Swan Black [1st]

swanblack

Swan Black [1st]

—from MyungSooJung’s Black Project.

…stand alone of A Case.

****

|| Scripwriter: Mizuky | Duration: Chaptered ||

Main Cast: Jung Soojung [Krystal’s F(x)], Kim Myungsoo [L’s Infinite]

Supporting Cast: OCs

|| Genre:  Romance, AU, Crime, Dark, Conflict, Tragedy, Sci-fi, Mature, Detective Story |  Rating: PG-15 ||

Summary:

Soojung dengan keahliannya skating-nya, justru membawa dampak yang tak diinginkan bagi masa depannya dan juga Myungsoo. Kedua orang itu terjebak di dalam sebuah jebakan es yang kejam.

***

Mampukah mereka mengungkapkan kebenarannya?

Terlebih jika Soojung mengalami shock berat hingga amnesia.

***

Preview: Prolog

====

.

2013 © All Right Reserved.

.

====

Ice Skating Area.

09.45

Jung Soo Jung.

Itulah nama skater muda itu. Dia melenggak-lenggok di atas es bak seorang putri. Pisau baja itu bergerak membelah lapisan es dengan anggun. Sepatu putihnya terus berkelok ketika si Pemakai melenggang kesana-kemari.

Penonton sekitar dibuatnya kagum, tak urung mereka menahan napas ketika si Putri Es memamerkan tekniknya berputar dengan satu kaki. Teknik yang benar-benar sulit, terlebih harus menahan berat badannya agar bisa berputar secara aerodinamis.

Tap.

Pertunjukkan berakhir setelah sang putri menyunggingkan senyumnya dan membungkuk ke arah penonton.

Soojung, Putri es itu, meninggalkan arena skating setelah menanggalkan sepatunya. Ia berjalan dengan penuh rasa bangga setelah mendengar tepuk tangan riuh dari arah penonton.

“Senang mendapatkan tepuk tangan, Miss?”

Soojung yang semula memasuki lobi dengan rasa tenang, kini tampak kaget ketika sebuah suara berat menyapanya.

“Kau iri?”

“Haha, lucu sekali aku iri padamu,” suara itu tertawa renyah, “yah, kurasa tidak heran juga kalau nickname-mu adalah Krystal. Kau seperti putri es.”

Krystal, atau Soojung, tertawa menanggapi pujian darinya.

“Mungkin. Bagaimana penampilanku tadi? Mengesankan? Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba guru Lee memintaku untuk mengikuti lombaskating, ketimbang latihan karate. Tapi, yah aku cukup berterima kasih.”

“Mungkin gurumu ingin supaya kau lebih menonjolkan sisi feminin, Soojung. Haha..” Tawa suara itu mulai meledak ketika Krystal memukul pundaknya.

“Kenapa kau tidak pernah memujiku, sih? Orang lain memuji kepiawaianku dalam bermain ice skating, tapi sepertinya hanya kau saja yang selalu meledekku. Dasar Myungsoo jelek.”

“Jadi, kauingin mendapat pujian? Kau sudah terlalu banyak mendapat pujian. Bisa-bisa kau akan besar kepala nanti.”

“Sudah, diam kau! Kenapa kau cerewet sekali sih hari ini? Tidak ada kasus?” tanya Soojung.

Myungsoo hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Ia kemudian duduk di sebuah bangku, tepat di sebelah tas Soojung.

“Kuharap sih tidak ada.”

“Kalau tidak ada, kau jadi tidak bisa memamerkan gaya centilmu itu, ‘kan?”

Myungsoo mendengus kesal. “Excuse me, gaya centil? Apa yang kau maksud dengan gaya centil itu, Miss?”

“Nah nah kau marah, ‘kan?! Haha, sudahlah bantu aku untuk membawa tas-tas ini. Berat sekali.”

“Tidak mau.”

“Akan aku beberkan foto tidurmu itu!” ancam Soojung dengan senyum setannya.

Myungsoo mendelik kesal. Semula ia tak mau membantu Soojung sebagai balasan atas penghinaannya, namun ancaman Soojung benar-benar mengkhawatirkan. Jadilah pemuda itu membantu Soojung membawakan tas-tasnya—dengan setengah hati, tentu saja.

.

===

.

Area Parkir.

“Kapan perlombaannya?”

“Dua hari lagi. Jadi, besok merupakan hari terakhirku latihan.”

