[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 04)

MP_4rl

geaarifin ©2016 present

Marriage Proposal

staring; Krystal Jung – L Kim – Bae Suzy – Kim Kai
genre; romance-complicated-sad-AU-marriage life
lenght; chapter
rated; pg 17

“Its’s like the cruel in our marriage, can you save me?”

*) episode ini akan sedikit panjang, silahkan siapkan tempat yang nyaman dan sekotak popcorn ^____^ happy reading~!

action!

***

Perempuan itu mematut dirinya sekali lagi di depan cermin besar yang berada di kamarnya. Siang ini ia akan menemui seseorang yang telah membuat janji dengannya seminggu lalu. Bukan masalah pakaian yang harus digunakannya yang dia bingungkan sehingga harus berlama-lama di depan cermin. Ia hanya sedang menyelami manik mata yang nampak sayu di hadapannya –manik mata miliknya sendiri.

“Soojung-ah, supir keluarga Myungsoo sudah menunggumu di bawah.”

Sulli muncul di ambang pintu dengan semangkuk salad buah yang selalu dikonsumsinya di pagi hari saat hari liburnya tiba –lengkap dengan masker yang menutup hampir seluruh wajahnya. Soojung mengangguk pelan kemudian untuk beberapa detik dia melihat pantulan dirinya –untuk terakhir kali sebelum meninggalkan bangunan flatnya.

Sulli yang masih bersandar pada pinggiran pintu menatap heran sahabatnya. “Ku pikir kau akan berkencan lagi dengan Kim Myungsoo.” Ujar gadis itu sambil memasukan sepotong melon ke dalam mulutnya.

Soojung menghela nafas berat.

Sulli yang melihat sahabatnya itu nampak gusar lantas menghampirinya.

“Kau tetap tidak akan memberitahu Myungsoo?”

Soojung meraih sling bag hitam miliknya di atas tempat tidur dan mengenakannya. “Aku akan memberitahunya nanti, setelah semua masalah ini selesai.”

“Tapi dia sangat mencintamu, Soojung.”

“Aku tidak ingin membuatnya lebih sedih lagi, Sulli-ya. Bagaimana mungkin aku memberitahunya saat ini, jika aku –jika aku..”

Belum sempat Soojung melanjutkan ucapannya, Sulli yang tak tega melihat Soojung langsung memotong ucapan gadis itu.

Geundae hajima.. terserah kau saja, Soojung. Aku tetap bersamamu.”

Soojung menghampiri Sulli dan memeluknya dengan erat.

Gomawo –Choi Sulli.”

 

Marriage Proposal
Ep. 04

Drama

Busan selalu menjadi tempat menarik bagi Myungsoo untuk dikunjungi, apalagi jika harus pergi ke sana untuk mengerjakan sebuah proyek. Dengan senang hati pria itu langsung menyetujui untuk bekerjasama dengan salah satu perusahaan saham yang akan mendirikan kantor cabang di kota pelabuhan dan kota metropolitan Korea Selatan bagian tenggara tersebut.

Kim Myungsoo sedang berdiri di bawah tenda besar yang didirikan di tempat yang menjadi tempat pengerjaan proyeknya. Matahari sedang berada di atas kepalanya –begitu panas. Berulang kali pria itu menggunakan note yang dipegangnya sebagai kipas dadakan. Sudah hampir dua jam ia berdiri di sana sambil mengamati anak buahnya yang sedang mengaplikasikan desain pada kerangka bangunan yang belum sampai lima puluh persen pengerjaannya itu.

“Aku berhutang banyak padamu, Kim Myungsoo-ssi.”

Myungsoo menepuk pundak pria di sampingnya. “Kau ini! Tidak usah seformal itu padaku, Kang Minhyuk. Sudah berapa lama kita berteman, eoh?

Pria dengan mata sipit di samping Myungsoo mengulas senyum.

“Dulu kau rivalku, Kim Myungsoo.” Ujar Kang Minhyuk sambil mengusap lehernya –merasa canggung, namun tetap tersenyum.

Sekali lagi Myungsoo menepuk pundak pria yang dianggapnya sebagai temannya itu, kali ini lebih keras. Myungsoo tertawa renyah. “Itu kan dulu, saat kita masih menjadi seorang murid. Tapi –aku tak menganggapmu rivalku lagi setelah kuliah, karena kita berada di tim yang sama. Hahaha…”

Minhyuk ikut tertawa. Kedua pria itu mengingat lagi masa lalu mereka. Dulu ketika mereka masih sama-sama berada di Chungdam High School, hampir setiap semester Kim Myungsoo dan Kang Minhyuk secara bergantian saling memperebutkan posisi ketua tim basket. Meskipun berada di tim yang sama –baik itu Myungsoo dan Minhyuk tak pernah bisa akur, begitu pula di lapangan.

Tapi setelah mereka menjadi mahasiswa dan dipertemukan lagi dalam kegiatan yang sama –Kim Myungsoo menyerah pada Minhyuk. Dia tak ingin lagi memperebutkan posisi apapun dengan Minhyuk.

Kali ini –Kang Minhyuk lah yang menjadi klien dari L’s Bravo. Pria itu sudah pernah menggunakan jasa desain interior dari kantor milik Myungsoo dan terbukti kinerja dari perusahaan yang dibangun oleh Myungsoo itu sangat memuaskan. Sayangnya saat pertama kali menggunakan L’s Bravo untuk mendesain rumahnya di Seoul, Kang Minhyuk belum sempat bertemu dengan Myungsoo. Maka saat kedua orang itu bertemu, Kang Minhyuk masih merasa canggung dengan Myungsoo.

“Bagaimana dengan Soojung? Aku dengar kalian –bercerai.”

Sial, dari mana dia tahu? Batin Myungsoo saat Minhyuk mengajaknya untuk berjalan-jalan di sekitar lingkungan proyek.

“Kami masih baik-baik saja. Hanya –kau tahu jika perempuan sangat sulit dimengerti?”

Kang Minhyung mengangguk mengiyakan.

“Bagaimana denganmu? Kapan kau akan menikah?” Minhyuk lantas tertawa mendengar pertanyaan Myungsoo yang kini sudah berjalan di depannya.

“Kau pikir, aku sudah melupakan Soojung? I’m the man who can’t be moved, Kim Myungsoo.”

Myungsoo menghentikan langkahnya kemudian berbalik, menatap tajam Kang Minhyuk yang masih tertawa di belakangnya.

YA! Katakan sekali lagi dan aku akan merobohkan bangunanmu itu!” Hancur sudah mood Myungsoo, pikirannya kembali ke masa sekolah mereka –di mana seorang Kang Minhyuk pernah mati-matian mengejar Soojung dan bahkan sampai berkelahi dengan Myungsoo. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar, meninggalkan Minhyuk yang hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Kim Myungsoo! Aku hanya bercanda, tunggu aku!”

