[1st Winner] Runaway

runaway

 

Title: Runaway

Author: lilvitamin

Main cast: L [INFINITE] as Myungsoo or Rico & Krystal [f(x)] as herself. | Other casts was semi-fictionally made by me.

Genre: Historical!AU, Surrealism. Absurd. | Rating: G.

Summary:

Myungsoo, atau orang-orang Savona memanggilnya Rico, tidak mengerti apa tujuan Krystal mengikutsertakannya dalam perjalanan menuju benua temuan Colombo. Yang ia dapat catat hanyalah: Krystal selalu menjawab apa yang tidak dapat ia tanyakan dan bertanya apa yang tidak mampu ia jelaskan.

Disclaimer:

All casts were used without any of their permit and every events were fictionally made by me. I am not taking any profit for making this story. In other way, this fanfiction was made for participating formyungsoojung’s 2013 Fanfiction Contest; and purely for personal entertainment.

 

 

Valladolid, 20 Juli 1506.

Uh, ya, aku tidak biasa menulis dengan awalan tempat dan tanggal seperti demikian. Tapi khusus untuk hari ini, aku menuliskannya. Tentu dengan alasan: aku ingin bisa mengingat tulisanku hari ini. Tulisan tentang kepiluan hati seseorang yang merasa begitu kehilangan. Sampai sekarang aku menulis tulisan ini, aku masih terbayang oleh sahabat karibku, saudaraku, yang telah mendahului aku dan keluarganya.

Aku yakin, dunia pasti mengapresiasi penemuannya. Aku selalu berkata demikian padanya, “Namamu akan dikenang, Kawan.” Dunia akan serentak mengelukan namanya: “Cristoforo Colombo! Colombo bukan mencuri benua itu dari tangan orang-orang barbar Indian, dia menemukannya!” Aku juga percaya, suatu saat nanti mereka akan mengenang bagaimana kegigihannya memperjuangkan pendapat bahwa bumi tempat manusia berpijak ini sesungguhnya bulat. Jujur, jika Cristoforo tidak membawaku (atau tepatnya aku memaksanya) ketika ekspedisi, aku tidak akan tahu bahwasanya bumi ini bulat.

Selain Beatriz dan kedua anaknya, tentu aku yang paling terpukul. Seumur hidupku, aku hanya benalu baginya. Ia inang dan aku mengisap segala; aku selalu merepotkan keluarganya. Aku bahkan belum sempat membalas jasa baiknya. Membawa serta seorang tuna rungu dan bisu dalam penjelajahan dunia tentu merepotkan. Aku awak kapal yang paling tidak becus, diriku mengakuinya.

Hari ini, dua bulan setelah pemakaman Cristoforo yang bertempat di daerah ini, aku masih di sini. Masih tidak mengerti. Masih kebingungan ke mana aku harus pergi, arah mana utara, arah mana selatan. Tanpa Cristoforo aku bingung. Orang-orang di sini tidak berbicara seperti orang-orang di Genoa. Gerak bibirnya tidak jelas bagiku.

Mungkin aku akan pergi dari tempat ini, walau entah bagaimana caranya. Menyusup kapal dagang, menumpang kereta barang, tidak masalah. Aku ingin ke pulau suku Indian itu; menyendiri. Di sini aku hanya menyusahkan Giovanni Pellegrino. Dia banting tulang bekerja agar bisa kembali ke Savona setelah sepeninggalan Cristoforo, tapi aku hanya diam. Aku bisu, sih. Dan lagi, mana ada yang mau menerima kuli angkut sakit-sakitan sepertiku? Terkadang guyonan Giacomo benar: untuk apa aku hidup?

Ah, andai aku bisa menyalahkan takdir.

///

“Aku mau ke pulau Indian itu.”

“Untuk apa? Kau mau kita dibunuh dan dijadikan sup pembuka makan malam orang-orang barbar itu?” Giovanni masih bergerak-gerak dalam selimut karung goni bertambalnya.

“Kau segitu bencinya pada mereka? Mereka itu kalau tidak diusik tidak akan mengganggu.”

“Mereka mengganggu kita dan Cristoforo, jadi kita mengusik?”

Giovanni selalu sensitif jika kuajak bicara soal Cristoforo versus orang Indian. Lima menit kemudian aku sudah mendengar dengkuran. Aku tidak ingin tidur, walau agaknya sudah terbiasa dengan bau apek gudang pabrik yang terlantar ini.

“Gio.” Aku mengguncang lengan kurusnya. Mulutnya menggumam sesuatu tapi matanya tertutup. “Gio, aku akan ke luar. Tidak lama. Petromaksnya kubawa.”

Ia menarik selimutnya hingga ke atas kepala, mengabaikanku. Aku mengangkat bahu. Kuanggap itu iya. Maka lima menit kemudian aku sudah berada di jalanan malam kota yang masih saja terlihat asing bagiku. Orang-orang masih berlalu lalang, kebanyakan pedagang yang membawa kereta kuda masing-masing. Tempat-tempat opera juga sudah mulai berbenah. Rasanya aneh melihat gerak bibir semua orang yang tidak kukenali maksudnya. Aku seperti tersesat dan dunia menertawakanku. Aku merasa jadi badut berbenjolan merah besar di hidungnya.

Ah, ya, janjiku pada Giovanni tadi aku ke luar hanya sebentar. Kalau minyak tanah petromaks habis, aku akan menghukum diriku habis-habisan lantaran lagi-lagi aku merepotkan Giovanni.

Giovanni bekerja karena dia punya tujuan: agar punya ongkos untuk pulang. Dia punya tujuan, karena jika tidak, ia akan memilih terjun saja di tengah samudera. Bagaimana dengan aku? Di mana tempatku berpulang? Savona? Tidak mungkin, aku hanya akan merepotkan keluarga Colombo. Aku telah dibantunya kepalang banyak, maka tidak mungkin dengan kurang ajarnya meminta lagi.