“Berjuanglah, kemampuan skating-mu bagus. Kau harus menjadi juara pertama, atau sia-sia saja aku mengorbankan bensin mobilku banyak-banyak.”

“Tenang saja, kalau aku menang, kau harus memakai topi kelinci ini,” ujar Soojung sambil memegang sebuah topi kelinci. Ia tertawa lebar manakala dilihatnya wajah Myungsoo yang sudah menekuk kesal.

Setelah memasukkan barang-barang ke dalam bagasi dan kedua orang itu sudah menempatkan diri,  Forche 196 merah itu segera melesat pergi.

===

.

.

===

Malam Hari.

“Kau ingin mengajakku ke mana sih, Myung?”

“Sudahlah, diam saja.”

Soojung mendengus keras. Alhasil, sepanjang perjalanan ia hanya melihat ke arah luar, tanpa berkicau sedikitpun.

Ckit.

Bunyi ban mobil yang berdecit karena rem mendadak, membuat Soojung menoleh bertanya ke arah Myungsoo.

“Kita sudah sampai,” ujar pemuda itu yang mengetahui arti tatapan Soojung.

“Eh?” gadis itu heran ketika benda besi merah itu berhenti di depan sebuah bangunan.

Lebih heran lagi ketika banyak sekali mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman depan gedung itu.

“Ayo, masuk.”

Soojung segera menyamakan langkahnya bersama Myungsoo. Matanya sibuk melirik kesana-kemari melihat sekitarnya. Beberapa poster mengenai skating banyak tertempel di dinding-dinding.

“Myung—” Suara Soojung terpotong ketika Myungsoo sudah tak ada lagi di sampingnya.

“Myungsoo!” Sejurus kemudian, Soojung sudah sibuk mencari Myungsoo.

“Myungsoo, aku mencarimu! Ternyata kau di sini! Aku tidak mengerti kenapa—”

“Sst.. Soojung, kenalkan, temanku, dia Lee Yoon Joo. Dia anak kepolisian Gangnam. Yoon Joo, dia Soojung, temanku.”

Soojung kemudian menoleh ke arah Yoon Joo.

Tipe orang borjouis,  batinnya.

Rambut  berwarna cokelat pirang, mata hazel-nya menatap teduh Soojung, senyum cakrawalanya benar-benar mengesankan, kulitnya putih, deretan giginya pun putih rapi, hidung mancung, tubuh proporsional dan bebas bulu, serta ditunjang dengan badan tinggi atletis.

Tipe pemuda kaya.

“Jung Soojung.”

“Lee Yoon Joo.”

“Kau hanya sendirian kemari?” tanya Myungsoo.

Yoon Joo mengangguk. “Awalnya, aku ingin mengajak Shin Yeol, tapi dia sedang ada perlu. Ya sudah aku menonton keanggunan angsa malam ini hanya seorang diri.”

“Eh, angsa?”

Kedua pria itu serentak menoleh ke arah Soojung. “Iya, pertunjukkanSwan Swimming. Kau tidak tahu?” tanya Yoon Joo seolah kata-kata Soojung tadi adalah lelucon.

“Aku tidak tahu. Myungsoo langsung mengajakku pergi tanpa memberitahuku.” Mata Soojung melirik-lirik Myungsoo penuh kesal.

“Nanti akan kujelaskan. Kami ke dalam dulu ya, Yoon Joo. Sampai jumpa.”

Myungsoo dan Soojung kemudian melangkah ke dalam inti gedung—tempat di mana pertunjukkan akan dilaksanakan.

Tsk, aku benar-benar seperti orang bodoh,” keluh Soojung ketika ia berhasil duduk dengan selamat.

“Jangan banyak mengeluh. Nanti kau pasti akan berterima kasih padaku.”

“Ayo, katakan sekarang! Swan Swimming itu apa?” bujuk Soojung supaya Myungsoo memberitahunya.

“Dua hari lagi kau akan mengikuti lomba ice skating, ‘kan? Dan, besok adalah hari terakhirmu untuk berlatih. Swan Swimming adalah groupskater luar negeri. Mereka sudah melakukan pertunjukkan di banyak negara, dan namanya sudah terkemuka. Kemampuan skating para anggotanya sudah di atas rata-rata, jadi kupikir kau akan mendapatkan banyak pelajaran saat menonton langsung.”

