[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 03 – B/B)

Almightykeyya ©2016 present

Marriage Proposal

staring; Krystal – L – Suzy – Kai
genre; romance-complicated-sad-Au-marriage life
lenght; chapter
rated; pg

“It’s like the cruel in our marriage, can you save me?”

Di salah satu sudut –sebuah kafe bernuansa Perancis –terdapat dua orang pria yang duduk saling berhadapan. Ditemani dengan dua cangkir teh yang masih mengepul di atas permukaan meja bundar yang terdapat di tengah-tengah mereka. Salah satu dari mereka masih asik memandang keluar jendela –menikmati hiruk pikuk jalanan pada malam hari yang sedang dibasahi oleh gerimis.

“Ada perlu apa kau memanggilku kemari, Kim Myungsoo-ssi?” Kim Kai membuka pembicaraan terlebih dahulu –setelah hampir sepuluh menit dari kedatangannya, dia dan Myungsoo hanya berbagi keheningan.

Kim Myungsoo –mengalihkan pandangannya dari jalan dan menatap ragu pada permukaan cangkir di depannya. Myungsoo tak langsung menjawab –pikirannya masih penuh dengan perkataan Kai tempo hari.

“Sejauh apa kau mengenal Soojung, Kai-ssi?” Bodoh. Myungsoo tak seharusnya menanyakan hal semacam itu pada Kai –yang sudah jelas bukan itu topik yang akan dibahasnya dengan pria yang menjadi lawan bicaranya sekarang.

Kai menatap tajam Myunngsoo. “Jika hanya itu yang ingin kau tanyakan –sebaiknya aku pulang. Aku sudah membuang waktu berhargaku –permisi.” Kai hendak pergi dari tempat itu, namun Myungsoo berdeham dan kembali membuka mulutnya.

Chankkaman.”

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tolong jangan pergi dulu, Kai-ssi.”

Marriage Proposal
Ep.03 (B)

The Puzzle

Kim Kai menutup pintu apartemennya. Pria itu kemudian melepaskan sepatunya sembarangan. Tubuhnya di jatuhkan ke atas sofa di ruangan tengah. Tangan kanannya memijat pelipisnya –mencoba untuk memberikan relaksasi pada saraf kepalanya.

Perbincangan dengan Myungsoo beberapa jam lalu membuat kepalanya sedikit pening. Kai memejamkan matanya –ingatannya berputar pada satu setangah tahun yang lalu –saat dia masih berada di Jepang.

Kai memingat sosok wanita yang menunjukkan bahwa dirinya tak ingin diketahui identitasnya –karena terlihat dari cara berpakaiannya yang menutup area wajah saat itu – menghampirinya yang tengah duduk sambil membaca buku di sebuah kafe. Kai sendiri tak terlalu ambil pusing saat seorang wanita tak dikenal menghampirinya dan berbicara mengenai Soojung dan pernikahannya –karena Kai tidak mau peduli saat itu.

Saat ini Kai begitu keras mengingat setiap ucapan yang dikatakan oleh si wanita asing itu –yang ditangkapnya hanyalah beberapa kata yang bisa menjadi kata kunci dari setiap ucapannya yaitu –pernikahan, kesamaan, dan sebuah konspirasi –hanya tiga kalimat itu yang bisa diingatnya.

Kim Myungsoo mungkin belum bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi –karena Kai hanya menceritakan sebagian potongan kecil dari ingatannya tersebut. Untuk itu Kai kembali mengingatnya –dia berusaha mengingatnya.

Jung Soojung baru saja keluar dari bangunan flatnya. Langit nampak mendung di atas sana dan wanita itu sama sekali tak membawa payung. Desahan kecil keluar dari mulutnya –begitu malas jika harus kembali menaiki anak tangga sampai ke lantai dua untuk mengambil benda pelindung saat hujan tersebut.

Gerimis. Tidak terlalu besar –dan Soojung berpikir untuk terus berjalan karena untuk sampai ke kantornya hanya butuh waktu lima belas menit jika berjalan kaki, dia hanya butuh berjalan lebih cepat untuk menghindar dari hujan.

Kedua tangannya menengadah, menimang-nimang apakah gerimis pagi ini akan semakin deras atau mereda. Soojunng kembali berpikir untuk kembali ke atas dan mengambil payung. Jika dia melanjutkan perjalanannya –mungkin dia akan sampai di kantor dengan baju yang lumayan basah –ugh. Soojung memikirkan apa yang akan dikatakan atasannya jika melihat baju seorang pimpinan tim desainer basah dan tidak enak dilihat. Maka wanita itu akan kembali untuk mengambil payung.

