Black City ( Chapter 1 of 2 )

black city copyBLACK CITY

Title: Black City ( Chapter 1 of 2 ) | Author : Megumi (@0729yes) | Casts: Kim Myungsoo (Infinite), Jung Soojung ( Fx )  | Genre: Romance, sad, Drama. | Duration: TwoShoot| Rating : PG-17

.

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya J RCL

.

.

Summary :

Hidup itu Bernafas, Bernafas itu kebutuhan, Kebutuhan itu percaya, Percaya itu bahagia, Bahagia itu cinta, Cinta itu … kehidupan

.

.

.

            “sudah kukatakan jangan pernah temui aku lagi. Aku mohon” ujar seorang gadis yang berpakaian seperti seorang pelayan cafe. – Jung Soojung.

“aku tidak bisa” ketus pria dihadapan soojung itu.

Soojung mendengus sebal, kemudian ia menghela napas dan melihat serta menangkap manik mata pria dihadapannya yang masih dengan setia memberi tatapan tajam padanya.

Manik mata mereka pun bertemu. Mata elang sang pria menatap lekat kedua manik mata indah nan sendu milik soojung. Soojung yang ditatap seperti itu hanya mampu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Matanya pun seolah terkunci oleh tatapan pria dihadapannya. Bukan karena takut, tapi soojung menangkap hal lain dari tatapan dingin nan tajam itu. Kesedihan? Kecewa? Khawatir? Marah? Atau entah apa itu. Yang jelas soojung merasakan sesak didalam dadanya melihat tatapan itu.

Setelah keheningan terjadi dan hanya perang pandang yang kedua anak manusia itu lakukan. Akhirnya soojung memberanikan diri membuka suara.

“Kiii..mm Myung..soo” ujarnya terbata dengan mata masih memandang lekat mata elang pria dihadapannya. Kim Myungsoo

“berhenti bekerja ditempat ini” ujar myungsoo

“myungsoo-ah.. ak.-

“sudah kubilang berhenti. Apa kau tuli?. Kau harus mendengarkanku jung soojung” myungsoo dengan cepat menginterupsi perkataan soojung yang belum tuntas. Bahkan kini nada suaranya sedikit meninggi.

Soojung menunduk lemah, “baiklah jika itu yang kau mau” ujar soojung pada akhirnya. Ia pun berbalik dan melenggang kearah ruangan khusus staff cafe itu.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya heran, semudah itukah? Apa dia baik-baik saja? Apa aku terlalu keras? Arghh  gerutu myungsoo pada diri sendiri. Ia pun memutuskan keluar dari cafe itu dan menunggu soojung didalam mobilnya.

Tak lama myungsoo menunggu. Gadis bernama soojung itu keluar dari cafe, ia sudah berganti pakaian dan tidak lagi mengenakan pakaian pelayannya. Ia mendesah sebelum akhirnya masuk kedalam mobil myungsoo dan mendudukkan diri di kursi penumpang depan disebelah myungsoo.

Myungsoo menolehkan pandangannya pada soojung yang sudah duduk manis disampingnya. Gadis itu hanya diam dan membuang muka menoleh kearah luar jendela. Menyadari sikap itu, myungsoo menghela napas berat. Tangannya pun terulur menangkup kedua pipi soojung dan menolehkannya agar memandangnya.

“apa aku terlalu keras padamu?” ujar myungsoo lembut, bahkan lebih lembut dari sutera. Seolah ia sama sekali tidak ingin menyakiti soojung dan sangat menyayangi gadis itu.

Soojung hanya menatap myungsoo tanpa menjawab pertanyaan myungsoo.

“maaf” ujar myungsoo lagi

Soojung menurunkan tangan myungsoo dari wajahnya. Ia kembali memposisikan dirinya seperti sebelumnya.

“tak perlu meminta maaf” ujar soojung akhirnya.

“soojung aku…

“myungsoo-ah” sergah soojung menyela perkataan myungsoo

“ne?” jawab myungsoo.

