[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 02)

MP_2

Kkea ©2015
Present

Marriage Proposal

staring; Krystal Jung-L-Suzy-Kai
genre; sad-romance-married life
lenght; chapter
rated; pg
bgm; When Love Stop by U-Kiss

Review: Intro / Ep. 01 / Ep.02

*) Alur dari jalan cerita adalah mundur-maju-mundur

 

8 Years Ago

Jung Soojung berjinjit untuk melihat ke arah panggung. Disana –Kim Myungsoo tengah menerima penghargaan sebagai salah satu murid teladan. Soojung ikut bertepuk tangan, sama seperti siswa kelas dua dan kelas satu lainnya yang menghadiri upacara kelulusan senior mereka. Soojung semakin erat memegang bucket bunga yang ada di genggamannya. Gadis itu begitu antusias menghadiri upacara kelulusan Myungsoo.

Igeo?”

Cukhaeyo, Oppa.”

Kim Myungsoo menerima bucket bunga yang diberikan oleh Soojung. Myungsoo lantas memeluk Soojung dengan erat, membuat gadis itu merasa sesak.

“Soojung-ah.” Sapa Myungsoo suatu hari.

Myungsoo dan Soojung saat ini sedang berada di sebuah toko buku.

Waeyo, Oppa?

Semalam Soojung meminta Myungsoo untuk mengantarnya mencari buku dan pria itu menyetujuinya. Lagi pula jika bukan di hari Sabtu, Myungsoo tidak bisa pergi bersama Soojung karena kegiatan kuliahnya. Pria itu sendiri sudah memikir kan beberapa hal semalam –dia akan menyatakan perasaannya lagi pada Soojung saat makan siang nanti.

“Buku apa yang kau cari sebenarnya? Sudah satu setengah jam kita berkeliling di toko buku ini, Soojung-ah.”

Myungsoo bukan malas atau lelah menemani Soojung. Dia hanya sedikit tidak sabar untuk menunggu jam makan siang.

Mianhae, Oppa. Kau pasti lelah menemaniku.”

Pria itu menggelang. “Anniyeo. Aku senang bisa mengantarmu. Aku hanya kelaparan, Soojung.”

Soojung terkekeh melihat Myungsoo yang kini mengelus perut. “Ahh, arraseo. Aku sudah mengambil beberapa buku. Kajja! Kita mencari tempat makan sekitar sini untuk memenuhi perutmu, Oppa.”

Soojung berjalan mendahului Myungsoo untuk membayar buku-buku yang sudah berada di tangannya ke kasir.

“Soojung-ah.”

Soojung mengalihkan pandangannya dari buku yang baru dia beli. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya saat Myungsoo memanggilnya.

“Hm?”

Ugh. Myungsoo ingin sekali menarik nafasnya lebih dalam lagi, namun kapasitas paru-parunya sudah terlalu penuh. Pria itu hampir tersedak ludahnya sendiri. Myungsoo selalu seperti ini ketika Soojung tersenyum padanya. Gadis itu benar-benar membuatnya kehabisan nafas.

“Soojung-ah. Neo –yeoja chinguga deo –deo eojullae?

Sebelah alis gadis itu terangkat.

“Oppa.”

Myungsoo menghembuskan nafas dengan pelan, mencoba setenang mungkin di hadapan Jung Soojung. “Kali ini aku serius, Soojung-ah.”

“Kau sudah bertanya dua kali, Oppa.”

Ucap Soojung yang sekarang menundukkan kepalanya.

“Tapi kau sama sekali belum menjawabnya, Jung Soojung.” Kali ini pria itu memelas.

Soojung mengigit bibir bawahnya –suatu kebiasaan ketika dia sedang bingung.

“Beri aku waktu, Oppa.”

Bahu pria itu melorot, ditatapnya dengan nanar segelas Machiato dingin di hadapannya. Myungsoo tersenyum masam. Bukan karena dia kecewa pada Soojung –Myungsoo hanya berpikir, kenapa dirinya terlalu bodoh saat menganggap semua hal menyenangkan yang dijalaninya bersama Soojung selama ini adalah pertanda jika Soojung dapat melihatnya sebagai seorang pria.

