Pacar dan Taruhan

Untitled-1

Pacar dan Taruhan © burritown

Casts: Jung Soojung, Kim Myungsoo

Genre: Romance? Fluff? Humor? (crack? failed?)

Warning!  Alternate Reality, Typo(s), Out Of Characters, semi-plotless, e.t.c

Written in 3.854 Words

Summary; Hari Valentine. Berawal dari cerita tentang Pacar dan berujung taruhan.

Jung Soojung tak pernah sesenang ini sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju apartemen ia habiskan dengan bersenandung, terkadang sesekali menyeringai—oh, tentu saja kau tidak salah membaca kalimat sebelumnya, maksudku, ya. Soojung benar-benar menyeringai, bukan tersenyum seperti biasanya—. Sambil membawa satu kardus besar berisi cokelat; setelah sebelumnya ia menggotong tiga kardus penuh cokelat. Ya, cokelat. Hari ini tanggal empat belas Februari. Yang tak lain merupakan Hari Valentine; kalau kau menandainya secara khusus di kalendermu.

Untuk seorang gadis cantik, jenius, dan populer (Apalagi setelah drama terakhirnya bersama Rain sukses memuncaki chart drama paling diminati di Korea dan China) seperti Soojung, tentunya tidak sulit untuk mendapatkan kiriman cokelat yang cukup banyak dari para pengagumnya di luar sana. Buktinya, sampai saat ini terdapat empat kardus besar penuh berisi cokelat yang diterimanya.

Ia menunjukkan kartu elektriknya di depan mesin scanner kecil ketika sampai di depan pintu apartemen. Tak berapa lama kemudian, pintu itu terbuka, menampilkan ruang tamu yang terbilang luas dengan hanya dua orang yang menempatinya (ya, kau tidak salah membacanya. Soojung memang tinggal berdua dengan seseorang disini; lebih tepatnya seseorang itu memaksa untuk tinggal disini). Kesan pertama, sepi. Tak ada tanda-tanda keberadaan makhluk pirang yang cukup, well, sangat, menyebalkan.  Dan Soojung merasa beruntung. Setidaknya manusia cempreng itu tidak akan menghujaninya dengan cicitan-cicitan tidak bergunanya—untuk sekarang.

Dengan suasana hati yang masih berbunga-bunga, Soojung melangkahkan kaki kecilnya memasuki ruang tamu. Seringaian tipis itu masih melekat di paras cantiknya, sebelum—

“Wow, Jung Soojung dan kardus cokelat ke-empatnya.”

—suara menyebalkan itu menginterupsi. Soojung menghentikan langkahnya, sementara sang pemilik suara semakin melebarkan seringai liciknya di balik sofa. Puas karena berhasil memprovokasi sang gadis.

Shut up, Myungsoo.” Bahkan ia memanggilnya tanpa embel-embel penghormatan.

Oh, maaf. Kau memang tidak salah baca disini. Di baris sebelumnya tertulis bahwa Soojung kita tinggal seatap dengan seseorang. Dan, ya. Tepat sekali. Orang itu adalah Myungsoo. Kim Myungsoo. Seorang aktor dan penyanyi tampan dan paling digemari di Korea Selatan. Tidak, kau jangan salah paham terlebih dahulu. Semuanya benar-benar tidak seperti yang kau bayangkan. Kim Myungsoo hanya menumpang selama beberapa hari karena sedang memiliki suatu cedera (ia tidak ingin seluruh kolega ataupun manajer-hyung mengetahuinya); dan jangan tanyakan kenapa pemuda itu memilih apartemen Soojung sebagai tempat singgah sementara (lagipula beruntung apartemen Soojung memiliki dua kamar).

“Santai, Jung. Aku hanya berkomentar—“

“Dan Aku tidak butuh komentarmu.”

Myungsoo bangkit dari sofanya, berjalan mendekati Soojung yang menatapnya sebal—salah satu dari sekian ekspresi gadis pelantun Red Light yang paling disukainya—masih dengan seringai kemenangan terlukis di wajahnya.

Well, kupikir kau membutuhkan komentarku, Jung—“ Soojung merotasikan kedua bola matanya pada bagian ini, “Lagipula, kurasa otakmu masih cukup jenius untuk mengetahui bahwa kita sedang berkompetisi—kecuali pikiranmu sedang kurang waras karena kebanyakan makan cokelat.” Myungsoo mengangkat bahu. Setindak kemudian, pemuda pirang itu pergi menjauhi Soojung yang masih sibuk mengutukinya—

“Dan—oh! Aku lupa mengatakannya kepadamu kalau Aku mendapatkan enam kardus besar berisi cokelat. Jadi, ini merupakan kemenanganku, Jung.”

