[1/2] Apocalypse Dreams

apocalypse dreams

Apocalypse Dreams by theboleroo

Cast: Kim Myungsoo and Jung Soojung // Genre: Psychology, (slight) Surrealism, Romance, Life

Duration: ± 3500 w // Rating: PG – 15 // Disclaimer: I only own the storyline.

Summary:

“Sebenarnya lucid dream[1] sangat akrab dengan setiap manusia, namun Kim Myungsoo adalah satu dari segelintir orang yang terlanjur terjebak di dalamnya.”

Myungsoo membuka mata, ada lega bercampur ragu yang menyergap. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa dirinya benar-benar sudah terjaga setelah beberapa kali mengalami false awakening[2] yang menjengkelkan—merasa dikecoh mati-matian. Ia termenung, mengingat-ingat tentang serangkaian mimpi buruknya yang berakhir di sebuah tempat yang cukup menyenangkan. Padang rumput yang kuning, langit bergradasi merah, embusan angin yang lembut, sinar matahari yang samar dan hangat, pun sosok gadis beriris abu-abu yang enggan enyah di setiap mimpinya selama ini.

Lengan kanan Myungsoo bergerak untuk merasakan permukaan tempat tidur berseprai merah bata yang terasa dingin. Lalu ia melirik ke arah jendela tanpa tirai di sisi kanan yang menyemburkan cahaya. Keadaan yang relatif normal, pikirnya dalam keadaan mata terpicing.

Setelah Myungsoo berhasil bangkit, ia langsung menyambar handuk kuning yang tersampir asal di kursi, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai dan sedikit terhuyung. Kepalanya terasa sangat ringan, bahkan sepertinya lebih ringan dari sehelai tisu, sangat tidak enak.

Semua menjadi sedikit lebih baik selepas aliran air dari showermenghantam ubun-ubunnya, rasa ringan yang tadi dirasakan kini berubah menjadi pening hebat dan Myungsoo pun mendesis keras seraya mengutuk aksi lelapnya yang telah bergulir nyaris selama 13 jam—sama sekali bukan durasi ideal lantaran sudah menimbulkan efek yang cukup mengerikan.

Setelah selesai bersiap, Myungsoo memutuskan untuk meluncur menuju dapur. Ia keluar dari kamar, berjalan melewati lorong pendek berdinding kayu yang dipelitur. Beberapa foto terpanjang di sana, lantas fokusnya terampas dan langkah Myungsoo melambat lantaran asyik memerhatikan deretan foto. Ada sepercik perasaan aneh yang timbul, agaknya ini adalah kali pertama ia menemukan foto-foto tersebut. Lorong itu biasanya polos, lagipula ibunya juga bukan tipe orang yang suka mengenang sesuatu—apalagi jika sampai memajang foto Myungsoo dimulai ketika ia masih anak-anak sampai remaja.

“Ayah?”

Myungsoo dikejutkan oleh pria yang tak pernah diduga akan datang kembali ke rumah ini, ia bahkan membisu selama beberapa saat ketika maniknya menangkap seulas senyum cerah di seberang sana.

“Apa kau memang selalu bangun siang?” tanya pria itu enteng. Ia keluar dari area pantry, menghampiri putranya sembari meneguk jus apel botolan yang baru diambil dari lemari pendingin. “Kenapa bengong?” tanyanya lagi.

Myungsoo hanya menggeleng dalam diam. Menilik sepercik rasa bahagia yang membombardir dasar hatinya, meski di saat bersamaan sebuah kenangan buruk mendadak hadir di dalam benaknya; kejadian di mana ia merasa kesal lantas mengucap sebuah sumpah.

‘Aku bersumpah akan menggantungnya di pusat kota! Tak sepatutnya lelaki bodoh itu meninggalkanku di sini, sendirian!’

                       

Tak seharusnya kalimat itu terucap, ia menyesal. Ayahnya adalah pria yang sangat baik. Ia selalu mengantarnya pergi ke sekolah setiap pagi, tak pernah lupa tanggal ulang tahunnya di setiap tahun, dan tak pernah absen membacakan dongeng untuknya sebelum pergi tidur.

