The Family (Chapter 2)

the-family

The Family (Chapter 2)

by Kiyomizu Mizuki

starring by INFINITE‘s Kim Myungsoo | OC‘s Alena Kim | F(X)‘s Jung Soojung ft. EXO‘s Park Chanyeol | OC‘s Park Nana | F(X)‘s Choi Jinri

Genre : Romance, Drama, Marriage Life | Rated : PG-15+ | Length : Series

Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to Aqueera for amazing poster!

.

Chapter 1

.

What is ‘Happy Family’?

.

Enjoy~

.

Myungsoo membuka pintu rumah, terdapat sedikit celah kecil yang bisa kita gunakan untuk sedikit melihat apa isinya di dalam. Lama-kelamaan, pintu itu terbuka dengan lebar. Aroma khas nya menyeruak masuk ke indra penciuman milik Myungsoo. Dilangkahkan kaki jenjangnya itu untuk masuk ke dalam, terdapat Soojung juga yang setia berada di belakangnya—walaupun lebih sering di sebelahnya.

Mobil mereka yang tadi digunakan untuk perjalanan ke rumah besar ini terparkir di depan. Soojung mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan luas ini, masih rapi seperti tadi. Tapi, rasanya sangat sepi dan hanya terdengar beberapa suara samar. Tapi itu bukan berarti suara yang di keluarkan oleh makhluk halus, jadi tidak perlu takut. Hanya terlihat beberapa maid yang melintas itu, kemudian membungkukan tubuhnya formal saat melihat Tuan Rumah ini datang kembali.

Lain hal nya dengan Myungsoo, pria itu lebih memilih langsung pergi ke kamar mereka tempati berdua. Bermaksud, menyiapkan pakaiannya dan juga pakaian milik Soojung. Ia yakin, kalau istri nya akan repot karena harus membereskan beberapa pakaian milik Alena untuk di masukan ke dalam koper mungilnya miliknya. Sekali-kali tidak apa bukan kalau dia yang melakukan ini? Jangan Soojung terus yang melakukannya.

Soojung kembali melanjutkan langkahnya yang terdiam sejenak, terlalu terhanyut dalam memandangi ruangan ini yang padahal sudah sangat akrab di pandang olehnya. Bermaksud untuk kembali berlanjut pada kamar milik anaknya yang berada di lantai dua sayap kiri, sedangkan kamar yang ditempatinya bersama Myungsoo terletak di sayap kanan. Ekor matanya melirik kearah kamar mereka berdua yang sedikit terbuka, Soojung sedikit menajamkan pendengarnya untuk mendengar suara-suara dari sana. Ternyata hanya suara Myungsoo, ia tahu kalau sebenarnya Myungsoo sekarang tengah merapikan pakaian yang di bawa nya.

Tangan kanan nya mulai memegang knop pintu kamar sang anak yang tertutup, Soojung tahu kalau sebenarnya sekarang Alena sedang bermalas-malasan di kamarnya sambil bermain alat elektronik miliknya. Memutarnya pelan dan mendorongnya. Soojung tersenyum, memang benar apa yang di pikirkannya. Jika Alena tidak ada teman main atau dalam keadaan yang sangat bosan, ia pasti akan memilih di kamarnya saja sampai waktunya ia memilih untuk keluar.

Soojung duduk di tepi ranjang, masih melayangkan senyum manisnya. Begitupula Alena, saat matanya melihat sosok sang Ibu yang telah masuk ke dalam kamarnya ini, ia langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Soojung mengangkat tangannya, di arahkan tangannya itu pada surai kelam milik Alena, merapikannya sedikit supaya tidak terlihat berantakan. Setelah cukup merasa rapi, Soojung kembali menurunkan tangan nya.

Mata Alena sedikit menyipit, dahinya mengerut. Bertanda kalau merasa heran kenapa sang Ibu tiba-tiba kembali ke rumah. Padahal, tadi Ibu nya bilang sendiri kalau dia ada urusan yang sangat penting sehingga tidak ada waktu lagi. Juga, Alena tidak mencium kedatangan sang Ibu atau suara pintu terbuka. Masih terdapat bantal miliknya. “Mom dan Dad, kenapa bisa kembali kesini? Bukannya tadi ada urusan ya?”

