“The star, That couldn’t be reached”

tumblr_mq4mps5WGY1sb83i1o1_500 - Copy

 

Writen by : Aikobaby

Main Cast(s) :
Jung Soojung || Kim Myungsoo

Other Cast(s) :
Park Jiyeon|| Choi Jinri [just mentioned] || Park Chanyeol

Genre :
Romance, Hurt/comfort

Length :

Ficlet

Rating :
T

Disclaimer :

The whole story line is mine.

Summary

‘Aku terlalu menikmati waktuku sebagai secret admirer-mu.

Mengamatimu dari jauh kemudian merasakan debaran  layaknya bom atom yang siap meledak kapan saja. Aku bahagia.’

oOo

Seorang gadis berdiri dengan gugup disebuah bangunan rumah yang tidak cukup besar namun terlihat mewah. Ia meremas surat berbalut amplop berwarna baby blue. Tangannya terulur hendak memasukkan surat yang ia bawa ke dalam sebuah kotak surat yang terletak di samping pagar rumah. Ragu, ia mengurunkan niat untuk memasukkan surat itu. Sejenak gadis bersyal merah bata itu tampak sedang berpikir. Matanya terpejam, ia gigit bibir bawahnya pertanda kalau saat ini ia sedang bimbang. Desahan panjang terdengar dari sela bibir mungilnya seraya membuka mata.

“Ayo Jung Soojung kau pasti bisa..” bisiknya pada diri sendiri. 10 detik kemudian, entah mendapat keberanian darimana akhirnya ia memasukkan surat itu ke dalam kotak surat. Ia menghembuskan nafas lega, seulas senyum mengembang indah di wajah putihnya yang terlihat pucat. Gadis bernama Soojung itu kemudian meninggalkan rumah bernomor 9 yang ia hampiri tadi.

oOo

Soojung mengusap layar ponselnya dengan gusar. Ia membuka kotak pesan, lalu membuka log panggilan masuk setidaknya itulah kegiatan Soojung sejak 5 jam terakhir. Hatinya benar-benar tak karuan, sesuatu yang sedang ia tunggu tak segera datang.

“Apa dia mengabaikan suratku? Atau malah tak membacanya?” tanyanya pada diri sendiri. Raut wajahnya suram, ia benar-benar sedih membayangkan kalau surat yang ia tujukan pada seseorang itu tak diterima atau mungkin terabaikan. Soojung tersenyum kecut, mengejek dirinya sendiri yang terlihat begitu bodoh dan menyedihkan.

“Bodoh, mana mungkin dia mau menanggapimu Jung Soojung. Mengenalmu saja tidak, oh bahkan melihatmu saja dia tak pernah mana mungkin dia mau menanggapi surat murahanmu yang tidak jelas.” ia merutuki dirinya sendiri. Menyesali keputusan untuk mengirimkan confession letter untuk orang yang selama ini diam-diam ia kagumi. Tapi walaupun ada rasa sesal, ada sebuah rasa lega di dalam hati Soojung. Bagaimana tidak? Cukup lama Soojung menyimpan perasaan itu untuk laki-laki yang—Soojung tahu bernama lengkap Kim Myungsoo.

Soojung merebahkan tubuh ke kasur. Ia pejamkan mata sejenak sedangkan pikirannya melayang jauh di kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia pertama kali melihat lelaki bermarga Kim itu. Hatinya sakit membayangkan kalau usahanya kali ini akan sia-sia seperti yang pernah ia prediksi.

“Apa kau tak mau membacanya Kim Myungsoo?” desah Soojung.

Drrrt.. drrttt..

Ponsel Soojung bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Soojung menyambar ponselnya dengan malas, sejurus kemudian ia langsung membuka short message yang ia dapat. Soojung terpana tak percaya dengan apa yang ia baca. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang ia tahu—terlihat dari isi pesan, itu pasti Kim Myungsoo laki-laki yang ia tunggu selama beberapa jam ini.

From ; +8261111621

Apa surat berwarna biru itu hanya sebuah dare?

Jantung Soojung berdegup kencang tatkala membaca pesan itu. Senang namun ia juga bingung harus membalas bagaimana. Untuk beberapa saat Soojung mematung. Tangannya terasa dingin bahkan pelipisnya pun mulai berkeringat.

“Aish, bagaimana aku harus membalasnya?”

Soojung memutuskan untuk mulai mengetik sebuah balasan tapi karena ia tak yakin dengan balasan yang telah ia tulis, Soojung menghapusnya. Mulai mengetik lagi, dihapus lagi begitu seterusnya sampai beberapa kali.

Tiba-tiba sebuah nomor mencoba menelepon Soojung saat ia tengah sibuk menuliskan balasan pesan untuk Myungsoo. Soojung hapal itu nomor Myungsoo yang baru saja mengiriminya short message. Soojung terkejut, tangan dan kakinya juga semakin mendingin efek dari rasa gugup yang ia alami. Soojung menarik napas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan diri, lalu menarik tanda hijau yang terpampang di layar ponsel touch screen-nya untuk menerima panggilan itu. Perlahan ia lekatkan ponsel putih miliknya ke telinga kanan.