Plok. Bahuku ditepuk, aku menoleh. Seorang pria berbadan gemuk, dengan roti isi daging di tangannya, mengucap sesuatu. Berpatah-patah kalimat, tapi aku tidak mengerti. Aku mengisyaratkan pada si gendut ini jika aku tidak bisa mendengar dan bisu. Air mukanya lantas masam. Ia seperti tidak suka dan, tunggu! Dia menarik kerah kemejaku kasar sekali! Matanya melotot. Sumpah, aku tidak mengerti apa yang ia bilang.

“Tunggu!” teriakanku percuma saja. Aku dicangking ke gang sempit, berbau sampah, dan rasanya aku ingin muntah. Jauh di kananku pria-pria bertubuh tambun lainnya mengerumuni seorang… wanita? Mereka seperti sedang memarahi wanita itu. Si wanita hanya diam, sesekali menengadah, tetapi pandangannya kosong.

///

“Ingat sesuatu?”

Aku mengucek mataku. Kepalaku berat sekali. Rasanya mengantuk dan aku pusing.

“Ingat sesuatu?” seorang wanita berbicara padaku. Aku hanya menggeleng. Aku bahkan tidak yakin aku mengingat siapa diriku. Hei, tunggu! Aneh adalah aku dapat membaca perkataan wanita ini, padahal aku tidak sedang di Savona. Tunggu. Ini Valladolid, memangnya?

Ia mengerutkan dahinya. Nah, aku hapal wajah seperti ini: wajah heran, tidak mengerti, tidak paham. “Aku bisu. Maaf.” Wanita itu mengangguk. “Ini di mana?” Tak kusangka-sangka, sebagai jawabannya ia beranjak, lantas membuka satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu. Dek kapal! Di luar sana ada dek kapal! Aku berada di atas kapal! Seceruk histeria sekonyong-konyong merengkuh batinku.

Sebentar. Rasanya aku pernah bertemu wanita ini sekali. Entah di mana, aku lupa.

“Kita dalam perjalanan,” rambut panjangnya berkibar diajak semilir angin menari-nari. “Perjalanan ekspedisi,” ia melanjutkan. Aku menemukan diriku memaku, bertanya-tanya pada dirinya tetapi memilih bungkam. “Kita dalam perjalanan menuju benua yang ditemukan Cristoforo Colombo!” Ia mengacungkan telunjuknya, berputar-putar mengudara tatkala berjalan riang ke kabin. Ia menjawab bahkan tanpa kutanya.

Bot usangnya mengentak di atas lantai kayu. Kupikir sepasang bot itu dua kali ukuran kakinya. “Siapa namamu?”

“Eh,” aku berusaha berdiri dengan tumpuan kakiku yang kini seperti agar-agar, lantas tertatih-tatih menghampirinya. “Eh, aku- biasanya orang-orang memanggilku Rico.” Aku berdeham, melanjutkan, “Aku teman almarhum Cristoforo.”

Ia menoleh cepat ke arahku. Dua mata sipitnya membesar. “Pasti seru punya teman seorang penjelajah. Aku dari Genoa. Kalau kau sepertinya dari…” ia memperhatikanku sejenak, mengalihkan tangannya dari setir dan mengusap dagunya, “kau bukan orang Eropa ‘kan?”

“Memang bukan. Aku sering diejek albino karena punya mata sipit ini. Aku dari Savona, tapi tidak lahir di sana. Namamu siapa, Nona?”

“—al.”

Baiklah, nama itu aneh untuk nama orang dari Genoa. Aku memberi isyarat agar ia mengulangi namanya lagi. Semakin ia mengulanginya, semakin aku tidak mengerti. Ia mencari-cari sesuatu di laci; di atas meja; di mana-mana, lalu menemukan secarik kertas dan mulai menoreh tinta di atasnya dengan bantuan pucuk bulu.

Krystal.

“Kau tidak tanya alasan kenapa aku mengikutsertakanmu dalam ekspedisiku? Biasanya orang yang kuajak akan dengan herannya, dengan alis mengerut; mata menyipit; suara meninggi bertanya: mengapa dirinya diajak dalam perjalanan ke tempat antah berantah? Tapi kau tidak begitu. Kau beda.”

Krystal masih bercerita sementara aku merasakan kejanggalan di sisi lain ceritanya. Tanganku mengamit kertas tadi sembari berpikir: ada sekelumit keganjalan menyirat, tapi aku tidak dapat menyebutkan apa perwujudannya.

“Kau dari daratan Asia, ya?” ia duduk di sebelahku, meninggalkan kemudi.

“Kau tahu Asia?” Krystal mengangguk, kemudian aku tergugu lantaran gugup. “Sungguh?” ia mengangguk lagi dan rasanya aku seperti dinamit yang akan meledak. “Aku senang sekali ada yang tahu daratan Asia. Semua orang tidak tahu Asia, jadi aku harus repot-repot menyebut Cina dulu baru mereka akan mengerti. Tidak ada yang pernah tahu aku dari Asia –karena aku memang tidak berniat menceritakannya dan mereka tidak bertanya– kecuali  keluarga Colombo, karena Tuan Domenico yang menemukanku. Aku dari, um –lebih spesifiknya, Korea.”

Lalu kami diam. Tidak ada yang berbicara. Kupikir dia tidak suka mendengar ceritaku dan menganggap aku orang bisu yang aneh karena kelewat banyak bicara.

“Aku juga dari Korea. Ah, aku dari mana-mana,” ucapnya, lalu tertawa pelan.

“Aku mengelana ke tempat yang aku mau. Aku bertemu dengan orang-orang yang tadinya tidak kukenal: orang-orang Eropa, orang-orang kulit hitam dari Afrika, orang-orang Indian juga. Aku mengajak mereka dalam perjalananku. Aku berjalan, jalan, dan jalan. Lalu aku berpikir: sepanjang apa bumi ini? Aku pernah bertemu seorang Bapa dan dia bilang bahwa bumi ini seperti sebuah jalanan panjang tanpa akhir. Tidak mungkin suatu jalan dibuat tanpa ujung; bahkan jurangpun punya dasar.

