[3rd Winner] Timp de Reînnoire

Timp de Reinnoire

Timp de Reînnoire

~.:*:.~

Title: Timp de Reînnoire

Author: salicelee

Cast(s):

  • Jung Soojung as Krystal Hemmingwood
  • Kim Myungsoo as Lelouch Kimburg
  • Kris Wu as Chris Meredith
  • Song Juhee as Alice Sovanna
  • Kangjun as Dre Clovis
  • Lee Howon as Hobert Frenoya

 

 

 

 

 

Genre: War, Action, Supranatural, Friendship, AU

Rating: PG-15

Timeline: The Dark Century (±1500) – The Enlightenment Century (Renaissance)

Summary: Pada Abad Pertengahan, dominasi Gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan, Gereja sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, seolah Raja tidak mempunyai kekuasaan. Di wilayah barat Chadwick, seorang bayi lahir di Kerajaan Scarlette. Bayi yang disebut sebagai anak titipan penyihir tersebut, diramalkan oleh Pasokan Gereja akan menghancurkan Kerajaan Scarlette. Di Abad Pencerahan, masih ada segelintir kegelapan yang tersisa dari Abad Kegelapan.

Note: Isi cerita ini merupakan 90% fiksi dan 10% non-fiksi, beberapa cerita terinspirasi oleh kisah nyata yang terjadi pada Abad Pertengahan sampai dengan Abad Reinasans. Fiksi ini tidak bermaksud untuk menjelekkan pihak manapun dan SARA.

Timp de Reînnoire

`Prologue

~.:*:.~

Di pagi itu, hujan deras melanda daratan Eropa, tepatnya wilayah barat Chadwick dengan guyuran bertubi-tubi tiada henti. Suara petir menggelegar, membuat para penduduk dan hewan sekitar ketakutan dan memilih berteduh di dalam tempat tinggal masing-masing. Suara gemericik air menghantam tanah terdengar riuh dan beritme padu.

Oeee!! Oee!!”

Oktober, 1525

Wilayah Barat Chadwick

Scarlette Kingdom, 4:39 a.m

Suara tangisan bayi itu terdengar bersamaan dengan suara guntur yang keras, membuat beberapa orang di ruangan tersebut menghela napas lega setelah mengetahui kabar kelahirannya.

Oeeee!!”

Bayi mungil itu menangis sekali lagi.

“Yang Mulia, bayi Anda perempuan dan ia sangat cantik, juga memiliki tanda lahir yang unik,” kata si bidan sambil tersenyum dan memberikan bayi Sang Ratu dengan hati-hati.

Sang Ratu menggendong buah hatinya dengan kasih dan tersenyum bahagia, “Kelak akan jadi anak yang baik.”

Sang Raja yang sedari tadi berada di luar, akhirnya masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan istri dan anaknya. Ia tertawa senang, “Akhirnya aku jadi ayah, Victoria! Terima kasih, sayang..” ia berucap sambil memeluk istrinya dengan hangat.

Oeee!!”

“Cup cup, anak manis jangan menangis,” kata Ratu Victoria sambil menimang bayi itu. Ratu Victoria mengusap punggung anaknya dan mendapati sebuah tanda lahir yang unik. Sebuah spiral dengan segitiga-segitiga yang mengelilingi dan sebuah segitiga terbalik di tengahnya

“Henry, coba lihat ini, sebuah tanda lahir yang unik,” katanya sambil terkikik kecil.

“Oh ya?”

DRAP

Suara hentakan kaki-kaki dan pintu terbuka kencang, segerombolan orang berbaju putih membungkukkan badannya kemudian berjalan mendekati Sang Raja dan Ratu yang mulai merasakan firasat tidak enak.

“Yang Mulia, maaf atas kedatangan kami yang mendadak, kami ada keperluan penting dengan Anda.”

“A-ada apa Yang Mulia Uskup?” tanya Raja Henry, agak cemas.

“Maaf, tolong berikan bayi itu kepada kami.”

“K-kenapa?!”

Sang Ratu memeluk bayi mungil itu dengan ketakutan, “Tidak lagi, kumohon!” teriaknya sedih.

“Yang Mulia, bayi ini memiliki tanda lahir cahaya yang kelak akan menghancurkan dunia.”

“Tidak, tidak, tolong jang—“ teriakan Sang Ratu terinterupsi oleh gerakan-gerakan para Pasokan Gereja yang mengambil paksa si bayi.

“Maaf Yang Mulia, ini perintah Tuhan.”

“Tidak! Kalian bohong! Tuhan itu Maha pengasih, Dia tidak akan membuat perintah untuk membunuh anak ini. Anak ini tidak bersalah! A-anak ini—“ Ratu Victoria tak sanggup lagi menahan ucapannya dan menangis sedih ketika para Pasokan Gereja berhasil merebut bayi itu.

“Henry, tolong lakukan sesuatu. Mereka mengambil anak kita lagi!!” ujar Ratu Victoria yang wajahnya telah basah karena bulir-bulir air mata yang terus membasahi pipinya.

Raja Henry hanya terdiam. Ia tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dominasi gereja memang mengambil segala sistem pemerintahan dalam Kerajaan Scarlette. Seolah kerajaan tidak ada.

“Anak ini adalah titisan Angéle de la Barthe,” kata salah satu anggota Pasokan Gereja.

“Angéle de la Barthe? Yang benar saja, selama ini tidak ada yang membuktikan keberadaannya.”

“Tidak, keberadaan penyihir Barthe itu nyata.”

“Tidak! Kalian hanya mengada-ngada!” sergah Ratu Victoria, masih dengan air mata yang menyeruak keluar dari tatapan nanarnya.

“Lihatlah lambang ini,” ucap si lelaki yang paling tua.

“Itu hanya kebetulan saja, lagipula itu hanya lambang, anak ini polos dan tak berdosa.. Ya Tuhan, mengapa kalian—“

Ucapan sekaligus tangisan Ratu Victoria terhenti, ia tak sanggup lagi melanjutkan isi hatinya. Raja Henry berjongkok disamping istrinya sambil menatapnya dengan sedih. Ia merasa bersalah dan terpukul karena tak sanggup melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa anak yang bahkan belum sempat mereka namai.

“Anak ini akan dilenyapkan tepat pada saat matahari terbit..” kata salah satu dari mereka. Kemudian membungkuk bersamaan dan berjalan serentak menuju pintu keluar.

“Tunggu!” ucapan Raja Henry yang otomatis membuat mereka menghentikan langkahnya. Mereka menoleh.

“Bisakah anak itu jangan dibunuh secara disembelih seperti yang lalu?” pinta Raja Henry.

Uskup Agung tersenyum, “Ya.”

~.:*:.~

Menara Kyler, Wilayah Pedesaan Florence

4:50 a.m

Hamparan ilalang memenuhi wilayah Menara Kyler yang terletak jauh dari pusat kota. Menara Kyler dibangun oleh Pasokan Gereja dan Kerajaan untuk mengeksekusi, menghukum, dan mengurung para pidana sejak abad ke-5. Di samping Menara Kyler, banyak terdapat makam dan salib yang tidak terawat.

Para Pasokan Gereja, dipimpin oleh Uskup Agung, dan Raja Henry dengan pengawal-pengawalnya naik menuju Menara.

10 menit yang terasa sangat cepat, Raja Henry sedang memikirkan cara menyelamatkan bayinya. Ia sangat cemas ketika melihat sinar matahari mulai terpancar sedikit, menempa kolam-kolam dengan air keruh di bawah menara.

Mereka terus berjalan keatas menara paling tinggi. Mereka bermaksud untuk melempar bayi tersebut dari atas menara. Hampir setengah tinggi menara telah dinaiki, Raja Henry makin panik sampai peluh-peluh keluar dari pori-pori kulitnya.

Agh!” Raja Henry berteriak kesakitan, membuat para rombongan yang sedang berjalan berhenti dan berlari tergesa-gesa menuju Raja Henry.

“Ada apa Yang Mulia?” tanya mereka hampir serentak.

“E-entahlah, ini s-s-sakit se-k-kali,” ujar Raja Henry dengan terbata-bata sambil memegang perutnya yang tidak terasa nyeri apapun. Setidaknya, masih ada kemungkinan 4 banding 10 bayi tersebut selamat jika dilempar dari tempat ini.

“Yang Mulia Uskup Agung, matahari akan mulai terbit..” lapor salah satu dari anggota Pasokan Gereja sambil memberi hormat.

“Lanjutkan berjalan!” perintah sang Uskup.

Argghhhh!” teriak Raja Henry lagi.

Uskup Agung menahan gejolak amarah dalam dirinya. Namun, ia masih memasang wajah tenang, “Kalau begitu, kita lakukan di sini saja.”

“Ini bahkan belum sampai di tengah-tengah tinggi menara, Yang Mulia.”

“Biarkanlah, lagipula bayi ini kelihatan sangat lemah..”

“Pasukan, bersiap untuk membuka jendela jeruji!” titah si laki-laki berbadan paling besar dari kerumunan Pasokan Gereja.

Mereka mendorong jeruji-jeruji besi dengan kuat-kuat, membuat suara gesekan-gesekan yang tidak nyaman didengarkan bagi telinga. Terbuka.

Uskup Agung mengangkat si bayi tinggi-tinggi bertepatan dengan munculnya si raja siang.

“Atas nama Tuhan, kulenyapkan kau, kembalilah pada duniamu.”

Bertepatan dengan berakhirnya kalimat Uskup Agung, bayi mungil yang masih merah itu dilepas dari tangan Uskup Agung yang dingin.

“Tuhan menyertai dan melindungimu, anakku,” bisik Raja Henry sambil menitikkan air mata.

PLUNG

Bayi itu masuk ke dalam kolam keruh.

“Mari kembali.. Anda bisa berjalan Yang Mulia?” tanya sang Uskup sambil mengulurkan tangannya, dan tersenyum.

~.:*:.~

Scarlette Kingdom, 7:20 a.m

“Vic, sudahlah..” ujar Raja Henry, “Kau sudah menangis lama sekali..”

“Apa aku dikutuk? Mengapa anakku selalu dituduh sebagai anak titisan penyihir?!” ia menangis tersedu-sedu.

“Percayalah… Tuhan akan melindunginya.”

“Apa dari sekian anak kita yang telah dibunuh Tuhan tetap ada dan melindungi mereka?! Apa bahkan Tuhan itu ada?!”

“Jangan bicara seperti itu Vic, aku percaya, anak ini istimewa, dia akan bertahan..”

Ratu Victoria mengusap air matanya dan memeluk Raja Henry, “Tuhan, lindungilah kami.”