“Y-ya?” sapanya, nada suaranya bergetar. Yang diseberang sana masih diam, belum merespon sapaan Soojung.

“Jadi kau yang mengirimkan surat itu?” suara Myungsoo mulai terdengar. Tubuh Soojung melemas, seperti dilolosi dari tulang-tulangnya. Ini pertama kali ia benar-benar dengan sangat jelas mendengar laki-laki idamannya berbicara langsung dengan dirinya. Soojung berteriak dalam hati sedangkan tangannya meremas bantal yang ia letakkan diatas pangkuannya.

“Emm.. iya..”

“Apa ini hanya lelucon?” tanya Myungsoo lagi.

“Tidak, dan itu bukan dare.”

“Oh, maaf aku kira kau salah satu dari temanku. Bisakah kita bertemu?”

Soojung terperanjat kaget. Ini diluar apa yang pernah ia duga. Ia terdiam, masih mengatur hatinya yang serasa diaduk tak karuan.

“Hey, nona Jung? Apa kau masih disana?” karena tak ada jawaban Myungsoo mencoba memastikan kalau kalau Soojung mematikan telepon.

“Ah, y-ya tentu saja. Sekarang?” jawab Soojung. Kini tawa Myungsoo terdengar dari seberang telepon.

‘Ya Tuhan tawanya sangat indah. Aku hampir gila..’ batin Soojung.

“Tentu tidak, ini sudah cukup larut. Besok mungkin?”

“Oh, baiklah. Kau tahu Sweet Sea Cafe?”

“Tak terlalu jauh dari rumahku, baiklah kita bertemu disana besok sekitar jam 5 sore.”

“Tidak tidak, m-maksudku kita bertemu di taman di dekat Sweet Sea Cafe,” Soojung membenahi posisi duduknya.

“Kalau begitu sampai jumpa besok sore, nona Jung,” Myungsoo mengakhiri sambungan telepon. Sementara Soojung, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur. Perlahan bibirnya tertarik melengkungkan sebuah senyum, senyum kebahagiaan. Ia tak sabar menunggu perjumpaan dengan Myungsoo. Berulang kali bibirnya menyebut nama Kim Myungsoo sampai ia mulai terlelap.

oOo

Siluet senja mulai tampak di hamparan langit, menegaskan kesan kuning jingga yang indah dan menawan. Segerombol burung terlihat tengah terbang untuk pulang menuju sarangnya sebelum hari mulai gelap.

Sore itu, Soojung sedang mengayunkan tubuhnya dengan tempo yang lamban di sebuah ayunan taman di dekat Sweet Sea Cafe, tempatnya bekerja. Sesekali ia mengusap tangannya untuk sekedar menghangatkan telapak tangan yang terasa dingin. Ia rekatkan lagi mantel yang ia kenakan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman lalu melirik jam tangan putih yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Sejak satu jam yang lalu Soojung sibuk menunggu seseorang di taman itu, namun hebatnya ia masih belum mau menyerah.

Seseorang tiba-tiba menepuk bahunya perlahan. Soojung sedikit tersentak kaget dan refleks menengok ke belakang. Kim Myungsoo, lelaki itu kini berdiri dibelakang Soojung yang masih duduk di ayunan. Ia tersenyum simpul pada Soojung yang beranjak dari ayunannya dan membalas senyum Myungsoo dengan wajah yang sedikit kikuk.

“Kau Jung Soojung?” tanya Myungsoo memastikan, Soojung menganggukkan kepalanya. Suasana tampak awkward. Tentu saja, mereka belum pernah bertatap muka sebelum ini. Myungsoo mengernyit, berusaha membongkar memorinya. Mencoba mengingat kalau saja ia pernah melihat gadis bermata teduh itu sebelumnya namun nihil, ini memang pertama kali ia melihat sosok Jung Soojung.

“Maaf membuatmu menunggu lama, aku lupa kalau hari ini kelasku baru selesai jam lima sore,” Myungsoo membungkukkan badannya sedikit untuk meminta maaf.

“Oh, tak apa-apa tak perlu seformal ini. Aku tau kau pasti sibuk, aku juga belum lama sampai di sini,” bohong Soojung.

“Hidungmu memerah, kau pasti kedinginan. Di dekat sini ada kedai mie ramen, bagaimana kalau kita mengobrol disana saja?” tawar Myungsoo padanya. Soojung menyentuh hidungnya yang terasa dingin, lalu mengiyakan ajakan Myungsoo.

Mereka berjalan beriringan meninggalkan taman yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka. Selama menuju kedai ramen yang tak begitu jauh dari tempat mereka semula, keduanya saling terdiam. Tak ada sepatah katapun yang keluar untuk memecah keheningan. Soojung tak berani mengatakan apapun juga, hatinya terlalu diliputi kebahagiaan saat itu. Seolah-olah seperti sebuah genderang yang ditabuh bertalu-talu. Tak pernah ia sangka kalau hari itu akan tiba, hari dimana dia akan berjalan disamping Myungsoo. Hari dimana ia bisa memandang Myungsoo lekat-lekat, dan hari dimana ia bisa berbincang dengan Myungsoo. Tak ada lagi jarak diantara mereka, tak sejauh sebelum ia mengatakan pada Myungsoo bahwa Jung Soojung adalah secret admirer-nya.