Kai melirik sebuah bingkai foto yang berukuran sedang di samping iMac – di ruangannya. Di dalam bingkai tersebut terdapat foto dirinya bersama dengan Soojung beberapa waktu lalu –saat ia tiba pertama kali di Seoul. Foto itu di ambil di sebuah kafe –selepas Kai menjemput Soojung di apartemen lama perempuan itu.

Tanpa sadar ia terseyum saat memerhatikan ekspresi Soojung yang nampak manis. Wanita itu tersenyum sambil melihat Kai –ketika pria itu memasang wajah konyolnya di depan kamera. Pria itu selalu menyukai senyum hangat Soojung sejak dulu. Baginya Soojung adalah perempuan yang harus ia jaga. Kai sudah mengenal Soojung sangat lama, ia merasa bertanggung jawab atas hidup Soojung.

.. meskipun ia tak bisa memiliki hati wanita itu.

 

Telpon kantor di sampingnya berdering, Kai mengangkat telpon –yang sudah pasti dari Yeri, sang sekretaris.  “Kijangnim –apa anda sedang sibuk?”

“Tidak, waeyo?

“Bae Sajangnim meminta Anda untuk datang ke ruangannya sekarang.”

Kai merapikan kemejanya. “Aku akan ke sana –lima menit lagi.”

*

*

Bae Sooji menyesap teh jahenya. Wanita itu mengacuhkan tatapan Kai yang tertuju padanya, pria itu masih duduk tenang di depan Sooji. Diletakkannya cangkir teh itu ke atas permukaan meja.

“Terimakasih karena masih mau menemuiku, Kai-ssi.”

Kening Kai berkerut samar, dia tak mengerti kenapa wanita di depannya ini membuka percakapan mereka dengan berterimakasih. Kai tak merasa pernah melakukan apapun –diluar konteks pekerjaan untuk wanita itu.

“Apa maksudmu, Sooji-ssi?”

Sooji mengulas senyum tipis.

“Setelah apa yang ku lakukan pada Jung Soojung dan Kim Myungsoo. Setelah aku pernah menghasutmu. Aku sangat berterimakasih –karena kau tak merisa jijik padaku.” Kedua mata perempuan itu memiliki kantung mata yang cukup terlihat oleh Kai, bahkan keduanya terlihat sembab. Habis menangis mungkin.

Kai berdecak dan memalingkan wajahnya.

“Aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku tak akan ikut campur atas semua yang telah kau lakukan. Selama yang kau lakukan itu tak membahayakan Soojung, aku tak akan turun tangan. Dan aku tak akan peduli pada apapun yang akan kau lakukan di lain hari.”

Sooji menatap permukaan cangkir teh miliknya. Di sana –di dalam hatinya terselip rasa bersalah dan hina. Wanita itu tersenyum pedih –batin perempuan itu sedang menertawakan dirinya sendiri. Entah dia harus melakukan apa untuk menghilangkan perasaan yang sedang menyelimutinya itu.

Bicara dengan Soojung dan Myungsoo secara langsung?

Pikiran itu segera dibuangnya jauh-jauh. Sooji tak ingin membuat Myungsoo membeci Ibunya –meskipun Lee Hyorin adalah ibu kedua Kim Myungsoo secara legal.

Menyedihkan –batin Kai. Kim Kai tak mengerti dengan arti dari senyuman Sooji, apa yang sedang gadis itu rasakan sekarang, Kai ingin mengetahuinya –hanya sebagai bentuk kepedulian antar rekan kantor. Mungkin tak masalah jika dia ingin bertanya.

“Bae Sooji-ssi. Sebenarnya siapa kau? Apa yang menjadi tujuanmu?”

Kedua pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kai dan Sooji pun melirik pria itu dengan –tatapan sedih. Saat itu juga Kai dapat melihat sorot mata Sooji yang tak pernah gadis itu tunjukkan di depan orang lain. Kai tahu itu –seolah kedua mata yang ditatapnya kini sedang menjerit, meminta bantuan untuk keluar dari segala hal yang diderita oleh si pemilik.

Malam itu. Lee Hyorin tengah duduk di balik meja makan dengan kedua tangan yang berada di atas meja, menumpu dagunya. Pandangannya yang tajam bagaikan elang itu menerawang jauh –wanita paruh baya itu memikirkan sesuatu dalam kepalanya.

Suara kursi yang ditarik mundur menyadarkan lamunanya. Bae Sooji –sang anak duduk di samping Ibunya.

Eomma.” Panggil gadis itu lirih. Sang Ibu meliriknya sebentar.

“Kau sudah mulai ragu, Sooji-ya?”

Kepala Sooji tertunduk. “Aku bisa mengendalikan diriku sendiri, Eomma.” Ujarnya. Kali ini Lee Hyorin menatap Sooji dengan pandangan serius.

Lee Hyorin menyerahkan berkas yang diterimanya tempo hari ke depan Sooji. Sang anak mengeluarkan berkas-berkas itu dari dalam amplop coklat besar dan membaca berbagai macam tulisan dalam berkas itu untuk dipelajarinya.

“Aku menerima itu dari salah satu keluarga Jung –Jung Yunho. Setengah saham dari seluruh kekayaan keluarga Kim sudah dilimpahkan atas nama calon penerus keluarga Kim dan Jung, dengan kata lain –semua saham mereka akan diberikan kepada anak dari Jung Soojung dan Kim Myungsoo. Dan si tua Jae Sook telah mempermainkanku.” Ucap Hyorin, kedua tangannya mengepal di atas permukaan meja.

Sooji merasakan sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. “Kenapa Tuan Kim mempermainkanmu, Eomma. Apa yang kau maksud dengan mempermainkanmu? Selama ini kau bilang ingin membalaskan dendammu padanya. Dendam seperti apa, Eomma? Kau tidak pernah memberitahuku. Aku hanya –aku hanya menjadi bonekamu.”

“Sebenarnya dulu –sebelum Kim Jae Sook menikahiku.. dia berjanji akan memberikan beberapa sahamnya untukku dengan menggunakan namamu, Sooji-ya. Dia akan membagi rata semua saham miliknya antara kau dan Kim Myungsoo. Tapi –setelah si jalang Soojung masuk ke dalam keluarga Kim dan menikah dengan Kim Myungsoo, secara diam-diam Jae Sook merubah surat perjanjian kami dan mengganti namamu dengan calon anak dari Kim Myungsoo dan Jung Soojung.”

Bae Sooji terdiam. Kepalanya berputar memikirkan masalah yang terjadi di dalam keluarganya. Meskipun Kim Jae Sook bukan lah Ayah biologisnya, tapi Sooji sangat menghormati pria itu dan sudah menganggapnya sebagai Ayahnya sendiri.

“Untuk itu –untuk itu aku sangat berusaha memisahkan Myungsoo dengan Soojung.”

