Soulmates Countdown

okefixyha

Soulmatess Countdown © burritown

Jung Soojung, Kim Myungsoo, Choi Jinri

Romance, General, Surrealism? Fantasy?

Rating T

Ficlet (1.674 Words)

Warn! Typo(s), Weird, semi-plotless, (un) beta-ed, e.t.c

P.S: The plot inspired by some textpost that i found on internet . Yet I didn’t get any advantages from this fic

Summary: Jika terdapat sebuah jam yang mampu menghitung mundur sampai kau bertemu dengan orang yang ditakdirkan, apakah kau ingin mengetahuinya?

.

Jika terdapat sebuah jam yang mampu menghitung mundur sampai kau bertemu dengan orang yang ditakdirkan, apakah kau berniat untuk mempercayainya, atau tidak?

Jung Soojung kembali melirik sebuah alat (menyerupai stopwatch) yang tertempel di pergelangan tangan kirinya. Sesekali ia mencoba untuk menarik, bahkan mencakar lengannya demi menyingkirkan benda aneh—yang sejak beberapa hari lalu tiba-tiba bersarang di tangan kirinya—itu. Mari kita sebut benda itu sebuah stopwatch yang cukup unik. Bentuknya persegi panjang selebar satu kali lima sentimeter, dengan angka-angka digital berjejer rapi (sepertinya menunjukkan perhitungan waktu; hari, jam, menit, dan bahkan detik) di dalamnya. Sebuah benda yang cukup aneh dan mencurigakan di saat yang bersamaan.

002d, 10h, 24m, 42s. Angka tersebut tertera cukup jelas di pergelangan Soojung—membuat gadis itu merinding disko di saat yang sama—, delusi-delusi negatif tentang dirinya perlahan melesak menguasai pola pikirnya dalam beberapa hari terakhir. Bagaimana jika benda asing tersebut merupakan perhitungan sisa waktu kehidupannya? Bagaimana jika benda asing itu menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam bahaya? Bagaimana jika—

“Menunggu lama?” Choi Jinri menarik kursi tepat di depannya, membuat gadis brunette itu mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke realita.

Soojung menggeleng dan tersenyum tipis melihat kedatangan teman terbaiknya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menelpon Jinri, meminta untuk bertemu karena keadaan sedang darurat (dalam kasus ini, maksudku, benar-benar darurat). Bukan Choi Jinri namanya jika ia tak langsung mengetahui mimik wajah saudaranya yang terlihat berbeda dari biasanya.

“Apa yang kau pikirkan, hm?” Jinri lantas membuka topik ketika baru selesai mengatakan pesanannya kepada pelayan. Soojung menggigit bibir bagian bawahnya, ia ragu apakah harus menceritakan masalahnya kepada Jinri, atau tidak. Pasalnya, masalah yang dihadapi Soojung kali ini benar-benar tidak masuk di akal. Maksudku, bagaimana mungkin ia bercerita bahwa tiba-tiba saja di pergelangan tangannya terdapat sebuah benda aneh, tanpa ada suatu penjelasan logis yang bisa diterima. Hell, bahkan Soojung yang biasanya selalu tenang dan berpikir rasional kini tampak seperti orang idiot.

“Apa? Ceritakan saja padaku.” Jinri menangkupkan kedua tangannya, siap mendengarkan kalimat apapun yang akan keluar dari bibir sahabatnya. “Apakah ini tentang Myungsoo?” Jinri sedikit menurunkan volume suaranya ketika menyebut tentang nama lelaki itu—lelaki paling menyebalkan selama duapuluh satu tahun Soojung menghabiskan hidupnya—. Kim Myungsoo; seorang pria dengan segala pesonanya yang sok dan selalu membuat Soojung ingin menendang bokongnya jauh-jauh. Atas angin apa Jinri tiba-tiba menyebut namanya dalam percakapan yang cukup, well, sakral, ini?

Soojung menghembuskan napas berat dalam satu tarikan.