Soojung diam-diam melirik Myungsoo yang memandang lurus kedepan tanpa ekspresi, wajahnya memanas seketika. Ia segera menundukkan kepala, khawatir jika Myungsoo memergoki Soojung sedang mengamati wajahnya.

‘Aku tak pernah menyangka kalau ternyata ia setampan ini,’ puji Soojung dalam hati.

Sesampainya di kedai ramen Myungsoo segera memesankan dua mangkuk ramen dan dua gelas minuman untuk mereka. Lalu mereka memilih tempat untuk mereka berbincang sambil menikmati makanan.

“Jadi sejak kapan kau mulai mengamatiku?” Myungsoo memulai pembicaraan.

“Aku tak pernah ingat kapan pastinya, tapi seingatku semenjak aku mendengar kau putus dengan kekasihmu yang bernama Bae Sueji,” jawab Soojung sambil mengaduk ramen yang kini telah terhidang di meja.

“Wow, itu sudah sangat lama,” Myungsoo terenyak, sedikit tak percaya. “Itu bahkan sekitar 2 tahun yang lalu, bukan?” lanjutnya.

Soojung menyeringai menanggapi pertanyaan Myungsoo, “Ya begitulah..”

“Sueji yang memberi tahumu?” tanya Myungsoo lagi. Nampaknya hari itu Myungsoo sedang mengadakan wawancara eksklusif dengan Soojung sebagai guest star.

“Tidak, aku bahkan tak mengenalnya. Aku hanya mendengar seseorang menceritakan tentang masalahmu dengan nona Bae,” Soojung menyesap minumannya, ia usahakan agar pandangannya mungkin tidak bersingungan dengan mata Myungsoo. Bisa mati kaku karena gugup, begitu pikir Soojung.

Myungsoo mengernyitkan dahinya, ”Seseorang, siapa dia?” Ia benar-benar penasaran dengan gadis si pengagum rahasianya itu. Seperti apapun ia memutar otak, ia masih tetap tak habis pikir bagaimana gadis itu bisa menyukainya bahkan tahu mengenai masalah Myungsoo dengan mantan kekasihnya dua tahun yang lalu.

“Aku tak bisa mengatakannya..” elak Soojung.

“Oh ayolah, aku benar-benar ingin tahu,”pinta Myungsoo. “Hei, aku perhatikan sejak tadi kau tak pernah mau menatapku. Come on, I ain’t bite you, anyway.”

Soojung tertawa perlahan mendengar candaan Myungsoo. Lalu ia memberanikan diri untuk menatap lelaki berkulit sedikit gelap yang masih tetap memancarkan ketampanannya entah bagaimanapun itu.

“Kau tak akan pernah tahu bagaimana malunya berada di posisiku Myungsoo-ssi.”

“Hahaha, mulai sekarang cobalah untuk bersikap santai di depanku. Karena setelah ini mungkin kita akan sering bertemu,” Myungsoo tersenyum, matanya memandang kedua manik mata Soojung mengartikan sesuatu yang belum bisa Soojung pahami. Jantung Soojung berdegup tak beraturan lagi, ia meremas sumpit yang ada di genggamannya.

“A-akan sering bertemu?”

“Aku pikir, kita bisa berteman atau mungkin lebih dari sekedar itu?”

“Lebih? Apa maksudmu? Aku tak mengerti..” dahi Soojung mengernyit. Entah dia memang tak mengerti atau hanya mencoba meminta Myungsoo mempertegas apa yang ia katakan.

“Ya, hanya jika semuanya bisa berjalan dengan baik. Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”

‘Apa, apa maksudnya? Kalau yang dia maksud adalah… tetap saja aku masih belum mengerti.’

“Tapi, aku perlu tahu.. Apa kau akan baik-baik saja jika aku terlihat begitu dekat dengan sahabatku?” tanya Myungsoo lagi. Soojung tertawa kecil mendengarnya.

“Myungsoo-ssi aku tahu tentang betapa dekatnya dirimu dengan sahabat-sahabatmu sejak awal aku mendengar tentang dirimu. Sebatas yang aku tahu kau tipe orang yang setia dengan sahabatmu, jadi aku tak masalah. Lagipula untuk apa kau menanyakan itu padaku, hm? Aku hanya seorang pengagum rahasiamu yang sudah memberanikan diri untuk muncul dihadapanmu langsung. Jadi kurasa itu bukan masalahku,” jelas Soojung.

“Aku ingin memulainya, maksudku tentang kita. Setelah ini kau mungkin bukan lagi secret admirer-ku Soojung-ssi,”

Soojung terdiam mendengarnya. Lagi-lagi dia tak mengerti apa yang Myungsoo maksud. Otaknya kini dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan mengenai maksud dari ucapan Myungsoo. Bukannya bodoh, dia hanya takut apa yang Soojung tangkap dari kata-kata Myungsoo itu tak akan sama dengan apa yang sebenarnya Myungsoo maksudkan. Soojung tipe orang yang lebih mengedepankan pikiran negatif dibandingkan berpikir positif.