Soojung terperangah menatap Myungsoo. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan, ia hanya tak menyangka Myungsoo begitu memerhatikannya—dan ia sangat terharu.

“Terima kasih, Myungsoo!” Sekonyong-konyong Soojung langsung memeluk Myungsoo erat-erat dan membuat pemuda itu terlonjak kaget.

“Iya-iya, cepat lepaskan aku!” seru Myungsoo.

Sebuah cengiran lebar tercetak di bibir gadis itu ketika melepaskan pelukannya. “Aku tidak tahu kalau dibalik sikap dinginmu, kau perhatian kepadaku. Hihi, terima kasih, Myung.”

Untung saja lampu gedung itu sudah padam, dengan begitu semburat merah yang nampak di kedua pipi Myungsoo menjadi sedikit samar. Sebagai gantinya, pemuda itu terus menunduk untuk menenangkan degupan jantungnya.

Soojung benar-benar membuatnya gila!

Ladies and gentleman, mari kami tunjukkan kepada Anda sekalian penyihir-penyihir es yang akan menarik Anda untuk berpetualang di dunia fantasi ala Swan Swimming.”

Seruan dari sang pembawa acara mengalihkan perhatian seluruh penonton ke arah panggung. Mereka paham akan satu hal; pertunjukkan akan segera dimulai.

Aura magis semakin terasa ketika sorot lampu hanya difokuskan di tengah-tengah panggung. Kepulan asap asam karbonat pun terlihat membubung di udara dan berlarian kesana-kemari. Alunan akustik piano pelan mulai terdengar seiring masuknya beberapa orang dengan sepatu skating mereka.

“Inilah para penyihir es kami! Dalam satu jam kedepan, persiapkan diri Anda untuk berimajinasi liar.”

“Hei, Myung! Orang itu siapa? Yang memakai topeng. Siapa dia, Myung?”

“Ah, maksudmu Black Swan? Aku juga tidak tahu siapa nama aslinya. Dia memang dibuat semisterius mungkin. Kaulihat perempuan yang berdiri di sebelah kanannya? Dia dijuluki White Swan. Mereka berdua seperti bayangan. Sama-sama memiliki kemampuan yang hebat, dan teknik skating mereka terbilang cukup sulit. Satu lagi, umur mereka sama dengan kita,” jelas Myungsoo. Soojung mengangguk paham.

“Apa?! Benarkah?! Hebat sekali..”

Keseluruhan skater Swan Swimming membungkuk dalam-dalam setelah memberi salam hormat. Mereka melambaikan tangan sebentar, dan berpencar ke seluruh penjuru ruangan dengan keluwesan gerak mereka.

Selesai memberi salam pembuka, para skater kembali ke belakang panggung.

Lampu utama kembali dipadamkan. Yang menyala hanyalah lampu sorot tengah.

Ternyata penampil pertama adalah seorang skater cilik. Bisa dibilang dia yang termuda diantara para skater grup Swan Swimming.

“Hebat..” gumam Soojung tak sadar. Matanya sama sekali tak bisa lepas dari setiap gerakan yang diciptakan oleh gadis kecil itu. Keelokannya saat berliuk benar-benar memukau bak seorang angsa yang menari. Berputar-putar di pinggir lapangan, tersenyum ke arah penonton, lalu kembali ke tengah dengan sebuah gerakan spinsempurna.

“Namanya adalah Xia Loei, dia berasal dari Cina. Umurnya 9 tahun. Merupakan anggota termuda dari Swan Swimming. Kemampuanskating-nya diatas rata-rata, mungkin karena sejak kecil ia sudah diperkenalkan pada dunia ice-skate,” ujar Myungsoo berusaha menjelaskan pada Soojung mengenai gadis cilik tadi yang berhasil membuatnya berdecak kagum.

Aksi Xia Loei nampaknya akan segera berakhir. Gadis cilik itu melakukan perputaran scrambling[1] sesaat lalu membungkukkan badannya. Xia Loei pun pergi menuju backstage setelah mendapatkan tepuk tangan riuh dari para penonton.

Lampu utama kembali dinyalakan.

Pembawa acara muncul ke panggung, dengan penampilan yang berbeda. Baju merah tua dengan corak putih, celana hitam selutut, dengan renda di sepanjang kalung leher—gaya berpakaian seorang bangsawan kuno Inggris.

