[CHAPTER]Marriage Proposal (Ep. 01)

MP_2

Marriage Proposal
Presented by Kkea

staring; Krystal – L – Suzy – Kai
genre; sad, romance, married life
lenght: chapter
rated; pg

It must really be ending.

Jung Soojung kembali menyapukan bedak berwarna natural itu ke wajahnya yang nampak pucat –akibat terlalu sering begadang akhir-akhir ini. Untuk beberapa saat dia berfikir untuk menggunakan lipstick berwarna nude, namun saat melihat ke arah cermin wanita itu tersenyum masam. Nude adalah warna kesukaan Myungsoo dan hati Soojung terasa kembali teriris jika mengingat pria itu –suaminya. Maka lipstick berwarna softpink menjadi pilihannya meskipun Soojung agak risih dengan warnanya.

Wanita dengan dress selutut berwarna peach yang dibalut dengan blazer coklat itu kini sedang berada dalam perjalanannya dari Seong Bok-dong menuju Seoul. Selama satu minggu Soojung meninggalkan apartemennya bersama Myungsoo di Seoul untuk menenangkan diri –selepas bertengkar hebat dengan pria itu.

Di sampingnya –Jung Yunho sang kakak yang sedang mengemudi nampak khawatir melihat adik bungsunya yang terus diam selama perjalanan mereka.

Gwaenchana?

Soojung menggubris pertanyaan Yunho hanya dengan sebuah gelengan kepala yang  singkat tanpa menoleh ke arah kakaknya itu.

Jelas aku tidak sedang dalam keadaan baik.

Pria itu sudah hampir setengah jam berdiri di depan sebuah cermin –mematut dirinya dalam balutan kemeja putih yang tertutup jas hitam. Tak terlukis senyuman di sana, begitu masam. Kedua matanya yang tajam tak lepas dari pentulan dirinya yang hanya sanggup berdiam diri seperti itu, seolah melupakan sejenak apa yang akan dilakukannya hari ini. Sesekali dia menarik nafas dalam. Rasanya begitu tercekat di pangkal tenggorokan ketika dia ingin bernafas dengan lega.

“Buruk sekali penampilanmu, Kim Myungsoo.” Ujarnya.

Tangan kanannya menarik kembali dasi berwarna hitam dari kerah kemejanya –melepasnya, dan tak menggunakannya lagi. Dasi itu dilempar ke atas kasur dan dibiarkan.

“Myungsoo-ya, kau sudah siap?”

Seseorang berdiri di ambang pintu –Kim Jonghyun, kakaknya. Pria itu menatap nanar pada Myungsoo yang menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kepala. Bagaimana Myungsoo siap untuk menghadapi hari ini –hari perceraiannya? Jonghyun menghampiri adiknya kemudian menepuk pundak Myungsoo.

“Tidak ada yang siap untuk menghadapi perceraian, Myungsoo-ya. Keputusanmu dan Soojung untuk mengakhiri pernikahan kalian adalah keputusan yang akan membuat kalian menderita. Percayalah –aku yakin Soojung pun tidak siap untuk menghadapi hari ini.”

Myungsoo ingin mengiyakan apa yang dikatakan oleh Jonghyun. Bahkan batin Myungsoo saat ini pun tengah menderita. Ingin sekali pria itu mengukuti keputusannya yang menyetujui perceraian yang diajukan oleh Soojung. Seandainya saja saat itu keegoisan Myungsoo bisa diredam barang sebentar, seandainya dia mau sedikit mengalah pada Soojung, seandainya –iya, seandainya. Mungkin saat ini mereka masih tinggal di apartemen yang sama, menikmati hari minggu berdua sambil duduk di balkon ditemani secangkir teh dan biskuit –adalah kegiatan yang disukai Soojung.

“Setidaknya –aku membuatnya bahagia dengan menyetujui apa yang diinginkannya, Hyung.

Marriage Proposal
Ep. 01
A Divorce

Palu sudah diketuk sebanyak tiga kali oleh sang hakim. Ruangan sidang itu pun sudah mulai sepi. Tapi sesuatu menahan Soojung untuk tetap di sana, kepalanya tertunduk –wanita itu menangis dalam diam. Yunho –sang kakak memberikan pesan padanya sebelum pria itu keluar. “Bicara lah dengan Myungsoo barang sebentar, mungkin akan membantu menenangkan perasaanmu.”

Soojung semakin terisak mengingat pesan kakaknya, bagaimana bisa dia berbicara dengan Myungsoo? Jangan kan berbicara –untuk menatap mata pria yang sudah menjadi mantan suaminya itu pun dia masih takut. Iya –Soojung merasa takut jika dia akan menyesal atas keputusan yang sudah dibuatnya atau dia takut berdekatan dengan Myungsoo.

Saat itu juga seseorang berdiri di depannya –saat Soojung masih menutup wajah dengan kedua tangannya. Kim Myungsoo berdiri di sana. Menatap sedih pada mantan istrinya yang kini sedang menangis terisak.

