Try and Error

mss-try-and-error1

presented by Tsukiyamarisa

/ /  T R Y   A N D   E R R O R / /

Cast: [f(x)] Jung Soo Jung and [INFINITE] Kim Myung Soo || Minor Cast: [f(x)] Choi Jinri and [SHINee] Choi Minho || Genre: Fluff, Romance, slight!Comedy || Length: Series-Oneshot || Rating:T

Also Read:

MSS #1: Don’t Be Sorry | MSS #2: Echo

Summary:

Because every experience contain some ‘try and error’….

––MSS: Try and Error––

Kim Myung Soo, kau menyebalkan!

Soo Jung menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru halaman sekolah, mencari-cari sosok Myung Soo yang tak kunjung muncul. Jemarinya menekan tombol-tombol di ponselnya dengan tak sabaran, menunggu sang kekasih menjawab panggilannya.

Angkat, ayo angkat.

“Halo?”

“Myungie, kamu dimana?”

“A-aku… i-itu, Soo Jungie, kau sudah pulang ya?” balas suara di seberang sana dengan nada panik dan terbata-bata. Soo Jung sontak mengerutkan keningnya, bingung.

“Kenapa malah balik bertanya, bodoh? Katanya kaumau menjemputku?” decak Soo Jung seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Tidak biasanya Myung Soo menjadi pelupa seperti ini. Terlebih, ia juga bukan tipe pria yang hobi membatalkan janji secara mendadak.

“Ah, ya. Maaf, Soo Jungie. Aku sedang ada urusan penting hari ini. Tidak apa-apa ‘kan kalau kaupulang sendiri?” Myung Soo balik bertanya dengan nada memelas. Soo Jung menghela napas panjang, sedikit rasa kecewa menelusup di hatinya.

“Benar-benar sibuk?”

“Maaf, Soo Jungie. Aku akan menemuimu besok, ya?”

“Oke.”

Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Soo Jung segera memutuskan sambungan telepon. Mood-nya memburuk seketika itu juga, ekspresi wajahnya mendadak muram. Kalau boleh jujur, ia rindu pada Myung Soo. Mereka sudah tidak bertatap muka selama tujuh hari lamanya––hal yang cukup aneh jika mengingat letak rumah mereka yang bersebelahan. Memangnya, kesibukan macam apa yang sedang Myung Soo lakukan, sampai-sampai ia tak lagi punya waktu untuk menemui Soo Jung?

“Soo Jung-a! Kau belum pulang?”

Soo Jung menoleh malas-malasan, mendapati sosok Jinri yang sedang berlari kecil ke arahnya. Teman sebangkunya itu berteriak girang, kedua lengannya terayun untuk merangkul Soo Jung erat. Senyum lebar terkembang di bibirnya, sangat berkebalikan dengan suasana hati Soo Jung saat ini.

“Kenapa sih?”

“Jangan galak begitu. Mana Myung Soo? Kukira ia akan menjemputmu.”

“Tidak jadi. Ia sibuk,” Soo Jung menjawab sekenanya, membuat mata Jinri membelalak seketika.

“Tidak jadi? Lalu bagaimana dengan rencanamu?”

Soo Jung mengangkat kedua bahunya, menolak untuk berkata-kata atau menjelaskan lebih lanjut. Suasana hatinya sudah dirusak oleh percakapan singkat dengan Myung Soo barusan. Padahal, ia sudah mempersiapkan begitu banyak hal untuk merayakan hari ini. Hari dimana ia sudah menjadi kekasih seorang Kim Myung Soo untuk seratus hari lamanya.

Soo Jung tahu kalau hubungan mereka memang tidak bisa dibilang normal. Mereka bukanlah jenis pasangan yang saling memuji atau melontarkan kata-kata manis, ungkapan cinta pun nyaris tidak pernah terucap. Meskipun begitu, Soo Jung tetap menyukai Myung Soo secara apa adanya. Ia tidak butuh rayuan atau hubungan yang mesra seperti cerita drama, ia hanya butuh kehadiran Myung Soo di sampingnya.

Dan hari ini, untuk sekali saja, Soo Jung ingin mencoba untuk bertingkah sebagaimana gadis-gadis lainnya. Ia ingin menyiapkan sebuah kejutan untuk Myung Soo, memberi tahu pemuda itu bahwa ia tidak pernah menyesal karena telah menerima perasaan Myung Soo. Bagi Soo Jung, memberikan hatinya kepada Myung Soo adalah hal yang dapat ia lakukan semudah bernapas. Seolah-olah mereka memang ditakdirkan untuk selalu hidup berdampingan sejak kecil hingga sekarang.

