Everything Has Changed

lolo

a story by hanseora

.

.

.

Genre: AU. Sad. Hurt. || Length: -1000words || Rating: Teen || Disclaimer: The plot is mine.

***

Everything has changed for no reasons.

 

Would you tell me someday, why’d you have to go?

 

Because, I miss you so badly.

***

Hujan turun rintik-rintik. Membasahi permukaan jalan di luar sana. Udara dingin terasa menjalar hampir ke seluruh tubuh. Kepulan uap panas yang berasal dari secangkir cokelat panas, cukup menghangatkan wajahku kendati tak seberapa.

 

Kutatap lagi pemandangan yang terdapat di luar jendela apartemen. Hujan yang turun sepertinya telah menghambat aktivitas yang terjadi di luar. Perlahan kurasakan tatapanku yang semakin kosong. Aku kembali melamun untuk suatu hal yang akhir-akhir ini selalu membuang waktuku.

 

Suasana hujan yang terasa sendu, membuatku terjebak dalam perasaan rindu yang mendalam. Perasaan rinduku pada seseorang. Ia menghilang tanpa jejak, meninggalkan serpihan perih dalam hati. Entah apa aku yang begitu bodoh atau tidak, aku masih saja ingin menunggunya ‘tuk kembali.

Sama seperti saat aku menunggu hujan yang datang di musim kemarau. Suatu hal yang tak masuk akal.

 

Kini kutahu, segalanya telah berubah. Ia mungkin takkan kembali.

Everything has changed for no reasons.

 

Would you tell me someday, why’d you have to go?

 

Because, I miss you so badly.

 

I miss you, Kim Myungsoo.

.

 

Three months ago. . .

 

Kim Myungsoo, seorang pria yang selama beberapa bulan terakhir tinggal bersamaku. Tak perlu kujelaskan lagi siapa sosoknya dalam hidupku. Seorang pria dan wanita yang tinggal bersama dalam satu atap, bukankah itu sudah menjelaskan semua bahwa ada hubungan spesial yang terjalin?

Entah atas dasar apa yang membuatku memaksa Myungsoo untuk hidup bersama menemaniku di dalam apartemenku yang sederhana ini. Apa mungkin ini semua karena sikapnya yang membuatku selalu merasa aman ketika berada di dekatnya, sehingga aku dengan mudah berkomitmen dengan pria itu, untuk tinggal bersama layaknya sepasang suami-istri. Dan kami pun telah sepakat agar tidak melebihi batas.

Awalnya terasa indah. Myungsoo selalu bisa membuatku merasakan bagaimana kebahagiaan yang selama ini seolah lenyap dari hidupku. Ia sebenarnya bukanlah tipikal pria yang romantis dengan segala perilaku manisnya. Ia bahkan jauh dari kata itu. Myungsoo adalah seorang pria dengan segala kepolosan yang ia miliki, tampangnya yang bodoh serta perilakunya yang terkadang aneh, selalu bisa menarik perhatianku dan  menghapus kepenatan yang kurasakan.

 

Myungsoo selalu bisa membuatku jatuh cinta seakan ini adalah hari yang pertama.

 

Pernah suatu kali, ia mengajakku berdansa diiringi oleh musik yang berasal dari ponselnya. Ia menyetel musik bernuansa ballad karya Yiruma—pianis terkenal yang berasal dari Korea, negeri asalnya. Ada rasa menggelitik sekaligus terkejut saat tiba-tiba tangannya terulur untuk menarikku berdansa dalam pelukannya. Padahal saat itu aku sedang sibuk mengerjakan berbagai ilustrasi kartun demi tugasku sebagai seorang komikus.

Dan pada saat itu, aku masih ingat dengan jelas saat ia membisikkan sepatah kalimat tanya yang mampu membuatku terkekeh geli.

“Apa tokoh manga yang kaubuat lebih menarik dariku, hingga kau tak mengacuhkanku hampir satu hari penuh?”

Pertanyaannya yang terdengar tidak begitu krusial di telingaku, membuatku tak tahan untuk tidak membalasnya sambil bergurau.

“Jadi kau cemburu dengan mereka? Memang kau siapa?”

 

Tak kusangka ia akan menanggapi gurauanku dengan serius.

 

“Aku adalah milikmu dan kau adalah miliku. Kita saling memiliki seperti apel yang memiliki vitamin A, ikan yang memiliki protein dan juga pulpen yang memiliki tinta. Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan seterusnya akan mencintaimu. Kau paham?”

