Don’t Be Sorry

dont be sorry

Scriptwriter: Tsukiyamarisa || Cast:[f(x)] Jung Krystal and [INFINITE] Kim Myung Soo || Duration: Vignette (1200+ words) || Genre: Romance, Hurt/Comfort || Rating: T

***

To love someone isn’t a sin
Stop thinking that you’ve done something wrong
Stop saying that you’re sorry

Love itself is a beautiful yet simplest thing in the world
So, we don’t need to make it more difficult, right?

***

Salju.

Butir-butir es yang turun ke muka bumi, menciptakan lapisan putih di atas aspal dan trotoar, serta menyebabkan seorang Kim Myung Soo bersungut-sungut sepanjang hari.

Laki-laki itu melangkah gontai, tangan kanannya menyeret sekop yang akan digunakan untuk membersihkan salju. Myung Soo suka musim dingin, tetapi ia tidak pernah suka jika orangtuanya mulai menyuruh-nyuruh dirinya untuk membersihkan halaman. Musim dingin itu untuk dinikmati, bukan dijadikan alasan mempekerjakan anak sendiri, batinnya berkata sebal.

Jadilah ia disini. Menyekop salju dan berusaha menumpuknya di sisi jalanan dengan rapi. Masih lengkap dengan raut kesal dan terpaksa miliknya, tentu saja.

“Berhentilah bermuka masam. Kau merusak pemandangan.”

Myung Soo terlonjak kaget, menoleh cepat saat menyadari bahwa ia tak lagi sendiri. Sesosok gadis berambut cokelat panjang dan berwajah akrab duduk santai di atas sebuah bangku panjang. Tubuhnya terbungkus mantel tebal dan sepasang sarung tangan melindungi jari-jarinya. Ia terkikik kecil, menertawakan tampang terkejut sang lelaki.

“Soo Jung? Sedang apa kau di sini?”

“Rumahku memang di sini, bodoh,” sahutnya sembari mengedikkan kepala ke salah satu bangunan mungil tepat di sebelah rumah milik keluarga Myung Soo.

Pemuda itu mendengus dan membalikkan badannya untuk kembali bekerja, tetapi suara Soo Jung yang tiba-tiba mengalun menghentikan gerakan tangannya begitu saja.

“Kau sendiri? Menjadi tukang bersih-bersih sukarela, ya?”

“Kalau kau mau mengejekku, masuk saja sana!” Myung Soo membalas sengit, menghentakkan kakinya di atas salju. Tawa Soo Jung berderai lagi, namun sejurus kemudian nadanya kembali berubah serius.

“Bagaimana kalau aku membantumu? Kau mau mendengarkan ceritaku?”

***

“Jadi?”

Sekop Myung Soo kini sudah bersandar di pohon terdekat. Jalanan beserta halaman depan rumah keluarga Kim sudah bersih dari salju. Mereka berdua duduk di atas bangku kayu panjang, siap untuk berbagi cerita.

“Min Hyuk sunbae menolakku. Dan dia melakukan itu di depan pacarnya sendiri. Nah, sekarang katakan padaku Tuan Kim, nasib sial macam apa yang sedang membuntutiku ini?”

Myung Soo mengetuk-ngetukkan jari pada pelipisnya, bertingkah seolah ia sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Soo Jung. Kelopaknya terpejam rapat, menyembunyikan perasaan yang biasanya terpancar jelas pada dua manik hitam tersebut.

“Kau malu?” dengan bodohnya, Myung Soo malah mengeluarkan pertanyaan itu. Yang  ditanya langsung mendelik, tangannya melemparkan sebuah bola salju ke arah sang lelaki.

“Tentu saja! Mana aku tahu kalau gadis itu adalah pacarnya. Setelah aku menyatakan cintaku, Min Hyuk sunbae hanya bisa bengong dan berdiri diam. Kemudian dia menunjuk gadis di sampingnya dan berkata kalau ia sudah punya pacar! Dan kau masih bertanya apakah aku merasa malu?”

Soo Jung mengucapkan rentetan kejadian yang baru dialaminya dengan berapi-api. Mendengar itu, Myung Soo hanya bisa diam dan terpaku. Ia menatap mata Soo Jung dalam, membaca rasa sakit yang tersembunyi di balik kata-kata tajamnya.

“Lalu, kau bisa merasa lebih baik setelah marah-marah tidak jelas padaku?”

“Apa?”

“Sudah lebih baik, Nona Jung?”

“Tidak juga.”

Mereka sama-sama mengembuskan napas panjang dan meninggalkan uap putih melayang-layang di udara sekitar. Diam sejenak, sibuk mengurai pemikiran yang ada di otak masing-masing. Myung Soo menggeser duduknya sedikit, menyentuh bahu Soo Jung dengan miliknya.

“Apa masalahmu?”

Soo Jung menggigit bibirnya, kini sembari menengadahkan kepalanya untuk menyembunyikan bulir air mata yang bisa mengalir turun kapan saja. Myung Soo tahu itu. Mereka sudah hidup bertetangga sejak kanak-kanak, cukup lama untuk saling mengenal pribadi masing-masing pihak.

“Aku merasa bersalah. Mungkin seharusnya aku minta maaf pada Min Hyuk sunbae dan kekasihnya.”

“Untuk apa?” Myung Soo mengerutkan kening, tidak bisa memahami jalan pikiran Soo Jung.

