8

8

8

Scriptwriter: theboleroo (@ansdwyt)

Main Cast: Kim Myungsoo – Jung Soojung

Support Cast: Kim Sunggyu and OCs

Genre: AU, Romance, Surrealism, Absurd!

Rating: PG – 16

Duration: 2991w

Disclaimer: Just for personal entertain.

Summary: Kematiannya tak mengenal akhir dan terus-menerus…laksana angka 8.

“Kau mau ke mana?”

Butuh sekitar lima jam bagi Myungsoo untuk berpikir atas pertanyaan itu. Dari mulai cara menjawab, intonasi, ekspresi, dan pemilihan kosakata yang tepat. Pria jangkung itu menelan saliva, mengarahkan kedua iris lembutnya ke wajah si wanita yang kini sudah merengut, saking kesal atas penantian akan jawaban dari si pria.

“Pergi berkeliling di taman belakang,” jawabnya santai dan bohong.

Jung Soojung––nama si gadis––membisu. Menilik inci per inci wajahprianya. Oh, ia tahu jika Myungsoo bohong. Tapi sial, ia sangat ingin percaya bahwa pria itu hanya akan meninggalkannya sebentar. Membiarkan Soojung merajut baju hangat sepuasnya. Sampai selesai. Sampai bisa dipakai.

Myungsoo memang brengsek. Ia sudah ratusan kali pergi. Membiarkan Soojung dan Alpha––si boneka beruang ungu––menanti sampai bosan di rumah kayu. Jika sudah pergi, Myungsoo ‘kan tidak tahu waktu, bisa sampai ratusan tahun. Dan––mau tak mau––Soojung berserta Alpha harus menyusul ke rumah ibu si pria, menyaksikan wanita itu menangis sampai kurus. Iya, menangisi kematian anaknya!

Sebetulnya, Soojung sudah bosan. Tapi apa boleh buat? Ia mencintai Myungsoo––dan cintanya lebih besar dari Jupiter yang disinyalir menjadi planet terbesar di sistem tata surya. Sialan.

“Bagaimana jika aku ikut?” tanya Soojung. Kali ini, ia menggenggam lengan Myungsoo takut-takut. Tak disadari, kedua maniknya berkaca-kaca. Apa ini pertanda bahwa ia akan menangis? Tapi, wanita itu lupa caranya. Myungsoo selalu membuat Soojung bahagia, tak pernah membuatnya bersedih apalagi menangis.

Hm… Myungsoo adalah pria sempurna, karena tak pernah membiarkan dirinya mengeluarkan air mata. Hebat ‘kan?

“Tidak boleh, Soojung,” larang Myungsoo––dan seketika ekspresi pria itu berubah menjadi sangat bersalah. “Maksudku, kau boleh menyusul satu jam setelah aku pergi. Kau boleh mengajak Alpha jika kau mau,” ralatnya dengan hati-hati.

Kedua alis Soojung bertaut. “Apa aku boleh menentangmu? Sekali saja, Myungsoo. Bolehkah?” Si wanita menatap sang lawan bicara dengan sangat dalam.

Pria itu menggeleng sedih, menyadari kekecewaan yang ada di dalam kalimat tanya milik Soojung.

“Mau melakukannya sebentar?”

Myungsoo tak memerlukan jawaban karena ia tahu jika Soojung tidak akan menolak. Tak mungkin dan tak bisa. Bibir Soojung selalu manis seperti ceri––buah favorit Myungsoo sepanjang masa. Pun napas wanita itu sewangi aroma persik. Ratusan botol wine tak akan pernah bisa membuat Myungsoo mabuk, tapi sentuhan Soojung bisa. Kau tak percaya? Tidak usah. Biar pria itu saja.

“Berapa lama kau pergi?”

“Entah,” pria itu mendesah pelan dan melanjutkan, “jangan ke rumah mom, ya? Bisa-bisa kau stres melihat wanita itu menangis.”

“Um, aku janji.” Soojung berbohong––dan memang biasanya begitu. Menanti Kim Myungsoo di rumah hanyalah dongeng busuk! Hahahaha.