“Soojung.” Seseorang dengan suara yang familiar di telinga wanita itu memanggilnya.

“Aku akan mengantarmu pagi ini.” Ujar pria itu –yang tepat berdiri di anak tangga ketiga di bawah Soojung.

Soojung tersenyum tipis untuk menepis rasa canggung yang kini menyelimuti hatinya. Semenjak kejadian Myungsoo yang tiba-tiba ada di depan kantornya dengan payung yang sama seperti sekaran –Soojung merasa bahwa saat itu dia keterlaluan pada Myungsoo. Wanita itu –mencoba untuk bersikap lebih baik pada mantan suaminya saat ini.

Keduanya berjalan pelan –sama-sama menikmati rintik hujan yang entah kenapa kali ini terasa menghangat untuk Soojung, mungkin Myungsoo merasakan hal yang sama karena pria itu tak pernah melepas senyumannya.

Kim Myungsoo memerhatikan wajah Soojung lamat-lamat. Sudah terlalu lama dia tidak melihat senyum Soojung yagn seperti ini –nampak hangat dan bahagia. Myungsoo bergumam pelan membuat Soojung meliriknya.

“Kau mengatakan sesuatu?”

Aniyeo.”

Soojung menatap ujung sepatunya yang sedikit basah terkena cipratan air yang menggenang.

“Tapi aku mendengar sesuatu darimu –seperti..”

“Kau begitu cantik, Jung Soojung.” Ujar Myungsoo dengan cepat.

Soojung berkedip.

“Aku senang melihat senyummu lagi, Soojung. Kau tersenyum begitu hangat.”

Soojung mengeratkan pegangan pada tas tangan yang dibawanya. Wanita itu menunduk.

“Aku –aku hanya merasa bahagia karena hujan. Kau tahu jika aku sangat menyukai hujan.”

Benar. Soojung adalah salah satu orang yang menyukai hujan –dan Myungsoo sangat tahu itu. Begitu sederhana untuk membuat Soojung bahagia –dan hujan bisa membuatnya. Sementara Myungsoo? Pria itu berpikir kenapa dia tak bisa membuat Soojung bahagia –dia merasa kalah oleh hujan.

“Aku kira –kau bahagia karena berjalan denganku, Soojung-ah.”

Soojung dapat mendengar dengan jelas ucapan Myungsoo. Namun wanita itu hanya diam dan mengulas senyum.

Bae Sooji menatap kosong layar laptopnya yang masih menujukkan persentase penjualan majalah Y yang semakin merosot dan sudah menurun ke peringkat tiga –terkalahkan oleh majalah pesaing-pesaingnya. Hal semacam ini sudah semestinya membuat kepala gadis itu pecah –namun untuk kali ini, Sooji lebih mementingkan masalah lain.

“Selamat siang, Nona Bae.”

Suara dari arah pntu ruangannya membuyarkan lamunan Sooji. Kim Kai berdiri di ambang pintu. Sooji mengangguk –untuk mengizinkan pria yang menjadi rekan kantornya itu masuk ke ruangannya.

“Ada yang bisa saya bantu, Kai-ssi.”

Kai menyerahkan laporan yang sudah dikerjakannya pada Sooji.

“Aku sudah membenarkan beberapa revisi yang seharusnya ditangani anak buahmu, Sooji­-ssi. Aku rasa mereka masih kurang dalam hal editing. Bahkan aku menemukan beberapa hal yang rancu –seperti pertanyaan yang tak sesuai dengan topik yang dibahas, tapi dimasukan ke dalam artikel –sebagai pemenuh halaman. Sangat tidak profesional, bukan?”

Sooji membuka berkas-berkas yang diberikan oleh Kai, bahkan sampai beberapa kali membolak-balik kertas-kertas tebal itu.

“Aku salut dengan skill yang kau miliki, Kai-ssi. Aku harap kau bisa membimbing anak buahku untuk hal semacam ini. Aku tidak ingin penjualan majalah kita semakin merosot tiap bulannya. Kau bisa menanganinya? Aku harap kau mau bekerja sama denganku untuk urusan seperti ini, Kai-ssi. Karena itu akan sangat membantuku dan Majalah Y sendiri.”

Kai hanya mengangguk kemudian hendak beranjak dari Sooji, namun sesuatu membuat Kai menghentikan langkahnya sebelum benar-benar keluar dari sana.

“Sooji-ssi. Apa kita pernah bertemu di suatu tempat? Aku seperti pernah mendengar suaramu.”

Sooji mengerutkan alisnya.

