Echo

echo-poster

/ / E C H O / /

by Tsukiyamarisa

Cast: [f(x)] Jung Soo Jung and [INFINITE] Kim Myung Soo || Length: Vignette || Genre: Romance, Fluff || Rating: T

Summary: 

Ketika Myung Soo bertanya-tanya bagaimana bentuk cinta Soo Jung kepadanya.

Note:

Sequel dari “Don’t Be Sorry

but you can read it as stand alone fic :)

*****

Kim Myung Soo tidak pernah mengerti mengapa seorang Jung Soo Jung mau menerima pernyataan cintanya.

Tetangga dan teman masa kecilnya itu baru saja mengalami patah hati. Namun, alih-alih turut bersimpati, Myung Soo malah menyatakan perasaan yang ia miliki kepadanya. Tidak masuk akal, bukan?

Dan anehnya lagi, Soo Jung malah menanggapi ungkapan hatinya tersebut. Membuat Myung Soo terus mengerutkan keningnya sepanjang hari dan memunculkan seribu tanda tanya di dalam rongga kepalanya.

Ia tidak sedang dipermainkan oleh Soo Jung, ‘kan? Apa ini salah satu jenis candaan konyol yang sedang diperbuat oleh gadis itu? Myung Soo harap bukan itu alasannya.

“Hei, bodoh! Jangan melamun seperti itu!”

“Kau memanggil pacarmu sendiri dengan sebutan bodoh?” dengus Myung Soo kesal sembari mengamati Soo Jung yang sedang berlari kecil ke arahnya.

Dasar! Mereka ini sepasang kekasih, tetapi tidak ada satupun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa status itu melekat pada keduanya. Kata-kata manis atau rayuan lebih sering digantikan dengan ejekan. Dan bukannya saling berangkulan atau bergandengan tangan, mereka lebih sering mendaratkan pukulan atau tendangan layaknya kucing dan anjing–hanya bercanda, tentu saja.

“Heran ya, kenapa aku bisa memilih si bodoh sepertimu menjadi pacarku,” Soo Jung membalas santai. Myung Soo sontak melotot, yang jelas-jelas diabaikan begitu saja oleh Soo Jung.

“Sayangnya, lelaki bodoh ini lebih baik daripada Kang Min Hyuk yang pernah kausukai itu,” tambah Myung Soo cepat. Soo Jung hanya bisa berdecak dan melemparkan tatapan kau-terlalu-percaya-diri ke arah pacarnya itu. Perdebatan kecil yang selalu mereka lakukan tiap kali keduanya bersua.

Aneh.

Hubungan mereka memang pantas untuk dijuluki dengan satu kata itu. Mereka boleh berbeda dari ribuan pasangan lain di dunia ini, namun Myung Soo tidak pernah berkeberatan. Asalkan ia bisa tetap berada di sisi Soo Jung, maka ia pun akan bahagia.

Satu-satunya hal yang ingin diketahui Myung Soo adalah bagaimana perasaan Soo Jung terhadap dirinya. Apa ia juga bahagia saat berada di dekat Myung Soo?

***

“Aku menang lagi!” Soo Jung berteriak kegirangan sembari menunjuk-nunjuk layar di hadapan mereka. Beberapa orang menolehkan kepala mereka dan melempar pandangan ingin tahu ke arah dua insan manusia yang sedang asyik ‘berperang’ hebat dengan salah satu mesin game di area ini.

Game center.

Parah.

Mereka nyaris tak pernah menyambangi tempat-tempat semacam restoran, café, atau taman hiburan yang kerap dijadikan tempat berkencan muda-mudi. Pilihan keduanya selalu jatuh pada game center, bioskop dengan segala macam film action, atau malah halaman rumah mereka sendiri. Jauh dari kata romantis.

Myung Soo melirik Soo Jung dari sudut matanya, kemudian meringis kecil. Soo Jung yang ada di sisinya saat ini adalah seorang gadis periang, cerewet, dan hobi mengajak Myung Soo berlomba dalam bermain game. Satu bentuk kepribadiannya yang hanya diketahui oleh Myung Soo semata.