“Kau baik-baik saja?”

“Mmm, ya. Tentu.”

Myungsoo berjalan melewati ayahnya menuju dapur lalu mengambil satu potong roti panggang yang sudah dingin di atas meja makan. Kecanggungan yang familiar namun konyol karena Myungsoo tak ingat kapan pernah mengalami kondisi serupa bersama ayahnya sebelum ini.

Memang terkesan seperti lelucon, lebih dari satu dekade pria itu menghilang dan kembali ke rumah ini dengan wajah tanpa dosa, bertanya apa putranya memang selalu bangun siang lantas meneguk minumannya dengan santai. Tapi, Myungsoo tidak keberatan. Melupakan yang sudah terjadi kadang memang baik. Ia menoleh ke arah ruang televisi, memerhatikan sang ayah yang tengah asyik menikmati jus apel sembari menonton reality show yang biasa ditayangkan saat sore menjelang, benar-benar sebuah kebiasaan yang tidak asing baginya.

“Ke mana ibu?” tanyanya seusai roti panggang itu habis.

“Ibu?” pria itu malah balik bertanya dengan suara pelan—namun masih bisa terdengar oleh putranya. “Dia tidak ada,” lanjutnya seolah penuh sesal tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

Myungsoo mengangguk. Berpolah jika jawaban ayahnya adalah lazim dan membuatnya mengerti, padahal tidak seperti itu. “Kapan ayah pulang?” tanyanya kemudian sembari mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin dan meneguknya.

Kali ini ayahnya menoleh dan memberi jawaban yang terdengar sedikit serius. “Sudahlah, kau jangan bertanya perihal kedatanganku atau pun ketiadaan ibumu. Kau tahu jawabannya, Myungsoo. Lagipula, bukankah kau sudah sepakat dengan dirimu sendiri?”

“Ya, ayah benar,” jawabnya mengalah selepas meneguk air nyaris setengahnya. Barangkali… ‘kesepakatan’ yang dimaksud ayahnyamemang ada, meskipun Myungsoo sendiri tidak begitu yakin jika hal tersebut memang pernah ada.

Pria paruh baya itu beranjak dari sofa lalu menghampiri kumpulan toples kecil dengan warna berbeda—biru, ungu, hijau, dan kuning—yang berada di sebuah meja di sudut ruangan, ia membuka yang warna ungu; toples berisi marshmallow merah muda yang berbentuk dadu.

Tunggu…

Seingat lelaki itu, ayahnya tidak suka makanan manis. Dulu sekali, ia pernah memarahi Myungsoo habis-habisan lantaran menyimpan begitu banyak cokelat dan permen di tas sekolah. Tapi, Myungsoo enggan memikirkan hal itu lebih jauh, berpikir bahwa bisa saja kebiasaan ayahnya memang sudah berubah.

“Ada rencana ke mana hari ini?”

Myungsoo berjalan melewati dinding bercat oranye menuju kapstok yang tertempel di dinding yang memenggal area pantry dan ruang tengah, langkahnya terhenti sejenak untuk mengamati kejanggalan yang kembali hadir.

Lagi-lagi soal foto dan kali ini lebih aneh, di sana terdapat beberapa foto dirinya dan pria itu. Hanya berdua dan tak ada sosok wanita yang nampak seperti ibu atau pun istri dari kedua lelaki tersebut. Kalau pun ada, Myungsoo tahu benar bahwa itu adalah neneknya.

Lalu apa kepergian ayahnya yang selama lebih dari satu dekade itu? dan untuk kesekian kali Myungsoo bisa menolerir ketidakwajaran ini dengan sangat mudah.

Atau, barangkali memang pernah ada yang menghilang dari hidup Kim Myungsoo dan itu bukanlah ayahnya? Bisa jadi, namun Myungsoo sudah terlanjur malas untuk menerka.

“Entahlah, mungkin ke rumah Sungyeol,” jawabnya kemudian setelah menyambar hoodie biru yang menggantung di kapstok.

