[2/2] Apocalypse Dreams

apocalypse dreams

Apocalypse Dreams by theboleroo

Cast: Kim Myungsoo and Jung Soojung // Genre: Psychology, (slight) Surrealism, Romance, Life

Duration: ± 4500 w // Rating: PG – 15 // Disclaimer: I only own the storyline.

Summary:

“Sebenarnya lucid dream sangat akrab dengan setiap manusia, namun Kim Myungsoo adalah satu dari segelintir orang yang terlanjur terjebak di dalamnya.”

Previous:

[1 of 2] 

Kebisingan ala perkotaan masih menguasai. Entah di mana mereka sekarang, Myungsoo tak mau repot-repot ingin tahu dan memilih membiarkan pertanyaan di dalam benaknya lenyap ditelan waktu. Lelaki itu percaya, bahwa, terkadang ada hal-hal yang lebih baik menjadi misteri sampai kapan pun, termasuk soal di mana mereka sekarang.

Entah mengapa, udara terasa lebih dingin dari yang dibayangkan Myungsoo dan begitu pikiran berlangsung, di saat bersamaan butiran putih pun turun dari langit-langit kota. Salju. Apa Krystal memang menyukai udara dingin? Entahlah, agaknya ia belum cukup puas dengan musim gugur yang sudah diciptakan di lapis mimpi sebelumnya. Tanpa sadar, kedua telapak tangan milik Myungsoo pun sudah tenggelam di saku mantel hijau tua yang ia sendiri tak tahu kapan pernah memilikinya.

Jika diperhatikan, ayunan langkah kaki mereka terlihat sama, cara berjalan yang mirip—dan Myungsoo menyadari hal itu setelah secara tak sengaja memerhatikan dari kaca etalase butik-butik yang kala itu mereka lewati. Pun sepasang tangan mereka yang tersembunyi dengan apik di balik saku pakaian masing-masing, hanya saja Myungsoo tak begitu sibuk menoleh ke belakang layaknya Krystal lantaran memang tak ada objek menarik yang harus diperhatikan.

Yahasalkan bukan musim panas, lelaki itu tidak akan keberatan. Ia tak suka kepanasan dan berkeringat. Meskipun berlibur ke pantai saat musim panas adalah hal yang tak pernah absen di dalam jadwalnya—itu pun atas permintaan sang nenek yang sangat menyukai laut. Kalau tidak salah, wanita yang usianya hampir menginjak 80 tahun itu dulunya adalah seorang atlet selancar.

Myungsoo merapatkan mantel, lantas menggosokkan telapak tangannya sekadar untuk menciptakan kehangatan yang tak seberapa. Salju pertama memang selalu indah, tak ada alasan untuk tidak suka—setidaknya itu menurut Myungsoo. Ia  menatap langit yang cukup gelap, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Entah sejak kapan kawasan yang nampak seperti shopping center itu berubah menjadi kota yang mati. Serta-merta gedung-gedung pencakar langit yang lebih mirip gereja katedral kuno menjulang angkuh di permukaan Bumi. Para pejalan kaki juga menghilang satu per satu, hingga akhirnya hanya menyisakan Myungsoo dan Krystal di sana.

“Krystal.” Uap tipis menyembur ketika nama itu disebut—dan barangkali ini adalah kali pertama di mana Myungsoo memanggil namanya “Sebenarnya, ke mana kita akan pergi?”

“Yang jelas kita memiliki tujuan, hanya saja ada baiknya jika kita bersenang-senang terlebih dahulu.” Langkah gadis itu terhenti, ia memiringkan tubuhnya sedikit dan mendelik ke arah Myungsoo dengan sudut bibir meninggi. “Tak ada opsi lain selain menyetujui ideku, percayalah.”

Myungsoo menyugar rambut hitamnya yang terlihat lembut lantas mendesah bosan. “Bisakah kau memberitahu apa yang dimaksud dengan ‘bersenang-senang’? Terjebak dalam kebingungan itu tidak selalu menyenangkan, jika kau ingin tahu.”

“Itu kan urusanmu.”

“Mmm, kau benar.”

Krystal mendekat dengan perlahan. “Ah, aku punya pertanyaan untukmu dan kau wajib menjawabnya dengan jujur.”

Lawan bicaranya mengerling, lalu tersenyum tipis dan menjawab, “Tidak masalah, lagipula tak ada gunanya juga membohongi orang asing.”

“Satu hal yang perlu kauingat baik-baik, aku bukan orang asing.”

“Kau asing, aku tak pernah melihatmu.”

“Meski kau selalu menemukanku di setiap mimpimu?”

Myungsoo diam. Iris abu-abu gelap gadis itu terlihat jauh lebih terang, menatap teduh dan menuntutnya untuk mengaku—intimidasi yang aneh. Lelaki itu mulai jengah dengan ketidakjelasan yang tengah terjadi, namun di sisi lain ia juga tak bisa mengabaikan bahwa kondisi ini memaksanya untuk tetap tinggal. Setidaknya, sampai ada sesuatu yang bisa menghilangkan kerutan di dahinya ketika dirinya bertanya mengenai kehadiran Krystal.

“Itu pengecualian, Nona. Meski kau rajin hadir di dalam mimpiku, tetap saja kau itu semu.”

Krystal mengangkat bahu, ada raut kecewa di paras cantiknya. Ia pun berbalik, lantas berjalan lagi. Myungsoo sempat terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menyusul gadis itu—menyamakan irama langkah lalu menggandeng tangannya.

“Jangan tersinggung, walau bagaimanapun ucapanku ada benarnya.” Myungsoo mengeratkan genggaman, sementara gadis itu masih nampak tak acuh. “Ajak aku bersenang-senang.”