“Kau telah menggunakanku untuk memisahkan mereka, Eomma.” Lirih Sooji yang akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan sang Ibu.

“Bukan kah kau menyukai Myungsoo, Sooji-ya? Jika kau bisa mendapatkan Myungsoo, maka perusahaan keluarga Kim akan jatuh juga ke tangan kita, bahkan dua kali lipat.”

Perempuan itu –untuk kesekian kalinya melirik sebuah undangan pernikahan berwarna salem berpitakan warna emas yang mempercantik desain undangan tersebut di atas nakas, di samping tempat tidurnya. Pandangannya menerawang cukup jauh –ke beberapa tahun silam, saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas.

.. saat ia mengenal cinta pertamanya.

Berulang kali dia mencoba memfokuskan diri untuk beristirahat malam ini. Namun matanya selalu terbuka kembali dan melirik undangan pernikahan yang baru diterimanya dari Korea tadi pagi.

Siapa sangka jika cinta pertamanya itu lah yang mengiriminya undangan pernikahan. Nama pria itu –yang telah menjadi cinta pertamanya lah yang tertera disana, sebagai pengantin pria.

“Harus kah aku datang?”

“Sooji-ya.”

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahunan itu membuka kamar sang putri dengan pelan. Lee Hyorin –perempuan itu, menatap punggung anaknya yang sedang berbaring, memunggunginya. Lantas ia masuk ke dalam kamar besar itu dan duduk di pinggiran tempat tidur anaknya. Diusapnya surai putri tunggal –kesayangannya.

“Eomma. Harus kah aku datang ke acara pernikahan Myungsoo Oppa?”

Hyorin menatap nanar anaknya, dia begitu tahu isi hati putrinya yang sedang patah hati.

Setiap hari Sooji begitu antusias membahas Kim Myungsoo. Betapa dia mencintai pria itu dengan tulus. Hyorin pun merasa menyesal telah menikah atau –sebut saja dia menyesal telah rela menjadi madu dari Nyonya Kim.

“Kau tidak perlu datang jika hatimu merasa sakit, Sooji-ya. Aku pastikan Myungsoo akan menyesal karena tidak pernah melihatmu, uri ttal.”

*

Bae Sooji ingin sekali menyesali semuanya.

Jika bukan karena sakit hatinya saat itu, mungkin Ibunya pun tak akan sejauh ini memperalatnya untuk memisahkan Myungsoo dan Soojung. Sooji berada di persimpangan saat ini –dimana dia merasa menyesal atas semua yang telah dilakukannya dan keinginan hatinya untuk memiliki Myungsoo..

.. tanpa bantuan Hyorin sang Ibu.

“Dengan berkas-berkas yang diberikan oleh mereka itu, sudah sangat membuktikan jika mereka akan mempersatukan lagi Myungsoo dan Soojung. Bagaimana pun –salah satu dari mereka harus ada yang disingkirkan.”

Jung Soojung meletakan tasnya di kursi. Kedua kakinya melangkah menuju dapur –membuka lemari es untuk mengambil botol mineral dari dalam sana dan meneguknya sampai hanya tersisa setengah botol. Diletakannya kembali botol itu di atas mini bar di dekatnya. Hari yang terasa sangat panjang baginya itu akhirnya sudah ia lewati.

Hari di mana dia menghabiskan waktunya untuk berkunjung ke rumah sakit bersama Kim Jae Sook –menemui istri pertama dari mantan mertuanya tersebut. Nyonya Kim sudah hampir dua tahun menjalani perawatan di rumah sakit karena alzheimer yang tengah dideritanya. Sudah lama –semenjak dia bercerai dengan Myungsoo, Soojung hampir belum pernah lagi menjenguk Nyonya Kim. Bahkan mantan mertuanya itu sudah lupa dengan nama mantan menantunya, dan beberapa kali pula menanyai nama Soojung.

Soojung bukan tak peka maksud dari Kim Jae Sook memintanya untuk menjenguk Nyonya Kim. Soojung hanya memilih untuk diam saat Kim Jae Sook memintanya untuk kembali pada Myungsoo –hidup bersama anak laki-laki semata wayangnya itu. Soojung pun bukannya tak ingin membantu keluarga Kim dan keluarganya sendiri atas perusahaan kedua keluarga yang dipertaruhkan. Soojung hanya tak yakin akan satu hal atas dirinya.

.. sanggup kah dia kembali pada Myungsoo?

*

Kembali pada siang hari, saat Soojung dan Kim Jae Sook berada di rumah sakit.

Saat itu Soojung sedang menemani Nyonya Kim berjalan-jalan ke taman yang berada di belakang bangunan rumah sakit tersebut. Di sana banyak sekali bunga yang tumbuh dengan sangat cantik. Nyonya Kim sangat meyukai bunga –apalagi bunga hias. Nyonya Kim bahkan mengingat nama-nama bunga yang tumbuh di sana, karena perawat rumah sakit selalu membawanya berjalan-jalan saat siang menjelang sore hari.

Soojung mendudukan Nyonya Kim di salah satu bangku dan memberinya minum saat wanita paruh baya itu kehausan. Saat itu pula Tuan Kim menghampiri mereka dan duduk di samping istrinya.

“Nuguseyo?”

Tuan Kim tersenyum hangat kemudian merangkul istrinya. “Ini aku, Ahra-ya. Kim Jae Sook, suamimu.”

Nyonya Kim –Kim Ahra, memandang suaminya sekejap kemudian beralih pada Soojung. “Nuguseyo?” Tanyanya lagi.

“Dia Soojung, Ahra-ya. Menantu kita –Istri Myungsoo.”

Soojung tersenyum sedih saat Kim Jae Sook masih mengakuinya sebagai seorang menantu.

Sementara itu Kim Ahra memegang tangan Soojung dengan erat dan tersenyum padanya.

Uri Myungsoo –eoddini?

Soojung melirik Tuan Kim untuk meminta jawaban, karena dia sendiri tak tahu Myungsoo berada di mana. Soojung tak merencanakan untuk bertemu dengan mantan suaminya itu hari ini.

“Dia sedang bekerja, Eommonim.”

.. yah, semoga Myungsoo memang sedang bekerja hari ini. Batin Soojung.

Setelah hampir satu jam membawa Nyonya Kim keluar dari kamarnya, akhirnya mantan mertuanya itu bisa terlelap juga setelah banyak bercerita pada Soojung. Soojung sangat senang mendegar Kim Ahra bercerita banyak hal –tentunya hal-hal yang dialaminya dari pagi hari sampai terakhir kali dia melakukan aktifitasnya. Karena setelah bangun dari tidurnya nanti Ahra pasti akan melupakan setiap kejadian yang sudah dialaminya hari itu juga.

“Soojung.”

Ne, Abeonim?

