Those Confession Under The Night Sky

Those Confession Under The Night Sky

thoseconfessionunderthenigghtsky

A Script by:

Mizuky (@qy_zu)

 

|| Duration: Vignette | Main Cast: Kim Myungsoo, Jung Soojung | Genre: Fluff, Romance, Teen | Rating: G ||

Summary:

Aku tak tahu tentang perasaan apa ini, tapi aku berani bersumpah bahwa aku menyukaimu, perasaan suka seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, Jung Soojung.

.

.

.

Soojung’s Point Of View.

 

Malam itu terasa begitu dingin ketika kurasakan embusan angin malam perlahan membelai kulitku. Kulihat kepulan asap yang keluar dari mulutku yang berasal dari sisa-sisa pembuangan proses asimilasi. Sebentar, kugosokkan kedua telapak tanganku untuk mendapatkan rasa hangat. Meski diriku sudah memakai sweater yang cukup tebal, tak ayal rasa dingin ini begitu menusukku sampai ke persendian.

Aku bergeliat tak nyaman di atas sebuah kursi kayu. Aku sedang berada di teras rumahku, menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa lama sekali ke rumahnya hanya untuk mengambil sebuah gitar saja? Padahal jarak rumah kami hanya dipisahkan dua rumah saja. Cukup dekat, bukan? Bisa dibilang aku sangat gusar malam ini. Mengingat bagiku malam ini adalah malam terpenting.

 

Kulihat paparan sinar rembulan yang cerah dan taburan jutaan bintang berkelip di atas sana. Indah. Siapapun orang yang melewatkan hal ini, dia pasti akan menyesal seumur hidupnya—pikirku.

“Lama sekali sih orang itu!” gerutuku. Sudah lebih dari lima menit yang lalu ia meninggalkanku sendiri seperti orang idiot. Bagaimana tidak idiot kalau aku terus menggerumel dan melayangkan berbagai umpatan yang kutujukan padanya. Menyebalkan. Dia seharusnya tahu kalau aku tidak akan pernah suka untuk menunggu.

 

Atau ini hanyalah efek dari ketergusaranku?

 

Pokoknya, aku akan membunuhnya jika sampai pada hitungan kelima dia tidak muncul juga. Apakah dia tidak tahu kalau aku sangat menanti-nanti malam ini? Benar-benar menyebalkan!

Dan aku pun mulai menghitung…..

 

Satu.

 

Dua.

 

Tiga.

 

—tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

 

Empat.

 

—dia masih tak muncul juga.

 

Empat setengah.

 

—laki-laki itu benar-benar ingin kubunuh rupanya. Aku harus memarahinya besok.

 

Lima.

 

Aku menatap diam jalan di depanku yang terlihat sepi. Aku lalu menghela napas panjang dan sekuat yang aku bisa. Sepertinya benar apa kata temanku… seharusnya aku tak pernah berharap terlalu banyak kepadanya. Apanya yang ‘Aku suka padamu’?!  Dia hanya membual. Uh, aku benar-benar sebal terhadapnya. Soojung, dia tak pernah menyukaimu! Tidak selama dia masih menjalani hubungan dengan mantannya dulu.

Tak terasa air mataku mengalir pelan menuruni kedua cekungan pipiku. Perasaanku sesak tak terhingga. Mengapa hanya aku yang memikul perasaan cinta yang ‘bertepuk sebelah tangan’ ini? Terlalu tak adil ketika dia— yang secara tidak langsung—memberikanku secercah harapan yang begitu indah. Aku tak dapat menerimanya.

Kutarik napasku dalam-dalam dan mulai menghembuskannya. Mungkin inilah yang dinamakan putus harapan. Mungkin inilah ketetapan-Nya. Aku dan dia tidak mungkin bersatu. Aku memang harus membunuh dalam-dalam perasaanku ini.

Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Percuma untuk menunggunya lebih larut lagi. Aku tak bisa membiarkan hatiku bertambah nyeri dengan perasaan-perasaan yang tak menentu. Ada kalanya aku benar-benar membencinya, namun ada pula saat-saat di mana diriku sangat berharap dia hanyalah tercipta untukku. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi cinta memang buta.

 

Mulai detik ini aku akan melupakannya.

 

“Soojung!”

 

Apa? Apa aku berhalusinasi mendengar suaranya?