Krystal menoleh sekilas, melepas genggaman lelaki itu agak kasar. “Tentu saja,” katanya.

Ia beralih menghadap Myungsoo dan berjalan mundur, sesekali ia tersenyum dan memandang lelaki yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Myungsoo sesekali menunduk, merasa jika Krystal benar-benar mahir membuatnya tersipu malu tanpa sebab.

“Jadi, apa sebenarnya yang ini kau tanyakan padaku?

Krystal menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak, “Mmm, menurutmu aku bagaimana?”

Kening Myungsoo berkerut. “Maksudmu?”

“Iya, aku. Apakah aku cantik? Aneh? Menarik? Menjengkelkan?”

Myungsoo terdiam cukup lama, sementara posisi dan langkah mereka nampak masih sama. Butiran salju mulai berhenti turun, berganti menjadi pemandangan gumpalan awan gelap yang bergejolak liar di atas sana. Lalu gedung-gedung tinggi itu kembali tenggelam ke dasar Bumi secara perlahan, hingga akhirnya hanya menyisakan permukaan tanah berpasir.

“Myungsoo?”

Menurutnya, Krystal adalah gadis tercantik yang pernah ditemui. Rambut cokelat pekat yang tergerai bebas, iris abu-abu yang dalam dan tenang, tubuh tinggi nan ramping yang menggiurkan, pun seulas senyum yang terasa pas dalam pandangannya adalah perpaduan yang sempurna. Cantik, bahkan Myungsoo berpikir bahwa kosakata itu kurang pas ditujukan untuk Krystal, baginya gadis itu lebih dari sekedar cantik dan Myungsoo tidak keberatan mengakui hal itu.

“Kau sangat cantik, Krystal,” ia mendesah pelan. Sepasang matanya masih memerhatikan pijakan mundur Krystal yang tidak beraturan. “Kau amat sangat cantik,” tegasnya.

Tawa Krystal terdengar bersamaan dengan desauan angin yang membuat rambut keduanya berkelepar dengan sangat manis, tanpa sadar Myungsoo tersenyum melihat tawa gadis yang ada di hadapannya. Kedua tangannya semakin dalam tenggelam di dalam saku mantel, sementara fokusnya tidak tersita sedikit pun olehsesuatu yang tengah menantinya di ujung sana.

“Kau berkata jujur?” tanyanya, dan Myungsoo hanya menjawab melalui anggukan kepala. “Terakhir, apakah hal itu membuatmu jatuh cinta padaku?” dan Krystal bertanya dengan nada serius.

Tawa khas yang begitu dikenal oleh Krystal pun membahana selama beberapa saat, lantas ia terdiam karena tiba-tiba saja merindukan seorang pria yang memiliki tawa serupa.

“Lain kali saja kita bahas,” jawab Myungsoo setelah tawanya mereda.

Krystal menggeleng pelan, “Tapi aku ingin kau menjawabnya sekarang,” katanya lirih, “Sekarang, Myungsoo. Sekarang.”

Ia bisa melihat air mata yang menetes dari pelupuk manik indah milik Krystal. Berbagai pertanyaan timbul di dalam kepala Myungsoo; mengapa Krystal menangis? Apakah ada yang salah dengan ucapannya? Apakah ada ucapan yang menyakiti Krystal? Sejujurnya ia tak pernah bisa melihat gadis mana pun menangis.

“Krystal,” ia mempercepat langkah untuk menggapai gadis itu tapi…

“AAAAAAAAA!!!”

Krystal terperosok ke dalam jurang yang entah sejak kapan menghadang mereka. Teriakan gadis itu membuatnya kalut dan sekejap semua terasa begitu menakutkan. Hati Myungsoo mencelos, bahkan ketika tahu bahwa tubuh Krystal sudah terhempas jauh pun ia tetap berusaha mengejar dan menggapainya, tak peduli jika pada akhirnya ia ikut terjatuh ke dalam. Teriakan pilu keduanya saling mengisi gendang telinga satu sama lain di gelapnya jurang yang tinggi dan tak berdasar tersebut.

“Nenek, semua temanku pergi ke pertunjukkan lumba-lumba itu bersama ibunya.”

“…”

“Aku tidak keberatan tidak punya ibu, nenek bisa berpura-pura menjadi ibuku kalau tidak keberatan lalu mengantarku menonton pertunjukkan lumba-lumba.”

Kim Myungsoo yang kala itu berusia 6 tahun pun menyimpan tasnya di atas meja makan, duduk di sana sembari memerhatikan neneknya yang tengah mengaduk sup di atas panci dengan raut wajah ‘baik-baik saja’ yang dibuat-buat. “Siapa bilang kau tidak punya ibu? Kau punya kok. Kau—”

“—kau kan masih punya ayah.” Seorang pria menyela ucapan neneknya sambil berjalan dengan tergesa menghampiri putranya. “Ayah bisa menjadi siapa saja yang kau ingin, bahkan menjadi seorang ibu sekali pun,” ujarnya selepas melancarkan tatapan peringatan kepada wanita tersebut.

Kedua alis Myungsoo bertaut. “Hm?”

“Ayah bisa pakai rok, bagaimana?”

Tentu saja anak itu (masih) punya ibu, dan ayahnya tidak usah repot-repot memakai rok. Pergi menonton pertunjukkan lumba-lumba bersama neneknya terdengar lebih baik ketimbang membiarkan ayahnya bertingkah kurang normal, itu saja.

 

“Apakah ibuku cantik?”

“Sudah cukup.”

“Apakah dia mirip denganku?”

“Besok kau mau bekal apa ke sekolah?”

Myungsoo menggeleng. Menatap langit-langit kamar lantas merasakan tubuhnya menghangat, ternyata sang ayah menarik selimut bergambar gajah itu sampai menutupi sebagian tubuh anaknya.

