Swan Black [2nd]

swanblack2

SwaBlack [2nd]

—from MyungSooJung’s Black Project.

..stand alone of A Case.

***

A Movie by:

Mizuky

|| Duration: Series | Main Cast: Kim Myungsoo, Jung Soojung, and OCs ||

|| Genre: Romance, AU, Crime, Dark, Conflict, Sci-fi, Mature, Detective Story, Thriller | Rating: PG-15 ||

Summary:

Soojung dengan keahlian skating-nya, justru membawa dampak yang tak diinginkan bagi masa depannya dan juga Myungsoo. Kedua orang itu terjebak di dalam sebuah jebakan es yang kejam.

***

.

2013 © All Right Reserved.

.

***

Prolog Part 1 | Part 2

***

Tirai pun sudah disibakkan seiring dengan hawa mencekam yang terus menyelimuti atmosfer ruangan tersebut. Lampu show sudah dimatikan, dan kini para penonton sudah berada di luar agar tak menimbulkan kericuhan lebih lanjut. Seluruhnya menjadi bingung, ada beberapa yang mencoba berspekulasi atas apa yang terjadi, namun mereka masih tetap tak menemukan jawab.

Terlihat beberapa polisi dan petugas medis berdatangan. Kini, ruangan tersebut sudah dikelilingi oleh police line yang artinya tertutup untuk umum. Sedang suasana di backstage jauh lebih tegang ketimbang di panggung pertunjukkan. Beberapa para skater yang sudah berganti pakaian saling mengemukakan apa yang sedang mereka pikirkan dan mereka duga.

“Jadi, korban bernama Ellise, berkebangsaan Perancis, serta merupakan anak dari Leslie dan Arthur.”

Leslie dan Arthur mengangguk dalam diam. Bagaimana tidak, mereka pasti teramat sangat terpukul mendapati puteri mereka yang tewas dengan cara yang mengenaskan. Terlebih Ellise meninggal dalam busana balet yang minim.

Ellise diduga tewas dikarenakan otaknya yang kekurangan pasokan oksigen karena lehernya ditekan dengan sangat kuat dari belakang. Tidak sampai disitu saja, si pelaku mendorong kepala Ellise yang sudah tak bernyawa itu ke dinding dengan sangat keras hingga tempurung kepala bagian belakang pecah sampai-sampai otaknya sedikit menyembul keluar. Dinding abu-abu itu benar-benar berlumurah darah. Sepertinya si pelaku tak puas sampai membuat hancur tulang tengkorak kepala Ellise, dia juga menghujam tubuh Ellise dengan beberapa tusukan pisau.

Sadis. Kejam. Tak kenal ampun.

“Dilihat dari cara tewasnya korban, sepertinya si pelaku menyimpan dendam yang luar biasa terhadap korban. Apa Ellise pernah bertengkar dengan salah satu dari kalian?” tanya Myungsoo—atau lebih tepatnya interogasi—kepada seluruh anggota Swan Swimming.

Tak diduganya, seluruh anggota Swan Swimming mengangguk serempak.

“Maaf untuk Leslie dan Arthur, tapi anak kalian memiliki tabiat yang buruk. Ia selalu memaki siapa saja, tak peduli seberapa besar kesalahan yang diperbuat oleh orang yang dimakinya. Dia bahkan pernah menamparku dua kali.” Seorang perempuan bergaun merah dengan beberapa hiasan kain yang dibentuk bunga mawar di sekitar lehernya, angkat bicara. Leslie dan Arthur pun tersenyum kecut.

“Ya, anak kami memang memiliki sifat yang buruk. Dia bahkan sering membentakku di depan umum walau aku adalah orang tuanya.” Leslie menunduk sedih. Arthur segera menepuk pundak isterinya dan memberikan senyuman semangat.

“Jadi, ada banyak motif untuk membunuh puteri Anda,” ujar Myungsoo.

Leslie mendelik sebal. “Meski begitu, tetap saja orang itu tak berhak untuk membunuh puteriku! Apalagi dia membunuhnya dengan tidak manusiawi! Aku-aku… meski Ellise kasar, tapi dia tetap puteriku. Tolong, Pak Polisi, tolong tangkap pelakunya! Aku tak bisa tenang sebelum bisa mengetahui siapa pembunuh puteriku!” tegas Ellise.

Inspektur Nakawara yang kebetulan sedang bertugas di sana, mengangguk agak kelu menghadapi permintaan Ellise. Bisa dibilang bibi itu masih cantik, meski umurnya sudah tak lagi muda. Tubuhnya memiliki lekuk sempurna, persis seperti gitar spanyol. Kulitnya putih bersih, bahkan komedo pun sepertinya tak ingin bersarang di wajah wanita itu.

“Kami akan berusaha untuk menangkap si pelaku!” ujar Inspektur dengan nada yang sangat mantap.

“Lalu, siapa yang pertama kali menemukan mayat Ellise?” tanya Myungsoo.

“Aku.” Seorang gadis muda yang berumur sepantaran dengan Myungsoo mengacungkan jari telunjuknya untuk menyatakan dirinya. Ia menggunakan busana putih polos yang digabung dengan celana pendek. Rambutnya dikepang lalu ditaruh ke samping kanan. Ia mengenakan makeup bling sehingga membuat wajahnya tampak berkelip ketika diterpa sinar.

“Bisa kau ceritakan kronologis kejadian saat kau menemukan mayat Ellise?” pinta Inspektur.