Detik selanjutnya, Soojung sukses mencak-mencak ditempatnya. Sungguh, selama duapuluh dua* tahun hidupnya, tidak pernah sekalipun Soojung dikalahkan orang lain, dalam segala hal (pengecualian untuk Choi Jinri yang benar-benar membuatnya kalah telak di hari valentine ketika tahun pertama masuk universitas! Gadis itu mendapatkan bungkusan cokelat yang lebih banyak dua biji darinya). Dan—sekarang. Kim Myungsoo dengan segala peringai licik dan sombongnya itu mengaku telah mengalahkan Soojung dalam hal, well, kepopuleran. Tentu saja hal itu membuat harga diri Jung Soojung sebagai aktris dan penyanyi papan atas tercoreng.

Oke, jadi begini—

000

Tanggal tiga belas Februari.

Jung Soojung, seperti biasa, terlihat sedang bersantai di ruang tamu dengan ditemani cokelat hangat dan beberapa biskuit—dan jangan lupakan buku setebal hampir tiga puluh sentimeter yang selalu dibacanya. Sesekali membalik halaman buku, sambil menyomot satu dari sekian biskuitnya, terkadang meletakkan bukunya sejenak untuk meminum cokelat hangat dari mugnya. Bau semerbak cokelat yang menenangkan begitu asapnya mengepul tepat di depan indera penciuman Soojung, sebelum ia menyesapnya perlahan. What a wonderful time to spend!

Namun semua kegiatan indah tersebut sepertinya tak bertahan lama. Tepat tujuh belas menit setelah Soojung bergelung secara ‘intim’ dengan buku-cokelat hangat-biskuitnya, pintu apartemen terbuka dengan cukup kasar. Menampilkan sosok—siapa lagi kalau bukan—pemuda jangkung dengan mahkota pirang platina yang sedikit berantakan. Si tukang pembuat onar, Kim Myungsoo.

Well, kupikir kau tidak harus membanting pintu dengan keras, Myungso-ssi.” Soojung mendengus sebal, mengalihkan pandangannya kepada sosok Myungsoo selama sekian nanodetik sebelum kembali fokus dengan bukunya. Tak ada respon dari sang pemilik marga Kim. Dan Soojung sama sekali tak mempermasalahkannya, juga tak mengharapkan Myungsoo untuk membalas ucapannya. Lagipula cukup baik jika makhluk pirang itu tidak mengeluarkan suara cemprengnya—

“Kupikir tidak ada larangan untuk membanting pintu dengan keras, Soojung-ssi.” Myungsoo tersenyum puas. Membalikkan setiap kata-kata yang dilontarkan oleh orang lain adalah keahliannya. Sangat Myungsoo-ish.

“Apa yang kau baca?” Myungsoo, yang entah sejak kapan, telah duduk manis tepat di samping Soojung—dengan sebelah tangannya langsung menyomot biskuit yang terdapat di meja. Langsung mendapatkan tatapan membunuh dari sang gadis cokelat madu.

Soojung merotasikan kedua bola matanya, masih memfokuskan diri pada buku yang dibaca, “Kupikir kau cukup jenius untuk mengetahui apa yang sedang Aku baca, Myungsoo-ssi.” Terdapat sedikit penekanan dalam penyebutan panggilan hormat Myungsoo disini.

Myungsoo menyeringai. Dan, sungguh. Itu adalah pertanda buruk bagi Soojung.

How to be popular? Demi Kim Myungsoo yang tampan ini, Jung. Tak kusangka kau suka membaca buku norak seperti itu,” Terdapat jeda sejenak, “dan—Hell! Tebalnya hampir tiga puluh sentimeter. Sepertinya kau memang sinting, Jung.” Myungsoo kembali membuka suaranya, kali ini dengan nada mencibir—oh, tentu ia memang sengaja membuatnya seperti itu; untuk menggoda sang gadis cokelat madu.

“…Oh! Aku tahu! Kau sedang bertengkar dengan Pacar kesayanganmu, dan berakhir dengan membuatmu sinting—“

“Aku sarankan kau segera pergi ke Rumah Sakit—“

Soojung meletakkan bukunya dalam sekali hentakan, menimbulkan bunyi berdebum yang cukup keras ketika buku tebal itu menyentuh permukaan meja. Gadis itu sudah mencapai puncak kesabarannya, dan sebentar lagi kemarahannya akan segera meledak gara-gara seorang Myungsoo—yang entah kenapa kadar kecerewetannya bertambah menjadi berkali lipat daripada kemarin.