“Apa ayah sayang padanya? Apa dia sayang padaku? Di mana dia sekarang?”

“Mau ayah bacakan dongeng tidak?” Si pria mengambil beberapa buku cerita di meja, lalu duduk di samping anaknya.

“Apa dia merindukanku?”

“Bisa diam tidak?! berhentilah bertanya mengenai ibumu!”

 

Myungsoo hanya ingin tahu di mana ibunya. Tak ada yang salah dengan itu, dan sang ayah tak seharusnya marah ketika ia bertanya.

“Aku tahu tempat ini,” kata Myungsoo ketika matanya kembali terbuka. Ia tengah merebahkan tubuh di padang rumput yang nampak kuning akibat panas sinar Matahari sembari memandangi langit biru tanpa gumpalan awan yang terasa dekat dan bisa disentuh dengan mudah.

“Oh, ya?”

Krystal berbaring di sebelahnya, sangat rapat. Ia menatap sisi kiri wajah Myungsoo dengan lekat dan rakus. Wajah Myungsoo yang selalu terlihat memesona dari sisi mana pun; kulit yang putih, rambut yang gelap, mata yang tajam, pun bibirnya yang tipis.

“Kita pernah bertemu di sini.”

“Mmm, benarkah?”

“Kau tak mengingatnya? Jangan bercanda.”

Ia tertawa mendengar ucapan Myungsoo. Tentu saja ia selalu mengingat semua tempat di mana mereka pernah bertemu, termasuk di sini. Sebuah padang rumput yang dinaungi hamparan langit biru tua serta deburan ombak yang terdengar samar dan tenang.

“Tapi waktu itu tidak ada laut di sana,” ujar Myungsoo setelah bangkit duduk dan menoleh ke belakang. “Sejauh mata memandang hanya ada padang rumput, tak ada laut. Krystal, apakah tempat ini masih sama dengan yang waktu itu?”

“Jika kau berpikir seperti itu, bisa jadi. Lagipula ini hanya dunia mimpi, bisa berubah dalam sekejap. Entah itu hanya beberapa aspek saja, atau bahkan seluruhnya.” Krystal memegang pergelangan tangan Myungsoo dan menyuruhnya berbaring lagi―dan lelaki itu menurut.

“Benar juga, sih,” sahut Myungsoo setelah merasakan gelitikan rumput di sekujur tubuhnya. Ia sama sekali tak habis pikir bahwa ketenangan tempat ini begitu terasa menyenangkan dan luar biasa, rasanya sangsi bisa menemukan atmosfer seperti ini di dunia nyata. Myungsoo menghirup udara yang telah melebur bersama uap air laut dan aroma rumput, seumur hidupnya ia tak pernah merasa sesejuk dan sedamai ini.

Myungsoo lebih suka di sini, seperti ini. Sekonyong-konyong keinginannya untuk terjaga lebih cepat dan menjalani kehidupan di dunia nyata perlahan menguap, entah mengapa. “Myungsoo, aku ingin memberitahu sesuatu yang sangat penting padamu.”

“Apa itu?”

Helaan napas panjang gadis itu terdengar jelas, membuat Myungsoo bertanya-tanya seberapa penting hal yang kelak akan Krystal beritahukan padanya. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Krystal dengan raut bingung, dan kebingungan tersebut semakin terasa nyata selepas pertanyaan itu terlontar dari bibir Krystal.

“Kau memercayai wahyu, Myungsoo?” tanyanya, “Bagaimana jika aku mengatakan bahwa kehadiranku di setiap mimpimu adalah bagian dari wahyu yang telah kuterima?”

Serta-merta angin yang berembus menusuk tulang. Ada ketakutan yang timbul di dalam diri Myungsoo ketika mendapati dirinya tengah diseret paksa untuk masuk ke dalam perbincangan aneh yang―ya―secara topik, ia tak menyukainya. Itu saja.

“Entahlah, memangnya kenapa?” tanya Myungsoo.

Krystal beranjak dari posisi sebelumnya lalu menoleh ke arah Myungsoo yang masih berbaring santai di permukaan rumput. Terlihat ia menyunggingkan senyum setelah mengalihkan pandangan, “Kehadiranku di dalam mimpimu adalah sebuah janji. Janji itu sendiri adalah bagian dari wahyu tersebut. Sejak aku tahu bahwa kau adadan tumbuh di dalam tubuhku, aku mengucap janji bahwa aku akan selalu ada untukmu. Memerhatikanmu, melihatmu tumbuh dan dewasa, lalu membuatmu jatuh cinta.”

Myungsoo termenung mendengar rentetan kalimat aneh yang diucapkan Krystal, tak ada satu bagian pun yang dimengerti olehnya. Ia bangkit duduk dan menatap gadis itu lekat, menuntut penjelasan. “Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu.”

Krystal menyentuh sisi kanan wajahnya dengan lembut dan lambat, mengalirkan rasa manis di dalam kepelikan yang tengah terjadi. “Aku adalah seorang Oneironaut, sama sepertimu. Sejak remaja aku sudah terbiasa menjalani dua kehidupan. Kau tahu maksudku, kan? Bagiku keduanya nyata dan itu adalah mutlak. Kemampuan ini jelas adalah satu dari sekian berkat yang Tuhan berikan untukku. Termasuk semua yang ada di dalamnya. Banyak orang yang menentang dan menganggapku gila, tapi aku terus memercayai bahwa apa yang kudengar di dalam mimpiku tetap harus dilakukan. Tak ada yang berhak menghalangiku siapa pun itu, meskipun pada akhirnya kita harus berpisah, kau kesepian di dalam kenyataan sementara aku tersesat dengan kurun waktu yang cukup lama di Limbo[1]. Tapi, nyatanya Tuhan tetap berbaik hati,” Krystal tersenyum, “Karena Ia masih bersedia untuk mempertemukan dan membuat kita bersama, seperti ini.”