Wanita Jung itu juga tahu kalau sang anak sudah merasa kebingungan melihat dirinya yang tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Senyuman yang sempat buyar, kembali tercetak di wajah cantik nya. “Tidak. Memangnya kenapa kalau Mom dan Dad ke sini lagi? Bukan kah seharusnya Alena harus senang?” Soojung kembali mengelus rambut kelam bak langit malam milik anaknya, dengan sentuhan yang lembut.

Pandangan gadis cilik itu meredup. Mendengar sang Ibu berucap dengan nada yang sedikit rendah. Apa tadi kata-kata nya ada yang sedikit salah? Bagi nya tidak. “Bu-bukan begitu maksudnya Mom. Hanya saja, aku sedikit bingung. Tumben sekali,” Alena segera meralat ucapannya, sedikit gugup memang saat mengatakan itu.

Dalam hati, wanita dewasa tersebut tertawa kecil. Sangat lucu memang saat Alena terlihat panik mendengar ucapannya yang bernada rendah—sengaja. “Tidak apa-apa. Sekarang Mom tidak bisa menjelaskan kenapa Mom bisa kesini. Nanti saja ya di mobil, sekarang kamu hanya tinggal mengganti pakaian saja agar terlihat lebih cantik.”

Mom keluar dulu. Mom hanya menunggumu selama lima menit, sehabis itu langsung keluar ya. Jangan terlalu lama!”

Sosok Soojung menghilang di balik tertutup pintu kamar itu, menyebabkan sebuah demtuman yang sedikit bising. Alena masih mencerna baik-baik perkataan Soojung tadi, sebelum perkataan terakhirnya. Ini membuat rasa penasaran nya meninggi, tumben sekali. Karena jika mereka sudah ada urusan, pasti pulang ke sini pun juga akan sedikit larut malam dan Alena sudah tertidur pulas.

Selepas keluarnya Soojung. Gadis manis nan cantik itu mulai beranjak dari ranjangnya. Kegiatan bergelung di atas kasur memang sudah menjadi kegiatan sehari-hari nya jika suasana nya sedang dalam keadaan yang bosan, apalagi dia tidak mempunyai seorang teman pun. Kecuali peralatan elektronik yang menemaninya, tapi bolehkah sekali-kali Alena keluar kemudian bermain dengan riang nya sambil menghirup udara segar? Kedengaran nya memang sangat menyenangkan.

Alena menarik sebuah kursi kea rah lemari nya yang cukup tinggi, sehingga dia tidak yakin bisa menjangkau nya, kecuali Ayah dan Ibu nya yang membantu. Kedua kaki mungil nya yang tidak terbalut oleh apapun mulai menaik kursi tersebut, tangan kanan nya menarik sebuah gagang lemari miliknya dan menarik.

Mulutnya mengembung, sepasang matanya mengarah ke atas. Pose berpikir. Dia sendiri bingung ingin mengenakan kostum yang mana, rasanya susah sekali untuk memilihnya. Di karenakan, koleksi baju miliknya cukup banyak dan bisa dikategorikan sangat bagus. Apakah dia harus meminta sang Ibu untuk memilihnya untuk nya? Yeah, baiklah Alena akan melakukannya.

Mom!!!!!”

Pekikan suaranya begitu keras, coba saja ada orang lain di sebelahnya. Yakin, kalau orang itu akan mulai menggerutu tidak jelas mendengar teriakan Alena yang serasa menulikan telinga nya. Kedua kaki itu mulai kembali ke dasar dengan cara melompat ke bawah. Alena menarik kembali kursinya menuju meja belajar—tempat meletakan kursi.

Kembali mendudukan dirinya pada pinggir ranjang, sepasang kaki itu kembali melayang di udara. Sesekali Alena menendang kecil kakinya. Kepala yang menggeleng—entah apa maksudnya, bibir yang mengembung, dan mata yang mengarah kearah bawah. Tampaknya dia menikmati kegiatan aneh nya saat ini.

Ceklek~

Sebuah suara pintu yang terbuka. Gadis mungil ini segera mendongak. Terdapat sesosok wanita cantik bermarga Jung atau Ibu nya. Sang Ibu bersedekap. Menatap sang anak dengan tatapan nya yang mulai melembut. “Kau tidak bisa lagi memilih kostum yang tepat?” tanyanya. Langkahnya kembali berlanjut.

