The Family (Chapter 1)

the-family

The Family (Chapter 1)

By Kiyomizu Mizuki

Starring by INFINITE’s Kim Myungsoo | OC’s Alena Kim | F(X)’s Jung Soojung ft. EXO’s Park Chanyeol | OC’s Park Nana | F(X)’s Choi Jinri

Genre : Romance, Drama, Family, Marriage Life | Rated : PG-15+ | Length : Series

Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to Aqueera for amazing poster!

.

What is ‘Happy Family’?

.

Enjoy~

.

Alena tersenyum manis. Terdapat sebuah boneka teddy bear yang berada di pelukannya, kedua tangan mungil berlapis kulit putih pucat itu mendekapnya dengan sangat erat, seraya tidak akan membiarkan kalau boneka itu di ambil orang lain. Menaruh dagu nya pada atas pucuk kepala boneka tersebut. Ia tampak duduk di sebuah sofa berwarna putih dengan bantal-bantal yang berada di sekitarnya.

Mom?”

Pandangannya yang semula hanya tertuju dengan boneka kesayangannya itu terhenti sejenak, memandang tubuh tinggi serta paras manis milik sang Ibunda. Kedua mata polos itu hanya tertuju pada seorang wanita yang yakni telah melahirkannya dengan susah payah. Juga dilengkapi dengan senyum polos nya. Alena menarik-narik pakaian yang dipakai oleh Ibu nya.

“Apa sayang?” wanita cantik itu yang diyakini sebagai Ibunda dari Alena langsung mensejajarkan tubuhnya pada sang buah hati. Wanita itu mengusak pelan rambut sang anak yang tadinya tertata rapi mulai berantakan akibat ulahnya sendiri. Ia mengulum senyum manisnya pada anak tersayang nya ini.

Mom dan Dad ingin pergi lagi? Seminggu ini kalian selalu saja sibuk, seperti tidak ada waktu untuk Alena saja.” Alena mengerucutkan bibir nya lucu, membuat sang Ibu terkekeh pelan melihat tingkah anaknya yang begitu menggemaskan. Pandangan nya yang semula terlihat cerah, perlahan meredup. Dia merasa sangat bosan jika kedua orang tua nya pergi.

Wanita itu mengangguk pelan. “Maaf Alena,” ia memberhentikan ucapan nya sejenak sembari mengusap lembut pipi anaknya. “Mom dan Dad ada urusan sebentar. Tidak akan lama. Mom juga tidak tahu jika ada urusan lagi, ini mendadak sayang.” Lanjut nya dengan nada lembut, berusaha menenangkan sang anak yang sudah sedih duluan mendengarnya. Kemudian dia berdiri kembali, tapi masih berada di dekat Alena.

“Tapi Mom? Mom dan Dad kan tadi menemani Alena terus. Masa sekarang sudah ada urusan lagi? Waktunya terlalu cepat Mom!” protes Alena. Ia memeluk lengan kanan milik Ibu nya, seakan tidak merelakan tangan itu pergi meninggalkannya sendirian lagi. “Mom dan Dad juga akan meninggalkan Alena tinggal sendirian, bukan? Di rumah ini.” Alena menunduk.

“Alena sayang. Mom dan Dad tidak akan meninggalkanmu lama, hanya sebentar sayang. Urusan ini cukup penting sehingga memaksa Mom untuk meninggalkan Alena lagi,” tangannya terangkat, memoles surai Alena dengan kelembutannya. Khas seorang Ibu kepada anaknya untuk memberi sebuah pengertian.

“Tapi, apakah Mom juga sebal ketika urusan itu datang saat Mom dan Dad sedang bermain bersama Alena?” mata kecil milik Alena memicing, namun tampak lucu dimata Ibu nya. Seolah dia memastikan kalau Ibu nya kini kesal saat ingin meninggalkannya pergi karena ada sebuah urusan—tentu tidak diketahui olehnya sendiri.

“Tentu. Mom sangat sebal saat ada seseorang yang menelpon Mom, hanya untuk menangani urusan itu lagi.” wanita itu mengangguk lagi, mengiyakan ucapan Alena. “Siapa yang tidak sebal jika ada seseorang yang menganggu kita saat keadaan sedang sangat seru?” Wanita cantik itu kini bertanya lagi. Baru saja dia menemani anak nya, jika dihitung, waktunya bersantai bersama keluarga hanyalah dua jam saja! Dan itu tentu saja kurang.

