[2nd Winner] Noised & Boboked

noised & boboked cover

Title : Noised & Boboked

Author : liakyu (Lia Agustin)

Main Cast :

Jung Soojung as Krystal Carlotte | Kim Myungsoo as Lery Landscoper/L

Genre : Fantasy, Romance, AU

Rating : PG-13

Warning : Jangan mencoba untuk menerjemahkan judul, karena kata-kata tersebut tidak akan ditemukan di kamus manapun. Cover menipu.

Summary :

Takdir itu unik. Mereka bertemu di dalam suatu ruang lingkup yang sebenarnya bisa dibilang klasik, tetapi sebenarnya tidak juga. Bisa dibilang, mereka saling membutuhkan walaupun pada awalnya salah satu dari mereka menolak.

“Kau cantik, walau tanpa hidung sekalipun…

“Bangunlah putraku..

-oo00oo-

Krystal bertopang dagu di depan kaca riasnya yang sederhana. Memperhatikan sesuatu yang berada tepat di atas bibirnya, sesuatu yang menjadi titik pusat di wajahnya karena letaknya yang tepat di tengah. Ya. Hidung. Entahlah, ia selalu merasa ada yang kurang dengan anggota wajahnya yang satu itu, walaupun ia tak pernah sekalipun meragukan kecantikannya.

Sudah satu jam ia duduk di sana. Ibunya, Madam Carlotte, memanggil anaknya untuk sekedar mandi, berganti pakaian dan turut bergabung di meja makan yang terbuat dari kayu tua bulat untuk sarapan mengawali hari.

Lima belas menit kemudian Krystal meninggalkan kamarnya, duduk di tempat yang biasanya ia duduki, mencomot roti gandum dan ikan haring ke atas piring jeraminya. Setelah membuat satu kunyahan di mulut, Krystal menengadah ke arah Madam Carlotte. Tatapannya penuh dengan keingintahuan.

“Mom, apakah hidungku terlihat jelek?”

Madam Carlotte memandangi wajah putri semata wayangnya itu setelah menaruh sosis bakarnya di tepi piring. Alisnya menyatu. “Apa maksudmu, Sayangku? Kau merasa tak percaya diri dengan bentuk hidungmu?” Wanita yang masih kelihatan muda itu menutup gigi-giginya yang mencuat dari bibirnya dengan punggung tangan. “Demi Tuhan, kau sudah cantik sekali.”

Krystal menunduk. Matanya tertuju pada ikan haring yang matanya sengaja tak dibuang, yang belum sama sekali disentuhnya. Kalau saja hidungnya bisa sedikit lebih mancung seperti ikan haring itu, pasti wajahnya akan tambah cantik lagi.

“Ah, sudahlah Mom,” katanya kemudian. “Tekadku sudah bulat. Aku akan menemui orang pintar yang tahu jalan pintas untuk memperbagus bentuk hidungku. Sampai juga nanti malam, Mom.”

Krystal menciumi pipi wanita yang telah melahirkannya itu, mengabaikan sarapannya dan keluar dari rumah. Ujung gaun selututnya yang terbuat dari katun sederhana itu ikut meloncat-loncat ketika ia semakin mempercepat langkah.

Ia tahu siapa yang akan ditujunya.

.

Dorongan tangan Krystal mengakibatkan pintu yang lapuk dimakan usia itu terbuka, menampakkan sesosok lelaki tua bijaksana yang sedang mengiris kubis merahnya. Krystal menarik sedikit ujung gaunnya, melangkahi palang-palang yang terpasang – yang berfungsi untuk mencegah air bah yang sedang rawan mewabah – dan mendekat ke arah Jard – nama  lelaki itu.

Krystal mengenal lelaki itu sebagai seseorang yang tahu segalanya. Saat dia masih lebih muda daripada sekarang, ia pernah menyembuhkan Raja Exuard – pemimpin Konstatinus generasi keempat – hanya dengan hembusan uap dari mulutnya saja. Dan itu membuatnya terkenal setengah mati, kala itu.

“Jard, ini aku Krystal.”

Jard menghentikan kegiatannya bersama kubis. Memicing dengan kacamata rantai yang tersangkut di telinganya, ke arah gadis berambut gelombang yang duduk tak jauh darinya.

“Krystal? Apa aku mengenalmu?” Beberapa helai rambut Jard yang bisa dihitung jari itu bergoyang-goyang terkena angin sepoi. Kening keriputnya menggeronyot.

Gadis muda yang berjarakkan beberapa meter darinya itu memberengut. Oh, ini pasti karena kendala usia Jard. Sekarang lelaki itu hanyalah  seorang tua yang pikun. Tapi walau bagaimanapun, Krystal percaya dia bisa mengatasi masalahnya. Sungguh ia sangat berharap. Kehebatan seseorang tidak akan luntur hanya karena ia semakin menggali usianya semakin dalam, kan?

“Hmm, ya. Kendati tidak terlalu dekat. Aku mencarimu, karena aku perlu bantuanmu.” Krystal menatap Jard penuh harap.

Jard meletakkan pisau perseginya di samping kubis yang sudah diiris rapi dan menghadapkan seluruh badannya pada Krystal. “Baiklah. Aku yakin aku mengenalmu, tetapi aku lupa,” ia berdeham, “sekarang ceritakan masalahmu. Mungkin aku bisa membantumu walau sebenarnya aku sudah ingin pensiun mengenai hal-hal seperti ini.”

Krystal merekahkan senyum penuh berterimakasihnya dan mencoba untuk mengelaborasikan kata-kata menjadi kalimat utuh yang mudah dipahami Jard.

“Aku punya masalah di salah satu bagian tubuhku.” Krystal memulai.

“Di mana?”

“Hidungku.”

“Ada apa dengan hidungmu? Jangan bilang kau tidak bisa bernapas—”

“Bukan. Bukan itu. Tapi bentuknya. Hidungku tidak terlalu mancung. Dan aku ingin kau membantuku.”

Terdengar kekehan Jard yang khas. Perutnya yang kembung itu kembang kempis. Mencondongkan sedikit badannya, matanya lebih—lebih lagi memperhatikan hidung Krystal.

“Kau cantik, walau tanpa hidung sekalipun.” Jard bergurau. Tapi sukses membuat Krystal menggigit bibir.

“Kau hanya merasa tidak percaya diri,” imbuh lelaki tua itu.

“Ayolah. Aku hanya ingin lebih cantik lagi.”

Jard hanya mengedikkan bahu, merasa sia-sia saja jika tidak menuruti gadis muda yang dia lupakan asal-usulnya itu. Lelaki itu berjalan ke sebuah lemari usang yang tinggi, membuka sebuah laci tersembunyi, mengambil sebuah botol yang sangat-sangat mini, dan kembali menghampiri Krystal.

“Ah… Krystal. Kuharap ini bisa memberikan apa yang kau mau.”

Mengamatinya lekat-lekat, Krystal menampung botol kecil itu di tangannya. “Bagaimana cara membuatnya bekerja?”

“Mudah. Keluarkan sedikit isinya di tanganmu, genggam erat-erat, ucapkan “mancunglah” maka hidungmu akan bertambah mancung beberapa milimeter. Ucapkan terus jika masih belum sempurna menurutmu. Tapi kau juga harus hati-hati.”

Krystal mengangguk-angguk ceria, tak mau lagi mendengarkan lanjutan penjelasan Jard. Ia mengorek saku gaunnya dan mendapatkan beberapa koin perunggu yang ditaruhnya di atas telapak tangan Jard. “Imbalan untukmu. Terima kasih. Kau memang yang terbaik.”

Jard mengamati punggung Krystal hingga hilang di balik pintu rumahnya yang tak ditutup kembali oleh gadis itu. “Ah, siapa gadis itu ya? Untuk apa tadi dia kemari? Kenapa pikunku semakin parah?” ocehnya pada diri sendiri dengan nada khas seorang kakek-kakek tua, mengetuk keningnya dengan jari telunjuknya yang hanya dilapisi kulit. Dirinya duduk kembali di kursi kayu dan kembali mengiris kubis merah dengan tenang.