“Ya Mom. Aku bingung sekali, daripada nanti kostumku salah. Lebih baik, aku meminta bantuan Mom untuk memilihnya.” Alena menjawab. Ia meloncat, sepasang alat berjalan itu menyentuh lantai. Kaki mungilnya mengikuti langkah Soojung kearah lemari pakaian. Dia ingin melihat, kostum apa yang akan dipilihkan sang Ibu untuknya. semoga saja sangat cocok melekat di tubuhnya dan terlihat sangat spesial.

Soojung memilah-milih tumpukan baju koleksi milik anaknya. Semua itu dia pilih sebenarnya kalau sedang berbelanja pakaian baru. Kemudian pandangannya terhenti, menatap sepasang baju dan celana yang menurutnya sangat cocok untuk sang anak. Soojung mengambil perlahan, masih ada di hatinya sebuah harapan. Agar semua baju yang sudah di tata rapi tidak berantakan karena ulahnya.

Ia menyodorkan pakaian pilihan nya pada Alena. Begitupula dengan senyuman manis yang terpantri di wajah cantiknya, menambah kesan cantik di dalam dirinya yang sudah tertanam sejak dulu. “Sekarang, kamu pakai yang ini saja ya. Jangan terlalu lama, waktu kita terbatas.” Pesan Soojung. Nampak tangannya sudah kosong, sebelumnya masih terisi pakaian itu. Kemudian, dia memoles surai anaknya pelan.

“Ya Mom,” Alena menganggukan kepalanya patuh.

.

.

.

Mom, Dad. Sebenarnya kita mau kemana?” Alena mengeluarkan pertanyaan. Sebenarnya kalimat nya tadi sudah ingin ia tanyakan langsung. Tapi setelah melihat kedua orang tua nya sibuk, ia memendam nya sejenak.

“Canada.” Soojung membalas, mewakilkan Myungsoo. Terlihat kalau sang pria sibuk mengemudi dan pandangan nya terlihat sangat fokus sekali. Di usap nya surai sang anak dengan kasih sayang nya. “Suka ‘kan?”

Sederet kalimat yang di ucapkan Soojung masuk ke dalam indra pendengaran nya. Kedua mata bulat serta masih terlihat polos itu berbinar-binar sekali. Seperti mengeluarkan rasa senangnya yang begitu memuncak. “Benarkah? Mom dan Dad benar-benar mengajakku kesana?!” Alena memandang keduanya. Hatinya terasa di penuhi oleh bunga-bunga yang baru bermekaran, sehingga wangi harum masih sangat terasa.

Wanita cantik ini tertawa kecil. Ia tahu kalau reaksi anaknya akan segini hebohnya, untungnya ia tidak memberitahukan nya ketika mereka masih di rumah. Mungkin suasana nya akan di penuhi oleh suara pekikan nyaring dari Alena. Untunglah dia memberitahunya disini, jadi anaknya tidak menyambutnya dengan terlalu heboh dan senang. “Baiklah. Tapi sampai sana, Mom tidak mau kau berteriak, okay?”

Alena mengerucutkan bibirnya, menambah kesan imut dari dirinya. Rasanya kedua insan manusia yang sudah menikah ini ingin mencubit pipi anaknya, gemas. “Aku masih tahu soal itu, jadi Mom tidak perlu mengingatkannya lagi!” ia mendengus.

Myungsoo juga tertawa kecil, tapi dia menyembunyikannya di balik tangan. Tangan nya beralih pada pipi tembam sang buah hati, mencubitnya dengan lembut, seperti tidak mau membuatnya merasa kesakitan. “Dan, kamu tidak boleh terlalu excited, apalagi sampai berlarian kesana kemari! Susah jika mencari kamu tahu!” pesan Myungsoo.

Dia membuat helaan nafas dari pipi nya yang mengembung. Tangan nya bersedekap, berdecak pula. Memandang sang Ayah dengan tatapan dingin. “Dad, aku juga tidak anak melakukan hal itu!” Alena melepas paksa tangan Myungsoo yang masih menyentuh pipi nya.

Terlepas sudah tangan besar Myungsoo. Tatapan teduh pria Kim itu beralih pada sang istri yang memperhatikan aktifitas nya bersama Alena dengan seksama. Myungsoo sekarang menyamakan tatapan dingin Alena tadi. Benar-benar mirip istri nya. Tapi, kalau Alena masih terkandung unsur anak-anaknya.