~.:*:.~

Wilayah Pedesaan Florence

“Hei!!!” teriak seorang bibi berbaju agak compang dan tidak mewah sama sekali. Ia berlari mengejar dua angsanya yang berlari menuju Menara Kyler.

“Hei!! Anak nakal jangan ke sana!!!” teriak bibi bernama Anna Hemmingwood tersebut, Anna mempercepat langkah larinya menuju kolam keruh, kemudian menangkap kedua angsa tersebut dengan sigap.

“Kena kau anak nakal! Awas kabur lagi, atau tak kuberi makan kelak..” kata Anna sambil tersenyum, lalu mengelus-ngelus kedua angsanya. Anna beranjak bangun.

Kwek, waakk, waak!” si angsa berbunyi sambil terus menoleh kebelakang.

“Apa lagi dengan anak ini..” gumam Anna dan berbalik, ia terkejut ketika melihat bayi mungil di sana. Lantas, ia melepaskan angsanya dan turun ke kolam dangkal yang membuat roknya basah dan agak bau.

“Bayi? Mayat? Ya Tuhan.. kejam sekali..” gumamnya sambil menggendong si bayi, ia berniat untuk menguburkan bayi tersebut.

Kwek, kwek, waak!”

Ssshh!” desis Anna.

Oeee!” tangis si bayi, membuat Anna menghela napas lega dan tersenyum.

“Syukurlah… masih hidup..”

Oeee, oeee!

“Cantiknya.. matanya bersinar bagai kristal… kau dibuang ya? Jahat sekali orang yang membuang putri secantikmu, ayo tinggal bersamaku..” kata Anna sambil tersenyum tulus dan mencium kening bayi itu.

Uh, kau bau,” katanya terkekeh.

Kwek, kwek!

Anna terheran karena kedua angsanya menjadi penurut dan mengikutinya dari belakang sambil terus berkwek-kwek. Anna tertawa.

“Aku akan memberinya nama Krystal.. Krystal Hemmingwood.”

~.:*:.~

 

 

 

 

Timp de Reînnoire

~.:*:.~

Musim semi. Mei, 1543

Wilayah Pedesaan Florence, 5:02 a.m

“Hei, ayam nakal! Kembali!!” jerit Krystal sambil berlari cepat, berusaha menangkap seekor ayam yang berlarian tanpa arah. Padahal, Krystal ingin memberinya makan. Ayam bodoh. Krystal mendengus kesal, mengapa hanya satu ayam ini yang sangat gemar kabur. Padahal, kawannya yang lain masih bisa diatur oleh Krystal.

Krystal dengan baju longgar lengan panjang berwarna putih dengan rok yang menutupi kaki jenjangnya sampai setengah betis berwarna coklat tua, serta rambut dikuncir kuda, masih mempercepat langkahnya untuk mengejar ayam itu.

Kwaak, kwak!”

“Hei Bo! Kau jangan ikutan keluar juga!” teriak Krystal kepada seekor itik putih yang berlari sambil mengepak-ngepakan sayapnya.

Krystal mengatur napasnya sambil mengencangkan ikatan di rambut kuncir kudanya.

“Pagi Krys,” sapa seorang laki-laki berpakaian santai. Itu tetangga Krystal, “Kelihatannya kau sibuk,” sindirnya sambil tertawa.

“Hei Lelouch!! Bisa bantu aku? Tolong tangkap Bo, aku akan membereskan Con!” pinta Krystal berteriak, ia masih mengejar si ayam—bernama Con—yang tak kunjung tertangkap olehnya.

“Aku belum bilang iya..” kata Lelouch.

And… Bo?” tanya Lelouch keheranan, “Itik putihmu?”

“Ya ya, itu dia!”

Lantas Lelouch berlari dan menangkap leher dekat kepala Bo dengan tangan kirinya, dan meletakkan tangan kanannya di perut Bo. Kemudian Lelouch memeluk Bo sambil menunggu Krystal selesai menangkap Con.

Hyaak! Kena kau! Dasar ayam bodoh!” Krystal mengatur nafasnya dan berjalan menuju kandang, ia melepas Con ke dalam kandang.

“Mulai hari ini, kau dihukum untuk tidak keluar dari kandang, mengerti Con?” kata Krystal sambil menggoyangkan jari telunjuknya, lalu berkacak pinggang.

Lelouch tertawa kecil melihat tingkah teman kecilnya yang kelihatan bodoh. Lelouch memberikan Bo kepada Krystal, “Thank you, Lelouch.”

“Sama-sama, aku berangkat dulu,” ujar Lelouch sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju kuda putihnya.

“Hati-hati!” kata Krystal sambil tersenyum manis, yang dibalas Lelouch dengan anggukkan antusias.

~.:*:.~

Scarlette Kingdom

Karpet merah tergerai di atas alas lantai kerajaan, setapak karpet merah menuju ke singgasana raja dan ratu. Di samping kiri dan kanan karpet, banyak orang-orang terhormat dan berjabatan tinggi berdiri disana. Di depan mata Lelouch, Raja Henry yang berwibawa sedang tersenyum.

Lelouch berjalan di atas karpet merah dengan hormat. Ia menghentikan langkahnya setelah berada di depan raja sekitar 1 meter, kemudian berlutut dengan sebelah kaki. Raja Henry meletakkan sebuah pedang platina di atas bahu kiri Lelouch.

“Wahai anak muda, dengan ini aku nobatkan engkau, Lelouch Kimburg sebagai Ksatria yang paling kupercayai di seluruh Kerajaan ini.”

“Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia Raja,” jawab Lelouch sambil menunduk hormat.

“Terima kasih atas misi penyelamatanmu, juga.”

Tepuk tangan riuh mengisi ruangan tersebut. Lantas, Raja Henry memegang pergelangan tangan kiri Lelouch dan mengangkatnya.

“Lelouch Kimburg!” ujar sang Raja dengan suara kencang.

Dan sekali lagi, tepuk tangan riuh menghadiahi Lelouch.

~.:*:.~

DING

Bunyi dentingan gelas stainless berwarna emas saling beradu terdengar dari sebuah kedai sederhana di pinggir kota Chadwick.

Cheers!!”

Congratulation Lelouch!” kata Dre Clovis, salah satu teman serekan Lelouch.

“Selamat buatmu, sobat!” kata Hobert Frenoya dengan bahasa yang lebih sopan.

“Terima kasih,” balas Lelouch sambil tersenyum tipis.

“Tapi nampaknya.. kau belum memberitahu hal ini kepada Krystal, ya?” tanya Hobert.

“Tentu saja belum! Jika sudah diberitahu, pasti gadis itu akan berada di sini.. betul kan, L?” goda Dre sambil menyenggol Lelouch yang sedang meneguk anggur putihnya.

“Memangnya kenapa kalau dia ada di sini? Dan mengapa kau harus menyenggolku?” balas Lelouch sinis.

Dre dan Hobert tertawa, “Tidak usah malu-malu, Lelouch..”

Lelouch berdecak, kemudian tersenyum dan melanjutkan minumnya.

Beberapa orang—yang nampaknya dijadikan budak—mondar-mandir mengangkat tempayan berisi air, maupun anggur, di atas bahu mereka. Beberapa di antara mereka bahkan adalah perempuan. Lelouch memandangi seorang anak kecil yang diperintahkan untuk mengangkat karung-karung beras. Hatinya terasa berat melihat pemandangan itu.

“Hei Dre, dia mulai lagi..” bisik Hobert.

“Aku tahu dia akan melakukannya,” balas Dre.

“Haruskah kita mengikutinya?”

Pertanyaan Hobert hanya di balas dengan indikkan bahu dari Dre.

“Tunggu sebentar..” kata Lelouch, sebelum ia beranjak bangun dari duduknya lalu mendatangi bocah tersebut.

Bocah yang didatangi Lelouch itu tampak ketakutan. Ia menunduk dengan kaki yang bergetar.

Hi, namamu?” tanya Lelouch ramah sambil menjulurkan tangannya.

Anak itu menggeleng kecil. Lelouch mengangkat karung beras yang dibawa anak itu dengan satu tangan, kemudian kembali menjulurkan tangannya.

“Aku Lelouch..”

“Aku tidak punya nama..” sahut anak itu.

Lelouch menangguk mengerti, memang biasanya budak-budak ada yang dibuang sejak bayi oleh orang tuanya karena krisis ekonomi.

“Lalu bagaimana biasanya kamu dipanggil?”

“Hei bocah..” jawab bocah itu polos.

Lelouch tersenyum kecil, “Kalau begitu.. sejak hari ini namamu adalah Sky.. bagaimana?”

“Keren..” balas bocah itu sambil tersenyum dan menyalami tangan Lelouch.

Lantas tiba-tiba sebuah tempayan besi berisi air jatuh mengenai bahu Lelouch, membuat Lelouch meringis kesakitan.

“Lelouch?! Baik-baik saja?” tanya Hobert yang langsung beranjak bangun, begitu juga dengan Dre.

“Tentu saja tidak…” balas Dre sambil melirik sinis kepada Hobert.

Gadis yang menjatuhkan tempayan besi itu terkejut setengah mati, “Maaf tuan, maaf.. hamba tidak melihat dengan jelas tadi. Tolong maafkan hamba,” ujarnya sambil hendak bersujud, namun dicegah oleh Lelouch.

“Tidak apa-apa..”

Beberapa orang-orang berbadan besar lalu datang dan mengunci gerakan si gadis dan menarik gadis berambut pirang bergelombang tersebut dengan paksa.

“Cambuk gadis ini!!”

Lelouch terkejut dan segera menarik kembali gadis tersebut dengan cepat. “J-jangan!”

“Brengsek, gadis itu milikku! Dia budakku! Kau tak berhak menariknya tanpa seizinku!” teriak seorang kakek berdagu panjang dengan pakaian yang lumayan mewah.

Lelouch berdecak kesal kemudian melemparkan sekantong emas batangan kepada kakek tersebut.

“Sekarang dia punyaku, dan bocah ini juga..” kata Lelouch dan membawa gadis berserta Sky pergi dari kedai tersebut. Sedangkan Dre dan Hobert yang tadi menahan cambuk milik si pria besar tersebut, melepaskannya dan mengikuti Lelouch, meninggalkan kedai itu.

Mereka berjalan dalam suasana yang canggung.

“Hei Dre.. bisa tolong bawa anak ini ke tempat yang lebih layak?” pinta Lelouch sambil tersenyum tipis.

“Oh, tentu saja..” balas Dre.

“Oh, aku ikut Dre saja..” ujar Hobert, lalu berlari kecil, menyamakan posisi berdirinya dengan Dre yang sedang menggandeng Sky.