“Jadi… bagaimana?” cicit Jinri dengan suara pelan, takut jika pertanyaannya malah makin memperkeruh suasana.

“Mungkin aku harus membobol pintu rumahnya secara paksa,” sahut Soo Jung cepat sembari mengangkat bahunya dengan tak acuh. Ia berjalan menjauh dengan langkah-langkah lebar, meninggalkan Jinri yang masih terdiam dengan mulut terbuka lebar. Terkadang, Soo Jung yang polos bisa terlihat begitu mengerikan di saat sedang marah.

 “Anak itu tidak mungkin serius, kan?”

***

Jinri boleh saja menganggapnya bercanda, namun Soo Jung benar-benar serius saat ia berkata akan ‘membobol pintu rumah’ Myung Soo.

Tidak, tidak. Jangan kira Soo Jung akan meloncati pagar rumah Myung Soo dan membuka pintunya secara paksa dengan menggunakan peralatan canggih seperti di film-film detektif atau action. Ia tidak melakukan semua itu.

Yang dimaksud membobol disini adalah berkunjung ke rumah Myung Soo tanpa pemberitahuan dan setengah memaksa Nyonya Kim agar mengizinkannya bertandang hingga larut malam demi menunggu kemunculan batang hidung Myung Soo. Oh ya, jangan harap pria itu bisa kabur begitu saja tanpa penjelasan. Soo Jung butuh satu alasan yang bisa diterima nalarnya. Pekerjaan macam apa sih yang telah membuat waktu mereka bersua menjadi berkurang drastis seperti ini?

“Kalian bertengkar?”

Soo Jung nyaris saja tersedak teh hangat yang sedang disesapnya kala mendengar pertanyaan bernada khawatir itu keluar dari bibir Nyonya Kim. Ia buru-buru menggeleng cepat, membantah pernyataan ibu Myung Soo tersebut.

“Tidak. Kami hanya….” Soo Jung menggantungkan ucapannya, ragu. Hanya apa? Ah, dia sendiri bahkan tidak paham dengan apa masalah mereka sebenarnya.

“Myung Soo juga jarang menemuimu akhir-akhir ini, ‘kan?”

Eumm… begitulah. Apa Bibi tahu, apa yang kiranya sedang ia lakukan?”

Nyonya Kim menepuk-nepuk pundak Soo Jung lembut, berusaha meredakan kekhawatiran gadis itu. “Aku tidak tahu. Tetapi, Soo Jung-a, kau tidak perlu berpikir yang bukan-bukan. Mungkin Myung Soo sedang benar-benar sibuk. Ia tidak mungkin mengkhianatimu dan menggoda gadis lain, kok. Percaya saja padanya.”

Soo Jung tertegun mendengar nasihat tersebut, pikirannya melayang ke berbagai prasangka buruk yang sempat ia ciptakan. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia memang sempat berpikir demikian. Myung Soo mungkin saja bosan dengannya, Myung Soo mungkin ingin berpacaran dengan gadis yang lebih lembut dan bisa diajak kencan romantis, Myung Soo yang tidak lagi menyukainya…..

Tidak! Hentikan!

Nyonya Kim benar. Tidak seharusnya Soo Jung berpikir demikian. Ia sudah mengenal Myung Soo sejak kecil––hampir seumur hidupnya malah. Lalu sekarang––di saat kepercayaannya sedang diuji––kenapa Soo Jung tidak bisa tetap bersikap optimis dan percaya sepenuhnya pada pria itu?

Uh, apa dia sudah menjadi pacar yang baik selama ini?

Mungkin tidak.

Soo Jung tersenyum kecut, tangannya tanpa sadar memainkan ikatan pita yang menghiasi kotak putih di pangkuannya. Saat ini, yang ia inginkan hanya satu. Bertemu Myung Soo dan memberikan hadiah spesial ini, juga memberitahu pria itu seberapa besar rasa rindu yang kini tengah mengendap di dalam dadanya.

Soo Jung rindu Myung Soo.

Senyumnya, cara dia tertawa, genggaman tangannya, obrolan tidak penting yang mereka bagi, hingga semua ejekan yang sering mereka lontarkan––Soo Jung merindukannya. Sangat.