Gadis itu mengangguk. “Saat itu, aku ingin memanggil Ellise karena sebentar lagi giliran kami akan tiba. Kami di sini berperan sebagai pasangan duet, Black Swan dan White Swan. Giliran kami adalah setelah pertunjukkan Stewart. Karena, itu aku memanggilnya untuk bersiap-siap. Sebenarnya aku agak takut untuk mengganggunya. Aku ingin mengajak Lizzie tapi sepertinya dia sendiri sedang sibuk dengan pakaiannya. Oleh karena itu aku memberanikan diri untuk memanggil Ellise sendirian.”

Myungsoo mengangguk. “Sebentar, apa kau Jung Yun Hee, si White Swan itu?”

Gadis itu—Yun Hee—mengangguk. “Benar.”

“Tapi, kenapa kau bisa takut untuk memanggil Ellise? Bukankah kalian teman? Terlebih umur kalian sama,” ujar Inspektur Nakawara.

“Kan sudah diberi tahu dari awal kalau Ellise memiliki tabiat yang buruk. Dia itu tidak bisa diganggu jika sedang berada di ruangan pribadinya. Oleh karena itu, kami lebih memilih untuk menunggunya di luar ketimbang harus memanggilnya secara pribadi ke ruangannya. Karena itu sama saja mengundang singa yang sedang mengamuk,” Lizzie angkat bicara.

“Hey, jaga ucapanmu, Lizzie! Anakku tidak seburuk seperti yang kau katakan!” Leslie tak terima jika anaknya dijelek-jelekkan seperti itu. Meski memang beberapa kali ia pernah merasa sakit hati dibentak oleh anaknya sendiri, namun hati kecilnya sebagai seorang ibu tetap tidak terima jika ada orang lain yang mencemooh anaknya.

Lizzie tersenyum sinis. Ia bersedekap, lalu memandang nyalang pada Leslie. Suasana mendadak menjadi panas. “Lho, aku benar ‘kan? Anakmu itu sangat buruk. Semua orang di sini sama sekali tak menyukai anakmu!”

Leslie mengamuk seketika. Ia sudah bersiap untuk memukul Lizzie, jika saja Arthur tak menahan tangannya. “Sudahlah, sayang. Tak usah kau ambil pusing omongan anak bau kencur itu. Dia hanya iri pada anak kita.”

Leslie mengatur deru napasnya yang berpacu cepat. Matanya perlahan sudah tak lagi memerah, dan ia sudah bisa mengatur emosinya. “Jangan-jangan kau yang membunuh anakku?! Sejak tadi kau terus menjelek-jelekkan anakku. Iya ‘kan?! Kau pasti pelakunya! Kau pasti yang membunuh anakku!”

Lizzie pun tertawa terbahak-bahak. Ia menganggap konyol tuduhan Leslie padanya. “Jangan bercanda. Memangnya apa untungnya aku membunuh anakmu?”

“Ah, sejak ada aku dan Ellise, popularitasmu semakin menurun, ‘kan?”

Sebuah suara menyela di sela-sela pertengkaran antara Lizzie dengan Ellise. Suara kecil dan lembut yang datang dari arah sudut, dan sedikit terpencil. Tak diduga oleh mereka, bahwa Yun Hee lah yang mengatakan hal itu.

Lalu, Lizzie mendelik marah pada Yun Hee. Jika tangannya tak ditahan oleh Sang Joon—ayah Yun Hee—mungkin kini pipi Yun Hee sudah memerah akibat tamparan Lizzie.

“Jaga ucapanmu! Pokoknya aku tidak membunuh Ellise!” Lizzie pun segera berlari meninggalkan yang lainnya menuju ruangan pribadinya dengan langkah panjang-panjang dan penuh emosi.

Hal itu menimbulkan kesan pada Myungsoo.

Bukan hanya Lizzie saja yang memiliki motif untuk membunuh Ellise, seluruh yang ada di sini bisa saja menjadi pembunuhnya.

Begitulah isi pikirannya.

Dia kini sedang mengajak bicara ketua Swan Swimming, Jonathan Michael. Myungsoo pikir, sebagai ketua, Jo seharusnya tahu apa saja yang terjadi di timnya tersebut.

“Menurutmu, Ellise itu seperti apa?”

Jonathan yang sedari tadi terus bungkam, menjadi kaget ketika ada seseorang yang bertanya secara pribadi padanya. “Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di ruanganku saja.”

Lalu, mereka berdua pun menghilang di balik tirai merah besar yang dibaliknya terdapat sebuah pintu kayu besar.

Soojung tahu Myungsoo pasti akan tertarik dengan hal semacam ini. Ia kemudian menghela napas sejenak. Myungsoo pasti sudah memulai interogasinya, dan pemuda itu menjadi lupa seketika bahwa ada dirinya di situ. Soojung lalu melihat ke arah jam tangannya.

Pukul 20.15

Ia melihat ke arah depan. Seluruh tim Swan Swimming terlihat sedang beristirahat, dan para skater sepertinya sedang berada di ruangannya masing-masing. Yang terlihat sibuk hanya para polisi. Itupun mereka tidak jelas juntrungannya.

“Hey, kekasihmu sedang melakukan penyelidikan ya?”

Soojung spontan kaget. Dalam sekali sentak, ia menoleh ke arah kirinya dan mendapati Stewart yang sedang tersenyum ke arahnya dalam balutan pakaian yang kasual.

Soojung terhipnotis.

“Ya-ya, begitulah. Dia selalu begitu.”