Uljima –Soojung-ah.

Jung Soojung mengangkat wajahnya perlahan. Dia nampak pucat –segera diusapnya dengan kasar air mata yang masih tersisa di pipinya. Kedua mata tajam itu masih memerhatikannya –Soojung tahu jika Myungsoo merasa sedih sama sepertinya, namun baginya keputusan untuk bercerai adalah jalan terbaik. Wanita itu tidak ingin berlama-lama memandang wajah Myungsoo yang akan semakin membuatnya khawatir.

Myungsoo Pov

Bagaimana rasanya, Soojung?

Kenapa kau menangis?

Bukan kah ini yang kau inginkan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikiranku saat ini. Ingin sekali aku merangkul bahunya dan menenangkannya. Tapi begitu berat rasanya –seolah sesuatu menahanku. Soojung lah yang memilih untuk berpisah dariku, mungkin meskipun hanya sebuah rangkulan di bahunya tak akan sanggup membuatnya tenang.

Jung Soojung –mianhae.

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Bukan hanya Soojung yang ingin menghabiskan waktu sendirian saat ini –aku pun butuh waktuku sendiri. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa harus berakhir seperti ini. Kami sama-sama masih muda untuk mengawali kehidupan rumah tangga saat itu. Tapi keegoisan kami untuk bersama telah memenangkan logika yang diberikan kedua orang tua kami –dan karena keegoisan kami pula rumah tangga kami berakhir.

Cinta membuat segalanya menjadi mungkin. Saat itu kami percaya akan hal seperti itu. Ketika kami sama-sama masih terlalu dini untuk membuat komitmen yang mempertaruhkan kebahagian kami, sampai akhirnya aku dan Soojung menikah.

Awal pernikahan kami sangat menyenangkan, Soojung dan aku sangat bahagia karena bisa hidup bersama. Meskipun pada awalnya kedua orang tua kami menentang pernikahan karena kami masih terlalu muda dan baru menginjak karir yang cemerlang. Aku dan Soojung akhirnya dapat membuktikan bahwa kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik selama satu tahun pernikahan.

Tapi semua itu berubah ketika aku dan Soojung selalu berdebat akan hal sepele. Belakangan ini Soojung terlalu sensitif dan aku terlalu memaksakan kehendakku. Setiap hari kami hampir bertengkar –sampai aku merasa ada yang salah dengan hubunganku dan Soojung, mungkin Soojung pun merasakan hal yang sama. Sampai suatu malam kami bertengkar hebat dan Soojung melontarkan kata perceraian. Saat itu hatiku benar-benar tertohok dan aku langsung mengabulkan keinginannya untuk berpisah.

Uljima –Soojung-ah.

Untuk saat ini mungkin hanya kalimat itu yang ingin aku katakan.

Normal

Aroma secangkir kopi yang berada di tengah meja bundar itu hanya sekedar melewati indera penciumnya. Di hadapannya –Kim Myungsoo dengan pandangan kosong masih memutar-mutar cincin pernikahannya dengan Soojung –yang masih melingkar di jari manis tangannya.

“Maaf membuatmu menunggu. Bagaimana sidangnya?” Seorang wanita menepuk bahu Myungsoo dari belakang kemudian mendudukan diri di kursi yang berhadapan dengan pria itu. Namanya Bae Sooji. Gadis itu adalah teman semasa sekolah Myungsoo. Terkenal sangat cantik dan sempat menjabat sebagai presiden siswa pada masanya. Myungsoo sendiri mengenalnya karena dikenalkan oleh seorang teman dekat. Akhir-akhir ini Sooji dan Myungsoo sering bertemu karena Sooji menjadi klien Myungsoo –gadis itu meminta bantuan Myungsoo untuk mendesain ruangan kantornya. Sooji adalah seorang pimpinan editing untuk salah satu majalah ternama di Korea.

Myungsoo menegakkan pundaknya. “Tidak –tidak terlalu lama.” Jawabnya dengan tegas. Myungsoo hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan Sooji –kliennya.

Gadis itu hanya mengangguk pelan.

“Hm. Jadi bagaimana perkembangan proyekmu, Myungsoo-ssi? Apalagi yang kau butuhkan untuk desain kantorku?”

Kim Myungsoo menghela nafas sebentar. “Aku sedang tidak ingin membicarakan pekerjaan. Bukan kah kau mengundangku kemari hanya untuk bersantai dan menikmati secangkir kopi?”

Bae Sooji tersenyum kemudian menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.

“Kau benar. Maafkan aku. Jadi –bagaimana perasaanmu setelah bercerai? Pernikahan adalah suatu hal yang buruk, bukan?” Jemarinya bermain di atas permukaan secangkir esspreso milik Myungsoo.

Pria itu menatap keluar jendela –sedikit menimbang sebuah jawaban.

