A White Summer

a-white-summer-by-zola2

 

Title: A White Summer

Scriptwriter: Zola Kharisa

Cast:

–         Krystal Jung

–         Kim Myungsoo

–         Choi Minho

Genre: Romance, Fluffy-Angst

Rating: PG-15

Duration: Oneshot

Summary: Semuanya berawal dari bagaimana kenangan terbentuk, kemudian aku akan menatapmu sambil berseru bahwa aku bodoh. Kau tetaplah kau. Seharusnya aku mengerti bahwa tidak semua kenangan indah yang terbentuk akan menciptakan sebaris memori yang menyedihkan. Seperti kau yang selalu hadir dalam mimpiku, tidak sebaiknya aku melupakan hal yang paling penting, bukan?

***

Menangisi sebait nada tak berguna. Merutuk dalam hingga ke ujung, kemudian kembali meluapkannya bersama embun yang tak kunjung sirna. Seolah telapak kaki tak cukup; haruskah dengan tanganmu sendiri?

Duduk dalam keheningan. Samar-samar suara orang dengan bisikan yang sama melirikku, menatapku hingga aku merasa dosa. Kasihan yang ditunjukkan mereka membuatku lumpuh. Apa mereka berpikir aku tidak normal? Setidaknya, aku tidak buta. Selama fokus ini masih menemaniku, sepanjang eksistensi udara mampu kuhirup dengan baik melalu hidung; tidak ada yang perlu dikasihani. Lantas, permasalahannya berada di ujung mana?

“Kakak itu kasihan sekali. Kudengar dari penjual balon di sana ia sudah duduk hampir berjam-jam di situ seorang diri. Mungkin… nyaris setiap hari.”

“Apa tidak ada yang menemaninya? Atau ia menunggu seseorang? Ya, Tuhan, jahat sekali yang membuatnya menunggu.”

Kutarik selimut kecil yang menutupi pahaku hingga sebatas pinggang. Tidak ada yang kulakukan selain membalas tatapan mereka dengan raut sebaik mungkin; tanpa ekspresi. Mungkin, itu lebih baik dibandingkan melempar senyum sementara hatiku berteriak sebaliknya. Kutarik napas panjang dan membuangnya berat. Pelipisku terasa basah oleh keringat namun aku sama sekali tak berniat menyekanya. Kubiarkan jarum panjang pada jam raksasa di tengah taman ini berputar, menyerukan sedikit harapan lagi dalam tubuhku agar semakin berkembang. Ya, semua orang pantas memiliki harapan, bukan?

Aku mendesah kecil tatkala sebuah memori bergulir dalam benakku. Kupejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa helai demi helai rambutku. Seulas senyum tipis kurasa tertarik ke samping. Bayangan wajah Kim Myungsoo menari-nari tanpa lelah dalam bayanganku seakan tak ingin lepas.

Ia dengan sepedanya menghampiri rumahku. Saat itu musim gugur. Ia mengajakku ke halaman belakang rumahnya, atau lebih tepatnya datang menjemputku untuk memenuhi undangan pesta barbeque di rumahnya. Keluarganya menyambutku antusias begitu aku melangkahkan kaki menuju halaman belakang yang tampak segelintir orang yang kukenal, keluarganya, tengah melakukan berbagai aktivitas masing-masing. Mereka mendapat tugas individu selama pesta belum berlangsung. Aku yang diperkenankan sebagai tamu hanya duduk memandangi mereka. Saat itu memang terasa janggal karena aku tak melakukan apa pun. Ketika aku beranjak ingin membantu mereka, Myungsoo tiba-tiba saja datang menghampiri. Ia mengajakku mengobrol diselingi candaan yang dilontarkannya. Aku yang terhanyut suasana pada akhirnya melupakan apa yang ingin kulakukan sebelumnya.