“Mau ikut denganku? Kebetulan di dekat sini ada sungai. Kita bisa menghabiskan waktu sebentar di sana. Bosan juga kalau melihat polisi yang terus mondar-mandir dan menggeledah barang-barang kami,” ujar Stewart.

Soojung menjadi kikuk. “Eh, tapi—”

Terlambat. Karena sekarang Stewart sudah menarik tangannya pergi.

===

.

.

===

“Seperti yang sudah kau dengar, Ellise hampir dibenci oleh seluruh tim Swan Swimming.”

“Termasuk kau?” tembak Myungsoo.

Pemuda itu kini sudah berada di sebuah ruangan klasik yang luas. Ornamen-ornamen abad pertengahan sangat kental di dalam ruangan itu. Pajangan tanduk rusa terpampang begitu besar di atas pintu. Sebuah kasur biasa terletak di pojok ruangan; hanya ada sebuah bantal dan guling saja, itupun terbalut oleh selembar kain tipis putih yang transparan. Lantainya beralaskan karpet merah yang berwangikan aroma melati. Di atas meja—atau tempatnya tong kayu—berdiri sebuah foto seluruh tim Swan Swimming. Kekeluargaan mereka tampak begitu kental.

Di ruangan itu hanya ada penerangan yang minim—atau remang-remang. Ruangan itu terlihat luas karena minim perabotan. Yang paling terlihat menonjol adalah lemari kayu yang sepertinya terbuat dari kayu jati tua. Beberapa lukisan yang bersifat pemandangan terpajang di seantero dinding tanpa celah.

Interogasi dimulai kembali.

“Benar. Meski begitu, aku tetap menyayanginya. Walau dia selalu membangkang perintahku, namun Ellise termasuk orang yang ulet. Dia bahkan lebih rajin latihan ketimbang yang lainnya. Maka tak heran di usianya yang bisa dibilang sangat belia ini dia sudah meraih puncak kepopuleran. Mungkin itu juga tak lepas dari usahaku yang menjadikannya sebagai angsa hitam yang sangat misterius.”

Myungsoo menarik alisnya. “Maksud Anda?”

Jonathan tersenyum kecil. Ia lalu menyesap sebuah teh hangat dari cangkir putih yang bermotifkan ukiran-ukiran di sepanjang sisi keramiknya. Ia sengaja mempermainkan Myungsoo dalam jeda waktu yang cukup lama hingga membuat pemuda itu sedikit gusar.

Jonathan lantas berdiri. Kedua manik Myungsoo tak pernah lepas terhadap pergerakan yang dilakukan oleh Jonathan, barang sesenti pun. Pria itu terlihat sedang mencari sesuatu di dalam lemarinya, hingga membuat seisinya menjadi berantakan seketika.

“Ini dia.”

Myungsoo mengerutkan dahinya heran. “Apa itu?”

“Malaikat kecilku.”

Myungsoo lantas melihat seorang bayi kecil di dalam pigura foto itu. Bayi perempuan kecil yang sedang tertawa bahagia dan tersenyum ke arah kamera.

“Apa dia anakmu?” tanya Myungsoo.

Jonathan menggeleng sedih. “Apa menurutmu aku sudah berkeluarga?” tanya Jo.

Myungsoo menggeleng ragu.

“Asal kau tahu saja, aku belum beristeri. Itu adalah Ellise, anak Leslie dan Arthur. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Ellise merupakan anak yang baik hati. Ia sendiri yang memilih jalan hidupnya,” papar Jonathan.

Jonathan memberi jeda sedikit untuk meminum tehnya kembali.

“Sejak kecil, aku melihat potensinya di bidang skating yang sangat cemerlang. Aku terus melatihnya secara pribadi agar dia bisa mengembangkan bakatnya dengan baik. Dan, aku berhasil. Ia menjadi legenda skating dunia, meski ia berumur sama denganmu. Ia sendiri yang memilih menjadi gadis pendiam dan bertabiat jelek. Namun, disamping itu semua dia tetap malaikat kecilku.”

Myungsoo mengangguk. “Lalu, akhir-akhir ini apa dia pernah mengatakan sesuatu padamu? Secara rahasia dan pribadi.”

Jonathan terlihat berpikir sejenak. “Akhir-akhir ini dia lebih pendiam dan memilih untuk berlatih skating dari pagi hingga malam. Aku tidak tahu mengapa. Dia selalu begitu jika ada masalah, namun kali ini dia lebih memilih untuk memendamnya ketimbang membaginya denganku.”

Myungsoo lalu menuliskan sebuah catatan di memo kecilnya.

“Apa dia memiliki musuh di sini atau dengan orang luar?” tanya Myungsoo.

Jonathan memandang Myungsoo sejenak, lalu ia tertawa kecil. “Pertanyaanmu lucu sekali, bocah. Kau sudah dengar bukan kalau Ellise sangat dibenci oleh grup kami? Tentu saja ia memiliki musuh sangat banyak. Dan, sepertinya kita berpikiran yang sama, Anak Muda.

“Terlalu banyak motif untuk menjadi dasar membunuhnya. Siapa saja—termasuk aku—bisa jadi pelakunya, bukan?” jelas Jo.

Myungsoo mengangguk seraya tersenyum kecil. “Anda benar. Aku juga mencurigai Anda sebagai pelakunya.”

Jonathan tertawa sejenak, lalu ia menyeruput tehnya. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Kita memiliki banyak waktu untuk berbincang, bukan?”

“Apakah hubungan Ellise dengan Yun Hee akrab?”