“Lalu, empat belas tahun kemarin, aku dipertemukan dengan teori Cristoforo yang mengklarifikasi jika bumi ini bulat. Aku tertarik. Seperti kata Homerus si penyair dari Yunani, manusia senantiasa menjelajahi suatu dunia yang penuh tantangan dan pengalaman baru. Aku penasaran hingga kupikir aku akan mati saking penasarannya. Aku pengagum berat teorinya.

“Dan di sinilah aku: di atas kapal, di dalam kabin, tepat di belakang kemudi, dan di sebelahmu. Mendongeng seperti tiada hari esok. Aku mengajakmu bersamaku karena…” bibirnya meringsut terkatup. Ia tidak berbicara lagi. Krystal berdiri dan berjalan menuju setir.

Yang kuingat saat itu hanya gelap. Semuanya gelap ketika masih kupandangi punggungnya. Sempat kulihat kemeja putih kusamnya membisu di depanku, lalu lentera hitam seperti menjuntai di hadapanku. Gelap.

///

Aku lupa soal Giovanni dan keluarga Colombo lainnya: Tuan Domenico, Nona Beatriz, Diego, Fernando, Giacomo, semuanya. Aku seperti hilang ingatan padahal masih jelas-jelas mengingatnya, padahal tidak mengenang lamat-lamat seperti orang amnesia.

“Jaraknya masih enam puluh tiga mil di barat laut. Perkiraan untuk sampai kira-kira tiga atau empat hari jika angin rata-rata kencang; akan sampai pekan depan jika anginnya tenang. Kau bisa baca rasi bintang?” Krystal mengalihkan pandangannya dari secarik kertas berpetak satu koma tujuh kali dua inci di depannya kepadaku.

“Eh, tidak juga. Aku sedikit tahu soal Bellatrix dan Betelguese atau semacamnya, tapi hanya sedikit! Tidak banyak, hanya sedikit.” Tangan rampingnya mendorong teropong bintang ke depan rusukku, yang buru-buru kugenggam agar tidak merangsek jatuh. “Kalau aku salah baca rasinya bagaimana?”

“Kau mengerti Betelguese, itu artinya kau tahu Orion. Bellatrix dan Betelguese itu bahunya Orion. Sekarang pergi baca sementara aku akan membuat sup!” ia berjalan pergi, bahunya menyuruk lenganku, membuatku sedikit timpang ke samping. Aku cuma mendengus, memilih berjalan ke dek kapal.

Warna oranye bergradasi dengan biru muda menyembur di cakrawala. Semburatnya menggantung, pertanda petang hendak bertandang. Aku menengadah, memperhatikan langit membiru tua. Kumulonimbus tidak  bergumul dengan sesamanya kali ini, menyisakan medan lintasannya sebersih kemeja baru.

“Kalau Orion punya bahu maka biarkan saja ia menyenggolku hingga terjerembab ke lautan,” gumamku asal. Aku menoleh ke kabin. Sekelumit bayangan Krystal mengaduk isi panci terlihat. Temaram petromaks menemani kesendiriannya. Tanganku terjulur ke atas, mengamit pangkal teropong. Yang satunya perlahan ikut bertumpu bersamaan.

Aku tidak pernah menghitung waktu atau menghitung hari apakah esok, semenjak aku mengerjap bangun di atas kapal Marianne milik Krystal. Kapal kayu berlayar satu yang tidak terlalu besar itu, untuk sebuah keterkejutanku, hanya berawak kapal aku dan Krystal. Aku hanya melakoni apa yang biasa awak kapal lakukan: menaikkan layar, mengecek koordinat dengan bantuan wanita itu, terkadang ikut membaca bintang (walau aku hanya mendengarkan ocehan Krystal, tanpa menggenggam teropong sama sekali), lalu menurunkan layar, dan sebagainya. Kemudian aku menyadari hari sudah berganti dan aku mengulang segalanya lagi di hari berikutnya.

Seperti tadi, contohnya. Setelah terbangun, aku hanya duduk terdiam di dek kapal, kemudian hari sudah mulai sore.

Desau angin merengkuh wajahku. Aku kembali mendongak, dan lentera benar-benar bukan biru lagi. Kini berganti sekelam hitam. Lalu bahuku ditepuk, aku menoleh. “Myungsoo, ayo bantu aku menaikkan layar.” Ia mendahuluiku melepas pilinan tali layar.

“Kenapa kaupanggil aku begitu?” Aku berancang-ancang melompat, tangan kananku meraih panjatan sebilah kayu bertebal hampir setengah kali tubuhku, yang kata Krystal dibuat dari mahoni.

“Karena kau memang Myungsoo.” Ia melempar rotan ke atas, yang kutangkap kemudian. “Rico hanya nama panggilan dari orang-orang di sekitarmu lantaran mereka sulit melafal nama aslimu ‘kan? Aku tidak sulit menyebutnya, jadi kau kupanggil demikian.” Krystal bersenandung pelan.

Aku telah banyak mendongeng soal hidupku padanya, ia juga begitu, walau aku yakin ia tidak menceritakan segalanya. Ia tidak bercerita tentang mengapa ia mengajakku; ia hanya menyebut sedikit tentang latar belakangnya: seperti tanah kelahirannya, keluarganya yang dirampok dan dibunuh, perjalanannya jadi penumpang selundupan di kapal dagang, hanya itu saja. Selebihnya ia mengoceh tentang koordinat peta, rasi bintang, resep sup ikan atau agar-agar rumput laut.

Anehnya, aku juga tidak bertanya mengapa.

Kepalaku meringkuk ke bawah. Terperanjat sebentar membaca gerak mengatup-membuka dari mulutnya. Bak cenayang, asal kau tahu, Krystal selalu menjawab apa yang tidak dapat kutanyakan dan bertanya apa yang tidak mampu kujelaskan.