Soojung segera menghampiri Kim Jae Sook. Mereka berdua kini berjalan melewati lorong rumah sakit yang terhubung sampai lobby rumah sakit tersebut. Waktu jenguk pasien sudah habis. Kim Jae Sook mengajak Soojung untuk pulang.

“Istriku –dia sudah melupakan semua kenangan indah selama hidupnya, bahkan dia selalu lupa namaku. Namun dia tak pernah melupakan Myungsoo, uri adeul.” Ucap Kim Jae Sook sambil memerhatikan langkahnya.

“Aku tak tahu jika dia tahu apa yang terjadi padamu dan Myungsoo, Soojung-ah.”

Jung Soojung tertunduk. Ia tak tahu harus berkata apa pada Kim Jae Sook.

“Kembali lah pada Myungsoo, Soojug-ah.”

Abeonim, aku –aku tidak bisa.”

Kim Jae Sook menatap lirih wanita muda di depannya itu kemudian mendesah pelan.

“Apa kau berpikir aku memintamu kembali pada Myungsoo karena perusahaan keluargamu dan keluargaku?”

Jung Soojung dengan cepat menggelengkan kepalanya.

Anniyo, Abeonim. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, sungguh.”

Kim Jae Sook mengangguk, dia paham sifat Soojung. Tidak mungkin perempuan yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu  berpikiran seperti yang barusan ia tanyakan.

“Jika itu sudah jadi keputusanmu, aku jelas tidak bisa memaksamu. Tapi aku harap kau masih memiliki perasaan untuk putraku.” Kim Jae Sook mengulas sebuah senyum hangat.

Kang Minhyuk bersumpah di depan Myungsoo jika kemarin itu dia hanya bercanda, tapi Myungsoo menganggapnya terlalu serius. Bahkan sampai ke perjalanan pulang mereka menuju Seoul –Myungsoo masih mendiamkan Minhyuk dan hanya berbicara seperlunya.

Ohh, ayolah Kim Myungsoo. Sejak kapan kau jadi terlalu sensitif seperti ini?” Minhyuk sudah hampir menyerah untuk meminta maaf pada Myungsoo karena pria itu masih saja membeku.

Ugh, dasar Ice Prince.

Mendengar julukan sewaktu dirinya masih sekolah, Kim Myungsoo akhirnya melirik Minhyuk dan memukul kepala belakang pria itu.

“Awas saja kau jika bercanda seperti itu lagi! Soojung tetap punyaku, arrachi?

Arraseo, arraseo! Ck!” Gerutu Minhyuk.

Hmm, Minhyuk-ah. Kau bisa membantuku?”

Minhyuk yang duduk di belakang Myungsoo sedikit memajukan kepalanya.

“Bantuan seperti apa? Kau sanggup membayarku, eoh?” Ujar Minhyuk diselingi dengan sedikin godaan untuk Myungsoo.

Kim Myungsoo berdecak sebal. “Aku butuh bantuanmu untuk mendapatkan Soojung lagi.”

Mwoya? Dulu saja kau merebutnya dariku –sekarang kau meminta bantuanku untuk mendapatkannya lagi? Eyy, di mana si keren Kim Myungsoo yang dulu, eoh?”

“Aku tidak merebutnya, pabo! Sudah jelas Jung Soojung tidak menyukaimu dan lebih memilihku.”

Kali ini gantian Minhyuk yang berdecak. “Percaya diri sekali.” Ujarnya.

“Jadi apa yang bisa aku bantu, hm?”

“Jadi Tuan Kim memintamu kembali pada Myungsoo?” Kai bertanya dengan tenang setelah meneguk minuman kaleng yang dibawakan oleh  Soojug. Hari ini sahabatnya itu datang ke kantor majalah Y untuk menyerahkan hasil revisi yang diminta ketua tim editing majalah tersebut, siapa lagi jika buka Bae Sooji. Tapi Soojung nampaknya enggan bertemu dengan perempuan itu sehingga dia hanya mampir ke ruangan Kai. Sedikitnya Soojung bercerita tentang permintaan Tuan Kim padanya kemarin lusa.

Soojung hanya mengangguk mengiyakan.

“Bagaimana jawabanmu?”

Soojung menghela nafas. “Aku bilang padanya jika aku tidak bisa kembali pada Myungsoo.”

Kai meneguk habis minumannya dan melemparkan kaleng kosong itu ke arah tong sampah yang berada di dekat pintu.

SLAP!

Yosh!” Kaleng itu dengan sempurna masuk ke dalam tempat sampah, Kai tersenyum bangga –kemampuan triple pointnya masih sangat halus.

“Apa kau yakin, Soojung-ah?”

Kening Soojung berkerut. “Yakin, untuk apa?”

Kai menatap sahabatnya itu dengan serius. “Yakin jika kau tidak akan kembali pada Kim Myungsoo? Firasatku mengatakan jika –kau masih ragu dengan keputusanmu.”

Soojung mengalihkan pandangannya dari tatapan Kai.

“Aku rasa –iya.”

Kim Kai tak munafik jika hatinya berkata lain dari yang diucapkannya barusan. Sudah jelas jika dia tak ingin Soojung kembali pada Myungsoo, bahkan Kai tidak akan pernah merelakannya. Di depannya Soojung sedang menghindar dari tatapannya –membuanya lebih leluasa untuk memandangi Soojung –meskipun dari pinggir seperti ini.

Kai bukan pria yang hanya bisa menerima atas apa yang sudah diberikan padanya. Bahkan jika takdir membuatnya hanya berada dalam lingkaran pertemanan dengan Soojung, Kai akan memikirkan berbagai macam cara untuk mendapatkan hati sahabatnya itu.

“Soojung-ah.

Sebelum pria itu melanjutkan ucapannya, Soojung segera beranjak dari sofa. “Kai-ya aku harus kembali ke kantorku. Sampai berjumpa lagi, aku akan menelponmu nanti. Okey?!

Dengan tergesa Soojung meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik pintu.

Kai mendesah pelan saat Soojung sudak tak terlihat olehnya.

.. kau tidak pernah tahu perasaanku, Jung Soojung.

*

“Aku melihat Jung Soojung baru keluar dari ruangmu, Kai-ssi. Apa dia sudah memberikan revisi yang kita minta?”

Kai menatap tajam Sooji yang tiba-tiba saja masuk ke ruangannya tanpa megetuk pintu. Kai sangat tidak suka dengan orang yang tidak tahu adab ‘bertamu’. Yang ditatap tajam oleh Kai hanya memasang wajah kikuk dan membungkuk rendah.

“Jwaesonghaeyo.”

Kai mengangkat map file yang diberikan Soojung.  Bae Sooji segera menghampirinya dan meminta tumpukan file tersebut. Wanita itu kini duduk di hadapan Kai sambil melihat-lihat hasil kerja dari tim yang dipimpin oleh Soojung di kantor Millicent. Sesekali kepalanya mengangguk dan menggeleng –menilai semua gambar yang sedang dilihatnya.