“Namanya Jonathan Michael, sering dipanggil Jo. Dia asal Inggris. Bisa dibilang pria itu adalah pemimpin dari grup ini, sekaligus pembawa acara tetap Swan Swimming. Dia juga yang mengatur segala macam pertunjukkan Swan Swimming,” jelas Myungsoo dan dibalas sebuah anggukan kecil dari Soojung.

“Bagaimana penampilan penyihir termuda kami? Selanjutnya, akan ada penampilan dari sepasang angsa bulan. Mari kita sambut.. Leslie dan Arthur!”

Lampu utama pun dimatikan kembali. Cahaya berwarna-warni dari atas lampu panggung menampakkan pelangi di atas permukaan es yang licin. Kepulan asap kecil kembali terlihat. Bunyi dentuman pisau baja menggema di seluruh ruangan yang sunyi senyap itu.

Diiringi musik Sarandiva, seorang laki-laki dan perempuan muncul berdampingan. Tangan kiri sang Lelaki yang melingkar di pinggang wanita, sedang tangan kanannya menggenggam tangan kiri Leslie—nama skater perempuan itu.

“Mereka dikenal dengan nama  Black Swan Couple. Leslie dan Arthur, keduanya merupakan orang Perancis. Mereka merupakan pasangan suami istri yang sudah cukup lama bergabung dengan Swan Swimming. Anak mereka pun bergabung dengan grup ini dan dijulukiBlack Swan—sama seperti orang tuanya. Selain mereka, ada pulaWhite Swan Couple. Kau akan melihatnya nanti setelah ini mungkin,” ujar Myungsoo, kembali menjadi penjelas bagi Soojung.

“Oh, baiklah. Tapi, mereka benar-benar gelap, Myung. Tidak ada senyuman di wajah. Tatapan mereka berdua sangat menakutkan,” racau Soojung. Meski begitu, sepanjang Black Swan Couple unjuk kebolehan, ia tak henti-hentinya memuji tiap teknik yang dipertunjukan oleh dua pasangan itu.

“Hebat sekali! Bagaimana mungkin ahjussi itu bisa melakukan gerakan menyentak seperti tadi?! Hebat sekali! Padahal dia berotot begitu,” racau Soojung sekali lagi.

“Itu namanya teknik Scorpion King. Kaki kiri yang disentakkan ke depan dengan posisi telungkup, dan dorongan kaki kanan yang mengangkat berat tubuh agar bisa bangkit berdiri dalam sekali hentakkan. Justru semakin berisi badan kita, akan semakin mudah untuk melakukan teknik Scorpion King. Karena, adanya gaya dorong dari dada menuju kaki sebagai penumpu,” jelas Myungsoo.

“Wah, hebat sekali. Apa dia tidak lelah melakukannya sambil mengangkat istrinya—yang walau ringan, tapi tetap saja menyulitkan untuk diangkat? Hebat hebat!”

“Tentu saja tidak mudah untuk melakukannya. Butuh latihan berkali-kali untuk bisa melakukannya. Tidak kuat sedikit saja, Arthur dan Leslie bisa jatuh keras sekali ke arah es. Makanya ada banyak luka di kaki laki-laki itu.” Usai Myungsoo berkata seperti itu, perhatian Soojung pun terpusat pada kaki Arthur. Benar saja rupanya, ada banyak luka sayatan di beberapa tempat.

Setelah Arthur unjuk gigi, kini giliran Leslie yang berkesempatan membuat seluruh penonton menahan napas mereka.

Mula-mula, wanita itu berjalan memutari suaminya. Sampai tiga kali, perputarannya semakin cepat, dan semakin cepat. Dalam keadaan seperti itu, Leslie menukik tajam lalu berlari ke arah sisi kanan penonton dan melakukan gerakan flip-in.

Mata Soojung membesar. Bahkan dirinya sampai menahan napas ketika wanita itu terbang bagaikan elang di angkasa. Baru ketika belahan pisau di kaki Leslie menapak, seluruh pemilik mata yang melihat, kompak mengembuskan napas lega.

Tepuk tangan terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.

“Andai saja aku bisa seperti itu..” gumam Soojung pelan.

Namun, Myungsoo mendengarnya.

Mata pemuda itu memandang Soojung secara terang-terangan yang tak disadari oleh gadis itu.

“Tidak akan bisa,” ujar Myungsoo. Soojung pun balik memandangnya heran.