“Tentu Alena sangat sebal Mom. Siapa yang mau diganggu saat keadaan sedang seru? Itu menyebalkan, sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi berikutnya!” sahut Alena. Tangan mungilnya bersedekap dan mengerucutkan bibirnya. Semua tingkah ini bertanda kalau Alena sedang sebal dengan sesuatu. Memang terlihat sungguh menggemaskan jika beberapa pasang mata melihat kearahnya.

Sang wanita terdiam sejenak. Tangan nya masih setia memoles surai lembut milik buah hatinya. “Kalau begitu, waktunya Mom dan Dad pergi. Sudah tidak ada waktu lagi. Hati-hati di rumah ya, Alena!” ia mengalihkan pandangan kearah lain. “Myungsoo, waktunya kita pergi. Jangan lupa beri salam manis untuk Alena!!” pekiknya.

Keluarlah sesosok pemuda berwajah tampan. Tingkahnya terlihat sangat tergesa-gesa sekarang ini, ditangannya terdapat sebuah berkas-berkas—yang tidak diketahui oleh Alena. Pakaiannya juga menambah garis ketampanan pemuda itu. Kostumnya juga hampir sama dengan yang digunakan oleh sang wanita, masih bersifat formal. Ia berlari kecil sembari memindah berkas-berkas itu ke tangan sang wanita—istrinya. Kemudian berpindah pada sosok malaikat kecil yang diyakini sebagai buah hatinya bersama sang istri.

“Alena!” pemuda itu mensejajarkan tingginya pada Alena. Ia mengulum sebuah senyum, ketampanan nya semakin terlihat saja jika tersenyum seperti itu. “Mom dan Dad ingin pergi sebentar. Kami tidak bisa membawa Alena, maaf. Dad yakin, kalau nanti Alena tidak akan menyukai suasana nya yang…. Menyeramkan.” dia sengaja mengubah suaranya menjadi sedikit menyeramkan. Hal ini ia gunakan agar membuat sang buah hati tetap stay di rumah saja.

“Benar Dad?” ia mendongak, menatap mata teduh milik Ayah nya, Alena sedikit memeluk tubuhnya sendiri. “Kalau menyeramkan, kenapa Dad dan Mom tidak takut?” Alena mengeluarkan pertanyaan nya lagi.

“Tentu tidak. Karena suasana menyeramkan itu akan berubah menjadi sedikit tenang saat kedatangan Mom mu,” pemuda itu mengerlingkan matanya kearah sang istri. Yang di tatap malah bergidik. “Alena ‘kan tidak menyukai suasana menyeramkan, jadinya kami tidak ingin Alena ikut. Tapi Dad janji, akan membelikan sebuah mainan baru untuk Alena bagaimana?” tawar sang pemuda.

“Benarkah?” matanya kembali berbinar-binar bercampur cerah. “Janji, Dad?” Alena mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji!” Pemuda itu menautkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking milik anaknya yang masih terasa lembut. Kemudian dia mengecup dahi anaknya dengan lembut dan sedikit lama, menyalurkan rasa sayang nya kepada sang anak. Memeluk nya sejenak sebelum akhirnya menyusul istri nya yang sudah menunggu di luar, bersampingnya dengan mobil yang akan dibawahnya.

“Hati-hati, Mom, Dad!!!!” pekik Alena.

“Ya!!!!”

Alena melambaikan tangan nya, dibalas dengan lambaian tangan Ibu nya yang kemudian langsung terhalang oleh kaca mobil yang mulai tertutup. Ia kembali masuk ke dalam, setelah memastikan kalau pintu besar itu sudah tertutup oleh maid-maid yang berjaga di rumahnya. Alena melangkahkan kakinya ke atas, bertujuan untuk bermain di kamarnya. Jika ada sesuatu, ia hanya tinggal meminta pada maid-maid nya saja.

Pintu terbuka semakin lebar, kemudian tertutup kembali setelah Alena mendorongnya pelan. Kamar luas bernuansa modern itu terlihat sangat tenang dan nyaman karena berwarna biru dan putih. Merupakan warna favorit sang empu kamar. Alena langsung berhambur pada ranjang empuknya, memeluk guling kesayangannya—selain boneka teddy tadi. Menghirup aroma strawberry yang menguar dari sana.