“Aku rasa –iya.”

Atau tidak.

Sooji menangkap keresahan di raut wajah Myungsoo, wanita itu mengulas senyum simpul di bibirnya  –seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria yang duduk di depannya saat ini.

“Ohh, sudahlah. Nampaknya setiap pertanyaanku tidak ada yang menarik.” Sooji bergumam dengan acuh kemudian memanggil pelayan untuk memesan sesuatu.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan apartemen itu. Sudah hampir dua bulan dia tak menginjakan kakinya di hunian yang dimilikinya bersama mantan suaminya. Apartemen itu masih sangat rapih, tanpa debu sedikit pun. Ahjumma yang bertugas membersihkan apartemennya masih tetap bekerja dan dia masih rutin untuk membayarnya setiap minggu.

Soojung merasa lega karena tak ada yang berubah dari tempat itu, baik penempatan interior rumah sampai lukisan-lukisan yang masih bertengger di tembok. Semua lukisan yang berada di tempat tinggalnya itu adalah bagian favoritnya.

“Aku senang bisa melihatmu lagi. Rasanya sudah begitu lama aku melihat kalian sarapan berdua di meja itu.”

Soojung melirik wanita seumuran ibunya yang sedang membantunya memasukan beberapa barang ke dalam kotak berwarna coklat. Wanita itu dengan telaten membereskan barang-barang yang akan dibawa keluar oleh Soojung dari rumah itu.

Hati Soojung mengiyakan apa yang dikatakan Nam Ahjumma, sudah lama sekali rasanya dia tak menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Myungsoo kemudian makan bersama sambil berbagi tentang apa saja yang akan mereka lakukan hari itu. Soojung menggeleng pelan, momen seperti itu sudah berlalu. Dia segera menghampiri Nam Ahjumma dan memeluknya, “Gomawo –Ahjumma.” Ucapnya dengan tulus.

“Kau bisa pulang sekarang, Ahjumma. Sebentar lagi Oppa akan datang untuk menjemputku.”

Nam Ahjumma mengeratkan mantelnya dan melirik jam. “Myungsoo pun sebentar lagi akan datang, kebiasaannya untuk pulang tepat waktu tidak pernah berubah. Aku harus menyiapkan makan malam untuknya.” Wanita itu meraih tangan Soojung. “Makan malam lah disini, Soojung-ah. Aku baru belanja tadi pagi, Myungsoo menelponku untuk membuatkannya Samgyetang. Hm, tadi pagi Myungsoo terlihat tidak segar. Aku rasa dia terkena flu.” Ujar Nam Ahjumma nampak khawatir.

“Sebaiknya aku pulang, Ahjumma.” Dia merasa sedikit tidak enak untuk menolak permintaan Nam Ahjumma. Hanya saja Soojung tidak tahu harus bagaimana jika dia menerima ajakan wanita paruh baya itu untuk makan malam bersama dengan Myungsoo. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bagaimana jika dia harus bertemu dengan Myungsoo lagi –begitu pun sebaliknya, mungkin.

“Myungsoo –berikan dia Miyeok, Ahjumma. Flu nya akan reda dengan sup itu.” Soojung tersenyum masam, kenyataannya dia masih peduli terhadap mantan suaminya dan dia sangat khawatir akan sikapnya itu. Soojung selalu menampiknya, dia tak ingin terlibat apapun lagi dengan Myungsoo tapi hatinya masih belum terbiasa dengan ketidakhadiran pria itu.

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika akan datang kemari?”

Itu suara Myungsoo.

Soojung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, benar –itu Myungsoo. Untuk sesaat dia mengutuki dirinya yang tidak langsung beranjak pergi dari sana beberapa saat yang lalu –ketika Nam Ahjumma memintanya tetap tinggal untuk makan malam.

Nampaknya kali ini Nam Ahjumma yang tersenyum. Wanita paruh baya itu menghampiri Myungsoo, “Soojung datang untuk membawa barang-barangnya dan aku memintanya untuk makan malam bersama dengan kita. Ah! Dia juga memintaku memasak Miyeok untukmu, aku bilang padanya jika kau terkena flu dan Soojung menyarankanku untuk memasak itu.”

“Aku hanya ingin makan Samgyetang, Ahjumma.” Ujar Myungsoo dan segera berjalan menuju kamarnya.

Nam Ahjumma menghela nafas kemudian mengangkat bahunya. Wanita itu menatap sedih Soojung ketika menyadari tatapan Soojung yang begitu sayu ketika melihat Myungsoo berjalan melalui mereka begitu saja. Nam Ahjumma meraih pergelangan tangan Soojung, wanita muda itu tersenyum dan mengangguk seolah memberi isyarat pada Nam Ahjumma.

Aku baik-baik saja.