“Tadi itu Leslie melakukan gerakan Eagle Flip Flutter. Kau tidak bisa melakukannya sebelum mengalami cedera kaki. Kudengar Leslie harus vacum dari Swan Swimming sampai satu bulan lamanya karena cedera yang ia derita setelah berusaha memaksakan diri melakukan gerakan itu.

“Butuh perputaran, tinggi badan, dan timing yang pas untuk melakukannya. Bahkan saat kauingin melakukan flip-in, tidak sembarangan untuk melakukannya. Harus ada timing dan keseimbangan yang mendukung. Saat kaki menyentuh lapisan es pun, kau harus segera bisa menyeimbangkan tubuhmu karena yang kau gunakan untuk menapak adalah ujung besi dari sepatu skater-mu, dan itu sangat sulit.

“Salah-salah, nanti pisau besi di sepatu skater akan menyayat kulitmu. Memang kalau bisa, kau pasti langsung dipastikan mendapat juara pertama, dan namamu akan segera terkenal. Tapi, untuk mencapai teknik itu butuh waktu bertahun-tahun, bukan dalam satu hari saja,” jelas Myungsoo.

Soojung yang mendengar penjelasan Myungsoo, terpaksa harus menimbun dalam-dalam keinginannya itu. Padahal ia sudah membayangkan bagaimana Jung Soojung yang nantinya akan terbang seperti yang dilakukan Leslie tadi.

Tapi, ia akui, memang benar apa yang dikatakan Myungsoo. Teknik itu sangat sulit. Terlihat dari raut wajah cemas Arthur saat Leslie akan mulai melakukan gerakan flip-in.

Teknik yang sulit pun didukung oleh kerja keras selama bertahun-tahun. Tidak ada yang instan di dunia ini.

“Tapi, kalau kau mau berusaha, kau pasti bisa. Cukup melakukan teknik flip-in saja, kau pasti sudah bisa membuat seluruh penonton yang melihatmu nanti akan berdecak kagum,” hibur Myungsoo setelah tak tega melihat raut wajah sedih milik Soojung.

Keduanya pun saling pandang sejenak, kemudian dipecahkan oleh gelak tawa dari mereka.

“Tenang saja. Suatu saat aku pasti akan melampaui ahjumma yang bernama Leslie itu. Akan kubuat kau berteriak, ‘Soojung hebat, Soojung hebat!’ pasti akan sangat menyenangkan sekali!” Imajinasi gadis itu pun melayang membayangkan Myungsoo yang nantinya bersemangat meneriaki namanya dari arah podium penonton.

“Yah, pasti akan sangat menyenangkan,” imbuh Myungsoo, dalam penekanan yang berbeda.

Kedua pasangan suami-istri tersebut mengakhiri pertunjukkan mereka dengan putaran horizontal yang menakjubkan. Mereka pun menghadap ke arah penonton dan membungkuk sembari menampilkan sebuah senyuman simpul.

Seluruh penonton, pun Soojung dan Myungsoo, sama-sama memberikan tepuk tangan yang sangat meriah bagi pasangan itu.

Lampu utama kembali dinyalakan. Jonathan Michael—sang pembawa acara—sudah bersiap di tempatnya.

“Bagaimana penampilan pasangan Angsa Hitam kami? Begitu memukau, bukan? Kali ini anda semua akan ditemani dengan tariantime-stopped oleh si Pangeran Penjaga Waktu kita!”

Tepuk tangan kembali terdengar.

Di ujung kiri, datanglah seorang pemuda yang kira-kira berumur 24 tahun; mengenakan baju kebangsawanan Eropa.  Pemuda itu sangat tampan; tubuhnya tinggi atletis, lengan dan dada yang kokoh, rambut pirang cokelat, mata biru toska, dan didukung dengan kulit putih menawan.  Benar-benar seperti seorang Pangeran.

Soojung dan para wanita lainnya, berdecak kagum dan memuja-muji si Pangeran Panjaga Waktu. Tak urung gumaman keindahan yang dielu-elukan Soojung, membuat Myungsoo sedikit tidak suka pada si Pangeran sialan—julukan yang diberikan oleh Myungsoo—itu.

“Myungsoo, siapa namanya? Dia tampan sekali! Ya Tuhan! Lihat matanya itu! Ah, aku seakan meleleh karena pandangannya itu, Myung! Siapa namanya?!” desak Soojung pada Myungsoo. Gadis itu percaya Myungsoo pasti tahu nama laki-laki itu, karena sejak tadi Myungsoo merupakan sumber informasinya mengenai Swan Swimming.