“Ini sudah jam sebelas malam, Soo Jung-a. Kauyakin akan menung–“

“Aku pulang!”

Soo Jung menoleh cepat ke arah pintu depan, maniknya menangkap sosok Myung Soo yang sedang sibuk melepas sepatu. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya seraya menghela napas lega, tampak lelah sekaligus senang pada saat yang bersamaan.

“Myungie….”

“Oh, ada a–” Myung Soo mendongak, dan seketika itu juga, semua kata-kata lenyap bagai ditelan angin. Kedua bola matanya melebar, kaget. “Soo Jungie? Kau sedang apa di rumahku?”

“Menunggumu.”

“Ta-tapi… bukankah besok….”

“Kalian sudah tidak bertemu selama berhari-hari, bukan? Jangan menjauhinya begitu Myung Soo-ya.Bicarakan semuanya dengan baik, oke?” ujar Nyonya Kim sembari bangkit berdiri dan berjalan menjauh, bermaksud untuk memberi mereka privasi. Soo Jung mengangguk cepat, tak lupa menggumamkan ucapan terima kasihnya kepada ibu Myung Soo.

Suasana kembali hening.

Soo Jung bisa merasakan berat yang jatuh menimpa dudukan sofa di sebelahnya, seiring dengan aroma parfum Myung Soo yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Gadis itu masih menolak menatap Myung Soo, jemarinya ia ketuk-ketukkan pada permukaan kotak putih yang berada di pangkuannya.

“Kenapa kau kemari Soo Jungie? Bukankah sudah kubilang, aku akan menemuimu besok?”

“Kau mengusirku, Myungie? Apa kau marah?”

“Bukan begitu. Aku….” Myung Soo menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus berkata apa. Ia punya alasan tersendiri, satu yang tidak bisa ia ungkapkan sekarang. Tangannya mencengkeram kantong kertas yang tadi ia bawa, takut jika Soo Jung bisa menebak isinya.

“Apa kau… bosan padaku?” Soo Jung masih menundukkan kepalanya, tidak menyadari gestur aneh yang dibuat oleh Myung Soo. Pikiran gadis itu kembali berkecamuk dengan segala hal yang terdengar memuakkan. Soo Jung tidak pernah suka berada di tengah-tengah situasi canggung seperti ini––terlebih jika orang yang menyebabkan kecanggungan itu adalah kekasihnya sendiri.

“Bosan? Tidak! Astaga, Jung Soo Jung, apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Lalu apa? Myungie, aku tidak tahu apakah kau menyadarinya atau tidak, tetapi hari ini–”

“Hari ini adalah hari dimana usia hubungan kita sudah mencapai seratus hari, aku tahu.”

Diam lagi.

Jadi Myung Soo tahu, batin Soo Jung dalam hati. Myung Soo tahu dan apa yang ia lakukan sekarang? Apakah ini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk bertengkar––tepat pada hari dimana mereka seharusnya bersenang-senang? Tentu saja tidak. Soo Jung tidak mau rencana yang sudah ia susun dengan susah payah berujung dengan kegagalan total.

Rencana harus tetap berjalan. Apapun risikonya.

“Karena itulah, Soo Jungie, sebaiknya kita bertemu esok hari saja. Ini sudah malam dan aku–”

Ucapan Myung Soo terpotong oleh kotak putih besar yang Soo Jung sodorkan tepat di depan hidungnya. Gadis itu memandang Myung Soo dengan tatapan berkaca-kaca, seolah memohon kepada Myung Soo untuk menerimanya. Ragu-ragu, Myung Soo meraih kotak itu dan menarik pita yang mengikatnya.

“Ini apa, Soo Jungie?”

Your present. Seperti yang kaubilang, ini sudah seratus hari. Aku tahu, aku tahu. Aku bukan gadis yang manis atau romantis, bahkan mungkin aku tidak sesuai dengan kriteria pacar impianmu. Namun, aku mencintaimu, Myungie. Kita mungkin sering bertengkar, tetapi untuk hari ini saja, aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda.”

Mulut Myung Soo terbuka lebar, kaget mendengar pengakuan Soo Jung yang teramat panjang. Dengan hati-hati, ia membuka tutup kotak putih yang tadi diberikan oleh Soo Jung. Sebuah kue cokelat dengan tulisan “Soo Jungie & Myungie” tergeletak manis di dalamnya, membuat napas Myung Soo tercekat oleh rasa haru.