“untuk apa kau menemui aku lagi?” tanya soojung dingin

Myungsoo terhenyak mendengarnya, tidakkah kau tahu aku tidak pernah bisa melepaskanmu dari pikiranku? Ucap myungsoo dalam hati.

“tentu saja aku merindukanmu, tapi aku senang, kau akhirnya berhenti dari pekerjaanmu itu. Dan itu artinya kau tidak lagi berurusan dengan namja tengil choi minho itu” ujar myungsoo tenang dan seolah semua seperti dulu, seperti saat mereka masih bersama, sebagai sepasang kekasih tentunya.

Soojung tersenyum sinis mendengarnya.

“apakah itu penting bagimu? Kau tahu aku memutuskan berhenti bukan sepenuhnya karena mu” balas soojung ketus

Myungsoo diam,

“aku mencintaimu jung soojung” ujar myungsoo lemah

Soojung dibuat diam mendengarnya. Namun tekat didalam hatinya sudah bulat. Ia harus pergi meninggalkan namja ini. Aku juga mencintaimu myungsoo sungguh gumamnya dalam hati.

Menyadari tidak ada jawaban balasan atas pernyataanya barusan, myungsoo menghela napas. Ia mencoba meraih tengan soojung dan hendak mengenggamnya ingin menyalurkan rasa sayangnya yang tulus. Namun dengan cepat soojung menjauhkan tangannya dan membuat myungsoo mengurungkan niatnya

“myungsoo-ah, semua sudah berakhir” ujar soojung pada akhirnya

“kumohon.. jangan pernah katakan hal mengerikan itu, kumohon” kata myungsoo dan menunduk lemah. Kini sikapnya benar-benar berubah, ia seperti seorang yang sangat frustasi hanya karena ucapan soojung sebelumnya. Hatinya sesak, ia ingin sekali menangis menumpahkan segala macam perasaannya.

Soojung hanya diam. Ia tahu kalau myungsoo sedang menahan perasaannya. Ia tahu myungsoo sakit, ia juga merasakan sakit yang sama, namun keputusannya sudah bulat. Ia harus pergi dari kehidupan seorang kim myungsoo. Harus.!!

“myungsoo-ah” ujar soojung dan membuat myungsoo menoleh padanya. Gadis itu mampu menangkap raut khawatir dari pandangan myungsoo

“Aku mencintaimu myungsoo, mianhe”

***

Dua Bulan kemudian

Langit Kota seoul sangat cerah diawal musim panas ini. Semua itu menambah semangat para penduduk dalam menjalani kegiatannya. Nampaknya hal positif itu juga bereaksi pada Chosun Enterprice, dua bulan belakangan ini saham mereka semakin melonjak naik. Tender tender kelas dunia pun sudah banyak dimenangkan. Sepertinya kerja keras seorang kim myungsoo benar-benar membuahkan hasil.

“kau hebat, kau memang anakku” ujar seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah myungsoo. Presdir utama Kim

Myungsoo hanya diam tanpa ekspresi menanggapinya. Ia masih sibuk dengan beberapa kertas diatas mejanya. Tangannya pun dengan lihai memberi beberapa coretan dan catatan pada kertas-kertas itu.

“Yaaa… kau tidak rindu appamu?” ujar sang ayah akhirnya

“tidak, kuharap cepat pergi dari ruanganku. Aku sedang sibuk” ketus myungsoo.

Sementara itu sang ayah hanya tersenyum mendengarnya.

“beristirahatlah myungsoo-ah, kau akan sakit jika terus bekerja tanpa henti” nasihat sang ayah

“aku akan sakit jika aku istirahat” ujar myungsoo.

Sang ayah mengerti apa maksud anaknya itu, sebetulnya ia merasa prihatin dengan kondisi sang anak. Bekerja tanpa henti seolah hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan myungsoo melupakan kehidupan pribadinya.

“apa kau merindukan gadis itu?” ujar sang ayah.

Myungsoo sontak menghentikan kegiatannya mendengar pertanyaan sang ayah, ia meletakkan pulpennya dan memandang sang ayah yang ada di hadapannya lengkap dengan kursi rodanya.

