K M S L

kmsl-by-zola

 

K M S L by Zola Kharisa

Cast: Jung Soojung [f(x)] & Kim Myungsoo [Infinite]

Genre: AU, Fluff || Rating: PG-15 || Duration: Vignette

Summary: Soojung bertanya-tanya apa itu ‘K M S L’ dan agaknya hanya Myungsoo yang bisa menjawab.

Notes: Saya persilakan untuk membaca notes di akhir cerita. Selamat menikmati!

***

“Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?”

Soojung mengambil udara, sebisa mungkin tidak jengkel pada lawan jenis di depannya. Ia memandang lurus dan berucap kilat, “K M S L!”

Alis Myungsoo meliuk. Nada Soojung terdengar antusias, kesal, namun lembut di saat bersamaan. Oh, Myungsoo ingat. Soojung merupakan ketua tim paduan suara di sekolah mereka dan suara gadis itu memang jernih, khas sebagaimana penyanyi muda bersuara setenang danau. Dan Myungsoo mengakui jika Soojung tak ‘kan mungkin berbicara tinggi bila di hadapnya.

“Pelankan suaramu,” bisik Myungsoo, berpura-pura. “Kauingin menjadi bahan pembicaraan, lagi?”

Hei, itu sakit! Soojung membatin seraya meremas tangan kanannya di bawah meja. Saat ini mereka sedang berada di kelas dan tak banyak orang. Tentu saja, siapa yang akan menolak singgah ke kantin ketika bel istirahat berbunyi setelah mereka baru saja melewatkan tiga jam bersama guru paling menuntut kesempurnaan. Dan seharusnya, Soojung bergabung di sana. Namun, ia juga tak mau melewatkan kesempatan emas berduaan dengan Myungsoo. Ah, tidak. Bukan begitu. Ia butuh penjelasan laki-laki itu dan saat ini adalah peluangnya.

“Jadi, teman-temanku membicarakanmu. Terus menerus.” Soojung menoleh ke kiri dan kanan, lalu mengembuskan napas tatkala merasa aman. “Dan mereka selalu menyebutkan K M S L. Ketika aku bertanya, merekapun hanya menduga-duga bahwa itu singkatan dari namamu, Kim Myung Soo L.”

Hmm, begitu. Lalu?”

Mendengus. Soojung mengayunkan kakinya di tepian kaki kursi. Laki-laki di depannya sangat tidak membantu. Bukankah dia laki-laki yang paling diinginkan para gadis tahun ini? Setelah Myungsoo memutuskan untuk melepas kacamata besarnya dan soft lens menjadi penggantinya enam bulan lalu, ia sekonyong-konyong terkenal. Sebagai sahabat sejak SD, Soojung merasa tersisihkan waktu itu. Namun lambat laun, ia menyadari bahwa ketenaran Myungsoo bukanlah penghalang bagi hubungan mereka. Karena seminggu setelah itu, Myungsoo kembali dekat dengan Soojung setelah akhirnya sedikit terbebas dari kejaran gadis-gadis yang mencap diri mereka sebagai pecinta Myungsoo.

Ugh, Soojung ingat jika ia pernah menjadi korban dari keganasan para pecinta tersebut.

“Kau tidak berubah!” Soojung tersenyum, sedikit masam. “Bisakah tak berbelit-belit, Myung? Aku hanya ingin tahu kepanjangan dari K M S L-mu itu.”

“Itu tidak penting. Kenapa kauingin tahu sekali, sih?” Myungsoo mengambil pulpen yang terselip di telinga kanan Soojung. “Dan, sudah kuperingatkan berapa kali bahwa jangan menyelipkan pulpen di sana.” Ia menunjuk area kuping gadis itu, lantas menyipitkan kelopak mata.

Soojung tak menyahut. Ia memajukan bibirnya beberapa mili dan merengut. Soojung merajuk, dan biasanya Myungsoo akan langsung luluh jika ia seperti ini.

Namun, apa yang ia lihat? Myungsoo malah mengabaikannya dan memilih memandang ke luar, memerhatikan sesuatu entah apa.