Just shut up your mouth, Kim Myungsoo. Aku sedang mencoba berkonsentrasi disini. Dan kau—“ Telunjuk Soojung menuding hidung Myungsoo berkali-kali, “Kau merusak segalanya dalam waktu singkat. Kau mengganggu kebahagiaanku!” Semprot Soojung. Yang, sayangnya, sama sekali tidak diindahkan oleh sang pemilik surai pirang platina. Oh—bahkan Myungsoo semakin melebarkan seringaiannya dengan sebelah alisnya sedikit terangkat. Bahagia karena telah berhasil membuat gadis paling jenius yang dikenalnya emosi; dan tentunya hal ini bukan yang pertama kali Myungsoo membuat lawan mainnya di serial My Lovely Girl meledak-ledak.

Myungsoo kembali menyomot satu biskuit, tanpa ada sedikitpun rasa bersalah “Aku tidak ingat kalau mengganggu kebahagiaanmu, Jung. Aku hanya menyarankan bahwa kau—“

“Berhenti memakan biskuit orang lain, Myungsoo!”

“Seharusnya pergi ke Rumah Sakit untuk—” Dan Myungsoo mulai meraih mug milik Soojung, meneguk cokelat yang mulai mendingin tanpa dosa.

“Tiga kali. Berhenti melayangkan tanganmu pada barang—snack—punyaku, Myungsoo sialan!”

Tiga detik kemudian, buku setebal hampir tiga puluh sentimeter sukses menimpa Kim Myungsoo.

***

Myungsoo memegang sisi kiri kepalanya yang masih terasa pening akibat tertimpa buku—Soojung benar-benar marah kepadanya—. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Soojung akan melakukan hal sekeji itu; menimpuk Myungsoo dengan buku setebal hampir tiga puluh sentimeter dengan cukup keras—Hey! Bagaimana kalau hal itu dapat menimbulkan kerusakan pada sistem sarafnya? Myungsoo yakin, bahwa ia tidak akan dapat berpikir dengan cemerlang lagi; setelah duapuluh empat tahun selalu menyandang nama dengan nilai terbaik di riwayat pendidikannya. Atau melangkah ke kemungkinan yang paling buruk, bagaimana kalau hal itu dapat mengurangi kadar ketampanan seorang Kim Myungsoo?! Uh, tentu saja ia tidak ingin kemungkinan terburuk itu terjadi. Bisa-bisa ia kehilangan para fans setianya—heck!

“JUNG! Kau membuatku hampir mati!” Myungsoo berteriak dramatis. Tidak terima atas perlakuan tidak senonoh Soojung kepadanya—well, bagi seorang Myungsoo, tentu saja kejadian ‘menimpuk orang dengan buku tebal karena telah mengusik kebahagiaanmu’ termasuk dalam salah satu tindakan yang tidak senonoh.

“Tertimpa buku setebal dua puluh delapan sentimeter tidak akan membuatmu mati, Myungsoo—Kecuali kalau ada orang yang benar-benar berniat untuk menginginkanmu mati konyol,” Soojung mengangkat kedua bahunya, “Seperti Aku, contohnya.” Ia tersenyum puas.

Seringai menyebalkan—bagi Soojung—itu kembali terlukis jelas di wajah Myungsoo. Sungguh, melihat Kim Myungsoo yang seperti itu membuat gadis itu ingin melayangkan kepalan tangannya tepat di garis-garis wajahnya yang sok tampan itu. Ia merotasikan manik hazelnya. Cukup memuakkan. Soojung melengos, bersiap meninggalkan sosok pemuda paling menyebalkan di kehidupannya.

Hanya membutuhkan waktu sekian nanodetik untuk membuat Soojung menetap di tempatnya. Myungsoo dengan cepat menarik lengan kecil sang gadis hingga membuat mereka berdua berada dalam posisi yang cukup dekat,

“Kau tidak mungkin menginginkanku untuk mati, Jung.” Myungsoo menekan setiap rangkaian kata dalam kalimatnya. Oke, gadis itu mulai merinding disko disini—untuk beberapa alasan. Tubuhnya menegang ketika tiba-tiba sosok Myungsoo mendekatkan dirinya.

“Asal kau tahu, Pacarku pasti akan sedih jika Aku mati.” Dan membisikkan sesuatu di telinganya. Percayalah, Soojung bisa merasakan sensasi geli sekaligus beberapa sensasi aneh lainnya—perutnya terasa mual sekarang—, ketika Myungsoo menghembuskan napas tepat di samping telinganya. Seperti terdapat sesuatu yang familiar mengalir cepat di pembuluh nadinya, membuat jantung gadis itu mau tak mau harus bekerja lebih cepat. Bahkan ia merasakan pipinya memanas ketika indera penciumannya mengendus bau mint yang menguar dari sosok pemuda di depannya. Oh! Sepertinya ia benar-benar harus pergi ke Rumah Sakit setelah ini.