“apa sekarang itu menjadi penting bagimu? Pulanglah” ujar myungsoo dengan suara bergetar menahan emosi. Emosi dan perasaannya akan menjadi ricuh jika sudah berhubungan dengan wanita yang dimaksud sang ayah. Jung Soojung.

Tanpa babibu lagi dan tidak ingin membuat hubungannya dengan sang anak semakin buruk, ayah myungsoo pun menarik dan mendorong sendiri kursi rodanya agar beranjak menjauh dari meja kerja myungsoo dan pergi dari ruangan itu.

Myungsoo membuang muka kearah jendela, ia berdiri dan menghampiri jendela besar diruangannya yang mampu menampakkan bagaimana suasana kota seoul. Myungsoo menghirup napas dalam.

“Bogoshippeo, soojung-ah” gumamnya sendu,

Ia pun memejamkan matanya, sekelebat memori indah yang pernah dibuatnya bersama soojung saling bermunculan.

Soojung yang tersenyum manis saat dibelikannya boneka taddy super besar, soojung yang selalu bersemu merah jika diperlakukan dengan manis, Soojung yang berlari kecil memberinya minum ketika ia selesai bermain baseball. Soojung yang selalu setia menunggunya menyelesaikan tugas kuliahnya. soojung yang akan menangis jika myungsoo kelelahan. Soojung yang akan cemberut jika myungsoo memberikan senyumnya pada gadis lain, dan soojung yang selalu bersandar dipundaknya jika kelelahan atau bersedih.

Flashback

“Hidup itu Bernafas, Bernafas itu kebutuhan, Kebutuhan itu percaya, Percaya itu bahagia, Bahagia itu cinta, Cinta itu … kehidupan, apa maksudnya?” ujar myungsoo heran melihat apa yang ditulis soojung dibuku catatannya.

“rahasia” balas soojung lalu menutup bukunya dan berlari meninggal myungsoo.

Myungsoo tersenyum melihat tingkah menggemaskan yeojanya itu. “yaaa jung soojung tunggu aku” kata myungsoo lalu mengikuti soojung berlari dan menyusulnya.

Flashback OFF  

Myungsoo merindukan itu semua, kenangan kenangan mereka, ia merindukan jung soojung.

CEKLEKKK

“YAA KIM MYUNGSOO” seseorang masuk dengan tanpa permisi kedalam ruangan myungsoo.

Myungsoo pun membuka matanya dan menoleh antusias saat mengenali suara siapa itu,

“apa kau menemukannya?” seru myungsoo langsung saat ia berhadapan dengan pria yang baru saja masuk keruangan dan meneriakinya itu

Pria itu hanya menatapnya seraya mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

“yaa lee hoya cepat jawab” ujar myungsoo lagi dengan sedikit berteriak.

“tidak,, aku tidak menemukannya” ujar hoya akhirnya

“mwoo??? YAAAA lalu apa kerja mu selama ini haa?????” bentak myungsoo

Sementara hoya yang dibentak oleh myungsoo hanya menampakkan wajah sebal, ia tidak mungkin marah pada sahabatnya itu, apalagi ia tahu alasan myungsoo bersikap seperti ini padanya.

“tapi aku menemukan ini didepan apartemenmu, kupikir kau tidak ke kantor hari ini jadi aku pergi keapartemenmu, tapi aku justru menemukan itu didepan pintumu” kata hoya dan menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.

Myungsoo menautkan keningnya heran, ia pun akhirnya mengambil amplop itu dan membukanya.

Seketika mata myungsoo membola melihat isi dari amplop itu, genggamannya pada amplop itu mengeras. Matanya menajam dan rahangnya mengeras.

KAU MERINDUKAN GADIS INI?? HAHAHA MAAF TAPI DIA SEDANG BERSENANG-SENANG DENGANKU, MAU MENDAPATKANNYA KEMBALI? KURASA AKU BOSAN DENGANNYA. DATANG SENDIRI KE SELATAN SUNGAI HAN DAN SERAHKAN SEMUA SAHAMMU. WAKTUMU HANYA SAMPAI MATAHARI TERBENAM. SETELAH ITU KAU HANYA AKAN MELIHATNYA MENJADI MAYAT .  KIM HYUNSOO.