Mereka bertiga duduk di depan meja makan tanpa suara. Tak ada satu pun diantara Myungsoo dan Soojung yang membuka percakapan, mereka terlihat begitu tenang menikmati Samgyetang hangat buatan Nam Ahjumma. Nam Ahjumma pun merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini –ketika dia duduk diantara kedua orang yang saling berjauhan dan tanpa ada suara.

“Aku sudah kenyang. Gomawo untuk makanannya, Ahjumma.” Seru Myungsoo yang langsung beranjak dari tempatnya. Pria itu tak langsung masuk ke kamar, dia berjalan menuju balkon.

Nam Ahjumma memerhatikan Myungsoo kemudian melirik Soojung yang baru selesai dengan makan malamnya. “Bicara lah dengan Myungsoo, Soojung-ah. Kalian sudah lama tak bertemu. Mungkin Myungsoo merasa canggung dengan kondisi yang seperti ini.” Ujar Nam Ahjumma.

Soojung sempat berpikir beberapa detik sebelum mengiyakan perkataan Nam Ahjumma. Wanita itu kini beranjak menuju balkon.

Angin malam itu terasa sejuk bagi Myungsoo. Seharian ini dia begitu sibuk di kantor sampai tak sempat merasakan udara di luar ruangan, begitu sesak. Bagi Myungsoo menikmati angin malam dari balkon apartemennya adalah waktu untuk melepas penatnya dari segala macam pekerjaan.

“Aku terlalu mendadak datang kemari, sampai lupa untuk memberitahumu.”

“Tak apa. Ini masih tetap rumahmu.” Gumam Myungsoo. Pria itu memandang lurus –begitu jauh sampai dia sendiri pun tak tahu apa yang sedang dilihatnya. Cahaya dari citylight kota sama sekali tak menarik perhatiannya.

“Yunho Oppa sudah menjemputku, aku akan pulang sekarang. Sampai jumpa.”

Myungsoo mengalihkan pandangannya. Kedua mata tajamnya itu memerhatikan punggung Soojung yang semakin jauh darinya. Myungsoo tertegun, begitu banyak pertanyaan yang bergelut dipikirannya ketika mantan istrinya itu berpamitan dan melangkah meninggalkan rumah –yang masih menjadi rumah mereka.

Soojung banyak berubah dalam waktu singkat, begitu lah yang ada di benak Myungsoo saat ini. Wanita itu nampak memiliki dua sisi baginya. Myungsoo yakin jika Soojung terlihat sangat tegar –karena dari dulu begitu lah sifat Soojung, namun di sisi lain Soojung nampak rapuh, Myungsoo bisa melihat itu dari cara bicara dan kedua mata Soojung yang sama sekali tak menatap matanya sedari tadi. Soojung akan bersikap seperti itu ketika dia tak ingin menghadapi lawan bicaranya atau bertemu dengan orang yang tak ingin ditemuinya.

Apa kau sudah tak ingin bertemu denganku lagi, Jung Soojung?

Seorang pria di balik kemudinya melambai keluar jendela mobil pada Soojung yang baru saja keluar dari lift. Wanita itu memicingkan mata dan menunjuk dirinya, memastikan apakah pria itu benar melambai padanya atau tidak. Soojung sempat celingukan mencari mobil kakaknya, karena di parkiran itu hanya terlihat beberapa mobil yang asing baginya –Yunho sama sekali tak ada di sana. Lantas kenapa kakaknya itu memberitahunya jika dia sudah berada di tempat parkir untuk menjemputnya?

Sekali lagi pria yang terlihat asing bagi Soojung melambai padanya. Soojung menghampiri mobil berwarna silver itu dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

Kim Kai.

Eommo! Kkamjong-ah!

Pria berkaca mata hitam itu berdecak pelan kemudian tersenyum. “Eyy, panggil aku Kai! Sudah lama tidak berjumpa –Jung Soojung.”

Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.

Soojung dan Kai banyak bercerita mengenai kehidupan mereka setelah tidak pernah bertemu sejak sepuluh tahun lalu. Kim Kai adalah anak dari teman Nyonya Shin –ibu Soojung dan Yunho –ibu Kai bernama Lee Junghee. Nyonya Shin dan Nyonya Lee berteman dari semasa mereka sekolah, mereka berdua tidak bisa terpisahkan.

Setelah keduanya menikah, mereka memutuskan untuk tinggal di daerah yang sama. Nyonya Shin dikaruniai anak terlebih dahulu yaitu Yunho, sedangkan Nyonya Lee sudah beberapa kali mengalami keguguran sampai dia bisa melahirkan Kai, di tahun yang sama lahir lah Soojung. Hingga Kim Kai dan Jung Soojung bisa bersahabat seperti kedua orang tua mereka. Saat berumur empat belas tahun, keluarga Kai harus pindah ke Jepang karena Ayah Kai dipindah tugaskan disana untuk memegang perusahaan cabang.

“Jadi, Oppa yang memintamu untuk menjemputku?”