“Sungyeol?” Ayahnya tertawa ringan sembari menghampiri putranya yang kini tengah membaca majalah game di ruang televisi. “Teman kecilmu yang jago berenang itu, ya?”

Lelaki itu mendongak, menatap bingung sang ayah yang berdiri di hadapannya sembari tersenyum lebar. “Sejak kecil Sungyeol hanya jago bermain sepak bola, dia fobia kolam renang dan ayah tahu itu.” Myungsoo menyimpan majalah tersebut di atas meja, lalu beranjak dari sofa dan memutuskan untuk mengakhiri ketidaknyamanan ini sesegera mungkin. “Sepertinya aku harus pergi, sampai jumpa nanti malam.”

Myungsoo benci keramaian, salah satunya di dalam bus kota. Namun entah mengapa, kala itu ia merasa malas mengendarai mobil dan memilih menaiki bus ketimbang taksi.

Kakinya melangkah yakin menuju halte yang tak jauh dari rumah. Tak ada earphone yang menyumpal indera pendengaran Myungsoo—sangat ajaib mengingat lelaki itu seyogianya tak pernah absen membiarkan gendang telinganya diobrak-abrik oleh lagu-lagu dari Auburn Lull atau Hildur Gudnadottir yang mengusung genre ambient; musik yang mencerminkan sebuah emosi dalam ketenangan, berupa bebunyian dengan frekuensi yang sudah diatur sedemikian rupa, juga durasi tanpa batas yang jelas. Ada efek aneh yang timbul ketika musik itu dialunkan. Terkadang mempengaruhi sebagian jiwa pendengarnya dan tak jarang melahirkan sugesti. Myungsoo sangat menyukainya, baginya musik ambient adalah pelengkap dari separuh dirinya yang memiliki pembawaan tenang dan mencintai kesenyapan, tak seorang pun yang mampu mengukur keliaran emosi yang terdapat di dalam dalam diri Myungsoo.

Si pemuda menyampirkan penutup kepala, lalu menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku hoodie. Jalanan cukup lengang dengan beberapa manusia berjaket tebal yang nampak kedinginan. Pijakan kakinya terhenti dengan ragu ketika mendapati pohon-pohon yang ada di sekitarnya mengugurkan daun, saat itu juga ia sadar bahwa suhu udara menjadi lebih dingin dari yang seharusnya.

Myungsoo terjebak dalam keheningan pribadi yang cukup panjang, ia merenung; mengajak seluruh inderanya berpikir sembari berharap jika kesimpulan kelak tidak akan seperti lelucon tolol di sore hari. Myungsoo yakin jika sewaktu sekolah ia tak pernah sekali pun mendapat nilai merah di pelajaran geografi, dan pengamatan singkatnya dalam keheningan panjang itu mengatakan bahwa keadaan di sekitarnya saat ini nampak seperti musim gugur.

Kedua manik Myungsoo membeliak. Satu hal yang sangat diyakininya adalah ia baru saja merayakan ulang tahun sang ibu yang ke-54 kemarin malam, acara tahunan wajib yang jatuh di bulan Maret di mana musim semi seharusnya berlangsung. Pemuda itu membuang napas keras sembari melangkah dalam perasaan tak menentu. Tahu begini, lebih baik ia tak keluar kamar dan menikmati hari Kamisnya sampai selesai di atas tempat tidur. Tak peduli jika kepalanya kelak akan meledak, agaknya itu lebih baik dibanding harus mati perlahan karena kebingungan seperti ini.

Halte bus sudah terlihat, tempat itu nampak ramai oleh orang-orang yang tengah menunggu—seperti biasa. Kalau tidak salah bus menuju rumah Sungyeol datang sekitar sepuluh menit lagi, jadi lelaki itu memutuskan untuk mengesampingkan rasa bingung lantas bergegas menuju halte sembari berharap jika ia akan mendapat kursi penumpang yang paling nyaman.

Tapi…

“Hei.”