“Pemberhentian terakhirmu di benua Tuan Colombo ‘kan, Myungsoo?”

Aku tidak menjawabnya, memilih bungkam. Krystal tahu betul obsesiku tinggal menyendiri di pulau berhak milik suku Indian itu. Lagi-lagi pertanyaan yang hendak kusembur tertahan di tenggorokan.

“Kita setujuan, jadi kau tidak perlu bertanya mengapa kau kuikutsertakan.”

Uluku mencelus. Demi Tuhan, aku baru saja hendak menanyakannya! Tiap kucoba bertanya atau sekedar menyinggungnya, aku akan—

“Kau baik-baik saja?”

—aku akan melihat kesegalaan dalam hitam yang gelap.

///

Ketika terbangun, hari itu kapal sudah terjangkar di tepian pantai dan layarnya sudah terkelim rapi. Aku mengerjap beberapa kali, payah-payah mengumpulkan tenaga untuk bangun. Sekonyong-konyong terperanjat.

Ini benua itu! Aku di tepi pulau itu!

Matahari siang itu terik, cahayanya menjabar terlampau terang dari langit. Terhuyung, aku melompat dari Marianne yang tingginya hampir tiga meter. Air laut menggenang hingga tulang keringku. Yang kulihat hanya aku dan Marianne yang bertengger manis di bibir pantai.

Kemana Krystal?

“Mencari makan?” Mungkin saja. Aku menendang-nendang air, cipratannya mampir di lipatan celanaku yang tersampir hingga lutut.  “Mencari makan dan tertangkap suku Indian?” Kemungkinan yang paling tidak ingin kumungkinkan.

Lalu tanpa sengaja mataku menilik bayangan di kejauhan –yang ternyata, setelah mataku menyipit, itu adalah Krystal dengan dua buah kelapa muda di tangannya.

“Kelapa muda.” Ia menyodorkan sebuah kepadaku. Keduanya sama-sama telah terbelah. Hanya tinggal menenggak airnya saja.

“Tadi pergi ke mana?” Aku menggerakkan bola hijau itu ke kanan kiri, mengira-ngira sebanyak apa isi airnya. Krystal masih kepalang sibuk untuk menjawab; masih menenggak air; kemudian satu matanya menyipit, memperhatikan ke dalam belahan kelapa kalau-kalau masih ada yang tertinggal.

“Mencari kelapa muda ‘kan?”

“Tidak bertemu orang-orang Indian?” Ia terperanjat, seperti kaget. Lalu aku hampir tersedak lantaran buru-buru menimang-nimang apa yang ia pikirkan. “Kenapa? Ada apa?”

“Tidak,” jawabnya, agak cepat sekian detik sebelum ucapanku berakhir. Ia malah berjalan ke utara sementara kapalnya ada di selatan. Tangannya melempar tempurung kelapa ke sembarang arah, ke arah tempat yang dirimbuni pohon-pohon besar. “Hanya sedang berpikir  apa yang akan kulakukan selanjutnya. Entah mengangkat jangkar dulu atau membeber layar.”

“Kau tidak tinggal?” Kupikir suaraku meninggi. Kupikir aku berteriak.

Pandangan kami bersirobok tatkala ia memutar badannya ke belakang. Tatapannya bak lubang hitam, aku terisap ke dalamnya. Peluhku luruh, buah kelapa hijau di genggamanku hampir meringsut jatuh.

“Aku mengubah haluan.”

“Boleh aku ikut?” Tolol. Pertanyaan paling tolol yang pernah kutanyakan pada Krystal. Tujuanku ‘kan ke sini, ke pulau ini. Aku sudah sampai dan ketika ia hendak pergi, aku meminta ikut? Tolol. Baik ia maupun aku tidak ada yang bersuara. Senyap melanda. Terik seperti tidak lagi kuhirau. Aku menunggu ia membuka mulutnya lagi, tapi agaknya malah enggan memberi barang sepatah.

Krystal tergelak. Demi Marianne, aku tidak menunggu untuk itu! Ia terpingkal hingga memegangi perutnya.

“Ini bukan benua orang-orang Indian itu, Bodoh.”

Itu menjelaskan semuanya.

“Bukan?” Mungkin aku terlihat seperti orang konyol sekarang.

“Iya, bukan.” Ia berusaha menjawab di tengah semburan tawanya. Lantas berjalan kembali ke selatan, menuju Marianne, sambil menendangi pasir. “Kau tahu, tadi aku berpikir akan meninggalkanmu di sini, lalu melanjutkan perjalananku seorang diri.”

Baiklah, ia baru saja hendak meninggalkan aku di tempat antah berantah ini.

“Karena terkadang kau merepotkan. Entahlah, kemudian kupikir meninggalkanmu di sini adalah sebuah ide buruk. Kau tidak mungkin bisa bertahan hidup.”

“Oh?” Alisku mengerut. “Jadi, kauanggap aku merepotkan dan kaupikir aku tidak bisa bertahan hidup?”

“Memang begitu.” Bibirnya menjungkit naik, tapi aku membacanya seperti seulas senyum sarkastis dan tawa meremeh yang ditahan-tahan.

“Kalau begitu pergi angkat jangkarmu dari sini dan jangan pernah kembali. Di tengah perjalanan kau tahu aku bisu dan tidak bisa angkat ini itu, harusnya kaulempar saja aku ke tengah lautan. Sampai repot-repot membuat sup ikan segala, aku sangat berterima kasih.”

Aku pergi ke arah utara lagi. Entah ke mana.

“Hei, Myungsoo.” Aku belum berjalan terlalu jauh darinya, merasakan lenganku ditarik ke belakang. Ia berbicara dengan cepat, aku berpayah-payah membaca serentet aksara yang ia ucap. “Aku bercanda, Bung. Jangan senewen seperti itu. Ayolah, Marianne menunggu kita.” Masih terselip gelak kecil yang perlahan lesap, aku melihatnya. “Kau tidak merepotkanku, sungguh. Sup-sup ikan itu gratis. Aku hanya bercanda.”