Memang tadi, kedua orang tua nya sempat menemani bermain sampai sore. Kebetulan sejak tadi pagi keduanya masih setia menemani Alena. Mungkin berkumpul bersama, mengingat mereka jarang melakukan semua itu dikarenakan Ayah serta Ibu nya mempunyai pekerjaan yang sangat padat. Tapi, Alena sungguh bersyukur bisa menghabisi waktunya hingga sore bersama keduanya. Walaupun jika akhirnya mereka bekerja kembali. Dia memang sudah terbiasa ditinggal oleh keduanya.

Alena Kim. Seorang gadis kecil yang mempunyai wajah yang sangat cantik, semua ini karena Ayah dan Ibu nya juga di karuniai paras yang elok. Dia keturunan America-Korea, hal ini disebabkan oleh kedua orang tua nya. Sang Ayah asli Korea, sedangkan sang Ibu asli America. Kim, sebagai marga Ayahnya. Sedangkan Alena diberi oleh Ibu nya. Dia terlahir dari sebuah keluarga yang berkecukupan sekali, alias kaya raya dan kalangan konglomerat. Dari dulu memang mereka keluarga kaya.

Kim Myungsoo, seorang pemuda tampan yang masih berusia muda ini sudah berkeluarga dan menghasilkan satu orang anak, sedangkan yang satunya masih dalam proses pembuatan. Pemuda inilah yang ber-status sebagai Ayah dari Alena. Pemuda dengan garis wajah yang menawan, matanya yang teduh namun masih terkesan tajam dan mengintimidasi siapapun yang melihatnya, hidung bangir, kulit yang terkesan pucat, tubuh jangkung, dan bibir yang tipis.

Krystal Jung atau Jung Soojung, seorang wanita yang juga masih berusia cukup muda dan sudah mempunyai suami dan satu anak. Krystal Jung, dari namanya dia memang asli America. Sedangkan Jung Soojung, nama Korea nya yang diberikan oleh sang suami alias Kim Myungsoo. Dia pergi ke Korea bersama keluarganya sekitar umur dua belas tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar kelas enam. Sudah lama memang dia dan keluarga meninggalkan tempat asalnya, yakni di America.

Kedua insan manusia itu bertemu dalam sebuah takdir kehidupan, yang sudah dirancang khusus oleh Tuhan kepada mereka. Saat itu keduanya terjebak dalam hujan yang deras dan berteduh di halte bus. Apalagi saat itu mereka adalah rival yang saling membenci satu sama lain. Kalau tidak salah saat itu keduanya masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas kelas sebelas. Keduanya juga sekelas saat itu. Myungsoo dan Soojung dahulunya primadona di sekolah mereka, paling mempunyai banyak penggemar dan tak heran kalau setiap hari loker tempat penyimpanan mereka penuh dengan hadiah atau surat cinta.

Kemudian mereka saling jatuh hati, meski awalnya mereka masing sangat gengsi untuk mengakui perasaan itu? Memang benar apa kata orang, jika kita membenci seseorang, suatu hari kita akan manaruh hati pada orang yang sama.

Dan dari situlah awal kehidupan bagi keduanya. Saat masih sibuk kuliah, Myungsoo masih nekat melamar Soojung sebagai pendamping hidupnya nanti. Caranya memang sedikit tidak romantic, meski begitu Soojung tetap menerima Myungsoo sebagai pendampingnya nanti. Tidak ingin cepat-cepat menikah dulu, mereka juga masih muda dan masih ingin menikmati masa muda mereka yang bebas. Myungsoo lebih memilih untuk nge-gaet Soojung dulu, daripada nanti dia keduluan orang lain? Dan bertunangan.

Beberapa bulan kemudian setelah insiden itu, keduanya langkah melangsungkan sebuah pernikahan sakral di usia mereka yang masih terbilang sangat muda. Entah apa yang merasuki Myungsoo ingin cepat-cepat memiliki Soojung sepenuhnya. Anehnya, Soojung juga menyetujui itu. Memang akhirnya sangat merepotkan sekali, belum lagi Soojung masih duduk dibangku universitas. Jadi dia harus mengerjakan tugasnya sambil mengandung buah hati keduanya. Untung saja keluarga mereka membantu semua itu.