Seorang gadis menyapa dengan suara selembut sutra, Myungsoo menoleh ke samping dengan ritme langkah yang merendah dan mendapati sebuah tatapan yang tak asing dalam pandangannya. Sesaat ia terpaku, gadis itu merampas seluruh fokusnya. Separuh kesadaran Myungsoo tersedot oleh manik abu-abu yang seolah mampu menenggelamkan siapa pun sampai ke dasar samudera.

“Kau?”

Waktu seakan tak lagi sudi bergulir, kebisingin kota sekonyong-konyong raib, dan eksistensi gadis itu semakin nyata manakala kulit wajah Myungsoo bersentuhan dengan telapak tangannya yang seribu kali lebih lembut dari suaranya tadi.

“Siapa kau?”

“Aku?” gadis itu menyudahi sentuhannya sembari terkekeh, “Namaku adalah Krystal.”

“Aku tidak bertanya siapa namamu, aku—“

“—bagaimana jika tidak usah dijawab?” balas Krystal seakan-akan bisa menebak arah dari pertanyaan lelaki itu.

“Tidak, kau harus menjawabnya,” desak Myungsoo.

“Boleh. Tapi kapan-kapan saja, ya.” tukasnya sembari berbalik pergi.

Tubuh berbalut mantel berwarna khaki itu perlahan menjauh dari tempat di mana Myungsoo berdiri. Pijakan-pijakan pendeknya begitu santai dan yakin. Sesekali gadis itu menoleh, membiarkan bibir tipis bergincu peach-nya mengulas senyum. Krystal menatap lurus ke depan, lantas merasakan sosok itu semakin terasa dekat dan membuat hatinya menghangat—Myungsoo berjalan di belakangnya tanpa suara.

“Jangan khawatir. Aku adalah manusia, bukan makhluk mitos apalagi iblis.”

“Terserah apa katamu.”

Bus sudah datang. Dengan segera keduanya menaiki kendaraan itu. Myungsoo mengumpat keras ketika menyadari bahwa bus yang dinaikinya begitu padat oleh berbagai macam manusia. Berdesakkan adalah salah satu hal yang paling mengesalkan bagi Myungsoo. Air muka lelaki itu berubah kusut, ditambah ia tak kunjung menemukan kursi penumpang yang menganggur.

“Ke mana kita akan pergi?” tanya Myungsoo sembari meraih sebuah pegangan yang berada di atas kepala. Menatap Krystal yang berdiri di hadapannya dengan posisi serupa. Semua kursi sudah terisi penuh sehingga posisi itu adalah opsi terakhir untuk mereka dan beberapa penumpang lainnya.

“Mengapa bertanya padaku? Kau memiliki tujuan sendiri, bukan?”

Myungsoo mencoret rencananya untuk berkunjung ke rumah Sungyeol, “Kupikir akan lebih menyenangkan jika kita memiliki tujuan yang sama.”

“Oh, ya?”

Myungsoo mengangguk, lalu gadis di hadapannya tersenyum lebar memberikan respon. Tak pernah terpikir oleh lelaki itu bahwa sosok yang kerap muncul dalam mimpinya saat ini terasa begitu nyata. Krystal tersenyum; mengalirkan hal abstrak yang sukar dimengerti oleh akal sehat. Dalam sekejap,  rasa jengkel atas kecohan false awakening pun memudar dan perlahan berganti menjadi kesan menyenangkan. Lalu, semua nampak terlihat normal dan biasa-biasa saja setidaknya sebelum bus ini melaju. Melaju? Baiklah, ini tidak pantas disebut melaju mengingat kendaraan ini tengah bergerak dalam keadaan mundur.

“Apa ini?”

“Bukan apa-apa, tak usah dipikirkan,” jawab Krystal seraya mengendalikan tubuhnya yang limbung akibat pergerakan bus tersebut.

Kening lelaki itu mengerut, “Apakah ini milikmu?” tuduh Myungsoo seraya mengeratkan pegangan di atas kepala, sementara tangannya yang lain secara refleks meraih pinggang Krystal untuk merapat ke tubuhnya—dan gadis itu tidak protes.