Aku ingin marah, tetapi bahkan untuk mencari-cari perwujudan sebabnya saja aku tidak mampu. Akhirnya kami berjalan bersebelahan, kembali ke kapal. Kami menaikkan layar dan mengangkat jangkar, meninggalkan pulau Kelapa tadi –disebut Krystal demikian karena di hutannya banyak pohon kelapa, katanya.

Kami duduk di dek kapal. Krystal mengamit teropong, aku hanya duduk sambil memperhatikan ocehannya lagi. Hari ini ia berkisah tentang Artemis dan Orion yang hubungannya dilarang oleh Apollo, kakak Artemis, dan bla-bla-bla.

“Orion hanya ada di awal tahun. Tidak dengan teropongpun kita bisa melihatnya.”

“Nah, sayang sekali, kita bisa melihatnya di musim semi tahun depan.”

“Aku lupa bentuk Orion bagaimana.”

Krystal berhenti menengadah ke langit yang mulai mengelam, menoleh padaku. “Cari kertas dan tinta, akan kugambarkan.”

Kemudian ia menggambar titik-titik awal di secarik kertas, lalu dihubungkannya titik-titik tadi dengan seleret garis.

“Ini Bellatrix dan Betelguese –bahunya, katamu.” Aku menuding dua titik berdampingan di sisi kanan kiri. “Cristoforo suka dengan dua bintang ini,” kenangku. Krystal menambahkan sebaris kata di bawah kedua titik tadi, menamainya.

“Kemudian, ini dia,” ia menggambar satu titik tebal, letaknya di paling bawah, “Rigel –tubuh Orion yang paling terang. Oh, jangan lupakan sabuknya. Ini yang membuat Orion terlihat gagah perkasa.” Ia terkekeh. Aku menarik bulu di tangannya, menamai sabuk Orion tadi: Alnilam, Alnitak, dan Mintaka.

“Keren.” Gumamku, membayangkan figur Orion dalam titik-titik bersambungan di cakrawala.

Deretan tinta tertoreh kembali di ujung kertas. “Doodle by Krystal, Myungsoo,” ujarnya pelan, sambil menuliskan namanya dan namaku.

“Bahasa Inggris?”

Ia mendongak, pandangan kami bersirobok kembali. “Ya, kau benar. Um, omong-omong, kau bisa menuliskan namamu dengan huruf Korea?”

“Eh, sudah sedikit lupa caranya. Tapi mungkin bisa.” Lamat-lamat kuingat huruf namaku. Myung agaknya seperti ini, lalu Soo. Aku menuliskannya di bawah namaku. Lalu aku menulis Krystal dalam huruf Korea.

“Tulisanmu gemuk-gemuk.” Cecarnya, tertawa.

“Apa tujuanmu pergi ke benua orang Indian?”

Aku menemukan ia terperenyak sesaat. Dua tangannya masih mengamit sisi tepian kertas tadi.

“Sama sepertimu. Menyendiri. Pergi dari aktivitas yang menjenuhkan.”

“Kenapa kauajak aku?”

Dua detik. Tiga, empat, lima detik terlewati kepalang hening. Kemudian, seperti biasanya, seolah aku sudah hapal runtut kejadian itu; seperti rekaman lagu yang diputar tidak berhenti; seperti semuanya telah tercatat dalam skenario, aku terjatuh. Lagi-lagi hanya hitam yang kulihat.

///

Kapal Marianne milik gadis bernama Krystal dari Genoa, entah tanggal berapa; tetapi kupastikan ini bulan Agustus 1506.

Aku menulis awalan tulisanku dengan seleret tempat dan tanggalnya kali ini, lagi. Aku ingin dapat mengingat tulisanku hari ini.

Valladolid bukan tempat yang menyenangkan. Aku tidak mengerti bahasa apa yang mereka ucap, jadi semuanya terlihat aneh. Aku meninggalkan Valladolid, ikut sebuah kapal menuju benua temuan almarhum sahabatku. Pemilik kapal –Krystal, yang mencengangkanku, bertujuan sama denganku: bertinggal di benua itu.

Maka dimulailah perjalananku dengannya.

Aku tidak bisa mengisahkan bagaimana awalnya aku bisa bertemu dengannya. Karena aku lupa. Ketika aku terbangun, aku sudah ada di kabin.

Krystal adalah orang yang baik. Dia tidak mengejekku albino atau menertawakanku karena aku bisu; sama seperti sikap keluarga Colombo terhadapku; walau kemudian spekulasiku mengucap bahwa ia hanya kasihan denganku. Krystal pandai membaca rasi bintang, jenius dalam menentukan koordinat peta, jago membuat sup ikan. Berbanding seratus delapan puluh derajat, aku malah buta ini itu.

Krystal penganut Katolik, sama seperti Cristoforo. Ia percaya jika bumi ini tidak datar, tapi bulat, demikian pula pendapat yang sahabatku perjuangkan. Sedikit banyak, aku melihat Krystal bak jelmaan Cristoforo Colombo dalam wujud lain.

Aku merindukan sahabatku. Aku rindu celoteh riang Tuan Domenico dan alat-alat pemintal wolnya; dapur-dapur wangi keju milik Bibi Susanna; guyonan Diego dan Fernando. Aku rindu keluargaku.

///

Third person’s POV.

Sebuah pelabuhan di Savona, Juni 1510.

Kapal kayu berlumut; berjamur; layarnya compang-camping itu menepi. Cat oranye yang mengelupas di sana-sini berucap dalam kebisuan, Marianne nama kapal itu. Badan lambungnya merobok dinding dermaga. Bunyi derit membuat orang-orang menutup telinga.

“Apa-apaan!” seru salah satu nelayan. Kebetulan ia berada di tepi dermaga, jaraknya cukup dekat dengan si kapal.