“Tidak tahu.”

“Myung, ayolah beri tahu aku!”

“Tidak.”

“Myungsoo..”

“Aku tidak tahu siapa namanya.”

“Myungsoo, kau pasti tahu! Ayolah, kasih tahu aku!”

“Tidak.”

“Myungsoo..”

Selama beberapa menit ke depan, perundingan alot pun sedang terjadi antara Myungsoo dengan Soojung. Myungsoo terus saja menolak untuk memberitahukan nama si Pangeran tengik itu pada Soojung karena dirinya begitu memuja laki-laki itu.

Alasan sebenarnya sangat sederhana sekali; cemburu.

“Tapi, sebelum aku memulai pertunjukkan, aku ingin seorang perempuan di sini menjadi partner skater-ku, Jo.”

Oh, baiklah. Perkataan si Pangeran telah berhasil menyita seluruh perhatian para penonton. Perundingan antara Soojung dan Myungsoo pun terhenti sebentar. Keduanya kompak memperhatikan si Pangeran itu.

Pekikan-pekikan senang terdengar riuh rendah, pun dengan cibiran-cibiran kesal.

“Oh, kau akan menunjuk salah seorang gadis cantik di gedung ini untuk menemanimu? Lalu, siapa Putri yang beruntung itu?”

Soojung, dan seluruh wanita yang berada di dalam gedung, berdoa dalam hati mereka supaya terpilih. Mereka tetap mencoba berharap dan berdoa, walau ada pula diantara mereka yang sama sekali buram cara berseluncur di atas es.

“Namanya adalah Stewart. Dia seorang playboy dan selalu merayu perempuan-perempuan di tiap gedung pertunjukkan Swan Swimming.Dia berkebangsaan Inggris. Jauhi pria itu! Dia sangat menyebalkan!” cibir Myungsoo dan matanya menatap tajam seolah ingin mengoyak Stewart—si Pangeran Penjaga Waktu.

“Nama yang indah! Aku sudah menduga dia orang Inggris. Mata birunya benar-benar khas seperti milik pria bangsawan di Inggris. Indah sekali..”

Myungsoo kembali mendengus ketika dengungan puja-puji kembali menyambangi pendengarannya.

“Bagaimana, Prince? Kau sudah memutuskan?” tanya Jo yang tak sabar—sama seperti para kaum hawa lainnya.

“Tenang saja, Jo. Aku sudah menetapkan pilihanku,” jawab Stewart sambil mengedipkan sebelah mata kanannya, dan diiringi desahan napas memekik dari para perempuan.

Deg.

Jantung Soojung pun berdegup keras sekali saat pandang matanya bertemu dengan Stewart. Gadis itu sama sekali tak bisa melepaskan seinci pun pandangannya dari mata biru itu.

Rasanya Soojung ingin mendekat dan mengajak Stewart untuk berdansa dengannya. Tapi, itu mustahil.

Segera Soojung enyahkan pemikiran itu dari pikirannya.

“Jo, bisakah aku sendiri yang menjemput sang Putri?”

Sang pembawa acara mengangguk paham. Ia justru tersenyum lebar. “Tentu saja boleh, Stewart.”

Mata lelaki itu menyisir tiap bangku penonton. Seluruh degup jantung wanita dibuatnya tak normal. Bahkan, pendingin ruangan yang dipasang secara gila-gilaan pun tak mampu menghentikkan tetesan keringat yang turun.

Tap. Tap.

Laki-laki itu mulai melangkah. Barisan pertama ia lewati begitu saja, membuat seluruh perempuan yang duduk di deretan itu mendesah kecewa.

Laki-laki itu terus melanjutkan langkahnya sambil memandang lurus.

Semoga aku yang dipilih—doa Soojung.

Semoga bukan Soojung yang dipilih—doa Myungsoo.

Aku benar-benar menyesal sudah mengajaknya kemari. Kenapa harus ada acara mengajak penonton untuk berinteraksi segala?! Tahu begini, lebih baik aku memberinya rekaman video Swan Swimming saja, tidak perlu menonton secara live, batin Myungsoo kesal sambil melirik ke arah Soojung yang masih setia memanjatkan doa.

Keduanya pun semakin gencar berdoa dalam hati ketika Stewart berdiri di anak tangga deretan keempat—barisan kursi di mana mereka sedang duduk.