“Maafkan aku, tuan.”

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.”

“Terima kasih, tuan. Mulai sekarang aku, Alice Sovanna akan mengabdi kepada anda…” kata gadis cantik itu sambil menunduk. Di kedua bola matanya, tersirat kesedihan mendalam.

Lelouch menarik kedua ujung bibirnya, membuat sebuah bentuk lengkung muncul di wajahnya yang maskulin, “Jangan dipikirkan lagi.. Tidak usah memanggilku tuan. Kau bisa hidup normal sekarang..”

Gadis cantik itu memberanikan diri, mengangkat wajahnya, “Pardon, sir?” kata Alice hati-hati.

“Mulai sekarang kau, Alice Sovanna, bisa hidup normal seperti biasa. Kau bukan budak lagi..”

“Tapi tuan.. tetap saja saya—“

“Baiklah. aku tuanmu kan? Jadi, kau akan mendengar dan melaksanakan semua perintahku? Sekarang kuperintahkan kau untuk hidup normal seperti yang lain..”

Dengan air mata yang masih berlinang di pelupuk matanya, ia tersenyum haru.

“Terima kasih..” katanya sambil hendak bersujud.

“Sudahlah Alice..” ujar Lelouch sambil menghentikan gerakan Alice.

“Kelak aku akan belajar bela diri supaya aku tidak merepotkanmu lagi, tuan..” ujar Alice sambil menghapus air matanya dengan jari.

“Ketika kau percaya, maka apa yang kauinginkan akan terjadi.”

“Maksudmu.. kelak aku bisa bela diri?”

Lelouch memutar bola matanya, kemudian menangguk, “Kau boleh ambil ini dan berlatih,” ujarnya sambil memberikan busur panahnya kepada Alice.

“Tidak tidak..” Alice dengan cepat menolak

“Berlatih memanah itu lebih mudah untuk wanita daripada berlatih pedang..”

“Bukan itu maksudku, tuan..”

“Ambil saja.. ini perintah..” kata Lelouch sambil tersenyum.

Alice menghela napas dan menerima busur panah berserta anak panah tersebut dengan hati-hati.

“Alice.. aku pamit dulu,” kata Lelouch, lalu berjalan menjauh.

“T-tunggu..”

Lelouch menoleh, “Ya?”

“N-nama tuan?”

“Lelouch Kimburg,” jawab Lelouch sambil tersenyum.

“S-satu lagi..” kata Alice terbata-bata.

Lelouch mengangguk, “Silahkan..”

“Maaf kalau tidak sopan, tapi… bolehkah saya tahu, mengapa tuan baik kepada saya?” tanya Alice takut-takut.

“Tidak apa-apa, kau hanya sedikit mirip dengan adikku yang telah meninggal.”

~.:*:.~

Wilayah Pedesaan Florence, 12:46 p.m

Peternakkan Hemmingwood

Teriknya matahari tidak membuat Krystal berhenti melanjutkan pembuatan kursi jeraminya. Sambil berjalan berjongkok, Krystal meraih tali tambang tipis untuk mengikat jerami-jerami kuning tersebut. Ia menengadahkan kepalanya dan melihat sosok Lelouch yang sedang berjalan kemari.

“Lelouch..” bisiknya sendiri.

Kwek kwek, kwaak!” ujar Krystal ketika mendapati Lelouch berjalan di depannya sekitar 3 meter.

Lelouch menoleh dan tertawa geli.

Kwek kwek kwek!” ujar Krystal, meniru suara bebek dengan sangat baik.

“Tiruan yang buruk..” ledek Lelouch.

“Telinga yang buruk,” balas Krystal sambil tersenyum lebar.

“Kau sedang buat apa?” tanya Lelouch memperhatikan tumpukan jerami yang dipegang Krystal.

“Kursi! Hehe..”

“Krys! Krys!” teriak seorang anak kecil yang sedang berlari, menggendong adik laki-lakinya yang terlihat pucat, setengah sadar. Napasnya terengah-engah, ia berusaha menstabilkan pernapasannya.

“Ada apa Rome?”

“Ray sakit, kau harus menolongnya! Kumohon..”

Krystal menoleh sebentar kepada Lelouch, pria itu tersenyum dan mengangguk. Krystal balas tersenyum dan menarik baju belakangnya, terlihat sebuah simbol tak biasa di punggungnya, spiral matahari dengan bentuk Kristal yang menyerupai segitiga terbalik.

Krystal meletakkan tangan Ray di atas simbolnya tersebut. Kilauan emas bercahaya menjalar ke seluruh permukaan kulit Ray, bahkan sampai kepala. Tidak sampai semenit, kilauan itu sirna dan kulit Ray kembali normal.

“Kau makan jamur di hutan, sih!” oceh Rome yang menangis, ia mengusap air matanya dengan lengan, kemudian menggandeng Ray pulang.

Krystal tersenyum manis meskipun wajahnya terlihat pucat.

“Kau pucat lagi sehabis menolong orang..” Lelouch tersenyum pahit.

“Aku senang membantu orang, meskipun aku sakit sedikit.. itu tidak apa-apa..”

“Aku tahu membantu sesama itu baik, namun jika itu membahayakan dirimu sendiri, bagaimana?”

Krystal tertawa, “Hal ini tidak akan membahayakanku, karena Tuhan selalu melindungiku..”

Lelouch mengangguk kaku sambil menatap Krystal dengan cemas, “Oh ya, mau kubantu pembuatan kursinya?” tawar Lelouch.

“Aku bisa melakukannya sendiri, tapi jika kau ingin membantuku, boleh saja..” sahut Krystal sambil tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya.

Lelouch bergeming kemudian meringis kecil sambil memijat-mijat bahu kanannya.

“L?” tanya Krystal sambil memiringkan kepalanya dan memperhatikan Lelouch, “Ada apa?”

Lelouch meringis lagi.

“Bahumu sakit?” Krystal mendekati Lelouch dan meremas pelan bahu kanan teman kecilnya tersebut.

Aw!” jerit Lelouch.

“Sesakit itukah?! Kena apa?” tanya Krystal panik. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sambil memijat pelan bahu Lelouch. Alis matanya berkerut, tanda cemas. Krystal menarik baju belakangnya, memperlihatkan simbol tadi, dan menarik tangan Lelouch.

Lelouch menyeringai jahil, menatap Krystal.

Ish!” desis Krystal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil memukul bahu kanan Lelouch kencang-kencang, bahkan berulang-ulang.

“Aduh, aduh, kali ini sakit sungguhan, dasar tenaga kuda!” kata Lelouch sambil mengelus bahunya yang dihajar Krystal.

“Rasakan!” sahut Krystal sambil menjulurkan lidahnya, lalu tertawa puas.

“Tapi tadi siang sakit sungguhan..” ujar Lelouch.

“Oh ya? Bagaimana bisa?”

“Terhantam besi..”

Krystal mengerutkan alisnya kebingungan, “Mengapa bisa ada besi mengenai dirimu?”

“Ketika aku sedang di kedai minum, melakukan perayaan kecil.”

“Perayaan untuk…?”

“Atas gelarku dari Raja Henry,” kata Lelouch sambil tersenyum kecil. “Ksatria yang terpercaya.”

“Kau tidak memberi tahu aku! Tapi baiklah, selamat untuk gelar dan luka barumu!” sahut Krystal sambil menjulurkan tangannya. Lelouch menyalami balik tangan mungil tersebut.

“Eh ngomong-ngomong, apa itu artinya kau bisa keluar-masuk istana sesukamu?”

“Bisa dibilang seperti itu, namun tidak sesukaku juga, karena aku tidak boleh membawa orang luar..”

“Benarkah? Padahal aku ingin memintamu untuk membawaku ke sana!” kata Krystal, cemberut.

“Kau ingin pergi ke Scarlette?” tanya Lelouch sambil tertawa kecil.

Krystal mengangguk antusias, “Aku penasaran dengan kehidupan istana..”

“Di sana tempat yang bagus, tempat yang aman dan tentram. Oh, lalu di belakang taman ada sebuah tempat yang akan menjadi favoritmu, kolam teratai yang banyak kodoknya,” kata Lelouch sambil mengikat jerami-jerami.

“Kodok? Aduh, aku semakin ingin pergi ke sana!”

“Dan di sana pasti banyak makanan enak,” kata Krystal yang sedang membayangkan dirinya menjadi putri, memakan daging kalkun dan steik sapi terlezat di Eropa.

“Berhentilah berkhayal, ayo realisasikan imajinasimu,” sahut Lelouch sambil tertawa kecil.

“Kau akan membawaku ke sana?! Baiklah!” kata Krystal senang, kemudian bertepuk tangan.

“Apa aku harus berganti pakaian?” tanya Krystal.

Lelouch bergumam sejenak, “Jangan memakai baju terusan, pakai celana saja,” kata Lelouch yang membuat Krystal melongo heran, dengan alis yang berkerut.

“Ikuti saja! Cepat, cepat!” usir Lelouch, mengibas tangannya.

~.:*:.~

Scarlette Kingdom, 1:30 p.m

Krystal membuang napas banyak-banyak. Ia dan Lelouch sedang berada di samping tembok-tembok istana yang sedang dijaga oleh pengawal. Ia mengerucutkan bibirnya. Krystal pikir, mereka akan masuk dengan cara normal.

“Hehe, kan sudah kubilang, tidak bisa sembarang orang masuk. Jadi, ayo masuk lewat sini..” kata Lelouch menunjukkan sebuah pintu rahasia di tembok istana yang terselimuti oleh sekumpulan rumput liar serta beberapa lumut.

“Baiklah ini keren,” Krystal tersenyum.

“Aku, Dre, dan Hobert membuat pintu ini bersama untuk kabur di sela latihan ketika bosan,” kata Lelouch, menyunggingkan sebuah senyuman jahil khasnya.

“Sepertinya, Raja salah mempercayaimu,” sindir Krystal sambil tertawa.

Sshh!!” desis Lelouch, “Jangan berisik..”

Lelouch merangkak terlebih dahulu, setelah itu, ia menunggu Krystal yang merangkak lewat pintu buatannya. Pintu yang dibuat Lelouch memang kecil, namun cukup untuk seukuran satu orang dewasa. Krystal yang masih belum terbiasa dengan sempitnya ruang pintu Lelouch, terbentur di bagian atas kepalanya, “Aduh!!”

Spontan, Lelouch langsung membekap mulut Krystal.

“S-sakit..” gumam Krystal tak jelas.

Lelouch mengelus kepala Krystal dengan cepat namun lembut, “Ayo.. pelan-pelan..” bisiknya sambil menuntun Krystal perlahan keluar dari pintu kecil tersebut.