“Aku tidak menyangka dia bisa bertatap dingin denganku, sangat mirip denganmu Soojung-ah. Sebenarnya kau mengonsumsi apa sih bisa se-dingin itu? Bahkan menularkan nya pada anak kita,” Myungsoo beranggapan. Nada sedikit bercanda, mencoba memanas-manasia Soojung dengan cara nya sendiri. Tidak terlalu berlebihan. Ia menyengir.

Soojung memutar bola matanya jengah. Memandang balik Myungsoo dengan rasa malas dan—sedikit—kesal. “Entah.” Menjawab dengan singkat, namun sangat menusuk sekali.

Myungsoo tersadar. Kalau ini adalah awalnya sang istri mulai ngambek padanya. Tangan nya terangkat kembali, menaruh di atas kepala Soojung, memoles surai kelam nya dengan kelembutan. Sesekali Myungsoo juga merapikan poni istri nya yang terlihat berantakan. “Ingat, aku hanya bercanda dan tidak serius sama sekali,”

Walaupun keduanya memang membawa Alena ke Canada, tetap saja keduanya sibuk mengurusi bisnis mereka yang berada disana. Jadi hanya kemungkinan kecil saja bisa mengajak Alena berjalan-jalan, menikmati keindahan Negara yang akan di kunjungi mereka. Mungkin, anak kecil itu akan banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel. Kasihan, memang. Sepertinya, Myungsoo dan Soojung juga akan mengatur jadwal mereka agar bisa memberi sedikit celah untuk menghabiskan waktu bersama, menemani Alena.

Hm, rasanya aku tidak sabar ingin berjalan-jalan disana bersama Mom dan Dad, pasti rasanya begitu menyenangkan!” Alena merentangkan tangannya, menutup matanya sejenak. Otaknya sudah bekerja untuk membayangkan hal-hal manis ketika mereka sudah menginjakan kaki di sana.

Kedua pasangan suami istri ini melirik satu sama lain. Pandangan nya terlihat redup. Sempat terlintas di pikiran mereka soal keadaan Alena ketika mereka di sana. Apakah masih ada waktu, walaupun itu sedikit saja untuk mengajak sang anak berlibur? Myungsoo tersenyum, tangan kanan nya mengusap pundak Soojung dengan lembut. Berusaha meyakinkan perasaan istri nya.

Waktu terasa berjalan dengan cepat, perjalanan mereka menuju bandara internasional Korea Selatan sudah sampai. Tidak sadar, karena mereka terlalu banyak bersenda gurau di dalam mobil. Myungsoo menghentikan mobilnya, setelah sudah merasa terparkir dengan baik. Bersamaan itu pula, mereka langsung membuka pintu mobil.

Soojung menautkan tangannya pada tangan Alena. menggenggam nya dengan erat. Di lihat kalau keadaan bandara sekarang sedang ramai, jadi akan kesusahan nanti jika sampai Alena menghilang dari jarak pandang mereka. Terdapat Myungsoo yang berada di samping kedua manusia yang sangat dicintainya. Sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya.

“Myung, aku tidak yakin kita bisa sering mengajak Alena berjalan-jalan disana.” Hembusan serta kalimat Soojung berdengung di telinga Myungsoo. Pria itu merapikan letak kacamata nya sejenak, memandang mata Soojung yang meredup. Serta bibir yang terkatup.

Myungsoo merangkul pundak Soojung, mengusapnya pelan. Ia tahu kalau perasaan Soojung sedang was-was. “Tenang. Aku sudah mengaturnya,” ia tersenyum dan memberhentikan ucapan nya sejenak. “Waktu kita masih banyak, penerbangan juga belum dimulai. Menunggu Sekretaris Park sampai dia dan keluarga nya sampai disini. Dia juga mengirim pesan, kalau sebentar lagi dia akan sampai.”

Soojung menolehkan kepalanya, menatap seluruh wajah tampan Myungsoo dengan seksama. “Benarkah? K-kau juga mengajak keluarga Sekretaris Park kesini, bagaimana bisa??” rasa senang nya sudah bermunculan, meski masih terdapat rasa ragu sebenarnya.

Pria bermarga Kim ini mengangguk mantap. Mata teduh miliknya juga diperkaya untuk membuat rasa yakin Soojung semakin mengembang. Dia tahu, istri nya masih ragu.

“Kasihan juga Sekretaris Park, masa hanya kita yang menghabiskan waktu bersama Alena? Lagipula aku juga memikirkan nasib Alena disana, dia pasti merasa sendirian. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengajak istri serta anak Sekretaris Park. Jadi, seperti yang kau dengar. Alena tidak akan merasa kesepian,” jelas Myungsoo.