.

Mr. Allygarkey Landscoper sangat frutasi, bahkan saking tegang seluruh syaraf-syarafnya, ia bisa saja menelan beratus-ratus pil penenang dalam waktu semalam. Mr. Landscoper kembali menolehkan kepalanya ke balik kelambu yang diikatkan di keempat tiang penyangga yang mengelilingi ranjang. Anak lelaki semata wayangnya tengah tertidur di tengah-tengah, enggan untuk mempertunjukkan reaksi bernapasnya di dalam tubuh. Lery Landscoper, atau panggilan yang dia lebih sukai, L, sama sekali belum mati. Dia bernapas, hanya saja dalam ruang lingkup yang terbatas. Ia merasakan, tapi hanya sekedar menyadari bahwa ada seseorang yang menjaganya siang dan malam. Ia tidak mendengar apalagi berbicara. Semua rakyat di Konstantinus sudah tahu itu. Bahkan hingga ke telinga Raja yang teragung.

Mr. Landscoper yang notabene adalah pedagang kaya raya di seluruh penjuru Konstantinus, pastinya tidak akan sulit untuk menemukan tenaga penyembuh yang bersedia menyehatkan kembali putranya seperti sedia kala. Tetapi, semua hasil yang didapat selalu sia-sia. Bahkan yang awalnya L masih dapat membuka mata, kini benar-benar seperti mayat dengan jantung yang berdetak.

Mr. Landscoper mengelus punggung tangan putranya yang sungguh pucat, bagai tak ada pembuluh darah di balik kulitnya. Suara Mr. Landscoper parau. Air matanya mencuat. “Bangunlah putraku…,” bisiknya lirih.

Pelayan setia Mr. Landscoper, Robert, merekomendasikan seseorang yang mungkin bisa saja menyembuhkan L. Lelaki tua yang hidup sebatang kara di pinggir hutan di kota Veliam, yang pernah menyembuhkan sakit parah Raja terdahulu, Exuard. Jard.

Mr. Landscoper setuju. Ia menyuruh Robert untuk mendatangkan Jard sesegera mungkin.

.

Malam telah tiba, dan Krystal sudah beberapa jam yang lalu sampai di rumahnya. Ia berguling-guling di kasur yang dialasi jerami di bawahnya, menggenggam botol kecil di tangan putihnya. Benaknya melayang-layang gembira, membayangkan hidungnya yang sebentar lagi akan sempurna.

Madam Carlotte berkacak pinggang di tepi ranjang putrinya. “Krystal, kau sudah menemukan cara memancungkan hidungmu?” Sungguh, ibunya itu hanya melontarkan pertanyaan yang tak serius, hanya sekedar basa-basi plus sindiran implisit. Tentu saja ia terkejut saat mendengar jawaban Krystal.

“Tentu, Mom. Aku sudah dapat caranya.” Krystal menyeri-nyerikan wajahnya, pipinya seperti diberi perona warna merah muda.

“Benarkah?”

“Ya!” jawab Krystal sembari mendudukkan posisi tubuhnya. “Aku akan makin cantik sebentar lagi.”

“Bagaimana caranya?”

Senyum Krystal nampak kian lebar saja saat ia memulai ceritanya dari pertemuannya dengan Jard di pinggir hutan. Ia yang menceritakan masalahnya dan lelaki berambut uban secara keseluruhan itu memberikannya botol kecil berisi bubuk, plus dengan cara penggunaannya.

Madame Carlotte takjub. “Oh begitu. Selamat kalau begitu. Besok kita lihat, bagaimana perubahan besar itu.”

“Tentu saja Mom.”

.

Malam merangkak menjadi pagi, di saat itulah Krystal baru akan menggunakan bubuk pengubah hidungnya. Ia duduk manis di depan kaca hias, memoleskan bedak padatnya terlebih dahulu di sekitaran kantung mata. Jantungnya berdebar, tangannya bergetar. Ia sungguh-sungguh tak sabar.

Diambilnya botol biru kecil itu di dalam saku gaun yang ia pakai kemarin. Membuka penyumbat botol, Krystal mengeluarkan bubuk yang serupa dengan remah-remah roti itu dari dalamnya. Menggenggamnya erat-erat, memejamkan mata. “Mancunglah,” ucapnya lirih.

Merasa aneh, Krystal membuka mata dan mengerjap-ngerjap. Mendekatkan kepalanya hingga hampir menempel di kaca, memelototi hidung hingga matanya serasa akan jatuh ke botol kecil yang ada di bawahnya. Hei, pertambahannya yang memang sangat tipis, atau memang tidak ada perubahan sama sekali? Seingatnya Jard pernah bilang ‘beberapa milimeter’.

Krystal menjauhkan wajahnya dari kaca. Memejamkan mata, dan kembali mengeratkan bubuk itu di tangannya. “Mancunglah.”

“Mancunglah, mancunglah, mancunglah, mancunglah, mancunglah…”

“Ck! Kenapa ini tidak bekerja?”

“…mancunglah, mancunglah, mancunglah, mancunglah, mancunglah…”

Ia terus berucap kata yang sama hingga tak bisa dihitung. Krystal yang tak menghitung lagi itu membuka matanya dan kegirangan saat tulang hidungnya mencuat lebih maju. Sempurna. Seperti ekspektasi sebelumnya, ia sangat cantik.

“Oh, terima kasih Tuhan. Ibu harus tahu ini. Semua orang harus tahu ini.”

Krystal berlari tergesa seperti telah menemukan harta karun di bawah kolong tempat tidurnya.

Madam Carlotte  yang tengah menghidupkan api di perapian langsung dipeluk oleh anak gadisnya dari belakang. Hampir saja korek yang dipakainya jatuh ke lantai jerami. Kalau sudah jatuh, gosonglah semua-semuanya.

“Ada apa, Krystal-ku?”

“Mom, lihat hidungku!”

Alis Madam Carlotte terangkat satu, tangannya yang kotor dilap-lapkannya ke serbet yang ia lilitkan di pinggang. Mencengkram pipi putrinya dengan kedua tangan tadi, matanya membulat tiba-tiba. “Ya ampun. Hidungmu bertambah mancung!”

“Betul sekali, Mom! Bubuk dari Jard memang benar-benar berguna. Aku senang sekali.”

Madam Carlotte tersenyum penuh arti. “Baguslah. Kapan-kapan, kau harus pergi ke gubuknya dan mengucapkan terima kasih.”

“Tentu, Mom.”

.

Jard yang terlihat makin renta itu meninggalkan gubuknya di pagi buta dan menempuh perjalanan ke rumah besar Mr. Landscoper di pusat Konstatinus, Asville. Seorang pesuruh kemarin baru saja menceritakan masalah putra Mr. Landscoper dan membujuk Jard untuk pergi menengok serta menyembuhkannya. Tak lupa sang pesuruh mengiming-imingi hadiah yang luar biasa besar.

Sebenarnya Jard sama sekali tidak tertarik dengan hadiah yang akan ia dapat. Tetapi, ia tertarik pada penyakit langka dari sang putra Mr. Landscoper. Di usianya yang terlalu lanjut, ternyata Jard masih ingin menambah-nambah pengalaman.

Di perbatasan kota, kereta mini pribadi milik Mr. Landscoper datang menjemput Jard dengan penuh hormat. Jard hanya tersenyum singkat saja dan duduk di dalamnya dengan diam. Selang dua puluh menit, mereka sudah sampai.

Mr. Landscoper yang langsung menyambut Jard. Lelaki tua itu sampai merasa tidak enak karena diperlakukan secara berlebihan. Sejatinya ia kemari, tidak sepenuhnya untuk menyembuhkan putranya. Ia hanya ingin tahu saja.