Hubungan yang rumit.

Myungsoo menegakkan kembali punggungnya, pria itu tersenyum hangat –meskipun dia berusaha keras untuk itu.

Gwaenchana, Soojung-ah. Suatu hari –aku akan menyatakan perasaanku lagi padamu.”

Jung Soojung tak kunjung terlelap meski jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Gadis itu berusaha untuk memejamkan matanya sampai merubah posisi tidurnya. Namun tetap tak bisa masuk ke alam bawah sadarnya.

Kim Myungsoo terlalu memenuhi kepalanya.

Semenjak Myungsoo menyatakan perasaan padanya beberapa hari lalu. Pria itu tak menampakkan diri lagi di hadapan Soojung. Bahkan ponselnya pun tak pernah aktif lagi.

“Apa mungkin dia marah padaku dan sedang menjauhiku?” Gumam Soojung sambil menatap langit-langit kamarnya.

Soojung memeluk gulingnya dengan erat. Rasa cemas mulai menyelimutinya.

“Myungsoo Oppa –aku merindukannya.”

Soojung hanya bisa berguling-guling dengan gemas di atas tempat tidurnya.

“Jung Soojung seonbae!”

Soojung menghentikan langkahnya ketika seorang siswa –yang dia ketahui sebagai hobae –memanggilnya.

Eo, Oh Hayoung. Wae irae?”

Gadis dengan rambut blonde sebahu itu memegangi lututnya dengan nafas berderu. Nampaknya Hayoung berlari untuk menyusul Soojung.

“Kau tidak –melihatnya? Di lapangan –sekolah, uhh.”

Soojung menggeleng.

“Apa maksudmu, Hayoung-ah? Apa yang harus aku lihat?”

Oh Hayoung kewalahan, entah dari mana gadis itu sampai berlari seperti sehabis maraton.

“Entahlah, aku juga tidak paham. Tapi Youngjae seonbae, menyuruhku untuk mencarimu.”

Soojung mengangguk ketika Hayoung menyebut nama Youngjae –ketua kelasnya.

“Apa dia ada di lapangan sekarang?”

Hayoung mengangguk mengiyakan.

“Hayoung-ah, temani aku. Ne?

Yoo Youngjae sedang berdiri di samping lapangan sekolah sambil melipat kedua tangannya saat Soojung datang.

Kerumunan siswa sudah memenuhi lapangan. Ada yang bersorak gembira dan ada pula yang hanya asik melihat ke arah lapangan. Jung Soojung tidak bisa memfokuskan pandangannya, karena begitu banyak siswa di sana.

“Yoo Youngjae! Apa yang terjadi?”

Youngjae menatap Soojung dengan tatapan –ini –semua –karena –mu –Jung –Soojung. Sedangkan Soojung tak mengerti dengan tatapan aneh Youngjae.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa, Jung Soojung.” Seru Youngjae.

“Lihat saja ke lapangan. Aku rasa –seobae kita itu sudah gila. Bagaimana jika kepala sekolah mengetahuinya? Kita bisa dihukum satu kelas, Soojung.” Jelas Youngjae.

Seonbae?

Bukan kah Soojung dan Youngjae sudah berada di tingkat tiga. Seonbae mana yang dimaksud oleh Youngjae?

Soojung segera menekap mulutnya, dia rasa dia tahu seonbae yang dimaksud Youngjae siapa meskipun masih terselip rasa tidak yakin di benaknya. Dengan segera Soojung menerobos beberapa orang siswa yang ada di depannya. Dia terus berjalan sampai benar-benar berada di sisi lapangan.

Eommona!” Kedua kaki gadis itu seolah berubah menjadi batu –begitu keras untuk melangkah.

Di depannya sekarang –tepat di tengah lapangan sekolah. Begitu banyak kertas craft berwarna putih dan pink berserakan membentuk tulisan ‘I LOVE U, JUNG SOOJUNG’.

Kedua matanya mengedarkan pandangan, mencari sosok yang menurutnya menjadi ‘tersangka’ dari kejadian ini.

