[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 05)

MP_6

geaarifin ©2016 present

Marriage Proposal

staring; Krystal Jung-L Kim-Bae Suzy-Kim Kai
genre; romance-sad-complicated-AU-marriage life
lenght; chapter
rated; pg +17

“It’s like the cruel in our marriage, can you save me?”

camera rolling..
action!

Pria dengan balutan kaos biru tipis yang tertutup jaket itu menatap ke dalam iris mata perempuan yang ada di depannya saat ini. Sudah satu jam mereka duduk berhadapan di meja makan yang ada di tengah-tengah ruangan apartemen itu. Sudah satu jam pula si perempuan tak menyentuh sepotong cheese cake yang dibelikan oleh sang lawan bicara.

“Sampai kapan cheese cake  itu akan tetap utuh?”

Perempuan itu seolah tak mendengar pertanyaan pria di depannya. Masih dengan posisi yang sama –satu tangannya memegang garpu kecil, sementara tangan lainnya sibuk menekan-nekan tombol lock pada ponselnya.

Ya, gwaencana?

Si pria mengibaskan tangannya.

“Kau mendengarku atau tidak, Jung Soojung?”

Wanita itu tak mengangkat kepalanya dan hanya bergumam.

“Aku mendengarmu, Myungsoo.”

Pria itu mendelik. “Myungsoo?”

 

“Ini aku, Kai!”

Marriage Proposal
Ep. 05

Complicated

“Bagaimana cara untuk kembali rujuk?” Sooji menegaskan kembali pertanyaannya.

“Benar.” Jawab Myungsoo, keningnya berkerut samar –nampak berpikir. “Sebagai perempuan, kau pasti tahu bagaimana atau apa yang kau inginkan dari pria yang memintamu kembali padanya –untuk itu aku bertanya padamu, Sooji­-ya.”

Mereka berdua tengah berada di ruangan Sooji –di kantor majalah Y. Myungsoo diundang oleh Sooji untuk makan siang bersama, dan sebagai teman yang baik –Myungsoo menerima ajakan Sooji dan bersedia pula untuk menjemputnya.

“Menurutmu begitu.” Sahut Sooji ringan, gadis itu mengeluarkan dompetnya dari laci meja kerjanya. “Aku tidak yakin.”

Myungsoo bergumam. “Begitu kah –sama sekali tak ada cara yang kau pikirkan?”

Sooji mengangkat bahu. “Tidak ada –hmm, belum. Mungkin – ”

Sooji mendahului Myungsoo saat keluar dari ruangannya.

Bertepatan dengan Kai yang baru keluar dari ruangannya juga. Pria itu melirik Sooji dan Myungsoo bergantian.

“Kau bekerja di sini juga?” Tanya Myungsoo. Tatapan pria itu terlalu sengit untuk dikatakan sebagai sapaan ringan.

Kim Kai lantas melirik Myungsoo. Pria itu mengulas senyum samar. “Begitu lah.” Ujarnya, pria itu mengangkat tangannya. “Aku pergi duluan, ne. Selamat menghabiskan waktu makan siang.” Kai berlalu begitu saja, mengacuhkan pandangan Myungsoo yang terus menatapnya sampai menghilang di balik koridor.

“Mau kemana dia?”

“Kau mengatakan sesuatu, Myungsoo?” Sooji memperjelas pendengarannya saat mendengar Myungsoo bergumam.

Myungsoo menggeleng. “Tidak –kajja.

“Tuan.”

Pria paruh baya itu menghela nafas. Kali ini dia sudah menyerah saat seorang yang berada di depannya itu memanggilnya untuk kesekian kali.

“Aku tidak ingin mendengar laporan yang sama, Yoon. Kau memberiku informasi yang tak penting setiap minggunya.” Keluhnya.

Sang asisten pribadinya itu –yang dipanggil Yoon –membungkuk.

“Maaf, Tuan. Tapi laporan yang akan saya sampaikan kali ini sangat berbeda. Saya yakin tuan akan menyukainya.”

Kim Jae Sook mendelik –seberapa bagus laporan asistennya itu kali ini?

“Katakan, Yoon.”

Menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, Yoon mendekatkan diri pada meja Kim Jae Sook. Lantas pria paruh baya itu membukanya –mengeluarkan semua isi amplop yang ternyata adalah beberapa lembar foto yang diambil secara candid. Kim Jae Sook mengulas senyum. Kepalanya mengangguk –merasa puas.

“Kapan kau mendapatkan ini, Yoon?”

“Dua minggu lalu, Tuan. Tapi ada beberapa hal yang harus saya selidiki lebih dulu. Malam itu mereka kembali ke apartemen, Tuan. Saya rasa, mereka sempat bermalam bersama.”

“Anak itu –selalu keras kepala.” Gumam Kim Jae Sook yang tanpa disadarinya –ia mengulas senyum hangat.

“Maaf Tuan.” Ucap Yon. “Apakah Myungsoo doeyeonim dan Nona Soojung bisa kembali bersama?”

Kim Jae Sook mengangguk. “Aku sangat yakin, Yoon. Anakku tidak pernah menyerah –kau sendiri yang mengambil foto mereka saat di Collage Street, bukan?”

“Bagaimana pun juga. Aku harus membuat mereka bersama lagi –atau perusahaanku yang jadi taruhannya.” Lanjut pria paruh baya itu. “Segera kabari Jung Yunho, Yoon.”

Yoon mengangguk. “Bagaimana dengan Myungsoo doryeonim, Tuan?”

“Tidak perlu. Aku yakin anak itu tidak mau menemuiku.”

Pria berabadan tinggi dan tegap itu membungkuk untuk pamit keluar dari ruangan bosnya itu.

Kepalanya menggeleng –kemudian membuang kertas dengan coretan gambar sketsa yang ada di tangannya ke dalam mesin peghancur kertas. Satu orang lagi –menatap nanar apa yang dilakukan oleh rekannya pada kertas-kertas malang yang satu persatu mulai menjadi bubuk itu.

YA! Seburuk itu kah gambarku, eoh?

“Kau sedang dalam masa yang buruk, Jung Soojung. Bagaimana bisa gambaranmu masuk kedalam katalog untuk bulan depan? Kita bisa kalah saing dengan perusahaan mode yang lain.”

Jung Soojung memijat pelipisnya sambil mondar-mandir di depan Daniel –yang sedang sibuk merevisi gambar milik Soojung.

Nyatanya –Soojung lah ketua tim disini.

Wanita itu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang.

“Sudahlah. Kita lanjutkan besok saja. Biar Ji Hyo sajangnim yang menilai hasil kerjamu besok.” Daniel memasukan sisa kertas gambar ke dalam map besar dan menyimpannya ke dalam lemari yang berada di sudut ruangan. “Sepertinya kau butuh hiburan, Soojung. Sudah beberapa hari ini aku melihatmu murung.” Ujar Daniel.

“Kau benar. Aku butuh hiburan.” Soojung mengulas senyum masam.

“Sebenarnya apa yang membuatmu murung, Jung?” Daniel duduk di atas meja sambil melipat tangannya. Pria itu merasa khawatir atas sikap Soojung dua minggu ini yang terlihat semakin mengkhawatirkan.

Wanita itu menghela nafas dalam. “Tidak ada.”

Daniel mendelik tajam. “Aku tidak percaya. Katakan saja –siapa tahu aku bisa membantu.”

Soojung tidak yakin jika harus mengatakan sesuatu yang dirasakannya sekarang pada Daniel. Pada siapapun –sebenernya Soojung tak tahu harus berbagi cerita pada siapa –meskipun ia memiliki Sulli dan Kai –dan mungkin Daniel yang siap mendengar keluh kesahnya.

“Soojung!”

Itu Kai. Pria itu muncul begitu saja saat namanya terlintas di benak Soojung. Sebuah kebetulan –sepertinya. Melihat Kai, Soojung merasa lebih baik –karena pria itu pasti akan membawanya keluar dari kantor untuk makan siang atau sekedar nongkrong di kafe. Semakin lama berada di ruangan kerjanya hanya akan membuatnya memikirkan sesuatu yang membuatnya tak nyaman –seperti sekarang.