Kai mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalan. “Kau tahu –betapa terkejutnya aku ketika menerima undangan pernikahanmu satu setangah tahun yang lalu. Sampai –aku memutuskan untuk tidak hadir. Haha..”

Soojung menyelipkan rabutnya. “Yah, kalau saja ibu tidak mengingatkanku. Mungkin aku tidak akan pernah mengundangmu, Kkamjong-ah.”

Kai berdeham pelan. “Aku kira kau akan menepati janjimu untuk menikahiku, Jungie.”

Jung Soojung tersenyum hambar. Dia ingat janjinya pada Kai sebelum pria itu pindah ke Jepang. Mereka membuat janji untuk saling menikah ketika sudah dewasa.

“Kau masih mengingatnya? Itu adalah sebuah janji konyol ketika kita masih anak-anak.”

Kai tak bersuara lagi. Pria itu hanya mempertahankan senyumnya. Bukan kah janji harus ditepati? Segelintir kalimat itu lah yang kini berada dalam benak pria tampan itu.

“Myungsoo-ya, aku pulang dulu.”

Myungsoo melebarkan senyumnya ketika mengantar Nam Ahjumma sampai ke depan pintu. “Perlu aku antar?”

Nam Ahjumma pengusap lengan Myungsoo, “Tidak perlu. Howon sudah menjemputku. Kau istirahat saja.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. Setelah menutup pintu, pria itu berjalan dengan gontai ke depan tv. Malam ini akan terasa sangat panjang baginya. Dinyalakannya benda elektronik itu kemudian dia menjatuhkan diri di atas sofa. Kim Myungsoo bukan tipe pria yang suka menonton tv, tapi entah apa yang membuatnya ingin mendudukan diri di atas sofa dan menikmati acara yang tayang malam itu.

Bayangan dirinya yang sedang menonton film bersama Soojung terbesit begitu saja dalam pikirannya. Soojung suka menonton tv, entah itu hanya menonton drama atau sebuah film yang diputar di dvd. Membayangkan betapa seriusnya Soojung ketika menonton dan tak bisa diganggu sama sekali membuat Myungsoo tanpa sadar melengkungkan kedua sudut bibirnya. Pada akhirnya, Myungsoo sadar jika dia –merindukan Soojung.

Pria itu merasa menyesal ketika dia memperlakukan Soojung dengan begitu acuh saat mantan istrinya itu berada di rumah mereka beberapa jam yang lalu. Myungsoo merutuki dirinya, bagaimana aku bisa sekejam itu padanya? Pikir Myungsoo.

Dari dalam saku celananya, ponsel Myungsoo bergetar. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya, Myungsoo memperhatikan nama si penelpon sebelum mengangkatnya.

Yeoboseyo..

Mworagu?

“Ah, ne. Aku akan segera ke sana sekarang.”

Soojung Pov

Rasanya tak cukup jika aku dan Kai untuk saling bercerita di dalam mobil sepanjang jalan. Kai mengajakku untuk mampir di sebuah kedai yang tak begitu jauh dari flat tempat tinggalku sekarang dan aku menyetujuinya. Kai  memesan dua botol Soju dan semangkuk Ttopokki pedas untuk menemani kami.

“Arh, sangat melegakan.” Seru Kai ketika dia sudah meneguk segelas Soju.

“Sojung-ah, apa aku sudah bilang padamu jika aku akan bekerja di sini? Kebetulan aku mendapat tawaran sebagai pimpinan editor artikel di kantor majalah Y.”

Majalah Y?

Kai akan bekerja di sana?

“Hm. Kantor majalah Y letaknya bersebrangan dengan kantorku. Kita bisa bertemu setiap hari.”

Kai terlihat sangat terkejut dengan ucapanku sampai dia menelan bulat Ttopokki yang masih panas itu.

Daebak! Aku hanya tahu kau bekerja sebagai desainer, tapi ternyata kantor kita bersebrangan? Astaga, aku tidak menyangka. Dan –tentu saja kita bisa bertemu setiap hari.”

Aku senang kami bisa bertemu setiap hari nantinya jika Kai sudah mulai bekerja di kantor majalah itu. Sudah sangat lama kami tidak bertemu. Dulu ketika usia kami menginjak sekolah menengah, aku sama sekali tidak aktif untuk berteman. Aku merasa asing dengan sekolah dan siswa lainnya. Namun Kai –yang saat itu adalah temanku satu-satunya mengajakku untuk berkenalan dengan temannya. Sehingga aku bisa mengenal beberapa orang siswa dan salah satunya menjadi teman satu flat ku sampai sekarang.

“Bagaimana kabar Sulli? Aku merindukan gadis itu. Haha..”

Ternyata Kai masih mengingat Sulli –Choi Sulli, seorang teman lama yang kini menjadi teman satu flatku.

Setelah lulus sekolah, kami melanjutkan kuliah di universitas yang sama. Ketika aku masuk jurusan desain dan mode, Sulli memutuskan untuk masuk jurusan kedokteran.