Kamar L, putra Mr. Landscoper, beratus-ratus lebih luas ketimbang gubuk Jard. Lelaki tua itu dipersilahkan untuk menengok L secara dekat. Wajah tampan nan tegas namun kaku itu langsung menyambut penglihatan Jard yang tak begitu baik. Jard berlutut di pinggir ranjang, menelusuri setiap bentuk wajah yang sempurna itu. Sebuah bayangan berkelebat, menerjang benak Jard seketika. Lelaki itu jatuh terduduk dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu di lantai.

“Anda tidak apa-apa?” Mr. Landscoper jelas terlihat panik. Tangannya terulur ingin menolong Jard.

“Oh, tidak apa-apa.” Jard berdiri, tangannya yang telah berkulit kendor menggamit ujung tangan L. “Oh, aku rasa aku tahu bagaimana cara membuat tangan ini dan seluruh organnya bekerja seperti sedia kala.”

“Ba-bagaimana?”

Jard menaruh tangan L kembali di sisi tubuh lelaki muda itu. Keningnya tidak terlalu berkerut dalam. Kedua pipinya terangkat naik, memunculkan kulit yang terlipat-lipat. Dia tersenyum. Sumringah.

“Rambut. Dia butuh rambut seorang gadis untuk diikatkan di pergelangan tangannya.”

“Siapa gadis terpilih itu?”

Jard kembali tersenyum. Ia tahu Mr. Landscoper adalah orang yang cerdas.

“Gadis yang dalam waktu dekat akan meminta pertolongan dari putramu.”

.

Krystal memakai pakaian terbaiknya – gaun berenda yang tidak begitu mencolok saat meluncur ke ruang makan. Madam Carlotte saking terpananya, tak bisa mengucapkan apa-apa.

“Ada apa denganmu hari ini? Kau mau pergi ke gedung perwakilan hukum Kontantinus di Asville untuk mengundi pekerjaan yang cocok untukmu?”

Krystal menggeleng, surai gelombangnya yang hari ini diikat setengah, bergerak-gerak. “Tidak, Mom. Jangan harap aku mau pergi ke sana dalam waktu dekat.”

“Lalu?”

“Tentu saja aku akan memamerkan hidung mancungku ke teman-teman.”

Kali ini Madam Carlotte yang menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Jangan bermain-main terus, Krys. Usiamu sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan.”

“Mom, hanya sebentar saja.” Krystal menatap ibunya dengan pandangan memohon yang bisa mengiba hati siapa saja.

“Baiklah. Pulang sebelum malam.”

.

Krystal melihat banyak orang muda berbondong-bondong berjalan menuju gedung perwakilan hukum di Asville, untuk mendapatkan pekerjaan. Biasanya dilakukan dengan pengundian. Seorang prajurit hukum akan membawa kotak besar yang penuh dengan gulungan-gulungan papyrus kecil berkualitas akhir. Orang-orang muda mengantri, membentuk sebuah banjar, berbaris rapi dari depan hingga paling belakang. Memasukkan tangannya ke lubang yang tersedia, mengambil sebuah gulungan dan membaca isinya. Isinya menentukan apa pekerjaan orang muda itu.

Menurut Krystal, aktivitas itu sungguh membosankan. Sebenarnya kalau mau, ia bisa saja ber-orasi di depan kediaman Raja Konstantinus, menyuarakan argumennya untuk meniadakan aktivitas pengundian pekerjaan untuk orang-orang muda. Tidak adil jika mereka harus melakukan pekerjaan di luar bakat mereka. Mereka tahu apa yang bisa mereka lakukan.

Krystal menghembuskan napasnya berkali-kali. Merasa kesal karena rencana memamerkannya tidak jadi, berkat teman-temannya juga tertarik untuk mengantri demi mendapatkan pekerjaan. Krystal berbalik. Melewati orang-orang muda yang bergosip. Telinganya samar mendengar, putra seorang bangsawan di Asville terkena penyakit serupa kutukan. Krystal mendengarnya dengan jelas, tapi dia tidak peduli dan langsung melesat ke rumah.

.

Jard disuruh menginap beberapa hari di rumah seluas istana itu. Mr. Landscoper menyuruhnya terus mengawasi L dalam beberapa hari. Sesungguhnya, Mr. Landscoper tak sabar untuk menunggu siapa gadis terpilih itu. Pernah Mr. Landscoper bertanya pada lelaki tua yang selalu memakai jubah kelonggaran itu, bagaimana ciri-ciri dari sang gadis. Jard berdalih, mengatakan kalau ia juga tak sepenuhnya tahu. Padahal jelas, ia berbohong.

Mr. Landscoper bahkan terlihat seperti ‘menyuap’ lelaki tua itu dengan makanan-makanan mewah yang enaknya tanpa ampun dan mengeluarkan koin emas yang banyak untuknya. Tetapi Jard terlalu bijaksana untuk semua itu.

“Tunggulah sebentar lagi. Bersabarlah. Waktunya akan tiba.” Jard terus mengulang jawabannya. Dan berkali-kali Mr. Landscoper mencoba untuk mengendalikan emosinya.

Jard akhirnya pulang ke gubuknya setelah genap satu minggu di kediaman Mr. Landscoper. Percuma saja Mr. Landscoper menyuruhnya berlama-lama disana. Toh, tak akan ada perubahan apapun yang diperbuatnya sebelum gadis terpilih itu muncul.

.

“Mom! Mom! Mom!”

Teriakan Krystal menggelegar, menyatu dengan angin kencang yang mengacak-acak langit di pagi hari. Madam Carlotte mencuci tangannya yang baru saja membersihkan kalkun dan tergesa lari ke kamar putrinya. Panik.

“Ada apa, Krystal-ku?”

“Mom!”

Anak gadisnya berada dalam kondisi yang tidak baik di depan meja hias. Air mata membasahi seluruh wajah dan sebagian rambutnya. Dan kenapa itu, kedua tangan Krystal tertangkup dan mencoba menutupi bagian mata ke bawahnya.

“Mom! Hidungku!” Krystal menjatuhkan kedua tangannya di sisi-sisi tubuhnya.

“Oh, ya Tuhan!” Madam Carlotte tampak sangat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.

Hidung Krystal tetap mancung. Terlalu mancung malah. Runcing, sangat runcing. Jika diukur, mungkin sekitar 0,15 yard.

“Mom, ada apa dengan hidungku?! Kenapa jadi begini?”

Seingat Krystal, sudah beberapa hari ini ia tidak pernah memegang isi dari botol itu dan berucap ‘mancunglah’. Hanya sekali ia menggunakannya waktu itu.

Tapi ia tidak sadar, bahkan tidak bisa menghitung berapa kata ‘mancunglah’ yang ucapkan. Padahal, hal itu sangat berpengaruh. Karena bubuk itu sudah lama sekali disimpan di dalam lemari Jard, cara kerjanya memang sedikit lamban dan memakan waktu. Dan kini, khasiatnya bertumpah ruah. Hidung Krystal akan selalu mancung sesuai dengan jumlah ucapan Krystal. Oh, tidak.

“Mom! Bagaimana ini?!” Krystal menangis terlalu banyak, seakan ingin pingsan. Madam Carlotte mencoba terlihat tenang dan tak mau memperburuk kondisi putrinya.

“Kupikir kau harus segera bertemu dengan Jard.” Ibunya mencoba bersolusi.

“Tidak mau! Aku akan malu bertemu dengan orang-orang.”

Madam Carlotte geram melihat sikap putrinya. “Aku tak mau tahu, Krys. Lakukan atau tidak, semuanya bergantung padamu. Ini semua kesalahanmu sejak awal.”

Sedu sedan tercekat di kerongkongan Krystal saat mendengar pernyataan tegas ibunya. Madam Carlotte benar-benar marah. Tapi di sisi lain, kekhawatirannya lebih tampak. Ia hanya menginginkan Krystal mengatasi masalah yang ia buat sendiri.

.

Hari ketiga, barulah Krystal pergi ke gubuk Jard seperti orang kalap. Cadar putihnya ia ikatkan di belakang kepala, menutupi sebagian wajahnya. Tapi itu percuma, sungguh. Hidung Krystal sudah terlalu sulit untuk ditutupi. Panjangnya sudah melebihi 0,3 yard ; atau hampir sama dengan 27 senti.