 

“Soojung, maaf aku lama kembali.”

 

Benar, itu adalah suaranya. Apa dia ada di belakangku sekarang?

Pada detik itu, aku mengingkari janji yang telah kubuat.

 

“Maaf sekali aku lama ke rumahmu. Ibuku tadi meminta tolong sebentar untuk mencarikan kucingnya yang ternyata hilang di gudang. Maafkan aku.”

 

Lagi-lagi dia harus membuatku menangis. Kenapa aku mudah untuk menangisinya? Masih banyak laki-laki yang lebih tampan darinya, tapi mengapa harus dia yang terus kutangisi?

 

“Soojung, kau marah kepadaku? Maafkan aku ya sudah membuatmu lama menunggu.”

 

Ya, aku marah kepadamu, Kim Myungsoo! Tega-teganya kau mempermainkan perasaanku seperti ini!

 

“Soojung, maafkan aku. Jangan marah kepadaku. Jung Soojung, ayolah….”

 

Aku kemudian memilih untuk mengalah dan berbalik berhadapan dengannya, namun aku masih menolak untuk bersua pandang dengan kedua bola mata indahnya. Aku sudah berusaha mati-matian untuk menjaga kedua pundakku agar tak kentara bahwa aku sedang menahan tangis. Aku masih memiliki gengsi yang tinggi untuk tidak menunjukkan kelemahanku padanya.

 

“Soojung, aku tahu kau benci untuk menunggu. Kumohon, jangan marah kepadaku.”

 

Aku memang benci untuk menunggu. Tapi, menunggu adalah temanku selama aku memiliki perasaan ini terhadapmu, Myung.

 

“Kau menangis?”

 

Kudengar dan kulihat langkah kakinya yang mendekatiku. Aku mundur selangkah, berusaha untuk memperlebar jarak kami. Aku mengusap air mataku, lalu dengan berani kudongakkan kepalaku untuk bertatapan dengannya.

 

Ha? Menangis? Menangis karena apa? Aku tidak menangis. Aku hanya mengantuk,” kilahku. Aku was-was menunggu reaksi darinya. Kulihat dia diam sejenak. Entahlah, aku sangat berharap bahwa dia akan memercayai omonganku.

Lalu, dia tersenyum lebar sambil mengusap tengkuk lehernya. Dan sempurna untuk membuatku membelalakkan kedua mataku.

“Haha, untunglah kau tidak menangis. Karena aku paling tidak suka melihat perempuan menangis. Ayo, kita lanjutkan kebiasaan kita. Kebetulan aku sudah membawa gitarku.”

Yang dimaksudnya dengan kebiasaan adalah: kami saling bernyanyi, tertawa, bercerita bersama di bawah langit malam dengan gitar kesayangannya yang selalu setia menemani setiap perbincangan kami.

 

***

 

“Hey, Myungsoo. Kau sudah paham tentang soal matematika tadi, ‘kan? Jangan sampai nilaimu jelek lagi dan mengadu kepadaku kalau kau dimarahi oleh orang tuamu.”

Myungsoo lalu menghentikkan permainan gitarnya. Ia menatapku, dan kemudian tersenyum malu. “Ya apa boleh buat. Habis aku sama sekali tidak paham dengan apa yang diterangkan guru tua botak itu. Aku baru paham setelah kau yang menjelaskannya padaku.”

Huh, bersyukurlah kau memiliki teman baik sepertiku yang siap membantumu selalu. Coba kau bayangkan kalau tidak ada aku, kau mungkin akan terus dimarahi orang tuamu,” ujarku. Lalu aku melahap kembali satu keripik kentang rasa balado yang disuguhkan oleh salah satu pembantuku.

“Yah, tapi kalau aku boleh minta aku lebih suka jika memiliki teman perempuan sebagai tetangga sekaligus teman sekelasku yang cerdas dalam penampilan dan pelajaran.”

 

Uhuk.

 

Aku tersedak. Apa maksudnya tadi? Sialan, dia menyindirku.

 

“Ya sudah, pulang sana! Aku juga tidak mau memiliki teman laki-laki sebagai teman sekelas sekaligus tetangga rumahku yang suka sekali mengomel ini itu seperti banci.” Aku siap meledak, dan melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah.