Pesta berlangsung seru. Keluarga Myungsoo sangat terbuka. Mereka orang yang ramah dan tak pernah membandingkan sesuatu. Aku yang berada di sekeliling mereka merasa cepat akrab dan tak tahu harus mengucapkan berapa terimakasih begitu pesta selesai ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Myungsoo mengantarku pulang. Aku masih ingat saat ia mendorong tubuhku masuk ke dalam rumah dan melambaikan tangan dari luar pagar. Caranya melambai dan tersenyum melekat dengan baik di otakku. Ia seperti punya mantra dalam setiap pergerakan tubuhnya. Dan aku cukup senang mengetahui fakta bahwa ia pernah tersenyum dan melambai untukku.

Kuputar kembali kilasan memori yang singgah di kepalaku dan menyetelnya bagai film. Kendati aku tidak tahu mengapa ingatanku malah berhenti saat Kim Myungsoo sakit, di musim dingin. Ini memang sudah cukup lama, berbulan-bulan lalu, namun masih membekas rautnya yang tampak menahan sakit di sekujur tubuh. Rasanya dadaku ingin meledak begitu letupan-letupan tak terkendali itu kembali menyerangku. Kutarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisir bahwa masa lalu tetaplah berada di sana, tidak akan bergerak seinci pun.

Saat itu Myungsoo bilang akan menjemputku di rumah Amber. Lantas aku hanya menunggu di rumah sahabatku itu sembari menatap layar televisi tanpa minat. Nyaris dua jam aku menunggu Myungsoo tanpa kabar. Padahal yang kutahu adalah jarak rumahnya dengan rumah Amber takkan sampai memakan waktu setengah jam. Jikalau jalanan macet, waktu satu jam pun kurasa tidak akan sampai. Kubuang pikiran negatif yang berseliweran di benakku sembari memakan biskuit cokelat yang disuguhkan Amber waktu itu. Mungkin Myungsoo datang terlambat.

Namun, hingga waktu berhenti sejenak di angka enam, batang hidung Myungsoo masih tak tampak di layar intercom. Aku yang mulai tidak sabaran segera meraih ponsel dan bersiap menekan angka satu begitu ponselku berbunyi; nyaris menjerit saat nama pria itu yang terpampang di sana. Lantas dengan cepat aku menempelkan ponsel ke telinga, menunggu pria itu berbicara, sampai dahiku mengernyit dalam tanda tak mengerti.

Itu bukan suara Myungsoo. Orang di telepon itu bilang bahwa Myungsoo mengalami kecelakaan. Dan orang itu pun mengatakan bahwa ia menghubungiku saat melihat nomorku berada di urutan pertama daftar panggilannya.

Aku terpaku. Sibuk mencerna kronologis yang dipaparkan oleh orang itu, Si Penabrak Myungsoo. Aku menggeram menahan amarah. Tangisku hampir pecah jika saja Amber tidak datang dan merangkulku kendati aku belum menjelaskan apa pun padanya. Mungkin sebagai sahabat, ia tahu harus bersikap apa begitu melihat ekspresi wajahku yang berbanding terbalik dengan sebelum ia meninggalkanku. Aku menggigit setiap sel bibir bawahku yang bisa kujangkau. Air mataku merebak dan aku tidak harus menumpahkannya atau tidak. Suara berat orang itu membuatku jengah dan kakiku tanpa perintah lagi segera beranjak dari rumah Amber. Aku perlu tahu kondisi pria itu. Aku harus tahu! Kim Myungsoo kritis; begitu yang dikatakan Si Penabrak Myungsoo itu.

Dan saat melihat wajah itu, aku tidak tahu harus berekspresi sedih atau senang. Setelah delapan tahun tak bertemu, wajah orang itu tampak sedikit asing bagiku. Ia yang menyadari kehadiranku hanya tertegun, lalu tak lama menjabat tanganku sembari tersenyum tipis. Ia memperkenalkan diri sebagai Choi Minho, seolah aku adalah orang baru dalam hidupnya. Seakan… ia lupa bahwa aku sempat memperkenalkan diri delapan tahun yang lalu sebagai penggemarnya semasa SMP, sebagai gadis super sibuk dengan buku-buku di perpustakaan, sebagai gadis yang sempat tercuri hatinya oleh pria berambut hitam itu.