Kerumunan siswa di sana semakin ramai. Soojung merasa cemas karena dia tak dapat menemukan orang tersebut.

Sampai kedua matanya dapat melihat seseorang yang menggunakan kemeja putih –berdiri di tengah kerumunan siswa. Orang tersebut tersenyum tulus saat kedua mata mereka bertemu.

Kim Myungsoo berdiri di sana.

Pria itu kemudian keluar dari kerumunan kemudian berjalan ke menuju Soojung yang masih terpaku di tempatnya.

“Jung Soojung.”

Mata tajam pria itu menatap wajah Soojung yang memerah. Myungsoo menarik Soojung kedalam pelukannya. Pria itu dapat merasakan degup jantung Soojung.

“Ini usahaku yang terakhir.”

Myungsoo mendekatkan wajahnya pada Soojung, membuat gadis itu semakin mematung.

“Jadi lah kekasihku, Jung Soojung.” Bisik Myungsoo lembut di telinga Soojung.

 

End of flashback

SREEK

SREEK

Goresan terakhir di selembar kertas gambar berukuran besar itu membuat Soojung memicingkan kedua matanya. Sudah hampir satu jam dia mengkoreksi hasil kerjanya semalam. Wanita itu tetap merasa tidak puas akan pekerjaannya.

“Ini semua membuatku gila!” Rutuknya.

Ahn Daniel –salah seorang partner timnya, menggelengkan kepala melihat Soojung yang nampak frustasi di meja kerjanya.

“Jangan terburu-buru, Jung-ah. Deadline kita masih jauh.” Seru pria itu sambil melihat hasil desain baju yang telah dibuat Soojung.

“Aku tidak bisa bersantai sepertimu, Daniel-ssi.”

Soojung mendudukkan diri di kursinya dengan lesu.

Daniel meraih tumpukan kertas di atas meja Soojung.

“Desainmu sudah sangat bagus, seperti biasanya. Lantas apa yang membuatmu gila? Ini luar biasa!”

Soojung menatap sinis. “Kau meledekku?”

“Tidak! Aku serius! Aku tidak berani untuk meledek hasil karyamu, ketua tim Jung Soojung.”

Soojung tersenyum masam. Ugh, ada apa dengan pikirannya akhir-akhir ini.

Ahn Daniel tergelitik untuk menggoda Soojung.

“Aku tahu apa yang membuatmu lesu seperti ini, Jung-ah.

Nampaknya ucapan Daniel menarik perhatian Soojung.

“Kau sedang terkena sindrom sehabis bercarai. Aku yakin itu!”

 

“Memang ada sindrom seperti itu?” Soojung menatap sinis Daniel.

Pria itu mengangguk. “Kau bukti pasiennya, Jung-ah.”

Seketika saja Daniel tertawa lepas ketika melihat ekspresi Soojung yang menatapnya dengan tatapan –kau –tidak –lucu, dan membuat Soojung ingin sekali melempari Daniel dengan alat gambar yang menumpuk di atas meja kerjanya sekarang juga.

Kim Myungsoo memerhatikan punggung Sooji dari meja makan. Wanita itu sedang sibuk menunjukkan keahliannya memasak di dapur –di apartemen Myungsoo. Pagi sekali Sooji datang ke apartemennya dengan membawa banyak belanjaan. Dia ingin membuat sarapan untuk Myungsoo –katanya.

Aroma dari masakan yang dibuat Sooji telah sampai ke indera penciuman Myungsoo. Tapi pria itu sama sekali tak bergairah untuk memakan apapun.

“Tadaa~”

Sooji menyajikannya di atas meja.

Gomawo, Suji-ya.”

Sooji tersenyum senang saat Myungsoo memakan masakan buatannya. Tapi Sooji memikirkan sesuatu saat dia melihat tak ada keceriaan di mata pria itu.

“Myungsoo-ssi, apa kau sedang sakit?” Tanya Sooji sambil menempelkan telapak tangannya pada kening Myungsoo.

Myungsoo menggeleng. “Anniyo.

Bagaimana jika aku memang sakit karena di kepalaku ini penuh dengan Soojung?