“Bung, jangkarmu dikemanakan?!” seru yang lainnya lagi. Bunyi derak mengacau pekerjaan bongkar muat barang dagangannya. Ia kesal, terlihat dari air mukanya.

Pelabuhan ramai yang aktivitasnya sempat terhenti sekian detik itu bagai tidak menghirau kedatangan Marianne. Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing.

“Hei, Fernando. Kapal itu aneh.” Lelaki berkemeja putih kusam; lengan kemejanya terkelim hingga siku; sekantung goni kentang terpikul di pundaknya, menyenggol lengan saudaranya. Ia menilik kapal yang dimaksudnya, yang berada jauh sementara ia di gudang bongkar muat, lima ratus meter jauhnya dari dermaga.

“Kapal apa?”

“Itu, yang baru menepi.” Ia terburu-buru menuju kereta barang yang ditarik oleh Luis –kuda jantan milik kakeknya, meninggalkan saudaranya terbingung dengan kapal aneh yang baru secara singkat didongengkan. Ada sebanyak lima kapal yang baru menepi, kapal mana yang dimaksud aneh?

“Yang mana yang aneh?” matanya semakin disipit-sipitkan. Terik menghalangi usahanya, Fernando menghalaunya dengan telungkupan tangan di atas alisnya. “Diego, yang mana sih?” keluhnya jengah pada kakaknya yang masih sibuk mondar-mandir.

“Itu!” tunjuknya. Tapi dasar memang pelabuhan sibuk, kapal yang menepi malah ada tujuh –oh, delapan, menurut hitungan Fernando barusan.

“Ah, lupakan. Nenek bisa marah kalau persediaan kentangnya tidak kunjung datang.” Ia berjalan, menyiduk lecut tergesa. “Ayo Luis, makan siang selesai.” Telapaknya mengusap poni si kuda, mengambil wadah dedak yang sudah melompong.

“Eh, tunggu!”

“Apa lagi?”

Diego menarik lengan adiknya. Memaksanya mengikuti haluan jalannya.

“Oh, sudahlah. Itu hanya kapal.”

“Marianne?” gumam Diego. Alih-alih membuat rasa penasaran lelaki berbintik pipi itu lesap, kerumunan orang di dermaga malah semakin membuatnya menjadi-jadi. Ia menepuk bahu pria di depannya, “Permisi, Pak. Ada apa mengerumuni kapal itu?”

Diego agak kaget dengan muka jengkel milik bapak tadi. Ia bertanya baik-baik dan hanya ingin tahu.

“Kapal ini tidak menurunkan jangka dan menabrak dinding-dinding dermaga. Kacau sekali,” keluhnya. “Ternyata ada orang di dalamnya. Kata orang-orang sih, dia pingsan. Jadi, kapalnya bergerak tanpa dikendalikan. Entah dari mana datangnya.”

“Di mana awak kapalnya?”

Pria berjanggut tebal itu mengacungkan bahunya. “Bukan urusanku.” Nampaknya ia terlalu kesal untuk menjawab.

“Ayolah, Diego. Kantung-kantung itu tidak berjalan sendiri.”

“Pak, permisi.” Diego menghentikan langkah seorang pria yang lain, kali ini wajahnya tidak tersisip perasaan kepalang sebal. Tapi justru malah Diego yang dibuatnya sebal lantaran pria itu tidak menggubris panggilannya.

“Diego, Nenek dan Ibu pasti –lho! Paman? Paman Rico!”

Diego langsung terperenyak. Paman itu hilang empat tahun lalu; lesap seperti asap; lenyap tidak berbau. Lalu barusan itu wujudnya muncul. Sungguhkah? Diego memutar badannya, mendapati Fernando mengejar punggung si pria.

“Paman Rico!” serunya. “Paman –eh, Paman!” keduanya melihat pamannya tersungkur di tanah.

///

Myungsoo’s POV.

Aku tidak mengerti.

Mereka memakaikanku baju putih berlengan panjang, lalu tanganku dibuat tidak bergerak. Mereka bilang aku sakit. Aku tidak mengerti.

Aku bercerita tentang aku yang berlayar menuju benua temuan temanku, mereka bilang mustahil orang bisu, tuli, buta bintang dan jalur layar, sakit-sakitan dapat mengemudi kapal. Aku mengisah tentang Krystal, mereka bilang aku membual.

Mereka bilang Marianne adalah kapal yang seharusnya hancur dan tenggelam satu setengah abad lalu. Harusnya Krystal dan segala bualanku tentang rasi Orion yang kugambar; tulisan tangan Krystal; teropong-teropong bintang itu sebenarnya tidak ada, kata mereka.

Mereka mencecar aku sinting ketika aku berteriak bahwa Marianne adalah kapal yang kutunggangi bersama si pemiliknya –Krystal.

Mereka berkisah padaku: bahwa Marianne adalah kapal milik keluarga kaya dari Amerika yang hilang parasnya seratus lima puluh tahun lalu. Bulevar samudera yang jadi pijakannya tidak terbaca lagi. Sekeluarga itu dibunuh dan dirampok, katanya, menyisakan seorang anak perempuan yang disinyalir kabur naik kapal barang.

Itu bisa saja Krystal.

Tapi, sebuah pernayataan pelik menamparku: peristiwa naas itu terjadi kala bahkan aku belum dilahirkan, tentu saja.

Aku ditinggalkan di kamar berpintu satu; berjendela satu menghadap ke tempat yang kuyakini halaman belakang panti rehabilitasi mental. Aku tidak peduli ketika salah satu dari mereka membuka pintu dan menggeser senampan makan siang ke dalam ruangan. Petugas bertopi itu menatapku sekilas; tatapan kasihan, dapat kubaca.

Tok. Jendela di belakangku diketuk. Kepalang malas kutiliknya ke belakang. Tok tok.

“Hei, Myungsoo.”

“Krystal?” mataku terbelalak, seperti hampir lepas dari cekungannya. “Kau –ini sungguh kau?”