“Mau keluar? Aku ingin mengajakmu makan siang di restauran Jepang, beberapa blok dari sini –ohh, dan kau bisa ikut dengan kami, Daniel-ssi.” Tawaran Kai sepertinya menarik, Soojung dan Daniel sama sekali belum menggunakan waktu makan siang mereka. Lantas keduanya menerima ajakan Kai dengan senang hati.

*

*

Ugh, sudah seharian aku melihat wajah kusutnya. Sangat tidak menyenangkan –seperti aura kantor di penuhi dengan kegelapan.”

Soojung menatap Daniel dengan tajam saat pria itu mengeluh pada Kai. Kai hanya tertawa saja menanggapinya.

“Kau benar, Daniel­-ssi. Dari dulu tidak pernah ada yang menyukainya jika dia sedang dalam kondisi badmood. Mengerikan. Hahaha…” Kali ini Kai yang kena sikut dari Soojung. Kedua pria itu begitu asik membully wanita yang ada di antara mereka. Dan Soojung –ia tidak kesal. Bahkan sudut bibirnya sedikit tertarik mendengar celotehan Kai dan Daniel mengenai dirinya.

“Puas kalian menertawakanku, eoh?”

Kai dan Daniel semakin terbahak melihat Soojung yang pura-pura kesal pada mereka.

Bae Sooji terpekur di tempatnya. Panggilan Myungsoo untuk beberapa kali tak ia hiraukan –wanita itu tidak melamun, hanya sedang memikirkan sesuatu.

“Myungsoo.” Tiba-tiba ia memanggil pria di depannya.

“Hm?”

Sooji menegakkan punggungnya. Dagunya kini bertumpu pada kedua tangan. “Apa yang kau pikirkan –tentangku dan Ibuku?”

Myungsoo memiringkan kepalanya. Tumben sekali Sooji membahas Ibunya di depan Myungsoo. Pria itu menyesap minumannya dan menyandarkan punggungnya agar terlihat lebih santai. “Ibumu –adalah istri kedua Ayahku –dan dirimu, saudara tiriku.” Ujarnya.

Nampaknya Sooji tak puas dengan jawaban Myungsoo. Dia mendesah berat.

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

Sooji mengambil nafas dalam-dalam. “Bukan kah kau tahu jika –jika aku –menyukaimu?”

Myungsoo mengangguk. “Lantas apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan –Bae Sooji?”

Sooji menggigit bibir bawahnya. Wanita itu terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu. Sementara Myungsoo menatap curiga padanya. “Bae Sooji?”

“Menikah lah denganku, Myungsoo.”

Myungsoo memalingkan wajahnya. “Apa yang kau bicarakan? Aku tahu jika kau memiliki perasaan padaku, Sooji-ya. Tapi –tapi kau tetap saudaraku.” Myungsoo yakin jika perasaannya waktu lalu –saat ia mencoba untuk menerima Sooji, akal sehatnya masih bekerja dengan begitu lancar. Bagaimana pun dia tidak akan memiliki perasaan lebih pada Sooji.

“Semuanya akan selesai jika kita menikah, Myungsoo.”

Kim Myungsoo memicingkan matanya. Pandangan tajam pria itu tertuju pada Sooji.

Sooji juga mengetahui semua yang terjadi di kehidupannya ­–pikir Myungsoo. Lantas pria itu hanya diam, menunggu Sooji untuk mengutarakan maksud dari ucapannya.

Untuk beberapa saat wanita itu hanya diam sebelum menghela nafas panjang. “Kau dan Soojung –bisa kembali bersama, setelah kita menikah –Myungsoo. Kau pasti sudah mengetahui dalang dibalik perceraianmu dengan Soojung. Ibuku –Ibuku lah yang merencanakan semuanya, Kim Myungsoo. Percayalah.”

“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Bae Sooji.”

Sesuatu yang ditakutkan oleh Sooji sepertinya akan datang padanya detik ini. Nada bicara Myungsoo sudah berubah, tak sehangat sebelumnya. Setiap ucapan Myungsoo nampak tajam dan menuntut. Sooji ragu –namun ia tak ingin semakin tersiksa oleh perasaan bersalahnya. Mungkin setelah ia mengatakan kebenarannya pada Myungsoo –pria itu akan berbaik hati memaafkannya –dan mau mengikuti rencananya.