“Aku rasa tidak, Kai-ssi. Aku baru melihatmu pertama kali di ruang meeting saat Sajangnim memperkenalkanmu.” Ujar gadis itu.

Ohh. Joseonghamnida –sepertinya aku salah mengenali orang.”

Kai sudah menghilang di balik pintu saat Sooji kembali sibuk dengan beberapa dokumen di atas mejanya. Untuk beberapa saat tangannya berhenti memainkan tinta besi yang digunakannya untuk menandatangai beberapa proposal.

“Kim Kai –aku rasa pernah melihatnya. Tapi –dimana?” Gumam gadis itu, pikirannya mengingat nama dan wajah Kai untuk beberapa saat sebelum kembali menyibukan diri dengan pekerjaanya.

“Jung-ah!”

Panggilan Daniel membuat Soojung meletakan pensil gambarnya. Soojung menghampiri Daniel saat pria itu melambaikan tangannya –meminta Soojung untuk datang ke mejanya.

“Hm?”

Daniel memberikan tumpukan kertas gambar pada Soojung.

“Tolong kau temui tim editor majalah Y dan berikan semua gambar ini pada mereka. Hari ini Ji Hyo Sajangnim memintaku untuk menemaninya melakukan perjalanan bisnis ke Busan, jadi aku tidak bisa mengantarkan gambar-gambar ini. Aku hanya percaya padamu, Soojung. Kau bisa kan?”

“Tapi banyak sekali yang harus aku kerjakan. Lagipula –hey! Aku ketua tim disini –kenapa aku..”

Soojung kembali mengatupkan bibirnya saat Daniel kembali berbicara.

“Mereka akan menunggu sampai jam makan siang. Aku mohon, Ibu ketua tim. Annyeong!”

Soojung hanya bisa menghela nafas saat memperhatikan Daniel yang sudah berjalan meninggalkan ruangan mereka.

“Jung Soojung!”

Soojung tersenyum saat melihat Kai, sahabatnya itu baru akan masuk lift ketika Soojung baru sampai di lobi kantor majalah Y.

“Sedang apa disini?”

Soojung hampir lupa jika Kai bekerja di kantor tersebut. Dia cukup merasa lega saat pria itu membantunya membawakan tumpukan file.

“Aku diminta untuk menemui ketua tim editing di kantor ini, Kai-ya. Berkas-berkas gambar ini ditunggu sampai jam makan siang.”

Kai menaikan sebelah alisnya. “Bae Sooji maksudmu?”

Langkahnya terhenti –Soojung tercekat saat mendengar nama yang sudah lama tak didengarnya. “Kai-ya, apa Bae Sooji adalah ketua tim editing?”

Kai mengangguk mengiyakan. “Aku dan Bae Sooji berada dalam satu tim. Aku wakilnya –kau tidak mengenal pimpinan tim editing kami?”

Soojung menggeleng. Entah kenapa perasaannya berubah menjadi tak enak saat mendengar nama Bae Sooji –wanita yang begitu akrab dengan mantan suaminya.

“Mau ku antar ke ruangannya?”

“Tidak perlu, Kai-ya. Kau pasti sibuk.”

Kai mengibaskan tangannya. “Tidak –aku sedang free, kebetulan kerjaanku sudah selesai. Dan –ruanganku bersebelahan dengan Bae Sooji.”

“Masuk.”

Soojung membuka pintu dan masuk ke ruangan tersebut. Di sana –dibalik meja yang terbuat dari kayu jati yang kokoh itu seorang wanita duduk di atas kursi kerjanya yang berwarna hitam dan nampak sangat nyaman.

“Sooji­-ssi. Ini ada desainer dari Millicent –yang membawa gambar model pakaian untuk acara kita nanti.”

Kai menyimpan tumpukan file ke atas meja Sooji –gadis itu nampaknya masih terlihat sibuk karena jemarinya tak berhenti untuk menari di atas keyboard iMac besar itu. “Wait a minute.

Sooji menghentikan aktifitasnya dan melirik ke tumpukan file gambar yang berada di atas meja kerjanya itu. Wajah cantiknya baru terangkat untuk melihat siapa orang dari Milllicent yang datang menemuinya.

“Jung –Soojung.” Gumamnya pelan.

Soojung menunduk singkat. Wanita itu memasang senyum samar.

“Saya utusan dari Millicent. Saya harap konsep dan desain dari kami tidak mengecewakan, Bae Sooji-ssi.” Ucap Soojung dengan tenang.

Tanpa sadar Sooji memegang dengan kuat tumpukan file gambar yang dipegangnya. Perasaan gugup menyelimuti hati gadis itu. “Silahkan duduk, Soojung-ssi.”