“Sooji-ya. Lain kali –kau tidak perlu datang pagi sekali hanya untuk membuatkanku sarapan.” Ucap Myungsoo. Pria itu mengatakannya dengan tulus, tak bermaksud untuk melarang Sooji. Dia hanya khawatir pada gadis itu.

Wae tto? Kau tak menyukainya?” Sooji menekuk wajah.

Myungsoo mengulas senyum. “Tidak –aku menyukainya. Hanya saja –aku ini pria yang baru bercerai, dan aku tidak menginginkan tetanggaku berpikir yang aneh-aneh jika kau selalu mampir ke apartemenku. Apa kau bisa mengerti, Sooji-ya?”

Sooji mengangguk. Alasan Myungsoo masuk akal dan dapat dimengerti. Sepertinya Suji harus sedikit bersabar lagi.

Seorang wanita dengan stiletto berwarna merah yang terus menimbulkan bunyi ketukan di setiap langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kaca. Tangannya dengan jari yang lentik –namun terlihat sudah tidak muda lagi itu memasuki suatu ruangan.

Di depannya seorang pria paruh baya tengah sibuk menggoreskan pena di atas kertas-kertas berupa dokumen penting. Wanita itu berjalan menghampiri meja kerja dengan plakat nama presdir Kim Jae Sook di atas permukaan meja.

Yeobo.

Pria paruh baya tersebut mengangkat kepala.

“Kapan kau datang?” Dengan ekspresi wajah yang begitu tenang Tuan Kim bertanya pada wanita itu.

Wanita tersebut mendudukan diri di depan Tuan Kim.

“Aku sudah berada di Korea semenjak dua minggu yang lalu.”

Tuan Kim menutup map hitam di depannya.

“Untuk apa kau datang lagi kemari? Aku sudah memberimu banyak uang untuk hidup di Amerika.”

Wanita itu tersenyum kemudian menyerahkan  amplop besar berwarna coklat yang digenggamnya pada tuan Kim.

“Aku kemari untuk menagih beberapa saham milikmu, Yeobo. Bukan kah uri Myungsoo sudah bercerai dengan wanita itu? Kau sendiri yang menandatangani perjanjian kita.”

Tuan Kim berdecak pelan.

“Kau sungguh wanita licik.”

“Kenapa harus begitu pusing untuk membeli sekotak sereal, Soojung-ah?” Gerutu Kai yang memegangi trolly belanja milik Soojung. Wanitu sedang menimbang dua kota sereal di kedua tangannya.

“Kau ini bawel sekali, Kai. Kau sendiri yang setuju untuk menemaniku belanja bulanan.”

Kai mendengus pelan, jika saja dia tak mengiyakan keinginan Soojung untuk ditemani belanja. Mungkin dia masih sibuk dengan segudang pekerjaannya. Kai merasa serba salah telah menemani sahabatnya itu.

Tak apa, Kai. Ini demi Soojung. Batinnya.

Soojung telah berjalan jauh di depannya bahkan Kai tak lagi melihat sosok wanita itu. Kai tak bermaksud untuk menyusul Soojung, wanita itu mungkin berada di rak-rak makanan ringan. Lagipula mereka sudah dewasa, tidak mungkin hilang di supermaket. Kai kemudian mendorong trolly belanja itu menuju rak minuman untuk mengambil beberapa kaleng beer.

“Itu dia.” Gumam Kai saat menemukan Soojung yang ternyata berada dekat dengan rak-rak yang menyimpan minuman.

Soojung terlihat sedang berbicara dengan seorang pria. Kai mendorong trolly itu mendekati Soojung.

“Soojung-ah.” Panggilnya.

Eo, Kai-ya.

Soojung sedang melihat-lihat beer yang terpajang di rak. Salah satu merek beer menarik perhatiannya, namun kaleng beer itu disimpan paling atas. Soojung berjinjit untuk menggapainya, namun terasa sangat jauh. Dia mendengus sebal.

“Seharusnya aku bisa lebih tinggi lagi.” Kesalnya sambil memperhatikan kakinya yang –ehm, menurutnya kurang tinggi itu.