Yang lebih membahagiakannya lagi, Myungsoo lulus dan melanjutkan perusahaan milik Ayah nya dalam usia yang muda. Awalnya memang sangat merepotkan sekali, mengurus dan mengatur keluarga belum lagi mengatur perusahaan besar Ayahnya. Terkadang yang membuat Myungsoo kesal, saat Soojung mulai mengalami masa mengidam. Waktu istirahatnya yang cukup dibilang sedikit, harus terbangun pada malam hari untuk memenuhi apa yang diminta Soojung. Tengah malam lagi. Tapi semua itu bukan beban bagi Myungsoo.

Soojung pun melahirkan seorang bayi mungil berjenis kelamin wanita yang mereka beri nama Alena Kim atau Kim Hyejin. Persalinan juga terjalan begitu tegang, Myungsoo tidak hentinya berjalan mondar-mandir saat itu karena tidak bisa tenang. Takutnya terjadi sesuatu pada Soojung sendiri atau calon buah hati mereka. Soojung menjalaninya secara persalinan normal. Dan juga berdoa.

Beberapa bulan kemudian setelah penjalanan proses melahirkan itu selesai, Soojung lulus dari universitas nya dan bekerja bersama Myungsoo. Awalnya memang berat menjadi seorang Ibu dan Ayah di usia muda mereka, tapi keduanya menjalankan hal itu dengan sepenuh hati karena mereka tahu itulah kewajiban baru yang harus dijalani keduanya. Belum lagi merawat bayi mereka yang suka rewel saat tengah malam, menguras tenaga memang.

.

.

.

Nana memeluk boneka berukuran mungil miliknya, mendekapnya seolah ingin membuat mainan nya itu terasa hangat ketika berada di dekapannya. Tangan nya masih sibuk memoles bulu-bulu lembut boneka tersebut. Boneka itu berawarna coklat—sedikit lusuh—itu terlihat tidak terlalu mewah, tapi tetap terlihat sangat terawat. Ia memang sangat menjaga seluruh barang pribadi nya dengan benar sehingga menjadi tahan lama dan sangat terawat sekali.

“Nana, kau tidak meminum susu mu sayang? Sudah Ibu letakan di atas meja,” seorang wanita bertanya pada Nana dengan nada yang sangat lembut sekali. Tangan nya mengelus surai coklat milik Nana dengan jemari miliknya yang begitu lentik. Jika dilihat tangan itu memang berkulit sangat lembut sekali, seperti ia merawatnya dengan baik.

“Oh! Ibu sudah membuatkan nya? Kenapa tidak bilang pada Nana? Jadinya aku tidak tahu kalau sudah selesai,” Nana mem-pout kan bibir mungilnya. Melepaskan boneka mungil dari dekapannya dan berlari kecil kearah meja coklat kayu yang diatasnya terdapat gelas yang berisi susu putih kesukaan nya. Mengambil tubuh gelas itu dan mendekatkan bibirnya pada pinggir gelas, meminumnya.

Sang wanita mendekatkan dirinya lagi pada tubuh Nana. “Pelan-pelan minumnya sayang, kau bisa tersedak bila meminum dengan cara cepat seperti itu.” tegur nya halus. Bukan nya dengan nada tinggi, tapi dengan kelembutan khas seorang Ibu kepada anaknya. Cara minumnya anaknya tadi sedikit cepat, takutnya tidak sengaja cairan itu salah masuk dan malah mengenai saluran pernafasan nya.

Nana meneguk hingga habis susu itu sampai tidak tersisa, membersihkan sisa-sisa susunya dengan punggung tangan. “Aku tidak tersedak Bu, tenang saja. Buktinya aku tidak apa-apa sekarang.”

Wanita itu berdiri kembali dan duduk di sebelah anaknya yang kembali sibuk dengan mainannya. Di lapisi karpet yang cukup lembut sehingga membuat siapa saja yang mendudukinya terasa nyaman walaupun tidak ada kesan mewah di dalamnya. Daripada harus merasakan lantai yang dingin. Ia menaruh tangannya di atas paha, setiap pergerakan bola matanya hanya tertuju pada sang anak.