Jonathan terbatuk kecil mendengar pertanyaan Myungsoo. Sejenak ia menjadi bisu, atau lebih tepatnya ia bingung untuk menjawabnya dengan jawaban seperti apa. Sejujurnya, dua orang itu adalah anak emasnya.

“Bagaimana aku mengatakannya ya… tapi aku sering mendengar sendiri dari mulut mereka berdua kalau mereka saling mengagumi sosok satu sama lain. Selama ini aku tidak melihat mereka bertengkar. Mereka terlihat saling menyegani. Tapi, diluar itu… siapa tahu…..”

Jonathan bergeming.

“Lalu?”

“Tapi, kalau aku tidak salah ingat, semenjak malam itu hubungan keduanya menjadi sedikit renggang,” sambung Jonathan.

Myungsoo sepertinya tertarik dengan fakta ini. “Malam itu?”

“Tanggal 29 September 2008 merupakan hari kejayaan Swan Swimming. Grup skater kami mulai dikenal banyak orang, dan pada hari itu, untuk pertama kalinya kami mengadakan big show dan gedung pertunjukkannya dipadati oleh banyak orang. Pada malam harinya, kami merayakan hal itu dengan sedikit acara minum-minum.

“Aku melihat Ellise dan Yun Hee duduk sedikit menjauh dari yang lainnya. Mungkin ada yang ingin mereka bicarakan satu sama lain. Tapi, keesokan harinya aku mendapati hubungan keduanya sedikit tak kompak,” ujar Jonathan.

Myungsoo mengangguk, lalu ia menuliskan informasi yang baru didapatkannya di sebuah memo kecil berwarna cokelat.

“Kudengar, Yun Hee sempat mengalami kecelakaan saat melakukan pertunjukkan di Jerman. Dia sempat vacum beberapa bulan, ‘kan?”

Mata Jonathan seketika membulat besar. “Seberapa banyak yang kau ketahui tentang hal itu?!”

Myungsoo merasa Jonathan sedikit rikuh untuk membahas masalah ini. Ia terus bergerak gelisah di dalam duduknya. Tak urung, ia sempat beberapa kali mengusap keringatnya yang sudah berkumpul di dahi.

Myungsoo semakin tertarik.

“Hanya sedikit.”

Jonathan semakin bergerak tak nyaman. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya, dan terlihat tengah meminum sesuatu. Sesudah itu, ia terlihat sedikit tenang. Kemudian, ia kembali duduk di depan Myungsoo.

Matanya menatap tajam ke arah pemuda itu. “Ceritakan semua yang kau ketahui kepadaku.”

Myungsoo menarik napasnya. Ia tengah bersiap untuk bercerita.

“Jung Yun Hee merupakan angsa putih dan termasuk salah satuskater terbaik dari Swan Swimming. Pada tanggal 3 Juli 2005, Yun Hee mendapatkan kecelakaan saat tampil di Jerman. Kakinya tergores—atau mungkin tertusuk—pisau tajam dari sepatu skate-nya yang menyebabkannya harus vacum selama beberapa bulan. Namun, setelah kejadian itu, durasi pertunjukkan Yun Hee menjadi lebih pendek dari biasanya dan dia hanya menampilkan gerakan skate yang biasa.

“Aku rasa Yun Hee mengalami cedera yang cukup parah. Aku juga sempat melihatnya tadi memakai semacam gesper di sekitar lututnya. Aku benar, ‘kan?”

Jonathan menghela napasnya kuat-kuat. “Kau benar. Yun Hee mengalami cedera yang cukup parah di kaki kanannya. Luka yang disebabkan oleh pisau tajam sepatu skate-nya telah mematikan syaraf-syaraf di sekitar telapak kaki dan membuat busuk daging di kakinya. Oleh karena itu Yun Hee memakai kaki buatan karena kaki kanannya telah diamputasi.

“Sebenarnya, aku sudah menyuruhnya untuk berhenti. Tapi, melihat tekadnya dan seberapa besar ia mencintai dunia skating, aku jadi tak tega untuk menghentikkan harapan anak itu. Jadilah aku membelikannya kaki palsu meski harganya yang sangat mahal.”

Myungsoo mengangguk.

“Lalu, siapa saja yang mengetahui hal ini?”

“Seluruh anggota Swan Swimming. Sejak hari itu, ia menjadi sedikit pendiam dan mengekang dirinya sendiri dari pergaulan antar sesama anggota.” Jonathan kembali meminum tehnya. Sedikit banyak ia sudah bisa tenang.

Myungsoo lalu membuat sebuah catatan. “Baiklah. Lalu, dengan siapa Yun Hee biasanya bergaul di sini?”

“Dengan Ellise. Mereka berdua seperti kembar. Oleh karena itu aku menjuluki mereka berdua sebagai Black Swan dan White Swan.”

Myungsoo sempat terdiam. Ia sedang mencerna informasi yang ia terima.

Jadi, Ellise dan Yun Hee merupakan teman. Tapi, dilihat dari penuturannya tadi, dia tidak terlihat sebagai teman yang baik hati. Hm, bahkan hampir semuanya. Semua orang kompak mengumbar tabiat buruk dari Ellise. Ini semakin rumit.

“Menurutmu, seberapa bencikah Lizzie terhadap Ellise?” Myungsoo mencoba mengganti topik pembicaraan mereka.

“Mungkin hampir mendekati taraf sangat benci dan sangat anti. Lizzie begitu tidak menyukai Ellise, sedangkan Ellise terlihat biasa saja pada wanita itu. Mungkin karena ia iri,” ujar Jonathan, ia hanya mengangkat bahunya tak acuh.