“Kau….”

“Aku membuatnya sendiri, Myungie. Sungguh.”

Satu lagi kejutan untuk Myung Soo. Sepengetahuannya, Soo Jung sama sekali tidak pernah berurusan dengan dapur dan urusan masak-memasak. Detik itu juga, pemahaman pun meresap ke dalam benak Myung Soo. Pantas saja Soo Jung begitu ingin untuk bertemu dengannya, bahkan bisa dibilang sudah setengah memaksa. Gadisnya itu pasti telah berjuang keras untuk menyiapkan kue cokelat ini.

“Terima kasih. Aku….” Jeda sejenak. Myung Soo menarik napas dalam-dalam, sebelah tangannya terulur untuk menggenggam milik Soo Jung erat-erat. Ya, Myung Soo tahu persis jika tindakan semacam ini selalu sukses dalam meluluhkan hati seorang Soo Jung. “Aku mencintaimu, gadis bodoh. Aku yang menyatakan cinta kepadamu terlebih dulu, mana mungkin aku mengingkari kata-kataku sendiri?”

“Tapi–”

“Tidak ada tapi. Aku mau mencicipi kue ini sekarang. Dan kau, berhentilah bermuka masam. Sudah seminggu ini aku tidak melihatmu, kaupikir aku senang jika disambut dengan wajah mengerikan seperti itu? Tersenyumlah.”

Soo Jung mengangkat kepala, pupil matanya mengikuti tubuh tegap Myung Soo yang sedang mengambil pisau roti, garpu, dan piring kecil di meja dapur. Tanpa disadari, secercah senyuman pun mulai nampak lagi di bibirnya. Kim Myung Soo sialan! Bagaimana sih cara pemuda itu mengambil alih kendali hatinya seperti ini?

“Jangan senyum-senyum sendiri, Soo Jungie. Kalau ingin tersenyum, kau ‘kan bisa memberikannya kepadaku,” imbuh Myung Soo sambil mendudukkan dirinya kembali di samping Soo Jung dan mulai memotong kue cokelat buatan sang gadis. Rona merah pun seketika menyebar di atas wajah Soo Jung, malu.

“Myungie, kau menyebalkan! Kautahu tidak seberapa besar rasa cemas yang kurasakan seminggu belakangan? Kau berutang penjelasan kepadaku!” balas Soo Jung seraya mendaratkan tinju-tinju mungilnya ke pundak Myung Soo.

“Hei… hei!”

“Kau menyebalkan!”

“Beberapa menit yang lalu kau hanya diam saja dan memasang tampang sendu layaknya anak hilang, kenapa sekarang memukuliku, hah?!”

“Beri aku penjelasan, Myungie! Cepat!”

Myung Soo masih sibuk menghindari pukulan demi pukulan yang dilancarkan Soo Jung, tercabik antara rasa gemas dan sedikit kesal. Ia selalu senang menggoda Soo Jung––terlebih jika mengingatmood Soo Jung yang cenderung naik-turun laksana roller coaster di taman hiburan. Bagi Myung Soo, melihat perubahan ekspresi Soo Jung yang terlampau drastis dari menit ke menit adalah hiburan tersendiri.

“Tidak mau! Astaga, Jung Soo Jung, kau diberi makan apa sih setiap harinya? Kenapa tenagamu kuat sekali?”

Ya!”

Soo Jung belum berhenti menyerang Myung Soo––kali ini diikuti oleh tendangan kakinya di tulang kering Myung Soo dan gelitikan jemarinya di pinggang sang kekasih. Keduanya masih sibuk berbagi teriakan dan kekehan tawa, sampai akhirnya siku Myung Soo pun menyenggol kantong kertas yang tadi ia letakkan di atas meja, sebabkan kantong itu terjatuh ke atas lantai dan terbuka lebar. Setumpuk foto yang baru saja dicetak bertebaran di sana, membuat pertengkaran kecil kedua sejoli itu terhenti begitu saja.

“Apa itu, Myungie-ya?”

Myung Soo tersentak kaget, cengkeramannya pada pergelangan tangan Soo Jung ia lepaskan begitu saja. Lelaki itu buru-buru berusaha keras merapikan dan menutupi setiap helai foto yang berserakan di atas lantai, rasa panik mulai menjalari tengkuknya. Soo Jung tidak boleh tahu… Soo Jung tidak boleh… tidak bo–

“Itu foto siapa sih?”