Soojung memejamkan kedua mata, mencoba mengembalikan akal sehatnya. Tidak, tidak. Gadis itu tidak boleh terjebak dalam permainan licik makhluk pirang untuk yang kesekian kalinya—Uh, terakhir kali Soojung terhanyut dalam permainan licik Myungsoo (pemuda itu membuatkannya cokelat hangat secara cuma-cuma), dan langsung diteguk sampai habis oleh Soojung—Demi Neptunus! Waktu itu sedang terjadi badai dan udara terasa dingin sekali—. Setindak kemudian, Soojung merasakan suatu reaksi aneh terhadap tubuhnya (sungguh, ia benar-benar tak ingat apa yang terjadi selanjutnya).

Keesokan harinya, Soojung meihat Myungsoo tengah tertawa menonton sebuah video dirinya yang sedang meracau ketika mabuk. Setindak kemudian, gadis itu mengetahui bahwa sang Myungsoo telah memasukkan alkohol ke dalam cokelat hangatnya, sehingga Soojung harus mati-matian menahan emosi ketika makhluk pirang itu tak pernah berhenti mengusik ketenangan hidupnya (Demi flying dutchman! Myungsoo menunjukkan kepadanya semua hal yang terjadi ketika Soojung masih dalam keadaan mabuk), yang berujung dengan pipi Soojung yang merona kemerahan. Myungsoo sialan.

“Oh ya? Kupikir Pacarmu itu tidak akan sinting kalau kau mati sekalipun, Myungsoo.,” Ujar Soojung sarkastik, “Dan kurasa dia masih bisa mencari pria lain yang lebih tampan darimu. Lagipula tidak sedikit lelaki yang terpikat oleh pesona pacarmu itu, bukan?” Mengibaskan beberapa helai rambutnya, sambil tersenyum puas. Setidaknya Soojung tidak akan kalah dalam debat kali ini.

Myungsoo menjauhkan wajahnya, menunjukkan seringaian lebarnya. Sialan.

“Asal kau tahu, Jung. Pacarku itu sangat polos dan lugu. Jadi tidak mungkin kalau dia akan mencari pacar baru. Kalaupun Aku sudah meninggal.” Sebelah telunjuknya teracung tepat di depan hidung Soojung.

“Jangan terlalu percaya diri, Myungsoo Sikapmu benar-benar mengingatkanku kepada Pacarku yang idiot dan sok itu.” Soojung tidak mau kalah—memang seperti itulah seharusnya. Kedua tangannya bersedekap di atas dada. Wajahnya sedikit terangkat ke atas, menatap Myungsoo tajam.

Hoo, Idiot, ya? Kupikir Pacarmu itu seseorang yang sempurna. Dia tampan, bertalenta, bahkan mampu membuatmu merona setiap kali kau berdekatan dengannya.” Myungsoo menyeringai lebar, memainkan kuku-kuku jarinya dengan angkuh, “Jangan pikir Aku tidak tau gelagatmu ketika sedang bersama Pacarmu, Jung.”

Soojung merotasikan kedua bola matanya, “Sejak kapan kau begitu peduli dengan Aku dan Pacarku? Sebaiknya kau urusi saja Pacarmu dengan baik agar dia tidak marah-marah terus.” Soojung melengos.

“Asal kau tahu, Jung. Aku lebih suka melihat Pacarku yang sedang marah-marah. Lalu ketika dia sedang berada di puncak emosinya, disitu Aku akan memerankan peranku sebagai seorang pacar yang sesungguhnya.” Myungsoo tersenyum bangga, yang justru mendapat tatapan jijik dari sang gadis cokelat madu.

Hening selama beberapa jenak. Bahkan Soojung sama sekali tak berminat untuk menatap raut wajah menyebalkan Myungsoo sekarang.

“Ah, iya! Bagaimana kalau kita buat saja taruhan, Jung?” Suara cempreng itu memecah keheningan. Pemuda itu menjentikkan jemarinya, seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang yang melintasi otak jeniusnya. Soojung berkacak pinggang, tidak berminat untuk merespon, namun gelagatnya menunjukkan bahwa ia masih mendengarkan.