“Sooji-ssi.”

Sooji hanya bergumam menjawab panggilan Kai.

Pria itu sempat berdeham pelan.

“Apa kau masih dekat dengan Kim Myungsoo?”

Sooji mendongak saat Kai membahas tentang Myungsoo. “Sudah beberapa hari dia tidak meghubungiku, waeyo?

Anniyeo, hanya sekedar bertanya.”

Sooji menaikan bahu dan kembali menyibukan diriya.

“Apa kau masih menginginkan posisi Soojung –di hati Kim Myungsoo, Sooji-ssi?”

Sooji hampir menjatuhkan tumpukann file di tangannya. “Kenapa kau bertanya seperti itu, Kai-ssi?”

Bae Sooji menatap ragu Kai, meskipun dia telah menceritakan semua yang terjadi padanya –tentang dia yang menyukai Myungsoo, bahkan sampai dia yang menjadi boneka Ibunya –Sooji tak menyangka jika Kai akan mengungkitnya. Karena pada awalnya pria itu sendiri yang mengatakan jika dia tak akan peduli. Lantas kenapa sekarang Kai ingin tahu lebih jauh?

“Jung-ahhh!

Soojung mengangkat kepalanya saat Daniel begitu histeris memanggilnya dari luar ruangan mereka. Pria itu masuk ke dalam dengan membawa satu cup Americano –kesukaan Soojung dengan kertas origami berbentuk hati merah di badan cup kopi.

“Apa yang membuatmu berteriak memanggil namaku, Daniel?”

Pria itu menyerahkan kopi yang masih hangat itu pada Soojung.

“Kau lihat saja apa yang ditulis si pengirim kopi ini. Ugh, seperti anak sekolahan saja. Menggelikan.” Tawa Daniel meledak begitu saja. Soojung segera membuka lipatan origami berbentuk hati tersebut.

Jung Soojung, annyeong~

Maaf tidak menemuimu dua hari ini, aku sedang dalam perjalanan bisnis.

Tapi aku sudah sampai di Seoul pagi ini.

Malam ini jam tujuh, aku jemput ne?

Aku selalu menunggumu, Soojung.

– Ice Prince ^____^

 

Sebelah alisnya terangkat, dia sangat tahu siapa pria pengirim Americano itu. Nama pengirim yang dibubuhkan di balik origami tersebut sangat ia hafal. Tanpa sadar Soojung tersenyum membaca tulisan tangan seseorang yang –tidak mungkin dia lupakan.

“Kau tahu siapa pengirim Americano itu, si Ice Prince, eoh? Ugh¸ aku rasa dia penggemarmu. Seorang anak sekolah, Jung-ah! Eommona!

“Tidak. Bukan anak sekolahan, Daniel-ah. Aku mengenal siapa si Ice Prince ini.”

Daniel melebarkan matanya. “Jinjayo? Nugu?

“Rahasia.” Ujarnya.

Soojung hanya mengerlingkan sebelah matanya pada Daniel dan tersenyum sebelum meninggalkan pria itu dengan rasa penasaran.

Ya jebbal, Jung-ah. Beritahu aku!”

*

Ahn Daniel masih tetap ‘kekeh untuk mengetahui siapa si Ice Prince sang pengirim Americano untuk temannya Jung Soojung. Baru kali ini Soojung mendapat kopi dari seorang penggemar yang menggunakan nama ‘aneh’ seperti itu. Alhasil Daniel masih menemani Soojung sampai melewati jam kerja habis. Jam meunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit, tapi Daniel masih tak sabar untuk melihat siapa yang menjemput Soojung jam tujuh nanti.

Soojung yang masih asik dengan pensil gambarnya nampak serius, bahkan sepertinya wanita itu tak sempat melihat jam –karena jam tujuh sudah hampir dekat.

Suara sepatu Daniel yang terus berdecit akibat mondar-mandir di depan meja kerjanya pada akhirnya mengganggu konsentrasi Soojung.

“Daniel-ah, bisa kah kau hanya duduk diam sepertiku, eoh? Sepatu mu itu menggaggu sekali.” Gerutu Soojung yang pada akhirnya melembar kertas gambarnnya yang sudah diremas –karena gagal –ke tong sampah.

Mianhae.” Ujar Daniel acuh.

Eo, sudah jam tujuh!” Seru Soojung. Wanita itu segera meraih blazernya dan mengenakan sling bag hitamnya kemudian dengan terburu meninggalkan ruangan kerjanya. Sementara itu Daniel mengikuti dari belakang.

Ahn Daniel ingin sekali mengutuk Jung Soojung karena telah membuatnya penasaran –sangat penasaran. Jika saja dia tak terlalu peduli pada si pengirim Americano misterius itu, mungkin dia sudah menghabiskan waktunya untuk menonton film sambil menikmati popcorn di apartemennya saat ini. Tapi nyatanya dia teramat peduli pada temannya –Jung Soojung.

Daniel begitu peduli pada Soojung, dia sudah menganggap Soojung sebagai Adik perempuannya. Setiap hari perempuan itu selalu berbagi cerita mengenai kehidupannya, bahkan saat Soojung sedang bertengkar dengan Myungsoo ketika mereka masih berumah tangga –Daniel selalu memberi dukungan pada Soojung.

Lantas, tidak salah juga kan jika dia terlampau peduli pada pria mana saja yang menjadi penggemar Soojung?

“Jadi dia si Ice Prince?”

Soojung ingin tertawa melihat ekspresi wajah Daniel ketika melihat Myungsoo yang bersandar di badan mobil, nampaknya Myungsoo masih belum menyadari kehadiran Soojung yang semakin dekat dengannya. Mereka –Soojung dan Daniel masih berdiri di balik pintu kantor.  Daniel sepertinya sudah terlampau alergi melihat Myungsoo yang semakin hari –caranya untuk mendekati Soojung lagi sudah terlampau berlebihan. Daniel hanya berpikir jika usia mereka bukan lagi usia untuk ber-romantis-ria dengan cara anak sekolah. Ohh, padahal Kim Myungsoo memiliki wajah yang sama dinginnya dengan Soojung. Batin Daniel.

“Kalau begitu –aku pulang duluan, ne.” Pamit Daniel pada Soojung.

Gomawo sudah menemaniku, Daniel-ah.”

Pria itu memutar bola matanya. “Terserah. Yang jelas aku menyesal –annyeong, Jung-ah.” Daniel berjalan ke arah pintu yang terhubung dengan area parkir, tak lupa pria itu melambaikan tangannya pada Soojung. Soojung balas melambai, dia akan menunggu sampai Daniel sudah tak terlihat –kemudian dia akan berjalan keluar kantor untuk menghampiri Myungsoo.

*

“Sudah lama menunggu?”