Ouch, aku tidak tahu kalau kau bisa memikirkan hingga seperti itu. Tidak salah ya, jika aku “ memilihmu?” Soojung menggoda sedikit, jari lentiknya dengan jahil mengacak-acak surai kelam milik suaminya. Sehingga menjadi berantakan karena ulahnya. Tapi, bagi Soojung Myungsoo malah terlihat lebih tampan jika sedang seperti ini.

Memutar bola matanya, jengah. Hal yang dilakukan Myungsoo. Dia mendudukan dirinya pada sebuah kursi, pandangan nya pun teralih pada ponsel pintarnya. Memastikan kalau Sekretaris nya memberi kabar. Ekor matanya melirik Soojung, wanita itu sedang merapikan rambut panjang milik anaknya dengan telaten sekali. Hasilnya juga cukup memuaskan, Myungsoo tersenyum tipis.

“T-tuan Kim, Nyonya Kim!” suara berat milik seorang pria masuk ke dalam telinga mereka. Myungsoo menolehkan kepalanya, mencari siapa pemilik suara berat ini. Langkah kaki itu juga semakin mendekat kea rah mereka, terdengar samar. Namun masih bisa sedikit terdengar.

[Sekretaris Park]

Pria Park itu mencoba menetralkan napas nya yang tidak beraturan. Dia sedikit tergesa-gesa kesini. Mencoba tampil dengan baik di hadapan bos nya. “Maaf saya terlambat.” Dia membungkukan tubuhnya. Senyum canggung terpantri di wajahnya. Sesekali mengusap peluh yang mengotori wajahnya yang—tampan.

Sang atasan, Myungsoo tersenyum. Baginya semua ini tidak masalah, pasti sekretaris nya itu harus menerima sedikit kendala yang membuatnya datang paling akhir. “Tidak apa. Hm, dimana istri serta anakmu? Bukankah aku menyuruhmu untuk mengajak mereka?” tanyanya. Alis tebalnya naik keatas, menatap sang Sekretaris dengan pandangan menyelidik. Namun terasa menusuk.

“Mereka tadi di belakang saya. Karena saya terlalu terburu-buru, akhirnya sedikit tertinggal. Sebentar lagi juga akan sampai. Maaf sekali lagi Tuan Kim,” Sekretaris tersebut langsung menjawab. Sungguh, awalnya dia sedikit terkejut dan takut mendengar ucapan atasan nya.

“Oh. Kalau begitu, lebih baik kau duduk dulu. Raut wajah lelah mu terlihat sekali.”

Sang bawahan mengangguk patuh. Matanya menyusuri sekitar kursi yang tersedia disana. Sedikit menimbang-nimbang. Masalahnya, kursi di sebelah Myungsoo juga kosong dan kursi di samping istirnya juga begitu. Tapi, rasanya tidak enak juga duduk diantara sana. Dia mengalihkan pandangan, tepat ke sebuah kursi yang masih kosong di belakang atasan nya.

Tubuh tinggi tegap milik Sekretaris ini mulai terduduk di atas kursi, menyenderkan punggungnya. Rasa lelahnya mulai sedikit mereda. Sepasang kaki panjang ini tadi terlalu banyak di buat berlari tanpa henti, takutnya dia tertinggal atau terlambat. Mata bulat miliknya mengedar, berusaha menemukan dua makhluk manusia dengan jenis kelamin wanita, dari semua pengunjung bandara ini.

“Chanyeol!”

Terdengar suara khas wanita bergema disana, tapi tidak akan menganggu pengunjung sekitar. Sekarang ramai, begitu banyak manusia disini yang berlalu lalang. Sesekali ada percakapan dari sana sini. Langkah sepatu wanita itu menyentuh lantai marmer berwarna putih yang dingin karena pendingin ruangan, menimbulkan suara bising yang samar.

Sekretaris Park, menolehkan kepalanya. Merasa nama nya terpanggil oleh seseorang. Kembali mengamati seluk beluk bandara yang luas ini. Pemilik mata bulat ini menghentikan arah jarak pandang, terlihat seorang wanita tinggi dengan wajah yang manis. Kulitnya yang dilapisi warna putih susu. Di samping, terdapat anak kecil berperawakan mungil. Jalan mereka terlihat santai.