Tapi Krystal berusaha semaksimal mungkin, berjalan memutar tanpa melewati orang-orang di kota. Melalui hutan belantara yang lebat, berwaspada dengan binatang-binatang buas yang berkeliaran. Namun, untunglah. Tidak ada satupun binatang buas yang ia temui. Ia hanya menemui sekumpulan kelinci dan kijang di tempat terpisah, yang memakani rumput dengan teratur.

Gubuk Jard sudah sampai di depan mata, Krystal menjeblak pintu itu –  tak peduli pintu itu akan jatuh dan menimpa tubuh renta Jard – dan menghambur ke arah Jard. Berlutut di hadapan lelaki tua itu.

“Ya ampun, apa yang terjadi dengan hidungmu… Krystal?”

Sungguh beruntung karena Jard hari ini tidak pikun, dapat mengingat nama gadis itu, dan semuanya.

“Aku juga tidak tahu. Aku terbangun di pagi hari dan menemukannya sudah begini. Keesokan harinya kian panjang dan panjang. Runcing dan runcing. Bisakah kau mengembalikannya ke bentuk semula?” Krystal menangis lebih keras.

Jard menatap Krystal serius. “Berapa kali kata ‘mancunglah’ yang kau ucapkan?”

Krystal terdiam, kemudian menggeleng. “Tidak terhitung.”

“Astaga.” Jard tampak depresi. “Pantas saja.”

Tangis Krystal kembali meledak. Jard sampai takut jika ada warga kota yang mendengar dan mengambil benda-benda tajam untuk menyerangnya, karena berpikir dirinya telah menyiksa seseorang.

“Jangan menangis. Aku mungkin tahu jalan keluarnya.”

Krystal sebisa mungkin memberhentikan tangisannya, menatap lekat ke manik abu-abu lelaki tua itu.

Jard menepuk pahanya, memejamkan matanya dan bertampang kesal. “Oh, aku tidak percaya akan mengatakannya.”

Jard membuka matanya sedikit dan mengintip wajah Krystal yang tak menggemingkan ekspresinya. Mulutnya semakin sulit membuka.

“Kau…”

Demi Tuhan, bagaimana caranya ia bisa berbicara dengan bebas jika saja gadis itu menatapnya seolah-olah dia ini sosis bakar?

“…harus menemukan seorang lelaki yang mau mencium hidung runcingmu itu.”

Mata Krystal membelo. “Hah? Ap-apa?”

“Itulah cara paling ampuh.” Jard menekankan.

Krystal terduduk lemas di lantai tanah gubuk Jard. Menoleh ke wajah bijaksana itu lagi, memastikan bahwa Jard sedang malas untuk bercanda.

“Tidak ada cara lain?”

Jard menggeser sebakul kubis merah, dan mengambil sebuah. Pisau perseginya sudah siap untuk mengiris.

“Tidak. Lakukan, atau hidungmu akan segera menyentuh atap gubukku.”

“Baiklah. Baiklah.” Krystal hampir tak bisa berpikir jernih.

“Tapi, memangnya ada lelaki yang mau mencium… hidungku?”

Jard tersenyum. “Ada. Dan sekarang ia tengah menunggu.”

Krystal sedikit kaget. “Siapa?”

.

Jard membiarkan Krystal membelah hutan belantara pagi-pagi subuh untuk pergi ke kota Asville, dan menemui pedagang kaya raya yang juga keturunan darah biru, Mr. Landscoper. Jard bilang dia akan menyusul.

Jard sudah bercerita semua padanya. Ternyata L, putra Mr. Landscoper itu juga membutuhkan bantuannya. Entahlah. Krystal tak mengerti kenapa dirinya dengan lelaki yang tidak saling mengenal itu bisa saling bergantungan. Saling membutuhkan.

Suara derap kuda yang berirama cepat menyentakkan bulu kuduk Krystal. Sebisa mungkin gadis itu bersembunyi di belakang pohon yang lebih lebar dari tubuhnya, tak membiarkan seorang pun melihat dirinya. Ya, kecuali, para binatang. Seekor burung hantu mengamatinya dari atas ranting.

“Siapa disana?”

Suara lelaki, Krystal meneguk salivanya. Dia bisa merasakan kehadiran Krystal. Sial!

Lelaki itu turun dari kuda putihnya, beringsut ke arah pohon yang menjadi tempat persembunyian Krystal.

“Kena kau!”

“Arrgh!” Krystal terloncat, jantungnya juga hampir ingin loncat.

Lelaki itu diam setelah mengamati Krystal yang tengah terkejut dengan sungguh-sungguh.

“Kau… Peri Pohon, ya?” Ternyata pria itu juga terkejut. Berspekulasi bahwa gadis berhidung runcing nan panjang itu adalah salah satu Peri Pohon yang sebenarnya belum pernah dilihatnya.

“Bukan. Bukan.” Krystal menunjukkan telapak tangannya ke udara, kemudian mengibas-ngibaskannya.

“Lalu?”

Krystal tidak menundukkan wajah. Maniknya berkelana mengamati penampilan lelaki muda di hadapannya. Lelaki itu tinggi, berambut gelap, menggunakan pakaian yang biasanya dipakai oleh kaum bangsawan atau cendekiawan, dan… tampan.

“Namaku Krystal. Aku manusia biasa. Lagian, masa kau berpikir seorang peri punya hidung sepanjang ini?  Ah, aku harus pergi sekarang jika aku ingin cepat sampai.”

“Aku Harry. Hei, tunggu. Ada apa dengan hidungmu? Kau mendapat kutukan?” tanya Harry hati-hati.

Krystal mengerang dalam hati. Lelaki yang tak dikenalnya ini terlalu banyak ingin tahu. “Ya. Dan sekarang aku tengah mencari penawarnya,” seru Krystal yang semakin menjauh, sekenanya.

“Aku bisa menawarkan tumpangan padamu. Kau mau kemana?” teriak Harry.

Krystal seketika berbalik dan tersenyum lebar. Membuat lelaki di hadapannya itu berubah menjadi benda padat untuk sesaat. “Asville, kediaman Mr. Landscoper.”

“Oh. Aku tahu. Mr. Landscoper adalah pamanku. Aku juga mau ke sana.”

“Benarkah?”

Sebelum Harry menjawab pun Krystal sudah naik ke kuda. “Ayo.”

Kebetulan yang menguntungkan.

Harry terkekeh. Dasar gadis berhidung runcing ini. Menarik.

.

Tak sampai tengah hari, mereka berdua sudah sampai. Krystal selalu mencoba menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut gelombangnya secara keseluruhan. Krystal sempat heran karena lelaki bermata biru laut itu tidak begitu terkejut dengan keadaan wajahnya. Harry turun dari kuda dan selanjutnya membantu Krystal juga.

“Berhati-hatilah. Kurasa kau akan sulit masuk,” ucap Harry pada Krystal.

Dan benar saja. Saat Krystal melangkah menuju gerbang utama yang sangat besar, tombak-tombak tajam yang dihujamkan para prajurit pribadi keluarga Landscoper hampir membelit leher Krystal. Gadis itu sontak saja terkejut.

“Makhluk apa kau?” tanya salah seorang prajurit berompi itu.

Harry hanya diam, belum bisa membantu.

“A-aku, aku adalah orang yang… yang ingin meminta pertolongan dari putra Mr. Landscoper,” ucapnya sedikit terbata, mengingat perkataan yang diajarkan Jard.

“Siapa itu?” Suara Mr. Landscoper yang keras dan berat bergema di dalam.  Tubuhnya yang besar membelah prajurit-prajurit yang berdiri terlalu rapat. Matanya mencari-cari tubuh seseorang yang berbicara sebelumnya. Ketika ia menemukan Krystal, kakinya sontak mundur. Pertanyaan yang keluar dari mulutnya, sama persis dengan apa yang dikatakan prajuritnya.