“Bukan siapa-siapa!” Myung Soo berteriak keras, namun ia kalah cepat dengan pergerakan tangan Soo Jung. Gadis itu sudah terlebih dahulu memungut beberapa foto yang kebetulan saja terjatuh di dekat kakinya, keningnya kini mengernyit heran.

Skak mat! Batal sudah semua rencanamu, Kim Myung Soo!

“Bukan siapa-siapa?” Soo Jung kembali bertanya dengan nada yang semakin meninggi. “Kau… kau mencetak foto-fotoku, Myungie!”

“Baiklah, baiklah! Itu kau!”

“Lalu apa maksud dari ‘bukan siapa-siapa’ tadi? Aku pacarmu, bodoh!”

“Aku panik, oke? Kau menghancurkan kejutanku dan–”

“Kejutan?”

Oh yeah, skak mat untuk yang kedua kalinya, Myung Soo!

Myung Soo mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ingin rasanya ia merutuki diri sendiri, terlebih ketika sorotan mata Soo Jung yang kelewat penasaran kini tampak begitu mengintimidasinya. Gadis itu bersedekap erat, ekspresi wajahnya kembali tak terbaca. Myung Soo mengembuskan sisa pernapasannya panjang-panjang, pasrah. Menghindar juga tidak ada gunanya lagi, bukan?

“Bukan hanya kau yang ingin mencoba bersikap manis dan memberiku kejutan dengan kue ini, Soo Jungie. Aku pun juga.”

Soo Jung masih terdiam, menunggu.

“Ini. Inilah alasanku menghindarimu selama seminggu penuh. Aku sibuk mengumpulkan semua foto-fotomu, aku sibuk menghabiskan waktuku untuk ini.” Myung Soo meraih tas ranselnya yang berada di atas sofa, mengeluarkan sebuah handmade scrapbook seukuran album foto dengan tulisan “Myungie & Soo Jungie”––hampir serupa dengan tulisan di atas kue buatan Soo Jung.

“Myungie-ya….”

“Waktuku habis untuk membuat ini, Soo Jungie. Kautahu, aku bukan jenis laki-laki yang sabaran untuk urusan seperti ini. Butuh waktu lama untuk menyusun semua itu dengan tanganku sendiri, memastikan agar semuanya rapi dan pantas untuk dikenang.

“Oh ya, satu hal lagi. Seharusnya, semua foto-foto itu akan kutempel di dalam sana. Namun, karena kau sudah terlanjur tahu, kurasa kejutanku ini bisa dibilang ga–”

Ucapan Myung Soo kembali terpotong, kali ini bukan karena gerutuan atau ungkapan protes dari Soo Jung. Gadis itu sudah menghamburkan diri ke arahnya, kedua lengan melingkar erat di pinggang Myung Soo. Aroma samponya yang khas merasuk ke dalam hidung Myung Soo, pun dengan rasa hangat yang menjalar begitu saja di seluruh sel-sel dan syaraf tubuhnya.

“S-Soo Jungie!”

“Jangan bilang ini gagal, karena aku sangat terharu mendengar semua kerja kerasmu selama ini, Myungie. Sungguh.”

Senyum Myung Soo tersungging seiring dengan ucapan yang keluar dari bibir Soo Jung, kedua lengannya kini ikut terangkat untuk membalas pelukan Soo Jung. Sebagian kecil dari hatinya merasa kecewa, tentu saja. Itu adalah suatu hal yang tak terelakkan, mengingat betapa inginnya Myung Soo melihat wajah terkejut Soo Jung kala melihat hadiahnya esok hari.

Namun, bukan berarti Myung Soo keberatan untuk merasakan pelukan dari Soo Jung atau merelakan momen langka ini terlepas begitu  saja. Rasa senang dan hangat yang tengah ia rasakan saat ini sekiranya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan kompensasi atas kekecewaan yang sempat melandanya.

Bersama Soo Jung, ia bahagia.

Semudah dan sesederhana itu.