“Kau memang seharusnya lebih tinggi lagi, Soojung.”

Jung Soojung membalikan badannya saat ada tangan mengambil beer yang dia inginkan. Soojung terkejut saat mendapati Kim Myungsoo ada di hadapannya. Pria itu menyerahkan kaleng beer pada Soojung.

Go-gomawo.

Myungsoo mengangguk sambil tersenyum.

“Soojung-ah.

Itu Kai.

Eo, Kai-ya.

Soojung ingin sekali berterimakasih pada Kai yang datang tepat waktu. Setidaknya dia tak perlu begitu tegang saat melihat Myungsoo.

Tegang? Entah lah, Soojung pun tak tahu kenapa dia begitu was-was jika bertemu lagi dengan Myungsoo –mantan suaminya.

Nugu-ga?” Tanya Kai pada Soojung.

Myungsoo yang mendengar Kai bertanya pada Soojung langsung memperkenalkan diri.

“Myungsoo –Kim Myungsoo.”

Kai mengangguk.

“Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Soojung.” Ucap Kai. Tatapannya tak lepas dari sosok Myungsoo.

Begitu pun sebaliknya.

Walaupun Myungsoo terus mengulas senyum, dia terus memperhatikan Kai. Myungsoo mengetahui tentang Kai dari Soojung –dulu saat mereka masih terikat pernikahan, tapi Myungsoo tak pernah membayangkan dengan serius seperti apa seorang Kim Kai –teman kecil Soojung.

“Myungsoo-ssi, bagaimana jika kita lanjutkan pembicaraan di flat Soojung? Aku rasa akan menyenangkan jika bisa minum bersama.” Ajak Kai. Hanya sebuah ajakan basa-basi. Kai tidak suka situasi yang terlalu dingin seperti ini.

“Kai-ya, Myungsoo tidak suka –min..”

Call!

Sementara itu Soojung terkejut saat Myungsoo menerima ajakan Kai. Dengan cepat dia menyikut lengan pria itu.

“Waah! Apa sedang ada pesta disini?”

Sulli yang baru saja datang selepas kerja langsung ikut bergabung dengan Soojung, Myungsoo dan Kai di depan tv.

Soojung menatap khawatir pada Myungsoo yang sedari tadi hanya mengetuk-ngetukkan jari di badan gelas yang berisi Soju. Kai dan Sulli yang sudah mabuk makin berbicara tak karuan. Keduanya mengeluarkan cacian untuk pekerjaan mereka. Benar-benar kedua orang yang tak menikmati kehidupan mereka.

Sementara itu Soojung yang baru meminum beberapa teguk dan masih sadar, beranjak dari sana. Dia memilih untuk keluar dari flat itu.

“Bagaimana rasanya minum Soju?”

Soojung mengangkat kepalanya saat Myungsoo mengikutinya sampai ke taman di dekat tempat tinggalnya. Mereka berdua duduk di sebuah bangku taman.

“Hanya seperti minum air pada umumnya.” Gumam Soojung.

Myungsoo memasukan kedua tangan kedalam saku jaketnya.

“Kenapa kau menerima ajakan Kai? Padahal kau sendiri tidak bisa minum alkohol.”

Myungsoo mengangkat bahunya. “Molla.”

Soojung menarik nafas dalam.

“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Jika suatu hari kau melihatku di jalan atau dimana pun, jangan pernah mendekatiku. Begitu pun sebaliknya, aku akan melakukan hal yang sama.”

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Soojung.

“Kenapa?”

Soojung memandang langit yang tak satu bintangpun dapat dilihatnya malam ini.

“Agar kita saling belajar dari sebuah kesalahan.”

Pria itu tak mengerti apa yang dikatakan Soojung. Myungsoo mencoba mengumpulkan kepingan puzzle yang dibuat Soojung saat ini. Namun nihil, dia sama sekali tak akan bisa mengerti maksud dari ucapan Soojung. Pria itu merasa kacau.

“Aku hanya ingin masih melihatmu, Soojung.”

“Kau tidak akan pernah mengerti, Myungsoo.”