Soojung merasa lemas. Apa dirinya tak cukup cantik hingga Myungsoo tak mau menatapnya? Lagi pula, sejak tadi Myungsoo tampak tak benar-benar peduli. Mungkin jika ia tak salah hitung, laki-laki itu hanya menatap lurus padanya selama tiga detik sebelum beralih pada objek lain. Sekonyong-konyong, Soojung diliputi keresahan. Entah ini hanya firasat atau ketakutannya sendiri, Soojung merasa bahwa Myungsoo akhir-akhir ini berubah. Tak seperti dulu lagi. Ia lebih tertutup dan pendiam dari yang sudah-sudah.

“Jadi… kau tak mau memberitahuku? Setidaknya, jawablah dugaan teman-temanku benar atau tidak,” ucap Soojung datar—mencoba datar.

Myungsoo menghela napas. Ia menoleh dan tatapannya merangkak naik. Tertegun. Myungsoo tak yakin namun ia bisa melihat cercah takut dalam bayang mata Soojung. Lalu pandangan gadis itu menggelap ketika Myungsoo tetap saja bungkam, tak memilih bicara, dan hanya menatap padanya. Kali ini lebih dari tiga detik.

Mungkin, jika saja Soojung bisa menahan rasa penasarannya agar tidak menyeruak terlalu besar, kejadiannya tak seperti ini. Tapi, apa salah bila ia bertanya pada sahabatnya sendiri? Ayolah, itu perkara mudah dan Myungsoo bisa menjawabnya tanpa perlu larut dalam keadaan awkward ini. Ia hanya bertanya dan Myungsoo seharusnya bisa menjawab dengan gamblang.

“Baiklah,” Soojung menelan saliva, beranjak dari tempat duduk. Ia tak mengerti soal Myungsoo. Apa pun tentang laki-laki itu, Soojung tak mengerti. Ia berniat menyudahinya. “Kalau kau memang tak ingin mengatakannya, tak apa. Lebih baik sekarang aku…”

“Apa nama baratmu?”

Soojung tak habis pikir. Setelah mendiamkannya belasan menit, kini laki-laki itu mengeluarkan kalimat tanya yang tak ada hubungannya—sama sekali—dengan topik yang digencar Soojung. “Untuk apa?”

“Memastikan,” Myungsoo mendongak, tatapannya lurus ke arah Soojung yang masih berdiri, “aku tidak salah.”

Soojung mengangkat alis; bingung. Ia hendak bersuara, namun suara Myungsoo sudah menyentaknya lagi, “Kau tidak ingin tahu apa kepanjangan dari K M S L, hmm?”

Soojung gelagapan. “Oh, i-itu… Klee!”

Demi apa pun, ini kali pertama sejak sebulan terakhir Soojung melihat Myungsoo mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, membentuk seringai. Terakhir bentuk senyum itu muncul ketika Soojung terjatuh akibat heels yang dipakainya saat berdansa dengan Myungsoo diprom night sekolah sebulan lalu. Ugh, rasanya malu sekali. Myungsoo memang tidak tertawa kala itu, tapi seringainya yang mengejek cukup membuat Soojung jengkel.

“Bagus,” sekonyong-konyong Myungsoo berdiri sehingga tubuhnya otomatis berhadapan dengan Soojung. Ada semburat merah menghias kedua pipi Soojung manakala Myungsoo secara tak terduga mengangkat jarinya dan menyentuh wajah gadis itu.

Soojung membeku. Tatapannya lurus kepada laki-laki di hadapnya namun kosong. Ia terlalu sulit berpikir dan mengatur ritme jantungnya di saat bersamaan.

Myungsoo memutar pandangan ke sekitar, dan mendapati nyaris seluruh pasang mata di kelas tengah memandangi mereka penuh ingin tahu, iri, bahkan kesal. Bukan, bukan Soojung yang menjadi korban kala ini. Tapi, Myungsoo. Seorang laki-laki bernama Choi Minho, si kutu buku yang fobia pada ruang gelap, pengguna lensa minus empat, dan terkenal mencintai Soojung setengah mati, sedang menatap Myungsoo penuh. Laki-laki itu bahkan dengan tangan kanan terkepal—ada dua cincin platina berbandul batu hitam tersemat di telunjuk dan jari tengah—meremas ujung buku matematikanya kuat-kuat. Dan remasan itu berakhir menjadi sobekan ketika telinganya mendengar seruan Myungsoo.

“Mulai saat ini, aku dan Soojung, resmi berpacaran!”