Baru tiga langkah, ia sudah menahan lenganku.

“Jangan begitu, aku hanya bercanda tadi. Duduklah dulu. Sayang kalau kau melewati pemandangan yang indah ini.” Dia melihat ke arah langit—yang kemudian diikuti olehku. Benar, langit sangat indah malam ini. Akan sangat disayangkan kalau aku melewati pemandangan langka seperti ini. Oleh karenanya aku kembali ke tempat dudukku walau masih sedikit dongkol.

 

Hening lama pun menyelimuti kami. Dia sibuk dengan gitarnya, dan aku sibuk dengan pikiranku.

Bagus. Suasana sudah mulai canggung. Sebenarnya, aku berniat untuk mempertanyakan perihal kata-katanya kemarin, sesuai saran teman-temanku. Beberapa minggu—atau mungkin bulan—ah aku sudah lupa tepatnya kapan ia mengatakan hal itu, tapi dia berkata bahwa dia menyukaiku.

Aku tersenyum seperti orang kolot saat itu.

 

“Myung. Myungsoo….”

 

Dia melihat ke arahku.

 

Sialan, kenapa pula dia harus menatapku? Kenapa jantung ini berdegub semakin kencang saja sih? Ayo, Jung Soojung kau pasti bisa! Inilah kesempatannya. Kau harus mengatakannya.

 

“Aku ingin bertanya padamu. Boleh?” Aku takut-takut menatapnya. Refleks, aku mengambil air putih dan meminumnya dua kali teguk. Kuambil satu keripik kentang sebagai kamuflase akan kegugupanku.

 

“Boleh. Kau ingin bertanya apa?”

Baiklah. Aku sudah siap untuk memulainya. Aku sudah siap akan takdir neraka atau surga yang akan kudapatkan nanti.

“Dulu, kau pernah bilang kalau kau menyukaiku. Apa artinya itu, Myung? Jujur saja itu sangat menggangguku. Terlebih saat itu kau sedang menjalin hubungan dengan Medina. Yah kau tahu ‘kan perasaan perempuan itu seperti apa….” Kuberanikan diri untuk menatapnya. Dia termenung dan langsung menaruh gitarnya di samping dirinya dan menyenderkannya ke dinding.

“Oh, jadi itu alasan mengapa kau seperti menjauhiku beberapa hari ini. Terus terang saja, aku memang menyukaimu. Aku suka saat aku bisa bebas menjadi diriku sendiri karena ada di dekatmu. Kau bisa mengeluarkan jati diriku, dan aku senang bisa bergaul denganmu. Saat bersamamu, aku bebas untuk meluapkan apa yang sedang kupikirkan. Aku merasa tak perlu untuk berbasa-basi karena kau pasti sudah tahu apa yang sedang kupikirkan. Ya, aku menyukaimu. Saat itu aku refleks saja mengatakannya, dan maafkan aku kalau itu menimbulkan suatu kesalahpahaman tersendiri karena pada saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Medina,” ucapnya yang berhasil membuatku tercengang. Dia kembali menatap langit dengan sikap yang seolah sedang mengharapkan sesuatu.

Aku tersenyum, entah untuk apa aku tersenyum. Kemudian kutatap lantai marmer putih yang sedang kupijak ini. “Ya, sejak kata-katamu itu kau seperti memberiku sebuah harapan, Myung. Aku menyukaimu—mungkin lebih dari rasa suka yang kau rasakan kepadaku. Lebih dari itu. Aku menyukaimu sebagai rasa suka antara perempuan kepada laki-laki. Aku kesal pada dirimu karena sudah membuatku berharap, tapi aku lebih kesal kepada diriku sendiri karena aku tak bisa berhenti untuk menyukaimu.”

Aku menarik napas sekali lagi, dan dia sama sekali tak menyela perkataanku. Mungkin dia tahu bahwa aku akan melanjutkan perkataanku kembali.

“Aku kesal karena aku menyukai laki-laki orang lain. Tapi, rasa suka itu sendiri merupakan hak seseorang. Kau tahu, kau benar tadi. Kau benar saat mengatakan bahwa aku sedang menangis. Ya, aku menangis sekali lagi karena harus menunggumu yang benar-benar membuatku frustrasi setengah mati. Itu semua karena aku menyukaimu, Myungsoo.”