Sang gadis memeluk tubuh Myungsoo dengan erat. Meyakinkan diri bahwa pria itu memang akan kembali ke tempat yang seharusnya ia tempati––rumah kayu yang setiap hari memutar lagu-lagu dari Olivier Messiaen.

Raut wajah Soojung menjadi sedih. Umm. Menyeduh satu cangkir kopi dan membuat satu mangkok sereal. Ya, tidak lagi dua. Menyiram tanaman di pagi hari dan menikmati api unggun di malam hari… sendirian. Menyedihkan.

“Boleh pergi sekarang?”

Soojung melepaskan dekapan; dan kala itu pula Myungsoo tahu, jika si wanita mengijinkannya pergi. Sederhana memang…

Kendati tak merasa lelah, tapi agaknya ia ingin berhenti. Pijakan santainya serta-merta membawa Myungsoo pergi ke suatu tempat yang sudah bosan ia singgahi.

Semuanya tidak berubah; jalanan kering bertabur pasir berwarna abu tertiup embusan angin yang tak seberapa kencang, pohon oak berjajar di sepanjang jalan, dan matahari berwarna oranye masih menggantung lemas di atas kepala. Yang berbeda hanyalah warna langit, jika sebelum-sebelumnya berwarna pink rose… maka kali ini berwarna ungu tua. Gelap dan anggun.

Myungsoo akan menjemput kematiannya––lagi. Kematian dengan cara yang sama, di tempat yang sama pula. Bukan hal asyik menyaksikan sebuah raga meregang nyawa, terlebih itu milikmu. Tapi tidak bagi Myungsoo, ia candu menyaksikan kematiannya sendiri secara berulang, terasa menyenangkan dan memuaskan.

Kematian yang kekal dan konstan…

“Oh, masih agak jauh,” gumam si pria dengan kedua sudut bibir yang meninggi.

“Mom, berhentilah menangis. Aku masih hidup.” Entah bujukan seperti apa yang harus Myungsoo keluarkan hanya untuk membuat wanita gemuk berambut putih itu menghentikan tangisnya yang terdengar menjengkelkan. Nyonya Kim sudah menghabiskan jutaan kotak tisu untuk menyeka air mata dan lendir yang keluar dari hidung mancungnya. Wanita itu lelah, kesal, dan sedih.

Menangis di kursi goyang adalah hal yang konyol, kini ia frustrasi sendiri. Mengapa ia tidak memilih sofa saja sebagai tempat menangis? Decitan kaki kursi dan lantai membuat telinganya sakit, gerakan maju mundur yang tak menemukan ujung membuat kepalanya pusing. Dan yang paling menyakitkan, Myungsoo nampak tak acuh. Anak laki-lakinya malah sibuk menyesap teh hijau di dekat jendela sembari cekikikan melihat sepasang burung gagak yang sedang bertengkar di udara.

“Nak, kau menyebalkan!”

“Mom, sudah kubilang berhentilah menangis. Apa perlu aku menyiramkan teh ini ke wajah keriputmu?” Myungsoo tertawa keras. Setelah menyimpan tehnya di atas meja, pria itu beranjak dari wajah jendela dan berjalan menghampiri sang ibu.

“Durhaka!” hardik Nyonya Kim disertai suara petir.

“Tidak, aku hanya bercanda,” jawab si pria santai. Kini ia berjongkok di hadapan ibunya, tersenyum selembut kapas lalu menggenggam kedua tangan keriput Nyonya Kim. Ah, wanita itu memang cantik. Sepasang iris almond-nya yang biru selalu menjadi favorit Myungsoo. Kendati cerewet, Nyonya Kim sangat mahir membuat kukis cokelat––kudapan favoritnya.

“Mom––“

Nyonya Kim menarik kedua tangan dari lingkupan hangat si anak lelaki, sikapnya cenderung defensif. “Aku kehilangan berat badan dua belas kilo. Mungkin, besok pagi aku sudah kurus seperti penderita anoreksia…” tangis Nyonya Kim mereda, suara wanita itu bergetar.