Dalam hati Myungsoo menggeram hebat.

“Untuk itu jelaskan padaku, Jung Soojung.”

Kim Myungsoo terluka. Entah luka seperti apa yang dirasakannya saat ini sampai dia tidak tahu harus berbuat apa. Soojung masih tetap pada pendiriannya, tak ingin menjelaskan apapun.

Sebesar apa kesalahan Myungsoo?

Kim Myungsoo sudah terlampau lelah.

Jung Soojung duduk di depan meja belajarnya. Beberapa kali dia mengganti kertas gambar dan membuangnya sembarangan. Kepalanya teramat pusing. Berulang kali pikirannya jatuh pada nama Kim Myungsoo. Wajah frustasi dan memelas pria itu terus teringat dalam kepalanya. Soojung ingin menampik semua hal tentang Myungsoo, tapi tak pernah bisa. Semakin dipaksakan –Soojung semakin akan memikirkannya.

Ugh. Bahkan apa yang dirasakannya sekarang? Jantungnya berdegup tak karuan saat wajah kecewa Myungsoo menghampiri pikirannya. Terasa sesak. Soojung menekan dadanya yang terasa sakit.

“Jung kau menyakiti dirimu sendiri.” Gumamnya sambil menelungkupkan kepala pada lipatan tangannya di atas meja.

Sulli yang memperhatikan Soojung di ambang pintu kamar hanya menggelengkan kepala. Gadis itu menatap nanar sahabatnya.

“Sudah ku katakan, perceraian bukan jalan keluar.” Sulli berbisik pada dirinya sendiri kemudian berlalu. Untuk saat ini membiarkan Soojung memikirkan masalahnya sendiri adalah jalan terbaik. Sahabatnya itu perlu lebih dewasa untuk menghadapi hidupnya.

1 Years Ago.

“Aku lelah, Jung. Jangan mendebatku sekarang.”

Kim Myungsoo menghempaskan diri di atas sofa, badannya terasa sangat lelah. Sementara itu Soojung dengan kondisi yang sama berdiri di hadapan Myungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku tidak sedang mendebatmu, Kim Myungsoo. Aku sedang bertanya.”

Myungsoo bungkam. Badannya teramat lelah.

“Myungsoo!”

Myungsoo memijat pelipisnya.

“Yaampun, Jung Soojung. Tidak bisa kah kau memberiku waktu untuk beristirahat sebentar? Aku lelah.”

Soojung mengalihkan padangannya sambil berdecak.

“Kau pikir hanya kau saja yang lelah disini? Aku sudah menekan emosiku, Myungsoo. Tapi kau membuatku ingin meledak!”

“Baik, Jung Soojung. Baik! Wanita itu adalah klienku. Kau tidak ingat dia? Dia Bae Sooji, teman satu angkatanmu dulu!”

Soojung tersenyum sinis. “Kau memberitahuku siapa dia setelah aku melihat kalian berdua berpelukan? Bagus sekali.”

Myungsoo mencoba untuk menahan amarahnya saat Soojung menuduhnya berpelukan dengan Sooji –hanya seorang kliennya.

“Kami tidak berpelukan, Jung-ah. Dia yang memelukku lebih dulu.”

Soojung seolah menulikan pendengarannya. Entah benar atau tidak yang Myungsoo katakan. Hati Soojung sudah sangat sakit. Pasalnya bukan hanya sekali dia mengikuti Myungsoo yang pergi bersama Sooji. Sulli pun pernah melihat Myungsoo dan Sooji di Busan. Saat itu Myungsoo mengatakan ada perjalanan bisnis pada Soojung.

Perempuan mana yang tidak sakit hati ketika melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain –yang Soojung pun awalnya tidak tahu siapa seorang Bae Sooji itu.

“Cukup, Myungsoo. Aku tidak mau mendengar penjelasanmu.”

Myungsoo beranjak dari sofa dan memposisikan dirinya untuk berdiri begitu dekat dengan Soojung. Kedua mata tajam Myungsoo memperhatikan Soojung dengan tatapan yang wanita itu sendiri tidak tahu arti dari tatapan Myungsoo saat ini.