“Makhluk apa kau?!” Tapi yang sekarang lebih kasar dan dalam nadanya. Krystal bahkan hampir menangis.

“Dia manusia, Paman,” ucap Harry sambil bersandar di dinding. “Ia hanya gadis biasa yang kena kutukan. L yang sedang tertidur mungkin bisa membantunya.”

“Itu benar, Tuan Besar.”

Seorang lelaki tua berjalan perlahan mendekati mereka. Krystal merasa bersemangat. Itu Jard, itu Jard! Akhirnya dia datang juga. Dia benar-benar menyusul.

“Dialah gadis terpilih itu, namanya Krystal. Dia juga yang akan menyembuhkan putramu.”

“Oh.” Mr. Landscoper merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. “Silahkan masuk. Alangkah baiknya jika kau bisa menyembuhkan putraku sekarang juga, Nona Krystal.”

Krystal mengangguk, mengangkat gaunnya dengan hati-hati. Harry, Jard dan dirinya melangkah menuju kamar putra Mr. Landscoper. Jantung Krystal berdegup tak tentu. Ia gugup. Apakah dirinya benar-benar bisa membuat L membuka matanya?

.

Terpukau dengan kamar istimewa milik putra Mr. Landscoper adalah hal-hal yang sangat klise, bahkan terjadi juga pada Jard. Namun, Krystal sama sekali tak bisa dibuat terpukau. Rasa gugupnya lebih menang. Yang ia inginkan sekarang hanyalah cepat-cepat menyembuhkan putra Mr. Landscoper karena dengan begitu, hidungnya juga akan cepat memendek.

“Cabut lima helai rambutmu, Krystal. Setelah itu ikatkan di pergelangan tangan Tuan Muda L.”

Krystal awalnya melebarkan mata, tetapi sedetik kemudian ia menurut. Sedangkan Harry dan Mr. Landscoper saling berpandangan. Masa iya hanya dengan rambut gadis berhidung kemancungan itu, L bisa sadar?

Krystal mencabut satu persatu helai rambutnya hingga berjumlah lima, dan di setiap aksi pencabutannya selalu diiringi suara jeritan kecil dari bibirnya.

Sudah selesai penderitaan kecilnya, Krystal membelitkan rambut sehatnya di pergelangan tangan L. Sempat bingung menggunakan tipe ikatan yang mana.

“Ikat simpul saja,” saran Jard.

“Selesai.” Krystal mundur beberapa langkah. Berniat terlibat dalam menyaksikan siumannya sang putra Mr. Landscoper. Jard tak melepaskan pandangannya dari sana sedetikpun. Demikian pula Mr. Landscoper dan Harry. Tangan Krystal sudah berkeringat.

Dan tak ada yang paling membahagiakan lagi untuk Mr. Landscoper ketika melihat kelopak mata L yang biasanya tertutup, kini perlahan-lahan membuka. Krystal terperangah, tak percaya dengan apa yang disajikan di hadapannya. Tapi ia lebih tak percaya lagi ketika ternyata rambutnya ajaib.

Semua menghambur ke arah L yang masih terbaring namun dengan mata yang tertutup. Bola matanya menggeser ke samping, dan ditemukanlah sosok Mr. Landscoper yang menangis.

“Ya ampun, terima kasih Jard, Krystal.” Mr. Landscoper terus mendengungkan kalimat itu sampai-sampai Krystal jenuh mendengarnya.

Mata L mengerjap beberapa kali. Bola matanya kembali berputar-putar, menjelajahi setiap sudut kamarnya. Tiba-tiba ia terduduk, masih dengan manik yang berputar acak, dan sampailah pandangannya pada Krystal yang berdiri di sebelah lelaki tua.

“Ayah.”

“Ya, anakku?”

“Kau memasukkan makhluk apa ke dalam kamarku?” L memandang Krystal seperti ingin muntah. Matanya sedikit dibelalakkan.

Tepat tiga kali sudah, Krystal mendengarkan kata-kata itu. Oh, sakit sekali. Satu dari prajurit kurang ajar, satu dari pemuda tampan, dan satunya dari lelaki tua. Krystal tetap sabar; meremas kain gaun di sisi kanannya dengan tangan kanan seraya terus menundukkan kepala. Ujung hidungnya hampir menyentuh lantai.

“Dialah penyelamatmu. Karena dialah sekarang kau bisa bangun seperti ini.”

“Benarkah? Makhluk aneh… seperti dia?”

Oke, Krystal tak ada masalah dengan penggunaan frasa ‘makhluk aneh’ itu. Tapi lebih kepada nada bicara L. Dia benci sekali. Oh, jangan sampai kepalan tangan ini melayang. Kalau tahu sikap putra Mr. Landscoper seperti ini, ia tak akan pernah mau datang. Persetan dengan lelaki itu yang hanya bisa menolongnya. Krystal menolongnya pun percuma. Ia juga tak yakin L yang bersikap buruk itu mau membantunya. Yang ada, ia akan dikurung di dalam penjara makhluk-makhluk aneh.

“Iya putraku. Dia datang juga karena-”

“Maaf, aku memotong pembicaraanmu Tuan.” Jard menyela. Tak membiarkan Mr. Landscoper menyelesaikan kalimatnya. Bukan apa-apa, Jard hanya merasa ini bukan waktu yang tepat.

“Tapi, lelaki tua yang sakit-sakitan ini harus segera kembali ke gubuknya,” lanjut Jard. Krystal menatap Jard dengan pandangan meminta penjelasan yang kentara. Sedangkan Jard hanya mencoba menenangkan dengan membalas tatapan Krystal dengan lembut.

“Oh, kenapa begitu cepat? Bagaimana dengan—”

Kembali Jard memotong. “Ya, Krystal akan tetap di sini, di rumahmu. Bila waktunya tiba, semuanya akan kembali seperti semula.”

“Apa maksudmu, Jard?” Krystal ikut bicara.

“Tunggu, apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” L menatap semua orang di kamarnya dengan alis yang terangkat penuh.

Mr. Landscoper mengangguk. Lelaki cerdas itu mengerti maksud Jard. Ia tidak menghalang-halangi Jard lagi untuk pergi. “Baiklah, kalau kehendakmu seperti itu. Sesuai janjiku, aku akan memberikanmu banyak hadiah.”

“Terima kasih, Tuanku. Aku tidak bisa menerimanya. Aku harus kembali sebelum petang.”

L menghentak-hentakkan kakinya di atas tempat tidur. Dirinya gemas, tidak ada yang mau memberitahukannya. Semuanya seakan mengabaikannya. Bahkan Harry, sepupu terdekatnya sekalipun.

Mr. Landscoper memaklumi dan mengantarkan Jard sampai ke luar kediamannya. Menyerapahkan ucapan terima kasih yang seakan tiada habisnya. “Ingatlah, Krystal juga butuh pertolongan putramu. Tapi aku tahu, tidak ada satupun yang bisa memaksanya. Jadi, untuk sementara ini berikan tumpangan untuk gadis itu di rumahmu. Anggap itu sebagai ganti hadiah untukku, Tuanku.”

“Tenang saja. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Walau bagaimanapun, ia juga sangat berjasa.”

Sedangkan di dalam kamar L, Krystal hampir menangis, namun sebisa mungkin ia tahan. L sangat membencinya di awal pertemuan mereka. Harry terduduk di sofa yang bersandar di dinding, menatap Krystal dengan pandangan iba.

“Kenapa kau tidak pulang bersama kakek tua itu? Oh, jangan katakan kalau kau akan-”

“Ya putraku. Krystal akan tinggal di sini untuk sementara.”

Mr. Landscoper kembali muncul di kamar. Duduk di samping L dan mengelus punggung anak semata wayangnya itu. “Perlakukan dia dengan baik. Dia penyelamatmu. Setidaknya, ingatlah itu.”

L memalingkan wajah acuh tak acuh.

.