“Sepertinya, tadi aku dengar suara perempuan..” kata salah seorang pengawal.

“Aku juga mendengarnya, sepertinya dari arah kolam teratai…” balas kawannya, yang berkumis.

Kedua pengawal tersebut mulai berjalan mendekati Lelouch dan Krystal.

Lelouch menepuk jidatnya sendiri kemudian melirik Krystal, “Maaf…” kata Krystal sambil menyengir.

“Cepat sembunyi!” bisik Lelouch sambil mendorong Krystal ke belakang semak-semak bersamanya.

Kedua pengawal tersebut sampai di kolam teratai dan memperhatikan sekitarnya, “Tidak ada orang, mungkin tadi imajinasi kita karena terlalu merindukan ibu kita..” gurau si pengawal berkumis.

Yeah, kurasa aku juga terlalu merindukan istriku jadi—“

SREK

Ups, Krystal menginjak batang kayu rapuh.

Suara tersebut membuat kedua pengawal langsung menoleh dan makin was-was.

“Dari semak-semak. Jangan-jangan penyusup…” kata si pengawal berkumis.

“Krys, bersiaplah untuk berlari..” bisik Lelouch tepat di telinga Krystal. Krystal dapat merasakan dengan jelas deru napas Lelouch. Krystal tidak langsung mengangguk.

“Aku bahkan belum sempat bermain..” balas Krystal.

“Jangan konyol, daripada kita berdua tertangkap..”

“Percayakan caraku..”

Lelouch menepuk jidatnya dan menggeleng, ia menarik lengan Krystal. “Just don’t—

Kwek, kwek!” tiru Krystal. Sedangkan Lelouch ternganga tak percaya.

“Oh ternyata hanya bebek..” kata mereka dan berbalik pergi, tidak jadi memeriksa semak mencurigakan tersebut. Mereka berjalan cukup jauh sampai mereka baru menyadari bahwa tidak ada bebek di lingkungan istana. Mereka berbalik dan melihat sebuah kaki perempuan terlihat dari balik tembok.

“Penyusup!!!” teriak mereka sambil berlari mengejar belokan tersebut.

Sambil berlari, “Diam dan ikuti rencanaku!” kata Lelouch kepada Krystal.

Lelouch memegangi tangan kiri dan kanan Krystal. “Menunduklah seolah kau tahu kau bersalah..” bisik Lelouch kecil, lalu mengacak-ngacak rambut Krystal.

“Hoi, hoi, apa yang kau lakukan?!”

“Ikuti saja…”

Kedua pengawal itu sampai dan mendapati Lelouch yang terlihat baru saja menangkap Krystal.

Knight Lelouch!” ujar kedua pengawal itu bersamaan, memberi hormat.

“Bagaimana Anda bisa berada di sini?” tanya pengawal yang berkumis.

“Aku sedari tadi di sini..”

“Maafkan saya, saya pikir anda telah pulang.”

Hum, aku kembali lagi tadi. Oh ya, gadis ini kubawa bersamaku,” kata Lelouch sambil mendorong bahu Krystal.

“Gadis ini harus dibawa ke Yang Mulia karena telah menyusup ke istana, kan?”

“Tidak usah, sebenarnya, aku mengenal gadis ini. Dia ada gangguan jiwa..”

Krystal mendelik tajam.

“Lihat-lihat, dia marah. Kemudian ia bisa tertawa sendiri..” ujar Lelouch sambil menarik Krystal.

Krystal mendesah kemudian tertawa paksa. Lalu, Krystal juga mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil marah-marah sampai ia keluar gerbang dan berada jauh dari istana.

“Lelouch!!” jerit Krystal sebal.

Lelouch menahan tawa, “Akting yang bagus, Krys..”

~.:*:.~

Pagi ini matahari bersinar begitu lembut. Burung-burung berkicau merdu dan berterbangan kesana kemari. Gereja-gereja di kota mulai menjalankan aktivitas semestinya, terutama hari ini adalah hari minggu.

Chadwick, 7:33 a.m

Krystal berjalan ke Wilayah Barat kota Chadwick. Chadwick adalah tempat dimana Kerajaan Scarlette berada. Krystal berjalan sendirian menuju pasar di pusat kota Chadwick. Ia hendak membeli buah-buahan dan susu.

Udara dihirup kemudian dikeluarkan oleh Krystal secara perlahan. Memang tidak sesegar udara di Florence, namun baginya, tetaplah mengasyikkan berjalan sendirian di kota ini.

Krystal membeli 3 karton susu, dan membayar belanjaannya. Ia hendak mendatangi salah satu penjual buah namun dibatalkannya setelah melihat kerumunan yang berjarak beberapa meter darinya. Yang Krystal dengar agak samar-samar, namun ia yakin pasti bahwa ada seorang pria yang sedang berteriak lantang di sana.

“Maaf, apa Anda tahu apa yang sedang terjadi?” tanya Krystal pada si penjual buah.

“Entahlah… tapi pria jangkung yang sedang berdiri di tengah itu adalah salah satu dari pemimpin anggota Pasokan Gereja, Chris Meredith.”

“Apa dia orang baik? Dia sedang berkotbah, kah?” tanya Krystal yang tidak mendapat respon apapun dari si lawan bicara. Orang itu hanya mengindikkan bahunya ragu-ragu.

Krystal mengerutkan alisnya dan berjalan mendekati kerumunan tersebut dengan hati-hati.

“Dengarkan aku!” teriak Chris Meredith, “Barang siapa yang berani mengatakan bahwa Pasokan Gereja telah menyembunyikan baik putri atau putra mahkota, akan dihukum langsung seperti pria ini!”

Krystal berjinjit untuk melihat isi di tengah kerumunan. Akhirnya, ia melompat-lompat untuk melihat hal tersebut. Gagal juga. Ia mencoba menyelip di antara kerumunan, dan betapa terkejutnya ia mendapati sebuah kepala manusia yang telah terpisah dari badannya.

Ia ketakutan sampai tak mampu bersuara.

“Siapapun yang melawan teori kami, akan berakhir seperti ini, atau mungkin, bahkan lebih kejam!” katanya.

Krystal menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang dingin dan bergetar.

Orang-orang mulai membubarkan diri, kecuali seorang gadis berambut pirang bergelombang yang sedang menangis tepat di samping mayat pria tersebut. Krystal menepuk pundak gadis cantik itu dengan iba.

“Mereka gila..” rutuk gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.

Krystal mengangguk sekali.

“Setelah membunuh Pak Copernicus, mereka membunuh kakakku juga..” geram gadis itu.

“Memangnya apa salah Pak Copernicus? Jika aku boleh mengetahuinya..” tanya Krystal hati-hati.

“Pak Copernicus tidak bersalah.. orang-orang itu membunuh Pak Copernicus dengan membuatnya terlihat bersalah.. Pak Copernicus mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, dan bumi adalah salah satu dari planet-planet yang mengelilinginya. Teori tersebut jelas berbanding terbalik dengan teori milik gereja yang mengatakan bahwa bumilah yang menjadi pusat tata surya..”

Krystal menghela napas.

“Mereka mengaku mereka kudus.. Mereka mengaku mereka membunuh atas nama Tuhan. Tidak tahu malu..” umpat gadis itu dengan ratusan bulir air mata yang terus menyeruak keluar dari pelupuk matanya.

“P-padahal, Pak Copernicus adalah dokter yang baik…” sambung gadis itu, kemudian menangis terisak.

Krystal menggigit bibir bawahnya, “Lalu… kakakmu?”

Gadis itu terdiam dan tangisannya yang semakin menjadi, membuat orang-orang sekitar sana menaruh simpati kepadanya.

“M-maafkan aku…” kata Krystal, menawarkan sebotol susu untuk gadis berambut pirang tersebut. Krystal merasa ia telah terlalu banyak bertanya.

“Kau bisa meminumnya nanti…” ujar Krystal takut-takut kemudian berjalan mundur sehabis meletakkan botol susu tersebut di dekat lutut sang gadis. Ia menjauhi tempat mengerikan tersebut sambil menghapus air matanya dengan kasar.

“Setelah Copernicus, kali ini Sovanna..” bisik orang sekitar yang tak sengaja terdengar oleh Krystal.

“Sovanna?” gumam Krystal.

Dalam perjalanan menuju Florence, Krystal terus memikirkan, mengapa yang diceritakan Lelouch kian berbeda dengan realita. Bukankah istana adalah tempat yang aman? Tempat kejadian tadi bahkan tidak sampai 20 kilometer dari istana.

Wilayah Pedesaan Florence

“Sovanna?” tanya Lelouch sehabis Krystal menyelesaikan ceritanya. Lelouch memutar bola matanya ke bawah, memikirkan sesuatu.

“Sovanna..” gumamnya lagi, dengan alis yang berkerut.

“Ada apa?” tanya Krystal. Namun, Lelouch hanya membalas dengan beberapa gelengan.

~.:*:.~

Chadwick, 7:00 a.m

Semalam yang dilalui Lelouch agak berat, dengan matanya yang agak sembab—karena kurang tidur—ia masih meneruskan tekadnya. Lelouch menanyai orang-orang asing secara acak mengenai keberadaan makam Sovanna.

“Maaf, Anda tahu tempat saudara Sovanna dimakamkan?”

“Maksudmu, James Sovanna?” tanya ibu berbadan tambun itu, “Jika iya, maka kau bisa pergi ke Black Shoes Cemetery.”

“Terima kasih..”

Black Shoes Cemetery, Chadwick

Makam itu terlihat sangat abu-abu di mata Lelouch. Ia berjalan perlahan mendekati sebuah makam yang, ada seorang gadis berambut pirang bergelombang yang ia yakini sebagai Alice Sovanna.

Tak ada satu suarapun yang memecah keheningan di tempat tersebut. Gadis itu menangis dalam diam.

“Alice..”

What happenned?” tanya Lelouch, ia menyajajarkan tingginya dengan Alice, lalu menatap gadis itu dalam kekhawatiran. Namun, gadis itu tidak memuaskan pertanyaan di benak Lelouch, gadis itu hanya balas menatap Lelouch dengan matanya yang bengkak. Gadis itu hanya mengarahkan Lelouch untuk memperhatikan nama yang tertulis di batu nisan tersebut.

James Sovanna.

Napas Lelouch terasa tercekat, “Your brother?”

Alice mengangguk, kemudian dengan begitu saja semua pertahanan yang telah ia tampung, tumpah seketika. Air matanya kembali turun dengan deras, membasahi pipinya. Lelouch memandangi Alice dengan iba, kemudian menarik Alice dalam dekapannya, merengkuhnya di atas bahu tegapnya.