“Kita bisa memasang fotonya bersama. Aku jadi penasaran, memangnya apa sih isi scrapbook itu?” Soo Jung menarik dirinya dari pelukan Myung Soo, kemudian mengambil buku bersampul cokelat muda yang bertuliskan namanya dan Myung Soo. Ia membuka scrapbook itu perlahan-lahan, dan matanya pun membelalak lebar tatkala ia mendapati kalimat pertama yang tertulis di atas kertas berwarna krem tersebut.

Jung Soo Jung. Aku mengenalnya sejak kecil, dan kurasa aku sudah tertarik padanya sejak saat itu juga.

 

“Dan kita akan memasang foto ini pada halaman pertama!” Myung Soo mengulurkan selembar foto kepada Soo Jung, menunjukkan seorang gadis kecil berkuncir dua yang tengah tersenyum lebar ke arah kamera. Itu adalah foto yang diambil pada hari pertama kepindahan Soo Jung ke kompleks perumahan ini.

Soo Jung hanya tersenyum simpul, kemudian beralih ke halaman kedua. Sama halnya seperti halaman pertama, kalimat yang tertulis di atas sana mampu membuat binar senang di mata gadis itu berlipat ganda.

Kalau sedang tidak galak, ia gadis yang manis.

 

Halaman tiga.

Seragam membuatnya lebih cantik….

 

Lembar demi lembar semakin terlewati.

Kurasa Soo Jung menyukai seseorang di sekolahnya. Ah, sialan!

.

 

.

Ia menerima perasaanku!

.

 

.

Apa ia tahu kalau aku sudah memperhatikannya sejak dulu?

.

 

.

“Tidak. Aku tidak tahu kalau kau adalah penggemar beratku, Myungie,” kata Soo Jung lirih seraya menutup scrapbook tersebut dan mulai melihat-melihat foto yang dikumpulkan oleh Myung Soo. Semuanya ada di sana––foto ketika ia masih kecil, saat di sekolah dasar, hingga foto-fotonya saat sudah beranjak dewasa. Myung Soo –lelaki yang sering Soo Jung anggap menyebalkan dan tidak romantis itu–ternyata benar-benar memperhatikan dirinya.

“Kau senang?”

“Retoris sekali pertanyaanmu itu.”

“Itu artinya ‘iya’ kan?”

“Tentu saja, Myungie bodoh. Si bodoh yang ternyata begitu perhatian dan bisa membuatku hampir menangis seperti ini. Terima kasih.”

Myung Soo terkekeh puas. Ternyata, kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia. Soo Jung tampaknya begitu menikmati hadiah dari Myung Soo––satu hal yang cukup untuk mengukirkan senyum lebar di bibir sang pemuda.

“Sama-sama. Jadi, sekarang giliranku untuk menikmati kue cokelat ini, bukan?” ucap Myung Soo seraya mengambil piring berisi kue yang tadi sempat mereka abaikan. Dengan penuh semangat, ia memasukkan satu potongan kecil kue ke dalam mulutnya, penasaran dengan kemampuan memasak sang gadis.

Detik berikutnya, Myung Soo nyaris tersedak dan menyemburkan kue tersebut.

Uhuk! Ya!  Soo Jungie!”

“Apa?” Soo Jung mendongak dari keasyikannya mengamati scrapbook buatan Myung Soo, lengkap dengan mata terbelalak lebar dan ekspresi setengah murka saat melihat kue yang baru saja dimuntahkan oleh Myung Soo.

“Kauyakin tidak salah memasukkan bahan?”

“Ha? Hei, aku membuat itu dengan susah payah, Kim Myung Soo!”

“Tidak percaya? Coba makan ini!” Myung Soo menyodorkan satu potong kue ke arah Soo Jung, membiarkan gadis itu merasakannya sendiri. Soo Jung menerima suapan dari Myung Soo sembari menggerutu kesal, masih tidak terima karena hasil kerja kerasnya dihina.

“Bagaima–“

Uhuk! Uhuk! Kenapa kue cokelatnya asin sekali?!”

Myung Soo memutar kedua bola matanya, geli melihat reaksi Soo Jung yang hampir serupa dengan dirinya tadi. Sudah Myung Soo bilang ‘kan, membiarkan Soo Jung bekerja di dapur adalah sebuah kesalahan besar. Bencana.

“Aku tidak berbohong, kan,” gumam Myung Soo seraya mengedikkan bahu. “Itu adalah kue teraneh yang pernah aku makan, Soo Jungie.”