“Kau mengenalku, Sooji­-ssi?” Soojung tersenyum simpul saat mendengar Sooji menyebutkan namanya. Wanita itu segera duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.

Sooji menghampiri Soojung dan duduk berhadapan dengan wanita itu. Sebisa mungkin Sooji menunjukkan sikap tenangnya di depan Soojung.

Jung Soojung mencoba sangat ramah pada Sooji –meskipun hatinya merasa tak nyaman berada berdekatan dengan wanita yang pernah membuat rumah tangganya berantakan –meskipun Soojung tak langsung menuduhnya.

“Tentu –tentu saja aku mengenalmu, kita pernah berada di satu sekolah yang sama dulu. Tapi sepertinya kau tidak mengenalku, Soojung-ssi.” Ujar Sooji.

“Sepertinya begitu.” Soojung memilih untuk tidak melanjutkan perbincangan mengenai perkenalan mereka. Karena Soojung cukup seorang Bae Sooji dari Myungsoo.

Kim Kai –pria yang masih berada di ruangan itu berdeham.

Ohh. Aku lupa kau berada di sini juga, Kai-ssi.” Sooji mempersilahkan Kai untuk ikut berdiskusi mengenai konsep acara dan model pakaian yang akan digunakan pada acara Anniversary Majalah Y yang ke sepuluh tahun.

Majalah Y menggunakan Millicent untuk merancang semua pakaian yang akan di gunakan pada sesi pemotretan majalah edisi spesial tersebut.

Chankkaman. Jadi kalian saling mengenal?” Tanya Kai di sela-sela diskusi.

“Begitulah. Dan –aku cukup dekat dengan mantan suami dari Soojung-ssi. Renovasi kantor kita menjadi projek yang diberikan kepada L’s Bravo –kantor milik Kim Myungsoo.” Papar Sooji tanpa melepas pandangannya dari setiap gambar yang sedang dipilihnya.

Kai hanya mengangguk paham. Pria itu kembali ikut memilih-milih gambar. Sementara Soojung ingin segera pergi dari tempat itu.

Pria tampan dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap itu baru saja tiba di bandara Incheon. Tatapan tajam dari balik kacamata hitam itu terus memandang keramaian bandara internasional tersebut. Mencari sosok yang tengah menunggu untuk menjemputnya.

“Yunho doryeonim!

Pria bernama Jung Yunho itu mengulas senyum –menunjukan lesung yang terdapat pada kedua pipinya saat dia menaikan kedua sudut bibirnya. Ugh. Siapa wanita yang tak terpesona pada pangeran satu ini?

Ahjussi.”

Jung Yunho menghampiri supir keluarganya tersebut dan menyerahkan koper miliknya untuk disimpan ke dalam bagasi mobil.

“Antar aku ke kantor Jung-ie lebih dulu. Aku sangat merindukannya, Ahjussi.” Seru pria itu sebelum masuk ke dalam mobil. “Ah! Biarkan aku saja yang menyetir –Ahjussi duduk lah dengan tenang di belakang. Arrachi?”

Supir keluarga Jung tersebut tidak pernah bisa menolak permintaan dari Yunho, Shin Ahjussi –panggilan untuk supir tersebut sudah hafal betul bagaimana keras kepalanya seorang Jung Yunho.

Mereka sudah setengah perjalanan menuju Millicent saat Yunho bertanya sesuatu pada Shin Ahjussi.

Ahjussi. Kau sudah mengantarkan surat-surat yang aku kirim dari Amerika?” Tanya Yunho saat pria itu tengah memutar kemudi.

“Sudah, Doryeonim. Saya sudah mengantarkannya pada Nyonya Lee Hyorin –sehari setelah surat itu sampai. Saya sendiri yang mengantarkannya ke apartemen Nyonya Hyorin di Gangnam-gil.”

Yunho tersenyum puas. “Aku selalu percaya padamu, Ahjussi.”

“Terimakasih –Doryeonim.”

“Bagaimana?”

Tanya Daniel sore hari itu –yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya.

Soojung hanya mengangkat bahu, menimbulkan kecurigaan dari tatapan tajam Daniel.

“Kau tidak membuat masalah kan, Jung?”

Soojung menelan potongan terakhir cakenya. Saat ini mereka sedang berada di coffe shop yang berada dekat dengan kantor untuk menghabiskan waktu Afternoon Tea mereka. Sambil mengunyah cheese cakenya Soojung bergumam.