Ia mengacungkan telunjuknya di depan mulut, isyarat untuk diam. Tangannya membuat sulur-sulur tanaman di dekat jendela yang bergumul merangsek rusak.

“Mereka tidak percaya semua tentang Marianne dan kau. Mereka menganggap aku gila.”

“Kupikir ada hal lain yang ingin kautanyakan padaku. Ada?”

Aku terpekur memandang tegel plesteran dingin di kakiku. Badanku meringsut menjauh dari jendela tempat ia bercakap saat ini.

“Ada. Banyak sekali!” sergahku. “Marianne dan semua soal dirimu. Kau siapa?”

Ia menyangga dagunya dengan setumpuan siku di bingkai jendela. Seulas senyum simpul mengembang, bersamaan dengan terebaknya rasa kecemasanku. Aku bagai aktor opera yang hapal segala seluk skenario. Aku terjatuh lagi.

///

“Ingat sesuatu?”

Aku mengucek mataku. Kepalaku berat sekali. Rasanya mengantuk dan aku pusing.

“Ingat sesuatu?” seorang wanita berbicara padaku. Aku hanya menggeleng. Aku bahkan tidak yakin aku mengingat siapa diriku.

“Aku bisu. Maaf. Ini di mana?” Tak kusangka-sangka, sebagai jawabannya ia beranjak, lantas membuka satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu. Dek kapal! Di luar sana dek kapal!

Tunggu. Rasanya aku pernah bertemu dengan wanita ini. Entah di mana, aku hanya lupa.

“Kita dalam perjalanan,” rambut panjangnya berkibar diajak semilir angin menari-nari. “Perjalanan ekspedisi,” lanjutnya. Seulas senyum riang tertoreh di bibirnya.

-e n d

18 responses to “[1st Winner] Runaway

    • Jadi gini ya, aku mau nanya deh mbak makannya apa, hore saya juru masaknya oke! /salah/

      Tadi salah fokus banget beneran, harusnya; mbak makannya apa. Soalnya ini BAGUUUUUSSSSS BANGET. Aku sampe bingung mau komen apa. Awalnya lagi iseng buka twitter dan ada fmsj lagi ngumumin pemenang, langsunggg meluncur ke sini. Akhir-akhir ini aku sering males baca fic dan selalu berakhir dengan baca setengahnya terus close tab. Tapi ini urghhhh bikin aku penasaran dan super nagih!

      Apalagi plotnya yang anti mainstream dan nama-nama OC-nya yang jarang banget bikin aku berasa dibawa ke bener-bener ke abad lain. Surrealismnya juga kerasa abis, apalagi endingnya yang sukses bikin aku bengong. Ff kamu juga sarat banget sama sejarah walaupun dicampur dengan fiksi. Scene paling berkesan ituu ya pas Myungsoo kebangun di situasi yang sama seperti sebelumnya UGH AKU SUKA DEHH POKOKNYA.

      Maaf ya kalau komennya pendek, aku on lewat hp soalnya😦 ohiya selamat karena udah jadi juara 1 cihuuuuy😀

      -xx Oliver, 98line

  1. Wah! Akhirnya di post xD
    Begitu tahu aku langsung baca, baca…, baca….

    Dan aku sukses speechless baca di titik akhir ceritanya! Ini keren banget, suer deh!😄
    Pengetahuan penulis tentang kapal dan rasi bintang itu keren banget! Baca ini berasa ikut berlayar di atas Marriane bersama MyungStal. Bahasanya cerdas tapi ga bikin bingung. Dan endingnya juga tak terlupakan. Myungsoo terbangun dan terjadi pengulangan, aura surealisme-nya kerasa. Ga heran deh, fanfic ini juara😀 Selamat ya🙂 Ditunggu karya yang lain🙂

  2. Maunya spot coz it’s lilvitamin mameeennnn. Tapi gakpapa deh, telat dikit yang penting baca.
    Ameeeelllllll, demi apa ini kalo ffnya kamu panjangin, terus kamu masukin ke penerbit, terus kamu promosiin, aku yakin bakal dihagain mahaaaaaalllll bangetngetngetnget.
    Beneran, demi apa ya, menurutku ini OSM banget. Ini tulisan yang mahal banget. Aku enggak tahu ya, tapi setelah aku baca ini tiba-tiba komen aku nguap aja. Rasanya kaya abis aus tiba-tiba langsung dikasih galon aqua. Ini baik dari bahasa, alur, tema, topik, permainan gaya, perpindahan sudut pandang, semua jos gandos, pas banget.
    Kay, mulai dari bahasa dan permainan gaya. Menurut aku kamu udah berkembang banget dari amel yang dulu ke yang sekarang. Bukannya yang dulu jelek, tapi pemilihan kata yang kamu pake itu JENIUS BANGET. Enggak berat, enggak terlalu ringan juga, enggak abal, cocok dipake sama genre-genre yang beginian. Dan mungkin aku baru bisa nangkep bisunya si Myungsoo setelah beberapa kali baca di awal, tapi overall tetep JENIUS.
    Then, kita bicara soal alur, tema, perpindahan sudut pandang, sama topik ya. Alurnya bener-bener alus banget. Dari awal smpe akhir enggak ada yang pengen aku skip karena tiap katanya bikin aku penasaran ampe tulang-tulang. Dari awal si Myungsoo masuk, kemudian Krystal, kemudian, permainan dengan tasi bintang, kemudian pulau, dan semua-muanya itu AMAZING. Tema, aku bukan orang yang suka Surrealism karena itu genre yang terlalu berat menuruku. Tapi history!AU bener-bener menangin hati aku. Dan betapa kentalnya genre HistoryAU di sini bikin aku merinding. Juga, kamu seakan enggak maksain surrealism, sehingga aku bisa sangat menikmati tulisan kamu. Kamu pinter banget dalam mengakomodir bocah-bocah dramasucker kaya aku (walaupun sebenernya aku enggak suka nonton drama tapi suka baca ff drama non-chaptered), dan di sisi lain mengakomodir juga orang-orang surrealsucker yang menurut aku juga menikmati banget tulisan kamu. Perpindahan sudut pandang enggak usah aku bahas, udah DEWA. Topik, milih perjalanan Colombus sebagai dasar ff kamu itu selagi lagi JENIUS (rasanya aku boros banget pake kata ini). Dan mungkin ini cuma aku, atau mungkin ynag lain juga ngerasai hal yang sama kaya aku. Kamu riset kan? Menurut aku penyajian ff ini nunjukin kalo kamu berhasil ngelakuin riset. Kapal, anggota keluarga Colombus, kontradiksi antara katolik dengan bumi bulat (yah, mereka yang terakhir mengakui bahwa bumi itu bulat), semua bikin aku kaya ngerasa bener-bener ada di dalam hidupnya si Myungsoo. Dan, aku enggak thu mau nomong apalagi, tapi aku musti bilang kalo ini salah satu ff terkeren yang pernah aku baca.
    Mungkin pujian dari aku enggak ada apa-apanya dibandingin sama pujian-pujian dari juri-juri yang ada di sini. Tapi mel, aku bangga banget sama kamu! Mungkin kita enggak saling kenal, mungkin kita cuma sekedar worpress buddies, tapi bagi aku perkembangan yang kamu cetak dari ff ini benr-bener bikin aku pengen nangis.
    Pokoknya, selamat, kemenangan kamu sebagai juara satu itu pntes banget. Malahan harusnya kamu juara minus sepuluh (karena satu aja enggak cukup)