Keheningan tak bisa terhindarkan, kedua pasang mata itu bertemu di dalam sebuah perasaan ragu, lega, puas, dan ketidakpahaman yang berbaur menjadi satu.

“Aku tak mengerti,” ucap Myungsoo pada akhirnya setelah ia mendesah frustrasi.

Terlihat rahang Krystal bergerak, berusaha meloloskan air liurnya sendiri yang mendadak terasa pahit ketika mengalir di kerongkongan. Ia menatap Myungsoo lekat dengan raut sendu dan berbisik, “Kita harus menikah.”

Sepasang mata pemuda itu terbelalak seketika.

 

Cukup.

Myungsoo mengerjap beberapa kali, merasakan tubuhnya yang lelah tiba-tiba menegang dan berlumur keringat, dadanya terasa sesak dengam pandangan yang mulai mengabur. Myungsoo mengatur napas dengan susah payah, kemudian bangkit perlahan dengan sisa-sisa tenaganya.

Sudah cukup.

 

Aroma vanilla mendominasi ruangan yang ia tempati, kesimpulan perihal di mana ia berada ditarik dengan mudah setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang kurang dari sepuluh detik. Ini adalah kamar tidurnya. Tempat di mana sejatinya ia memulai dan mengakhiri kegiatan yang membuatnya gila setengah mati; tidur. Dulu tidak seperti ini, namun semenjak gadis misterius itu menampakan diri, semua tak lagi sama.

Myungsoo menunduk dalam sembari menyandarkan punggungnya yang terasa pegal ke kepala ranjang, ia memokuskan pikiran pada serangkaian kejadian yang baru saja terputar tepat di depan matanya.

Krystal. Siapa gadis itu sebenarnya?

Myungsoo memutuskan untuk turun dari tempat tidur, kepalanya terasa sangat ringan; seakan melayang. Jutaan kali dirinya memastikan bahwa ia benar-benar sudah terjaga, meski ia belum begitu mengingat apa-apa saja yang sudah terjadi sebelum ini namun Myungsoo tetap bersikeras bahwa titel Oneironaut tengah ditanggalkannya.

Ini adalah kenyataan, pasti kenyataan.

Kim Myungsoo keluar dari kamar, berjalan dengan langkah lambat di lorong lantai dua rumahnya. Melewati dinding kayu berpelitur yang polos, tak ada satu pun foto yang terpampang di sana. Sangat terasa benar, lantas senyum timpang tersungging di bibir Myungsoo.

 

“Kau, kau tidak boleh mengambilnya dariku! Tidak!”

Dan langkahnya terhenti, ada suara seorang wanita yang menggema dengan frustrasi. Terdengar sedih, putus asa, dan ketakutan. Ia menyapu pandangan ke setiap penjuru, dan hasilnya nihil, tak ada siapa pun di sana dan tak lama berselang suara tersebut telah berganti menjadi tangis pilu.

“Aku akan merawatnya dengan baik! Percayalah padaku! Jangan ambil dia dariku!”

Kepala Myungsoo berdenyut hebat, ia meringis lantas memeganginya sembari mengumpat. Mengutuk keadaan yang begitu memuakkan, ia seolah dipermainkan. Perlahan keyakinannya rubuh, keraguan menyambangi Myungsoo dengan cara menyakitkan. Lelaki itu menggeleng kuat-kuat, mempertahankan gagasan bahwa ini adalah kenyataan. Bukan mimpi.

 

“Maafkan aku, Krystal,” kata seorang pria dengan lirih yang seakan mampu menghujam jantung siapa pun yang mendengarnya.

“Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!”

“Tidak…”

 

Dan semua terasa nyata ketika kepala Myungsoo menghantam lantai kayu beraroma apel, ia sudah tak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Ia rubuh, benar-benar lelah. Sangat lelah lantaran hidupnya seolah telah hilang.

“Myungsoo, buka matamu.”

Myungsoo tahu suara itu, namun ia tak mampu membuka matanya. Sentuhan wanita itu terasa sangat hangat di puncak kepalanya, Myungsoo menikmati hal itu, membiarkannya seperti ini untuk sementara waktu.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Ia meraih tangan keriput itu, tangan milik seorang wanita yang sudah membesarkannya. Seorang wanita yang agaknya lebih baik daripada sosok seorang ibu.

“Tidak terjadi apa-apa, kau akan baik-baik saja, Sayang.”

Myungsoo membuka mata, lengkungan tipis nampak di bibirnya setelah ia menemukan sepasang mata si wanita tua yang tengah tersenyum di depan wajahnya. Dan saat itu pula, Myungsoo seketika yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja.

 “Tidur adalah kewajibanmu sebagai manusia, Myungsoo. Kau tidak bisa terus menerus membiarkan tubuhmu tak beristirahat.” Lee Sungyeol—temannya—menyahut sembari melipat tangan di dada, ia melancarkan tatapan khawatir bercampur kesal sembari duduk di wajah jendela. Pun sesekali bertukar pandang dengan wanita yang duduk di sofa yang ada di sampingnya.

Myungsoo terdiam. Keadaannya nampak mengenaskan; wajah pucat, kantung mata yang hitam dengan sorot yang kosong—sekosong pikirannya. Ia benar-benar kesal, tega-teganya kedua orang itu mencampurkan obat tidur ke dalam makananya kemarin malam?

“Bagus. Itu artinya, kalian lebih suka membiarkanku gila.” Myungsoo merubah posisi menjadi berbaring; membelakangi Sungyeol dan neneknya, mereka mendesah panjang setelah mendengar tanggapan Myungsoo.