“Apa mereka pernah bertengkar? Seperti Lizzie yang secara terang-terangan memaki Ellise.”

Jonatahan tertawa. “Kau bercanda! Mana ada yang berani membentak Ellise. Lizzie sekalipun jika sudah dibentak oleh Ellise dia hanya akan menundukkan kepalanya dan bergerutu sendiri. Lalu setelah itu ia akan memaki Ellise sepuasnya dibelakang gadis kecil itu.”

Myungsoo heran. “Memangnya Ellise begitu menakutkan?”

“Menurutmu?” Lalu, pandangan mereka berdua tertuju pada sebuah gambar yang didalamnya terdapat seorang gadis cantik yang sedang tersenyum. Myungsoo duga gadis itu adalah Ellise.

“Kau tidak menyangka bukan kalau bidadari cantik itu bisa berubah menjadi iblis?” Jonathan lalu menghela napasnya.

“Tidak ada yang berani untuk membangkang perintah Ellise dan membentaknya balik meski Ellise memaki mereka tanpa sebab yang jelas. Termasuk aku.”

Myungsoo mengangguk. Lalu, ia kembali membuat sebuah catatan kecil.

“Menurut pendapatmu, seperti apa Leslie dan Arthur sendiri? Apa mereka sama seperti puterinya?”

Jonathan tersenyum kecil. Ia mengibaskan tangannya di udara. Lalu mulai menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Sepertinya pria tua itu sudah mulai bisa sedikit rileks.

“Mereka baik, mereka ramah. Tak ada satupun sifat dari puteri mereka yang sama seperti mereka. Ellise seperti bukan anak mereka jika kita mengabaikan wajah dan tubuhnya yang terlihat mirip dengan kedua orang tuanya.”

Myungsoo mengangguk. “Lalu, menurutmu adakah motif bagi Leslie atau Arthur untuk membunuh Ellise?”

Jonathan terlihat kaget dengan pertanyaan Myungsoo. “Apa yang sedang kau katakan, Nak?! Mana ada orang tua yang tega membunuh anaknya sendiri?! Kau gila!”

Myungsoo tertawa sinis. “Jika hati sudah dihinggapi oleh iblis, siapapun bisa menjadi iblis dan berbuat jahat. Meski itu malaikat sekali pun.”

Jonathan terdiam. “Sepertinya tidak ada. Mereka terlihat sangat menyayangi puteri mereka.”

Myungsoo mengangguk. “Baiklah. Lalu, bagaimana dengan Jung Sang Joon dan Jung Yun Ri? Mereka orang tua Yun Hee, ‘kan? Mereka pasti memiliki motif untuk menyingkirkan Ellise supaya Yun Hee bisa menjadi satu-satunya skater yang paling menonjol di Swan Swimming.”

Jonathan mengangguk membetulkan. Pria itu kemudian meminum seteguk tehnya kembali.

“Mungkin saja. Apapun bisa terjadi.”

“Lantas bagaimana dengan Anda sendiri? Dari perkataan Anda selama ini, Anda selalu ingin menyiratkan bahwa Ellise merupakan kebanggan Anda sehingga tak mungkin bagi Anda untuk membunuh apa yang menjadi kebangganmu. Tapi, tetap saja, sebagai seorang detektif, aku tidak bisa mengabaikan hal sekecil apapun.”

Jonathan tertawa keras. “Seperti yang kaubilang tadi. Ellise merupakan kebanggaanku. Lantas apa yang bisa menjadi dasar bagiku untuk membunuhnya? Jika ia mati, otomatis hal itu juga berpengaruh pada Swan Swimming. Aku bodoh jika membunuh Ellise. Jujur saja hingga saat ini dia merupakan mesin pencetak uang terbesarku.”

“Apa Anda tak pernah merasa sakit hati jika dibentak oleh Ellise?”

Jonathan tersenyum. “Nak, aku ingin tanya padamu. Jika kau sedang kesal, apa kau berani membentak orang yang sangat kau segani?”

Myungsoo terdiam. “Tentu saja tidak.”

“Begitupun dengan Ellise. Dia tak pernah berani menaikkan pita suaranya jika sedang beradu argumen denganku.” Jonatahan lalu meminum seteguk lagi tehnya.

“Jadi, dari apa yang sudah kudapatkan hari ini… motif terkecil saat ini adalah orang tua Ellise. Kalau boleh, bisa tunjukkan pada saya ruangan pribadi Ellise? Sejak tadi ada yang mengganjal di pikiranku.”

Jonathan tersenyum. “With the best pleasure, Boy.”

===

.

.

===

Di sinilah mereka berdua sekarang. Soojung dan Stewart sedang menikmati pemandangan sungai di malam hari yang mengalir tenang. Suara jangkrik terdengar saling bersahut-sahutan menyemarakkan malam yang tenang itu. Temaram lampu di pinggiran kota menjadi penerangan seadanya yang justru menambah kesan romantis kala itu.

“Setelah ini, kau dan grupmu akan pergi ke mana?” tanya Soojung memulai percakapan pertama kali.

“Kami berencana akan pergi ke Australia pada hari Jum’at. Tapi karena ada insiden seperti ini, sepertinya penerbangan kami akan diundur selama beberapa hari.”

Suasana kembali sunyi.

“Aku benci melihat darah, tapi kenapa setiap saat aku harus bertemu dengan benda terkutuk itu?!” Soojung lalu melemparkan sebongkah batu kecil ke arah sungai hingga menimbulkan suara cipratan.