Penduduk Konstatinus gempar akan siumannya kembali Lery Landscoper yang sudah tertidur hampir enam bulan lamanya. Desas-desus yang beredar, L terkena serbuk penyihir sewaan negara seberang, yang disuruh oleh musuh bebuyutan Mr. Landscoper yang sama-sama pedagang mapan, Mr. Job Spence.

Mr. Job Spence adalah salah satu dari sekian banyak orang yang membenci keangkuhan L. Ya, sangat.

L menunggangi kuda kesayangannya, masih agak terlihat kaku akibat tubuhnya yang tak pernah diajak bergerak. Enam bulan tidak melihat dunia, ternyata sudah banyak perubahan yang terjadi. Bibi Gersey yang biasanya menjual alat-alat kebutuhan sehari-hari sudah pindah agak ke tengah, tidak di sudut lagi. Barang yang dijualnya pun lebih beragam. Paman Kens, penjual topi Panama terbaik sudah meninggal, dan Paman Irlon gulung tikar karena syal rajutannya tidak ada yang membeli.

Masih banyak lagi perubahan selain tata letak pasar kota itu. Situasi, warna debu, warna langit, warna awan, terasa ada yang berbeda. Atau itu hanya perasaannya saja?

“Hei L. Masih hidup kau rupanya? Fuh. Padahal aku sudah bersiap-siap menghadiri acara pemakamanmu.”

L berhenti melakukan wisata mata. Memandang penuh ke arah lelaki berambut pirang di hadapannya. Ya ampun. Itu Bernard. Musuh besar L.

.

Krystal meminta taman di belakang kediaman Mr. Landscoper sebagai tempat bernaungnya sementara. Mengabaikan kenyataan bahwa taman itu adalah tempat kesayangan putranya, ia mengizinkannya untuk Krystal.

Krystal duduk di bangku panjang dari kayu oak. Termenung menatapi pohon akasia yang berjajar di hadapannya. Di sekitaran situ, di bawahnya, terdapat banyak kolam yang ditempati oleh ikan-ikan berbagai spesies. Burung-burung Cardpit yang kecil-kecil dan bulu halusnya yang berwarna-warni terbang bebas mengelilingi taman.

Di bagian yang lain, terdapat air mancur yang tidak terlalu deras, namun tenang sekali jika melihat gerusan airnya. Sangat indah, semua perpaduan ini. Krystal bisa menikmati kedamaian duniawi hanya dengan bersandar di bangku itu.

Beberapa burung Cardpit hinggap di tengah-tengah hidung Krystal. Menyusul yang lain memenuhi bagian pangkal dan ujung. Krystal hampir mengusir mereka karena kegelian, tapi lama-lama ia mulai merasa nyaman dan terbiasa. Ia senang burung-burung itu juga nyaman hinggap di hidungnya.

Uh, pasti burung-burung ini pun bisa berpikir bahwa aku sangat aneh, batin Krystal.

Suara derikan pintu keluar masuk taman terbuka oleh seseorang, dibarengi suara yang mengesalkan. Burung-burung itu langsung beringsut pergi beramai-ramai.

“Siapa yang memperbolehkanmu berada di sini?”

L. Hanya dialah pemilik suara penuh keangkuhan itu. Krystal mendecak, menggerutu dalam hati. Kedamaiannya seketika bubar jalan. Dasar pengganggu.

“Hei. Jawab!”

Krystal menggigit bibirnya marah. Dia tidak boleh lemah di hadapan lelaki itu, karena kalau dia seperti itu terus, hidungnya bisa-bisa tidak akan pendek-pendek. Ia juga bisa kuat, kok. Dia gadis yang lebih kuat daripada gadis manapun, kalau ingin tahu. Apalagi dengan pria angkuh. Uh, dia paling anti! Selama ini ia hanya memendamnya, ingat itu!

“Ayahmu. Lagipula, aku berhak.” Krystal mencoba tegas, mengangkat dahunya sedikit ke atas. Tapi dia belum berani menatap kedua mata lelaki itu secara langsung.

“Berhak?” ulang L dengan nada mengejek. “Asal kau tahu, tempat ini adalah tempat pribadiku. Tempat favoritku.”

Bibir Krystal membentuk huruf O bulat, tetapi ia mendecih tak peduli. “Memangnya aku perlu tahu akan hal itu? Hei, harusnya kau mengucapkan terima kasih padaku setelah apa yang kulakukan terhadapmu.”

“Untuk apa? Aku masih tidak percaya kau yang menyelamatkanku.”

Krystal baru tahu rasanya makan hati itu bagaimana. Haruskah ia yang mengucapkan terima kasih karena L sudah membantunya merasakan sakitnya makan hati? Ups, tunggu dulu. Krystal menangkap sesuatu.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Krystal spontan ketika melihat wajah L yang banyak bulatan-bulatan biru keabu-abuan.

“Apa pedulimu, hah? Aah,” jawab L kasar, diakhiri ringisan. Jelas saja, ia terlalu memaksakan bibirnya yang lebam itu untuk membuka terlalu lebar, dan… terlalu banyak bicara yang tidak ingin didengar.

L menggeram ketika mengingat kejadian yang meninggalkan luka-luka sialan itu. L berkelahi dengan Bernard tanpa ada yang berniat untuk melerai mereka, dan semua diakhiri ketika prajurit pribadinya menarik L kembali.

“Kau tampaknya harus diobati.”

“Tidak usah sok perhatian.” L memalingkan wajah ketika Krystal berdiri dari tempatnya. Krystal hanya menahan emosi yang berpendar-pendar di dadanya. Ah, dia butuh kesabaran ekstra yang lebih. Tapi, dia tak tahan melihat luka-luka yang sebagian masih mengeluarkan darah segar itu.

“Akan kupanggilkan pelayan. Nanti dia akan mengobatimu.”

“Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya-”

“Terserah kau saja!” Krystal tetap melangkah melewati taman, mencari air dan obat yang mungkin bisa meredakan sakit dari luka-luka L. L mendengus. Dasar gadis berhidung panjang yang keras kepala.

Krystal kembali dengan sebaskom air dingin dan obat-obat yang dibutuhkan. Sesekali burung-burung Cardpit hinggap di sana, L hampir tertawa dibuatnya.

“Semua pelayan sedang sibuk. Mau tak mau aku yang mengobati semua lukamu.” Krystal menaruh semua barang yang dibawanya di samping L duduk.

L memutar bola mata ke samping. “Aku tidak mau.”

Krystal tak ambil pusing dan menaruh kedua lututnya di hadapan L. Wajahnya ia alihkan ke samping, tentu saja agar hidungnya tidak menusuk dada L. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia sudah mencelupkan kain ke air dingin di dalam baskom dan menempelkannya ke pipi L. Shit, sulit juga melakukannya dengan tatapan sebelah.

L meringis, ingin menjauhkan tangan itu dari pipinya, tapi tidak mampu. Ia tidak mau mengakui kalau kain bercelupkan air dingin itu membuat rasa sakit di pipinya mereda. Ia menatap Krystal yang sedikit kepayahan memiringkan wajah, menjauhkan hidungnya dari tubuhnya. Lama-lama gadis ini kelihatan menarik. Tiba-tiba L ingin tahu kenapa hidung gadis itu bisa sepanjang ini. Bahkan lebih panjang daripada tulang rusuknya.

“Sudah cukup. Jauhkan tanganmu dari wajahku,” ucap L, seolah wajahnya jauh lebih mahal daripada setruk emas.

Krystal memberengut dan mengibaskan rambutnya. Lagi-lagi pria ini memancing emosinya.

“Apa kau sedang dikutuk?” tanya L, menunjuk hidungnya sendiri. Mengganti posisi kaki-kakinya yang saling menumpu.

“Tidak,” jawab Krystal pendek, sedikit tersinggung. Dia sudah menegakkan kakinya sekarang.

“Lalu?” L menatap Krystal lekat-lekat.

“Sebegitunyakah kau ingin tahu?” Krystal duduk di bangku yang lain.

Hei, ada apa dengan gadis ini? Pikir L.

“Ya. Aku ingin tahu, gadis aneh.”