Sial.

Sepertinya doa Myungsoo tak terkabul. Buktinya, Stewart kini sudah berdiri di depan Soojung sambil menggenggam tangan gadis itu layaknya seorang Pangeran kepada Putrinya.

Benar-benar sialan laki-laki ini!

Myungsoo terus merutuki dan melemparkan sumpah serapah di dalam hatinya.

Stewart tersenyum sebentar ke arah Myungsoo seolah meminta persetujuan pemuda itu untuk melibatkan Soojung dalam pertunjukkannya.

Soojung pun memandang Myungsoo, teramat sangat. Dia mencoba mengirim sinyal agar Myungsoo membiarkannya pergi.

Huh, apa-apaan mereka berdua ini! Sudah pasti, sampai kiamat tiba pun, aku tidak akan mengizinkan Soojung pergi dengan playboy tengik ini, batin Myungsoo.

Namun,

“Semoga pertunjukannya berhasil.” Akhirnya malah yang terucap berbeda dengan apa yang dipikirkan hatinya.

Soojung tersenyum senang, dan berusaha menahan gemuruh di dadanya.

Myungsoo menahan amarahnya dan mencoba untuk tersenyum kecil—walau sangat dipaksakan—ketika Soojung melempar senyum yang sangat lebar kepadanya.

Huh, bisa-bisanya dia itu tersenyum seperti itu padaku! Dasar!

You are very beautiful, Lady,” puji Stewart kepada Soojung, lalu laki-laki itu mencium punggung tangan Soojung yang membuat Myungsoo ingin muntah.

Samar-samar Myungsoo yang mendengar pujian itu hanya bisa menahan diri agar tidak teriak-teriak dan mengucapkan seribu penyumpahan pada Stewart.

Cih, menjijikan. Dia pasti sudah mengucapkan kalimat itu pada lebih dari seribu perempuan di dunia ini! Jangan-jangan nenek-nenek pun ia bilang cantik. Ya, dari wajahnya saja sudah terlihat dia tipe yang mudah sekali melontarkan pujian. Dasar wajah jelek!

Stewart dan Soojung benar-benar berhasil mematahkan pengharapan dari seluruh wanita di gedung itu, sekaligus mengabulkan doa-doa bagi para kaum lelaki yang datang bersama pasangannya.

“Baiklah, sang Pangeran kini telah kembali dengan putri cantiknya. Siapa namamu, Miss?”

Soojung sedikit gugup ketika sorot lampu terfokus padanya. Ia melirik-lirik sebentar ke arah Stewart, entah apa dorongan yang membuatnya berbuat seperti itu. Namun, Stewart mengetahui maksud Soojung, dan membalasnya dengan sebuah senyuman hangat.

Stewart menggenggam tangan Soojung lebih erat dari sebelumnya. Menjalarkan kehangatan ke dalam diri wanita itu. Membuat Soojung agar mengetahui bahwa dia ada di sampingnya, untuk menenangkannya.

Myungsoo yang dengan sangat jelas melihat itu, hanya bisa menggeram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Nama saya adalah Jung Soojung.”

“Wah, nama yang indah. Nah, mari kita lihat pertunjukkan dari Pangeran dan Putri kita—”

“Ta-tapi, maaf. Saya kurang bisa ice-skating,” gumam Soojung malu-malu.

It’s okay, Lady. I will teach you,” bisik Stewart pelan pada Soojung dan kembali tersenyum.

“Huh, dasar playboy kampungan,” desis Myungsoo.

Wajah Soojung kembali memerah. Degup jantungnya semakin menggila ketika didengarnya suara tepuk tangan.

Anggap saja ini latihan sebelum aku lomba. Ya, tapi penontonnya banyak sekali. Kalau aku gagal, bisa-bisa aku sendiri yang malu. Harus bagaimana ini?

Tirai tertutup rapat-rapat.

Semua orang tampak berkasak-kusuk membahas mengenai penampilan yang akan dilaksanakan. Bagaimana cara Stewart membimbing Soojung.

“Pasti yang perempuan malu-maluin. Kenapa Pangeran itu tidak memilihku, sih? Jelas-jelas aku lebih cantik dan lebih berkemampuan daripada gadis kecil itu!” sindir seorang perempuan yang duduk di belakang Myungsoo.