“Kurasa, ada baiknya jika kau ikut temanku ke Florence..” kata Lelouch, yang tidak dijawab oleh Alice.

Semakin deru tangis Alice terdengar, semakin kesal pula Lelouch dengan Pasokan Gereja yang semena-mena. Ia mengepalkan tangannya keras-keras, menahan emosinya.

~.:*:.~

Chadwick, 8:13

Suara teriakan massa begitu memekakkan telinga, massa tersebut adalah orang-orang yang tidak terima atas kematian James Sovanna, sebut saja pendukung James Sovanna. Mereka mendemonstrasi di depan gereja dengan membawa beberapa palang sederhana atau sekedar kertas lebar.

Sepertinya, tanpa toleransi dan negoisasi dengan pihak pendukung James, pihak gereja langsung menurunkan para Pasokan Gereja untuk menghabisi mereka.

DOR DOR DOR!!

DRATATATATA!!

Tembakan terus terjadi, bahkan suara selongsong peluru yang jatuh tidak terdengar lagi saking ricuhnya keadaan serta betapa cepatnya peluru lain yang keluar dari senapan tak berperedam.

Kyaaaaaa!!” teriak wanita-wanita yang berada di sana.

“Tiarap! Semuanya tiarap!” teriak seorang pria berbaju hijau tua, “Tiar—“ kalimatnya terhenti, ia tertembak dan langsung ambruk ke tanah ketika peluru panas itu menembus jantungnya.

“Astaga! Ya Tuhan!!!” teriak seorang nenek.

“Mati kalian semua! Pemberontak harus mati!” teriak salah satu anggota Pasokan Gereja.

 

Hari ini lumayan terik. Alice sedang tinggal di Florence bersama Krystal dan Dre. Lelouch menunggangi kuda putih, dengan Hobert yang menunggangi kuda coklatnya menuju Chadwick.

Chadwick, 8:24

Lelouch dan Hobert membulatkan matanya tidak percaya ketika mendapati pemandangan kota Chadwick yang sedang mereka lihat.

Banyak bau mayat dan bau darah tercium dimana-mana. Beberapa kobaran api kecil membakar toko-toko yang berada di pinggir jalan. Bunyi tembakan jelas terdengar, sejelas suara teriakan para penduduk.

Lelouch tidak percaya, mereka sedang dalam perang saudara. Tidak, para Pasokan Gereja itu bukanlah saudara rakyat Scarlette.

“Kau kendalikan di sini, lindungi wanita dan anak-anak!” ujar Lelouch sambil berlari menuju istana, menghindari hujan peluru.

DOR!

Sebuah peluru acak mengenai lengan kirinya. Ia mengerang kesakitan sambil terus berlari menuju istana. Seandainya menunggang kuda tidak akan mencolok, ia pasti sudah menggunakan kuda untuk berlari lebih cepat menuju istana.

Damn!” umpatnya.

Scarlette Kingdom, Chadwick

Tempat itu masih sama, dua singgasana untuk Raja Henry dan Ratu Victoria. Raja Henry terlihat panik, sedari tadi ia berjalan mondar-mandir, entah memikirkan sesuatu.

“Maaf Yang Mulai Raja, mohon biarkan saya menurunkan prajurit kerajaan!”

“Kita tidak akan bisa melawan gereja..”

“Kumohon, percayalah padaku.. aku akan mengusahakannya!”

Raja Henry menghela napas, “Baiklah.”

Lelouch menghela napas lega kemudian langsung berlari menuju pintu keluar sampai suara Raja Henry menghentikan langkahnya.

“Victoria ada di Menara Kyler…” ujar Raja Henry.

“Ya ampun, ini buruk..” desis Lelouch.

~.:*:.~

Prajurit kerajaan mulai turun dengan cepat dan menyerang balik para Pasokan Gereja yang tidak berhenti menembaki rakyat secara membabi buta. Prajurit ini dibagi menjadi 2 tim. 1 tim untuk penyerang, dan tim lainnya digunakan untuk mengungsikan para penduduk.

Lelouch memimpin baku tembak di tengah.

“Turunkan senjata kerajaan, atau kami tidak akan berhenti menembak!” teriak Chris Meredith.

Tim Lelouch merespon dengan terus menembak. Lelouch tahu, jika ia menurunkan senjata maka tetap saja para Pasokan Gereja akan menembaki mereka dan membunuh para pendukung James Sovanna.

Baku tembak terus terjadi, beberapa orang dari tim Lelouch gugur tertembak, begitu juga dengan tim Pasokan Gereja.

Shit…” Lelouch mengumpat, emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Gereja terlalu mendominasi segalanya. Bahkan, sekarang mereka ingin mengambil alih pemerintahan. Mereka terlalu sewenang-wenang dalam memberi peraturan, hal yang merugikan mereka, akan mereka hapus. Mereka semena-mena dan tidak adil.

Beberapa Pasokan Gereja berlari menuju istana, formasi sudah diatur oleh Lelouch, ada 3 tim prajurit bersenjata yang berjaga.

Lelouch mundur dari kerumunan timnya, “Hobert, ambil alih pimpin! Aku menuju Florence!” kata Lelouch dengan cepat. Kalimat Lelouch terdengar samar-samar untuk Hobert, namun Hobert dapat memastikan bahwa Lelouch mengatakan Florence.

Chris Meredith mendapati laporan bahwa Lelouch yang berlari ke arah timur laut, ia memerhatikan Lelouch yang sedang berlari sambil menghindari hujanan peluru.

“Bentuk regu baru dan ikuti dia,” katanya dengan ekspresi dingin, Chris Meredith memang terkenal dengan wajah tak berperasaannya.

~.:*:.~

Menara Kyler, Wilayah Pedesaan Florence

Ratu Victoria berjalan dengan santai di sekitar Menara Kyler ditemani dengan seorang pengawal. Victoria melipat lututnya dan memandangi kolam keruh yang berada tepat di bawah Menara Kyler.

“Bahkan, sehabis lahir kau tidak pernah menikmati air bersih, nak.. maafkan ibu..” Victoria tersenyum tipis. Kemudian, Ratu Victoria berjalan memasuki Desa Florence.

“Ratu datang!” teriak mereka begitu melihat Victoria masuk. Semuanya bersikap hormat tak terkecuali Krystal, Alice, dan Dre.

“Bangunlah..” kata Ratu Victoria dengan kerendahan hatinya.

“Maaf, Yang Mulia, ada hal darurat yang harus aku sampaikan,” sela Lelouch secara tiba-tiba begitu sampai di Florence. Napasnya terengah-engah, untunglah ia sempat membawa kuda entah milik siapa tadi di tengah perjalanan menuju Florence.

“Perang terjadi di Chadwick, sebaiknya kalian semua mengungsi ke hutan sebelum Pasokan Gereja menuju kemari..”

“Lalu bagaimana dengan rumah kami…” ujar mereka frustasi. Beberapa anak kecil menangis rewel.

“Nyawa lebih penting.. sekarang kalian semua masuk ke dalam hutan.. Krys, kau, bibi Anna dan Ratu Victoria masuk duluan ke dalam hutan.”

“Dre dan Alice ikut aku!” kata Lelouch.

Krystal berlari secepat mungkin untuk kembali ke rumahnya.

“Hoi Krys! Kau mau apa?!” teriak Lelouch, kebingungan.

Krystal kembali dengan Bo di gendongannya, “Aku tidak bisa meninggalkan Bo…”

“Oh! Bawa 2 kuda dari peternakkan juga!” suruh Lelouch. Krystal mengangguk dan menarik 2 kuda dari peternakkannya.

“Kau bawa kuda yang ini bersamamu..” perintah Lelouch, “Gunakanlah ketika darurat, sekarang kau bersembunyi di sana,” ujar Lelouch menunjuk ujung, yang terlihat hanyalah lubang hitam dengan daun-daun rimbun yang berkumpul di atasnya.

Lelouch menarik kuda lain dan mengarahkan kuda itu kepada Dre dan Alice, “Ayo!”

Suara sepasukan kaki kuda terdengar, tiap detik suara itu terdengar makin jelas.

“Cepat lari! Pergi bersembunyi dan jangan bersuara!” teriak Lelouch.

Lelouch tidak langsung menembak, ia menganalisis senjata dan jumlah orang yang datang. Jika mustahil dikalahkan, maka menembak mereka sama dengan memasuki kandang singa.

Kurang lebih 100 orang dengan senjata api, namun salah satu dari mereka yang berdiri di tengah hanya membawa sebuah pedang. Lelouch memastikan orang yang membawa pedang tersebut adalah salah satu petinggi gereja yang dilarang menggunakan senjata api, sekaligus pimpinan regu itu.

“Itu Chris Meredith..” bisik Dre.

“Sial, mengapa desa ini kosong?” geram Chris.

“Kalian berpencar 10, cari si Victoria sampai ketemu! Cepat!” bentak Chris, memberikan aba-aba kepada timnya. Kumpulan prajurit berkuda tersebut langsung membagi ke 10 regu dan berpencar.

Lelouch menghela napas, meski ia tidak mendengar terlalu jelas apa yang Chris katakan, ia yakin Chris sedang memerintahkan timnya untuk mencari Ratu Victoria.

Sedangkan Chris dan 9 prajuritnya berjalan lurus menuju hutan dengan kuda mereka masing-masing.

“L? Tembak?” tanya Dre, bisik-bisik.

Lelouch menggeleng, “Tidak sekarang, tapi bidik dulu. Jika darurat, kau bisa menembaknya langsung.”

Bunyi kresek daun kering yang diinjak kuda-kuda terdengar jelas karena keheningan yang terjadi. Lelouch merasa suara napasnya terdengar begitu jelas. Baru kali ini adrenalinnya berpacu begitu cepat.

Chris berbalik dengan kudanya, setelah merasa bahwa hutan tersebut kosong.

SREK

Bunyi kresek daun kering lagi, Chris merasa bunyi itu bukan disebabkan olehnya. Ia berbalik ke arah hutan dan mengangkat tangan kanannya sejajar dengan wajahnya, memberi perintah dengan spontan.

DOR!

Satu peluru melesat kencang.

Oee!! Oee!!” tangis bayi terdengar samar-samar dari dalam hutan.

“Sial kalian ingin membodohiku!?” ia menggeram sambil mengangkat tangan kanan sejajar dengan wajahnya, memberi aba-aba kepada Pasokannya untuk bersiap menembak.

“Tembak!” bisik Lelouch.

Para pasukan mulai masuk ke dalam hutan dan menurunkan tembakan.

DOR!

DOR! Syut! Syut!

DOR! Syut!