Soojung memalingkan wajah saat Myungsoo meraih pergelangan tangan dan mencengkramnya dengan kuat.

“Lepas, Myungsoo.”

Kim Myungsoo masih pada posisinya. Dia bahkan semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Soojung, membuat istrinya itu meringis.

“Myungsoo –sakit.”

Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya pada Soojung.

“Kau tidak mau mendengar penjelasanku? Sedangkan kau sendiri tidak pernah menjelaskan hubunganmu dengan seorang Ahn Daniel, Jung Soojung!”

Soojung membelalakan matanya. Apa yang harus dijelaskannya tentang hubungannya dengan Daniel, mereka hanya sebatas parter dalam satu tim. Soojung pun hanya berinteraksi dengan Daniel di kantor, tidak lebih.

“Kau sedang menuduhku, Myungsoo?”

“Itu pula yang kau lakukan padaku sekarang, Soojung.”

Soojung dengan sekuat tenaga melepaskan lengannya dari cengkraman Myungsoo.

“Kecemburuanmu itu tidak masuk akal. Kau terlalu kekanakan menuduhku memiliki hubungan yang lebih dengan Daniel. Kau tidak bercermin pada dirimu sendiri, Kim Myungsoo-ssi!”

Jung Soojung hendak akan meninggalkan Myungsoo, namun pria itu menarik kembali lengan Soojung.

“Kau benar, Soojung. Aku cemburu! Aku memang kekanakan, dan aku sering pergi bersama Sooji. Terserah apa pun yang ada dipikiranmu, Jung Soojung. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Myungsoo menyerah, meskipun masih menekan amarahnya.

“Ceraikan aku, Myungsoo.”

Myungsoo tertohok mendengar ucapan Soojung.

“Jung Soojung!”

Pria itu sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Bagaimana bisa Soojung menginginkan perpisahan setelah satu tahun pernikahan mereka?

“Aku –aku lelah, Myungsoo. Kau tidak akan pernah mengerti.”

Myungsoo menepis tangan Soojung dengan kasar.

“Kau menginginkan perceraian? Baiklah, Jung Soojung. Aku akan mengurus surat perceraian kita besok!”

Myungsoo meninggalkan Soojung yang kini terisak, tubuh wanita itu merosot sampai ke lantai.

 

Kau berubah, Myungsoo.

 

To be continue……….

 

N/B; Yup! This is Ep.02 for ya~

Sebelumnya aku mau ucapin makasih dulu buat support kalian di Ep. Intro sama Ep. 01 kemaren sampai akhirnya aku berani posting Ep.02 ini /deep bowing/

So, ada kah yang udah bisa nebak plot cerita ini akan dibawa kemana? Mungkin sebagian kalian udah berpikir, “Ahh ini sih standar.” Tapi dengan tema yang standar ini aku coba bakal kemas sesuai versiku sendiri ditambah dengan konflik lain. Semoga kalian bisa menikmati cerita ini ya😉

Segala bentuk komentar dan saran yang membangun sangat aku terima dengan senang hati.
See ya on the next Episode of Marrigae Proposal, pyeong~

21 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 02)

  1. Ini gak standar kok.. ^^ kasusnya mereka cerai… dan dugaanku penyebab utamanya yah karena Soojung erasa ada pihak ketiga dan Myungsoo begitu ajha mengiyakan keinginan Soojung buat cerai.. menurutku ukan konflik standar walau konfliknya bisa ajah terjadi di dunia nyata.. atau drama..? tapi, konflik begini menarik..

    ahh dari semuanya gemes sendiri sama Myungstalnya mereka masih saling sayang tapi gak ada upaya buat balik lagi… buat memperbaiki gitu? yah, walau di sisi Myungsoo, dia kayaknya pengen memperbaiki hubungannya sama Soojung.. tapi, Soojungnya udah terlanjur lelah dan menyerah.. dan soal perjanjian tuan Kim sama wanita yang kayaknya ibunya Myungsoo? jangan2 aslinya tuan kim pengen Myungsoo cerai lagi? ohh, No.. kalo gitu semakin complicated.. huuft yang terbaik ajha buat mereka ^^