Myungsoo mengedikkan bahunya sembari terkekeh, kemudian mulai memakan ramennya yang sejak tadi belum tersentuh. Sedangkan Soojung hanya memandang kearah Myungsoo penuh tanya.

Drrrtt.. drrtt… ponsel Myungsoo nampak bergetar.

“Tunggu sebentar, temanku menelepon..” ijinnya pada Soojung yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan kepala. Setelah Myungsoo sedikit menyingkir dari tempat mereka duduk, Soojung sibuk dengan pikirannya sendiri. Banyak pertanyaan di benaknya, ia agaknya bimbang. Antara bahagia bercampur heran apa benar itu keputusan Myungsoo, ia masih belum percaya.

Soojung mengembuskan napas berat, sambil mengaduk mie ramen yang mulai mendingin. Satu hal juga sedikit mengganggu pikirannya. Namun tak dapat ia utarakan pada siapapun. Seperti itulah Soojung, mengatakan apa yang ia rasakan adalah masalah utamanya. Ia tak pintar untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana perasaannya, apa yang sedang ia rasakan.

Decitan kursi di depan Soojung membuyarkan lamunanya. Myungsoo ternyata sudah kembali ke meja mereka. Soojung melanjutkan makannya yang sedikit tertunda. Sedangkan Myungsoo hanya mengamati Soojung lekat-lekat sambil bertopang dagu. Merasa seperti sedang di awasi, muka Soojung memerah dan sedikit salah tingkah. Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah Soojung yang justru menurutnya amat manis.

“Soojung..” panggil Myungsoo.

“Hm?” tanpa mengalihkan pandangan pada Myungsoo, Soojung menyahut.

“Apa yang kau suka dariku selama ini?” pertanyaan itu membuat Soojung menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menerawang, mencari jawaban atas pertanyaan Myungsoo.

‘Iya. Kenapa aku menyukainya?’

“Jangan tanya kenapa, aku sendiri juga tak tahu. Aku hanya mendengar beberapa cerita tentangmu dari salah satu teman dekatku. Aku pernah melihatmu di satu tempat hanya saja kau tak pernah melihatku. Entah kenapa sejak saat itu aku suka mengamatimu dari jauh. Aku benar-benar ingin menyapamu dan mencoba mendekatimu tapi aku takut. Aku takut kalau kau mengabaikanku.”

“Kau ini orang yang paranoid,” tebak Myungsoo.

“Ya aku memang seperti itu. Sebelum kau datang, aku berpikir kalau kau memang tak berniat menemuiku. Aku hampir putus asa,” Soojung tersenyum kecut. Mendengar itu, Myungsoo kembali tertawa sambil mengacak rambut Soojung. Lagi-lagi jantung Soojung berdegup kencang, seorang Kim Myungsoo menyentuh rambutnya.

“Cobalah untuk melawan ketakutan dan pikiran negatif yang kau ciptakan sendiri,” ujar Myungsoo menasehati gadis yang mengenakan mantel cokelat itu.

“Kai, hey! Disini kau rupanya,” sesosok gadis tiba-tiba datang ke meja mereka dan memanggil Myungsoo dengan panggilan ‘Kai’, nama yang sering digunakan teman-teman dekat Myungsoo untuk memanggil Myungsoo. Soojung mendongakkan kepala menatap gadis cantik yang kini tengah berdiri di dekat meja mereka. Rambutnya panjang berwarna cokelat almond yang tidak begitu terang. Wajahnya terlihat cantik dengan eyeliner yang terlukis jelas di kedua matanya. Cara berpakaian yang fashionable, berbeda sekali dengan Soojung. Soojung merasa dirinya berada jauh diantara Myungsoo dan gadis itu.

“Oh kau sudah datang,” Myungsoo berdiri dari duduknya. Soojung masih terduduk seperti semula sambil menatap kedua makhluk dihadapannya, merasa bodoh. “Soojung kenalkan ini..”

“Kai, Oh my God! Kita tak punya waktu banyak ayolah,” rengek gadis berambut cokelat almond itu sambil menarik lengan Myungsoo yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya.

“Hey tapi..” Myungsoo mencoba mengelak.

“Ah tak apa, pergilah. Temanmu sudah menunggu lama sepertinya.” Soojung ganti menyahutnya.

“Nah, kan. Dia saja tak apa-apa. Yang lain sudah menunggumu Kai,” kata gadis itu lagi. Myungsoo akhirnya mengalah.

“Baiklah, aku pergi dulu. Kau benar tak apa-apa Soojung ssi?” tanya Myungsoo pada Soojung. Wajahnya nampak sedikit khawatir. Soojung mengangguk dan tersenyum. “Tunggu aku 1 menit lagi, aku akan segera menyusul,” lanjut Myungsoo berbicara pada gadis disampingnya.