Bak petir di siang tanpa hujan, dan malam tanpa awan, Soojung merasa sendi-sendinya melemah. Matanya nyaris tertutup karena saking terkejut. Sebelum semuanya berubah normal, Myungsoo sudah menarik tangannya keluar diiringi sorak penghuni kelas yang menaungi telinga mereka. Terkecuali Minho yang sekonyong-konyong pingsan, dengan raut penuh kefrustasian. Sayangnya, tak ada yang sadar akan kondisi laki-laki itu. Semuanya hanyut atas pernyataan Myungsoo tadi.

***

Ya! Aku berjanji akan membunuhmu lain kali, Myung!”

“Kau suka padaku, ‘kan? Kaupikir aku bodoh. Semuanya terlihat jelas, Jungie.”

Soojung refleks berhenti. Myungsoo yang masih menggenggam tangannya pun ikut berhenti saat gadis itu tak ikut melangkah lagi. Beberapa saat, keduanya diam. Myungsoo tak berani menatap Soojung yang menunduk. Ia merutuk ucapannya barusan.

“Kautahu… Kautahu… begitukah?” Soojung tertawa, miris. Sial, air matanya tidak mau diajak bekerja sama hingga turun begitu saja. Perubahan rasa drastis inilah yang membuat Soojung lelah. Ia sering menangis hanya karena masalah sepele. Bedanya, ia menangis di ruang tertutup di mana semua orang tak ‘kan mungkin melihatnya. Bedanya, kini ia menangis di depan Kim Myungsoo. Bedanya, ia menangis karena orang lain, tapi saat ini Myungsoo-lah penyebabnya. “Hiks, kau bahkan tak pernah sungguh-sungguh melihatku.”

Myungsoo tidak tahu kenapa, tapi mendengar kalimat yang dilontarkan Soojung membuat sesuatu di dalam diri Myungsoo sakit. Selama ini dirinya terlalu bodoh dengan mengelak bahwa ia tak menyukai Soojung; hanya sebatas rasa senang kepada sahabatnya. Namun, lambat laun Myungsoo mulai merasa terkekang dengan rasa tak suka hingga benci ketika laki-laki lain mendekati sahabatnya, bahkan seringkali pergi bersama untuk kerja kelompok atau kegiatan di luar jam sekolah. Myungsoo mulai merasa aneh. Dan puncaknya adalah tiga hari lalu, ketika ia melihat di sosial medianya, Soojung mengunggah sebuah foto bersama murid baru dari Cina—namanya Luhan jika tak salah ingat—dan mereka melakukan selca bersama. Myungsoo kesal saat itu dan tanpa pikir panjang, ia memotret dirinya sendiri dengan wajah tertekuk dan mengunggahnya di sosial media yang sama.

Hari ini sangat panas. Apa kalian juga begitu? – K M S L

Terlalu kekanak-kanakan, memang. Namun, Myungsoo hanya ingin membuat Soojung peka terhadap ia. Dan agaknya hal itu berhasil ia lakukan karena sekarang Soojung mempertanyakannya.

Myungsoo merasakan ujung-ujung jemarinya bergetar, tak kuasa menatap Soojung menangis karenanya. BodohIdiot. Harusnya Myungsoo mengatakan sejujurnya sejak awal, atau paling tidak ia tak mengungkapkan kalimatnya tadi secara lisan.

“Ingatkah kau selalu menampik setiap orang yang membicarakan kita? Kau tidak pernah melihatku setiap mereka bertanya apa hubunganku denganmu sebenarnya. Kau akan selalu mengelak, mengabaikan, kemudian mendiamkanku selama beberapa hari. Kaupikir, itu tidak sakit, Myung? Kau selalu menghindari omongan mereka tanpa memikirkan perasaanku.” Dan ia melanjutkan, “Aku tidak mengerti dirimu. Sekarang, kau bilang pada mereka bahwa kita berpacaran. Lantas, setelah itu kita akan menjadi bahan gosip lagi lalu kau akan meninggalkanku, sama seperti sebelumnya, begitu?!”

Myungsoo mengukir senyum kecil, kendati hatinya dilindapi lara. Dalam hening, tanpa kata-kata, laki-laki itu menarik tubuh ramping Soojung dan biarkan ia merasakan hangat di penghujung musim gugur. “Aku melakukan semua itu karena tak ingin menyakitimu, Soojung. Aku takut perasaanku ini hanya sekadar rasa simpatiku padamu. Namun, setelah menghabiskan waktu tanpa wajah merengutmu itu, membiarkan orang lain mengganti posisiku sebagai naunganmu, rasanya… aneh. Lain dari yang lain. Aku membenci itu. Terutama acap kali dirimu tertawa, namun bukan akulah sebabnya. Jadi, setelah sekian waktu berpikir dan mulai merasa kesal pada teman-teman lelakimu itu, aku sadar bahwa aku tak butuh lagi bersembunyi dari rasa ini.” Myungsoo mengakhirinya dengan kekehan kecil, merasa lega.