“Myungsoo, kami tidak—“

“—jangan mengajakku berdebat,” kata Myungsoo, “Apapun yang kalian lakukan tak akan pernah bisa membantuku, jadi jangan sok tahu.”

Sungyeol beranjak berdiri, merasa kesal atas ucapan Myungsoo yang ia yakin sudah membuat wanita tua itu terluka.

“Kau tidak berhak menarik kesimpulan secara sepihak—“

“—demi Tuhan aku tidak membutuhkan nasehat! Kau boleh keluar dari sini, jangan kembali lagi kalau perlu.”

“Myung—“

“—Sungyeol, turuti saja keinginannya,” ucap wanita itu pada akhirnya. Rahang Sungyeol mengeras, tangan kanannya mengepal selama beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk keluar dari kamar Myungsoo.

Ia benar-benar tak habis pikir bahwa hal istimewa yang dimiliki Myungsoo akan berakhir menjadi sebuah petaka. Oneironaut, Sungyeol ingat betul jika sahabatnya itu sangat bangga akan statusnya tersebut. Tapi siapa sangka jika menjadi Oneironaut pada akhirnya akan membuat Myungsoo menjadi kacau seperti sekarang? Ia berkata bahwa gadis bernama Krystal selalu hadir setiap kali ia menutup mata, membangun teka-teki secara berulang sampai akhirnya Myungsoo muak, dan sialnya semua terasa semakin parah dari hari ke hari. Satu-satunya cara yang diketahui Myungsoo untuk menghindar dari gadis itu adalah dengan tidak tidur dan―ya―ia sudah melakukannya dengan paksa selama 2 minggu belakangan.

Myungsoo merasakan belaian lembut yang familiar di puncak kepalanya. Sementara wanita itu tahu benar bahwa cucunya akan merasa tenang jika ia melakukan hal ini—seperti biasa.

“Sampai kapan kalian akan menyiksaku?”

“Myungsoo—”

“—sampai kapan kalian akan berpura-pura tidak tahu siapa gadis itu dan membiarkanmu nampak menyedihkan seperti ini?”

Wanita itu menarik sentuhannya, beralih menutup mulutnya untuk menyembunyikan suara tangis.

“Secara otomatis aku akan terjebak saat memejamkan mata, kecemasanku selalu berlangsung setiap kali berkedip, dan aku benci jika harus tertidur. Krystal hadir di sana, menghujaniku dengan potongan-potongan kejadian yang bisa saja membuatku gila saat terbangun. Kau tidak tahu kan rasanya seperti apa?”

“Aku tidak—“

“—aku yakin kalian tahu siapa dia. Beri tahu aku siapa Krystal, kumohon.”

Wanita itu terus membiarkan kebisuan menemani isakannya. Dan, tentu saja ia tahu siapa Krystal sebenarnya. Namun, ia tak cukup kuat dan berani untuk menyingkap fakta tersebut kepada cucu laki-laki yang kini tengah menderita di depan matanya sendiri. Sekian lama ia dan anaknya berusaha untuk membuang satu dari sekian bagian hidup cucunya; membuat Myungsoo untuk tidak mengingat dan bertanya―meski ia tahu betul bahwa Krystal tidak diam saja, gadis itu pasti akan terus menuntut hal tersebut sampai kapan pun juga.

“Krystal adalah Jung Soojung,” jawab wanita itu dengan suara teramat pelan, lebih mirip bisikan. Dadanya terasa nyeri, namun ia tetap melanjutkan, “wanita itu adalah Jung Soojung.”

“Siapa Jung Soojung? Jelaskan padaku siapa wanita itu!” Myungsoo bankit duduk, menatap neneknya dengan sorot mata yang tersiksa.

Derit pintu terdengar, merampas fokus kedua manusia yang tengah berdialog dalam perasaan letih di ruang tersebut. Seorang pria, lebih tua dari Myungsoo dan lebih muda dari wanita itu. Ia adalah Kim Jaesuk—ayah Myungsoo. Pria yang nampak terlihat tetap tampan di usianya yang telah melebihi setengah abad.

“Ada masalah?” tanyanya seraya berjalan mendekat dan menatap mereka secara bergantian.

“Tentu saja,” jawab Myungsoo cepat. “Jelaskan padaku siapa Jung Soojung!” lanjutnya dengan redaman amarah yang nyaris meledak.

Wanita itu menatap Jaesuk dan meraih tangannya, “Ceritakan saja, Jaesuk. Kumohon.”

“Jung Soojung adalah ibumu. Dia belum meninggal dan mengalami koma sejak 12 tahun yang lalu setelah percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Soojung mengalami gangguan jiwa, Myungsoo. Dia memiliki obsesi untuk menikahimu lantaran sebuah alasan yang tak dapat kuterima sampai kapan pun. Layaknya dirimu, Soojung juga adalah seorang Oneironaut. Namun, keadaannya kala itu sudah berada di titik di mana ia tak bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang bukan. Itu sangat meresahkanku. Aku lebih memilihmu dibanding wanita itu, aku lebih rela kau besar dan tumbuh tanpa seorang ibu.”

           

Myungsoo menghela napas panjang dalam gelap, matanya tak beralih dari jam weker yang tengah digenggamnya. Detik demi detik terus bergulir, dan jarum telah berlabuh di angka 2. Perkataan Jaesuk terus menggaung di kedua telinga. Sebuah pengakuan yang luar biasa tolol, kedua sudut bibirnya berjengit sebal.

“Soojung selalu bersikeras bahwa ia telah mendapat wahyu yang harus dilakukan demi kebahagiannya sendiri. Wahyu tersebut didapatkannya di dunia mimpi, ia beranggapan bahwa kebahagian sesungguhnya akan datang jika ia berhasil menikahimu.”