“Bagaimana kalau pernyataan cintaku membuat mereka salah paham? Bagaimana kalau aku membuat mereka bertengkar dan merusak kebahagiaan Min Hyuk sunbae? Aku mencintai orang yang salah,” papar Soo Jung lesu.

Myung Soo mengulurkan tangannya dengan ragu, hatinya memerintahkan agar ia merangkul Soo Jung dan memberinya sedikit kehangatan. Tetapi, belum sempat niatnya itu terlaksana, Soo Jung sudah menoleh dan menatap Myung Soo dengan bola mata berkaca-kaca. Lelaki itu berdeham pelan, dengan canggung menarik tangannya menjauh.

“Itu konyol.”

“Kenapa begitu?”

Myung Soo mulai memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan. Soo Jung masih duduk diam di sana, mulai memainkan gundukan salju dengan ujung sepatunya.

“Tidak ada cinta yang salah, Soo Jungie.”

Tidak ada?” ulang gadis itu polos sembari mengerjapkan kedua matanya.

“Tidak,” tegas Myung Soo lagi. Kini, ia memberanikan diri untuk meraih tangan Soo Jung dan membungkusnya rapat dalam genggaman tangannya sendiri.

“Itu adalah perasaan paling sederhana yang pasti dimiliki setiap manusia di muka bumi ini. Bagaimana mungkin kau bisa menyalahkan cinta?”

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Kalau cinta tidak bersalah, apa aku bersalah karena telah mengarahkan perasaanku itu pada Min Hyuk sunbae?”

“Memangnya kau bisa memilih kepada siapa kau akan jatuh cinta?” tanya Myung Soo balik. Retoris. Membungkam mulut Soo Jung seketika itu juga.

Sunyi kembali menggantung. Tangan Myung Soo masih tertangkup di atas tangan Soo Jung, kini pemuda itu menggerakkan jemarinya untuk mengelus telapak tangan si gadis. Menenangkannya.

“Aku masih tidak mengerti. Tidak ada yang salah di sini dan kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Lalu, kenapa Min Hyuk sunbae menolakku?”

“Karena kalian tidak ditakdirkan bersama?”

“Sekarang kau menyalahkan takdir?” balas Soo Jung cepat. Myung Soo buru-buru mengatupkan bibirnya rapat. Ia lupa, beradu argumen dengan Soo Jung bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

“Aku tidak menyalahkan takdir.”

“Jadi, sekarang kau adalah seorang pembela cinta dan takdir,” Soo Jung terkekeh geli. Mau tak mau, Myung Soo pun ikut tertawa mendengar julukan barunya tersebut.

Setidaknya ia bisa melihat Soo Jung tertawa di tengah kegundahan hatinya.

Pemikiran itu membuat Myung Soo menarik ujung-ujung bibirnya semakin lebar. Senang, karena merasa bahwa ialah satu-satunya orang yang bisa membuat Soo Jung kembali ceria.

“Baiklah. Jadi apa inti percakapan singkat kita ini?” suara Soo Jung mengembalikan keduanya ke dalam lingkup aura serius seperti sebelumnya.

“Cinta itu tidak salah, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, dan takdir yang mengikat juga tidak boleh disalahkan,” Soo Jung bergumam lirih, menyebutkan semua permasalahan yang dibahas dalam obrolan ini. Tetapi, sorot matanya berkata bahwa ia pun masih belum memahaminya.

“Menurutku, itu berarti setiap orang di dunia ini bebas untuk jatuh cinta kepada siapa saja. Dan suatu saat nanti, tentunya kita akan menemukan orang yang tepat sesuai dengan goresan takdir. Semua ini adalah proses yang pasti dijalani oleh manusia. Kau tak perlu merasa bersalah.”

“Begitukah?” Myung Soo langsung mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan Soo Jung.

Gadis itu menelengkan kepalanya untuk mempertimbangkan ucapan Myung Soo, kemudian ikut mengangguk yakin. Itu benar. Mungkin Min Hyuk memang bukan orang yang tepat untuk berjodoh dengan Soo Jung.

“Baiklah kalau begitu. Haaaah, aku tidak percaya ini. Jarang sekali ‘kan, aku bisa langsung menerima pendapatmu begitu saja,” dengus Soo Jung seraya bangkit berdiri dan mengibaskan salju yang menempel di ujung mantelnya.

“Jangan berpikir untuk meminta maaf lagi, ya? Kau ini hanya mempersusah keadaan saja.”

Soo Jung berdecak tak terima mendengar perkataan Myung Soo barusan. Ia menggerakkan kedua kakinya menuju rumahnya sendiri, melambaikan tangannya untuk mengucapkan terima kasih pada sang tetangga.

“Soo Jungie!!”

Langkahnya terhenti begitu saja di ambang pintu. Myung Soo sudah berlari-lari kecil mendekatinya, menyisakan jarak satu meter di antara mereka. Wajah lelaki itu dipenuhi semburat merah, campuran rasa malu dan udara dingin yang begitu menyengat.

“Kalau aku menyatakan hal ini padamu, berarti aku juga tidak bersalah, bukan? Aku tidak perlu meminta maaf setelahnya, iya ‘kan?”

“A-apa?”

Myung Soo menarik napas panjang, mengarahkan iris hitamnya tepat pada kedua manik Soo Jung. Seulas senyum lebar dan penuh semangat terukir di bibirnya.

“Aku mencintaimu!!”

-END-

3 responses to “Don’t Be Sorry

  1. Pingback: Echo | myungSOOjung·

  2. Pingback: Try and Error | myungSOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s