Namun sepertinya pria bermarga Choi itu lupa. Ia tidak mungkin mengenal gadis berkuncir dua dengan kacamata bulat besar, kan? Ia tidak akan menjadikan gadis yang mengenakan rok lebih panjang di antara murid perempuan lainnya sebagai sesuatu yang baik untuk dikenang, kan?

Sekonyong-konyong pikiranku kembali berlabuh pada Kim Myungsoo yang tengah kritis di dalam ruangan. Aku mendelik tajam ke arah Minho, menandakan bahwa aku tidak suka pria itu menabrak Myungsoo meski tak sengaja. Minho menyadari tatapanku dan meminta maaf. Aku hanya tidak tahu harus balas bersikap apa sehingga aku tak mengacuhkannya kemudian duduk sedikit menjauh dari pria itu. Kuputuskan untuk memejamkan mata sembari berdoa agar Kim Myungsoo selamat. Agar ia masih dapat melontarkan tawa pada orang-orang di sekitarnya. Agar aku bisa tetap berada di sisinya hingga takdir memisahkan persahabatanku dengannya. Agar aku… dapat melihatnya melambai dan tersenyum saat mengantarku pulang kembali.

Aku menahan napas saat dokter mengatakan bahwa operasi berjalan lancar dan aku boleh melihat keadaan Myungsoo meski sebentar. Kutinggalkan Minho yang terlihat berbicara dengan dokter itu. Hatiku berdebar keras dan tangisku tumpah begitu saja saat melihat keadaan Myungsoo yang dikelilingi oleh peralatan medis. Kepalanya diperban dan kaki kanannya, kaki yang sering digunakannya untuk menendang bola saat permainan di lapangan itu, tampak dibalut perban hingga ke lutut. Aku tidak tahu seberapa parah. Yang pasti, kuharap tidak akan membuatnya kecewa nantinya.

Aku masih ingat dengan baik wajah pucatnya tak tersenyum sama sekali. Melihatnya tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit jauh lebih menyakitkan dibanding melihatnya bersama gadis lain. Ini… berbeda. Aku takut kehilangannya saat itu. Bagaimana jika Tuhan membawanya pergi? Apa aku siap? Pria itu masih terlalu dini untuk meninggal… dan aku tidak mau ia pergi. Aku tidak mau!

Tubuhku terkesiap saat seseorang menggoncangkan bahuku dengan sedikit paksa. Kubuka mataku lebar-lebar dan mendapati sinar temaram lampu taman merasuki pupilku. Kukerjapkan mata beberapa kali dan mencoba memahami kondisi sekitar. Langit menggelap dengan warna ungu tua pudarnya sementara samar-samar kudengar orang-orang berkata ‘pulang’ dan ‘terlambat’. Kuabaikan apa yang ada di sana dan memfokuskan pandangan pada orang di hadapanku, yang berhasil mengaburkan lamunanku.

“Sudah berapa lama?”

Aku menatap kosong begitu sadar wajah Choi Minho yang berada di depanku sekarang. Maniknya menyiratkan beribu bahasa yang membuatku bingung, selama ini. Ya, selama aku tahu bahwa ia yang menabrak Myungsoo. Setelah perjumpaanku dengannya saat itu, ia selalu datang ke dalam kehidupanku bersama Myungsoo. Ia seolah… menginginkanku berada dekat dengannya.

“Apa?” tanyaku malas. “Dan bagaimana bisa kau berada di sini? Jangan bilang kauingin membuntutiku bersama Myungsoo!”

Minho terdiam sebentar, lalu tiba-tiba berlutut di depanku yang duduk. “Tolong, jangan seperti ini. Maafkan aku.”

