelah sudut mulut yang terjungkit; ia baru saja terpergok salah tingkah.

“Jung Soojung?” Dongwoo terperangah. Gadis itu tersenyum. Bot merah pekat. Sungyeol dan si pilon sama-sama menatapnya tak percaya.

“Ia—”

“Dongwoo!” Hoya membekapnya mundur.

Kim Myungsoo menggosok-gosok kedua tangan di keliman pantalon. Sunggyu dengan sengaja menyeret Sungyeol yang masih terpaku.

Ya!” jerit Dongwoo lantaran Hoya menarik tangannya dengan paksa.

“Er, ada yang terjadi barusan?” Soojung menarik tas jinjingnya ke depan dada sambil sesekali menyampirkan riap rambut ke belakang telinga.

“Bukan sesuatu yang penting.” Kim Myungsoo menilik ke arah kiri. Tak mendengar suara derap dari tiga pasang bot.

“Tapi, aku dengar kalian dipanggil ke kantor Kim ssaem.” Soojung menggigit bibir bawahnya.

“Ah, itu memang benar. Tapi, bukan karena apa-apa.” Bocah itu balas menyeringai.

Hng, pasti karena gasing itu, ‘kan?”

“Eh? Kau—mengapa kau bisa tahu?” Kim Myungsoo lekas-lekas memindahkan letak ransel ke arah depan. Mengaduk-aduk isinya sembari membersut. Sekejap matanya membulat. “Gasingku?” Ia tak percaya kalau gasingnya raib.

Jung Soojung tertawa pelan. Tak disangka benda kayu bundar itu tergeletak di atas tangannya. Gurat telapak lembut seperti yang selalu disanjung Myungsoo. “Bagaimana kau—tunggu, kau yang melawan Woohyun kemarin?”

Ia tak mengangguk. Alih-alih, menatap Kim Myungsoo sambil menahan tawa.

“Lusa kemarin. Baris kedua akhir tepat di kiri jendela,” ujarnya.

Myungsoo tepekur. Siapapun tolong hentikan repertoar ini! “T-tapi, kau tertidur.”

“Tidak juga. Aku mengambil benda ini darimu.” Soojung menggeleng, memamerkan gasing kayu itu di telapak tangannya. Bot merahnya melangkah satu petak ke depan. Myungsoo mereguk liur. Deg. Ulu hatinya seakan ditepuk. Jantungnya bahkan nyaris copot meninggalkan rusuk.

“Kurasa kita impas. Setelah apa yang kaulakukan padaku di bus,” bisiknya. Gelak itu menyembur keras. Soojung memasukkan kembali gasing itu ke dalam saku rok tuniknya, lantas mengambil langkah mundur.

Myungsoo sekonyong-konyong menyentuh bibir, pipinya bersemu. Jangan katakan kalau Soojung menge—

Ya! Kau tak berniat untuk melarikan diri dari pertandingan itu, ‘kan?” Soojung berjalan ringan.

“Ah, t-tentu saja tidak,” cericipnya.

Kaki-kaki kecil yang sama. Berjajar seperti bot-bot yang mengayom pada senja. Myungsoo tersenyum tersipu, berlari mengejar siluet di hadapannya.

-fin.


[1] (Bahasa Korea) kependekan dari “songsaenim”, yang berarti guru

[2] (Bahasa Korea) ayah

21 responses to “Red Boots

  1. AKU SUKA COVERNYA AKU SUKA SEMUANYA AKU SUKA CASTSNYA POKOKNYA SEMUANYA!! XDD /maaf gak nyante/😀
    대박! (ㅎㅅㅎ)v

  2. AAAAH KAK AZURAAA, AKU BAHAGIAA SEKALEEEH~~ lalalala.. bahagia karena Fikha telah mempublish ini langsung pada hari dimana saya sudah menemukan MyungStal feeling kembali :DD ah aku bahagiaa kembali~

    jadi, cerita ini berawal dari pertarungan gasing illegal yang dilakukan oleh para anggota Infinite gitu? dan mereka ditegur sama semacam guru BP (?) karena membuat kerusuhan?
    dan pelaku sebenarnya adalah si Bot Merah alias Jung Soojung; dan itu diketahui sama Myung dan Gyuk kah?🙄
    dan Myung berusaha menutup-nutupi kenyataan dengan ingin melimpahkan seluruh kesalahan pada Dongwoo begitukah? :p
    “….Salahkan saja yang lain. Dongwoo, mungkin?…”
    kasihan bener rapper satu Infinite itu, haha dia kayak nya yang paling nista disini xD udah mau (hampir) dijadiin kambing hitam, dan dikasih peran dungu gitu -_- kasihan bener kamu nak..
    eh tapi emang pantes sih kak, soalnya gigi tonggosnya ituloh -_- ga boong .__.v hehe agak bener dikit.. lol😆 /gaplok