“Terlalu bertele-tele. Pimpinan tim editing kantor itu banyak sekali yang ingin direvisi dari desain yang sudah kita buat. Hampir enampuluh persen mereka ingin mengganti model pakaian-pakaian itu. Seharusnya kau tidak menyuruhku datang ke sana. Aku tidak cukup mengerti.” Papar Soojung setelah sukses menelan kue lembut nan manis itu.

Daniel ingin meledakan tawanya sebelum dia ingat bahwa dirinya tengah meminum teh dengan rasa mint. Pria itu menyesap tehnya dengan hati-hati.

“Bukan kah kalian sama-sama ketua tim? Harusnya kau lebih pandai mendebat apa yang dikatakan pimpinan editing itu, Jung­-ah. Hahaha..”

Soojung menggembungkan pipinya. “Kau berusaha meledekku?”

“Maaf –maaf. Maksudku –untuk orang yang pintar sepertimu, sudah seharusnya kau bisa mengendalikan diskusi –terlebih dia ingin merecoki hasil kerja tim kita? Tim dibawah pimpinan seorang Jung Soojung? Ugh. Aku sendiri tidak akan pernah seberani wanita itu.”

Soojung tersenyum lebar. Seorang Ahn Daniel selalu bisa membuat semangatnya kembali lagi. Pria itu memang baik. Daniel selalu membuat dirinya bisa melakukan apapun, dan memang benar. Setiap yang dikerjakannya atas dukungan Daniel dan anggota timnya yang lain akan berbuah manis dan brilian.

“Aku akan mentraktirmu satu potong cheese cake lagi, Daniel-ssi.”

Daniel mengulas senyum. “Tidak perlu cheese cake. Aku hanya ingin red velvet saja.”

Dan gelak tawa pun keluar dari kedua mulut mereka.

Oppa!

Jung Soojung sangat terkejut ketika mendapati Yunho berada di ambang pintu ruangannya, dengan sebuah bingkisan kecil di tangan yang diangkat tinggi-tinggi oleh pria itu. Dengan cepat Soojung menghampiri Kakaknya dan memeluk Yunho dengan erat.

“Oppa –bogoshipeo!!

Jung Yunho tersenyum melihat tingkah adiknya –seperti Soojung kembali pada usia delapan tahun dan Yunho menyukai sikap manja Adiknya itu.

Na-do, Jung-ie.”

Soojung melepaskan pelukannya. “Kapan kau sampai, Oppa? Dan –apa yang kau bawa itu?”

Yunho menyerahkan bingkisan yang dibawanya pada Soojung. Wanita itu nampak antusias sekali saat membukanya. Matanya berbinar saat mendapati sekaleng cookies –yang Soojung yakin jika itu adalah biskuit buatan Ibunya. Bentuk biskuit itu adalah bintang –saat kecil Soojung selalu minta dibuatkan biskuit bentuk bintang pada Ibunya.

“Bagaimana kabar Eomma dan Appa, Oppa?

Yunho melipat tangannya di depan dada. “Satu-satu jika ingin bertanya, Jung-ie.”

Soojung hanya tersenyum.

“Siang ini aku baru sampai dan –sesuatu membuatku harus kembali ke Amerika dalam waktu dekat ini.”

Soojung mengerutkan keningnya. “Kenapa cepat sekali, Oppa?”

Yunho menarik kursi di depannya dan mendudukan diri. “Aku datang kemari hanya –untuk membawamu pergi dari sini, Jung-ie.”

Soojung menyimpan toples berisi biskuit itu di atas meja kerjanya. “Mworago?

Eomma yang memintaku, Soojung. Ada beberapa hal yang harus kau pahami di sana.”

Soojung menatap serius sang Kakak.

“Tapi –banyak sekali yang harus aku kerjakan di sini, Oppa.”

Jung Yunho mendekati Adiknya. Kedua tangannya memegang bahu Soojung. “Kami tidak ingin melihatmu semakin terluka disini –Soojung. Mengerti lah.”

Soojung mengalihkan pandangannya –dia tak ingin tatapan teduh Yunho menggoyahkan keyakinannya, karena selama ini Soojung tak pernah melawan apa yang dikatakan oleh Kakaknya itu. “Aku sudah cukup mengerti, Oppa. Aku sudah dewasa.”

“Tapi kau belum memahaminya, Jung Soojung.”

“Apa yang harus aku pahami lagi, Oppa? Aku sudah cukup mengerti kenapa Lee Hyorin ingin merebut perusahaan keluarga kita dan perusahaan milik keluarga Myungsoo. Aku sudah cukup paham kenapa wanita itu –yang notabene adalah ibu tiri Myungsoo memaksa untuk menghancurkan rumah tanggaku dan Myungsoo! Aku sudah cukup paham, Oppa!”