Aku tidak tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku tidak tahu…

“Myungsoo membutuhkanmu sekarang,” gumam Minho dengan nada bergetar. Seketika tubuhku menegang mendengar suaranya. Aku takut sesuatu terjadi pada Kim Myungsoo. Aku takut ia melakukan hal tak terduga. “Kau menunggunya di sini, bukan? Jangan lakukan hal konyol!”

Aku tidak suka mendengar bentakannya. Apa yang konyol? “Aku tak mengerti, Minho-ssi! Myungsoo bilang ia ingin bertemu denganku di sini!”

“Tapi ia tak pernah mengatakannya!” balas Minho, nyaris berteriak. Tubuhku menggigil saat merasakan hawa dingin mulai menyergap padahal ini musim panas. “Kau bilang Myungsoo mengatakannya, bukan? Jelaskan padaku bagaimana ia mengatakannya padamu.”

Aku tertegun. Otakku berputar cepat, meraih ponsel dalam tas tanganku dan mengecek notifikasi pesan masuk.

Kosong.

Aku tak habis akal dan beralih pada daftar panggilan masuk seminggu ini.

Kosong.

Kugigit bibir bawahku dengan takut. Ingin berteriak rasanya saat kulirik Minho yang menatapku sendu. Ada gurat lelah dan kesedihan yang bernaung di wajahnya. Minho tampak lebih pucat belakangan ini. Dan aku merasa dadaku mulai sesak.

“Jangan seperti ini,” bisik Minho, meraih genggamanku dan menariknya pelan. “Kau mau bertemu dengan Kim Myungsoo, kan? Aku akan mengantarmu—“

“Tidak!” tolakku keras, mengibaskan tangannya kasar. “Myungsoo bilang ia ingin menemuiku di sini! Kau tidak bisa membawaku pergi sesukamu! Bagaimana kalau Myungsoo datang dan dia mencariku,hah?”

Minho menghela napas panjang dan dalam satu gerakan cepat mencengkram kuat bahuku. Aku meringis merasakan nyeri di sana. Namun, Minho tampak tak peduli dan menatap mataku lekat-lekat; seolah menghujaniku dengan beribu kekecewaannya. Aku tidak tahu bagaimana mata kelam Minho membuatku tak berkutik dan menyebabkan pertahananku runtuh. Tangisku tiba-tiba saja pecah dan tak terbendung. Kurasakan cengkraman Minho melemah dan ia menghela napas begitu panjang. Ada rasa sakit yang membekas pada relung hatiku dan membuat ngilu. Pikiranku hanyut dengan sendirinya, membawa sebuah memori di saat ulangtahun Myungsoo, di musim semi.

Aku sempat melupakannya.

Kim Myungsoo berdiri dengan yakin di depan altar, menyambutku dengan senyumannya yang khas. Jantungku berdetak layaknya waktu yang bergulir setiap detik. Meski ini sebenarnya lebih cepat dibanding itu, namun aku menikmatinya. Aku nyaman dengan debar jantungku yang cepat setiap menanti matanya yang mengerling padaku, atau saat manik teduhnya meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja sehingga aku merasa aman. Kim Myungsoo membuatku sadar bahwa ia adalah bagian terpenting dalam hidupku.

Desir halus menyapa, tak terasa sebulir air jatuh membentuk bekas pada pipiku. Jemari Myungsoo menyekanya lembut, kemudian mengangkat tanganku perlahan; mengatakan pada seluruh dunia bahwa aku adalah miliknya begitu dengan fasih selesai mengucapkan janji.

Tak ada yang berbeda pada setiap malam pertama yang dilakukan sepasang pengantin. Bersama Myungsoo aku merasa aman; ia takkan menyakitiku. Aku bahkan berani bersumpah karena lingkar arus kelamnya selalu menemani anganku setiap jam. Aku… pasti tidak yakin bisa hidup tanpanya.

Sebulan berlalu. Aku ingin meneriakkan kabar gembira itu pada Myungsoo. Sungguh, kebahagiaanku sudah benar-benar tak terjangkau dan aku ingin sekali Myungsoo cepat pulang ke rumah. Aku ingin tahu reaksinya jika rumah ini menambah satu anggota baru.