Myungsoo membisu sejenak. Rambut cokelat tanahnya berkelepar akibat desah napas sang ibu yang memburu. Nyonya Kim sering mengeluhkan tubuhnya yang gemuk seperti beruang. Tapi, setelah kurus pun ia masih tetap mengeluh. Sungguh, Myungsoo tidak mengerti.

“Mengapa kau tak senang menjadi kurus?” pria itu kembali meraih kedua tangan keriput sang wanita tua. “Setahuku, mom sudah terlalu frustrasi memikirkan berat badan.”

Selalu saja begitu. Adalah hal yang paling menyenangkan mendengar anak lelaki itu berbicara, terlebih ketika ia menunjukan rasa peduli.

Anaknya tampan dan bermanik kelam. Ia juga pandai bermain harmonika… bagai malaikat. Mungkin ada empat wanita yang mengejar Myungsoo; si anak tukang susu, si anak tabib, si penari ular, dan si artis pantomim. Ah! Kenyataannya paras mereka semua memang jelita, tapi sialnya hanya Jung Soojung yang mampu membuat Kim Myungsoo jatuh cinta berkali-kali.

Myungsoo tahu benar, embusan napas Soojung kepalang menenangkan. Kendati si wanita tak pandai bersolek, namun ia terlihat sangat menawan di bawah temaram lampu kamarnya. Soojung bukan penari, namun gerakan bodohnya terlihat sangat manis ketika lagu salsa mengalun samar dari gramofon. Oh! Soojung juga tak pandai berhitung, tapi ia memiliki sebuah ajakan brilian yang sukses membuat Myungsoo tertawa lebar tatkala mendengarnya.

“Myungsoo, maukah kau bercinta denganku? Di luar angkasa…”

“Jangan mati, please.” Nyonya Kim memelas. Ia merasakan jemari Myungsoo yang mendingin bergesekan dengan kulit wajahnya yang keriput. Sepasang manik kelam anaknya terlihat jernih. Myungsoo tersenyum, tak mengiyakan ucapan si wanita tua.

“Aku terlalu candu akan kematian. Dan penolakanku tak akan mengubah apa-apa.” Anak lelaki Nyonya Kim terkekeh ringan. “Tak ada yang ingin sepertiku, mom. Mengertilah…”

“Myung––“

Ah, bahkan Nyonya Kim belum selesai mengeja nama anaknya. Tapi, Myungsoo sudah lenyap. Yang tersisa hanyalah secangkir teh yang tadi ia sesap. Okay, entah ada berapa kubik air mata yang tersisa di pelupuk iris si wanita tua. Yang ia tahu, sekali pun sang anak menyebalkan dan kepalang apatis… Oh! Ia akan tetap menangisi kematiannya.

“Syananana…” senandung kecil bergema di sebuah lorong yang gelap nan lembab. Soojung tetap pada posisinya; menjinjing keranjang rotan berisi buah-buahan juga roti kismis di tangan kiri dan Alpha terjepit di ketiak kanan––masih dengan seulas senyum paksa yang berasal dari benang berwarna merah muda.

“Alpha, sebenarnya aku sudah lelah berjalan dan aku sangat lapar.” Soojung merasakan perutnya mulai keroncongan. Wanita itu ingin mengobrak-abrik isi keranjang! Tapi, agaknya akan lebih menyenangkan jika tidak menikmati roti dan buah-buahan di lorong bau ini. Lorong yang dipenuhi bangkai srigala.

Sesuai kesepakatan, ia pergi satu jam setelah sepeninggal Myungsoo. Ya, berjalan-jalan di taman belakang. Hahaha! Tentu saja bukan. Myungsoo pergi ke suatu tempat, menyaksikan Myungsoo yang lain mati, Myungsoo yang lain juga sedang mengunjungi Nyonya Kim, dan setengah jam lagi… Soojung pasti bertemu dengan Myungsoo yang lain. Ya, Myungsoo yang akan menemaninya makan roti. Brengsek, semuanya begitu mudah terbaca. Mengapa ia harus berpolah tak mengingat apa-apa? Wanita itu menggigit ujung lidahnya sampai berdarah, ia kesal.