Hanya Sulli yang aku rasa bisa memahamiku, selain Kai.

“Akhir-akhir ini Sulli terlihat sangat stress, dia akan ditugaskan di rumah sakit Busan dan dia sangat tidak menginginkan itu. Kami tinggal bersama sekarang. Kau harus mampir ke flatku dan bertemu dengannya. Aku rasa dia merindukanmu juga.”

Kai terkekeh pelan.

Normal

Kim Myungsoo tidak pernah menyukai bau alkohol. Tapi sialnya malam itu Sooji menelponnya –tidak, bukan Sooji. Sepertinya pemilik kedai lah yang menelponnya menggunakan ponsel gadis itu. Kedua mata Myungsoo menelusuri setiap meja yang berada di kedai untuk mencari Sooji.

Tepat tak jauh dari pintu, Myungsoo memastikan jika gadis yang sedang menundukkan kepala pada lipatan kedua tangan di atas meja itu adalah Bae Sooji.

“Sudah hampir dua jam dia mabuk, dan memaki seseorang. Kebetulan sekali panggilan terakhirnya adalah Kim Myungsoo. Jadi Anda yang bernama Kim Myungsoo?” Tanya si pemilik kedai.

Myungsoo membungkuk dengan malu, “Ne. Maaf sudah merepotkan.”

Wajah gadis itu nampak memerah –terlalu mabuk. Myungsoo duduk di hadapannya. Bae Sooji sangat berbeda ketika dia sedang mabuk, tak terlihat keanggunannya sedikit pun dan Myungsoo berpikir kenapa harus dia yang berada di tempat itu sekarang.

Nappeun-nom!

Myungsoo menaikan sebelas alisnya ketika Sooji mengerang pelan.

Kim Myungsoo! Neo! Nappeun namja-ga~

Kali ini Myungsoo tahu kenapa pemilik kedai tadi memandangnya dengan risih. Bae Sooji memaki seseorang –dan nama yang keluar dari mulut Sooji adalah dirinya, Kim Myungsoo.

Pria itu berdecak pelan.

“Kau tidak pernah tahu perasaanku, bukan? Appo! Neomu appoyo!

Myungsoo tertegun. Dia sangat mengerti kenapa Sooji memakinya seperti itu.

Pria itu tidak ingin menulikan pendengarannya dan membutakan matanya. Kim Myungsoo tahu benar perasaan yang dimiliki Sooji terhadapnya, bahkan sudah sangat lama.

“Kau tahu Bae Sooji? Aku dengar secara sembunyi-sembunyi dari obrolannya dengan teman-temannya di kantin. Dia menyukaimu, Myungsoo-ya!”

Myungsoo hanya tersenyum tipis. Senyumannya yang terukir dibibir tipisnya itu bukan karena dia mendengar ucapan Minho –temannya, senyumannya ditujukan untuk seorang gadis yang tengah membaca buku di salah satu kursi perpustakaan.

“Ya! Kim Myungsoo!” Minho memekik pelan sambil menyikut lengan Myungsoo, menyadarkan pria itu dari lamunannya. “Kau mendengarku, tidak?”

Myungsoo menggeleng. “Mwo?”

Minho berdecak. “Aish. Aku bilang, Bae Sooji menyukaimu! Me-nyu-kai-mu!”

“Bae Sooji? Presiden murid itu?”

Minho mengangguk antusias. “Kenapa kau selalu lebih beruntung, Kim Myungsoo-ssi? Ck!”

“Kenapa kau masih menyukaiku, Bae Sooji?” Gumam Myungsoo pelan.

Jung Soojung terbangun dari tidur pagi –yang bahkan masih sangat pagi itu. Kepalanya terlalu pening jika harus dipaksakan untuk kembali berbaring. Jam dinding menunjukkan pukul lima lebih duapuluh menit. Tubuhnya terasa sangat berat sehingga memaksanya untuk berjalan sempoyongan menuju dapur.

Tenggorokannya terasa lega setelah menenggak segelas air mineral dingin dari dalam kulkas. Wanita itu sudah sangat sadar sekarang. Sulli yang saat itu memang sudah bangun dan baru keluar dari kamar mandi terkejut lantaran tak biasanya sepagi ini Soojung sudah bangun dan melamun di depan meja makan.

Neo, gwaenchana?

Soojung berkedip, “Eo.” Gumamnya.

Sulli –sambil mengusak rambut yang masih basah mengambil kursi dan duduk di depan Soojung. “Apa yang kau pikirkan, Soojung­ssi?”

Soojung mendesah pelan. Harus kah dia menceritakan apa yang dimimpikannya semalam, sampai membuatnya bangun sepagi ini?

“Aku –aku memimpikan Myungsoo.”

Sulli tak berkomentar, wanita itu hanya mengambil gelas dalam genggaman Soojung dan menuangkan air mineral dalam botol ke dalam gelas kemudian meminumnya.