Nana terus menerus melajukan bermain bersama alat-alat masak—dalam bentuk mainan, tentunya—itu dengan dua buah boneka miliknya yang terlihat duduk dengan rapi. Tampaknya dia sangat bahagia mempunyai semua mainan itu. walaupun hanya dua boneka mungil, alat permainan masak untuk anak seusianya, dan beberapa boneka Barbie lengkap dengan rumah serta beberapa pakaian nya. Semua alat main anak kecil itu tidak begitu banyak, jauh dari kata ‘mewah’ semuanya sangat sederhana tapi membawa kesan yang amat dalam bagi Nana sendiri. Sudah mempunyainya saja membuatnya begitu senang.

Wanita itu—ibu nya—hanya bisa memantau anaknya bermain saja atau menjaganya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Sesekali dia juga mengalihkan pandangan mata itu pada televisi atau majalah yang ada di pangkuannya kini. Duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari anaknya, sofa nya cukup empuk berwarna putih gading. Terdapat bantal-bantal juga di sisi nya.

Rumah nya tidak terlalu besar, tapi cukup menampung dan membuat penghuninya terasa nyaman menempati rumah ini. Bangunan nya bertingkat dua, tapi cukup luas. Ada tiga kamar yang tersedia disini, kamar tamu, kamar sang wanita dengan suaminya, dan kamar anaknya. Ruangan nya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil alias standar. Dinding nya bercat warna krem, sedangkan kamar sang anak bercat biru muda.

Sang wanita beranjak dari sofa, malangkahkan sepasang kaki jenjang nya kearah dapur mereka. Bertujuan untuk melihat kulkas, apakah bersedian makanan disana masih ada atau tidak. Jika ada, tidak apa. Sebaliknya? Dia akan langsung pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan makanan selama satu bulan. Di bukanya gagang yang berada di sampig kiri, dilihatnya isi kulkas yang sekarang persediaan nya benar-benar tinggal sangat sedikit.

Mungkin sudah waktu berbelanja, pikirnya.

Tanpa berpikir banyak, wanita cantik itu langsung melesat mengambil mantel dan dompet nya yang terletak di meja makan. Tertinggal disana. Sebelum benar-benar akan pergi keluar, sempatnya dia memberi salam manis dulu untuk anak semata wayang nya yang sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan itu dari arah mainannya. Secara tidak sadar, Nana hanya bisa melihat kalau Ibu nya sudah berpakaian sangat rapi.

“Nana, Ibu pergi sebentar. Persediaan di kulkas juga sudah hampir habis, begitupula dengan susu mu tinggal sedikit. Jadi Ibu langsung membelikannya sekarang sebelum Ibu lupa dan kamu menangis meraung-raung,” wanita bermata kecil itu terkekeh kecil sambil menggoda anaknya. “Jadi, kamu di rumah saja ya? Ibu tidak akan lama, kalau ada apa-apa kamu bisa langsung pergi ke rumah sebelah. Jaga diri baik-baik, jangan membuka pintu untuk seseorang dewasa apalagi yang tidak kamu kenal sama sekali! Karena kamu sendiri di rumah ini sayang.”

“Aku tidak begitu Ibu,” bantah Nana, menjawab pertanyaan yang pertama sebelum sang Ibu berpesan padanya untuk menjaga diri, dia sendirian. Nana mengangguk patuh, menjawab pertanyaan kedua sang Ibu dengan baik.

“Ya sudah. Hati-hati ya di rumah! Ibu segera kembali,” pintu tertutup. Meninggalkan sosok Nana yang masih terduduk disana. Ia sudah tidak bisa melihat punggung Ibu nya sekarang yang sudah menjauh atau tidak, terhalang oleh tutupnya pintu oleh sang Ibu.

Nana beranjak dari tempatnya, membawa beberapa mainan yang ia di perlukan untuk menemaninya di kamar. Sebelum benar-benar masuk, sempatnya Nana mengecek kembali pintu rumahnya, apakah sudah terkunci dengan baik atau tidak. Takutnya ada seseorang yang sembarangan masuk kemudian menculiknya, mentang-mentang dia anak kecil.

Pintu terbuka. Aroma vanilla yang di sukanya menyeruak masuk ke dalam indra penciuman miliknya. Nana segera menutup pintu. Kemudian berhambur pada ranjang nya yang berbentuk single size. Meninggalkan dua boneka pada sisi ranjang nya, memeluk bantal bergambar kartun lucu kesukaan nya. Rasa lelah mulai menyergap, sedaritadi pagi bahkan sebelum sang Ayah berangkat kerja, dia sudah bermain hingga sore ini pukul empat tepat. Apalagi mengingat tingkahnya yang tadi terlalu aktif.