Di sekolah, Soo Jung akan menjelma menjadi orang yang pemalu dan jarang mengobrol. Myung Soo tahu itu secara pasti. Gadis itu hanya akan bersikap terbuka pada orang-orang yang dekat dengannya saja. Dan Myung Soo senang karena ia bisa masuk ke dalam lingkaran eksklusif itu.

“Soo Jungie, aku mau bertanya–”

“Selanjutnya! Kalau kalah, kau harus mentraktirku es krim, ya!” pinta Soo Jung seraya menarik lengan Myung Soo menuju salah satu stand permainan bola basket. Mulut Myung Soo pun terbuka lebar seketika itu juga, segala protes yang hendak ia keluarkan lenyap bagai ditelan angin. Hei… hei… mereka ini sedang berkencan, bukan? Kenapa Myung Soo mendapat kesan bahwa dompetnya sekarang sedang dijadikan bahan taruhan oleh Soo Jung?

“Soo Jungie….”

“Ayolah, Myungie… es krim di kedai seberang sana sedang diskon besar-besaran. Kita bisa membeli semangkuk besar es krim untuk dimakan berdua. Bagaimana?”

Myung Soo mengangkat sebelah alisnya, menimbang-nimbang permintaan Soo Jung barusan. Semangkuk es krim untuk berdua? Oh, itu terdengar cukup romantis untuk dilakukan. Setelah semua hal gila yang mereka lakukan hari ini, tidak ada salahnya bukan untuk menciptakan suatu akhir yang manis dan layak dikenang?

Dan, bagaimana cara Soo Jung memanggilnya tadi? Myungie?

Myung Soo memamerkan cengiran lebarnya, tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia senang mendengar panggilan itu keluar dari bibir Soo Jung. Rasa gembiranya meluap-luap, tubuhnya serasa ringan dan melayang di angkasa. Ia suka panggilan itu, ia suka jika Soo Jung mau menyebut namanya dengan cara yang istimewa seperti itu.

“Oke!”

Soo Jung tersenyum riang, menyodorkan sebuah bola basket ke tangan Myung Soo. Mereka mulai bermain, membiarkan ronde demi ronde terlewati tanpa terasa dan angka-angka di papan terus berubah secara konstan.

Satu hal yang tidak Soo Jung ketahui, Myung Soo sengaja mengalah di dalam permainan ini. Lelaki itu membiarkan bolanya memantul kesana-kemari dan mengizinkan Soo Jung untuk mengejeknya habis-habisan. Bukan masalah besar. Asalkan Soo Jung bahagia, Myung Soo akan rela melakukan apa saja.

***

“Terima kasih, Myungie!” Soo Jung berucap lantang, memasukkan sesendok es krim cokelat ke dalam mulutnya. Myung Soo hanya bisa tersenyum simpul, kemudian menyendok es krim rasa vanilladan mulai menyuapi dirinya sendiri.

“Aku habiskan yang cokelat, ya?”

“Tentu,” Myung Soo membalas ringan. Ia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya hari ini. Biasanya, ia akan menolak permintaan Soo Jung itu dan mulai melakukan aksi saling merebut demi sesendok es krim. Kali ini, ia dapat mengiyakan permintaan Soo Jung begitu saja.

Kau telah membuatku gila, Soo Jungie!

Myung Soo membatin dengan nada sarkastis, namun senyum manis tetap terpampang di wajah tampannya. Ia sudah menyukai Soo Jung selama bertahun-tahun, rasa cinta yang ia pendam sudah cukup besar untuk membuatnya bertingkah di luar akal sehat.

Dan berbicara soal cinta, mau tidak mau Myung Soo kembali teringat akan satu hal yang sempat menyesaki pikirannya dan mengganggu acara jalan-jalan mereka hari ini.

Perasaan Soo Jung.

Gadis itu boleh saja menerima Myung Soo sebagai kekasihnya, namun sama sekali tidak ada perubahan berarti di dalam hubungan keduanya. Seolah-olah batas antara persahabatan dan cinta telah kabur, meninggalkan seorang Kim Myung Soo terombang-ambing di dalam ketidakpastian ini.