“Besok tanggal empatbelas Februari, dan kau tahu cukup baik event yang terjadi setiap tahunnya.” Myungsoo menarik napas panjang di bagian ini, “Mari kita tentukan, siapa yang lebih populer. Aku, atau kau? Yang berhasil mengumpulkan cokelat yang lebih banyak adalah pemenangnya. Bagaimana?” Mengulurkan sebelah tangannya, meminta kesediaan sang gadis. Ralat. Lebih tepatnya, Myungsoo memaksa Soojung untuk menerima tantangannya (yang sebenarnya terdengar cukup kekanak-kanakan. Lagipula, apa yang kau harapkan dari seorang Kim Myungsoo? Membiarkan kehidupan Jung Soojung mengalir lancar tanpa hambatan? Kau pasti bercanda).

Soojung masih enggan merespon, Myungsoo menambahkan, “Kalau kau menang, Aku tidak akan menganggu waktu santaimu lagi. Akan tetapi,” Ia menunjukkan seringai liciknya disini, “Kalau Aku yang menang, kau harus menuruti permintaan apapun yang Aku minta. Setuju?”

Tanpa membuang waktu, Soojung lantas meraih uluran tangan Myungsoo yang dua kali lebih besar dari miliknya, “Setuju!” Lagipula, kalau masalah kepopuleran ia sama sekali tidak ragu. Soojung yakin akan menang.

000

Ya! Kim Myungsoo. Kau pasti berbuat curang, ‘kan?” Soojung menyipitkan kedua matanya, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan setitikpun kepercayaan terhadap kata-kata pemuda cempreng di depannya. Yang benar saja, beberapa menit yang lalu (sebelum Soojung mengambil kotak kardus cokelat ke-empatnya, ia masih melihat dua kardus cokelat milik Myungsoo; bukannya enam seperti yang diucapkan pemuda itu sekarang).

Myungsoo mengangkat kedua bahunya, “Aku sama sekali tidak curang, Jung.” Berjalan mendekati Soojung (masih) dengan seringainya yang menyebalkan. Demi kolosal! Bisakah ia enyahkan makluk sok tampan yang menyebalkan ini sekarang?

Soojung sendiri mulai meletakkan kardus cokelat ke-empatnya, dan berkacak pinggan, dengan kepalanya ia angkat sedikit ke atas, “Lalu ceritakan bagaimana bisa terdapat enam kardus cokelat di depan ruanganmu.” Sedikit mengeraskan suaranya supaya lebih terdengar dramatis. Padahal beberapa menit sebelumnya Aku hanya melihat dua kardus cokelat disana. Soojung bermonolog dalam pikirannya. Sebenarnya, Soojung sendiri ragu apakah tuduhannya terhadap Myungsoo itu benar-benar valid atau tidak. Hey, bisa saja ketika gadis itu sedang pergi mengambil kardus ke-empatnya, pemuda itu datang dengan membawa empat kardus lainnya, bukan? lagipula—

“Manajer-hyung tadi mengantarkannya kemari. Katanya kardus-kardus cokelat itu sudah memenuhi dorm.”  Myungsoo berujar santai.

Skakmat!

Pemuda itu masih setia berdiri di depan Soojung dengan seringaian menyebalkannya (yang sama sekali tidak luntur semenjak tadi). Oh, Soojung sendiri heran, mengapa Myungsoo benar-benar suka memasang seringaian jelek yang (menurutnya) benar-benar tidak keren.

Manik gelap Myungsoo menatap tepat ke arahnya secara intens. Dan untuk beberapa alasan Soojung merasa posisi pemuda itu semakin dekat dengannya, sehingga ia harus mundur beberapa langkah untuk tetap menjaga jarak. Soojung merasakan irama detak jantungnya yang mulai tak beraturan. Kim Myungsoo sialan.

“Ma-mau apa kau?” Kaki-kaki mungilnya terus melangkah mundur, sampai ia merasakan kakinya terantuk kaki meja. Oh, jalan buntu. Soojung sudah tidak mampu berlari lagi sekarang. Ia menelan ludahnya kuat-kuat ketika Myungsoo mulai sedikit merendahkan posisi tubuhnya, semakin mendekat ke arahnya. Sial. Sial. Sial. Bahkan hampir tak tercipta jarak di antara mereka; Soojung merasakan hidung mancung Myungsoo yang perlahan menyentuh hidungnya (ia mampu merasakan hembusan napas hangat Myungsoo yang teratur secara jelas).

Y-Ya! Kim Myungsoo. Kalau kau berani macam-macam, A-Aku akan me-mengusirmu!”