“Bisakah kau tidak mengucapkan nama itu untuk sehari saja?” Ia merotasikan kedua manik hazelnya, sama sekali tidak menyukai lelucon Jinri (kalaupun hal itu bisa disebut sebagai sebuah lelucon) yang tidak lucu.

Jinri terkekeh pelan, “Terserah apa katamu, nona Jung. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?”

“Jinri-ya, sebelumnya kau harus berjanji akan mempercayai kata-kataku terlebih dahulu.” Manik hazelnya menyapu sekitar, berjaga-jaga supaya tidak ada orang yang mampu mencuri dengar pembicaraannya dengan Jinri yang cukup pribadi. Gadis yang lebih tinggi beberapa senti itu menaikkan sebelah alisnya, semakin ingin tahu tentang hal yang ingin dibicarakan temannya (Jinri bersumpah selama duapuluh satu tahun menghabiskan hidupnya bersama Soojung, baru kali ini ia melihat sosok Jung Soojung yang terlihat kalut dan…berbeda).

“Kau ingat malam setelah kita pulang dari pesta perayaan pernikahan Victoria?” Jinri mengangguk pelan sebagai respon. Sebenarnya apa yang ingin gadis ini bicarakan?

“Jadi, setelah malam itu Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, pergelangan tangan kiri ku terasa amat sakit. Dan kau tahu—keesokan paginya Aku menemukan benda aneh ini menempel di sini.” Soojung mengulurkan tangan kirinya, menunjukkan stopwatch yang cukup unik tersebut kepada Jinri. Sementara kedua iris Jinri membulat sempurna setindak setelah melihat benda unik tersebut (bibirnya bahkan berkali-kali terbuka-tutup, menggumamkan tentang sesuatu).

“Aku tahu hal ini sangat tidak logis dan bertentangan dengan teori sains manapun—bahkan sempat terpikir olehku untuk mengiris pergelangan tangan kiriku demi mengeluarkan benda aneh sialan ini, tapi Aku bersumpah bahwa benda ini benar-benar—“

“Jung! Kau beruntung!” Jinri memekik cukup keras, bahkan sebelum Soojung berhasil menyelesaikan ucapannya. Beberapa orang tampak mengalihkan pandangan mereka ke arah dua anak gadis yang tampak heboh tersebut (sebenarnya hanya Jinri yang terlihat heboh disini). Merasa sedikit malu, Jinri lantas membungkukkan badannya, meminta maaf karena tidak mampu mengontrol sikapnya.

“Apa maksudmu?” Ekspresi bingung mulai menghiasi mimik wajahnya. Sungguh, Jung Soojung benar-benar gagal paham dengan maksud ucapan Jinri yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang beruntung. Dari mananya? Apakah memiliki sesuatu yang aneh dan menyeramkan membuatmu menjadi orang yang beruntung—oh, teori dari mana lagi itu?

“Astaga! Kau sama sekali tidak mengetahuinya, Jung?” Hey! Apakah Jinri sedang mencoba bercanda disini? Kalau iya, hal ini sama sekali tidak lucu.

“Mengetahui apa?”

For God’s sake, Jung Soojung! Hampir semua orang di Korea Selatan—bahkan di seluruh dunia—sedang membicarakan hal ini. Sesuatu yang ada di pergelangan tanganmu itu, mereka menyebutnya soulmates countdown, artinya benda itu adalah sebuah jam yang mampu menghitung mundur sampai kau bertemu dengan belahan jiwamu—dan tidak semua orang mempunyainya. Jam itu hanya muncul di pergelangan tangan orang yang belum mempunyai pasangan—wow, jam milikmu memiliki batas sampai dua hari terakhir, oh! Kusarankan kau segera mencarinya, jodohm—”

What a crap! Tidak mungkin ada hal semacam itu, Jin. Sama sekali tidak lo—“

“Bukan masalah logis atau tidaknya, Jung-iie. Coba bayangkan, betapa romantisnya apabila kau bertemu dengan orang yang ditakdirkan denganmu dalam dua hari ke depan—uh, Aku penasaran orang seperti apa dia. Ah, andai saja Aku dan Taemin masih belum bertemu sekarang…” Jinri menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tersenyum lebar sambil membayangkan skenario terbaiknya—heck, gadis itu bahkan tidak mengizinkan Soojung untuk menyelesaikan serangkaian kalimatnya.