3 peluru dari Dre dilepaskan mengenai 2 anggota Pasokan Gereja dan 1 kuda. Sedangkan 7 panah Alice mengenai 4 anggota Pasokan Gereja. 6 anggota dari Pasokan Gereja yang dipimpin Chris Meredith telah berhasil dilumpuhkan.

“Kalian pergi dengan kuda!” ujar Lelouch.

“Bagaimana denganmu, tuan?” tanya Alice.

“Aku di sini.”

Alice mengerutkan dahinya dengan cemas.

“Percaya, maka hal yang kau percayai akan terjadi..” kata Lelouch sambil tersenyum tipis.

“Nona Alice, percayalah dengan rencana Lelouch. Sekarang ikuti saja..” bujuk Dre yang sudah menaiki kuda terlebih dahulu. Ia menjulurkan tangannya. Alice meraih uluran tangan tersebut dan menaiki kuda dengan pelan, takut jika kuda itu akan membuat suara ringkikan yang terlalu bising.

“Oh ya Dre!! Panggil Ricky! A-atau Peniel atau Ken atau Leo atau siapapun ke sini!” teriak Lelouch. Dia tidak ada ide, yang ia tahu sekarang Hobert sedang berada di Chadwick.

DOR DOR DOR DOR DOR!

4 pasukan itu masih menurunkan rentetan peluru.

DRAP!

Bunyi kaki kuda yang dipacu Dre terdengar lumayan nyaring.

“Ikuti suara itu!” perintah Chris kepada sisa 4 pasukannya. Keberuntungan bagi Chris, pasukan yang tadi ia perintahkan untuk berpencar telah kembali dan melaporkan kenihilan atas keberadaan Ratu Victoria.

“Kalian ikuti arah pinus! Sisanya di sini!”

Lelouch panik, dirinya kekurangan pasukan di tempat ini. Ia hanya berharap dua hal. Pertama, semoga Krystal dapat melindungi Ratu Victoria dengan selamat. Kedua, semoga Ricky atau Peniel, Ken dan Leo, atau siapapun itu yang berasal dari prajurit kerajaan bisa kemari dengan cepat.

Kwek akwek!! Kwek kwek!!” ujar Lelouch yang meniru suara bebek, meski suara tiruannya tidak sempurna, ia berharap Krystal mengerti kodenya.

Dari kejauhan, Ratu Victoria masih bersama dengan Krystal yang keheranan. Apa yang Lelouch lakukan di saat seperti ini, untuk apa ia menirukan suara bebek dengan nyaring. Bahkan, jika Krystal tidak salah, ini adalah pertama kalinya Lelouch menirukan suara bebek.

Apa untuk memancing musuh? Tapi, tadi ia melihat Dre dan Alice kabur, apa mungkin Lelouch melawan musuh sendirian? Bagi Krystal itu terdengar bodoh, sebab Lelouch tidak akan memilih untuk bunuh diri.

Kwek!” kali ini terdengar lebih lemah.

Gunakanlah ketika darurat—“

Krystal teringat ucapan Lelouch, ia mengerti dan segera memacu kuda yang sejak tadi ia duduki. Untuk berjaga-jaga dari serangan musuh yang datang dari belakang, Ratu Victoria duduk di depan sedangkan Krystal di belakang, namun Krystal juga yang mengendalikan kuda tersebut.

Krystal menitipkan Bo kepada ibunya, Anna.

“Bu…” katanya, sangat khawatir. Ia tidak yakin bisa melindungi Victoria, bahkan ia meninggalkan ibunya di sini.

“Tidak apa-apa, pergi saja. Semangat Krys! God bless you, my dear,” ujar Anna. Krystal mengangguk dan mulai memacu kudanya ke arah tenggara.

DRAP!

Chris memalingkan kepalanya, ia mendengar suara ringkikkan beserta hentakan kaki kuda dari ujung. Dahinya berkerut, dengan tampang dinginnya ia bergumam, “Lelouch..” lalu menyunggingkan sebuah seringai yang meremehkan.

~.:*:.~

Dre dan Alice menunggangi kuda mereka menuju wilayah timur laut Nerrevania. Lelouch yang memimpin Dre dan Alice mulai berbaur ke dalam kelompok prajurit yang telah mereka siapkan sejak tadi.

“Bersiaplah!” teriak Lelouch.

Suara erangan riuh tiba-tiba memenuhi area tersebut, para Pasokan Gereja berbaur masuk sambil hendak menurunkan tembakan. Lelouch meneliti jumlah Pasokan Gereja yang bertambah mendadak, namun ia tidak dapat menemukan sosok Chris Meredith di sana.

“Ketika mereka berada di jarak dekat dengan kita, balik!”

Suara hentakan kaki-kaki kuda terdengar makin jelas. Di hari yang begitu terik Lelouch merasa sangat diberkati Tuhan, “Kami akan menang.”

Prajurit yang disiapkan Lelouch hanya bersiapkan sebuah tameng emas dan sebuah busur panah biasa dengan anak-anak busurnya. Barisan prajurit paling belakang memegang bagian pistol. Apa yang Lelouch pikirkan dengan memerintahkan mereka melawan Pasokan Gereja yang bersenjatakan pistol? Lelouch tersenyum simpul.

Jika saja mereka tidak kekurangan pistol, maka peperangan ini mutlak pemenangnya adalah kerajaan. Setidaknya, itu bagi Lelouch.

Karena…

cahaya matahari hari itu, terik.

“Balik!”

Dengan serentak, prajurit kerajaan membalikan tameng emas tersebut. Cahaya emas tersebut terpancar dan menyilaukan pandangan musuh. Ditambah lagi cahaya matahari yang terbias, membuat keadaan udara sekitar menjadi panas dan tambah silau.

Suara ringkikkan kuda muncul ketika cahaya tersebut telah membuatnya risih. Kuda-kuda yang ditunggangi para Pasokan Gereja jatuh bersamaan dengan penunggangnya.

Syut! Syut syut syut!

DRATATATATA DSING DSING DRATATATA

Meski beberapa prajurit kerajaan gugur, namun sudah lebih dari setengah anggota Pasokan Gereja yang telah tewas.

“Bidikan yang hebat Lice! Kau belajar dari mana?” tanya Dre sambil terus menurunkan tembakannya.

Uh uh, aku hanya belajar dari tekad dan.. emosi?” sahut Alice sambil tertawa kecil.

Dre tertawa, “Berhati-hatilah dan terus fokus!”

Alice tersenyum tipis dan menoleh ke belakang, memastikan bahwa Lelouch baik-baik saja. Ia lanjut menurunkan anak panahnya.

Setelah baku tembak telah selesai, mereka yang masih hidup menurunkan senjatanya. Alice turun dari kuda ketika ia melihat Lelouch berjalan ke arahnya, dengan kuda putihnya

Mereka mungkin telah memenangkan pertarungan ini di wilayah ini. Sekarang saatnya mereka berpencar mencari Krystal.

“Sepertinya Krystal pergi ke arah tenggara dari Florence.. sebab aku mendengar suara kaki kuda berada di sisi kanan..” sahut Lelouch.

“Berarti dia ada di Reinville..” jawab Alice.

“Kita harus kesana sekarang, ratu masih bersamanya..” kata Dre.

Dre dan Lelouch berbalik ke arah selatan dan hendak melanjutkan perjalanan bersama prajurit yang tersisa, kemudian Alice kembali ke kuda lain milik prajurit yang telah gugur. Alice terperangah ketika melihat salah seorang dari Pasokan Gereja yang tengah sekarat sedang mengarahkan pistol ke Lelouch.

“Awas!!” pekik Alice sambil berlari, menendang kuda Lelouch sebisanya.

Neighh! DOR!

Alice menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Lelouch. Peluru itu akhirnya bersarang di jantungnya, seketika Alice roboh.

“Alice!!” teriak Lelouch dan langsung turun dari kudanya.

Dre yang naik pitam langsung menembaki kepala orang itu sampai tewas. Lelouch mendatangi Alice dan memeluk gadis itu dengan tangan yang bergetar.

“Tuan… ini… aku..”

“Lice, jangan bicara lagi..”

“Su-sudah.. memba..yar.. k-kebaikan..mu..”

“Lice!!!”

Thanks.. Sir and.. Dre,” setelah mengakhiri pesan tersebut, Alice menutup mata untuk selama-lamanya.

“Lice!! Alice!!” teriak Lelouch dan Dre, bersamaan.

Arghh brengsek!” umpat Dre.

~.:*:.~

Reinville

Terlihat jelas ada adegan kejar-kejaran yang dilakukan Chris Meredith dan Krystal Hemmingwood di Reinville. Krystal terus sesekali menoleh ke belakang dengan takut.

“Sudah kuduga,” gumam Chris.

“Kau beruntung hari ini karena posisiku hanya diperbolehkan membawa pedang. Bukan senapan atau panah. Jika saja itu terjadi, mungkin bagian organ pentingmu sudah kulubangi.”

“Ya, aku beruntung hari ini,” jawab Krystal, menantang. Ia memberikan pedangnya kepada Ratu Victoria.

“Kau tahu, hukuman bagi pemberontak adalah mati!” kata Chris kemudian menyunggingkan seringai jahat.

Krystal menghela napas dan memacu kudanya lebih cepat. Ia tidak mengindahkan ucapan Chris.

“Nak, di sana mungkin ada jalan buntu..” Chris tertawa menghina.

Krystal sendiri tidak tahu arah mana yang ia tuju, yang pasti ia masih di wilayah Reinville. Ia hanya berharap supaya Lelouch cepat kemari.

Chris memacu kudanya lebih cepat dari Krystal, ia mencambuk kudanya berkali-kali dengan sangat kuat. “Lari!!”

Krystal sesekali menoleh ke belakang, ia menarik tali tuntunan kudanya, ia hendak berbelok ke kanan. Suasana makin menegangkan ketika Chris mulai berada di dekat Krystal sambil mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi.

Krystal sekali lagi mengibas tali tuntunan kuda tersebut. Keringatnya bercucuran. Takut? Tentu saja.

“Nona Krystal, turunkan aku saja..” pinta Ratu Victoria.

No Your Highness..” jawab Krystal tegas.

“Yang dia inginkan hanya aku… aku tidak ingin melibatkanmu, nona..”

“Tidak ratu, aku bisa mengatasinya. Tolong percaya padaku..”

“Tapi—“

“Maaf.. kumohon, Yang Mulia..”

“Anak kecil, berhentilah memberontak dan beraksi menjadi pahlawan!!!” Chris memecut kudanya kuat-kuat, kuda itu meringkik kesakitan dan mempercepat larinya. Chris mengayunkan pedangnya ke arah Krystal yang terus berlari dengan kudanya.