“Hanya 1 menit! Tak lebih, oke?” Gadis itu menatap ke arah Soojung sejenak sebelum akhirnya ia pergi menunggu Myungsoo diluar kedai. Perasaan Soojung mulai tak nyaman, tapi ia hanya bisa diam.

“Maaf kalau aku mengacaukan pertemuan kita. Aku janji aku akan menghubungimu nanti. Aku harus pergi sekarang. Dan ah, ini..” Myungsoo melepas syal berwarna krem yang sejak tadi ia kenakan di lehernya, ia mendekati Soojung dan sedikit membungkukkan badan mencoba menyejajarkan tubuhnya dengan Soojung yang masih duduk. Dikenakannya syal itu pada leher Soojung. Sedetik kemudian Myungsoo mengecup pipi kiri Soojung, membuat Soojung terperangah dengan tindakan tak terduga Myungsoo. Perut Soojung tiba-tiba terasa dipenuhi banyak kupu-kupu seiring dengan semburat merah yang mulai merebak di wajahnya. “Cepatlah pulang, Soojung-ah. Sampai jumpa nanti,” senyuman manis Myungsoo mengakhiri perjumpaan mereka malam itu. Soojung masih terpaku di tempatnya. Masih mencoba mengumpulkan segala kesadaran sambil menatap punggung Myungsoo yang semakin menjauh. Soojung menyentuh dadanya, bisa dirasakan degupan nyata disana.

Mata Soojung beralih ke kedua mangkok ramen di mejanya bergantian, lalu menatap lama mangkok milik Myungsoo yang menyisakan banyak ramen, “Kita bahkan belum sempat makan bersama, Myungsoo..” Tanpa menghabiskan sisa ramennya, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ibu pasti telah menunggu sedari tadi, pikirnya.

oOo

Sinar pagi hari menyeruak masuk ke kamar Soojung melalui lubang-lubang ventilasi dan celah-celah di antara gordin jendela kamarnya. Soojung perlahan membuka mata, mengerjap sebentar untuk menormalkan pandangan.

Sesaat setelah kesadarannya kembali, ia bangun dari tempat tidurnya. Terduduk di atas dipan sambil melamun. Ia memikirkan hal-hal yang terjadi seminggu ini setelah pertemuannya dengan Kim Myungsoo. Kini Soojung tak lagi berstatus sebagai Myungsoo’s secret admirer melainkan kekasih Myungsoo. Terhitung sejak pertemuan mereka yang kedua, yang sebenarnya merupakan kencan pertama mereka.

Pikiran Soojung melayang ke hari dimana Myungsoo meminta Soojung menjadi kekasihnya. Tapi di waktu yang sama pula Myungsoo membuat pengakuan yang membuat Soojung merasa perasaannya hancur seketika.

“Semalam itu siapa?” sambil berjalan di sekitar Namsan Tower Soojung memberanikan diri untuk bertanya pada Myungsoo mengenai gadis berambut cokelat almond. Hari itu hari sabtu, malam setelah mereka bertemu di kedai mie ramen Myungsoo menelepon untuk mengajak Soojung berkencan keesokan harinya.

Dia salah satu sahabatku yang too stand up,” jawab Myungsoo, tangannya sibuk mengamati gembok-gembok kecil bermacam warna yang dijual di sekitar area Love Locks tempat sepasang sejoli menuliskan nama mereka masing-masing di dua buah gembok yang dikaitkan satu sama lain lalu digantung. Berharap hubungan mereka akan abadi dan terkunci ibarat dua gembok yang saling terpaut.

Apa dia yang bernama… Jiyeon?” tanya Soojung lagi dengan suara yang sangat lirih ketika mengucap sebuah nama sambil menatap Myungsoo disampingnya. Pertanyaan itu sontak membuat Myungsoo memandang Soojung dengan pandangan terheran.

“Wah, kau sudah tau namanya?”

“Temanku yang menceritakan tentangnya, aku juga tahu kalau dia.. kau, emm..” Soojung tak berani melanjutkan kalimatnya.

“Sebenarnya siapa temanmu itu?”

“Dia.. Choi Jinri, tetanggamu.”

“Oh dia, aku tak begitu mengenalnya dengan baik.”

“Myungsoo…”

“Hm?”

“Apa kau menyukainya? Maksudku Park Jiyeon.”

Myungsoo terdiam nampak berpikir sejenak, ia bingung harus mengatakannya bagaimana,“Iya, aku menyukainya…”

Soojung memegangi dadanya sambil tertunduk dalam. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai menutupi wajah. Tangan kirinya meremas selimut yang sedikit terlihat berantakan. Ia rasakan hatinya sakit, pilu, layaknya terhujam sebilah pisau, tertancap sangat dalam. Isaknyapun mulai terdengar samar-samar. Soojung memukul bagian dada yang sakit, berpikir untuk menghentikan tusukan-tusukan tajam di dalam. Namun ternyata tak menghasilkan apapun yang lebih baik. Semakin ia berusaha melupakan dan meredakan kepedihan yang ia rasa, semakin ia mengingat pula apa yang Myungsoo katakan seminggu yang lalu. Ia berusaha untuk berpura-pura kalau dirinya baik-baik setelah kejadian itu tapi tidak, sejujurnya ia hancur.