    • Dan ya, aku cuma mau ngingetin kalo aku nahan enggak mencet capslock demi nulis komen dengan baik kalo enggak komen aku cuma bakal jadi
      AMEL KAMU ASDFFGHHJJKLPOIIYYTREEWQXZVXBCNCMB!?GKGEBWIHW aja

      • oke. aku speechless baca komen kamu yang kayak drabble, Na. semuanya rata kamu kasih komen.
        you know, aku malah ngirain gak pantes ikut contest ini. kamu taulah aku kayak gimana kalo nulis. selain harus balapan sama materi UAS, dan ya, kamu cenayang? aku emang ngelakuin riset, mustahil nggak riset. semua genre ini sebenernya nggak aku banget. jadi aku harus riset sana-sini. mulai dari latar belakang Colombus, etc etc.
        waktu tau kamu gak bisa ngebeta gara-gara mau UAS, aku langsung bingung gimana akhirnya fiksi ini. serius. entah dapet wangsit dari mana dan tada! jadilah ini.
        no, really, setelah aku baca sendiri fiksi ini berkali-kali, ternyata typo di sana-sini. ya sudahlah ya, hehe.
        lastly, thanks, Na, sudah ngasih review yang sekian banyak bikin aku mau nangis aja.

  3. Amel, oh Amel. Kamu tau ga aku baca ini subuh-subuh, baru aja bangun tidur, dan aku yang tadinya ngantuk seketika melek. Abisnya ini… masterpiece banget, Mel. Serius. Ini bagus (dan kata bagus itu terlalu underestimate buat fic ini) karena DUUUH AKU GA TAU HARUS BILANG APA HARUS MUJI GIMANA KARENA SRSLY INI FLAWLESS AMEEEEL ;____; aku ingat aku pernah baca fic kamu beberapa kali, dan aku langsung sadar kalau kamu udah makin hebat nulisnya. Dari segi tata bahasa, diksi dan kawan-kawannya itu udah purrrfect, mel. Dari dulu tulisan kamu udah keren beuuud dan yang sekarang… ugh Mel, kamu makin jenius aja. Aku kok jadi bangga gini ya hahaha :’)

    Demi fic ini pastinya kamu ngelakuin riset, iya ‘kan? Aku bisa ngeliat hint tentang Columbus dan ekspedisinya di sini (iya iya siapa aja juga tau kali) dan aku harus bilang apa ya Mel? Aku terpana banget sama ini. Biasanya fic history yang aku baca tentang era joseon di korea dan ga semuanya bagus (dan beberapa ada yang kepalang ngebosenin) tapi kalau ini, kamu angkat topik yang langka banget. Belum lagi surrealism-nya di sini, klop banget. Mana ada plot twist–Marianne udah separo abad ilang, keluarga Krystal dibantai, dan Krystal udah ga jelas lagi gimana nasibnya. Lalu yang ketemu sama si Myungsoo, itu apanya? Tapi itu bukan masalah penting di sini.

    Fic ini buat aku tercengang berkali-kali. Ga banyak fic yang buat aku gitu, Mel. Ini bakal selamanya aku inget dan ke depannya ini bakal aku baca ulang lagi.

    Congratz, Amel. Kamu pantas jadi juara 1.

    Proud to be your wordpress buddies, Mel. Kita emang ga pernah ketemu secara langsung tapi aku bangga betul sama kamu. Aku terharu Mel, hehe X)

  4. Wow kakak~! Cerita ini bahasanya mahal banget. Aku sukses kebingungan dan surrealismnya bener2 berhasil😀
    Gak kepikiran ya Myungsoonya bisu dan tuli TT

    Keren kak! Pantes juara 1, hehehe❤

  5. aku pusing bacanya akakak. butuh konsentrasi tinggi. mungkin aku bakal googling dulu tentang genre surealism itu apa -maklum jarang banget genrenya- trus nanti istirahat dulu. nah, kalo pikirannya udah fresh baru dibaca lagi~

    meskipun butuh konsentrasi tinggi, tapi aku suka ceritanya. soalnya harus mikir keras, jadi gak ngebosenin. contohnya hal yg harus dipikirin baik2 itu kenapa myungsoo bisu tapi orang2 ngerti omongannya. trus myungsoo tuli, tapi bisa denger cerita krystal. yah itu beberapa hal yg aku gak ngerti. nanti aku baca lagi baik2 akakak. cerita kyk gini bikin reader pinter^^

    selamat thor. terus berkarya ya^^

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s