Soo Jung mendelikkan matanya, tampak marah sekaligus malu pada saat yang bersamaan. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan segelas air putih ke arah Myung Soo, masih dengan ekspresi cemberut tercetak di wajahnya.

“Hei, tidak perlu sedih begitu. Anggap saja kita impas. Kau mencoba memberiku hadiah, begitu pula denganku. Dan kedua rencana kita sama-sama bisa dibilang gagal, bukan? Layaknya eksperimen di laboratorium, we try and we have some error.

Soo Jung mengangguk lesu, membiarkan Myung Soo menepuk-nepuk pundaknya untuk memberikan sedikit penghiburan. Benaknya sibuk memutar-mutar perkataan Myung Soo barusan, berusaha untuk meyakinkan diri sendiri bahwa usaha dan tekadnya selama ini tidak terbuang percuma.

It’s okay. Yang penting kita sama-sama berniat baik, iya kan?”

“Tentu,” sahut Myung Soo cepat seraya mengelus puncak kepala Soo Jung. Ia menarik kepala Soo Jung mendekat, membiarkan gadis itu bersandar di lekukan bahunya. Ah, tidak apa-apa. Meskipun rencana mereka kacau-balau, namun niat mereka tetaplah baik. Mereka ‘kan, hanya ingin membahagiakan orang yang mereka cintai. Tidak ada yang salah dengan itu.

“Myungie….”

Mmm….

“Meskipun scrapbook itu belum selesai, tetapi aku tetap mau menerimanya kok. Jadi, kau juga mau menerima hadiahku, ‘kan?” ujar Soo Jung, matanya mendadak berkilat nakal.

“Eh?” Myung Soo serta-merta mendorong kepala Soo Jung menjauh, maniknya menatap kue cokelat yang baru termakan beberapa suap itu dengan tatapan ngeri. Menerima itu maksudnya… memakan kue asin ini?!

Gadis ini sudah gila atau apa?!!

“Tidak mau!”

“Ayolah, Myungie… aku akan menyuapimu, oke?” Soo Jung langsung menyambar garpu yang tergeletak di atas piring dan mulai memaksa Myung Soo untuk membuka mulutnya. Suasana manis dan penuh haru yang sempat tercipta pun kembali pudar, digantikan dengan suara teriakan dan pertengkaran––entah untuk yang keberapa kalinya di malam ini.

“Tidak mau! Kau mau membunuhku?”

“Rasa asin tidak mungkin membunuhmu, Myungie! Kau pria sejati, kan? Ayo makan!”

“Tidak!”

“Makan!”

Hap!

 

Soo Jung tertawa puas begitu suapannya berhasil mendarat di dalam rongga mulut Myung Soo, begitu kontras dengan ekspresi Myung Soo yang tampak menderita seperti dipaksa menelan racun. Pria itu memicing tajam ke arah Soo Jung sementara tangan kanannya sudah ikut-ikutan meraih sepotong kue––berusaha untuk membalas perlakuan Soo Jung padanya, tentu saja.

Sebuah keributan yang tak terhindarkan.

“Jangan berharap kaubisa kabur, Soo Jungie!”

Ya! Aku membencimu, Kim Myung Soo!”

“Dan aku mencintaimu, Cantik!”

––end?

One week ago….

“Masukkan cokelat yang sudah dicairkan ke dalam adonan kue,” Jinri memerintah dengan nada santai, kedua maniknya tidak lepas dari sosok Soo Jung yang sedang sibuk berkutat dengan mixer.

“Tidak lihat tanganku sedang apa, Nona Choi? Memangnya kau tidak bisa membantuku?” Soo Jung membalas dengan nada jengkel. Jinri berdecak pelan, kepalanya digelengkan dengan tegas.

“Kau mau memberikan kue buatanmu sendiri kepada Myung Soo, kan? Kalau begitu, aku tidak boleh membantumu, sekecil apa pun itu,” bantah Jinri puas seraya memberikan penekanan pada kata “buatan sendiri”.

“Aku pasti sudah gila,” Soo Jung mengerang kesal, memutar mixer di tangannya dengan gerakan sedikit dilebih-lebihkan. Adonan itu sontak bergolak dan mulai menciprati dinding dapur yang berwarna putih. Jinri memekik nyaring, sementara Soo Jung hanya bisa nyengir dengan raut wajah sepolos mungkin.

“Maaf.”