    Ohhoi aku kok kebayang Myung disini itu polos nipu gimana gitu ya~ hihi.. dan Sunggyu.. erwh aku agak kesel sama dia disini ;__; kesannya dia kaya mojokin Myung gitu👿 nyebelin lah pokoknya, padahal karakternya itu cross over banget deh sama di dunia nyata yang notabene dia yang sering dibully😆 hakhakhak..

    mengenai tulisan, ah ini gaya kak Azura banget! seru seru gimana gitu, dan alhamdulillah bisa sedikit mencerna daripada tulisan kakak yang Machini itu TT__TT yang itu aduhai, susah banget..😥 baru dijelasin sama Kak Azura dulu baru ngeh TT__TT ya ampun maafkan atas kelemotan saya waktu itu.. haha😆

    “Kurasa kita impas. Setelah apa yang kaulakukan padaku di bus,”….. | …. “Myungsoo sekonyong-konyong menyentuh bibir, pipinya bersemu. ..”
    oh JANGAN BILANG KALAU MYUNG NYIUM SOOJUNG?!! raaawwwrrrrr… tapi meski ga diterangin secara lebih gamblang lagi, bagian itu sukses bikin aku senyum senyum ga nggenah kak😀 ihi dua orang itu… aduh manis banget masa kak ;__;

    tapi sebentar, guru BP yang ngehukum anak-anak Infinite, sebenarnya ayahnya Myung tha? O__O aku gatau, uh Myung matilah kau!
    ehehe.. terus pas scene Soojunga muncul, anak Infinite tau aja pada nyingkir semua, jadikan MyungJung bisa beduaan gituh😀 ecieeh~~ :B /plakplak/

    sejujurnya, aku belum puas kak ;__; mau minta lebih gitu.. aku malah sempet ngira ini ficlet, dan ternyata vignette ;__; tapi bahasa yang dipakai sama kakak tumben sekali ringan kak?🙄 padahal asyikan kalau berat-berat kaya Machini :DD /gaplok/ /protesmulubisanya/ hehe maaf kak .__.v😳 ini lebih mainin dialog ya kak? narasinya kurang sih ._.
    iyah tapi gapapa, syukur syukur kak Azura mau buatin fic MyungStal😀 hihi makasih ya kak😀 /emangbuatlu/

    karyanya kak Azura selalu bagus kok xD posternya juga aduh sesuatu lah kak~ hihi..

    ya ampun komennya panjang bangeeet O__O yaudah bye kak😀 maaf kalau ada salah kata u,u

    • Sama-sama. Gapapa kok komen panjangnya sangat menghibur🙂
      Iya, ini memang berawal dari geng Infinite yang dihukum guru BP, tapi si Myungsoo yang katanya tau siapa si “Bot Merah” itu berusaha nutupin kenyataan soalnya dia juga gak percaya kalau masa si Bot Merah bisa ikutan serikat arena gasing mereka.

      Yang sebenernya tau tentang semuanya itu Sunggyu sih, kalau Myung itu tau si Bot Merah doang, tapi Sunggyu tau semuanya sampe apa yang dicuri Myung dari Bot Merah juga🙂

      Iya, kasian si Dongwoo. Saia sebenernya paling suka bikin karakter Sunggyu/Dongwoo. Kebayang Dongwoo yang senyumnya paling lebar itu, terus kepo banget mau tau urusan orang hehe.

      Tebakan kamu yang di bus itu bener kok. Myung kira Soojung gak tau kalau dia nyium Soojung di bus, makanya dia kaget pas Soojung bilang kalau perihal “mencuri gasing Myung” dibilang impas karena Myung juga nyuri sesuatu dari dia.

      Sama-sama dek. Maaf ya karena cerita pendek ini banyak bikin kebingungan.