“Tetap saja, menurutku hal itu sama sekali tidak logis, Jinri.” Soojung sedikit menaikkan volume suaranya, menekankan setiap kata yang diucapnya, sekaligus berharap agar gadis di depannya ini mau bersikap sedikit tenang. Uh, Soojung masih merasa beberapa orang di kedai ini masih mengamati mereka. Dan itu benar-benar membuatnya tak nyaman.

“Kau saja yang terlalu banyak menonton telenovela, Jin.”

“Bukan Aku, tapi kau yang kaku, Jung. Cobalah sekali-kali percaya terhadap hal yang tak logis, Aku yakin nanti kau tak akan menyesal.” Jinri menghembuskan napas berat, kedua tangannya bersedekap di depan dada.

Soojung tak merespon. Ucapan terakhir Jinri kembali terngian di otaknya. Haruskah ia mempercayai hal tak logis (yang bahkan ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya soulmates countdown itu terpasang di pergelangan tangan kiri) dan mengabaikan logikanya yang hampir sembilanpuluh persen menolaknya?

Jika terdapat sebuah jam yang mampu menghitung mundur sampai kau bertemu dengan orang yang ditakdirkan, apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya, atau tidak?

Jung Soojung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuknya setelah seharian bergelung dengan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir. Tentu saja hal itu tidaklah mudah; Soojung harus berkali-kali menghubungi dosen pembimbing untuk berkonsultasi tentang tesis yang tengah ia kerjakan, serta revisi karya ilmiahnya yang memiliki tenggat waktu hingga lusa (yang mana telah berhasil membuatnya kebakaran jenggot dalam tiga hari terakhir). Ditambah sebuah benda unik sialan yang tertempel di pergelangan kirinya. Mendadak Soojung kembali teringat percakapannya dengan Jinri di sebuah kedai kopi ketika gadis itu menceritakan soal soulmates countdown.

Kembali mengamati pergelangan tangan kirinya, 001d, 02h, 45m, 09s.

Bohong kalau Soojung sebenarnya tidak menaruh rasa penasaran atas ucapan Jinri kemarin, tentang siapa orang yang akan ditakdirkan untuknya. Walaupun sisi logisnya secara mentah-mentah menolak untuk percaya dengan ucapan Jinri, akan tetapi sisi lain Soojung mengatakan bahwa ia ingin sedikit mempercayainya. Mempercayai hal yang tak logis.

“…Tak logis, ya?”

Jika orang yang ditakdirkan untukmu adalah Aku, apakah kau mau menerimanya, atau tidak?

Jung Soojung kembali mengaduk vanilla lattenya secara acak. Ia sama sekali tak memiliki minat untuk menikmatinya. Pikirannya sedang kacau balau sekarang. Otak jeniusnya enggan bekerja. Terus-menerus ia mengilas balik perihal pertemuannya dengan Jinri dua hari yang lalu, dan pembicaraan mereka tentang soulmates countdown yang masih bertengger manis di pergelangan tangan kirinya, serta omong kosong Jinri soal romantisme dan kelebihan memiliki benda aneh tersebut, sukses membuat Soojung benar-benar tidak fokus menjalani kehidupannya seperti sedia kala; normal, logis, tanpa masalah pelik—hell! Dan serangkaian hal indah itu berubah drastis dalam kurun waktu dua hari.

Soojung kembali melirik pergelangan tangannya, 000d, 00h, 10m, 45s. Bagus. Sekarang waktunya hanya tingal sepuluh menit sebelum kehidupannya benar-benar tenggelam dalam kesengsaraan (setidaknya hal itu yang dikatakan oleh sisi logisnya).