Myungsoo merasa panas, walau bukan dirinya yang dicela. Tetap saja ia tak bisa terima siapa saja yang sudah melecehkan Soojung.

“Maaf, Nona. Kalau kau lebih cantik dan lebih bisa dibanding gadis itu, bukankah seharusnya si Pangeran memilihmu? Kalau dia tidak memilihmu, itu artinya kau lebih buruk dari gadis yang dipilihnya.” Perkataan Myungsoo yang teramat pedas kepada si perempuan pencela itu, tak urung membuatnya marah.

Perempuan itu ingin melontarkan cacian, namun ia urungkan setelah memikirkan baik-baik apa yang dikatakan Myungsoo.

Memang benar, tapi..

Alunan musik Sandrivaleria terdengar di seantero gedung. Myungsoo tampak was-was memikirkan nasib Soojung selanjutnya. Ia yakin sepenuhnya bahwa kemampuan Soojung dalam skating tak perlu diragukan. Namun Soojung jika dalam keadaan tertekan, penampilannya pun akan terpengaruhi.

Tirai kemudian terbuka.

Myungsoo tercengang.

Soojung..

Cantik sekali.

Tak tahu mengapa, pipinya menimbulkan semburat merah. Degupan jantungnya mulai mengganas seakan-akan ingin melompat keluar.

Soojung sangat anggun dalam balutan warna putih beludru dan rambut yang dibiarkannya tergerai panjang dengan kepang di kedua sisi kanan dan kiri. Persis seperti seorang putri bangsawan.

Ready?”

Soojung tampak malu-malu untuk menerima uluran tangan dari Stewart yang sangat sangat tampan.

Mereka berdua kemudian berdansa—dengan menggunakan sepatu luncur mereka. Pelan dan mesra; Tangan Stewart melingkar di pinggang kecil Soojung, keduanya berdiri sangat dekat. Bahkan, mereka pun dapat merasakan embusan napas masing-masing.

Lampu mulai berubah menjadi warna-warni. Musik yang mengiringi sudah berubah menjadi alunan jazz ringan. Gambar latar belakang menampilkan kisah Romeo dan Juliet yang sedang berdansa.

Myungsoo iri, luar biasa iri. Giginya bahkan sudah bergemeletuk sejak tadi. Rasanya ingin ia dorong tubuh Stewart jauh-jauh dari Soojung. Dirinya bahkan tidak pernah sedekat itu dengan Soojung.

Soojung beberapa kali unjuk kebolehannya dengan melakukan perputaran secara vertikal dan tangan kanannya yang melebar.

Bahkan Stewart berulangkali mengucapkan pujian padanya yang tidak dipahami oleh Soojung.

Pertunjukkan sudah menjelang akhir. Tubuh keduanya saling mendekat.

Good jobLady..”

Soojung hanya tersenyum kikuk. “Thank you.”

Entah, apa ini hanya spontan atau rekayasa, kepala Stewart semakin mendekat dan merengkuh leher Soojung. Gadis itu hanya berdiri bingung dan menatap Stewart.

Badan Myungsoo sudah menegang.

Apa yang mau dilakukan si bodoh Stewart itu, sih?!

Tubuh Soojung dan Stewart pun semakin mendekat. Tepat disaat kepala mereka hampir bersisian, sebuah pekikan keras terdengar dari arah belakang panggung.

“KYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……….”

Pertunjukkan dibatalkan.

Persis seperti dugaan Myungsoo; kasus pembunuhan.

.

.

.

| | 1st – END ||

Glosarium:

Scrambling[1] : perputaran secara cepat dan tetap pada tempatnya. Hampir sama seperti teknik spin.

—————————————————————-

A/N:

Halo, haha gimana dengan ff ini :lol: pusing? Pusing membayangkan teknik-teknik skating:roll: sama aku juga >_< sebenarnya sih pusing cari tau nama-namanya dan cara deskripsi supaya kalian paham, tapi aku kayaknya kurang bisa menuangkannya dalam bentuk deskriptif TT

Jadi, maafkan saya TT__TT kalau ngga paham, skip aja bagian-bagian itu xD haha.. :lol:

Last, terima kasih yang sudah membaca dan memberi komentar kalian ^^~ love you xD

Thanks to: Kak Amer  yang sudah mau meluangkan waktunya sebagai beta reader-ku :)

3 responses to “Swan Black [1st]

  1. Pingback: Swan Black [2nd] | myungSOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s