    • Eh, bibib mampir? Maaf ya. Er, ceritanya sih sebenernya simpel tapi saia maksa dengan narasi yang kepotong-potong. Ceritanya tentang mencari tahu siapa si Bot Merah itu.

  3. uwah! antara takjub dan terkejut, pemilihan kosa kata yang sangaat apik /jauh beda dengan aku/ ah/
    ringan sekali pembawaanya sampai-sampai nggak sadar kalau sudah habis dan malah berharap ada baris-baris tambahan tentang hari-hari lain soojung dan myungsoo muda
    terima kasih sekali! setelah membacanya jadi dapat referensi lebih untuk menulis myungsoojung di project terbaruku /promosi/ /diusir/
    terima kasih pula atas undangan untuk membaca karyanya dan
    terima kasih karena telah menulis karya yang seindah ini! ^^

    all.want.candy

    • Terima kasih juga sudah mampir dan membaca. Hehehe.
      Saia juga seneng ngebayangin geng Infinite pas muda. Unyu-unyu gimana gitu. Er, semangat buat proyek myungsoojung-nya ya😀

  4. Wah, myungsoo nyium soojung nih di bis wkwk agak gak nangkep nih azura dgn ceritanya, otak ku mungkin lambat sepertinya siput heung… But I like it! Thanks azura for giving me ths link. Eh tapi aku belum intro wkwk aku line 97, kamu line berapa?

    • Benar sekali. Myungsoo emang mencuri sesuatu dari Soojung, yaitu kisseu.
      Er, gapapa kok. Maaf juga dengan gaya penulisannya yang agak melompat-lompat. Sama-sama.
      Saia 94 line.

  5. KEREEEEEEEEEEEN~!
    Ah, sempet baca berulang biar ngerti. Tapi ini ceritanya waktu mereka masih SD/TK yah? kok maenan gasing, acak DotA #DIESH
    As always bener-bener nguras otak narasinya, aku suka tulisanmu~!
    wkwk Trims ya kak udah tag diriku hehe

    • Terima kasih🙂 Ah, aduh. Maaf ya kalau ff ini susah untuk dimengerti. Iya, ini umurnya sekitar SD. LOL. Anak jaman sekarang tuh mainnya DotA, ini kan ceritanya jaman duyu… hahaha.
      Sama-sama.

  6. Aih, ini keren banget. Aku jadi ngebayangin sekolah jaman dulu lho, mainnya gasing, nggak kayak anak sekolah sekarang yang mainannya gadget.
    Bahasanya lumayan ringan, tapi tetap khas Ching banget deh. Dari tema yang sederhana gini efeknya jadi luar biasa.
    Suka dialog-dialognya, natural sekali. *thumbs up*

    • Terima kasih, Ami. Wah, rencana mau tag kamu di LJ hari ini, eh udah nongol duluan di sini. Hehehe. Saia sempet pesimis karena banyak orang yang gak mengerti dengan cerita ini. Tapi, senengnya kamu bisa membayangkan keadaan kuno yg jadi latar ceritanya. Ah, iya. Ini masih jaman main gasing lol. Bahasanya sengaja dipake yg ringan sih, biar gak salah kaprah dng umur karakternya.
      Thank you~

  7. Halo, kaaak.. baru baca niih, hehe..

    First, aku selalu suka sama gaya tulisan kakak. Walau sebenernya aku gak bener2 mudeng conversationnya, tapi aku mudeng ceritanya kok, seperti upper komennya kak zura, hehe..

    Gitu aja deh, kak.. Last, Keren!😀

    • Ola juga. Hehehe. Akhirnya datang juga🙂
      Terima kasih. Ah, iya. Ini pertama kalinya juga saia pake empat orang barengan ngobrol, jadinya begini nih. Simpang siur. Bingung hahaha. Maaf ya.

  8. thorrrr, bahasamu dewa! keren melampaui batas!XD
    Suka bangettsss sama ff ini!!! Apalagi aku myungsoojung shipperXD dan myungsoo my ultimate bias foreva~ hahahahahahXD
    ditunggu next ff yah thorrrr!!~ emwah

    • terima kasih ya sudah mampir dan membaca🙂
      hehehe. saia juga suka myungoojung dong pastinya /toss. sip deh, semoga saia dikasih wangsit untuk menulis myungsoojung lagi.

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s