Bagaimanapun juga Soojung tahu seberapa dekat mereka, seberapa besar perhatian Myungsoo pada gadis yang bernama Park Jiyeon, sahabatnya. Bahkan sempat mendengar kalau Myungsoo, Kim Myungsoonya menaruh hati pada Jiyeon. Soojungpun bisa merasakan kalau sebenarnya Myungsoo punya perasaan lebih terhadap sahabat tersayangnya itu. Terlalu naif jika Soojung berkata ia baik-baik saja. Tidak, ia sakit.

Soojung menangis meraung-raung tatkala rentetan memori tentang Myungsoo berputar secara berurutan di dalam kepalanya bagaikan sebuah film yang diputar ulang. Teringat kala dirinya sedang membuntuti Myungsoo di sebuah toko buku beberapa tahun lalu dan semua upaya untuk bertahan menyukainya dua tahun ini tanpa Myungsoo tahu keberadaannya, kenangan indah setelah bertemu dengan Myungsoo, debaran jantung yang ditimbulkan oleh Myungsoo, kebahagiaan yang Myungsoo hadirkan dalam hidupnya hingga kesakitan yang sukses menghancur leburkan harapan Soojung sekejap mata. Soojung terduduk di lantai, memeluk lutut sementara tangisnya belum mereda.

“Kenapa? Kenapa Myungsoo.. Kenapa secepat ini? Aku baru saja menikmati kebersamaan kita. Aku baru saja berbahagia dengan hasil usahaku menunggumu selama ini.. Kenapa Myungsoo? Kenapa?” protesnya sambil tersedu-sedu. Suara tangis yang menggema ke penjuru ruangan kamar mengisyaratkan kekecewaan hati yang tak orang lain ketahui. Ibarat gelas kaca yang terpelanting ke lantai, hancur berkeping-keping. Tak mudah bagi Soojung untuk diam menyimpan rapat-rapat perasaannya sendirian dalam jangka waktu yang tak bisa dikatakan sebentar. Kesabarannya menanti dan keberaniannya untuk muncul di hadapan Kim Myungsoo setelah sekian lama ‘bersembunyi’, berada di ambang ketakutan diantara kemungkinan diacuhkan atau diterima. Ia pikir ia berhasil, ia pikir ia bisa menarik perhatian Myungsoo, ia pikir Myungsoo akan mengerti. Hatinya merasa dipermainkan. Soojung, gadis itu benar-benar rapuh.

oOo

“Soojung-ah, mau ku antar pulang?” Chanyeol teman kerja Soojung mendekatinya yang tengah mengemasi barang dari loker karyawan.

“Erm.. tidak usah oppa aku tak ingin merepotkanmu lagipula aku harus mampir sebentar membeli makanan untuk ibuku,” tolak Soojung halus. Raut wajah Chanyeol menyiratkan sebuah kekecewaan. Tapi untuk beberapa hari ini Soojung memang sedang ingin sendiri.

Chanyeol berdehem, “Ehem, baiklah kalau begitu,” Chanyeol melenggang pergi meninggalkan Soojung yang diikuti dengan tawa kecil Soojung melihat tingkah Chanyeol, kebiasaannya ketika kecewa bercampur kesal.

Setelah selesai membereskan barangnya, ia segera keluar dari Sweet Sea Cafe untuk pulang. Malam mulai larut, jalanan sekitar cafe nampak sedikit lengang dan Soojung berjalan sendirian sambil melamun. Langkahnya terhenti ketika ia melawati sebuah taman. Taman dimana ia pertama kali membuat pertemuan dengan Myungsoo. Rasa sesak seketika menghimpit dada Soojung, ia sulit bernapas dengan benar. Matanya terasa kehilangan fokus akibat genangan air mata yang mendesak berlomba-lomba untuk keluar.

‘Tidak, tidak boleh ada air mata lagi Soojung!’

“Aku tahu kau merindukanku Jung Soojung,” dari arah belakang muncul sebuah suara yang tak asing lagi di telinga Soojung. Ya, itu Kim Myungsoo, laki-laki yang sukses membuat hati Soojung kacau balau akhir-akhir ini.

Soojung memutuskan untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin, tapi sayang tangan kekar milik Myungsoo menahan langkahnya.

“Lepaskan!” perintah Soojung dingin. Myungsoo tak bergeming sedikitpun. Semakin Soojung berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, semakin erat pula Myungsoo menggenggam pergelangan kiri Soojung.

“Aku tak akan melepaskanmu sebelum kau mengatakan padaku kenapa akhir-akhir ini kau menghindar dariku Soojung,” tegas Myungsoo. Ia menarik Soojung untuk lebih dekat dengan dirinya.

“Hah,” Soojung mendengus kesal. “Apa semuanya kurang jelas bagimu? Jangan dekati aku lagi. Jangan hubungi aku lagi, aku tak akan menganggumu mulai sekarang,” Soojung menatap Myungsoo datar tanpa ekspresi.

“Apa salahku?”