Kim Myungsoo mendongakkan kepalanya –pria itu sedang sibuk dengan gadgetnya sebelum Soojung datang. Pria itu tersenyum manis –namun Soojung hanya mengangguk dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Myungsoo berdeham pelan kemudian membukakan pintu mobil untuk Soojung.

Mobil itu sudah melaju dengan kecepatan sedang di jalanan. Baik Myungsoo atau pun Soojung masih berbagi keheningan.

“Americano tadi sore –gomawo.

Myungsoo melirik Soojung, alisnya terangkat. “Americano?”

Soojung mengangguk. “Kau mengirimiku Americano tadi sore –dengan hmm, sebuah surat.”

Myungsoo tidak ingat jika dia mengirim segelas Americano untuk Soojung. Dia hanya ingat jika Minhyuk memintanya menuliskan surat untuk Soojung. Dan –seolma ..

Ahh ne, aku mengirimkan Americano tadi sore. Hmm, pekerjaanmu pasti banyak –dan aku ingat kau menyukai kopi. Kopi bisa menyegarkan tubuh bukan? Hha..”

“Tapi –dulu kau yang paling sering melarangku untuk minum kopi.” Ujar Soojung. Wanita itu kini mengalihkan pandangannya ke luar jendela –sebenarnya dia menahan tawa ketika mendapati wajah Myungsoo yang memucat.

Jung Soojung hampir tak percaya saat Myungsoo memarkirkan mobilnya di tempat ini. Sebuah tempat yang dikenal sebagai Seoul’s Lively Theater Distric –Daehangno. Soojung tak cukup sekali memuji keindahan Collage Street pada malam hari. Lampu berwarna-warni menghiasi setiap jalan. Di Collage Street ini lah tempat pertama kali Myungsoo membawa Soojung pergi berkencan. Terdapat banyak tempat yang bisa dikunjungi. Soojung sangat suka menonton pertunjukan sepanjang tahun di tempat ini.

“Sudah sangat lama sejak terakhir kita ke tempat ini.” Ujar Myungsoo diiringi anggukan Soojung yang sangat berantusias.

Kebanyakan orang menyebut tempat ini sebagai Collage Street karena terdapat banyak Universitas di sekitar tempat –seperti Seoul National University Collage of Medicine, Sungkyunkwan University, dan Korea National Open University. Kebanyakan mahasiswa yang menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk bersantai atau menghabiskan waktu luang.

Kim Myungsoo melirik jam tangannya –sudah waktunya makan malam. “Bagaimana jika restauran China?”

Tangan pria itu terulur dan Soojung menyambutnya dengan langsung menggenggam tangan Myungsoo. Namun seolah menyadari sesuatu –Soojung melepaskan pegangan tangannya. Membuat situasi di antara mereka kembali canggung.

Mianhae.”

Soojung pun berjalan mendahului Myungsoo. Pria itu sempat tersenyum dan meninjukan kepalan tangannya ke udara –kemudian bersikap seperti semula.

*

Myungsoo berjalan di samping Soojung. Mereka berdua menikmati malam di Collage Street, tempat favorit mereka. Hanya tinggal satu tempat lagi yang belum mereka kunjungi –sebuah bioskop kecil seperti Hakjeon. Dulu sehabis pulang kuliah, mereka akan selalu menyempatkan untuk menonton film apapun di bioskop kecil tersebut –karena rasanya tidak lengkap jika berkunjung ke Collage Street tanpa menonton di sana.

Sebuah film romantis –yang ditayangkan malam itu adalah satu-satunya film yang bisa mereka tonton. Setiap adegan bernuansa cheese’ membuat Myungsoo dan Soojung merasa risih. Entah itu Myungsoo atau Soojung –selalu berdeham secara bergantian untuk mengalihkan fokus mereka.

Ugh.

“Aku rasa filmnya akan berlangsung lama.”

Soojung mengangguk mengiyakan perkataan Myungsoo.

“Kau masih ingin disini? Sepertinya aku ingin keluar.” Ujar Soojung –kemudian wanita itu berdiri dan berjalan dengan tergesa menuju pintu keluar –tak perlu menunggu apapun lagi Myungsoo langsung mengikuti Soojung.

Ugh, Harusnya kita cek dulu film apa yang akan diputar.” Gerutu Myungsoo. Pria itu merasa rugi karena tak sampai setengahnya dia menonton film tersebut.

Soojung menanggapinya dengnan tertawa pelan. “Kau tidak ingat? Biasanya kita menonton di sana saat siang atau sore hari. Baru kali ini kita menonton pada malam hari, Myungsoo. Aku rasa jika malam hari –hanya film romantis yang ditayangkan.”

Myungsoo menepuk keningnya.

Ugh, nan molla.” Sesal Myungsoo. Pria itu lantas menyalakan radio untuk mendengarkan beberapa lagu –sebagai pemulih moodnya.

Sebuah lagu milik boyband yang baru-baru ini melakukan comeback mengalun dengan sangat indah dari radio. Sesuatu yang Myungsoo yang kebetulan sangat hafal lirik lagunya ikut bersenandung pelan.

 

“Will you stay by my side..

Will you promise me..

If I let go of your hand, you’ll fly away and break..

I’m scared, scared, scared, of that..

Will you stop time..

If this moment passes..

As though it hadn’t happened..

I’m scared, scared, scared, I’ll lose you..”

 

.. dan pada saat itu juga sesuatu melesak keluar dari dalam benaknya, membuatnya tercekat di panggkal tenggorokan –Jung Soojung meneteskan air matanya.

 

Kim Myungsoo bukan tak melihat dan tak peduli, hanya saja –dia mencoba untuk tak merangkul Soojung, meskipun ia tahu apa yang menyebabkan perempuan di sampingnya itu terlihat sedih.

Sinar matahari begitu hangat menerpa wajahnya pagi itu. Dia menggeliat pelan sebelum membuka kedua matanya –dan menyingkirkan tangan besar yang melingkar di pinggangnya. Kepalanya terasa sangat pening akibat mabuk semalam.

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga.

 

Empat.

 

Butuh beberapa detik sampai Jung Soojung membuka matanya dengan sangat lebar. Wanita itu tak berani untuk membalik tubuhnya. Karena ia tahu siapa pemilik tangan yang melingkari pinggangnya tersebut. Deru nafasnya tak beraturan –ia panik. Bagaimana dia bisa sampai di sini –di apartemen lama miliknya –bersama Myungsoo?

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Ugh.” Seseorang yang tertidur di sampingnya menggeliat –dan Soojung semakin panik karenanya.

“Jung Soojung –ugh.” Pria itu kembali bergumam tak jelas –karena kedua matanya masih terpejam. Mungkin kah Kim Myungsoo sedang bermimpi?

Aku harus segera pergi, batin Soojung setelah memastikan jika Myungsoo memanng belum bangun. Ia hendak beranjak dari tempat tidur yang sangat nyaman itu –namun tangannya terlalu mudah untuk diraih oleh Myungsoo. Soojung terduduk di samping tempat tidur.