Apakah Soo Jung juga mencintainya? Apakah rasa yang dimiliki Soo Jung sama besarnya dengan yang disimpan oleh Myung Soo?

“Hei, Soo Jungie….”

Soo Jung mendongak, menatap Myung Soo dengan sorot bertanya. Ia mengerjap beberapa kali, tidak menyadari bahwa sebagian es krim cokelatnya masih menempel di bibir dan mulai meleleh turun.

“Kau berantakan sekali,” Myung Soo terkekeh geli, mengulurkan jarinya untuk menghapus noda di sudut bibir Soo Jung. Tanpa sadar, Myung Soo mulai mencondongkan tubuhnya mendekati Soo Jung, membiarkan jarak di antara wajah mereka semakin tertutup setiap detiknya.

“Jangan mencuri-curi kesempatan, Myungie. Ini bukan adegan drama,” Soo Jung berkata dengan nada datar, membuat Myung Soo sontak menjatuhkan jemarinya dan menarik mundur tubuhnya dengan muka memerah padam.

Keduanya terdiam, masuk ke dalam keheningan yang cukup canggung. Soo Jung melahap es krimnya dengan cuek, sesekali ia akan terkikik kecil saat mengingat wajah malu Myung Soo. Sementara sang lelaki hanya bisa menunduk dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, masih merasa kikuk setelah niatnya untuk melakukan adegan-adegan romantis dapat ditebak oleh Soo Jung dengan mudahnya.

“Kau mau bilang apa tadi?” Soo Jung tiba-tiba saja membuka suara, memecahkan kesunyian yang ada. Myung Soo mengangkat kepalanya dan mendapati manik hitam Soo Jung tengah terarah kepadanya. Secercah rasa keingintahuan tersirat jelas di baliknya.

“Itu… Soo Jungie… apa kau mencintaiku?”

Segera setelah pertanyaan itu meluncur keluar dari bibirnya, Myung Soo menepuk jidatnya dan mulai merutuki dirinya sendiri. Sungguh, Myung Soo sama sekali tidak bermaksud untuk mempertanyakan keseriusan Soo Jung dalam menjalani hubungan ini, pun menyinggung perasaan gadisnya. Ia hanya ingin tahu, ingin mengerti bagaimana isi hati Soo Jung sebenarnya.

“Tentu saja. Kalau aku tidak mencintaimu, buat apa aku menerima dirimu sebagai kekasihku, Tuan Kim?”

“A-aku tidak bermaksud meragukan hatimu kepadaku, tidak! Tetapi kala itu, kau baru saja ditolak oleh Min Hyuk. Kemudian aku malah menyatakan cinta dan… taraaa! Tiba-tiba saja kau menerima perasaanku.”

Alis Soo Jung bertaut, namun ia dapat sepenuhnya memahami apa makna dari pernyataan Myung Soo barusan. Memang terdengar sedikit tidak masuk akal. Soo Jung bisa melupakan perasaannya pada Min Hyuk dalam waktu kurang dari seminggu, kemudian esok harinya ia sudah mulai menumbuhkan bibit-bibit cintanya pada Myung Soo.

Tetapi, sejak kapan pula ada sebuah hubungan cinta yang rasional? Kau bisa tiba-tiba saja menyukai orang yang kaubenci, kau bisa jatuh hati pada seseorang yang baru pertama kali kaujumpai, dan bahkan kau bisa melakukan hal-hal bodoh yang mengatasnamakan cinta. Semua itu mungkin terjadi. Sama sekali tidak ada batasan atau aturan-aturan yang mengikat di dalam hal ini.

“Entahlah, Myung. Yang kutahu hanyalah satu. Melihatmu yang mau menghiburku dengan tulus pada hari itu telah membangkitkan sesuatu di dalam sini. Debaran itu muncul begitu saja, tanpa pertanda maupun peringatan. Itu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan,” jelas Soo Jung seraya mengangkat bahu.

“Kalau begitu, seperti apa cintamu padaku?”

“A-apa?”