“Apa isinya myung?” tanya hoya hati-hati.

Myungsoo hanya diam dan kemudian meremas kasar amplop dan isinya itu lalu membuangnya sembarang. Ia segera bergegas menuju lemari kecil pribadinya yang terletak disebelah mejanya, ia sedikit menekan tombol kunci lalu mengambil sebuah benda yang tak lain adalah sebuah pistol, dengan lihai myungsoo memasukkan beberapa peluru kedalamnya.

Hoya kaget melihat itu dan menghampiri myungsoo.

“YAA myungsoo-ah apa yang kau lakukan?” tanya hoya memburu

Myungsoo tak memperdulikan hoya sama sekali, setelah peluru yang disiapkannya cukup, ia pun meletakkan pistol itu kedalam saku dalam jasnya. Dan berjalan cepat kearah pintu,

“yaa kim myungsoo jawab aku” teriak hoya kesal

Myungsoo pun akhirnya menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap hoya

“jika setelah ini kau menemukan aku tak bernyawa, kuharap kau bisa menjaga ayahku dan perusahaan ini. Aku mempercayaimu, lee hoya” ujar myungsoo dan berbalik pergi dengan cepat.

Hoya masih membeku ditempatnya dan mencoba mencerna maksud perkataan myungsoo barusan. Itu terlalu cepat, dan hoya masih tidak percaya dengan apa yang dimaksud myungsoo.

“menjaga ayahnya? Perusahaan?? Astaagaaa yang benar saja” hoya mengacak rambutnya frustasi.

“aishh sebenarnya apa maksud anak sialan itu”

***

Menjalani hidup seorang diri tanpa seorang pun yang berada dipihak kita itu menyakitkan, oh bukan, menyesakkan lebih tepatnya.

Dari begitu banyak orang yang berada disekelilingmu tidak ada satu pun yang memahamimu atau kau percaya, coba bayangkan bagaimana hidup seperti itu?

Sekiranya begitulah hidup seorang Kim Myungsoo dibawah langit kota seoul ini, Sejak ia dilahirkan ia sama-sekali tidak memiliki hak untuk mempercayai atau dipercayai. Kenapa? Tentu saja karena statusnya.

Lahir dan hidup sebagai putera bangsawan adalah takdir terburuk baginya. Ia adalah putera dari pemilik Chosun Enterprice. Perusahaan pembangunan nomer satu dikorea. Yang bahkan presiden korea sendiri pun banyak bergantung pada perusahaan ini. Bisa dibilang Chosun Enterprice adalah perusahaan yang menjadi patokan ekonomi dikorea.

Namun ia sedikit beruntung karena masih ada lee hoya untuknya, meski ia tahu lee hoya tak sepenuhnya tulus membantu, tapi sedikit banyak laki-laki itu sangat membantu untuk myungsoo.

Lee hoya adalah anak dari salah satu mantan rekan bisnis myungsoo yang telah meninggal karena shock usaha yang dijalani gulung tikar. Lee hoya bekerja untuk myungsoo hanya karena ingin membayar hutang sang ayah pada keluarga myungsoo. Sebenarnya ayah lee hoya telah menggelapkan dana myungsoo dan bekerja sama dengan para mafia untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, namun yang terjadi malah sebaliknya. Semua rencana itu gagal total dan perusahaan ayah hoya harus bangkrut.

Myungsoo sempat menuntut ganti rugi pada perusahaan ayah hoya, namun sekeji apapun dan sedingin apapun seorang kim myungsoo. Ia masih seorang manusia yang punya hati nurani, ia justru mempekerjakan hoya sebagai sekertaris nya. Dan hoya pun bekerja untuk myungsoo agar hutang sang ayah terbayar semua.

Kim Myungsoo yang kini sudah menjabat sebagai CEO Chosun Enterprice menggantikan ayahnya yang telah pensiun itu baru saja keluar dari ruangannya. Dengan sedikit tergesa ia melangkahkan kaki melewati anak buahnya yang membungkuk memberi hormat.