“Kim Myungsoo dengarkan aku, aku tak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Suratku bukan berarti I desperately begging you to be with me. Aku tak pernah bermaksud memintamu untuk berpura-pura mau menerimaku. Jadi lebih baik mulai saat ini aku menarik diri darimu. Kembalilah padanya, tinggalkan aku.” Satu sentakan sukses melepaskan tangannya dari genggaman Myungsoo. Atau mungkin Myungsoo memang sengaja membiarkannya lepas karena ia terlalu terkejut dengan rentetan kalimat Soojung yang baru saja terlontar.

“Soojung.. Aku—”

“Aku sadar aku bukan siapa-siapa, dari awal hingga sekarang. Rasanya konyol jika aku tiba-tiba datang dan berharap kau bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu. Dan apalagi yang kau lakukan kalau bukan hanya untuk bermain-main denganku? Kau belum lama mengenalku tapi kemudian menawarkanku menjadi kekasihmu, mengasihaniku? Maaf aku tak butuh itu,” potongnya seraya tersenyum kecut.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya, I really meant it! Aku tidak  main-main Soojung. Aku juga tidak berpura-pura atau menipumu. Aku menyukaimu, aku tertarik padamu. Aku saja bisa menerima kehadiranmu, can’t you accept me back?”

“Tidak, kau dan..” Soojung menahan isak tangisnya, menahan himpitan rasa nyeri di dalam dadanya. “Dan Jiyeon, kalian saling mencintai, bukan? Jadi kembalilah padanya. Kau tak akan mendapat apapun dariku, Myungsoo. Seperti aku yang tak mendapat apapun dari penantianku sekian lama. Selamat tinggal..” Soojung segera meninggalkan Myungsoo yang terpaku di tempatnya berdiri. Myungsoo tertegun tak percaya kalau gadisnya  mengatakan kalimat yang sukses mengiris perih hatinya, entah bagaimana bisa tapi Myungsoo benar-benar merasakan sakit atas keputusan sepihak dari Soojung.

Myungsoo menatap Soojung yang berjalan menjauh darinya. Ia berniat untuk membiarkan Soojung pergi namun tiba-tiba saja kepalanya penuh dengan bayangan bagaimana setelah ini ia tak dapat melihat Soojung di dunianya lagi. Tak ada lagi gadis dingin yang sebenarnya berhati lembut, dengan pribadi yang hangat. Tak ada lagi canda tawa serta senyuman tulus dari Soojung yang sukses meluluhkan hati Myungsoo setelah sekian lama ia tak merasakan jatuh cinta lagi. Tak akan lagi ucapan selamat dan semangat pagi yang akan membuatnya mengawali hari dengan senyuman. Tak ada lagi pengagum rahasia yang menyimpan begitu banyak perhatian dan cinta untuknya. Myungsoo seakan tak siap membayangkan semua itu. Tidak, ia tak ingin Soojung menghilang.

“Tidak, ini tak boleh terjadi.”

Myungsoo sejenak memijit kepalanya yang sedikit ngilu kemudian segera berlari menerobos dinginnya malam. Berlari untuk berjuang mempertahankan apa yang benar-benar sudah menjadi pilihan dan keputusannya. Ia tak akan melepaskan semua itu, tidak untuk saat ini.

Ia menangkap sosok itu, gadisnya sedang duduk termenung di halte bus sambil terlihat melamun entah apa yang ia lamunkan. Myungsoo yang berjarak tak terlalu jauh segera menghampiri. Sadar akan sebuah bayangan mendekat, Soojung mendongak dan mendapati Myungsoo kini telah berdiri di hadapannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Keringat mengalir dari dahinya yang terlihat mengkilat. Sejurus pandangan mereka berserobok, Soojung membuang muka.

“Apa lagi sekarang?” tanya Soojung ketus.

“Sekarang kau yang harus mendengarkan aku Jung Soojung! Aku tak ingin kau pergi. Aku ingin bersamamu dan aku akan berjuang agar kau mau menerimaku.”

“…” hening, tak ada jawaban dari Soojung, nampaknya ia tak ingin mendengarkan apapun lagi.

“Aku mohon jangan pergi..”

“Hentikan!” potongnya.

“Aku menyayangimu, aku mencintaimu meskipun belum sebanyak yang kau punya untukku but I will, I will grant your wish. Mungkin kau tak habis pikir kenapa bisa secepat ini tapi memang seperti ini adanya. Aku jatuh cinta padamu. Jantungku berdetak lebih cepat diatas normal saat aku membaca suratmu. Aku menikmati setiap kata-kata yang kau tuliskan. Aku menikmati setiap momen denganmu. Percayalah,” terang Myungsoo. Soojung menutup mulut, mencoba menyembunyikan isak tangis yang mulai terdengar. Ia tak ingin menangis di hadapan Myungsoo. Ia tak ingin Myungsoo tahu bahwa sebenarnya Soojung juga sangat menginginkan Myungsoo berada di sisinya.