“Kau bangun lebih awal –seperti biasa. Sudah merasa baikan?” Ujar Myungsoo sambil mengucek matanya. Sementara Soojung masih enggan untuk melihat pria itu.

Jung Soojung memerhatikan pakaiannya yang terasa aneh. Wanita itu memalingkan wajahnya saat mendapati kaos putih panjang milik Myungsoo yang melekat di tubuhnya.

Kembali ke malam saat Soojung bersama dengan Myungsoo.

*

Butuh beberapa waktu untuk Myungsoo mengendalikan dirinya. Ia tersenyum masam –bodoh, pekiknya dalam halam hati.

“Myungsoo.”

Pria itu bergumam tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Turunkan aku di kedai itu.” Seru Soojung sambil menunjuk sebuah kedai yang sudah hampir dekat dengan apartemennya. Myungsoo menghentikan mobilnya tak begitu jauh dari kedai yang ditunjuk Soojung.

Myungsoo tak yakin tapi dia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Soojung, meskipun ia harus menemani mantan istrinya untuk minum.

Ahjumma, aku pesan satu botol Soju dan Tteopokki  pedas!”

Setelah memesan, Soojung mendudukan diri di salah satu kursi yang kosong.

“Aku hanya memintamu untuk menurunkanku, Myungsoo. Bukan menemaniku.” Ucap Soojung saat Myungsoo mengikutinya turun dari mobil dan kini pria itu malah duduk di hadapannya.

“Tidak masalah. Aku –ingin belajar untuk minum Soju.” Ujar Myungsoo dan Soojung hanya mencibir ucapan pria di depannya itu.

“Aku tidak yakin jika kau bisa menghabiskan satu botol saja.”

“Semakin aku ditantang –aku akan semakin berusaha, Jung Soojung.” Myungsoo mengerlingkan sebelah mata dan Soojung hanya tertawa singkat.

Kini siapa yang lebih mabuk?

Soojung merasakan kepalanya semakin berat. Namun wanita itu masih terus menenggak Soju di dalam gelasnya yang masih belum habis. Sementara itu –Myungsoo tak tahu jika dia sanggup meneguk segelas Soju tanpa mabuk seperti sebelumnya, setelah itu ia tak berniat untuk meminumnya lagi karena terasa membakar tenggorokannya.

Ugh, kepalaku –sakit sekali.” Gumam Soojung, wanita itu menumpukan kepalanya di atas tangan yang terlipat di permukaan meja. Beberapa kali ia merasakan mual dan ingin muntah.

Myungsoo tak tega melihat Soojung yang sudah mabuk berat. Setelah membayar semua minuman dan makanan yang mereka pesan, Myungsoo segera membawa Soojung ke dalam mobil.

“Choi Sulli!”

Duk!

Duk!

Berulang kali Soojung memencet bel, bahkan sampai mengetuk pintu apartemen mereka begitu keras. Myungsoo masih setia menopang tubuh Soojung meskipun sudah mulai pegal. Satu jam mereka menunggu Sulli, akhirnya Myungsoo menyerah. Tidak mungkin dia membiarkan Soojung menunggu temannya itu sendirian di luar apartemen.

Pada akhirnya dia membawa Soojung pulang bersamanya.

Kim Myungsoo hendak membaringkan tubuh Soojung di atas tempat tidurnya –yang dulu pun Soojung pernah tidur di atasnnya. Myungsoo tesenyum masam –kenangannya bersama Soojung kembali berputar dalam ingatannya.

Myungsoo segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Karena tidak mungkin ia berganti pakaian di depan orang lain –sekali pun itu adalah Jung Soojung, mantan istrinya.

Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih tipis dan celana panjang. Dia melirik Soojung yang sedang terbaring lengkap dengan pakaian yang rapih. Myungsoo membuka lemari bajunya, mencari sesuatu yang pantas untuk dikenakan Soojung saat tidur.

Myungsoo berdiri di samping tempat tidur, memerhatikan Soojung yang terlelap begitu tenang dan –terlihat sangat cantik.

Kepalanya menggeleng. “Jangan memikirkan yang macam-macam, Kim Myungsoo.” Pria itu memukul kepalanya sendiri.

“Kim –Myungsoo.”

Myungsoo mengerjap –wanita yang tengah tertidur dengan nyenyak itu menggumamkan namanya, lantas Myungsoo menghampiri Soojung dan berbaring di sebelahnya.

“Kau masih memiliki perasaan padaku, Jung Soojung?” Myungsoo bertanya dengan sangat pelan karena tak ingin membangunkan Soojung. Pria itu mengusap kepala Soojung, sesuatu yang sangat disukainya saat mereka masih hidup bersama. Setiap malam, Myungsoo pasti akan mengusap kepala Soojung sampai wanita itu tertidur.

Kim Myungsoo menahan nafas seketika saat kedua mata Soojung terbuka. Pria itu terkejut saat Soojung memandangnya dengan tatapan sayu –entah apa yang diartikan olehnya. Myungsoo pun sadar jika kepalanya sudah semakin dekat dengan Soojung, dan wanita itu pun tak melakukan apapun –seolah mengerti apa yang sedang dilakukan Myungsoo, keduanya memejamkan mata,

..sampai hidung mereka bersentuhan satu sama lain.

 

 

To be continue……….

 

n/b; halohaaaa ‘,’)/

Akhirnya bisa post lanjutan ff ini juga, fyuuuh~
eps ini pasti gak bikin greget kan? soalnya sempet ilang kontrol buat ngatur plotnya huks T____T
daaann maafkan karena pasti banyak typo bertebaran akibat gak diedit dulu hehe *deep bowing*

buat lanjutannya, mungkin aku pos minggu depan.. 

semua kebingungan dalam cerita(?), bisa disalurkan di kotak komentar ya gaeeess.
satu lagi, segala kritik dan saran yang membangun sangat aku butuhkan ^_____^

okeydeh, see ya on the next episode of Marriage Proposal, ppyeong~

38 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 04)

  1. Ah,, ah.. itu mereka akhirnya ngapain di scane terakhir? *okey abaikan

    maaf baru sempet komentar lagi sejak.. hum.. chapter awal mungkin (?)
    semakin jelas sepertinya masalahnya, meski belum bisa menduga pasti alasan di balik “minta cerainya Soojung” masih samar… dan Kai, dia gak berniat kerjasama dengan Sooji kan? jangan sampai deeh.. >.<

    dan suka banget sama Minhyuk… walau mantan musuh tapi bisa baik banget dengan bantuin Myungsoo.. ^^

    ditunggu lanjutannya.. ^^

    • silahkan pikirkan apa yang mereka lakuin wkwk
      dan .. minhyuk sengaja dibikin angel banget disini, padahal tadinya mau dibikin biar dia rebut lagi soojung huahaha tapi kasian myung ntar banyak banget saingannya :’)
      makasih loh udh sempetin baca, tunggu lanjutannya ya🙂

  2. Akhirnya dipost juga ini ff, beberapa kali ngunjungin ini wp belum ada lanjutan MP, dan batu ini ngecek lagi dan *Dor* dipost juga 😆
    *Uhuk* Pas scane akhir itu apaan yak? *byun mode on 😂
    Gak bisa banyak komentar lagi deh thor, pokoknya alur ceritanya ngalir aja pas dibaca 😂 Ditunggu chap. selanjutnya thor, tetap semangat 😆

  3. Jadi sooji saudara tirinya myung, tapi suka sama myung, gitu?
    Greget sama ceritanya.. Beneran! Makasih udah bikin myungstal moment-nya thor, kurang banyak sebenernya haha.. Suka banget sama myungstal!😀
    Next chapter jangan lama2 please😦
    Fighting author-nim!