“Dan sekarang hidupku akan hancur dalam sepuluh menit lagi…” Soojung bergumam, ia merebahkan kepalanya di atas meja, pandangannya menerawang ke arah kaca transparan yang langsung mengarah ke jalan raya. Dari sudut ini, Soojung mampu melihat sebagian penduduk Seoul yang tengah berjibaku dengan urusan masing-masing. Terdapat segerombolan siswi Sekolah Menengah Atas yang sedang terkikik menertawakan temannya, di sisi lain terdapat juga orang-orang yang menghargai waktu; dengan langkah cepatnya mereka berjalan melintasi jalan raya seolah takut membuang waktu barang sedetikpun, dan beberapa hal lumrah yang biasa ia lihat selama ini—yang sebentar lagi akan berakhir setelah waktu dalam stopwatch unik itu habis.

“Oi, Jung Soojung!” Tubuhnya sedikit tersentak ketika mendengar suara cempreng yang sama sekali tidak asing di telinganya. Soojung kembali menegakkan kepalanya, menatap tidak suka terhadap sosok yang baru saja muncul di depannya. Seorang lelaki jangkung dengan senyumnya yang selalu tampak menyebalkan di mata Soojung (asal kau tahu, segala hal yang menyangkut tentang lelaki itu selalu menyebalkan di mata Soojung).

Mendadak ingatan gadis itu mengilas balik pada saat Jinri menjelaskan tentang cara kerja soulmates countdown itu kepadanya.

“Katanya, soulmates countdown itu akan menghilang dengan sendirinya ketika kau telah bertemu dengan orang yang telah ditakdirkan bersamamu. Bukankah itu sangat romantis, Jung?”

Manik hazel itu membulat sempurna ketika tak sengaja menilik jam dinding yang berada di dekat pohon bonzai, pukul 10.30—artinya sepuluh menit telah berlalu semenjak terakhir kali Soojung memeriksa sisa waktunya di soulmates countdown miliknya.

Holyshit! Tidak mungkin—

Soojung lantas berdiri dari tempat duduknya, segera mengecek pergelangan tangan kirinya dan benar saja, stopwatch uniknya kini menghilang tanpa jejak (maksudku, benar-benar menghilang tanpa ada jejak yang tersisa).

“Kim Myungsoo.”

.

.

.

FIN

.

.

.

Well, its kinda weird plot, isn’t it? Orz

Maafkan saya karena ide ini mendadak muncul ketika iseng membuka galeri ponsel pintar, dan berujung membuat karya fiksi yang sangat tidak jelas ini—ugh. Saya ingin meminta tanggapan pembaca sekalian tentang karya fiksi ini ;A; apakah cocok dimasukkan dalam genre surrealism atau malah fantasy? ._. Jujur, saya masih bingung mau meletakkan karya fiksi ini ke dalam genre jenis apa, karena ketidak-jelasan di dalamnya, orz /pundung/ Dan maafkan karena scene Myungsoo yang benar-benar sedikit disini _-_ (sedikit sekali, sampai-sampai dia hanya mengucapkan satu kalimat saja _-_).

Kemudian tak lupa terimakasih saya tujukan kepada seluruh pembaca :”D baik itu silent readers ataupun bukan. Saya sangat berterimakasih karena kalian telah menyempatkan waktunya untuk membaca fanfiksi amburegul ameseyu ini :”D kritik, saran, komentar, dan flame yang masih dalam kategori sesuai etika akan Saya terima ‘w’/

Salam hangat,

burritown

4 responses to “Soulmates Countdown

  1. ahh!! kerenn!! fantasy sih.. gsk logis.. tpi malah itu yang bikin ceritanya tambah kerenn!! nggak bisa vuat sequel nya ya?? buatin yaa..#ngarep.. kerenn!! keep writing!

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s