“Seperti apa cintamu kepadaku, Soo Jungie? Kita sudah saling mengenal sejak kecil. Setengah dari masa-masa itu kuhabiskan untuk mengagumi dan mengenal segala kepribadianmu, setengahnya lagi kuhabiskan untuk mencintaimu secara sepihak. Kautahu seberapa besar aku menyayangimu. Lalu, bagaimana denganmu?”

Soo Jung mengerutkan dahinya, berpikir sejenak. Telunjuknya mengetuk-ngetuk ujung dagunya dengan irama teratur, pikirannya melayang untuk merangkai kata-kata yang tepat demi menjawab pertanyaan Myung Soo.

“Aku tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara apa….”

“Ceritakan saja. Cari perumpamaan atau semacamnya,” usul Myung Soo cepat. Ketidaksabaran mulai membayangi raut wajahnya. Ia sungguh-sungguh ingin tahu.

Tampak seperti apakah dirinya di mata Soo Jung? Apakah ia bagaikan mentari yang menghangatkan hidup Soo Jung? Apakah ia seperti es krim cokelat manis kesukaan sang gadis? Atau mungkin, ia terlihat seperti ksatria berpedang yang akan selalu melindungi Soo Jung dari bahaya?

Apa? Apa?

Apa yang akan diucapkan oleh Soo Jung untuk menggambarkan hubungan cinta mereka?

Soo Jung menutup kedua matanya, berusaha untuk menemukan satu perbandingan yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang begitu abstrak. Sesuatu yang bisa menjelaskan bahwa rasa sayangnya untuk Myung Soo sama besarnya dengan apa yang telah ia terima, sesuatu yang bisa membuat Myung Soo yakin bahwa isi otak Soo Jung belakangan ini hanyalah satu nama yang terus berputar dengan laju tetap dan tanpa jeda: Kim Myung Soo, Kim Myung Soo, dan Kim Myung Soo seorang.

Sejurus kemudian, kedua kelopak itu terbuka lebar. Soo Jung menjentikkan jarinya dengan tampang puas, membuat fokus Myung Soo langsung tertuju kepadanya saat itu juga.

“Sungguh ingin tahu?” Soo Jung bertanya dengan sikap menggoda. Myung Soo menganggukkan kepalanya, mantap.

“Seperti gema.”

Gema.

Tidak seperti yang diharapkan oleh Myung Soo.

Bukan seperti hangatnya mentari, manisnya cokelat dan gulali, lembutnya awan-awan di atas sana, atau ksatria pelindung. Bukan seperti itu. Hanya empat huruf pembentuk satu kata sederhana, satu kata yang mengandung makna tersendiri bagi Soo Jung.

“Gema? Aku tidak mengerti,” Myung Soo berucap jujur. Soo Jung mengeluarkan tawa ringannya, sebelah tangannya menangkup pipi Myung Soo dengan sentuhan menenangkan.

“Kautahu bagaimana gema tercipta?”

Myung Soo menaikkan kedua alisnya, berusaha mengingat-ingat salah satu materi pelajaran sainsyang pernah diterimanya di sekolah menengah dulu. Gema. Bunyi pantul yang terjadi ketika kita berteriak atau mengeluarkan suara yang cukup keras. Sebuah fenomena dimana suara yang dipantulkan akan sama persis dengan suara yang kita keluarkan.

“Ya. Tetapi, aku masih tidak paham.”

Soo Jung menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya kembali dalam desahan pelan. Bersiap-siap untuk merangkai sebuah penjelasan atas analogi cintanya ini. Tentu saja, Soo Jung memiliki alasannya sendiri di balik pemilihan kata itu. Ia memilih untuk menggunakan sebuah perbandingan yang unik, sesuatu yang tidak akan terpikirkan dengan mudahnya oleh orang-orang lainnya di dunia ini.

“Kau berkata bahwa cintamu kepadaku begitu besar. Di hari itu, ketika kau menyatakan perasaanmu, kau telah mengeluarkan semua isi hati yang selama ini kausimpan sendirian. Semuanya, tanpa kecuali. Anggap saja pernyataan cintamu itu sebagai sebuah teriakan maha dahsyat, suara yang akan terpantul ketika sudah mencapai tujuannya.”

“Tujuan itu… kau? Kau adalah dinding yang memantulkannya?”