“Permisi presdir kim, maaf tapi anda akan kemana? setelah ini anda harus datang kepertemuan projek pembangunan objek wisata yang akan dibangun disekitar gangnam.. pertemuannya sekitar 30 menit lagi”

ujar seorang wanita cantik yang terburu-buru menyamakan langkah kaki myungsoo begitu melihat myungsoo keluar dari ruangannya. Bisa dipastikan ia adalah sekertaris myungsoo, dilihat dari buku schedjule yang ia pegang.

Myungsoo hanya mengangguk tanpa menoleh kearah sekertarisnya itu sedikitpun. Ia justru terus berjalan dengan langkah cepat dan sedikit tergesa-gesa. Melihat itu sekertarisnya pun mundur beberapa langkah.

Tangan myungsoo terkepal kuat dibalik saku celananya, rahangnya mengeras dan tatapan nya amat tajam. Satu hal yang kini hanya menjadi fokus utamanya

Cinta.

***

Dibawah jembatan selan sungai Han, Senja hari

Seorang pria berbadan tegap dan tampan memandang sinis keatas langit yang menampakkan siluet kemerahan yang menandakan malam akan tiba beberapa menit lagi.

Ia menoleh kearah mobil yang ia parkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tersenyum penuh kemenangan melihat gadis didalam mobilnya. Ia pun menghampiri gadis itu yang sedang terus mencoba membuka pintu mobil.

“apa kau yakin bisa keluar dari dalam situ, soojung-ssi” ujar pria itu sinis.

“hyunsoo oppa jeball,, keluarkan aku kumohon.. aku akan lakukan apapun untukmu,, tapi kumohon jangan lakukan apapun pada myungsoo” ujar gadis itu sambil menangis.

Matanya yang sendu dan indah kini terlihat menyeramkan dengan lingkar hitam dan sembab karena tak berhenti menangis. Rambutnya yang lurus dan panjang terlihat berantakan dan kusut. Jung Soojung, dia terlihat sangat menyedihkan.

“PEMBOHONGGGG” bentak laki-laki bernama Hyunsoo itu,

“aku sudah percaya padamu hampir 2 bulan ini, tapi apa?? Kau masih memikirkan namja brengsek itu?? Kau fikir aku akan percaya padamu!!!…” kata hyunsoo lagi penuh emosi, ia memukul pintu mobil dengan kasar.

Ia pun meraih kenop pintu mobil, membukanya dan menarik soojung keluar dengan kasar.

Ia menggenggam pergelangan tangan soojung dengan kuat,

“kau tahu,, aku bahkan percaya padamu ketika kau bilang kau menerima cintaku!! Tapi apaa?? Saat aku membiarkan myungsoo sialan itu masih hidup.. kau justru masih mencintainya dibelakangku!!” geram hyunsoo dan memperkuat cengkramannya.

“oppaaa…” rintih soojung dan menunduk lemah.

Ia tahu ini kesalahannya, seharusnya ia membuang semua foto dan kenangannya dengan myungsoo. Ia harus berusaha menerima hyunsoo agar myungsoo tetap hidup dengan baik. Tapi justru hyunsoo menemukan sebuah foto saat myungsoo mengecup pipinya. Dan membuatnya terbakar emosi, seperti sekarang.

DUARRRRRRR

Soojung yang menunduk seketika mendongak mendengar suara letupan senjata barusan. Ia terbelalak kaget melihat myungsoo yang tak jauh dari tempatnya dengan tangan mengacungkan sebuah pistol,

BRUKK

Tubuh soojung tergulai jatuh saat hyunsoo menindihnya, gadis itu mencoba melihat hyunsoo yang sudah hampir kehilangan setengah dari kesadaran dan mulutnya yang sedikit mengeluarkan darah.

“o..o.ppaaa…” gumam soojung tak percaya.

Kim Myungsoo baru saja menembak kakak kandungnya sendiri. Kim Hyunsoo.

**To Be Continue**

8 responses to “Black City ( Chapter 1 of 2 )

  1. kok kakaknya tega gitu sih sma myungsoo? bukannya mereka sodara kandung tpi kok dia malah minta saham ke myungsoo?

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s