“Jadi, kau cemburu pada Luhan? Jongin? Atau Minho?” dengan nada menggoda, Soojung berbisik. Debar jantungnya kembali mengentak ritme yang sama seperti beberapa saat lalu.

“Kau berteman dengan Jongin juga?” Myungsoo hendak mengeluarkan protes besar-besaran. Kim Jongin, sepupunya yang satu itu sangat senang mempermainkan wanita. Yah, mungkin tidak terlalu parah, tapi Jongin memang sering memberi harapan pada lawan jenisnya kemudian mempupuskan itu semua hanya dalam hitungan jam. Kendati begitu, masih ada saja yang dengan sukarela mendekati Jongin tanpa peduli konsekuensi tersebut.

Soojung mengangguk pelan. “Jongin sempat mengantarku pulang. Saat itu hujan, kau ada tugas tambahan dan aku tidak bisa menunggumu untuk pulang bersama.” Ia kemudian menatap iris hitam Myungsoo saksama. “Jadi, apa pernyataanmu tadi sungguh-sungguh?”

Myungsoo tak pernah seyakin ini sebelumnya. Ia menyukai Soojung. Sangat menyukai gadis itu. Dan agaknya, ia tak ‘kan bisa melepas Soojung barang sedetik pun.

Myungsoo menarik tubuh dan menciptakan jarak di antara mereka. Ini memudahkannya untuk leluasa memandangi gadis itu. Ah, tidak, tapi gadisnya.

“Kauingin dengar kepanjangan dari K M S L?”

“Apa?” Soojung ikut memelankan suara.

Myungsoo mengedarkan pandang sebentar, seolah-olah koridor yang tengah menaungi mereka tidak cukup sepi. Faktanya, tempat itu bahkan hanya diisi mereka berdua dan mungkin serangga-serangga mungil yang menempel di dinding.

Myungsoo bisa merasakan wajahnya menghangat. Ia mengembuskan napas panjang, jarak sedekat ini dengan Soojung membuatnya sadar bahwa ia terlihat tak berkutik. Matanya memandang lurus iris cokelat Soojung. Benar-benar jernih.

“Aku menyukaimu, Soojung…” Myungsoo mengungkapnya selembut mungkin, berharap Soojung bisa merasakan bagaimana laki-laki itu mengumpulkan keping-keping keberaniannya.

“Ya, aku tahu. Aku juga menyukaimu, Myungie.”

Mungkin akan terdengar konyol, namun Myungsoo-lah yang menciptakan panggilan itu untuk dilisankan Soojung. Catatan, hanya gadisnya yang boleh memanggilnya begitu.

Kendati terkadang, Jongin kerap menggodanya dengan berkata, “Oh, Myungie…”.

Myungsoo akan selalu mengenang masa-masanya dengan Soojung. Bagaimana awal pertemuan mereka kala musim semi, ketika mereka selalu bertemu di kelas yang sama, hingga kegiatan rutin keduanya di akhir pekan seperti berkunjung ke toko es krim dan bersepeda mengitari taman kota saat sore. Myungsoo juga akan ingat, saat-saat di mana ia mengungkapkan beberapa hal yang mungkin hanya akan diketahui oleh dirinya dan Soojung; seperti sekarang.