“Jinri-ya!” Chanyeol, pria tinggi yang menjabat sebagai Sekretaris Kim Myungsoo beranjak dari tempat duduk nya. Melambaikan tangan nya di udara, sedikit memberi bantuan kepada istrinya.

Jinri melangkahkan kaki panjangnya yang dibalut oleh sepatu berwarna putih itu kearah Chanyeol. Senyum khas nya mengembang, begitupula matanya yang terlihat ikut tersenyum. Bergegas kesana, supaya tidak terlalu menunggu nya terlalu lama. Dengan sosok mungil disampingnya.

“Maaf menunggumu terlalu lama, aku sedikit kesulitan ketika berada disini.” Jinri berucap. Tangan miliknya sebelah kanan mengusap pucuk kepala anaknya dengan lembut.

Chanyeol tersenyum. “Tidak apa. Kalau begitu, aku mau mengenalkanmu pada atasan ku serta istrinya. Yang sering ku ceritakan padamu,” sang pria menautkan tangan nya di tangan Jinri. Namun, arah pandang nya kearah lain. Tepat nya kearah Myungsoo dan Soojung, serta Alena. Mereka terlihat berbincang-bincang. Belum menyadari kedatangan Jinri.

Sang wanita memandang ragu sang suami. Sebenarnya dia sedikit malu untuk berkenalan dengan atasan suami nya. Maklum, mereka belum pernah bertemu. Kecuali, terkadang Jinri suka datang berkunjung ke kantor suami nya. Bermaksud ingin mengantarkan makan siang, hasil olahan tangan nya sendiri. Sesekali, dia pernah melihat atasan Chanyeol. “T-tapi?”

Pria di depan nya menghela napas. Raut wajahnya istri nya menunjukan sebuah keraguan dan adanya rasa malu. Ia tahu kalau Jinri masih canggung jika bertemu dengan orang-orang terdekatnya. Apalagi ini atasan nya beserta keluarga mereka. Rasa malu serta ragu Jinri menjadi berlipat-lipat ganda. Chanyeol menatap Jinri balik, tatapannya menyiratkan sebuah keyakinan. “Tenang saja. Mereka berdua adalah orang yang baik, aku yakin kau bisa langsung mengakrabkan diri dengan Tuan serta Nyonya Kim.”

“Aku akan mengantarmu Jinri-ah.”

“B-baiklah,” wanita bermarga Choi tersebut mulai merapikan pakaian nya yang terlihat kusut, menyusun rambutnya supaya lebih tertata rapi. Juga mengatur napas. Jinri mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Chanyeol.

Pria Park itu sedikit merendahkan tubuhnya. “Maaf Tuan Nyonya. Ini istri saya,” ujar Chanyeol sopan. Memperkenalkan wanita nya yang sekarang sudah resmi menjadi miliknya itu. Ia menyenggol lengan Jinri, memberi sinyal pada istri untuk melakukan perkenalan.

“Namaku, Choi Jinri.” Senyum miliknya terlihat, membungkukan tubuhnya sebagai rasa sopan. Memundurkan kembali tubuhnya, sejajar dengan Chanyeol dibelakangnya.

Soojung tersenyum. Menurutnya, sungguh lucu melihat Jinri tadi mengenalkan dirinya sendiri. Rasanya ada sebuah sifat khas miliknya. Wanita Jung ini berdiri. Sebuah senyum ramah terpantri di wajahnya. “Jung Soojung,”

“Mungkin maksudnya, Kim Soojung!” timpal Myungsoo. Menekankan kosa kata ‘Kim’ di deretan kalimatnya. Pria tampan bersurai kelam ini hanya meralat ucapan Soojung tadi, lebih tepatnya kearah marga miliknya. Sekarang ‘kan sudah berubah, menyandang sebagai Nyonya Kim. Wajahnya terlihat dingin sekarang, namun Myungsoo kembali mengubahkan menjadi ramah. ”Kim Myungsoo.”

Wanita bermata kucing itu tersenyum lembut, menganggukan kepalanya pelan sebelum tubuhnya kembali berdampingan dengan sang suami. Jinri membawa Chanyeol ke kursi belakang mereka. Awal pandangnya saat melihat Soojung, wajahnya Nyonya Kim itu sungguh cantik. Surai kelam dan teksture nya pasti lembut sekali. Suara nya juga, khas seorang wanita yang anggun. Memang sih, awalnya Jinri mengira kalau Nyonya Kim itu memiliki sifat yang sedikit sombong. Buktinya, tadi. Melihat wajah dingin Soojung.