Soojung menghirup udara. Bau bangkai sudah tak eksis di indera penciumannya. Ia sudah selesai melewati lorong dan kini sepasang sepatu oxford cokelat mudanya tengah berpijak di rumput peach yang menenangkan. Langit-langit dunia kini tengah berwarna ungu––warna favoritnya setelah hitam. Ia mengulum senyum, kelopak matanya enggan menutup. Si wanita terlalu takjub.

“Batu nisannya sedang dalam proses, lagi-lagi Tuan Harold yang membuat.” Si pemilik suara berdecak. “Memang selalu dia, kan?”

“Um, kuharap ia tak salah menulis nama dan tanggal kematianmu.”

“Jangan khawatir. Aku mengatakan pada Tuan Harold, jika dia sampai salah maka arwahku akan memenggal kepalanya.”

Soojung tertawa pelan dan melirik pria yang kini tengah berdiri di sampingnya. “Itu sangat lucu.”

“Tapi aku tidak sedang melucu.” Myungsoo tak menatap Soojung, namun ia ikut memproduksi tawa kecil yang tak kalah menawan. Pria itu mendesah, ekor matanya memerhatikan sang wanita yang masih menunjukan deretan giginya yang rapi. “Apa kau mendapatkan sebungkus granola dari si penjual roti, Soojung?”

Wanita itu terkekeh dan menyimpan keranjang rotannya––Alpha tetap terjepit di ketiak kanan. “Sunggyu menawariku sepuluh karung granola, hanya saja aku menolak. Kupikir kau pasti akan sebal melihat pria itu menghadiahiku granola setiap kali aku membeli rotinya.”

Pria itu tersenyum seadanya dan berjongkok. Sepasang matanya memerhatikan polah Soojung; wanita itu menggelar tikar yang bolong nyaris di setiap bagian, ia pun melepas sepatu lalu menduduki tikar tadi. Dikeluarkan roti kismis berserta beberapa macam buah dari keranjang. Ah! Kini, Alpha tergeletak begitu saja dan Soojung tak menghiraukannya.

“Aku malah senang jika di rumah ada banyak persediaan granola.”

Bibir wanita itu mengerucut. “Ugh! Kupikir kau akan cemburu pada Sunggyu,” erang Soojung.

“Bagaimana pria itu menurutmu?” Myungsoo mulai menggoda kekasihnya. Ia kini duduk bersila di samping Jung Soojung yang tengah sibuk menghidangkan potongan-potongan roti di atas piring melamin berwarna kuning.

“Kim Sunggyu adalah pria yang tampan,” si pria berujar sembari terus mengulum senyum. Tatapan Myungsoo terus-menerus menggoda si wanita yang kini tampak sebal atas polahnya.

“Lantas?” Soojung nampak tak acuh, tangannya menyodorkan piring berisi roti kepada pria itu.

“Dia,”ucapan Myungsoo terputus. Setelah ia mengambil sepotong roti dan mengigitnya, ia pun melanjutkan, “juga sering memberimu banyak granola dan buah apel,” lanjutnya sembari mengunyah roti––asal kautahu, pria itu masih tetap mempertahankan lengkungan jenaka di bibirnya.

“Lalu, apakah itu berpengaruh besar untuk hidupku?”

“Ah, aku tidak tahu akan hal itu. Maaf, Soojung,” kekehan Kim Myungsoo berevolusi menjadi sebuah tawa kecil. Roti kismisnya sudah lenyap, sementara Soojung masih terdiam dengan ekspresi kesal yang kentara.

“Sunggyu pria yang baik. Ia memiliki sorot mata teduh dan seulas senyum yang menggiurkan. Ah, pria itu juga cukup berbakti, kadang-kadang aku melihat Sunggyu menggembalakan gajah milik ayahnya dan––”

“––dia menyukaimu sejak kecil, Soojung. Um, dia tak pernah meniduri wanita mana pun karena dia setia menantimu. Dan dia juga pandai membuat origami,” Myungsoo terkekeh ringan. “Aku tahu hal itu dari Tuan Harold, dia pernah menjadi guru kami saat di sekolah dasar.”

“Hentikan.”