 

Myungsoo berjalan menuju jendela. Neraka itu akan segera tiba, matanya terasa berat dan itu artinya lelaki itu harus bersiap untuk kembali terjebak. Myungsoo mendesah dalam, lantas mengedarkan pandangannya ke luar jendela.

“Aku tak menyangka, jika Soojung tetap menjalankan rencana tersebut di dalam tidur panjangnya.”

 

Myungsoo sudah tak sanggup menjadi seperti ini. Terkurung di dunia fana yang terlampau nyata untuk akal sehatnya. Myungsoo muak, terlebih ketika semuanya tak lagi sama. Mendapat sebuah petaka dari Soojung, sangat mengerikan. Ia menunduk, merasakan kedua matanya semakin memberat dan menggelap dari waktu ke waktu. Tidak, ia tidak boleh tertidur.

“Myungsoo.”

Berhasil. Kedua matanya kembali terbuka dan dirinya masih berdiri di hadapan jendela.

“Myungsoo.”

Sialan, umpat Myungsoo dalam hati. Jika memang dirinya tak berhasil tertidur, maka tak seharusnya ia mendengar suara itu, suara Krystal―Jung Soojung, siapa pun itu. Tangannya langsung terkepal, dengan cepat Myungsoo menoleh ke sumber suara. Dan ya, gadis itu ada di sana. Duduk di atas meja pojok sembari menyilangkan kaki jenjangnya. Tanpa pikir panjang, ia melempar jam weker yang masih digenggamnya ke arah Krystal.

 

Prang!

 

Benda itu hancur berkeping-keping, lemparannya meleset dan Krystal tersenyum tipis saat menyadari jika jam weker tersebut hancur lantaran menghantam dinding di belakangnya.

“Galak,” kata Krystal ringan.

Myungsoo mengusap wajah dengan frustrasi, merasa sudah tak sanggup untuk berkata-kata. Benar-benar mengerikan, jika kehadiran gadis itu memang senyata ini, maka sudah dapat dipastikan bawah dirinya tengah berada di alam bawah sadar yang dulu begitu dibanggakannya.

“Bagaimana bisa?”

“Mengapa masih bertanya? Tentu saja bisa, Myungsoo.” Krystal berjalan menghampirinya, tenang dan santai disertai seulas senyum menawannya. “Kurasa, habitatmu memang di sini. Bukankah begitu?”

“Aku sudah tahu siapa dirimu.”

“Ya,” Krystal terkekeh. “Itu bukan masalah besar kan?” tanyanya, seduktif.

Myungsoo mendesah pelan seraya menatap wajah Krystal―ibunya.Ia terlihat sangat cantik bahkan di dalam ruangan gelap sekali pun. Benar-benar brengsek, Krystal memang bukan gadis yang bisa diabaikan begitu saja. Dan satu hal yang membuat Myungsoo kesal adalah, mengapa ia harus terlahir sebagai anaknya? Semuanya menjadi seratus kali lebih pelik.

Lalu, pandangan mereka bertemu dalam kurun waktu yang yang cukup lama, dan serta-merta sebuah hasrat untuk memiliki lebih banyak timbul di antara mereka. Katakanlah, dirinya adalah makhluk paling hina di muka Bumi, namun Kim Myungsoo tak pernah sekalipun mengharapkan keadaan ini. Jika memang ucapan ayah dan neneknya benar, maka tidak mungkin dirinya akan terjebak seperti ini. Lalu keyakinan yang dibanggakan Krystal seolah-olah semakin menguat lantaran pada kenyataanya Myungsoo tak bisa keluar dari alam bawah sadar yang nyaris menyatu dengan kehidupannya.

“Ya,” jawab Myungsoo singkat.

Ia menggenggam pergelangan tangan Krystal dan menariknya dengan perlahan. Gadis itu mendekat tanpa keraguan, sorot matanya begitu puas; perjuangannya selama ini terbayar sudah. Lengkungan di bibirnya yang menawan tak dapat terhindarkan, meski dalam keadaan dibungkam sekali pun. Kim Myungsoo benar-benar jatuh ke dalam pesona gadis itu, hingga akhirnya tubuh mereka pun merapat dan tangan-tangan itu bergerak bebas ke mana pun yang mereka suka dan ingin. Napas-napas pendek mereka begitu jelas terdengar di telinga satu sama lain, membuat keduanya menginginkan hal yang lebih, dan lebih. Myungsoo berhasil menghapus segala macam kekhawatiran Krystal, lelaki itu telah menguatkan keyakinannya. Persetan dengan kenyataan yang menyebalkan.

Celah bibir mereka terpisah sementara tubuh Krystal mendarat di permukaan sofa yang tak berada jauh dari jendela. Tidak butuh waktu lama untuk menjadikan segalanya kembali seperti sedia kala, karena mereka telah kembali bersama.

Ketika sepasang mata Myungsoo yang lelah terbuka, Krystal sudah berada di atas tubuhnya. Gadis itu tertidur, sama seperti dirinya. Mungkin ini adalah kali pertama dalam 2 minggu terakhir ia bisa memejamkan mata tanpa sebuah kecemasan yang menghujam. Malam berlalu dengan sangat lambat, dan Krystal terus bersamanya. Dalam senyum, gadis itu mengukir sebuah cerita di sudut hati seorang Kim Myungsoo, memberikan segala hal indah yang dimilikinya pada lelaki itu.

Namun, ketika Myungsoo tengah berusaha untuk meyakini bahwa pilihannya adalah yang paling benar, sebuah teka-teki lain kembali menjajah di tengah euforia rasa leganya.

“Katakan padaku kalau ini hanyalah mimpi, Krystal!”

“Ini adalah mimpi! Puas?!”