Dia mengambil salah satu bonekanya, menyeleksi beberapa yang pantas untuk di ajaknya bermain sekarang sembari menunggu sang Ibu kembali. Seharian di rumah hanya bersama Ibunda tercinta, Ayah nya sibuk bekerja menafkahi keluarganya yang sederhana ini. Dia anak tunggal, jadi tempatnya bermain hanyalah para mainan atau mengajak Ibu nya sesekali untuk membuat suasana semakin menyenangkan.

Namanya Park Nana, kalian bisa memanggilnya dengan Nana. Seorang gadis kecil berwajah cantik dengan kulitnya yang berlapis putih susu dengan senyuman manis miliknya. Dia berponi dengan rambut kecoklatan sedikit bergelombang. Wajah sangat manis dan lucu, menyembunyikan sifat aslinya yang terkadang suka menjahili seseorang. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran anak kecil yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, sedikit lagi dia akan memasuki bangku Sekolah Dasar. Mungkin akan bertambah tinggi lagi.

Dia mewarisi tinggi badan yang dimiliki kedua orang tua nya. Keduanya memang mempunyai tubuh yang tinggi menjulang, kemudian mereka wariskan pada anak mereka. Nana juga memiliki selera humor yang cukup baik, dia pandai membuat lelucon yang sangat lucu sehingga membuat siapapun yang mendengarnya akan tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perut mereka yang mulai terasa sakit akibat tertawa terlalu keras, ini tingkah Ayah nya. sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Happy Virus.

Nana hidup diantara keluarga yang sangat menyayanginya sepenuh hati. Pekerjaan Ayah nya hanya sebuah sekretaris utama di sebuah perusahaan ternama di Korea Selatan, Kim Corporation. Gaji nya memang sangat mencukupi semua kebutuhan hidup mereka sehari-hari—bahkan lebih. Tapi mereka membiasakan hidup biasa-biasa saja atau—sederhana. Ibu nya hanya sebagai Ibu Rumah Tangga saja dan pekerjaan nya kebanyakan mereka di rumah, seperti; menjaga anak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan pokok, dan yang lainnya. Walaupun begitu, hidup mereka terjalan dengan begitu harmonis, walaupun kedua orang tua nya juga sering cek-cok, tapi bukankah begitu di setiap rumah tangga orang lain?

Park Chanyeol. Pria inilah yang menjabat sebagai kepala Rumah Tangga sekaligus Ayah dari Nana. Mempunyai tubuh yang tinggi menjulang, tingkah jenakanya, serta seringaian yang terkadang terlihat menakutkan. Bisa dibilang dia cukup mendekati kata ‘sempurna’ dalam rupa wajahnya, lihat mata nya yang terlihat tajam bagaikan elang, bibir yang terkesan tipis, humoris, hidung bangir, dan tubuh yang tinggi. Dia dan Nana paling sering menjahili sang Ibu yang sibuk memasak untuk keduanya.

Choi Jinri—atau sekarang Park Jinri. Seorang wanita berwajah polos, mata kecil, dan kulit putih bersih inilah yang telah menjadi Ibu dari Nana sekaligus seorang istri dari Chanyeol. Kelakuan sangat lembut dan sangat penyayang. Dia mencintai keluarga kecilnya. Berambut sebahu dengan warna kelam, sekelam langit malam. Tubuh nya juga tinggi—tapi tidak setinggi Chanyeol, tentunya. Memiliki senyuman yang sangat manis, ketika tersenyum matanya juga menyipit, bisa dibilang dia juga mempunyai eye smile.

Mereka juga termasuk pasangan yang masih terbilang cukup muda untuk menikah. Saat Sekolah Menengah Pertama, Chanyeol dan Jinri bertemu kemudian saling jatuh cinta satu sama lain. Mereka terlahir dalam keluarga yang sederhana dan bukan konglomerat. Keluarga ini memang terlihat sangat harmonis dan bahagia serta penuh cinta setiap hari. Walaupun terkadang, Chanyeol dan Jinri juga sering bertengkar.

Saat mereka makan malam bersama, suasana kekeluargaan mulai tumbuh. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama setiap harinya dengan menemani Nana bermain atau sekedar mengajaknya berlibur ke suatu tempat yang menyenangkan. Walaupun Nana anak tunggal, dia sudah cukup senang dan menerimanya. Setiap berangkat sekolah, Chanyeol-lah yang mengantar Nana, sedangkan saat pulang dia di jemput oleh Jinri.