“Dialah yang seharusnya bersamamu, Jung Soojung. Dia tak akan pernah pergi sepertiku. Dia ditakdirkan untuk tak pernah menggapai kematian, sama sepertimu.”

Wanita itu masih nampak tak acuh. Bibirnya seakan terkunci, kepalang malas berkomentar. Dirasa, ia sudah memilih jalan paling benar dalam hidupnya––mencintai Kim Myungsoo. Kendati pria itu gemar meninggalkannya, namun pada akhirnya tetap saja dia kembali. Masih dengan senyum dan yang pasti tanpa setitik luka. Apa lagi yang perlu diragukan?

“Aku mencintaimu, Myungsoo.” Kalimat itu terucap seringan awan, sebelum akhirnya sosok si pria perlahan menghilang dari pandangan Jung Soojung.

“Apa aku boleh tahu, Soojung mengenakan pakaian apa hari ini?”

Suara itu mengembalikan kesadaran pria di jok belakang secara seketika. Sebuah nama yang agaknya terlalu penting terdeteksi oleh indera pendengaran kanannya Ya, hanya yang kanan. Seingat si pria, gendang telinga kirinya tak berfungsi karena sudah terkoyak oleh besi panas. Daun telinganya juga hangus.

Hening. Tak ada jawaban. Yang bertanya pun tak mengajukan pertanyaan serupa untuk kedua kali. Ia sibuk melempar tatapan ke depan, kini mobilnya tengah melaju di tengah gurun pasir. Lima matahari yang menggantung di atas tak lantas membuat Kim Sunggyu kepanasan. Lain halnya dengan Kim Myungsoo, pria di belakangnya kini terkulai tak berdaya dengan aliran darah, nanah dan keringat yang bercampur sempurna. Hampir seluruh bagian tubuh pria itu tersayat––ah, sekitar beberapa jam yang lalu pria di balik jok kemudi itu memang menyayat kulit tubuhnya sembari bersenandung riang. Sempurna ‘kan?

“Mengapa kau diam saja?”

Shit. Ia ingin menjawab, bahkan Myungsoo ingin sekali berkata kepada pria itu bahwa si wanita hari ini terlihat sangat cantik. Ia mengenakan rok semata kaki berwana beige, juga sweater rajut berwarna red rose yang sangat cocok menutupi kulit putihnya yang pucat. Tapi, Myungsoo yang sekarang tak bisa bicara. Lidahnya putus ketika Sunggyu menciumnya secara paksa. Bajingan.

Sangat anyir. Pria itu sudah muak akan bau tubuhnya sendiri. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu kematian. Pandangan Myungsoo mulai kabur, maniknya terasa perih. Napasnya kian memendek dan tersenggal.

“Um, kukira di sini adalah tempat yang baik untuk mengakhiri semuanya.” Laju mobil terhenti, si pria di balik jok menoleh ke belakang sembari mengulum senyum. “Kim Sunggyu, sudah siap menghancurkanmu.”

Krek!

Demi Tuhan. Kim Myungsoo tidak bisa berteriak kesakitan. Yah, sekalipun ibu jari tangannya sudah putus sekarang. Tubuhnya terkulai di atas pasir… Sunggyu tadi menyeret kakinya agar ia keluar dari jok mobil.

“Kesepuluh jari tanganmu adalah favoritku,” ucapnya sembari mengunyah––disusul senyum bahagia Myungsoo. Oh, kematiannya begitu mulia.

“Myungsoo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Belum sempat kedua kakinya menginjak tegel hijau rumah tersebut, jeritan Nyonya Kim berhasil menghentikan langkahnya tepat di hadapan gerbang kayu bercat putih. Tak lama kemudian, raungan wanita itu terdengar. Sudah dipastikan wanita itu kini sedang menangis. Soojung terpaku dalam keraguan yang mulai menggunung. Telapak tangan kanannya yang berkeringat meremas tubuh empuk Alpha. Wanita itu tercekat, gertakan giginya terdengar sangat gaduh, dan perlahan rasa takut menggerayangi jiwa wanita tersebut.

“Ya, aku tahu. Mau tidak mau… kita harus masuk ke sana, Alpha.”