Stewart mengarahkan wajahnya untuk menatap Soojung. “Setiap saat?”

“Yah, tidak setiap saat sih. Tapi, hampir selama seminggu, pasti akan ada kesempatan bagiku untuk melihat benda terkutuk itu.”

“Kesempatan apa maksudmu?”

“Myungsoo merupakan detektif SMA yang berbakat. Kau juga mengetahuinya, ‘kan? Seringkali pihak kepolisian meminta bantuan Myungsoo untuk membantu mereka memecahkan kasus yang sulit. Setiap ingin memecahkan kasus, Myungsoo selalu mengajakku,” ujar Soojung.

“Kalau begitu, kenapa tak kau tolak saja?” kini, Stewart turut melakukan hal yang sama dengan Soojung, melemparkan batu ke arah sungai.

Soojung terdiam sejenak, namun sejurus kemudian ia tertawa kecil. Ia kembali melemparkan sebuah batu ke arah sungai—yang diikuti oleh Stewart. “Entahlah. Melihat senyumannya setiap kali mengetahui kebenaran, ada sesuatu yang begitu menyentuh di hatiku. Aku suka setiap kali ia tersenyum lebar seperti bayi jika berhasil menjebloskan pelaku kejahatan ke dalam sel. Dia akan tampak sangat tampan.” Perlahan, pipi Soojung berubah menjadi merah padam.

Stewart tertawa. “Jadi kau menyukainya jika ia berhasil memecahkan kasus?”

“Tapi, aku juga tidak suka padanya. Setiap kali kami ingin pergi kencan, ada saja kasus yang selalu menghentikkan kencan kami. Aku masih ingat, waktu itu aku terpaksa harus menunggu selama 6 jam lamanya sendirian di depan rumahnya. Saat itu dia sedang menangani kasus jet coaster dan memintaku untuk menunggu. Haha, saat itu aku sempat meragukannya karena dia pasti akan datang telat dan hatiku selalu menyuruhku untuk menyerah saja menunggunya. Tapi, tepat pada pukul setengah sebelas malam dia datang.” Kepala Soojung menengadah melihat bulan purnama yang sedang bersinar terang tanpa ada awan sebagai penghalangnya. “Dia datang, dengan keringat yang bercucuran. Aku tak lagi memarahinya. Justru yang aku katakan adalah bahwa aku bersyukur dia baik-baik saja. Rasanya… begitu sangat menyenangkan melihatnya kembali. Yah, seperti itu.”

Stewart tersenyum. “Kalian pasti saling menyayangi satu sama lain. Haha, aku geli jika mengingat kembali wajah cemburunya saat aku memintamu sebagai partner skate-ku. Rasanya dia seperti ingin menendangku jauh-jauh. Haha….”

Soojung menunduk malu. “Ah, tapi dari sekian banyaknya penonton, mengapa kau memilihku sebagai partner skate-mu?”

“Aku katakan padamu, aku tidak mungkin memilih penonton yang duduk di tribun atas karena akan memakan waktu untuk mengajaknya ke bawah. Lagipula Jo selalu bilang padaku, penonton yang beruntung ialah penonton yang duduk di tribun depan. Dan saat pandanganku bertemu denganmu, aku tertarik pada wajah galak milik kekasihmu itu. Saat aku menatapmu, dia seperti ingin memakanku bulat-bulat.” Stewart tertawa keras ketika ia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu itu. Bagaimana ia tergoda untuk meledek Myungsoo yang saat itu terlihat memusuhinya teramat sangat.

“Tapi, aku bukan pacarnya!”

“Hey, pria detektif itu adalah pacarmu, ya?”

Soojung menoleh kaget ke arah belakang, berbeda dengan Stewart. Ia mendapati seorang gadis cantik yang kira-kira berumur sama dengannya sedang berjalan menuju mereka.

“Siapa dia?” bisik Soojung pada Stewart.

“Kau tidak tahu?” tanya Stewart yang sepertinya kaget mendengar pertanyaan Soojung. Sedang Soojung hanya menggeleng polos.

“Wow, mengejutkan sekali kau tidak tahu siapa aku tapi pacarmu sepertinya sangat mengetahui diriku.” Kemudian gadis itu tertawa yang membuat Soojung menekuk wajahnya sebal.

“Memangnya siapa kau?” Nada bicara Soojung sama sekali tak bersahabat.

“Aku Jung Yun Hee. Aku orang Korea, orang-orang lebih mengenalku sebagai White Swan. Lalu, siapa namamu?”

Soojung mendengarkan acuh tak acuh. “Namaku Jung Soojung. Dan, lagi aku bukan pacarnya!”

Yun Hee dan Stewart kontan tertawa menanggapi rutukan Soojung. Namun begitu Soojung sebetulnya sudah mengetahui siapa itu Yun Hee. Ia sangat mengagumi tiap gerakan skating yang dilakukan oleh angsa putih itu. Ah, terlebih wajah Yun Hee yang tampak sebagai seorang malaikat cantik. Soojung merasa kecil bersampingan dengan Yun Hee—walau umur mereka yang sebaya.

“Uhm, siapa namanya pria detektif itu? Myung— siapa.. aku lupa…”

“Kim Myungsoo,” lanjut Soojung.

“Kau tidak ikut bersamanya? Dia sepertinya sibuk mondar-mandir ke ruangan kami bersama Jo. Dia sudah mirip seperti Inspektur gendut itu,” ujar Yun Hee.