“Aku tidak akan berkomentar, bagaimana pun yang aku yakini –keputusan kalian untuk bercerai adalah kesalahan besar.”

Setelah itu Sulli masuk ke dalam kamar untuk bersiap berangkat kerja.

Soojung termangu di tempatnya.

Perceraian bukan kesalahan besar, iya benar.

Keputusanku sudah benar. Pikir Soojung meyakinkan dirinya sendiri.

“Kai!”

Pria yang tengah menyenderkan punggungnya pada mobil sambil memainkan gadget nya itu menoleh. Kai melambaikan tangannya saat melihat Soojung yang baru keluar dari bangunan flatnya.

“Kau mulai bekerja hari ini?”

“Begitu lah. Padahal waktu liburanku belum habis, tapi Appa sudah menyuruhku untuk datang ke kantor milik temannya itu.”

Pria itu terlihat mendengus dan Soojung mencubit pipi Kai dengan gemas.

Uri Kkamjongie~ neomu kyeopta!

“YAKK! Apa yang kau lakukan pada wajah tampanku, eoh?!!”

Soojung terkekeh kemudian dengan segera berlari untuk masuk ke dalam mobil sebelum Kai melakukan aksi balas dendam padanya.

Kai yang melihat Soojung tertawa seperti itu tersenyum tipis. Dia sangat suka ketika melihat Soojung tertawa karenanya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di kantor barunya, Y Magazine. Kai disambut oleh seorang wanita yang merupakan sekretaris dari pimpinan redaksi saat dia berada di lobby. Kini mereka berdua sedang menuju ke ruang editing, tempat di mana ruangan Kai berada.

Ruangan bernuansa fancy itu sangat menarik perhatiannya. Tak seperti ruangan lainnya yang hanya terlihat seperti kubikal-kubikal kantor pada umumnya. Ruangan itu di dominasi oleh warna cat yang cerah, beberapa kubikal rendah yang tersusun secara acak, layar LCD yang lumayan besar, dan hey! Kai sangat suka berada di ruangan yang dilengkapi dengan musik.

“Ruangan Anda khusus di sebelah sana, Kim –Sajangnim.” Seru Kim Yeri –sang sekretaris menunjukkan ruangan yang sedikit berada di sudut dan tertutup oleh kaca. “Anda bisa memanggil saya jika ada perlu, selain sekretaris dari Nona Bae, saya juga bertugas sebagai sekretaris sementara untuk Anda, nama saya Kim Yeri. Bangapseumnida.”

Kai mengangguk singkat. Pria itu segera berjalan menuju ruangannya.

“Yeri­-ssi.

Ne?

“Apa kau juga yang mempersiapkan semua jadwalku?”

Sekretaris itu mengangguk mantap, “Ne, Sajangnim.”

Kai tersenyum tipis sambil merendahkan kepala, “Gomawo.” Dan pria itu kini masuk ke ruangannya.

Bae Sooji tersenyum simpul sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari seseorang.

-Aku akan menjemputmu saat makan siang-

Hanya sebuah kalimat singkat namun berefek sangat luar biasa bagi perasaan wanita muda itu. Myungsoo –iya, Kim Myungsoo akan menjemputnya saat makan siang nanti. Baru kali ini pria itu mengajaknya untuk makan siang di luar.

“Sajangnim?”

“Bae Sajangnim!” Kim Yeri menyikut atasan yang duduk di sampingnya.

Sooji melepaskan pandangan dari ponselnya, wanita itu terlalu asik dengan dunianya sampai tak mendengar jika sang bawahan tengah memanggilnya. “Ne?”

“Kau tidak mendengarkan apa yang Direktur katakan, Sajangnim.”

Sooji melihat ke sekelilingnya, semua orang yang berada di ruang rapat memperhatikan Sooji dengan gemas. Pasalnya tidak sekali saja wanita itu tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan forum. Sang Direktur memandangnya tajam. Sooji merendahkan kepalanya dan meminta maaf.

“Baiklah semuanya kembali fokus. Aku tidak ingin ada yang sibuk sendiri dengan ponselnya.” Tekan Direktur perusahaan majalah itu.

“Untuk tiga bulan ke depan, kita akan dibantu oleh Tuan Kim yang khusus datang dari Jepang untuk menaikan chart majalah kita. Silahkan memperkenalkan diri, Tuan Kim.”

Tuan Kim –orang yang dimaksud berdiri dari kursinya, pria itu mengeratkan jasnya kemudian menunduk rendah.

Annyeonghamnikha, nama saya adalah Kim Kai. Saya akan membantu di tim editing, mohon bantuannya.”

Bae Sooji memperhatikan pria yang baru saja mengenalkan diri dan akan bergabung di timnya. Dahi wanita itu sedikit mengkerut saat memperhatikan Kai dari atas kepala hingga ujung kaki pria itu.