 

Harus kuakui, itu adalah ungkapan termanis sekaligus terlucu yang dilontarkan Myungsoo untukku. Ia berhasil membuat semburat merah tercipta dan langsung merona di kedua pipiku. Dan aku harus menahan malu saat ia menertawai pipiku yang bersemu merah layaknya buah tomat.

Dan tanpa kusadari sorotan matanya semakin dalam menatapku. Semakin dekat dan semakin dekat sampai aku dapat merasakan embusan napasnya yang memburu. Ia juga mendekap tubuhku semakin erat. Hitungan sepersekian detik selanjutnya, kumulai merasakan bibir kami bertemu. Ia mencumbuku, memberi kehangatan di tengah-tengah guyuran hujan pertengahan musim semi yang terjadi di luar.

 

 

 

Malam itu, menjadi titik awal dari takdir yang seharusnya tak terjadi.

Tanpa sengaja kesepakatan yang selama ini dibuat, terpaksa hancur lebur dalam satu malam yang terlarang. Satu malam yang seharusnya aku hindari bersamanya.

Tak apa jika semuanya terlanjur untuk terjadi. Aku masih memiliki kepastian bahwa Myungsoo pasti ingin bertanggung jawab atas semuanya. Ya, kuharap memang begitu. Namun ternyata tidak.

Ibarat benang yang kusut, beban hidup yang kuhadapi kini semakin sulit.

Myungsoo pergi dari kehidupanku. Ia menghilang dan tak kunjung kembali. Tanpa salam perpisahan, tanpa sepatah kata maaf pun.

 

Aku tak memiliki niat untuk membencinya. Karena aku tahu ini semua bukan seutuhnya salah yang ia perbuat. Ini kesalahan sekaligus dosa yang aku turut berandil besar di dalamnya. Jadi, tak sepantasnya aku membencinya dan merutukinya dengan segala hinaan kasar. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah setia untuk menunggunya kembali.

Menunggu sang Ayah dari mahkluk kecil yang tumbuh di perutku kembali padaku.

 

Tapi, sampai kapan aku harus menunggu?

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

Tanpa terasa, wajahku sudah basah dipenuhi oleh air mata. Sial, lagi-lagi aku kembali menangis karena dirinya.

Semenjak ia pergi, aku memang merasakan kehidupanku memburuk secara drastis. Karirku sebagai komikus muda harus terpaksa kutinggalkan karena depresi yang kualami. Tapi itu semua tak serta-merta mendorong niat burukku untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam rahimku. Tidak, sampai kapanpun aku akan mempertahankan bayi itu lahir. Aku akan menunggu waktu itu tiba. Meski itu artinya aku harus menanggungnya sendirian.

 

*

 

Hari semakin gelap ketika aku baru menyadari suara bel pintu masuk apartemen, menggema ke seluruh penjuru ruangan yang sepi. Lantas, tanpa pikir panjang aku segera membukakan pintu tanpa perduli siapa tamu yang datang. Mungkin ia adalah bibi Sam, si pemilik apartemen yang mengetahui keadaanku yang terpuruk ini.

 

DEG.

 

 

Jantungku mencelos saat itu juga saat mendapati sosok yang seharusnya tak muncul sedang berdiri tepat di depan pintu. Sosok jangkung itu berhasil membuatku tak bereaksi.

Aku terkejut sekaligus merasa kesal.

 

Tapi aku bisa apa selain menangis?

 

Aku hanya wanita yang lemah. Lemah karena seorang pria bernama Kim Myungsoo. Seorang pria yang selama ini telah menghancurkan hidupku menjadi lebih terpuruk.

 

Dan sekarang ia muncul di hadapanku dalam keadaan yang tak terduga lengkap dengan pakaian kasualnya yang basah kuyup karena hujan.

 

Detik selanjutnya waktu seakan berhenti bergulir saat ia mulai menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Di saat itu aku bisa mendengar suara beratnya yang kurindukan selama ini, mengalun dan berhasil menggetarkan relung hatiku.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.”

 

Ia mengulang kata maaf itu sampai tiga kali hingga aku bisa merasakan ketulusan dalam setiap intonasinya.

 

Myungsoo telah kembali dan bukankah itu yang kubutuhkan selama ini?

 

Meski segalanya telah berubah namun aku tahu pasti, sejatinya rasa cintaku padanya takkan pernah luntur sampai kapanpun.

 

Please don’t go again. Please.

 

FIN

Sebenarnya ini remake. Dan ini merupakan goodbye fic saya sebelum hiatus sangat panjang sampai bulan september nanti. Pokoknya sampai saya kuliah nanti. See you! :”)

4 responses to “Everything Has Changed

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s