Yunho menatap nanar Adiknya itu saat air mata mulai jatuh dari kedua mata Soojung. Apa yang dipendamnya selama ini akhirnya keluar begitu saja. Bom yang berada di dalam benak Soojung akhirnya meledak. Jung Yunho –pada akhirnya hanya bisa memeluk Adiknya dengan erat.

Pria itu –Kim Myungsoo menekan dadanya dengan sangat kuat. Dibalik pintu ruangan yang sedikit terbuka itu –Myungsoo bisa dengan sangat jelas mendengar percakapan yang dilakukan oleh Yunho dan Soojung. Dia bisa mendengar kalimat yang dikatakan oleh Soojung dengan penuh emosi itu.

Soojung mengetahui semuanya? Semua yang aku tidak tahu? Batin pria itu. Myungsoo tidak ingin beranjak dari sana, dia harus meminta kejelasan atas apa yang terjadi padanya dan Soojung. Lantas pria itu memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Soojung –tak peduli dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

“Tolong jelaskan padaku –apa yang sebenarnya terjadi?”

Kedua orang yang sebelumnya berada di ruangan itu tersentak melihat kedatangan Myungsoo. Terlebih Soojung yang nampaknya lebih terkejut melihat kehadiran orang yang sedang dibicarakannya.

“Sedang apa kau disini, Kim Myungsoo?”

Yunho mencoba mengalihkan pembicaraan, pria itu terlihat lebih tenang menghadapi tatapan tajam Myungsoo.

Hyung. Katakan padaku jika yang kalian bicarakan adalah sebuah kesalahan.”

“Tidak ada yang salah –Myungsoo.” Ujar Soojung yang berusaha menghadapi kenyataannya –cepat atau lambat Myungsoo pasti akan dan harus mengetahuinya.

“Soojung.” Panggilnya lirih.

Air mata wanita itu kembali menggenang saat Myungsoo memanggil namanya.

“Sejak kapan kau menyimpan satu rahasia ini dariku. Soojung?”

Sooji sedang sedang bersiap untuk pulang ketika Kai masuk ke ruangannya tanpa izin.

Eo, Kai-ssi. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?” Tanya Sooji tanpa melihat Kai, gadis itu menarik blazernya dari gantungan hook yang ada di samping lemari besar di ruangan itu.

“Apa kau ingat aku pernah berkata jika aku pernah mendengar suaramu, Sooji-ssi.”

Sooji menautkan kedua alisnya. “Hm. Kau pernah menanyakannya, Kai-ssi.”

Kai menajamkan tatapannya. “Sepertinya kita pernah bertemu, Sooji-ssi. Aku yakin wanita yang aku temui saat itu memang kau.”

Sooji masih tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Kai. Gadis itu kembali duduk di tempatnya. “Apa maksudmu, Kai-ssi? Aku tidak ingat jika pernah bertemu denganmu.”

Pria itu duduk di hadapan Sooji dan sedikit memajukan kepalanya.

“Kau –pernah mendatangiku satu setengah tahun yang lalu di Jepang, Sooji­-ssi. Saat itu –kau menggunakan masker, kacamata hitam, dan menggulung rambut kedalam topi. Kau membicarakan tentang pernikahan Jung Soojung dan Kim Myungsoo padaku.”

Sooji mengingatnya. Sosok pria yang saat itu tak dikenalnya sama sekali. Dia –hanya menjalankan perintah Ibunya.

“Kau lihat laki-laki itu, Sooji-ya? Laki-laki yang sedang membaca buku di sana. Kau hampiri dia dan katakan apa yang sudah aku beritahu tadi, arrachi?”

“Tapi Eomma, siapa lelaki itu?”

“Namanya Kim Kai. Kau sudah hafal kalimat yang harus kau katakan padanya, Sooji-ya?”

“Hm. Aku sudah menghafalnya, Eomma.”

“Bagus. Sekarang kau gulung rambutmu dan kenakan topi ini.”

“Apakah semuanya akan selesai sampai di sini, Eomma?”

“Iya, Sooji-ya. Kau percaya padaku kan, Anakku?”

Sooji tercekat. Bagaimana bisa dia melupakan sosok Kim Kai yang dulu pernah ia datangi? Tangan gadis itu bergetar –lututnya lemas seketika.

Sementara Kai menyunggingkan sebuah senyuman tanpa arti. “Dulu aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan bekerja sama, Sooji-ssi. Tapi sekarang –aku rasa aku cukup paham setelah melihat tatapanmu pada Soojung –dan mendengar cara bicaramu bagaimana membahas seorang Kim Myungsoo.”