Soojung mendorong si gerbang kayu dan berjalan setengah berlari menghampiri sumber suara. Myungsoo belum sempat membalas kalimat cintanya, dan itu membuat Soojung semakin gusar ketika cerobong asap rumah ibu si pria mulai terlihat dari jarak satu kilometer. Ah, ia gagal untuk terbiasa. Peristiwa brengsek ini selalu membuatnya kehilangan kontrol. Ia lupa melipat tikar, ia lupa memasukan sisa-sisa roti kismis ke dalam keranjang. Yang ia ingin lakukan kala itu adalah berlari meninggalkan tempat tersebut––beserta Alpha dalam genggamannya, menemui Nyonya Kim yang tengah dilanda rasa sedih, mendekap tubuh ringkih wanita itu, lalu…

“Brengsek! Mengapa kau selalu membuatku menangis?! Anak sialan!”

Nyonya Kim sedang tak duduk di kursi goyang, kini wanita itu tengah menangis di bawah meja makan sembari memeluk sesuatu yang agaknya cukup mengerikan––dan lagi-lagi Soojung merasa gagal untuk terbiasa dengan apa yang dilihatnya.

Wanita itu menyeret kakinya dengan ragu, menghampiri Nyonya Kim dengan tangis pilunya. Kini, Alpha sudah tak ia hiraukan. Boneka beruang ungu itu tergeletak di ambang pintu––masih dengan seulas senyuman.

“Nyonya…”

Soojung berjongkok dengan rasa sesak. Nyoya Kim tak menjawab dan terus menangis. Mantel putihnya kini berhiaskan bercak merah yang mengering. Ia memeluk sesuatu sembari sesekali melempar hardikan untuk anak semata wayangnya. Hardikan rasa sesal, cinta, dan kehilangan.

“Nyonya…” Soojung menyentuh punggung si wanita yang bergetar hebat. Kedua maniknya tak sanggup melihat apa yang ada di hadapannya.

“Soojung! Kapan semua ini akan berakhir? Kaupikir, adalah hal yang menyenangkan melihat orang yang kaucintai menghadapi kematian tidak jelas secara terus-menerus?!” Nyonya Kim sudah terlalu kacau lalu melempar potongan kepala Myungsoo ke lantai….

Manik pria itu mengeluarkan air mata. Hati Soojung seakan dikoyak pisau berkarat. Pedih dan linu. Rasanya ia ingin menangis, hanya saja tidak bisa. Maka sebagai gantinya, ia pun tertawa sekencang yang ia bisa.

“Myungsoo!” pekik Soojung.

Wanita itu beranjak dari tegel hijau dan berlari––masih dalam keadaan tertawa. Tawa sakit yang tak pernah bisa manusia mana pun lakukan. Sepasang kakinya bergerak dalam kecepatan sedang, menginjaki rerumputan berwarna peach yang sedari tadi ikut menangisi kematian Kim Myungsoo.

Masih dengan tawa yang menguasai, hidung mancungnya kini mencium aroma anyir yang semakin lama semakin kentara. Sepasang kakinya tak bisa berhenti berlari, kini ia mulai memasuki gurun yang dipenuhi potongan tubuh Kim Myungsoo.

Tawa Soojung semakin kencang. Rasa bencinya terhadap Kim Sunggyu kian memuncak. Namun sialnya, ia tak pernah bisa menolak ketika pria itu menghadiahinya granola saat transaksi roti kismis berlangsung. Persetan dengan tatapan teduhnya! Pria itu biadab. Kim Sunggyu kepalang brengsek, kendati ia cukup berbakti kepada sang ayah. Cih!

“Apa ejaan namanya sudah benar?”

Pria itu mengangguk.

“Tanggal lahirnya?”

Pria itu mengangguk lagi.

“Tanggal kematiannya?”

Kali ini ia diam.

Wanita di sampingnya tersenyum lega. Menganggap aksi diam si pria adalah baik-baik saja. Ia menggenggam tangan Myungsoo dan meremasnya ringan. “Kalau begitu, kita pulang ya? Kau pasti rindu ‘kan mendengar lagu-lagu Olivier Messiaen?”