SRET!

Pedang itu menggores pakaian Krystal yang tadinya masih terbalut oleh helaian kain.

“Ahh!!”

Baju Krystal terkoyak setelah pedang milik Chris menyambarnya. Beberapa darah menetes dari sana.

“K-kau tidak apa-apa?!” tanya Ratu Victoria sangat khawatir.

“Tidak apa-apa.. hanya sedikit perih..”

Krystal tidak berhenti menarik tali tuntunannya, meski punggungnya terasa perih dan sakit. Bajunya terkoyak makin lebar. Sebuah simbol warna emas berbentuk spiral dengan segitiga terbalik—yang sebenarnya merupakan permata—di tengahnya terlihat dari punggung Krystal. Rambut Krystal yang terurai bergelombang kelihatan berwarna keemasan karena cahaya yang disebabkan oleh simbol itu.

“T-tanda itu..” Chris terpukau, tak percaya.

“Bukannya kau sudah mati?!” teriak Chris.

Krystal terkejut, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Chris. Ratu Victoria yang merasakan tempaan cahaya emas juga ikut mengintip ke belakang. Ia kaget sebab ia menemukan simbol yang sangat ia rindukan, simbol yang selalu ingin ia lihat.

“A-anakku..” gumam Ratu Victoria.

Krystal tidak mengerti apa-apa.

DOR! DOR!

Kuda yang ditunggangi Chris Meredith meringkik kesakitan setelah dua tembakan mengenai kakinya. Setelah itu kuda tersebut ambruk, Chris yang duduk di atas sana jatuh terguling.

“Brengsek!!” geram Chris.

Dre dan Lelouch berlari ke arah Krystal.

“Bodoh, kenapa baru datang!!” pekik Krystal.

“Kau pikir mudah menemukanmu di Reinville..” balas Lelouch sewot. Sedangkan Dre sibuk mencari magazinenya—yang sudah hilang.

“Sial.. peluruku tinggal 3..” umpat Dre.

Chris menusukkan pedangnya di tanah kemudian ia beranjak bangun. Dengan napasnya yang sudah tersengal-sengal, ia bangkit.

“Lelouch Kimburg..” kata Chris dengan suara lantang, napasnya masih terengah.

Lelouch berbalik.

“Pengkhianat!!!” teriaknya dengan murka sambil mengarahkan pedang ke arah Lelouch. Lelouch mengarahkan pistol tepat di kepala Chris, seketika Chris menghentikan gerakannya.

“Kau.. ingin aku menarik pelatuknya?” Lelouch tersenyum tipis.

Chris berdecak, ia tertawa menghina kemudian meludah sembarangan, “Aku tahu kau bukan orang yang bisa membunuh dengan cara seperti itu.”

“Aku juga tahu, kau tidak akan memilih dibunuh dengan cara seperti itu, Meredith yang ‘agung’..”

“Jika kita mati, mari mati bersama dan bertemu Tuhan bersama..” ucap Chris sambil menyeringai.

“Tidak, meski kau mati, kau tidak akan bertemu dengan Tuhan, Chris..” kata Lelouch.

Chris tertawa sarkasme. “Kalau begitu lebih baik kau saja yang mati duluan, sebab orang baik sepertimu pasti bertemu Tuhan..”

“Aku tahu bahwa Dia belum ingin menemuiku sekarang,” Lelouch balas tersenyum.

Chris mengeratkan pedangnya. Ia menatap Lelouch yang sedang mengarahkan pistol yang kapan saja bisa melubangi kepalanya, dengan tajam dan penuh kebencian.

Dengan kepalan tangan kanannya, ia memukul nadi Lelouch, tangan kanan Lelouch mati rasa ketika beberapa syarafnya berhasil dilumpuhkan Chris.

DOR!

Pemicu tertekan membuat peluru tersebut melesat keluar ketika tangan Lelouch dipukul. Chris mengambil alih tangan Lelouch. Ia menekan jari Lelouch yang berada di pemicu.

DOR!

Sebuah peluru melesat karena Chris menekan pemicu itu lagi.

DOR! DOR! DRATATATA!

Chris hanya tersenyum menyeringai setelah menembak asal—menghabiskan peluru Lelouch, “Kau menyesal karena tidak langsung membunuhku tadi.. iya kan?”

Chris perlahan mengarahkan pistol tersebut ke pelipis Lelouch.

DOR! DOR!

“ARGHH!! Brengsek!!” teriak Chris sangat kencang. Tangannya kesakitan dan merasakan panas yang luar biasa. Ketika pistol terjatuh, Lelouch langsung mengambil kesempatan meraih kembali pistolnya. Ia mundur, menjaga jarak dari Chris.

Dre menembak tangan dan kaki Chris Meredith, kemudian hendak membawa Krystal dan Ratu Victoria ke tempat yang lebih aman.

Lelouch memantau sekitarnya. Ia menyadari bahwa peluru yang melesat tersebut hampir mematahkan sebuah batang pohon berukuran sedang. Ia memperlebar lubang di batang tersebut dengan menembakinya dengan sisa peluru seadanya.

“Lelouch!!! Awas!!” jerit Krystal.

“Dominasi gereja akan terus ada!!!” teriak Chris sambil menusukkan pedangnya platinanya pada Lelouch.

DOR!

Perut Chris terkena tembakan, “Hhh.. Hhh..” napasnya masih tersengal-sengal.

Bau asap mesiu tercium pekat dari tubuh Dre, ia melepaskan pegangannya pada pistol kosong yang masih mengeluarkan asap tersebut.

Krr—

Kreett..

Pohon yang tadinya tak sengaja tertembak oleh Chris akhirnya mulai roboh dan akan menimpa dirinya dan Lelouch. Dengan sekuat tenaga yang masih Lelouch miliki, ia mencabut pedang tersebut dan menggulingkan badannya ke samping untuk menghindari jatuhnya batang tersebut.

Dre, dengan cepat ikut bertaruh nyawa dengan menarik Lelouch.

BRUK!!

Pohon tersebut roboh dan menimpa Chris Meredith hidup-hidup.

“L-Lelouch..” Krystal berlari menghampiri Lelouch dengan wajah yang menahan tangis. Ia gelagapan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sedangkan Dre hanya berdiri diam.

What are the hell you doing, Dre?!” pekik Krystal.

“Kau seharusnya kemari! Tolong dia!” kali ini Krystal sudah mulai bercucuran air mata. Ia sesenggukan.

“Kr..ys.. sshh..” lirih Lelouch, lemah.

I’m…o..kay..” kata Lelouch sambil tersenyum tipis.

Dre menggendong Lelouch ke atas kuda, dan membiarkan Krystal membawa Lelouch pergi. Dre membawa Ratu Victoria kembali ke Istana dengan kudanya.

“Nak, siapa nama gadis itu..?” tanya Ratu Victoria.

“Krystal, Krystal Hemmingwood, Yang Mulia.”

~.:*:.~

Krystal memacu kudanya secepat mungkin dengan Lelouch yang tersungkur lemah di belakangnya. Perut Lelouch sudah dibungkus dengan kain panjang berwarna coklat muda milik Krystal untuk menghambat pengeluaran darah.

“Lelouch..” panggil Krystal memastikan.

Yes..”

Krystal menghela napas lega namun air matanya tetap turun deras.

“Kau harus menjawab setiap kupanggil ya..”

Hening. Tidak ada respon dari Lelouch.

“K-kita akan segera sampai di Florence..” ujar Krystal.

“Lelouch..?”

Tidak ada respon seperti tadi.

“Lelouch!!” jerit Krystal. Tubuhnya bergetar hebat bukan karena diterpa angin, namun karena ia menangis kencang.

“Jawab aku Lelouch!! Lelouch, kau harus menjawabku!!”

“Krys..” panggil Lelouch.

“Kau jangan bercanda seperti itu lagi…” Krystal terisak.

“Aku.. lelah..” kata Lelouch dengan sangat pelan, kemudian perlahan menutup kelopak matanya.

Krystal menelan salivanya, “Lelouch..” panggil Krystal yang tidak mendapat jawaban dari Lelouch.

“Hei..” Krystal mengguncangkan bahunya sendiri sambil menoleh ke belakang, serta mendapati sosok Lelouch yang sedang tertutup kelopak matanya.

“Hei!! Lelouch!!” Krystal menggoyangkan bahunya makin kencang. Bulir-bulir air mata Krystal terus mengucur deras. Kepala Lelouch yang sedari tadi disandarkan di punggung Krystal memancarkan cahaya keemasan.

Krystal menoleh ke belakang lagi, ia mendapati cahaya dari punggungnya.

“Aku hanya ngantuk..” bisik Lelouch lemah.

Krystal menggelengkan kepalanya, “Kau tidak boleh tidur di sini!!” ia mengencangkan pacuan kudanya agar lebih cepat sampai di Florence.

Krystal meraih tangan kanan Lelouch dan meletakan telapak tersebut berada di punggung, atau tepatnya di simbolnya. Semakin besar cahaya itu, semakin pucat juga wajah Krystal.

Krystal mengedipkan kedua matanya beberapa kali, “It’s okay, Krys, you can handle it..” ujar Krystal menyemangati dirinya sendiri.

Wilayah Pedesaan Florence

Krystal langsung bergegas turun dari kuda, ia mengambil handuk dan mencelupkannya ke dalam air, kemudian memeras handuk itu sambil berlari. Ia meletakkan handuk basah tersebut di atas perut Lelouch. Kemudian ia mengoleskan obat yang terbuat dari tumbukan daun-daun hijau di atas perut Lelouch.

Krystal bersyukur luka tusukan yang di alami Lelouch tidak dalam, karena Lelouch menggunakan baju pelindung.

“Lelouch.. kau dengar aku.. kan?”

Krystal menangis terisak memeluk Lelouch yang diam.

“Ketika kau percaya, maka apa yang kauinginkan akan terjadi.”

Krystal melepaskan pelukannya, ia mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Ini tidak akan membahayakanku..” gumamnya. Ia meletakkan tangan Lelouch di simbol tersebut. Warna keemasan lagi-lagi terpancar, menerangi seisi ruangan di rumah Krystal. Bermenit-menit berlalu, wajah Krystal juga makin pucat.

“Aku bisa menyem..buh.. kan..”

“Krys..”

“l-lu.. ka… mu—“

DUK

Krystal tidak sadarkan diri, dan pingsan di atas tubuh Lelouch.

“Rr..rhh..”

Lelouch, aku sayang padamu… Kita tidak akan berakhir seperti ini kan?