Sooji membalas tatapan Kai. Apa yang harus dilakukannya –tanpa Ibunya –tanpa Lee Hyorin yang selalu mem-back up-nya?

“Apa yang kau inginkan, Kai-ssi?”

“Aku tak menginginkan apapun darimu, Bae Sooji. Tak ada untungnya buatku?” Ujar Kai sambil terus memerhatikan gadis di depannya.

“Lantas untuk apa kau mengatakan ini semua?”

Kai sama sekali tak melepaskan tatapan tajamnya. “Aku hanya mengingatnya, Sooji-ssi. Untuk tawaran bekerja sama denganmu dulu –aku tidak tertarik. Aku tidak berniat untuk memisahkan Soojung dan Myungsoo. Tapi –aku..”

“Tapi aku tak akan menghentikan apa yang sudah atau akan kau lakukan. Jangan pernah menyeretku ke dalam masalahmu.” Papar Kai mengakhiri percakapannya dengan Sooji sebelum dia meninggalkan ruangan itu.

Jung Yunho melangkahkan kakinya lebar-lebar saat memasuki pekarangan rumah –diikuti Myungsoo dan Soojung di belakangnya.

Rumah keluarga Jung.

Sebuah rumah mewah yang hanya dihuni oleh kepala pelayan dan beberapa pengurus rumah lainnya. Rumah yang sudah hampir satu tahun ditinggalkan oleh Soojung. Wanita itu menyapukan pandangannya pada setiap penjuru rumah –yang furniturenya nampak sedikit berbeda dari terakhir kali Soojung menginjakkan kakinya di rumah itu.

Mereka bertiga tiba di sebuah ruangan yang dulunya menjadi ruang kerja Tuan Jung –Ayah dari Yunho dan Soojung. Yunho meminta Soojung dan Myungsoo untuk duduk di kursi empuk yang mengitari sebuah meja bundar. Sementara pria jangkung itu membuka sebuah lemari besar yang terdapat di sudut ruangan. Dikeluarkannya beberapa berkas dari dalam sana.

“Myungsoo-ya. Kau bisa membaca berkas-berkas ini terlebih dulu –sebelum kita membahas inti dari permasalahan kalian.”

Myungsoo meraih berkas yang diberikan Yunho. Pria itu kini sibuk berkutat –membaca setiap halaman dokumen-dokumen lama tersebut.

Yunho melirik Soojung yang diam-diam memperhatikan Myungsoo dengan khawatir. Kedua tangannya sibuk saling bertautan di atas pahanya. “Soojung. Sepertinya kau butuh minum teh.”

Soojung hanya mengulas senyum, dia tahu jika Yunho sedang khawatir padanya. Untuk itu dia segera beranjak dari ruangan itu untuk meminta teh pada pelayan di dapur. Soojung selalu menuruti perkataan Yunho.

Lampu-lampu kota di daerah Dongdaemun pada sore menjelang malam menyapa Soojung ketika wanita itu sedang berjalan di salah satu kawasan perbelanjaan kota Seoul. Sudah berapa lama Soojung tak melangkahkan kakinya ke tempat surga wanita itu –rasanya sudah sangat lama saat pekerjaan cukup banyak menyita waktunya.

Di sampingnya Kim Myungsoo masih berjalanan mengiri langkah Soojung. Tak biasanya Soojung berjalan lambat-lambat sehingga Myungsoo hampir kesusahan menyamakan langkahnya.

“Maaf.”

Myungsoo berlutut di depan Soojung –membuat wanita itu sedikit tersentak. Matanya membulat saat mendapati Myungsoo sedang membenarkan tali sepatunya.

“Tali sepatumu lepas, Soojung.” Gumam Myungsoo. Pria itu kembali berdiri –kedua tangannya kembali dimasukan ke dalam saku mantelnya.

“Gomawo.” Ucap Soojung dengan begitu pelan, tapi setidaknya Myungsoo masih bisa mendengar suara Soojung, pria itu mengangguk.

“Ingin makanan sesuatu?” Tanya Myungsoo saat mereka melewati beberapa penjual jajanan jalan.

Soojung menimang sesuatu dalam pikirannya. Sepertinya dia butuh untuk mengisi perutnya. Mungkin Tteopokki atau Odeng bisa membuatnya kenyang.

Soojung menerima tawaran Myungsoo untuk membeli beberapa makanan. Mereka berdua kini duduk di sebuah bangku yang terdapat di sekitaran pinggir jalan.

Myungsoo membuka bungkusan makanan dengan hati-hati karena masih panas. Diberikannya satu tusuk Odeng pada Soojung, wanita itu menerimanya dengan senang.