Soojung spontan tertawa. “Haha… Myungsoo memang suka seperti itu. Dia selalu berpikir bahwa dirinya adalah detektif hebat. Haha..”

Stewart menyela. “Jadi, menurutmu Myungsoo tidak hebat?”

Soojung kembali melemparkan sebuah batu ke arah sungai. Ia tatap pantulan wajahnya yang tak jelas lewat permukaan air. “Tidak. Dia selalu saja gagal untuk menebak apa yang sedang aku pikirkan,” ujar Soojung lirih.

Stewart melemparkan sebuah batu—kali ini berukuran cukup besar—lagi ke arah sungai. “Menebak isi hati perempuan yang dicintai tidaklah semudah menebak isi hati milik orang lain.”

Yun Hee sedikit terbatuk, atau mungkin dia bermaksud untuk menggoda Soojung yang tengah merona merah. “Setidaknya, ia bisa membantu kami untuk mengungkapkan pelaku yang membunuh Ellise.”

Soojung tersentak sejenak. Ia baru ingat bahwa malam itu sedang terjadi sebuah kasus.

“Oh ya, apa Ellise di sini benar-benar tidak disukai?” tanya Soojung.

“Tapi, aku cukup menghargai keberadaannya. Meski ia merupakan gadis yang buruk, tapi sejatinya dia sangat baik. Dia bahkan pernah menyelamatkanku saat insiden lampu hias besar yang jatuh. Jika ia terlambat satu detik saja menarikku ke samping, mungkin hingga saat ini aku tidak bisa bermain skating lagi.” Stewart kemudian tertawa jika mengingat kejadian itu kembali. “Yah, meski ia langsung memarahiku karena responsku yang sangat lambat. Hehe….” Stewart lalu mengusap tengkuk belakangnya—antara kikuk dengan kedinginan. Karena, saat itu angin sedang berhembus pelan menerpa wajah mereka.

Soojung menggigil kedinginan. Sial sekali ia lupa untuk membawa jaketnya yang ia sampirkan di ruangan depan. Alhasil dengan selembar kain saja yang membalut tubuhnya cukup untuk membuat Soojung merutuk kedinginan.

“Ini, pakai milikku saja.” Tiba-tiba Yun Hee sudah memberikan Soojung jaket cokelat beludrunya.

“Terima kasih,” ucap Soojung tulus. Ia langsung memakai jaket itu, dan seketika tubuhnya menjadi sedikit lebih hangat.

“Ellise merupakan bayangan hitamku. Dia sangat misterius. Tidak ada satupun dari kami yang bisa menebak isi pikirannya—meski orang tuanya sekalipun. Ellise merupakan gadis yang tekun. Meski ia sibuk melakukan pertunjukkan ke sana kemari, namun nilai sekolahnya selalu baik. Tidak sepertiku yang pernah mendapatkan nilai merah. Hehe…” Yun Hee tersenyum malu.

“Sepertinya, Ellise tidak seburuk seperti yang dikatakan oleh Lizzie,” simpul Soojung.

“Benar. Yah, walau sesekali aku pernah kesal dibentak kasar oleh gadis itu, namun apa yang ia marahi adalah benar. Jadi, aku tidak bisa membentaknya balik. Lagipula Ellise sering membuatku iri. Disetiap penampilannya—walau ia perempuan—ia selalu mendapatkan tepuk tangan yang paling meriah jika dibandingkan aku,” ucap Stewart.

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau Ellise akan meninggal dengan cara keji seperti itu.” Yun Hee mulai sedikit terisak. Air mata pelan-pelan menetes dari kedua kelereng hitam itu. Ia menutupi wajahnya, dan mulai menenggelamkan rasa sedihnya ke dalam pelukan Soojung.

“Dia—dia gadis yang baik. Aku—aku tak tega melihatnya tewas seperti itu. Pembunuhnya benar-benar keji!” Yun Hee sudah dapat menenangkan emosinya. Ia mulai menarik diri dari Soojung. “Aku masih ingat kata-kata Ellise waktu itu. Jika ia dapat memilih bagaimana caranya untuk meninggal, Ellise lebih memilih meninggal di atas es. Ketika ia sedang skating. Ketika ia sedang melakukan apa yang selalu menjadi kebanggaannya itu.”

Seketika, angin kembali berhembus.

“Kuatkanlah dirimu, Ellise,” ujar Stewart. Ia menepuk pelan pundak Yun Hee, lalu gadis itu tersenyum lemah. “Ellise sudah tenang di atas sana. Disaat terakhirnya, ia sedang menggenggam sepatu skating-nya. Itu artinya ia sudah meninggal dalam keadaan seperti yang diinginkannya.”

Soojung tersentak. Ia baru ingat bahwa Ellise meninggal dalam keadaan memeluk—atau melindungi—sepatu skating hitamnya. Soojung kemudian menengadah ke atas. Ia kembali melihat ke arah rembulan yang sedang bersinar terang cantik sekali.

Ellise, siapapun kau, aku berharap kau bisa tenang di surga. Tenang saja, Myungsoo pasti bisa menemukan siapa pembunuhmu.

“Aku masih tak dapat memikirkan jika ada salah satu dari kalian sebagai pembunuh Ellise,” gumam Soojung.

Yun Hee kemudian menoleh ke arah Soojung, dan mendapati wajah oval milik gadis itu yang terlihat sangat cantik diterpa sinar terang milik rembulan. Ia melihat Soojung sebagai seorang bayi polos karena tatapannya yang seolah mengisyaratkan ia begitu halus dan suci.