    • aku sendiri sih lebih liat mereka dari egonya masing2, yaa namanya juga nikah dini. masih banyak yang harus mereka lewatin buat bertahan. belum lagi konflik eksternal dari keluarga yang bakal dibahas di next episode :’)

  2. Bagus thor alurnya ga terburu buru trus jg plotnya jarang ditemuin not klise hehe bahasanya jg udah enak dibaca. Updatesoon! ^^

  3. Crtanya tambh menrik ..jdi tw knp myungstal cerai gra2 bae suzy ?!
    Trus yg ditlpn ayh nya myungsoo itu syp??
    Ditnggu.next chapter .Fighting!!

    • makasih ya udh sempetin baca sama komennya ^___^
      maksudnya yang dateng ke kantor ayahnya myungsoo? hehe
      keep support buat cerita ini ya😉

  4. Oh, jadi pnyebab mreka cerai itu berawal dari cemburu toh.. soojung cemburu sama suzy, myungsoo cemburu sama daniel..
    Ini bagus kok thor, dan gak standar.. Jarang2 juga aku baca ff myungstal yg genre marriage life..
    lanjut dong thor, kalo bisa nanti endingnya mereka balikan lagi…🙂

    • bisa dibilang kaya gitu, apalagi mereka kan nikah muda banget. masih suka mentingin ego masing2 juga.
      tunggu lanjutannya ya, semoga bisa dipos cepet. Thanks supportnya🙂

  5. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.03-A/B) | myungsOOjung·

  6. Bagus kok thor, alurnya pelan tapi mantep (?) 😁 Bener sih kalau nikah mudah sisi dewasanya belum mateng, ego campur emosi haduh bubar sudah 😁 Oh, berawal dari kecemburuan toh MyungStal pisah, tapi apa ada campur tangan kedua orang tua mereka juga kah? Next chaptee, ijin baca thor 😊

  7. Jadi penyebabnya karena mereka menikah muda dan blm bisa ngontrol emosi masing masing. Menurutku wajar sih buat pasangan yang menikah muda klo masih labil. Atau jangan jangan masih ada faktor x lain di balik perceraian mereka? Ah bingung. Udah balikan aja myungsoo-soojung sama sama menderita juga klo cerai =D
    Finghting chingu!

  8. Mereka berdua benar-benar mementing ego, bukan perasaan. emang sih, menikah muda itu tidak selamanya baik karena pasti masih ada sisi kurang dewasa dari masing-masing pihak. Perasaan cemburu juga akan muncul lebih cepat, maksudnya kepercayaan satu sama lain masih kurang.
    penulisannya udah bagus, mudah dipahami.

    • yeaahh, nikh muda itu emang gak selamanya enak hihi. disini aku pengen nampilin efek nikah mudah juga sih *jdeer*
      makasih loh udh sempetin baca sama komennya🙂

  9. Duh kaaa ini mah bukan standar, ceritanya bikin excited buat aku hihi ga perlu bersenang2 dahulu biarlah myungstal bersedih2 dahulu barulah bahagia kemudian (semoga) mereka back kyk lagunya infinite. Duh efek nikah muda ;’D wkwk myungstal nya masih labil hihi setuju sma komen diatas mereka msh mentingin ego dibanding perasaan trus mereka msh blm percayaa satu sama lain wkwk myungstal sih ngebet nikah muda jadilah mereka cerai muda (?) trus yg dtg ke kantor mertua soojung itu apa siapa kenapa minta saham wkwk kyknya ada taruhan nih dibalik nikahnya myungstal duh.

    • yaapsss, semakin terburu-buru buat nikah juga gak bagus, hasilnya juga gak bagus ckck ._.)/ *ngomong apasih* wkwk
      nahkan makanya jangan nikah muda *lhaaa* hahaha😄
      btw, thanks loooohh udh mau baca dan sempetin komennya juga, terharuu~
      silahkan ditebak-tebak ada apa dibalik pernikahan myungstal *lho* *ketawa jahat* hohoho

  10. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06) | myungsOOjung·

  11. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s