Bibir Krystal bergetar. Sungguh tak bisa dipercaya L bisa tertarik pada masalahnya. Semoga ini bisa menjadi awal yang lancar. Walaupun dia sudah bosan menerima begitu banyak kata ‘aneh’ yang terluncur dari mulut lelaki itu.

Krystal menceritakan kisah nyata konyolnya dari awal hingga akhir. Hulu hingga hilir. Tepi hingga pangkal. Bagaimana bisa mulutnya tak sabaran mengucapkan kata ‘mancunglah’ sebagai mantera berulang-ulang.

L tidak menunjukkan respon yang diharapkan Krystal. Dia sama sekali tidak terlihat tertarik. Justru ia tampak mengantuk. “Jadi, adakah cara agar hidungmu kembali seperti semula?” tanyanya langsung ke sasaran.

Jujur, Krystal kaget dengan pertanyaan itu. Bisakah ia berkata yang sebenar-benarnya sekarang? Bisakah ia meminta pertolongan pada L sekarang? Bisakah ia memberitahukannya? Oh, ini sulit.

“Tentu ada. Dan itulah alasan mengapa aku masih berada di sini.” Suara hati Krystal berteriak,’kaulah yang bisa mengembalikannya, L’

“Apa maksudmu?”

Entah bagaimana caranya, Krystal benar-benar mengucapkan kalimat yang diteriakannya di dalam hati tersebut. “Kau. Hanya kau yang bisa menyembuhkan hidungku.”

L tampak terkejut. “Caranya?”

Suara burung Cardpit yang berkoar-koar sedikit meredam suara Krystal. Tetapi L yakin dia bisa mendengar dengan baik. “Kau… harus mencium… hidungku.” Krystal memejamkan mata saat mengatakannya. Kini ia tampak sangat-sangat tolol.

“Apa?” L sontak berdiri dari dudukannya, menjauhi Krystal layaknya gadis itu punya penyakit menular yang berbahaya. “Kau pasti gila.”

L cepat-cepat berlari dan berlalu ke balik pintu taman. Krystal memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Jelas, tindakan L itu menunjukkan penolakan. Rasanya mengecewakan sekali. Putus asa. Tidak ada harapan. Harusnya memang sudah bisa diduga akan begini jadinya.

.

L terjaga setelah cahaya matahari menerobos kelambu yang bergelayut di tiang-tiang penyangga di sekitaran ranjangnya. Ia yang memakai mantel tidur segera berganti pakaian santai dan mencari-cari sandal kuning rumahnya yang terbuat dari kapas lembut. Setelah menemukannya, tempat pertama yang ingin dia tuju adalah taman.

L membuka pintu taman, dengan penuh kesadaran  akan bertemu dengan gadis berhidung panjang. Ia memiringkan kepala dan mengernyit kala tak menemukan gadis itu di mana-mana.

Lelaki itu mengedikkan bahu, menyusuri setapak yang dibuat berkelok-kelok. Dia berjalan santai, menikmati semilir angin yang membuat rambut bangun tidurnya teracak. Apa gadis itu sudah pergi?

Asyik-asyiknya merenung, sebuah serangga mencetuskan kesadaran untuk L dengan cara yang tidak elit. Serangga itu menggigit ujung hidung L, mengakibatkan sebuah bentolan merah di sana. L berteriak, menghujamkan serangga kecil itu sebuah pukulan dan disusul tepukan.

“Argh, serangga sialan!”

Serangga itu tidak pergi, malahan menikam pipi L yang masih lebam. “Hei, serangga kurang ajar!”

“Hentikan, Kute!” Serangga itu beralih tempat, menghinggapi hidung gadis yang memanggilnya. Krystal.

“Ka-kau? Dari mana saja kau?” L menginterogasi Krystal sambil menggaruk ujung hidungnya yang membulat karena digigiti Kute.

“Aku tidak ke mana-mana. Sejak tadi aku berkebun di ujung belakang sana.” Krystal menjawabnya dengan keras, menunjukkan tangannya ke arah bunga-bunga anggrek yang menguncup.

“Kenapa bisa ada serangga? Aku benci dengan hewan seperti itu!”

Krystal terkekeh sebelum menjawab. “Kutemukan dia kemarin. Dia sangat manis.”

“Manis dari mananya. Dia hampir membuat wajahku bengkak-bengkak,” omel L.

Krystal tertawa kecil. L tiba-tiba mematung di atas tanah licin itu. Ah, tawa gadis itu sangat manis. Suaranya sangat merdu. Oh, tidak tidak. Apa yang merasuki otakmu L?

“Jadi, kau takut serangga?” Krystal menarik kesimpulan, entah dari mana.

“Aku tidak bilang begitu.”

L menggoyang-goyangkan tungkai kakinya. Pertanda bahwa untuk yang kesekian kalinya dia terpesona dengan senyuman gadis itu.  Mengabaikan hidung panjangnya, gadis itu cantik. Ah, tidak. Dengan hidung panjangnya itu pun dia masih sangat cantik.

“Biar kuolesi salep di hidungmu. Takutnya jika dibiarkan, hidungmu akan sama dengan hidungku,” gurau Krystal, tak mengurangi kadar senyuman manisnya. “Duduklah di bangku itu.”

Tanpa diduga, L tak bergeming. Menatap Krystal seolah gadis itu serangga yang harus dia basmi. Tapi tidak, tidak seperti itu faktanya.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Krystal mulai takut. Ia menunduk menatap rerumputan yang menyentuh ujung alas kakinya.

“Tidak ada.” L berbalik, salah tingkah, mengomando kakinya untuk menuju bangku terdekat. Saat ia sudah duduk, Krystal sudah pergi mengambilkan salep.

.

L belum mandi, belum sarapan, belum melakukan apa-apa setelah bangun tidur, selain datang ke taman, digigit serangga dan bertemu Krystal. L tidak mau bangkit dari taman. Entah karena taman yang sudah lama sekali tidak didiaminya itu semakin asri atau karena… Krystal ada di sana?

L menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah cukup dibuat gugup saat tangan Krystal yang lembut mengolesi salep putih di ujung hidungnya. Dan di saat itu pula ia memperhatikan lagi hidung panjang gadis itu. Apa benar dia bisa menyembuhkannya?

“Aku rasa kau harus mandi dan sarapan. Setelah itu melakukan aktivitas-aktivitasmu.”

L mendadak meluruskan tangan dan kakinya, kemudian berdiri. “Baiklah. Nanti aku akan kembali.” Ia berkata seraya menarik sedikit ujung-ujung bibirnya.

Krystal terpaku. Selain nada bicara yang ganjal bagi seorang lelaki angkuh sepertinya, ia juga tersenyum. Kendati sedikit.

.

Krystal rindu ibunya. Beberapa hari meninggalkan ibunya sendirian di rumah rasanya sungguh menyiksa. Entah masih beberapa hari, minggu atau bahkan bulan lagi ibunya akan tetap terus sendirian, menunggu kepulangan putrinya yang malang.

Air bening mengalir dari kedua mata indah Krystal. Mengaliri pipi dan tak lupa hidungnya.

“Kau menangis?”

Krystal mendongak, suara penuh kekhawatiran itu tidak mungkin kan dari L? Tapi ternyata itu memang L. Lelaki itu sudah duduk di samping Krystal. Kini lelaki itu sudah wangi, dengan pakaian mewahnya.

“Iya,” jawab Krystal tidak berbohong.

“Kenapa? Kau menangisi hidungmu?”

Krystal mendelik tajam pada L. “Tidak sepenuhnya. Aku rindu Ibuku.”

L bukan orang tolol yang tidak mengerti apa-apa. Ia sangat tahu jika gadis itu bersikeras bertahan di tempat ini agar L bisa membantunya memendekkan hidung. L bukan orang baik yang begitu saja akan melakukannya, tapi dia juga bukan orang jahat yang membiarkan Krystal berada dalam kondisi seperti itu terus menerus.

L mungkin akan melakukannya. Suatu hari. Dia masih belum siap. Dan lagi, kenapa syaratnya harus sekonyol itu? Dengan ciuman?