“Rasanya aku pernah melihatnya.” Gumamnya pelan namun Yeri yang berada di sampingnya dapat mendengar apa yang dikatakan Sooji.

Sebuah kafe yang berada tak jauh dari kantor Y Magazine menjadi tempat yang dipilih oleh Sooji untuk menyantap makan siangnya bersama Myungsoo. Pria itu terima-terima saja tawaran Sooji yang mengajaknya untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di kafe tersebut.

Kim Myungsoo sama sekali tak menyentuh makanannya. Myungsoo terlalu sibuk memerhatikan bangun kantor yang nampak begitu jelas dari jendela kafe. Millicent –gedung di mana tempat Jung Soojung bekerja saat ini. Dulu Myungsoo sering sekali mengantar Soojung pagi-pagi untuk bekerja dan pada sore harinya Myungsoo akan menjemput mantan istrinya itu.

“Myungsoo-ssi?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya. “Ne?

“Kau sama sekali tidak menyentuh makananmu.”

Myungsoo menatap nanar piring di depannya yang masih penuh dengan pasta yang dipesannya.

“Kau tidak menyukai makanannya?”

Raut wajah Sooji berubah kecewa.

Myungsoo menyadarinya kemudian tersenyum tipis. “Anniyeo. Tiba-tiba saja aku tidak lapar.”

Kedua mata Sooji memicing. “Geotjimal. Apa ada yang sedang kau pikirkan?”

Kim Myungsoo menatap Sooji dengan serius ketika gadis itu bertanya padanya. Kedua tangan pria itu terlipat di permukaan meja.

“Bae Sooji-ssi, bagaimana perasaanmu terhadapku?”

Awalnya Myungsoo tak ingin bertanya seperti itu. Apalagi setelah melihat raut wajah Sooji yang terlampau kaget mendengar pertanyaannya. Namun Myungsoo enggan dibebani oleh perasaan orang lain yang menyukainya. Tapi jika Bae Sooji masih menyukainya, mungkin Myungsoo dapat membuka hati untuk wanita yang ada di depannya sekarang, karena itu lah Myungsoo menanyakannya pada Sooji.

Myungsoo tak ingin lagi merasakan sesuatu yang tak pasti seperti –dia masih mencintai Soojung yang sudah jelas jika Soojung tak ingin kembali padanya.

 

To be continue……….

 

*NB: Ep. 01 has been release ^___^ Di awal cerita masih pemanasan ya.. Selain di MYUNGSOOJUNG, aku juga memposting cerita ini di blog pribadiku. Berikan apresiasi kalian berupa komentar, saran atau sekedar like ^^
See ya on the next Episode of Marriage Proposal, pyeong~

21 responses to “[CHAPTER]Marriage Proposal (Ep. 01)

  1. yah kenapa mereka mesti cerai sih? lah terus gimana dong lanjutannya mereka berdua? mungkinkah akan kembali bersama lagi mereka berdua? mungkinkah mereka bercerai gegara suzy? ahh lanjutannya bikin baper😦

  2. Intinya adalah penasaran sama penyebab myungstal cerai, jadi nebak sana sini thor 😁 Masih awal juga sih, kalau cepet-cepet balikan jadinya gak greget lagi 😂 Next chap. ditunggu thor 😄

    • semuanya juga penasaran, kk~
      kebetulan aku lagi suka cerita yang awalnya pahit terus konflik dan di akhir tragis *plak* enggak ding~ tunggu kelanjutannya ya, thanks buat supportnya😀

  3. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 02) | myungsOOjung·

  4. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.03-A/B) | myungsOOjung·

  5. Aaaa daebak! Bagus banget. Awalnya tuh agak bingung kok tiba-tiba langsung cerai dan ga ada konfliknya. Cuman bingungnya tuh yangbingung yang bikin menarik buat baca bukan bingung yang bikin bingung beneran. Pokoknya bagus banget ceritanya padahal baru chap 1. Aku lanjut baca dulu ya chingu hihihi. Fighting =)

  6. Juliajung imnidaa. 97linee. Salken yaah author😉. Yuhuu myungstal! Suka dengan idenyaa author almightykeyya (hehe manggilnya apa nih?) . myungstal nya biarlah menderita dahulu well walaupun sebelumnya udah bahagia krn udah nikah tp gatau knp grgr soojung nya yg sensitif dan myungsoonya yg gaa mau ngalaah jadilah mereka cerai. Baru awal tp udah menarik utk di bacaa hihi recommended nihh ffnya😉 apalagi udah ada kai dan suzy hahaks makin seru ajaa😀 baiklaah pengen bacaa nextchp nya duluu, semangaat yaaah.hihi

    • halo julia ^^ Salam kenal balik ya..
      aku Gea, 95line😀
      seneng deh kalo ada yang suka😀 keep support ya hihihi ^^
      by the way, makasih loh udah sempetin baca sama komennya😉

  7. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06) | myungsOOjung·

  8. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s