“Tentu saja. Aku bukan hanya menerima cintamu, melainkan juga memantulkannya kembali. Seperti gema yang terus berdengung berulang-ulang, begitu pula perasaanku padamu. Kau memberikanku dosis rasa cinta yang cukup besar, dan aku akan mengembalikannya dalam jumlah yang sama besar–mungkin malah lebih.”

Myung Soo terperangah, tidak menyangka jika kalimat-kalimat ajaib semacam itu bisa keluar dari mulut kekasihnya. Kelegaan membanjiri sekujur tubuhnya, ciptakan sebuah senyuman manis yang tak kunjung pudar.

“Wow. Itu menakjubkan, Soo Jungie.”

“Bukankah pacarmu ini memang orang yang menakjubkan, Myungie?” Soo Jung mengedipkan sebelah matanya, kemudian bangkit berdiri, dan menyodorkan tangan kirinya pada Myung Soo.

“Sudah mau pergi?”

“Es krimku sudah habis. Dan lagi, aku mendengar ada film action yang baru saja dirilis. Mau menonton? Kali ini aku yang membayar.”

Myung Soo mengangguk cepat, jari-jarinya menelusup di sela-sela milik Soo Jung dalam satu gerakan singkat. Baru sekarang Myung Soo menyadari betapa kedua telapak tangan mereka dapat bersatu dengan pasnya–seolah mereka memang diciptakan untuk melengkapi satu sama lain.

“Myungie?”

“Hmm?”

“Jangan berhenti mencintaiku, ya?”

Myung Soo berhenti melangkah, masih membiarkan tangan mereka bertautan. Ia menelengkan kepalanya sedikit, merasa heran dengan keadaan Soo Jung hari ini. Kenapa gadisnya itu mendadak menjadi serba romantis dan pandai meluluhkan hati Myung Soo seperti ini?

“Boleh aku tahu kenapa?”

“Karena selama kau terus memberikan cintamu, maka aku juga akan terus menggemakannya. Perasaan kita akan terus berputar dalam satu lingkaran, tanpa ujung dan tanpa akhir.”

Tanpa sadar, Myung Soo mengeratkan genggaman tangannya pada Soo Jung. Menyalurkan rasa hangat yang ada; membiarkan setiap rasa, setiap debaran jantung, setiap aliran darah, dan setiap sel-sel tubuhnya meneriakkan seberapa besar rasa bahagia yang tengah ia rasakan saat ini.

“Kalau begitu, aku tidak akan pernah berhenti, Soo Jungie.”

Ya, Myung Soo tidak akan berhenti. Ia sudah menunggu selama bertahun-tahun, ia telah memperjuangkan hatinya selama ini hanya demi Soo Jung semata. Tentunya, ia tidak mungkin menyerah sekarang, bukan?

Ia akan membiarkan rasa cinta itu terus hidup. Ia akan mengizinkan gemanya mengisi hari-hari mereka ke depan, serta menghiasi hidup mereka dengan warna-warni kebahagiaan.

.

.

.

Jadi, seperti apa cintamu padaku?

Jawabannya hanyalah satu.

.

.

Gema.

Sesuatu yang tidak akan pernah berhenti selama kau tetap mencintaiku.

.

Sesederhana itu.

-END-

A/N:

Myungstal is back😄 (yeah, salahkan fikha dan zuky yang telah membuatku jadi Myungstal shipper… and I kinda like how Soo Jung called Myung Soo as Myungie here, it’s cute :3)

okaaaay, yang sering dateng ke blog-ku, pasti tahu kalau fic yang ini pernah aku kasih spoilernya disana… dan akhirnya ini bisa selesai juga :)

anyway, sedikit kepikiran buat ngelanjutin ini sebagai series… semacam Vignette Series-nya EXO, tapi ini khusus buat Myungstal… ada yang berminat di sini? Kalau iya, coba aku buat cerita lagi deh tentang kelanjutan hubungannya Myungstal ini❤

last, review please?

8 responses to “Echo

  1. Pingback: Try and Error | myungSOOjung·

  2. Pingback: Second-Lead Attack! | Little Note·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s