“Ini milik kita.”

“Benarkah?”

Krystal mengangguk pasti, lantas kaki yang beralaskan bot hitamnya berjinjit dengan susah payah sampai akhirnya usaha gadis itu tak perlu dilanjutkan lantaran Myungsoo memutuskan untuk mengalah, ia memulainya dengan senang hati. Lelaki itu tak ingat kapan terakhir kali bernapas di celah bibir seorang gadis, dan entah mengapa kali ini rasanya agak berbeda.

Tak ada yang saling memedulikan kala itu, setidaknya sebelum bus yang mereka tumpangi terguling selepas menabrak sebuah truk berwarna merah. Semua orang berteriak, tak terkecuali Krystal yang meneriakan nama Kim Myungsoo dengan sangat kencang—pedih dan penuh ketakutan.

 

Ada kilasan cahaya yang menusuk-nusuk sepasang matanya. Pemuda itu hendak bangun, namun terlampau sulit. Tubuhnya seakan mengejang, ingatannya seakan kosong dan hilang—bahkan untuk mengingat namanya saja ia tidak bisa. Ia mendadak bisu. Dadanya sesak, seakan ditekan entah oleh apa dan ia tak mau tahu, karena ia yang mau adalah segera terjaga, mengakhiri sleep paralysis[3]-nya.

 

Tunggu. Sleep paralysis?

 

“Tidak, Sayang! Itu semua tidak benar, kau jangan berbuat bodoh!” sebuah suara pria terdengar. Agaknya ia kenal, namun ia tak ingat siapa pemiliknya.

“Aku percaya kepada mimpiku, milikku tak pernah sama dengan kebanyakan orang. Ini sebuah pesan, pesan yang sangat penting untuk kelangsungan hidupku—ralat, hidup kami.” Berikutnya suara wanita. Dia berbicara dengan tenang, tak sehisteris lawan bicaranya.

Entah siapa orang-orang yang tengah berbincang itu. Barangkali mereka adalah sepasang kekasih, atau suami-istri? Entahlah. Suara kedua manusia itu lebih mirip gaungan di dalam ruangan besar dan entah mengapa pembicaran mereka—yang agaknya cukup penting dan menarik—seolah menginterupsi keinginannya untuk segera terjaga.

“Kau harus bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan, kau tak bisa menganggap jika semua yang ada di dalam mimpimu bisa dibawa ke sini!”

Terdengar si wanita tertawa pelan, seperti mengejek. “Kita harus berpisah, dan aku akan membesarkannya sendirian.”

“Kau—”

“—ini sebuah wahyu, Sayang.”

“Kau sudah gila,” nada suara si pria merendah lantaran frustrasi, ada tangis yang seakan tertahan.

“Kau tak mengerti rasanya memiliki dua alam yang harus kaujalani setiap hari.” Wanita itu mendesah berat lalu melanjutkan, “bagiku, keduanya nyata.”

“Aku bersumpah tak akan membiarkanmu melakukan itu.”

“Tentu saja kau harus melakukannya.”

“Tapi itu anak kita!”

“Dia anak sekaligus jodoh abadiku dan—hei! Apa yang kaulakukan?! Lepaskan!”

“Kau sudah gila…”

Lee Sungyeol mengguncangkan tubuh Myungsoo yang tak kunjung bangun dan terus meracaukan hal yang tak dimengerti, sesekali lelaki itu mengumpat kesal lantaran usahanya terasa sia-sia.

“Apa dia kerasukan?” tanya seorang pelanggan yang cukup sering datang ke bar dan lumayan akrab dengan keduanya—Kim Sunggyu.

“Entahlah.” Sungyeol masih panik dan terus mengguncang tubuh temannya yang menelungkup di meja bundar yang sedang mereka tempati. “Myungsoo! Kau kenapa, sih?!”

Semua pelanggan bar kontan mendekat ke meja mereka; sekadar untuk melihat lantaran penasaran atau pun bertanya mengenai keadaannya yang nampak mengkhawatirkan, lantas pergi begitu saja setelahnya.