Myungsoo berlutut di hadapan Soojung, mengusap lembut rambut Soojung penuh kasih sayang. Beruntung Soojung tak melakukan perlawanan kali ini. Namun justru perlakuan Myungsoo membuat isak tangisnya mengencang. Tak tega membiarkan kekasihnya menangis, Myungsoo merengkuh Soojung ke dalam pelukan.

“Percayalah padaku, aku tak akan menyia-nyiakanmu Soojung-ah,” ujarnya menenangkan Soojung.

“Aku takut, aku selalu tersakiti,” bisik Soojung di sela isak tangisnya. Dari situ Myungsoo bisa merasakan seberapa rapuh sosok yang telah membuat ia luluh.

“Kau pasti benar-benar terluka. Seandainya aku bisa mengurangi rasa sakitmu,” Myungsoo mengecup kening Soojung.

Sekonyong-konyong Soojung menangis dengan keras di dada bidang Myungsoo dan memeluk laki-laki itu seerat yang ia bisa. Ia tak peduli lagi jika akan ada banyak orang yang menatapnya sedang menangis di halte bus. Tangisannya membahasakan seribu rasa sakit yang selama ini ia rasakan sendirian. Myungsoo hanya bisa membiarkan Soojung menumpahkan segala lara yang ia simpan dan mengelus punggungnya agar setidaknya merasa nyaman.

“Kau hanya perlu menerimaku. Tanpa harus memahami, tanpa harus berpikir bagaimana semuanya bisa terjadi secepat ini. Hanya satu hal yang perlu kau mengerti, aku disini untukmu sayang. Jadi tetaplah bersamaku dan mulai menerima keberadaanku. You shouldn’t have to push me away,” pinta Myungsoo tulus setelah Soojung terlihat lebih tenang.

Soojung melepaskan pelukan mereka dan menatap Myungsoo, “Berikan alasan mengapa aku harus memercayaimu?”

Myungsoo tersenyum, ia gerakkan ibu jari miliknya mengusap sisa-sia air mata Soojung dengan lembut. Matanya masih tak beralih sedikitpun dari manik mata cokelat milik Soojung. Sejurus kemudian, ia mempersempit jarak dengan Soojung. Myungsoo memutar kepalanya sedikit condong ke samping 15 derajat.

Membaca situasi yang sedang terjadi, wajah Soojung memanas. Tubuhnya kaku seperti terkunci. Hingga tak terasa kini bibir dingin Myungsoo telah menyentuh permukaan bibir Soojung. Soojung memejamkan matanya, tak melawan namun tak juga membalas, yang ia tahu ia menikmati itu. Kini ia bisa merasakan ketulusan Myungsoo lewat ciuman pertama mereka.

“Apa ini kurang sebagai alasan?” Myungsoo mengerling nakal menggoda Soojung dan berakibat sebuah pukulan mendarat di lengan Myungsoo. Soojung menutupi wajahnya yang memerah. “Hey nona Jung, apa yang tadi itu kurang?” Myungsoo tetap menggodanya.

“Yaa! Kau ini, berhenti menggodaku,” rengek Soojung. Myungsoo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Soojungnya yang manis.

“Kau mirip Tsundere,”

“Siapa dia? Simpananmu? Kekasihmu? Atau mantanmu?”

Lagi-lagi Myungsoo tergelak mendengar pertanyaan Soojung. Myungsoo hanya mengedikkan bahu dan berjalan meninggalkan Soojung yang kini tengah menyerangnya dengan pertanyaan yang sama.

“KIM MYUNGSOO! HEY JAWAB AKU, YAA! AISH, KIM MYUNGSOO AWAS KAU! MYUNGSOO TUNGGU AKU, KAKIKU SAKIT.. AAAAH KAU JAHAAAAT.”

oOo

‘Kau ibaratkan bintang yang ada di langit. Aku bisa melihatmu selamanya tapi mustahil untuk kudapatkan. Tapi nyatanya sekarang kau disini, di hadapanku, di pelukku. Aku dengar bisikanmu, aku bisa menyentuhmu semauku.

Hari ini akan tetap sama seperti sebelumnya, seperti dua tahun yang lalu. Atau bahkan lebih, aku mencintaimu.’

-FIN-

 

A/N;

Hai, ini FF lama tak berjumpa hehehe… Ini termasuk FF comeback aku setelah hiatus panjang selama setahun wqwqwq.

Rencana sih FF ini mau aku bikin sequel tentang perjalanan hubungan mereka sama side story gimana awal kok bisa si Soojung suka sama Myungsoo. Tergantung peminat ya, kalau memang ada yang mau dibikin sequel komen ke cerita yang sama klik disini Gamsahamnida o/

 

15 responses to ““The star, That couldn’t be reached”

  1. allo!
    ini kok semacem kisah pribadiku sih (ktapi endnya gak ;__;) dan karena itu aku nikmatin bannnget bacanya.
    eh? itu kok temennya panggil kai? terus bilang suka sama jiyon? bentar otakku llama dan aku perlu updgrade/lupakan

  2. Kren smph ff’y, spat soojung di sni sma bgt kek drku. Paranoid bgt, itu drku bgt jdi nkmatn bgt bca f’y. Buat ff myunggstal lgi yya thor,,

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s