“Akuilah kekalahanmu, Jung.”  Pemuda itu sedikit merendahkan frekuensi suaranya, sehingga terlihat seperti sedang berbisik, namun nadanya terdengar menggoda. Kim Myungsoo sialan.

“Ke-kenapa Aku harus mengakuinya? K-kau yang curang!” Soojung sedikit berteriak untuk mencoba menghalau perasaan gugupnya, namun gagal total. “Kim Myungsoo. Ka-kalau kau seperti ini, A-Aku yakin Pacarku akan membunuhmu sebentar lagi.” Bahkan pita suaranya mulai bergetar sekarang.

Myungsoo menghembuskan napas berat, “Kenapa Aku harus membunuh diriku sendiri, Jung?” Semakin melebarkan seringaiannya ketika mengetahui gelagat Soojung yang sedang gugup. Ah, sungguh. Ia benar-benar menyukai raut muka Pacarnya sekarang.

Soojung tidak mampu mengelak lagi. Memang benar apa yang diucapkan oleh Myungsoo. Tidak mungkin pemuda itu membunuh dirinya sendiri (kecuali Myungsoo benar-benar berniat untuk mengakhiri hidupnya sekarang) tanpa adanya suatu alasan yang jelas. Tidak. Tidak. Bukan berarti Soojung berharap Pacarnnya untuk mati—hell!

“Baiklah, baiklah. Myungsoo. Kau menang!” Soojung berucap sedikit frustasi, “Sekarang, bisakah kau mundur satu meter kebelakang agar Aku bisa bergerak, eh?”

Myungsoo menaikkan satu sudut bibirnya, dan segera menuruti ucapan Pacarnya. “Nah. Sekarang Karena Aku menang, sesuai perjanjian, kau akan menuruti permintaan apapun yang kuminta.” Melebarkan seringaiannya, mampu membuat Soojung kembali menelan ludah. Apapun permintaan yang diinginkan oleh Myungsoo, pastilah hal itu akan merugikan Soojung.

Pemuda itu tidak segera angkat bicara, membuat Soojung semakin yakin bahwa Myungsoo akan meminta sesuatu yang tidak wajar—seperti menyuruhnya untuk menjadi babu selama seharian, contohnya—. Bayangan Myungsoo yang tertawa kesetanan dan kesengsaraan dirinya terbayang jelas di kepalanya.

“Aku ingin…” Myungsoo menggantungkan kata-katanya, Soojung semakin was-was.

“Kau kembali baikan dengan Pacarmu serta menghadiahinya sebuah ciuman.” Myungsoo berujar. Sial. Bahkan permintaannya jauh lebih buruk daripada menjadikan Soojung seorang babu. Ah, seharusnya ia tidak terlalu berharap kepada pemuda sialan seperti Kim Myungsoo.

Soojung menggigit bibir bagian bawahnya, tampak berpikir sejenak, “Tidak mau!” lantas gadis itu mengerucutkan bibirnya, membuat jemari Myungsoo gatal untuk mencubit pipinya. Soojung memang terlihat lucu dan menggemaskan ketika marah, ia bermonolog.

Wow, bukankah itu melanggar aturan, Jung? Kau sendiri yang menyetujui kesepakatan kita kemarin, hmm?” Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. Raut wajahnya tampak puas melihat gelagat Soojung yang menggemaskan.

“Ta-tapi…”

“Kalau kau tidak mau melakukannya, lebih baik Aku mengatakan kepada Pacarmu saja kalau kau sudah tidak mencintainya.” Myungsoo bergegas membalikkan badannya, meninggalkan Soojung. Gadis itu kembali menggigit bibir bagian bawahnya, sekilas ekspresi keraguan terlukis di benaknya. Namun, setindak kemudian, Soojung melangkah maju, mendekati Myungsoo. Sebelah tangannya menggenggam lengan baju pemuda itu, menahannya untuk pergi.

“Tunggu. Aku akan melakukannya.” Soojung berucap pelan. Myungsoo melukis senyuman di wajahnya. Pemuda itu lantas berbalik menghadap Soojung. Menunggu tindakan selanjutnya.

“Baiklah. Aku menunggu.” Masih dengan senyuman yang terlukis di wajahnya, kedua tangan Myungsoo bersedekap di dadanya.