Genggaman tangan mereka mengerat. Entah sudah sejauh apa mereka berlari, menjauh dari kejaran sekumpulan orang yang tak dikenal. Mereka memasuki gedung tua, menaiki ratusan anak tangga dan menyusuri koridor yang panjang.

“Myungsoo! Kumohon, berhentilah!” ujar Jaesuk dengan nada frustrasi, Myungsoo menoleh, menaruh rasa heran karena tenyata sang ayah adalah satu dari kumpulan orang tersebut. Ritme langkah sepasang kakinya melambat, namun dengan cepan Krystal menarik Myungsoo dan mengajaknya kembali menaiki tangga hingga lantai teratas.

Baiklah, jikasemua ini nyata maka tak seharusnya Krystal ada. Dan jika sebaliknya, maka tak seharusnya ibunya nampak gelisah dan merasa gusar ketika melihat orang-orang itu mengejar mereka.

“Krystal, ini hanya mimpi kan?” lagi-lagi, Myungsoo menuntut kepastian.

“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu, Myungsoo!” suara gadis itu bergetar, sementara kakinya mulai terasa kebas akibat kelelahan.

“Jika ini mimpi, maka kita bisa melenyapkan mereka. Bukankah kita memegang kendali penuh? Kita tak perlu berlari seperti ini, Krystal!”

Gadis itu mendorong pintu yang ada di hadapannya, kini mereka sudah berada di rooftop. Krystal tetap berusaha mengajak lelaki itu berlari, sampai akhirnya Myungsoo merasa kesal lantaran kelelahan dan dengan cepat menarik pergelangan tangannya dari cengkraman gadis itu.

“Myungsoo!”

“Kita tak perlu melakukan ini! Lenyapkan mereka dan semua sudah bisa selesai!”

“Kita harus lompat!” gadis itu mengacak rambut. “Kita harus lompat, Myungsoo!”

Air mata gadis itu berderai, nampak putus asa. Myungsoo membatu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?

“Tidak.”

“Myungsoo!”

Jaesuk dan pasukannya sudah berpijak di lantai yang sama. Wajah mereka terlihat begitu ketakutan dan memandang Myungsoo dengan tatapan yang hati-hati. Lelaki itu menggenggam pergelangan tangan Krystal lagi, lalu berjalan mundur seolah-olah jika orang-orang itu tengah bersiap mencengkram dirinya.

“Ada apa?” tanya Myungsoo, dingin.

“Myungsoo,” panggil Jaesuk, “Jangan lakukan, kau jangan—“

“—jangan apa?” potong Myungsoo cepat seraya melirik ke arah Krystal yang tengah tertunduk dalam kegusaran. Gadis itu menangis, deraian air mata tak terbantahkan di sana dan hal itu membuat Myungsoo semakin kalut.

“Jangan melompat Myungsoo! Jangan, kemarilah,” bujuk Jaesuk seraya mendekati anaknya dengan langkah lambat.

“Kita harus lompat,” Krystal meremas jemari lelaki itu, “Sekarang.”

Tapi, Myungsoo tetap berjalan mundur dalam rasa bingung yang hebat. Ia memandang ayah dan ibunya secara bergantian. Kini, tak hanya Krystal yang menangis, tapi Kim Jaesuk juga. Wajah letihnya basah oleh air mata, keputusasaan dalam langkahnya begitu terasa. Sementara Krystal, air matanya semakin deras mengalir sementara genggaman jemarinya semakin mengerat dari waktu ke waktu. Jalan pikiran Myungsoo buntu, ia tak tahu harus memercayai siapa atau mendengar perkataan yang mana.

“Myung—“

“—kita lompat sekarang…”

“MYUNGSOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!”

Aku tidak akan mati, ini hanya mimpi kan?

Ini adalah hari Kamis.

Jam weker yang dipasang di atas meja di sebelah tempat tidur ternyata berhasil membuat Myungsoo terbangun. Pukul 7 pagi? Ya, masih ada waktu sekitar 1 jam untuk tidak terlambat. Ia bangkit dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Ia beranjak, memutuskan untuk segera bersiap tanpa ingin memikirkan lebih lanjut serangkaian kejadian yang terputar dengan jelas di mimpinya. Mimpi hanyalah mimpi, selamanya akan tetap seperti itu. Kenyataan lebih menyenangkan, apapun yang terjadi.

Myungsoo menggeliatkan tubuh di depan jendela, memandang keluar, dan cuaca hari ini nampak menyenangkan.

Myungsoo tersenyum dan meraih kalender yang ada di meja belajar, melingkari tanggal di hari esok dengan spidol warna merah; hari ulang tahun ayahnya.

Lalu beberapa saat kemudian ponsel Myungsoo bergetar, ia mendapati nama Lee Sungyeol sebagai penelepon.

“Halo?”

Ah, Myungsoo! Kau tidak lupa kan hari ini ada praktek? Jangan sampai terlambat, ya! Bye!”

“Hanya itu?” alis Myungsoo terangkat heran, namun ia tak keberatan. Myungsoo sangat menghargai usaha temannya itu untuk tidak membiarkan dirinya terlambat di hari penting ini. Jadi, tanpa membuang waktu lebih banyak ia langsung bersiap secepat mungkin. Mandi, berpakaian, dan menyampirkan backpack hitamnya di bahu kanan seperti biasa.

Tak ada yang aneh. Myungsoo keluar dari kamar, berjalan melewati lorong pendek yang dipenuhi oleh foto-fotonya bersama ayah dan neneknya, kemudian menuruni tangga; dengan perasaan tenang, lega, bahagia, dan yakin bahwa semua ini adalah kenyataan.