“Apa yang kau campurkan ke dalam birnya?” tanya Sunggyu penasaran. Pemuda itu meraih gelas milik Myungsoo dan memerhatikan cairan yang menggenang di dalamnya dengan seksama, kontan hal itu membuat Sungyeol menjadi kesal karena merasa dituduh melakukan hal yang tidak-tidak.

“Aku mencampurkan viagra ke dalamnya, puas?”

“Serius?”

Sungyeol tertawa kering, kembali duduk di kursinya lalu mendelik ke arah Sunggyu yang masih memandang dengan tatapan menuntut—ya—menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.

“Aku tahu kau menganggapku bercanda,” kata Sungyeol dengan wajah serius, “Tapi, anggapanmu benar kok,” tambahnya seraya melirik Myungsoo yang tak kunjung bangun meski racauannya sudah berhenti.

Sunggyu menggeleng dan menyimpan kembali gelas tersebut di atas meja. “Kau ini—”

“—mengapa kalian berisik sekali?” sebuah suara menyela Sunggyu. Rupanya Myungsoo sudah bangun dan kini ia tengah sibuk menguap dan mengucek matanya yang seperti panda.

“Sebegitu lelahnya sampai kau harus tidur di sini, ya?” ejek si pemuda berambut corn rows.

Myungsoo mendengus lalu perhatiannya langsung tersita oleh model rambut baru milik Sunggyu. Bukan karena modelnya kampungan, sama sekali bukan. Pasalnya, di pertemuan terakhir, pemuda itu sempat mengejek habis-habisan salah satu bartender yang memiliki model rambut serupa.

“Kau apakan rambutmu? Kelihatan bodoh tahu.”

“Apa?”

“Bukannya Sunggyu sudah sejak lama berencana mengubah model rambutnya menjadi seperti itu? Jika tak salah ingat, sih.” Sungyeol ikut berkomentar sembari kembali menggauli tablet-nya.

“Sungyeol benar, aku sempat menceritakan rencanaku dan kalian setuju.”

“Kau yang paling antusias,” timpal pemuda berambut cokelat gelap sembari menoleh sekilas ke arah Myungsoo.

Myungsoo tak menjawab, ia hanya termenung memikirkan ucapan kedua temannya barusan. Lamunan itu terus berlangsung, sampai-sampai pemuda itu tidak sadar jika Sunggyu sudah meninggalkan meja dan kembali bergabung bersama teman-temannya di ujung sana. Myungsoo memerhatikan pemuda itu dan mendapatinya tengah berciuman dengan seorang lelaki. Mengapa Myungsoo tak pernah tahu jika Kim Sunggyu adalah seorang gay? Dan yang lebih mengejutkan adalah pemuda yang diciumnya adalah Nam Woohyun—teman kuliah yang juga anak dari seorang pendeta terkemuka di kota ini.

“Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Myungsoo lebih kepada diri sendiri.

“Hm?” Sungyeol menggumam tanpa menoleh ketika mendengar ucapan rekannya karena terlalu asyik.

“Tidak apa-apa.”

“Oh, ya. Omong-omong apa yang sebenarnya kau mimpikan? Racauanmu tadi membuatku gila karena orang-orang mendatangi meja kita dan bertanya tentang keadaanmu padaku.”

Myungsoo membisu sejenak seraya berusaha mengingat setiap detail kejadian yang ada di mimpinya. Brengsek, batin lelaki itu kesal, jadi kecelakaan tadi juga bagian dari mimpi? Seharusnya ia sudah tahu lantaran kehadiran gadis itu adalah sebuah klu yang jelas.

“Ayahku.”

Sepasang manik Sungyeol terpicing, fokusnya berhasil terbagi. “Mmm, coba ceritakan.”