Jinri memang terlalu banyak menghabiskan waktunya dia rumah, tetapi itu tidak membuatnya sering mengeluh bosan. Dia mempunyai akses untuk membersihkan kejenuhan itu, setelah membersihkan seluruh ruangan. Terkadang berbelanja atau melihat internet tentang fashion masa kini. Fasilitas nya memang tidak terlalu memadai. Hal itu dilakukannya sebelum menjemput Nana pulang dari sekolah. Atau dia juga sering mengundang teman nya untuk acara minum teh yang bertempat di halaman belakang rumah mereka.

Keluarga ini menghabiskan waktu senggang mereka untuk berkumpul bersama di ruang keluarga sembari menonton sebuah film yang di beli oleh Jinri, ditemani dengan popcorn serta minuman cola sebagai pelengkapnya. Jika sedang jenuh, mereka menghabiskan waktunya dengan berkumpul di taman belakang sembari membuka acara minum teh bersama. Terlihat sangat sederhana bukan? Tapi selalu membuat keluarga ini menjadi semakin bahagia dan utuh sekali.

Tumben sekali Jinri tidak mengajak Nana ke supermarket. Biasanya wanita itu selalu mengajak anaknya pergi bersama, tapi entah kenapa Jinri tidak mengajak Nana. Anak itu sendiri juga tidak membantah, dia malah menurut setiap perkataan yang di ucapkan oleh sang Ibu. Memang sangat sih dia sendirian di rumahnya ini.

.

.

.

“Sekretaris Park, laporkan semua tugasku saat semua rapat selesai.”

“Sehabis ini, anda dan berserta Nyonya Kim akan mendatangi sebuah saham yang sudah kita miliki untuk melihat perkembangan nya disana. Tepatnya berada di Canada, lusa kalian baru bisa pulang.” Sekretaris Park langsung membungkukan tubuhnya rendah dan memundurkan tubuhnya sedikit.

“Aku mengingat itu. Berapa waktu yang masih tersisa sebelum pesawat terbang?”

“Dua jam Tuan. Kalian bisa memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.”

Kim Myungsoo menganggukan kepalanya pelan. “Kau bisa kembali ke ruanganmu, nanti kalau ada hal yang ingin aku tanyakan lagi aku akan memanggilmu.”

Sekretaris Park langsung membungkukan tubuhnya lagi dan melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.

Setelah pintu tertutup dengan sempurna dan hanya menyisakan kedua insan manusia itu di dalam ruangan ini. Jung Soojung—atau Kim Soojung—menempatkan tangannya pada kursi milik suaminya itu. Terdengar helaan napas baginya. Hari ini dia harus ke luar negeri lagi selama dua hari dan meninggalkan si buah hati sendirian di rumah. Memang hanya satu hari satu malam, tapi mereka sudah sangat sering meninggalkan Alena disana, hanya di temani oleh maid-maid nya saja.

Begitupula Myungsoo. Pria tampan itu juga melakukan hal yang sama dilakukan Soojung tadi. Tangan nya terangkat, mengambil tangan Soojung kemudian mengelus punggung tangannya dengan lembut, seakan memberi sebuah ketenangan. “Maaf sayang. Aku tahu kita harus meninggalkan Alena lagi sendirian di rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Saham yang kita miliki disana cukup penting. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dengan menyuruh orang, aku ingin melihatnya langsung.”

“Tapi, kita sudah sangat sering meninggalkan dia lagi. Kalau ada Jessica unnie di Korea, aku pastikan Alena akan terjaga dengan baik kali ini. Tapi masalahnya dia hanya di temani oleh orang-orang rumah saja. Aku cemas,” wajah Soojung berubah, gurat kecemasan sangat terlihat dari rupa cantiknya kini. Seperti biasa, naluri Ibu nya sangat kental menyangkut sang anak. Tidak ada saudara terdekat yang bisa dia percaya untuk menjaga Alena.

Myungsoo mengikuti apa yang dilakukan Soojung tadi. Perlahan ia mengambil tangan Soojung dari sandaran kursinya, mengelus punggung tangan Soojung yang berlapis kulit putih bersih itu untuk menenangkan perasaan nya yang kalut. Ia tahu, naluri Soojung itu sangat kuat. “Sudahlah, tenang sayang. Lagipula, kenapa kau tidak menelpon Jessica noona untuk menjaga Alena sementara waktu?”