Myungsoo tidak menjawab. Pria itu membuang napas keras, enggan beranjak dari tempat sakral tersebut.

“Myungsoo, kau mendegarku ‘kan? Ayo pulang!” pinta si wanita sekali lagi. Kali ini remasan tangannya mengencang, seakan-akan ada hal yang membuat Soojung takut.

Warna langit kini sedikit cerah. Hijau apel––bukan warna favorit mereka berdua. Entah sejak kapan warna langit berubah, sesungguhnya sepasang kekasih itu tak mau tahu. Myungsoo masih membisu, ada sebuah kesalahan di sana. Dan rasanya, ia ingin menyatroni Tuan Harold lalu mencongkel kedua irisnya menggunakan belati.

Ia tahu betul, ketika dalam kandungan… seseorang berbisik kepadanya bahwa angka kematiannya adalah 7. Namun, ketololan si pria bertubuh jerapah––Tuan Harold––membuat semuanya menjadi kacau. Oh, kekacauan yang mengasyikan! Angka 8 adalah neraka.

“Ayo pulang!” pria itu tersenyum seperti biasanya––bukankah memang seharusnya ia seperti itu? Entahlah.

Soojung terpaku beberapa sekon, berusaha menyadari sesuatu yang salah namun sialnya ia gagal. Okay, wanita itu kini tengah membalas senyum si pria. Keduanya beranjak dan berpandangan dalam kurun waktu yang cukup singkat.

“Soojung.” Suara Myungsoo terdengar lebih rendah dari biasanya. “Kurasa, nanti malam aku akan membakar rumah Tuan Harold.”

Wanita itu terdiam, tak paham.

“Lagi-lagi dia salah menulis tanggal kematianku. Dia menulisnya sehari lebih lambat.”

Kebisuan mengambil alih percakapan searah kedua manusia tersebut. Si wanita terdiam, kali ini bukan karena ia tak paham. Melainkan, takut. “Kau akan menjemput kematianmu lagi besok?”

Myungsoo terkekeh ringan dan mengelus ubun-ubun sang kekasih. “Ya, itu hal yang menyenangkan, bukan?”

“Myungsoo! Aku––“

“––sshh.” Pria itu mengecup bibir Soojung yang bergetar karena kesal. Kecupan manis di tiga detik pertama dan berlanjut menjadi sebuah ciuman rindu yang keduanya suka.

“Kita pulang?” tanya Soojung; Myungsoo mengangguk.

Dua pasang kaki jenjang itu melangkah menjauhi pusara. Mereka tertawa seperti biasa. Myungsoo bernyanyi, sementara Soojung menari tak karuan dengan tawa yang tak terlalu bagus.

“Soojung, mau mampir membeli roti?”

“Ya, ide yang cukup brilian.”

“Kau selalu bersemangat.”

“Ya, karena Sunggyu selalu memberiku bonus! Kau harus tahu itu Myungsoo…”

“Granola?”

Bingo!”

––fin. Hope you fun.

A/N: Thanks buat Fikha yang sudah bikinin poster dan juga mau diajak share tentang ff saya yang nampaknya agak gajelas ini. Hahahaha. Maaf kalau jelek, ya. Mohon review-nya! FYI, ini ff myungstal pertama saya! Ah, selamat bingung ya ;;;;

5 responses to “8

  1. *bingung*

    tunggu. jadi ini AU dimana cuma myungsoo yang menjemput kematian? kenapa? kok? sunggyu kan baik kenapa malah membunuh si myungs? dan itu menjemput kematiannya lagi besok artinya—dia mati tiap hari? *….* aku bingung sekaligus terpesona banget nih sama idenya seriusan lah =)) wah, kamu hebat banget ya nulis dengan genre seperti ini. >///<

  2. Aq ╮(╯•_•╰”)╭ ϐȋπğϋπğ.. Knp dy hrs mati berualang tgl 7 dan nt lgsg bangkit lgi.. “̮ wkwk °•(>̯┌┐<)•° wkwk "̮
    Ngeri..

  3. Pingback: Second-Lead Attack! | Little Note·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s