Sontak Yun Hee tertawa. “Namun, hati orang siapa yang tahu… benar begitu ‘kan, Jung Soojung?”

===

.

.

===

“Bagaimana, Myungsoo? Apa kau sudah menemukan petunjuknya?” tanya Soojung. Soojung kini sudah berada di samping Myungsoo. Ia sudah mengembalikan jaket milik Yun Hee.

Myungsoo menggeleng frustrasi.

“Tidak ada satupun yang bisa kujadikan petunjuk. Terlalu banyak motif dan alibi semuanya begitu kuat. Lagipula, yang harus bisa kutemukan adalah bukti pembunuhan,” ujar Myungsoo.

“Bukti? Maksudmu pisau yang digunakan si pelaku untuk membunuh?”

Myungsoo mengangguk. “Aku sudah mendatangi kamar setiap anggota tapi aku tidak menemukan barang yang mencurigakan di mana pun. Lagipula yang paling membuatku aneh adalah mengapa di saat terakhirnya Ellise justru terlihat sangat melindungi sepatuskating-nya. Seolah si pelaku sedang berusaha untuk merebutnya darinya.”

Soojung tersentak. “Ah, aku tadi baru mendapatkan informasi. Aku tidak tahu ini penting atau tidak… tapi, menurut Yun Hee, Ellise sangat ingin meninggal saat dirinya bermain skating atau di atas arena es. Skating merupakaan kebanggan Ellise.”

Myungsoo mengangguk mengerti. “Hm, jadi saat itu Ellise dan si pelaku sepertinya sedang bertengkar. Si pelaku mencoba mengambil sepatu skate milik Ellise karena ingin membuat Ellise sengsara di saat terakhirnya. Oleh karena itu, ia mencoba merebut kebanggaan Ellise dan Ellise berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kebanggaannya tersebut. Semuanya menjadi jelas sekarang.” Myungsoo kembali memandangi foto jenazah Ellise di saat kematiannya. “Tapi, masih ada beberapa yang tidak kumengerti.”

Soojung mengikuti arah pandang Myungsoo. Ia begitu memperhatikan detil foto itu untuk menemukan keanehan, tapi tidak ada yang bisa ia temukan. “Memangnya apa yang tidak kaumengerti, Myung?”

“Semua orang di sini. Mereka menjelek-jelekkan Ellise, namun mereka juga memuji gadis itu. Seolah-olah mereka ingin menunjukkan bahwa kebencian mereka tidaklah cukup untuk membunuh Ellise terlebih dengan cara keji seperti itu,” ujar Myungsoo.

Soojung mengangguk sependapat. “Memang aneh sih.”

Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan Myungsoo dan Soojung begitu lekat. Manik-manik itu seolah mengintai mereka berdua dengan lamat. Hingga menimbulkan hawa negatif di sekitarnya.

Dan, sepasang manik itu melangkah—atau tepatnya—berlari ketika Myungsoo menyadari hal itu.

Orang itu ‘kan… jangan-jangan….

“Tapi, semua orang di sini kelihatannya baik, Myung. Aku masih tidak bisa membayangkan seberapa bencinya si pelaku terhadap Ellise, dan orang itu masih bisa bertingkah laku sangat wajar setelah membunuh Ellise dengan cara yang keji,” ucap Soojung.

Myungsoo mendengus. “Hati orang siapa yang tahu….”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”

Myungsoo dan Soojung terjengit kaget. Mereka berdua segera berlari menuju sumber suara, dan ketika mereka telah tiba di sana, orang-orang sudah berkerumun dengan wajah mereka yang sama-sama menunjukkan kehisterisan.

“Permisi, permisi…” Myungsoo mencoba untuk masuk lebih dalam agar ia bisa lebih jelas mengetahui apa yang sedang terjadi.

Ia mendapati sosok Yun Hee yang sedang terduduk lemas sambil memandang ke arah depannya. Penasaran, Myungsoo lalu mencoba melihat ke arah depan.

Ia benar-benar terkejut ketika mendapati ruangan milik Yun Hee yang berantakan dan di dinding depan—dinding yang berhadapan langsung dengan pintu—terdapat tanda silang besar dengan cat merah sekelam warna darah.

Myungsoo panik.

“Astaga! Ini lebih rumit dari yang kubayangkan!”

.

.

.

| 2nd — E N D |

——————————————————————————————————–

A/N:

Halooo semuanya :D bagaimana kabar kalian semua? Baik-baik aja kaan? Uhm, apakah ada yang menunggu ff ini? x) maaf sekali ya aku baru bisa buat sekarang T^T mari kita bandingkan jarak postingan part satu dengan part dua… /drum roll/

Part 1 publish tanggal 12-06-2013; part 2 publish tanggal 14-08-2013.

WOW!! Sudah ada satu bulan lebih aku ngga ngelanjutin ff ini T___T pasti udah pada lupa kan ya sama jalan ceritanya? Maafkan saya (__m__)

Jujur ya, kasusnya pasti tambah rumit dan tambah ngga mudeng kan ya? :p ayoook tebak menurut kalian siapa yanng membunuh Ellise? :p Oh ya karena aku baru dapet masukan dari salah satu readers, insya allah habis part ini aku bakal buat skema xD

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENINGGALKAN KOMENTAR KALIAN :D /ketjup/

PS: Abaikan seluruh kesalahan (typo) di sini u,u

4 responses to “Swan Black [2nd]

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s