 

Aku sama sekali tak berani menatapnya. Kalau bisa, aku mau menggali sebuah lubang yang sangat dalam dan masuk ke dalamnya karena aku sama sekali tak pernah siap untuk mendengarkan jawabannya. Uh, aku memang lemah.

Dan dia sama sekali tak memberi respons atas ucapanku.

 

“Uhm, well… itu cukup mengejutkanku. Kukira kau tidak menyukaiku karena kau terlihat cuek dan bersikap biasa saja saat bersamaku. Aku sama sekali tidak melihat adanya perbedaan antara tingkahmu terhadapku dengan laki-laki lainnya. Aku jadi bingung untuk mengatakan apa….”

Sekali lagi, kutarik napas panjang-panjang dan segera menghembuskannya sekuat tenaga. Aku benci dengan percakapan ini.

“Aku tidak apa-apa kalau kau memang tidak menyukaiku dengan perasaan suka yang sama artinya denganku. Aku akan baik-baik saja dan akan kupastikan selama kita masih satu kelas, aku masih akan dan selalu menggapmu sebagai teman baikku. Biar bagaimanapun, rasanya kesal kalau hubungan pertemanan kita yang baik ini menjadi hancur hanya karena pernyataanku tadi. Haha, sudahlah lupakan saja tentang apa yang baru saja kukatakan. Aku sendiri bingung mengapa aku mengatakannya tadi. Mungkin aku sedang nglindur. Haha, aku memang aneh….” Aku tertawa ketir dan masih tak berani untuk menatapnya. Sepertinya dia tahu bahwa pernyataanku tadi bukanlah main-main. Kalau dia tidak bodoh, seharusnya dia peka terhadap luka-luka yang terlihat jelas di mataku ini.

 

“Kaupikir nomor siapa yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pesan di ponselku? Kaupikir dengan siapa aku selalu menghabiskan waktuku bersama dengan seseorang? Kaupikir siapa orang yang selalu bisa membuatku tertawa dan tersenyum? Orang itu adalah kau. Kau memiliki pribadi yang unik. Apa adanya, terang-terangan saat berbicara, tegas, yah meski kau pendek dan cerewet tapi aku senang berada di dekatmu. Meskipun dulu aku berpacaran dengan Medina, tapi aku tak mau memungkiri kalau aku kalang kabut juga saat kau tiba-tiba mogok berbicara denganku….”

Dia memberi jeda sebentar yang semakin membuatku cemas. “Kupikir, aku juga menyukaimu, dalam arti yang sama denganmu.”

 

Mataku membulat sempurna. Aku masih menatapnya tak percaya. Aku hanya ingin menilik apa yang sedang ia pikirkan melalui kedua bola matanya. Sial, aku sama sekali tak dapat membaca perasaannya. Apakah yang kudengar barusan adalah benar? Apakah Myungsoo juga menyukaiku?

 

“Aku tak tahu tentang perasaan apa ini, tapi aku berani bersumpah bahwa aku menyukaimu, perasaan suka seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, Jung Soojung.”

 

Baiklah, aku akan meledak saat ini. Aku tak peduli akan berubah menjadi partikel-partikel kecil, tapi yang penting dia baru saja mengatakan bahwa dia benar-benar menyukaiku. Aku merasa sangat bahagia. Aku ingin bersorak, tapi rasanya pita suaraku hanya bisa mengeluarkan getara-getaran aneh, mirip seperti suara seekor tikus yang kejepit pintu gudang rumahku pada hari selasa lalu.

 

“A-apa itu benar, Myung? Kalau kau… menyukaiku?”

Myungsoo tersenyum. Oh Tuhan, Kau benar-benar membunuhku di dalam kebahagiaan yang Kau berikan kepadaku saat ini.

“Yup, aku menyukaimu. Jadi, Jung Soojung, maukah kau menjadi pacarku?”

 

Aku tersenyum, mungkin selebar tiga jari—dan aku sudah tak memedulikan tingkah konyolku saat itu. “Kau… serius? Myung, apa kau benar-benar serius akan ucapanmu? Aku… aku hanya tak ingin merasakan sakit untuk menunggu dan berharap lagi.”