“Ayahku kembali ke rumah setelah menghilang dan dinyatakan meninggal dari kecelakaan pesawat belasan tahun lalu.” Myungsoo berkata seolah semuanya nyata, “Tapi, apa kenyataannya ayahku memang pernah menghilang dan meninggal?” Tiba-tiba lelaki itu memikirkan apa yang baru dikatakannya dalam kebisuan, ada rasa bersalah yang sangat besar menendang keras ingatannya.

“Ayolah, Myungsoo,” Sungyeol tertawa dan melanjutkan, “jangan terlalu dipikirkan, itu semua kan hanya mimpi. Sejak kecil kau tinggal bersamanya dan dia masih hidup sampai sekarang.”

Myungsoo diam seakan-akan telah kehabisan kata untuk menjawab gagasan Sungyeol. Lelaki itu lebih memilih untuk berpura-pura acuh atas kondisi di sekitarnya yang mendadak kacau. Sejak kapan musik ringan milik Megan Bonnell tak lagi menjadi favorit di bar ini? Yang ada hanya alunan musik sekeras baja yang bisa memecahkan gendang telinga.

“Tapi aku benar-benar tinggal bersama ibuku, kemarin dia baru saja merayakan ulang tahunnya. Ibuku mengundang orang-orang terdekat, termasuk dirimu.” Myungsoo mendesah gusar lalu memandang Sungyeol dengan tatapan memohon. “Katakan kalau kau bercanda, Sungyeol.”

“Benarkah seperti itu?”

“Ibuku menulis surat undangannya sendiri,” kata Myungsoo berusaha meyakinkan.

Sungyeol mengerling, tanpa banyak bicara ia meraih backpack hitam dan mengambil sesuatu di bagian depan tasnya; benda yang diyakini sebagai bukti bahwa ulang tahun salah satu orang tua Myungsoo pernah berlangsung.

“Ini?” Sungyeol mengacungkan sebuah amplop berwarna merah marun.

Myungsoo tersenyum lega dan mengangguk cepat, mengiyakan. “Ya, benar.”

Setelah membuka amplop dan mengeluarkan isinya, Sungyeol memberikan kertas tersebut kepada Myungsoo dengan sedikit ragu.

“Sudah kubilang ini dari—” hatinya mencelos. Di sana terdapat sebuah tulisan dengan goresan tebal tinta berwarna hitam yang tidak begitu rapi dengan ukuran hurufnya yang besar; jelas ini milik ayahnya.

“Tertipu.”

Myungsoo terpaku cukup lama setelah sebuah suara seberat batu menggaung jelas di kedua telinga. Tanpa sadar, lelaki itu meremas kertas putih pucat yang tengah digenggamnya lantaran tak butuh waktu lama untuk membaca situasi ini, Myungsoo mendesah dalam kekesalan.

…lelaki itu telah dikecoh—lagi—oleh mimpinya sendiri.

Menjadi Oneironaut[4] kadang membosankan. Ada kalanya Kim Myungsoo ingin menjadi sedikit normal dengan menikmati mimpi sebagaimana mestinya tanpa harus berandil lebih di sana. Tapi, hal itu dirasa cukup sulit bagi Myungsoo. Ketika terlelap, secara otomatis ia akan menjadi penguasa di dunia tersebut. Lelaki itu bisa menjadi apa saja, mendatangkan siapa saja, pergi ke mana saja, dan menciptakan apa pun dan siapa pun yang dikehendakinya.

False awakening?” Sungyeol berujar dengan alis kanan yang terangkat.

“Lagi,” jawab Myungsoo disertai helaan napas yang berat.

“Dan kau merasa ini adalah milikmu?”

Myungsoo terdiam—masih bernafsu untuk mengarungi kejanggalan dalam mimpinya lebih jauh lagi. Jika ingin, bisa saja detik ini ia mengubah setiap detail yang hadir di hadapannya. Tapi, tunggu sebentar. Ada ragu yang entah dari mana asalnya membisik pelan, memberitahu bahwa ini bukanlah miliknya.

“Menurutmu?” pemuda itu berucap tenang, jantungnya berdetak teratur. Sekonyong-konyong udara terasa sejuk untuk dihirup, meskipun ada asap-asap tipis dari rokok putih yang tengah dihisap oleh sekumpulan remaja lelaki yang sedang berisik di meja sebelah.