Soojung meletakkan jemarinya di bawah dagu, gadis (yang mendapat julukan jenius) itu berpikir keras. Sementara Myungsoo masih setia menunggu satu-dua patah kata yang akan diucapkan gadis cokelat madu tersebut.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Aish, Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.” Soojung mengacak surai kecoklatannya frustasi. Maniknya menatap Myungsoo memohon. Supaya pemuda itu mengurungkan permintaannya yang sangat terkutuk ini dan menggantinya dengan permintaan yang lain. Oh, sungguh. Ia lebih rela dijadikan babu oleh Myungsoo selama satu hari penuh daripada disuruh untuk berbaikan dengan Pacarnya—apalagi menciumnya—. Sementara Myungsoo hanya melemparkan tatapan lakukan-atau-aku-laporkan-ke-pacarmu dengan ekspresi muka yang menyebalkan (benar-benar membuat Soojung ingin segera menendang bokong pemuda cempreng itu jauh-jauh dari apartemennya).

Soojung menghembuskan napas berat. Seolah kesialannya masih akan berlanjut setelah kejadian ini. “Oke, oke.” Mendengus kesal ketika pemuda itu memberikan respon yang sama sekali jauh dari harapannya.

“Kita lakukan simulasinya terlebih dahulu.” Myungsoo memberikan usulan. Soojung merotasikan kedua bola matanya, asalkan pemuda itu bahagia.

“Maafkan Aku karena sudah menendang bokongmu kemarin lusa. Walaupun sebenarnya itu terjadi karena kau mengajakku menonton film horor bersama, jadi sepenuhnya bukan salahku karena aku ketakutan dan berakhir menendang bokongmu.” Soojung mengucapkannya dengan tempo yang cukup cepat—sunguh, ia benar-benar sengaja disini—. Sementara Myungsoo mencoba menahan tawanya agar tidak meledak mendengar frasa pengucapan Pacarnya yang cepat. Benar-benar mirip seperti shinkansen**.

“Tunggu, Jung. Bagaimana kau bisa meminta maaf dengan tempo yang cepat seperti itu? Bahkan Pacarmu saja tidak mungkin mengerti dengan apa yang kau ucapkan. Ulangi sekali lagi.” Melihat raut muka Soojung yang sekarang semakin membuat Myungsoo ingin menggoda gadis itu lebih lama lagi. Tolong ingatkan Myungsoo untuk tidak kelepasan menggoda gadis yang kelewat menggemaskan itu supaya tidak menerima tendangan lagi untuk yang kedua kalinya.

“Tidak mau. Aku sudah mengucapkannya. Kalau memang Pacarku tidak mengerti, itu bukan masalahku. Yang penting Aku sudah minta maaf kepadanya. Lagipula ini hanya simulasi, bukan?” Soojung bersedekap, enggan menatap Myungsoo. Pemuda itu menghembuskan napas, memaklumi. Lagipula apa yang bisa ia harapkan dari Jung Soojung yang memang kelewat menggemaskan? Sebuah peluk-cium sebagai tanda permintaan maaf? Jangan harap.

“Hei, Jung.” Suara cempreng itu kembali terdengar. Soojung mendengus pelan sebagai respon. “Kau tidak lupa apa yang harus kau lakukan selanjutnya, bukan? Setelah berbaikan dengan Pacarmu?” Sialan. Soojung hampir lupa dengan permintaan yang itu. Benar, bukan? Kesialannya tidak berakhir dengan simpel.

Ya! Karena ini cuma simulasi jadi Aku tidak perlu melakukannya.” Nah. Sekarang Soojung bahkan mencoba untuk mengelak.

“Begitu? Kalau begitu Aku akan mengadu ke Pacarmu kalau kau sudah—” Baru satu langkah Myungsoo berbalik, namun Soojung kembali menggenggam ujung baju lengannya. Ah, gadis yang satu ini memang terlalu menggemaskan.

“Bagaimana?”

“Aku tidak punya pilihan lain.” Soojung menundukkan kepalanya. Untuk kali ini saja gadis itu membiarkan dirinya tertimpa kesialan yang berkali lipat; dan semuanya berpusat pada si pemuda cempreng itu, Kim Myungsoo.

“Tapi hanya sebuah ciuman di pipi. Tidak lebih.”

Pemuda itu tersenyum lebar. Merasa sangat bangga karena mampu memprovokasi Soojung yang terkenal bossy dan mempunyai harga diri yang tinggi. Mungkin sebentar lagi Myungsoo mampu memperoleh penghargaan khusus dengan prestasinya ini.

Soojung mulai memisahkan jarak yang tercipta di antara mereka, menarik Myungsoo lebih mendekat kepadanya. Ia sedikit berjinjit agar mampu meraih pipi tirus pemuda yang beberapa senti lebih tinggi darinya. Soojung memejamkan kedua matanya, dan—cup! Sebuah ciuman singkat berhasil ia berikan kepada Pacarnya. Lunas sudah hutangnya. Akan tetapi, untuk beberapa alasan, Soojung merasa telah mengecup bibir pemuda itu, dibandingkan dengan sebuah ciuman singkat di pipi. Sensasinya terlalu kenyal dan sedikit basah untuk sebuah kecupan singkat di pipi.