“Kau belum makan, kan? Ayo kita makan bersama.” L sudah beranjak. Krystal memasang tampang tak percaya. “Kau bercanda, kan?” tanya Krystal spontan.

“Tidak. Bibi Haney sedang memasak banyak hari ini. Kusuruh kau untuk membantu menghabiskannya.”

Tangan L mencengkram tangan Krystal, dibuatnya Krystal berdiri dalam satu tarikan. Jantung milik mereka berdua sontak berdegup kencang secara serentak. L kembali menarik tangan gadis itu hingga mengikutinya ke meja makan. Entahlah, ada yang salah dengan L.

.

“Apa itu? Untukku?”

Krystal sedang berdiri di pintu taman sambil mendekap sekotak karton berwarna merah muda yang diberikan prajurit penjaga kediaman Mr. Landscoper. Isinya belum ia lihat.

“Benar. Dari Tuan Muda L.”

Krystal menaruh kotak itu di bangku dan membuka isinya. Ia terbelalak tak percaya, bahkan burung-burung Cardpit yang juga mengerubunginya juga tak percaya. Sebuah gaun yang terbuat dari sutra terbaik diberikan padanya. Krystal merogoh selembar kertas yang berada di ujung kotak. Ternyata ada catatannya juga.

“Pakai gaun itu untuk malam ini.”

Krystal tersenyum. Apakah malam ini ia boleh berharap?

.

L bergelung di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya yang sengaja dibuat terlalu tinggi. Benaknya tidak berada di tempat yang seharusnya, malahan melanglang ke saat-saat dirinya bersama Krystal. Makan buah pir yang baru dipanen, bermain dengan burung-burung Cardpit, dan saling mengeluarkan isi hati.  Perhatian dari gadis itu membuatnya senang.

L mengalihkan pandangannya menuju pintu taman dari jendela kamarnya. Apakah gadis itu sedang senang-senangnya menunggu malam nanti?

.

Ketika L menyambangi taman di malam hari, gadis itu sudah tampak cantik. Matanya berbinar, ditimpa cahaya bulan yang penuh. L lagi-lagi dibuat terpaku, mengutuk senyum Krystal yang terlalu indah di matanya.

“Hmm, apa maksud dari semua ini?” Krystal memberanikan dirinya untuk bertanya. L hampir menjawab,”Kita akan berkencan,” tapi demi prestise-nya dia hanya bungkam dan duduk di bangku favoritnya. Jas panjangnya menjuntai hingga ke samping bangku. Krystal turut duduk di sampingnya. Mereka berdua sama-sama diam. L yang menyalahkan dirinya sendiri, kenapa tidak merencanakan semuanya dengan matang. Ia bahkan tak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini.

“Kau cantik.”

“Kau juga tampan, terima kasih untuk gaunnya.”

Mereka terdiam lagi. Ah, persetan dengan semua kecanggungan ini.

“Tertawalah.”

Krystal tak mengerti apa maksud L. Dia memandang L yang juga tengah memandanginya. Keduanya saling bertatapan. L yang memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu. “Aku suka tawamu.”

Pipi Krystal merona. “Tapi kau tidak suka hidungku.”

“Siapa bilang?”

Semuanya benar-benar di luar rencana yang bahkan tidak pernah dibuat. Tiba-tiba saja L sudah mendekat ke wajah Krystal, mengabaikan hidung Krystal yang sudah menyentuh perutnya. Dan memang benar-benar membutuhkan waktu yang sangat singkat dalam pengerjaannya, namun sangat lamban untuk dicerna.

L mencium hidung Krystal. Dari tulang hidungnya, hingga menuruni setengah bagian hidungnya. L baru berhenti saat dirasakannya hidung Krystal kian bertambah pendek, dan akhirnya kembali normal. Seperti hidungnya dulu sebelum bertemu Jard. L memandangnya takjub. Sinar bulan yang menerpa wajah Krystal membuat kecantikannya tak bisa dialirkan dengan kata-kata.

“L? Terima kasih.” Krystal memeluk tubuh L erat-erat, merasa kegirangan. L senang setengah mati.

L melepaskan pelukannya dan kembali menatap lekat wajah Krystal yang kini membuat jantungnya bergemuruh lebih cepat. Oh, tidak. Ia akan semakin jatuh cinta pada gadis itu.

FIN

8 responses to “[2nd Winner] Noised & Boboked

  1. Akhirnya paham dgn judul ceritanya yg bikin penasaran hehe
    Ceritanya runtut dan oke. Fantasy-nya juga kerasa sejak Jard kasih bubuk pemancung hidung ke Krystal. Tapi apa mungkin aku yg ga nyambung atau gimana, awalnya aku pikir Jard cuma bercanda tentang bubuk itu supaya Krystal ga ganggu dia, eh ternyata beneran. Aku baru nyambung waktu baca lagi titel genre fantasy di atas hehe.
    Ceritanya bagus ^^ Selamat udah jadi juara ke-2 ya🙂

  2. Pas aku baca.. aku bingung, kok udah end sihh cepet bangeeet huahaha coba panjangan~~😀
    Keren deh fict ini! selamat udah juara 2❤
    salam kenal yaa aku viee

  3. cerita seru. awalnya mikir judul sama cerita ga nyambung. tapi stlh d baca seru isi nya. ff yg juara ke tiga ga ad d post ya?

  4. Smpah demi apa suka banget sama ff ini. I think people should read this one !! Menurut aku harusnya cerita in yang jd juaranya/? Hehe . Semnagat . Authornya pnya blog pribadi ga?

  5. Dari awal aku baca, aku udah jatuh cinta sama yang ini. Mungkin karena ekspektasiku adalah fantasy yang berat kaya juara satu dan juara tiga. Tapi ini bener-bener di luar ekspektasi aku.
    Kebetulan, aku baca yang juara satu sama juara tiga dulu, baru kemudian loncat ke juara dua. Emang disengaja sih.
    Dan yang aku temuin adalah fantasy yang ringan banget. Ini kaya baca dongeng anak-anak! Bukan dalam sisi negatif, tapi sisi positif. Kalo aja ini dibukuin, terus dikasih gambar, terus ditaruh di samping tulisannya Dickens atau Dahl atau Andersen bakal lebih laku yang ini. Karena dari muda sampe tua suka baca cerita ini.
    Kemudian, aku kasih applause kenceng buat tulisan ini karena sangat out of the box. Kaya tadi itu, pikiran kita kalo udah jaman-jaman abad kegelapan, atau reinaissans, atau apalah itu, genre yang jatuh musti berat, kan?
    Pula, dengan adanya ff ini, aku berharap para author kita yang baca tulisan ini bisa ngaca tentang batasan seharusnya enggak membatasi pemikiran kita dalam menulis. Sesuatu yang fluff aja bisa dibawa ke genre fantasi abad pertengahan. Ringan pulak. Juara pulak.
    Pokoknya baik author maupun juri, sama sama hebatlah. Cerita-cerita yang juara dan keadilan dalam memilih urutan juaranya enggak bikin aku potek sama sekali.
    GREAAT!!!

  6. awalnya aku kira hidung krystal itu cuma akal2an Jard. bubuknya cuma bubuk boongan. yang penting kan sugestinya. eh tapi ternyata beneran~

    herry kemana thor? kok cuma muncul dikit? aku kira dia sama l bakal ngerebutin krystal~

    ini kalo ffnya dijadiin novel mungkin seru ya. ceritanya dipanjangin, trus masalahnya diperdalam. pasti keren^^

    selamat thor. ditunggu karyamu yg lain

  7. ini sepertinya ff fantasy pertama yang aku baca /? *-*
    dan well~ AKU JATUH CINTA SAMA FF INI!! *capslock biar greget 8)*
    beneran, ff ini keren. alurnya dimengerti dan ini ringan banget pembawaannya (?).
    diksinya juga bagus. aku jadi penasaran sama ff author yang lain. pasti keren banget *-*

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s