Namun sampai seminggu berikutnya, aku tidak pernah lagi menyambutnya pulang.

Ia tidak pernah datang ke rumah. Ia seolah menghilang. Ia seakan bersembunyi dariku serta dunia. Ia… tidak kembali. Yang aku tahu adalah, Kim Myungsoo akan menjadi orang terakhir yang mengetahui kabar bahagiaku.

Dan aku tidak mempersiapkan diri. Kim Myungsoo itu… di mana?

Aku membanting gelas kaca di dekatku. Selama ini, sosok Kim Myungsoo itu benar-benar ada, kan? Ia selalu menjadi sahabat dan orang yang paling kucintai, bukan?

Aku memang tidak berkhayal. Setelah sebulan berlalu menjadi mayat hidup, kabar Kim Myungsoo terdengar. Ia mengalami kecelakaan, lagi, di pinggir kota. Polisi mengatakan bahwa dalam mobilnya yang terperosok jurang, ada sebuket bunga lili. Bunga kesukaanku. Bunga yang ia bilang akan menjadi saksi bahwa pria itu mencintaiku seperti aku mencintainya. Dan aku tidak tahu bahwa sebulan lalu adalah hari pertama aku mengenalnya. Itu kuketahui begitu sepucuk surat masih bertengger manis di tepi dashboard, di samping buket lili yang sudah tak berbentuk.

Tapi, tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini.

Kim Myungsoo koma. Wajahnya diperban dan aku tidak tahu seberapa parah. Setiap malam hanya kuhabiskan dengan menangis dan merutuk nasibku. Mengapa ia harus seperti ini? Mengapa takdir membuatku sulit menjangkaunya?

Dan mengapa pula, ia baru membuka mata di saat aku takut. Di saat aku takut kehilangannya, gelisah tentangnya, sampai aku tak menemukan sosok itu.

Hanya manik kelam Kim Myungsoo yang bisa kukenali.

“Kita bertemu dengan Myungsoo, ya? Aku mohon. Ia pasti merindukanmu.”

Air mataku merebak dan membiarkan tangan Minho membantuku duduk di kursi roda. Tatapanku kosong. Hanya ada bayangan masa lalu tentang Myungsoo yang berkelebat dalam pikiranku. Kim Myungsoo dan Kim Myungsoo. Bagaimana cara pria itu membuatku kalut karena kesendirian.

Napasku sesak. Tidak tahu harus dengan hal apa melampiaskan rasa sakit yang menghujam di dadaku. Tiba-tiba saja air mataku turun, semakin turun, dan aku tidak bisa menahannya lagi. Isakanku membahana pada sebuah ruang di mana dulu aku sering menghabiskan waktu bersama Myungsoo. Di mana saksi bahwa malaikat kecil di antara kami akan lahir. Di mana… ia duduk di ujung sana, dengan kedua tangan menutup wajah; seolah dunia tidak boleh melihat rautnya. Seakan cermin pun tak boleh memantulkan bayangannya.

“Myungsoo… Soojung-ssi datang.”

Tanganku terangkat, ingin menyentuhnya. Ingin menyentuh tubuh pria itu dan mendekapnya erat. Ini sudah memasuki musim panas dan aku… tidak butuh kehangatan selain manik teduhnya yang menghangatkanku.

Kulihat tubuhnya menegang. Kedua tangan yang menutup wajahnya perlahan diturunkan. Ia masih duduk menyamping, tak membiarkan diri untuk menolehkan kepala demi menatapku. Ia masih bersikukuh di bawah remang-remang lampu kecil dalam kamar itu; Myungsoo tak ingin melihat wajahku.

Ia tidak merindukanku? Apa aku sudah tak berarti lagi untuknya?

“Myung,” gumamku pelan dengan suara serak. Aku menyentuh tangan Minho untuk mendorong kursi rodaku menuju ke arahnya. Minho tampak membuang napas lebih berat sebelum menuntunku pada tubuh Myungsoo yang terduduk kaku.