“ Myungsoo…”

Langkahnya berhenti di tangga terakhir. Suasana begitu murung dan riuh, ruang tengah rumahnya dipenuhi oleh banyak orang yang mengenakan pakaian hitam. Sebagian besar dari mereka tak begitu dikenali Myungsoo, barangkali mereka adalah kolega dari Jaesuk dan neneknya.

Ia menelan ludah, ada aura duka mendalam yang dapat dirasakannya dengan sangat jelas. Mereka semua—terutama Jaesuk dan neneknya—terlihat begitu sedih. Berdiri menghadap ke sebuah foto berukuran sedang yang di simpan di meja pojok, ada lilin-lilin kecil yang senantiasa mengitari foto tersebut, juga beberapa jenis kelopak bunga yang tertabur di sana. Entah foto siapa, Myungsoo hanya bisa melihat bagian rambutnya saja. Tak sedikit orang yang hadir sibuk menyeka air mata, seolah-olah cairan asin itu mampu mengusir rasa kehilangan yang menghinggapi mereka.

Ia masih bersikap tenang, sampai akhirnya ada dua orang lelaki—yang juga memakai pakaian hitam—masuk dengan langkah terburu-buru. Mereka menghampiri Jaesuk dan neneknya.

“Sungyeol, Sunggyu!” Neneknya berteriak histeris dan kedua lelaki itu langsung berhambur ke dalam rangkulan tangan rapuh wanita tersebut—Sungyeol di kanan, sementara Sunggyu di kiri. Ketiganya menangis dalam kebisuan, sementara Jaesuk membelai punggung ibunya dengan wajah tertunduk.

Kedua alis Myungsoo langsung bertaut, masih enggan menarik spekulasi atas apa yang tengah terjadi di hadapannya saat ini. Ini kenyataan, buktinya rambut Sunggyu masih normal. Ia tersenyum tipis ketika mengingat model rambut lelaki itu di mimpinya tadi. Lalu, Sungyeol? Bahkan tadi lelaki itu meneleponnya.

“Ini tidak mungkin terjadi,” kata Sungyeol.

“Myungsoo…” sambung Sunggyu dengan nada tidak percaya.

Jaesuk menghapus air matanya, terlihat lelaki itu mengela napas panjang dan berkata, “Semoga anakku tenang di surga sana.” Lalu, Jaesuk pun membimbing mereka bertiga menjauh dari tempat tersebut, hingga akhirnya Myungsoo dapat melihat sosok yang ada di dalam foto itu dengan sangat jelas.

“Apa?” tanyanya heran.

Itu foto miliknya, wajah Kim Myungsoo terpampang di sana.

Fin.

A/N:

[1] Limbo: 1. tempat atau keadaan orang mati yang tidak masuk surga atau pun neraka; 2. batas antara dunia orang hidup dan alam orang mati; 3. alam mimpi yang bisa didatangi oleh siapa saja. Orang yang memasuki Limbo akan kehilangan kewarasan, ia tak akan bisa membedakan antara alam nyata dan alam mimpi.

Dan Apocalypse Dreams sendiri diambil dari judul lagu milik Tame Impala. Ide dasar muncul setelah re-watch film Inception (2010), tadinya aku gak akan posting fanfic ini karena masih banyak kekurangan dan aku udah kehabisan cara untuk memperbaikinya (read: males, hehe)

Lalu soal gaya menulis aku yang (lagi-lagi) berubah, aku mau minta maaf atas ketidakkonsistenan tulisanku kalau-kalau hal itu menganggu kalian. Aku bener-bener masih mencari dan ternyata itu sulit banget T.T semoga kalian masih berminat baca karya-karyaku. Sekali lagi makasih udah baca! Komentar buatku nomer sepuluh, kalo kalian ga sempat, kalian cukup mention aku di @theboleroo, ya hanya ingin tau siapa-siapa aja yang sudah baca, sekalian kenalan juga :–]

3 responses to “[2/2] Apocalypse Dreams

  1. egila keren. serius. sebenarnya pas di awal-awal bingung kok myungs bisa tenang aja gitu meski ada beberapa keanehan disana. tapi ternyata itu karena dia seorang oneironaut. trus juga karena ini genrenya psychology, kamu berhasil mainin pemikiran myungs yang bingung itu sampe ke readernya juga deh. lol. kadang aku bingung mana yang kenyataan mana yang tidak dan aku aja bingung apalagi myungsnya ya yang disana =)

    tapi keren lho idenya. udah mulai tebak krystal ibunya pas di chapte pertama kamu ungkit percakapan ayah ibunya. tapi aku bingung, itu terakhirnya kenyataan? dia bener-bener mati? lalu myungs yang ada di sana siapa? dia tinggal di dunia mana jadi sekarang? *…**menurutngana* apa antara nyata dan tidak nyata? *…* =’)

    anyway, mau tanya satu hal. itu yang oneironaut itu kamu karang sendiri atau beneran ada mitos atau fakta yang mendukung gak, sih? aku kok tertarik buat karakter OC dengan kemampuan itu *….**dihempas*

  2. Annyeong..
    Aku reader yg baru nemu ff km.
    Kbetulan aku lg iseng aja nyari2 ff myungstal n nemu ini.

    Okeee ada bnyak yg pgn aku komenin.
    Yg pertama, DAEBAK!
    INI BENER KEREN.
    Aku bner2 sangat berfikir n terhanyut sama ff ini, setiap kata2nya n gambarannya sangat membuat aku terbawa.
    Ada beberapa kalimat2 yg membingungkan sih, tp overall tetep bgus kok.
    Ending nya jg gak disangka bgd~
    Keep writing yaa..

    Best Regret
    Bila ^^

  3. wah baru kali ini nemu wp ff myungstal yg penulisannya bagus ooooooo❤ dan keren flawless abissss!!!

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s