Soojung mendesah pelan. “Tidak bisa. Jessica unnie sibuk dengan urusan butiknya, aku dengar dia kebagian banyak pesanan gaun. Jadi itu akan semakin membuatnya repot,” sahutnya. Tubuhnya seakan melemas.

“Tenang Soojung. Aku sendiri juga bingung,” Myungsoo merasa kecewa dengan jawaban istri nya tadi, tidak sesuai dengan harapannya. Ia berusaha memutar otak untuk menentukan ide yang tepat agar Alena tetap terjaga. Ia menggetuk-getukan kepalanya, memaksa otaknya bekerja dengan cepat. “Hmmmm, entahlah aku mempunyai ide. Tapi aku sendiri masih ragu dengan ini,”

Soojung langsung mengalihkan pandanganya kearah Myungsoo, matanya berbinar-binar sekali. Tidak ada gurat sebuah keraguan dalam dirinya ketika Myungsoo menyelesaikan kalimat terakhir tadi. “Katakanlah! Tidak usah ragu kalau tentang keselamatan Alena, aku hanya ingin dia tidak jauh dari kita!”

Myungsoo memandang Soojung dengan perasaan ragu yang masih setia menggelayutinya. Menatap dalam bola mata istrinya yang berwarna kecoklatan itu dengan dalam. “Jadi, bagaimana kalau kita mengajak Alena untuk acara kali ini?” setelah mengucapkan, terdengar helaan napas darinya. Myungsoo menggetuk-ketukan pulpen nya dari meja kerjanya, masih menunggu jawaban dari Soojung.

Bola mata Soojung terlihat cerah dan sangat berbinar-binar. Seperti mendengar sebuah kabar yang sangat menyenangkan dan bahkan tidak pernah dia kira sebelumnya. “Kenapa kau tidak menyarankan hal tersebut dari kemarin? Kalau seperti itu, aku malah sangat mendukungnya dan terus menerus mengajak Alena pergi bersama kita.” Soojung menyungging senyumnya.

Myungsoo tahu, sebelumnya dia memang belum pernah mengajak anaknya pergi ke luar negeri untuk bersenang-senang. Minimal mereka hanya menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, hal itu pun juga sudah membuat Alena tersenyum bahagia. Sedikit ada rasa bersalah di hatinya, merasa bukan Ayah yang baik bagi anaknya. Apalagi Alena adalah anak mereka satu-satunya yang mereka punya.

Dia tersenyum tipis. Ternyata ide nya ini bukan ide yang buruk tapi cemerlang. Membuat Soojung merasa senang mendengarnya, kenapa tidak dari dulu saja ya dia memunculkan ide itu? Mungkin bisa membuat kedua orang yang ia cintai menjadi lebih bahagia. “Yeah, mungkin sekarang kita bisa pulang sebentar sayang. Jangan sampai ada yang ketinggalan, aku tidak mau melihat atau mendengar sifat burukmu itu lagi.” Myungsoo melepaskan genggaman tangannya.

Soojung memukul pelan pundak lebar milik suaminya. Ia tertawa kecil. “Baiklah! Ayo, aku tidak mau membuat Alena menunggu. Lagipula dia juga sedang libur bukan? Ahh, tidak salah aku memilihmu,” wanita Jung itu langsung menyentil pelan hidung mancung milik Myungsoo, sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu. Meninggalkan Myungsoo di sana.

Sang pria berdecak pelan, ternyata wanita nya itu masih saja kekanakan walaupun sudah besar sekarang. Perlahan, Myungsoo beranjak dari kursi nya dan membenarkan pakaian nya yang sedikit berantakan. Menyusul Soojung yang pastinya sudah berjalan lebih dulu tadi. Sepertinya sudah sangat tertinggal.

To be Continue

Holaa! Aku kembali dengan FF Chapter pertama yang di publish disini! Huh, semoga hasilnya tidak mengecewakan. Oh ya! Jangan lupa comment nya ya! Di tunggu lhoo ^^

[Wattpad]

4 responses to “The Family (Chapter 1)

  1. Pingback: The Family (Chapter 2) | myungsOOjung·

  2. Pingback: The Family (Chapter 2) | Happiness!·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s