Hingga aku berada di dekatnya, aku bisa melihat kacaunya pria itu sekarang. Rambutnya berantakan dengan kaus birunya yang lusuh. Aku bahkan nyaris tak mengenali bau tubuhnya. Ia seperti… mayat hidup.

Sama sepertiku dulu.

Aku menyentuh jemari Myungsoo yang dingin, berharap ia mau menoleh padaku, sedikit saja. Sampai akhirnya pengharapanku terkabul namun…

“Di mana Myung?”

Aku menggoncangkan jemari dingin itu. Dia… bukan Myungsoo!

“Minho, katakan di mana Myung?” aku menoleh pada Minho dan berteriak dalam nada keras, “Tolong jawab aku Choi Minho! Di mana Myung?!”

“Dia Kim Myungsoo!” balas Minho tak kalah keras sambil memijit pelipisnya seolah lelah dengan semua ini. “Soojung, kumohon… ia benar-benar Kim Myungsoo. Kau tidak akan lupa bagaimana caranya menatapmu, bukan? Kau tidak akan lupa perkataaan dokter waktu itu, kan?”

Seketika kepalaku berdenyut cepat.

“Kim Myungsoo mengalami luka parah pada area wajahnya,” Dokter Lee mengatakan dalam nada pelan, “Dan kurasa satu-satunya cara adalah melakukan operasi pada wajahnya meski… mungkin wajahnya nanti akan sulit dikenali orang. Kaumengerti bukan, Nyonya Kim?”

Aku bodoh.

“Krys,”

Aku bodoh.

“Maaf, Krys.”

Aku bodoh! “J-jadi, Myung, kaukah itu?”

Kim Myungsoo yang berada di hadapanku sekarang mengangguk dan jari-jari panjangnya ingin menyentuh rambutku namun…

Mengapa ia malah menyentuh mataku?

Tiba-tiba saja kurasakan bahuku basah dan yang kulihat Minho menitikkan air mata. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Myungsoo, kau kenapa?

“Maaf, Krys,” kata Myungsoo sambil menatap lurus ke depan, melewati wajahku. “Aku hanya bisa membayangkan wajahmu sekarang, maafkan aku.”

Aku tidak mengerti! Apa maksudnya? “B-bicaralah yang jelas, Myung. A-apa maksudmu sebenarnya?”

Aku mengeratkan genggamanku pada jemari Myungsoo. Kutatap wajahnya yang selama ini kurindukan kendati saat ini wajah itu seperti merubahnya sebagai orang lain. Tapi matanya yang terbuka, mata kelam itu masih menyambutku sebagai seorang Krystal Jung. Ia seperti masih memanggilku ‘Krys’ dengan tatapannya.

“Ia tidak bisa lagi melihat,” kata Minho mengambil alih dengan suara lirih. “Kecelakaan musim semi lalu merenggutnya.”

Otakku kosong. Kualihkan pandanganku pada Myungsoo yang mengeluarkan air mata. Bibirnya sedikit bergetar dan dengan keringat yang mengucur di bawah pelipisnya ia berkata, “Maaf karena tak memenuhi janjiku tiga bulan lalu.

“Myung, aku punya kabar untukmu!”

“Kabar apa, hmm?”

“Kita bertemu di taman dekat rumah, ya? Aku… ingin memberitahumu di sana. Entah kenapa.”

“Baiklah, aku temui kau sekitar jam lima sore. Bagaimana?”

“Kau akan pulang lebih cepat?”

“Ya, Sayang.”

“Aish, baiklah. Tapi… janji?”

“Aku berjanji.”