“K M S L itu adalah gabungan antara namamu denganku,” Myungsoo menjedanya dengan menarik napas, dan berbisik lembut. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya tepat ketika bel masuk berbunyi. Soojung mengembangkan senyum, berdebar-debar menunggu apa yang akan diucapkan Myungsoo selanjutnya. “K adalah Klee, M adalah Myungsoo. Maka, Klee untuk Myungsoo. Lalu, sebaliknya. S adalah Soojung, L adalah L, nama panggilanku. Maka, Soojung untuk L. Jadi, setelah aku mengutarakan ini, maka kau resmi terikat denganku. Jangan pertanyakan mengapa, karena saat aku mencetuskan singkatan itu, aku sedang dalam keadaan, hmm, tidak suka dengan fotomu bersama Luhan. Lain kali, kau hanya boleh berfoto bersamaku. Mengerti?” dan Myungsoo menutupnya sembari menggurat senyum tipis, sementara Soojung tertawa. Ia kembali teringat saat dulu dengan terpaksa menyutujui usulan Luhan untuk mengunggah foto mereka. Yah, berkat iming-iming bahwa Myungsoo akan membuat sebuah tindakan. Setidaknya, saat itu Myungsoo sedang melakukan aksi mendiamkan Soojung dan Luhan yang agaknya tahu ada yang tak beres, segera menyarankan hal itu. Soojung tidak menolak. Ia juga ingat, tak berapa lama setelah itu, Myungsoo mengunggah foto berjudul K M S L dan tampak menunjukkan wajah kesal. Soojung berpikir jika Myungsoo melakukan itu hanya karena ingin semata-mata menarik perhatian.Ah, ia malu. Sekonyong-konyong, sebuah pemahaman muncul di kepala gadis itu.

Kini, Soojung mulai mengerti segalanya tentang Myungsoo, juga apa itu ‘K M S L’ sebenarnya.

Fin.

Notes: Jika masih ada typo dan semacamnya, silakan dikoreksi. Ini belum sempat ku-edit ulang, pun dibaca secara kesuluruhan. Bermodal insting dan kepercayaan, semoga untuk kali ini enggak ada typo. Hahaha. Maaf juga untuk diksi yang minim dan bahasanya terlalu ringan; mencoba fluff tapi ini bisa disebut fluff gak, ya? Secara kayaknya gak ada manis-manisnya—padahal aku nulis ini sambil ngunyah sugus, lho. *penting banget deh, Zol*. Oke, review untuk fic ini sangat ditunggu! Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih—untuk semuanya. :D

7 responses to “K M S L

  1. KMSL !🙂
    salah satu ff myungstal yang kubaca pertama kali🙂

    Suka banget sama alur dan makna tersembunyi yang ada dibalik KMSL, ga peduli udah baca ff ini berapa kali, tetep aja aku sukaa! *senyum-senyum ga jelas*

  2. wohoho, aku jadi kayak temen-temen klee yg ngira K M S L itu singkatan dari Kim Myung Soo L😄
    btw serius ini keren, dari singkatan aja bisa dibuat jadi ff yang aduhai ini eaaaaaaa
    sayangnya kurang panjang (atau akunya yang susah puas? XD)
    Tapi ini udah bagus serius, dan sejauh ini aku baca, gak ada typo kok. Mungkin mataku aja yang kurang ‘kena’ tapi menurutku ini udah okeeeeeeeee banget :3

  3. ff ini tidak bisa diungkapkan dengan kata2 sumpahh keren banget, deg degan aku bacanya thor😀
    aduuhhh si myungsoo romantis bener yahh, hehe
    ditunggu ff krystal yg lain thor ^^

  4. KMSL! Suka bangeeet😀
    Feelnya dapet ugh❤ Myungsoojung!!! Haha kukira juga KMSL itu Kim Myung Soo L, tapi aku pikir juga itu gabungan antara nama keduanya dan ternyata firasatku bener hahaha, karakter Myungsoo pada awalnya benar2 menjengkelkan, namun dia romantis haha❤ karakter minho benar-benar lucu xD
    Aku suka cerita ini bukan hanya karena segala aspek yang sudah kusebutkan tadi, tapi juga karena 1 hal, aku memfavoritkan ff ini, yaitu: Luhan. Haha, konyol, tapiaku selalu senang jika ada scene Luhan dan Krystal yang berteman haha oke #SKIP
    Ohiya satu lagi, anda berhasil kak! Gak ada typo😀 sempurna! hahaha❤
    Keep going kak~

  5. Aq kira apa itu kmsl ternyata singkatan nama mrk..
    Aq jg mikir gt td tp kok L bkn J alias soojung.. Hahaahahaa

  6. ya ampun kasian minhonya keekkeke😀 aahhh tapi aku juga sakit hati sama kata-katanya soo jung pas bagian tengah ke akhir begitu juga kata-katanya myungsoo aaahh hatiku benar-benar Teriris oleh ketidak pekaan mereka berdua, aaahh tapi diakhir happy ending aku suka mereka bisa bersama hehehe🙂

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s