    • iya, disini sooji jadi saudara tirinya myung. tapi dia suka sama myung dari jaman sekolah kok, udh dijelasin di chapter sebelumnya😉
      next bakal banyak moment myungstal kok hihi *nahan buat spoiler*

  4. tiap hari cek blog ini, berharap next chapter udah di update, dan belum. gapapa deh, aku penunggu setia MP. dari awal baca udah suka banget!!!!! ceritanya menarik, dan yg paling aku suka adalah bahasa yg digunakan. ringan tapi pas gitu pas dibaca. pokoknya sukasukasuka. ditunggu ya chapter 5 nyaaaaa. ah ya, maaf baru bisa komen, soalnya baru buat wordpress hehe, dan selama ini aku jd silent reader di blog ini, maafin huhu. salam kenal thor, aku salah satu penggemarmu huhu, enaknya panggil apa ya? aku line98 hehe. ditunggu selanjutnya yaaaaaa😉

    • halooo~
      aku enaknya panggil apa yaa? hmmm… aku Gea, 95line ^___^ salam kenal ya hihi. btw, gak ush panggil thor, karena aku gak bawa palu yang beratnya ribuan kilo itu *apaandeh* panggil aku Kak aja, gapapa kok *lhaa*😄
      waah makasih loh udh suka sama ff absurd ini sampe ditungguin pula :’) *terharujumpalitan* buat kelanjutannya bakal diposting dalam waktu dekat, masih tahap proses karena tugas kuliah yang menumpuk, sedikit curhat gapapa lah ya :’) hukse….
      makasih juga loh udh sempetin baca sama komennya, nice to know U😉

  5. aku panggil unni ajadeh biar kerasa koreanya haha *apasih* salam kenal juga unni🙂
    absurd apanya? bagus giniiiiiiiiiiiii, bikin kebawa perasaan huhu oke unni, aku tunggu ep selanjutnyaaaaaaa. semangat buat kuliahnya yaaaaaaaaa, nado unni😀

  6. Hahaa sukaa deh bacaa chapter ini kaaa hihi xD pertama ada minhyuk disini well aku juga ngeship minhyuk krystal sih hihi lucu deh baca scene mereka di busan haha trnyata minhyuk juga prnh jadi rival myungsoo, duh opppa :’D tapi sedih sih kok soojung bilang udah gamau kmbali lagi sm myungsoo hufft apalagi dia bilang itu ke kai yg notabene ‘sahabat’ soojung nya punya perasaan sma dia hm whatthe.. T.T jdi baper nih, takut trjadi konspirasi kaisuzy wakakak hellep dah kaaa.

    Pokoknya suukaa bacaa scene mereka kencan hihi apalagi pas nntn bioskop itulo hahaa lovee beut kkk~ itu scene terakhir merekaaa ngapain? Bikin kepo ajaa :’D haha tolong lanjutkaan kakaaa loveeeeit :333

  7. Hahaa sukaa deh bacaa chapter ini kaaa hihi xD pertama ada minhyuk disini well aku juga ngeship minhyuk krystal sih hihi lucu deh baca scene mereka di busan haha trnyata minhyuk juga prnh jadi rival myungsoo, duh opppa :’D tapi sedih sih kok soojung bilang udah gamau kmbali lagi sm myungsoo hufft apalagi dia bilang itu ke kai yg notabene ‘sahabat’ soojung nya punya perasaan sma dia hm whatthe.. T.T jdi baper nih, takut trjadi konspirasi kaisuzy wakakak hellep dah kaaa, belum lagi nenek lampir itu katanya ingin menyingkirkan salah satu dari mereka heolno, nuguseyo? Wkwk bener2 bikin bapeer nih MP skip lah hal itu, Pokoknya suukaa bacaa scene myungstal kencan hihi pas holding hands yah walau dilepas soojung tp myung nya fly hihi dan pas nntn bioskop itulo hahaa lovee beut kkk~ dan tolong itu scene terakhir merekaaa ngapain? Bikin kepo ajaa :’D haha tolong lanjutkaan kakaaa loveeeeit :333

    • waduuh jangan ikutan baper dong, cukup aku aja yang baper karena bikin soojung jadi batu banget :’) *ditendang jungie*
      aku juga suka pas mereka kencan uhuuyy~ sayangnya di scene terakhir aku keburu ditendang sama Myung, dia bilang gak boleh ikutan masuk. duhh😄
      siap dilanjut~! tungguin yaaa, lagi siapin kamera super canggih sama pasang cctv buat ngerekam mereka hihi❤

  8. author-nim, masih sibuk kah? please lanjutin ff ini, aku nunggu lama bangeetttt, bolak balik ke blog ini tapi belum di update juga😦

  9. Author-nim ayooo dong di lanjutin ff nya *hiks* uda nunggu lama bangettt sampe mau mati penasaran rasanyaa cek blog ini tiap hari buat updateannya belom kluar juga *hhuhuu* pleaseee update segera yaa author-nim ^^
    Good luck untuk kuliahnyaa ~

    • Halooo~
      Ep 5 udh siap dipos, mungkin besok malem atau hari rabu aku posnya. sorry yaa kelamaan nunggu hihi, banyak tugas akunya, derita semester 4 hukse :’) thanks supportnya ^^ *kasih permen* xD

  10. aku akan bersyukur bgt kalo ini komen bisa nongol…

    ini part yg paling aku sukaaa!!! pikiran udah kemana mana baca scene yg terakhir ..
    authornim kpn mau di lanjut nih gk sbr..
    sebelumnya kalo gk ada comment comment aku di part part selanjutnya aku minta maaf, karena kalo udah comment nanti gk bisa muncul, berasa jadi silent reader’s…. semangat lah author buat ngelanjutinnya…

    • Yaampun komennya nongol😄 hayoloh pikirannya udh sampe mana? 😂
      Siap dilanjut, tungguin yaaa ^^ Makasih supportnya *lambai lambai* ❤

  11. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06) | myungsOOjung·

  12. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s