Mungkin dia merasakan apa yang sedang kurisaukan saat ini. Dia tersenyum dan meraih pergelangan tanganku. Kurasakan seperti ada listrik ber-volt kecil yang sedang menyengat diriku ketika perlahan tangannya yang dingin menyentuh kulit tanganku.

Aku bahagia. Kali ini aku mengerti mengapa temanku bilang bahwa bahagia itu sederhana. Jadi inilah artinya.

“Ya, aku serius, Jung Soojung. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?” Dia mengulangi perkataannya lagi.

Aku tersenyum, lalu menarik tanganku kembali. Kulihat dia sedikit kaget akan sikapku, dan menatapku dengan pandangan…. err, resah?

 

“Tentu saja aku mau,” jawabku singkat.

 

Dan inilah salah satu jawaban yang diberikan Tuhan kepadaku. Akhir bahagia. Meski awalnya aku diliputi akan keragu-raguan, namun perasaanku terbalaskan sudah. Segala apa yang menjadi gundahku selama ini, tiba-tiba lenyap dan seakan-akan membuat tubuhku ringan seperti dapat terbang di atas awan.

Lalu, kami pun memulai percakapan kembali seperti biasa. Hanya saja ini berbeda dengan yang sudah-sudah, sebab kali ini Kim Myungsoo adalah milik Jung Soojung, begitupun sebaliknya.

 

those confession under the night sky

.

.

is

.

.

| Happy; E N D |

A/N:

HAHA /ketawa setan/ bagi Fikha, Shafira, Zola, dan Dhila nih fic yang kalian minta :p haha sebenarnya malu juga sih nuangin pengalaman sendiri buat dijadiin fic ini >.< tapi, aku terima kasiiiiih banyak banget buat kalian karena udah support aku buat nyatain perasaan waktu itu :”) aduh ga kebayang deh berapa lama aku harus nunggu lagi kalau aku ga keburu nanyain apa maksud kalimat “aku suka kamu” dari dia >.<

 

Tbh, ada beberapa scene yang aku ubah karena aku sesuain sama latar belakang di Korea. And sorry, no hug nor kiss ok :p /slap/ teruuuuss yang baca ini, tolong ya jangan ngeledek atau nge-bully aku .___. aku… sejujurnya malu juga sih. Udahlah, aku gamau nyengir-nyengir ga jelas lagi.

 

Last, silahkan tuangkan pikiran di kotak komentar ya🙂 arigatou, minna-san ^^ see ya in the next fic!😉

 

 

4 responses to “Those Confession Under The Night Sky

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!
    Ini asli ternyata to… oow O.o wuah ga bisa komen apapun kecuali senyum2 gaje..
    Dan um, mau tanya srluruh fic nya sama persis sama adeganmu? Cieeeew cieeee cieeee….
    Kalo di tempatku sih cara nyurakinnya kek gini :
    Ihirrrr cekitingggg empreketek😀
    Aaaaaa!!!!! /masih gila/
    Jangan2 nama medina beneran tuuuuh.

    Masih cieee ah…
    Cieee yang adegannya mirip drakor. Ciee yang cintanya ga bertepuk sebelah tangan. Ciee yang jadian. Cieew yg jadi jung soojung..
    Cieee mana M2M nya :p
    /ini gue mau komen ceritanya apa authornya sih/

    Feelnya udah ga ke ff tapi bayangin itu adegan asli… wuah andai aku disitu pasti aku bakal jadi backgeound indah buat kalian
    /nyorakin gitu :D/

    Ahh daripada makin ngaco ini komennya mending udahan aja deh. Sekali lagi!! Ciee dan congrats yaa

  2. Atas saran dari kiyukha, aku jadi ke sini untuk baca fic Myungstal /lagi demam Myungstal😄
    Huaaa, ini based on true story? Waktu baca dari awal sampe akhir, aku ngerasain ini ada yang beda dan teennya over banget, taunya ini dari kisah nyataaaa ><
    Serius, tambah senyum gaje sendiri waktu ngeliat note-mu dan aku salut banget sama kamu yang berani nyatain perasaan, aku yakin kalau di posisi Soojung aku bakal diamin aja dan terus jadi teman biasa karena aku gak punya cukup nyali. Hufftt ….
    Oke, segini aja deh. Aku masih shock karena endingnya itu benar-benar 'sesuatu' dan ini kisah nyata. Keep writing ya~

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s