Jinri menghela napas lelah, melirik kalender yang terpajang di atas meja dari sudut matanya. Ia mengalihkan pandangnya kembali ke arah Soo Jung, menepuk bahu temannya itu dengan sikap menyemangati.

“Masih ada seminggu lagi sebelum perayaan seratus hari kalian berpacaran. Ayo kita berlatih membuat kue lagi!”

***

“Yang itu terlihat bagus.”

Myung Soo menyipitkan matanya, menatap puluhan foto Soo Jung yang terpampang di layar komputernya. Sebelah tangannya menggerakkan mouse untuk memilah-milah beberapa foto yang ia anggap menarik. Kursornya kali ini mendarat di atas foto Soo Jung yang masih mengenakan seragam sekolah, dengan rambut yang jatuh terurai dan mata menerawang jauh.

“Oh, yang di sebelahnya juga! Ia cantik kalau seperti itu!”

Pletak!

Sebuah majalah tebal mendarat begitu saja di atas kepala Choi Minho, diiringi dengan pelototan kesal Myung Soo. Minho menelan ludah gugup, kedua tangannya terangkat dengan sikap defensif.

“Kau sudah punya Jinri! Pandangi saja foto-fotonya! Jangan berpikir untuk tertarik pada Soo Jungie!”

“Aku ‘kan hanya berniat membantu,” timpal Minho sembari mendengus kesal. Ia menjatuhkan dirinya di atas karpet putih yang melapisi lantai kamar Myung Soo, keningnya berkerut karena heran.

“Hei, Myung….”

Hmm?”

“Tumben sekali kau mau repot-repot memberi Soo Jung kejutan,” Minho berusaha berucap sambil lalu, tidak sepenuhnya mampu menyembunyikan rasa penasaran yang bersemayam di sana.

“Sudah berapa kali kau memberi kejutan pada Jinri? Bukankah wajar jika seorang lelaki memberi hadiah kepada pacarnya?” Myungsoo mencoba berargumen.

“Iya, sih. Tetapi, ini kau dan Soo Jung. Semua orang tahu kalau hubungan kalian sebagai sepasang kekasih bisa dibilang… err, abnormal?”

Dugh!!

Kali ini, giliran tempat pensil Myung Soo-lah yang melayang di udara dan menimpa kening Minho.

Ya! Kim Myung Soo!”

“Berani sekali kau mengatai kami abnormal, hah? Setidaknya aku lebih baik darimu yang selalu dipenuhi kata-kata gombal!”

“Itulah yang dimaksud keromantisan dalam berpacaran, bodoh! Kalian saja yang aneh!”

“Kami tidak aneh!”

Minho mengerucutkan bibirnya, jelas-jelas menolak pembelaan Myung Soo barusan. Tidak aneh bagaimana? Mereka itu adalah pasangan terunik yang pernah Minho kenal seumur hidupnya. The ice prince and ice princess. Dua orang yang sama-sama kaku jika sudah menyangkut urusan cinta.

“Myung-a, kau yakin kejutan ini akan berakhir romantis seperti yang kau bayangkan?” Minho bertanya lagi, kali ini terdengar sedikit lebih waspada. Ia tidak mau jika kepalanya terkena timpuk untuk yang ketiga kalinya.

“Yah, mencoba tidak ada salahnya, bukan? Lagipula, yang terpenting adalah niatnya.”

Huh? Niat?”

“Demi Soo Jung, aku akan melakukan apa saja. Sungguh.”

Ya, sungguh.

Karena aku adalah Kim Myung Soo––orang yang mencintai Soo Jung, baik dulu maupun sekarang.

––End––

A/N:

Ah, review please? :)

5 responses to “Try and Error

  1. Aku ngerasa beruntung banget baca cerita ini,di tengah-tengah stres karena rentetan ujian yang jadwalnya selalu berubah-ubah eh malah nemu cerita yang lucu,unik dan manis terlebih dengan cast myungsoo+soojung ^_^
    Makasih banyak ya author-nim,keep writing!

  2. ternyata ini sequel dari don’t be sorry sama echo ya? baca ini ketawa-tawa sendiri😀 mereka emang pasangan abnormal yang kelihatan cocok kalau bersama :3
    sequel lagi dong?😀

  3. aaaaa x) manisnya
    sempat mikir yang aneh-aneh waktu myungsoo ngebatalin janji sama soojung.

    dan… kue yang asin? kok bisa dicampur garam? ._.a

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s