Soojung membuka kedua bola matanya, pandangan pertama yang ia lihat adalah bibir tipis Myungsoo yang sedang membentuk sebuah senyuman menyebalkan. Beberapa jenak gadis itu mengerjap, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

“Terimakasih untuk ciuman di bibirnya, Soojung-aa.” Myungsoo tersenyum lebar, sebelah tangannya meraih puncak kepala Soojung, mengacaknya pelan. Sementara gadis itu masih membisu; rupanya masih belum mampu mencerna apa yang telah terjadi.

Soojung tersentak, “Ya! Kim Myungsoo. Kau benar-benar licik sekali.” Setindak setelah Soojung menyelesaikan kalimatnya, ia menyerang Myungsoo dengan pukulan berkelanjutan. Tidak terima bahwa pemuda itu tengah menjahilinya sedemikian rupa.

Myungsoo yang tidak sempat mencari tempat perlindungan, terpaksa harus menerima seluruh serangan Soojung yang bertubi-tubi dalam tempo cepat. Membuatnya mengaduh kesakitan.

“Maaf, Pacarmu ini memang salah. Tolong. Jangan pukuli Aku lagi.”

Sudah terlambat bagimu, Kim Myungsoo.

.

.

.

.

FIN

.

.

.

.

Dengan tidak jelasnya…

Catatan TL:

Seperti yang sudah saya cantumkan di bagian judul, kalau fanfiksi ini memiliki nuansa Alternate Reality. Jadi anggap saja setting fanfiksi ini adalah setelah mereka bermain di drama My Lovely Girl, dengan catatan rambut Myungsoo masih pirang; bukan hitam.

*Saya menggunakan perhitungan umur di Korea selatan. Secara internasional, umur Soojung tahun 2015 ini sebenarnya masih duapuluh satu tahun (mengingat gadis kita ini lahir di tahun 1994). Sedangkan Myungsoo, yang lahir di tahun 1992 seharusnya intl agenya masih menginjak usia duapuluh tiga tahun.

**Kereta berkecepatan tinggi di Jepang.

Whoa! Rasanya saya tidak percaya berhasil menyelesaikan fanfiksi ini (setelah sekian bulan mendekam di dalam dokumen fanfiksi tanpa ada niat untuk melanjutkan /plok/). Hampir mencapai 4k, woooohooooo~ /wut/. Seharusnya diposting ketika menjelang valentine kemarin, tapi—apa daya, writer Block menghampiri hingga membuat saya sangat susah untuk memeras ide untuk mlanjutkan fic ini :’)

Dan sekali lagi maafkan diksi saya yang amburegul ameseyu, plot yang dan adegan romance yang maksa, serta penghancuran karakteristik Myungsoo dan Soojung yang tidak terduga disini /mojok/ at least, i’ve tried my best to write this fic x’)

Kemudian, terimakasih Saya tujukan kepada seluruh pembaca :”D baik itu silent readers ataupun bukan. Saya sangat berterimakasih karena kalian telah menyempatkan waktunya untuk membaca fanfiksi amburegul ameseyu ini :”D kritik, saran, komentar, dan flame yang masih dalam kategori sesuai etika akan Saya terima ‘w’/

P.S: Fic ini telah saya posting di blog pribadi.

Salam hangat,

burritown

3 responses to “Pacar dan Taruhan

  1. wah bagus fanfiction author🙂 pertamanya sih aku rada bingung sama alur ceritanya ini, tapi pada akhirannya di akhir akhir oneshoot ini aku udah paham, dan ternyata pacarnya si soojung eonni ini adalah si myungsoo oppa😉 ahh iya author di tunggu lagi yah pairing fanfic chapter sih kalau bisa si myungsoojung😀

    • terimakasih banyak :”D
      wkwk, memang sengaja plotnya dibikin kayak gitu biar bikin pembaca berbingung-bingung dahulu, berpaham2 kemudian /halahapasi/ :’v
      wah, saya akan mencoba bekerja keras lebih baik lagi kedepannya :”D semoga juga bisa membuat fanfiksi ber-chapter juga :”D

  2. wahhh!! KERENNN!! DAEBAKK!! MYUNGSOOJUNG JJANG!!! hehe:D mian aku excited banget.. keren banget, pacaran mereka unyu.. ga ada sequelnya? kalo ada, myungsoojung momentnya dibanyakin.. thanks

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s