~.:*:.~

 

 

Timp de Reînnoire

`Epilogue

~.:*:.~

Musim panas. Juni, 1543

Chadwick

Reruntuhan puing-puing mulai diperbaiki di kota Chadwick. Hobert dan Dre sedang menangani perang yang baru saja selesai. Dewan Gereja yang merupakan ketua dari para pimpinan Gereja, datang langsung dari Vatikan untuk meminta maaf atas ulah Pasokan Gereja yang semena-mena dan tanpa izin. Permintaan maaf itu tidak langsung diterima oleh Dewan Rakyat. Mereka meminta perjanjian dengan Gereja untuk tidak ikut campur lagi dalam sistem pemerintahan, serta kekuasaan sepenuhnya dimiliki Raja. Akhirnya, Gereja dengan berat hati menyetujui hal tersebut.

Beberapa konspirasi dari masyarakat muncul. Salah satunya yang paling terkenal dan dipercayai benar adalah bahwa; hal ini disebabkan oleh segelintir kegelapan yang masih tersisa dari Abad pertengahan di Abad Renaisans. Ada beberapa kedengkian dulu di Abad pertengahan, setelah kekuasaan gereja dihapus besar-besaran. Di abad ini, Paus beserta Uskup Agung yang terdahulu ingin menguasai Negara dengan cara membunuh terus-menerus keturunan kerajaan dengan berbagai alasan (mengatakan bahwa itu adalah perintah Tuhan, anak titisan iblis, dll), supaya tidak ada penerusnya. Jika hal itu berhasil, maka dengan otomatis sistem pemerintahan akan jatuh ke tangan pimpinan Gereja.

Wilayah Barat Chadwick

Scarlette Kingdom, 7:00 a.m

Berbalut gaun mewah berwarna cream dengan sentuhan biru mint yang menyegarkan indra penglihat, Krystal tampil cantik hari itu. Tak lupa, sebuah kalung yang mirip dengan simbol di punggungnya tergantung manis di lehernya.

Krystal bersama Raja Henry, Ratu Victoria, dan Anna Hemmingwood berdiri di atas balkon kerajaan, menghadap ke rakyat yang berkumpul di balai kerajaan. Seiring dengan ditemukannya kembali putri yang hilang tersebut, rakyat bersorak gembira.

Raja Henry mengangkat mahkota putri yang selama ini disimpan manis di sebuah kotak kaca. Mahkota itu dihiasi oleh taburan mutiara, dan beberapa berlian kecil, serta di tengahnya ada sebuah batu Kristal berwarna biru muda yang mengkilap. Krystal menunduk memberi hormat ketika ayahnya membalikan badan untuk mengenakan mahkota indah tersebut di kepalanya.

Our Princess, Krystal Scarlette Hemmingwood.”

Lantas rentetan sorakan dan tepuk tangan mengisi suasana hari itu.

Krystal tidak ingin nama Hemmingwood dihilangkan dari dirinya, karena ia tumbuh dalam wilayah peternakkan keluarga Hemmingwood yang mencintainya—meski Anna Hemmingwood membesarkannya seorang diri.

Krystal tersenyum dan membungkuk kepada rakyat, “Terima kasih.” Krystal mengitarkan pandangannya, mencari seseorang.

~.:*:.~

Bukit Feuille, Wilayah Pedesaan Florence

Malam ini bulan bersinar terang menyinari daratan kota Chadwick, tepatnya di desa Florence. Saat ini, Krystal terlihat sedang duduk sendirian di atas Bukit Feuille. Angin bertiup lembut menerbangkan helai-helai rambut Krystal. Tidak seperti biasanya, malam ini Krystal mengenakan baju hitam berlengan buntung dengan rok panjang berwarna merah marun.

“Krys! Kau menunggu lama?” tanya Lelouch yang baru muncul. Napasnya terengah-engah karena sehabis berlari.

“Aku tidak menunggu, namun yeah, itu lama.”

Lelouch berdecak, “Dasar bertele-tele..”, lalu tertawa bersama Krystal.

Krystal menghadap ke rerumputan kemudian tersenyum.

“Yang waktu itu, terima kasih ya..” kata Lelouch.

Krystal mengangguk kecil. Suasana malam itu mungkin agak canggung.

“Krys.. mengapa malam ini kita canggung saat kita sedang berdua?”

“Aku.. tidak tahu. Tapi kita tidak sedang berdua..”

Huh?” Lelouch melongo sekilas.

“Lelouch.. kalau seandainya yang mereka katakan itu benar bagaimana ya?”

“Yang mereka katakan?”

“Bahwa aku anak iblis atau penyihir dan semacamnya..”

Lelouch terdiam menatap wajah serius Krystal kemudian tertawa lepas, “Bodoh, mana mungkin ada iblis yang menolong manusia dengan ikhlas..”

Krystal tersenyum kemudian benar, “Yaah, kamu ada benarnya juga..”

“Apa lagi ditambah dengan cinta..” kata Lelouch sambil menggoyangkan alisnya dengan jahil.

Krystal melongo tak percaya ditambah dengan ekspresi jijik yang ia tujukan kepada Lelouch, “Lelouch.. kamu jadi menjijikkan dengan gaya bicara barumu..” katanya sambil menahan tawa.

Lelouch tertawa ringan, “Aku bercanda..”

“Tapi.. bagiku simbol itu anugrah buatku dan rakyat Scarlette, mungkin Tuhan memberimu untuk pembaharuan di Negara ini..”

Krystal mengangguk sambil mengedikkan bahunya, “Entah mengapa, ketika kamu yang berbicara, kata-katamu akan terdengar benar bagiku..”

“Sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kau mengatur pikiran dan perasaanmu sendiri. Jika kau tak bisa mengontrol kedua hal tersebut hanya di depanku, artinya…”

Krystal menoleh, menunggu Lelouch yang menggantungkan kalimatnya.

“Kau jatuh cinta padaku,” kata Lelouch sambil menyengir.

Krystal berkedip tak percaya, “Issh!!” Ia mengambil kerikil dan melempari kerikil tersebut ke Lelouch dengan wajah malu.

Lelouch tertawa melihat ekspresi Krystal, sebenarnya ia lebih malu mengatakan hal seperti itu, ia tidak tahu angin apa yang sedang menyambarnya—mungkin maksud Lelouch adalah petir—sampai-sampai ia berkata seperti tadi.

Krystal menghindari tatapan Lelouch dan memeluk erat kedua lututnya. Kemudian Lelouch menghela napas dan merangkul Krystal sambil tersenyum.

Mereka berdua menengadahkan kepalanya untuk menikmati indahnya pemandangan malam, suara jangkrik juga ikut menghiasi malam itu. Namun, entah mengapa tiba-tiba malam itu terasa menyilaukan.

“Krys, malam ini aneh ya.. sepertinya di belakang agak silau..” kata Lelouch tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam bertabur bintang.

Krystal menoleh ke belakang lalu melirik Lelouch, “Kau menyentuh simbolnya….”

“O-o-oh ya ampun..” kata Lelouch gelagapan sambil melepaskan rangkulannya.

“Kau tidak kedinginan pakai baju begitu?” tanya Lelouch sambil melirik Krystal.

“Jaketku tersangkut di dahan pohon tadi…” desis Krystal.

Lelouch terkekeh, “Dasar ceroboh..”

Krystal tidak menggubris ejekan Lelouch.

“Tapi aku sayang gadis ceroboh sepertimu..” kata Lelouch sambil tersenyum dan memeluk Krystal, kemudian merangkul gadis itu dengan hangat.

Kwek kwek kwek!!”

Lelouch menoleh dan mendapati tiba-tiba seekor itik lewat di tengah-tengah pelukan Lelouch dan Krystal.

“Jadi maksudmu.. kita tidak berdua karena ada itik ini…” kata Lelouch yang disambut dengan tawa hambar dari Krystal yang kemudian mengangguk malu-malu.

Kwek kwek kwek kwek!! Kwek kwek!!” bising Bo.

“Hei Bo jangan ganggu kami..” kata Lelouch sambil mendorong-dorong itik mungil itu.

KWEK KWEK!!” teriak Bo makin kencang dan mematuk kaki Lelouch.

“BO!!!” teriak Lelouch kesal. Kemudian Bo kabur sambil terus berkwekkwek.

 

~.:*:.~

Timp de Reînnoire

FIN

 

 

 

*Angéle de la Barthe : penyihir yang hidup di abad ke 13, ia mungkin adalah penyihir wanita pertama yang dieksekusi, namun catatan sidangnya tidak pernah ada, keberadaannya diragukan dan mungkin saja bahwa sebenarnya ia tidak pernah ada. (Selengkapnya bisa dicari di google)

*Nicolaus Coppernicus : tokoh asli yang dihukum mati oleh Gereja pada tahun 1543 di Frembock. (Selengkapnya bisa dicari di google)

*gereja : tempat ibadah umat katolik atau kristiani. (Sumber: buku pelajaran Agama Katolik dari sekolah, Di buku dijelaskan perbedaan Gereja dan gereja.)

*Gereja : sebuah perkumpulan para umat katolik, yang terdiri dari Dewan Gereja, Paus, Uskup, Diakon, Imam, dan umat awam. (Sumber: buku pelajaran Agama Katolik dari sekolah)

*Timp de Reînnoire : waktu/zaman/untuk pembaharuan, dari bahasa Rumania

9 responses to “[3rd Winner] Timp de Reînnoire

  1. Smpah crta’y kren bgt, aku kra L/krystal bkal mati. Tpi trnyta gk, ukh si Bo menganggu sja pdha itu lgi moment special. Di tnggu ff MyunStal lain’y,,😀

  2. awalnya aku kira si krystal beneran ditakdirin jadi orang jahat. eh tapi ternyata itu cuma akal2an gereja toh. baru tau’-‘ aku suka karena ada selingan sejarahnya. dari cerita ini aku jadi tau kalo copernicus dibunuh sama pihak gereja. aigoo ternyata jaman dulu sekejam itu ya~

    hehei, aku suka ceritanya. terus berkarya thor^^

    • Hehehe, aku sih sekarang punya kepikiran buat bikin versi kalau seandainya Krys itu emg beneran titisan penyihir. Tapiya belum menemukan titik terang akhir cerita😄 hahaha

      makasih<3

  3. bagus critany…
    keren bgt malah…
    alurny paaaasss bgt…
    ngena deh intiny….
    pantes aj menang.. keren bgt sih..
    gud job author…

  4. Akhirnya di post juga!😀
    Huaa! Keren! History, setting, sama penokohan semuanya bagus! Suka banget sama persahabatannya myung-jung! Apalagi penyamaran mereka jadi bebek!😄
    Akhir kata, selamat ya, sudah jadi pemenang🙂

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s