Sekretaris Park ini tertawa kecil, menyembunyikan di balik tangan. “Bagaimana? Nyonya Kim baik bukan? Yeah, meski wajahnya memang terkesan dingin nan arrogant. Tapi sebetulnya dia wanita yang memiliki hati hangat,” ujar Chanyeol. Mengetahui apa isi dari otak istri nya yang sedang bekeja sekarang.

Jinri mengangkat satu alisnya. Pandangan wanita ini terlihat tidak mengenakan. “Oh, jadi kau mengenal baik dengan Nyonya Kim? Darimana kau tahu itu semua?” melepaskan tautan tangan mereka tadi, dengan sedikit cara yang kasar. Sang pemilik mata kucing ini bersedekap, pandangan nya juga terlihat tidak suka.

Chanyeol merasa tambah kegelian sekarang. Menurutnya, wajah Jinri sekarang tidak ada seram sama sekali. Malah sangat menambah kesan lucu dalam dirinya saja. Tangan besar miliknya berpindah pada pipi Jinri, mencubitnya pelan. “Hey tenang saja. Aku mengenal Nyonya Kim karena sering bertemu dalam satu kantor, tidak lebih.”

Eomma,” terdengar suara khas anak-anak, menyambut gendang telinga Chanyeol serta Jinri yang mendengar. Tangan mungil miliknya menarik-narik pakaian yang digunakan sang Ibu. “Apakah disana sangat menyenangkan?” keluarlah pertanyaan dari bibir mungil miliknya, terkesan sangat polos sekali.

Sang Ibu tersenyum lembut, tangan miliknya menepuk kursi kosong yang berada di tengah-tengah mereka. Sampai lupa dengan keadaan anak mereka sendiri. Menyuruhnya untuk duduk sekarang. “Disana sangat menyenangkan sayang, Eomma yakin kalau nanti kamu akan sangat suka berada disana.” Jinri mengusap surai coklat milik anaknya.

Mata kecil milik anak cilik ini berbinar-binar sekali, menambah kesan lucu serta kebahagian yang terpantri lewat wajah walaupun tatapan matanya. “Benarkah Eomma? Hm, Appa kapan kita berangkat kesana?” pandangannya menoleh, mengarah ke sosok sang Ayah disebelahnya.

Chanyeol tersenyum. “Sebentar lagi sayang, sabar sedikit ya?” pesan nya. Hanya tinggal menghitung saja, sekitar lima menit lagi mereka harus segera memasuki pesawat yang di tumpangi.

.

.

.

Soojung mengambil napas dalam-dalam, mengeluarkan nya lagi lewat mulutnya. Sesekali menutup matanya sejenak. Terasa sangat ingin menikmati suasana baru di Negara yang sedang dia kunjungi sekarang. Udara nya sangat sejuk, sangat aman untuk jalur pernapasan serta paru-paru nya. Sedikit merapatkan syal yang melilit lehernya, cuaca sekarang cukup dingin. Mungkin karena sebentar lagi malam menyambut Canada.

Sama hal nya dengan Myungsoo, suami nya sudah berada tepat di samping kiri. Bedanya, pria itu menggenggam tangan mungil milik anaknya. Membiarkan Soojung sementara untuk mendalami suasana disini. Sepasang mata tajam miliknya melirik ke samping, untuk melihat betapa rasa senang anaknya sudah lebih membuncah sekarang.

“Bagaimana, apakah kamu suka berada disini? Menyenangkan kah?” Myungsoo menyamakan tubuh tingginya pada Alena. Bertanya pada sang anak. Ia sedikit merapikan rambut buah hati nya yang berantakan akibat angin yang bertiup.

Merasa kalau ada suara yang bertanya padanya. Suara berat, sangat mudah di kenali. “Sangat Dad! Disini begitu indah, aku sangat menyukainya!” balas Alena menggebu-gebu. Meloncat kecil di udara dengan kedua kaki mungilnya.

“Syukurlah kalau kau senang.” Gumam Myungsoo.

To be Continue

Heyho~ Aku tahu chapter ini GJ sumpah *pundung di pojokan* tapi semoga aja kalian suka sama hasilnya. Dan, jangan lupa comment nya ya setelah membaca? Aku menunggumu……

4 responses to “The Family (Chapter 2)

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s