“Soojung-ah.”

“Hm?”

Myungsoo menatap lurus pada hiruk pikuk pejalan kaki di kawasan tersebut.

“Aku masih belum bisa mengerti –tentang permasalahan keluarga yang kita hadapi sekarang.” Ujar Myungsoo.

Soojung sendiri sedang tidak berminat untuk membahas apapun.

“Semua akan berakhir jika waktunya telah tiba, Myungsoo. Kita hanya harus menjalani semua ini dengan baik.”

Myungsoo melirik Soojung dengan penasaran. “Bahkan sampai kita harus bercerai? Ini sudah sangat keterlaluan, Soojung.”

Soojung membuang tusuk Odeng ke dalam plastik. Wanita itu menatap Myungsoo sekejap.

“Menurutku tidak ada yang berlebihan, Myungsoo. Aku sudah bilang padamu –jika kau tidak akan mengerti.”

Perasaan Myungsoo semakin menggebu. Betapa dia gemas pada Soojung yang terus membuatnya bingung.

“Jika tidak berlebihan –jelaskan padaku, apa alasan yang sebenarnya sampai kau meminta cerai dariku selain permasalahan perusahaan, Jung Soojung?”

Soojung tersenyum tipis.

“Aku akan memberitahumu nanti –setelah semua permasalahan mengenai perusahaan ini selesai. Aku janji, Myungsoo.”

 

To be continue……….

**

N/B; check check~

Sebelumnya aku mau ucapin selamat tahun baru 2016~!!!!! Semoga di tahun baru kali ini kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan terus semangat buat jalanin aktifitas di tahun 2016 ini🙂 Happy holiday semuanya, yeaayy~

Warning~!
tidak ada editan ulang, typo pasti pertebaran. Hhe..
satu lagu! Wajib diinget ya, kalo di ep sebelumnya itu ada flashback yang tujuh tahun kebelakang. Itu seharusnya flashback satu tahun setengah lalu. Aku baru sadar banget setelah baca ulang, mianhae~
semoga episode ini tidak terlalu mengecewakan karena plot cerita aku bikin jadi makin ribet *deep bowing*😀

Okey, see ya on the next episode of Marriage Proposal, pyeong~

21 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 03 – B/B)

  1. Selain karena cemburu, ibu tiri Myungsoo, ada hal lain lagi yang ngebuat MyungStal pisah?O_o Duh penasaran banget thor kelanjutannya 😊 Ditunggu updatenya thor, semangat 😁😊

  2. Kok aku ngerasa kayaknya masalahnya bakal jadi rumit ya. Rumiiiiit banget. Tapi seneng juga sih myunstal udah membaik hubungannya. Ditunggu next chapternya. Fighting chingu!!

    • hmm mungkin gak terlalu dibikin rumit karena bakal dibikin chapter yang gak terlalu panjang. keep support ya, semoga lanjutannya bisa cepet dipost🙂

  3. aku baru ngeh kalo lee hyorin itu ibu tirinya myung, aku kira ibu kandungnya.. haha ‘-‘
    lanjutnya jangan lama2 ya thor.. banyakin myungstal moment jugaa…🙂
    fighting!

    • yaps, lee hoyorin emang sengaja dibikin jadi ibu tirinya myung disini.. soalnya kalo ibu kandung kurang greget hehehe
      keep support ya, biar lanjutannya gak terlalu lama ^___^
      thanks loh udh sempetin baca🙂

  4. Daebak ceritanya bgus bgt thor, mkin pnasaran sma alasan lain myungstal pisah,…..
    Next nya jgan lma” ya thor ^_^

  5. Waaah kaaak bener kan kaataku ceritanya beneran bikin excited hoho. Ternyataaa ga nyangkaa deh soojung bisa tau tentang nenek lampir itu yg notabene nya ibu tiri myungsoo yg ngerencanain perceraian merekaaa trus, rada speechless dengan konflik nya kaaak bener2 naikin level penasaran aku ihh, sukaa deh liat myungsoo jalan bareng soojung, hihi nikmat Tuhan yg mana lagi kau dustakan *dustak. Well bener2 ribet bgt kaaak hihi asli curious sma chapter2 selanjutnyaaaa.Tetep semangat yaaaah kaaa :3

  6. Hai thor salam kenal ya aku pengunjung baru hehe minhwa imnida~ ^^ keren berarti suzy sama myung itu saudara tiri kan ya….. Aduh masih bingung jangan berat berat konfliknya kasian myungstal:”3 wkwkkw keren

  7. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06) | myungsOOjung·

  8. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s