“Sepertinya bukan.” Sungyeol menyeringai, dan perlahan sosoknya berubah; mata, hidung, bibir, bentuk wajah, rambut, telinga, tubuh, pakaian, dan segalanya.

Lelaki itu tak berkutik, tak ada rasa panik yang seharusnya menyergap. Myungsoo menggeleng pelan tanpa melepas tatapan dalam yang berasal dari sepasang manik abu-abu yang terlanjur akrab dengan miliknya. Sosok yang kini duduk di hadapannya adalah seorang pengganggu ulung yang memikat; Krystal dengan wewangian bunga daisy bercampur buah ceri yang menyeruak.

“Sampai kapan aku akan dipermainkan?”

“Entahlah.”

Myungsoo mendesis. “Rasanya tidak enak.”

Krystal tersenyum kemudian menggeliat pelan, beberapa persendian gadis itu berderak dan Myungsoo mendengarnya. “Seharusnya kau senang. Berkat diriku, kau menjadi normal. Menikmati tidur tanpa harus repot-repot mengendalikan dunia yang—” Krystal mengangguk malas, “—sebetulnya cukup menyenangkan.”

“Memang, sih. Tapi tetap saja rasanya aneh.” Myungsoo tertawa kering lantaran tak berminat. “Kau manusia kan? Bukan dewi mimpi? Siluman mimpi? Atau—” sejenak pemuda itu kehilangan ide, “—pengendali mimpi?” tanyanya kemudian, konyol.

Kedua alis Krystal berjengit, tiba-tiba gadis itu mengangkat bokong dari kursi; mencondongkan tubuh ke arah Myungsoo. Kursi yang ia duduki terdorong sedikit ke belakang. “Bukan keempat-empatnya,” bisiknya disusul tawa mengejek.

“Ayolah, aku serius.”

“Aku manusia,” pungkas Krystal lalu pergi.

Gesturnya masih sama. Kedua tangan yang tenggelam di saku mantel, cara berjalan yang santai, dan kebiasaan Krystal menoleh ke belakang seraya mengulas senyum yang cenderung sulit diartikan. Myungsoo mengekorinya, kebetulan pemuda itu sudah tidak nyaman dengan atmosfer bar yang kini lebih mirip arena gigs liar dengan hentakan musik keras dan teriakan-teriakan menjengkelkan; scream. Jadi, mengikuti ke mana gadis itu pergi bukanlah pilihan buruk.

Tak ada keanehan yang berarti, setidaknya sebelum mereka keluar dari tempat itu.

“Sial,” umpat Myungsoo pelan.

Terdengar gadis di depannya tertawa keras sembari mengedikan bahu, berpolah tak tahu apa-apa. Keduanya berjalan di pinggiran kota. Menyaksikan bermacam-macam kendaraan berlalu-lalang di jalan raya dalam keadaan mundur dan kecepatan maksimal. Begitu pun dengan pedestrian yang keseluruhannya berjalan menyamping seperti kepiting, terlalu gila.

Myungsoo masih enggan untuk menyamakan langkah dengan Krystal. Lelaki itu berjalan khidmat di belakang si gadis yang tengah menyenandungkan sebuah lagu.

Ke mana sebenarnya mereka akan pergi?

Cut.

A/N:

[1] Lucid Dream (mimpi sadar): sebuah mimpi ketika seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi. Si pemimpi mampu berpartisipasi secara aktif dan mengubah pengalaman imajinasi dalam dunia mimpinya sehingga dapat terlihat nyata dan jelas.

[2] False Awakening: keadaan di mana kita bermimpi bahwa kita sudah bangun, padahal masih tidur.

[3] Sleep Paralysis: kelumpuhan saat tidur.

[4] Oneironaut: sebutan untuk orang yang mengalami lucid dream.

One response to “[1/2] Apocalypse Dreams

  1. Pingback: [2/2] Apocalypse Dreams | myungSOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s