Genggaman tanganku melemah. Isakanku semakin menjadi. Ingatanku berputar-putar bak rol film dan membuat pusing. Kegelisahan seolah tak henti-hentinya menghantuiku. Sekonyong-konyong jantungku berdebar keras saat tangan hangat Myungsoo membawaku ke dalam pelukannya yang hangat. Aku merindukan ini, sangat. Tangisku semakin keras; merutuki segala kebodohanku selama ini. Sepanjang waktu bergulir di mana aku selalu menolak tawaran kedua orangtuaku dan Minho untuk bertemu dengan Kim Myungsoo. Selama ini aku mengelak bahwa orang yang mendekapku kini bukanlah Myungsoo. Wajahnya berbeda dan aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa wajah penuh hangat pria itu harus berganti. Kendati parasnya berubah, namun sorot itu masih sama. Tak ada yang bisa menggantikan sosok Myungsoo sebenarnya. Seharusnya aku tahu itu. Seharusnya aku tidak meragukan itu. Seharusnya aku…

“Kau hidup dengan baik, kan?”

Aku hanya mengangguk patuh.

“Kau makan dengan benar, hmm?”

Aku kembali mengangguk.

“Kau… tetap mencintaiku, Krys?”

Aku terdiam sebentar lalu tak lama mengangguk. Aku mencintainya, Kim Myungsoo.

Myungsoo seolah tersenyum, aku dapat merasakannya. “Aku juga mencintaimu, Krys.”

Selama aku masih dapat bertahan layaknya pasukan semut yang mempertahankan hidup kala musim dingin, selama Kim Myungsoo masih dalam eksistensiku, kurasa tak akan ada yang berubah. Perasaan ini akan terus menjaga dan dijaga; maka aku perlu mengerti bahwa apa pun yang ditakdirkan Tuhan akan menjadi yang terbaik. Seandainya aku menyadari tubuh Myungsoo yang sudah berada dalam rumah kami sebulan yang lalu, begitu operasinya selesai dan aku nyaris kehilangan kewarasanku saat wajah asing itu memasuki rumahku dan Myungsoo, kemudian membiarkan kakiku mengalami patah tulang akibat tak melihat jalanan saat aku kabur dari rumah. Kendati tubuh itu masih sama, sorotnya yang menatapku teduh; hanya karena wajahnya yang tak lagi kukenal membuatku lupa diri. Aku seolah kehilangan beribu rasa dan Kim Myungsoo membawanya kembali.

“Myung,” gumamku pelan, masih dalam posisi sama. “Jangan tinggalkan aku, ya?”

Dan kubiarkan Myungsoo menyanyikanku sebuah lagu, sembari tangannya mengusap pelan rambutku, memberi ketenangan.

Musim panas ini memang hal terberat dalam hidupku, dan aku pun mencoba membuka lembaran baru.

Bersama Kim Myungsoo… apa yang perlu kukhawatirkan?

Fin.

Notes: Annyeong!

Ini pertama kalinya aku bikin FF MyungStal dan hasilnya… aku gak tahu, silahkan di-review ya, hehe. Awalnya aku mau pakai main cast-nya Lee Taemin (dapat pencerahan sehabis lihat Disturbance) tapi setelah dipikir ulang, dan kebetulan aku baru baca FF dengan cast Kim Myungsoo, jadilah FF ini. Aku juga minta maaf sama pasangan ini karena kunistakan. Hiks. Dan tadinya mau dibuat sad-ending, cuma karena ini pertama kalinya aku pakai main cast mereka, jadi nggak tega T.T

Oke, terakhir aku minta maaf kalau masih ada typo, pun ceritanya gak jelas karena aku ngebut buatnya sehari. Kritik dan sarannya diterima dengan senang hati! :D

2 responses to “A White Summer

  1. Speechless😡 akkhhh keren thor T_T bahasanya itu ajib(?) banget :3 aku sukaaa. Walau dipertengahan rada gak ngerti, tp setelah baca ulang jadi ngerti xD keep writing ya^^ fighting!!😀

  2. Aq agk ╮(╯•_•╰”)╭ ϐȋπğϋπğ..
    Hmmmm..
    Krn tiba2 jd begitu..
    Tp ckup happy end😀

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s