“Tuan Kim –anni. Abeoji –sebelum dia menikahi Ibuku –beliau menjanjikan sebagian saham yang dimilikinya akan diberikan pada Ibuku  atas namaku. Tapi setelah mengetahui jika kau akan menikah dengan Soojung –Abeoji dan keluarga Jung merubah semua surat –termasuk surat penyerahan saham yang beliau janjikan dengan mengubah namaku, menjadi nama dari anak yang akan dilahirkan oleh Soojung. Awalnya Abeoji tetap akan memberikan saham yang dijanjikannya –hanya saja dengan pengurangan saham, tapi Eomma tidak bisa terima dan merasa sakit hati. Eomma..”

Kim Myungsoo mengerti sekarang –apa yang sebenarnya terjadi, antara dia –Soojung, Ayahnya –dan Lee Hyorin, ibu tirinya. Bahkan Bae Sooji pun ikut menjadi alat dari aksi balas dendam Ibunya.

Hajima, Sooji-ya.” Myungsoo menghentikan Sooji, wanita di depannya itu mulai meneteskan air matanya.

Ugh. Kepala Myungsoo rasanya ingin meledak. Separah itu kah hubungan Ibu tiri dan Ayahnya sehingga mereka yang menjadi korban?

“Menurutku tidak ada yang berlebihan, Myungsoo. Aku sudah bilang padamu –jika kau tidak akan mengerti.”

“Jika tidak berlebihan –jelaskan padaku, apa alasan yang sebenarnya sampai kau meminta cerai dariku selain permasalahan perusahaan, Jung Soojung?”

“Aku akan memberitahumu nanti –setelah semua permasalahan mengenai perusahaan ini selesai. Aku janji, Myungsoo.”

Ingatannya terputar kembali pada malam di mana ia dan Soojung berjalan-jalan di Dongdaemun. Saat itu Myungsoo bertanya alasan mengapa Soojung memintanya untuk bercerai. Kim Myungsoo memutar kembali ingatannya –apa yang telah aku lakukan pada Soojung? Mengingatnya akan sangat membutuhkan waktu yang lama. Ia butuh bertemu dengan Soojung -sekarang.

Gila! Seperti sudah bertahun-tahun, sejak malam itu. Soojung seperti menghindarinya. Myungsoo selalu berusaha menghubungi Soojung, namun tak pernah ia mendapat jawaban. Bahkan jika ia datang ke kantor Millicent –Soojung tak pernah bisa ia temui. Kim Myungsoo merasa frustasi saat tak dapat menemui Soojung, wanita itu memang berhak marah dan Myungsoo bisa memahaminya. Tapi Myungsoo sendiri pun tak bisa memungkiri jika malam itu ia juga merindukan Soojung.

Kini –nampaknya dia menemukan cara untuk bisa bertemu lagi dengan Soojung –dan wanita itu pasti akan menemuinya.

“Tapi –bisa kah aku meminta sesuatu darimu, Bae Sooji?”

Wanita itu mengangkat wajahnya –sambil menyapu air matanya, ia berkata. “Apapun itu –aku mungkin bisa memenuhi keinginanmu.”

“Pertemukan aku –dengan Ibumu.”

Hingar bingar ruangan itu terasa sangat menyesakkan. Semua orang bergerak sesuai irama menikmati musik yang diciptakan oleh sang Disk Jokey. Bau asap roko dan aroma alkohol pun bercampur di ruangan dengan penerangan minim itu.

Kecuali dengan seorang pria yang sedang duduk di depan meja bar. Tatapannya sangat tajam –pandangannya terfokus pada isi dalam gelas yang ada di depannya. Tangan kanannya memegangi kaki gelas, sesekali mengetuk-ngetukan jemarinya pada badan gelas. Gadis cantik di sampingnya seolah tak berguna –meskipun ia sibuk merayu pria itu, namun tak pernah pria itu meliriknya.

“Tidak biasanya. Terjadi sesuatu hari ini?”

Mungkin bartender yang sedang tak sibuk itu sedang jenuh, pria yang menjadi seorang bartender dengan pakaian serba hitam itu menghampiri pria yang terus menatap gelas miliknya tanpa meneguk isinya. “Kau bisa memecahkan gelas itu jika terus memandanginya seperti itu.” Ujarnya, sekedar basa-basi.

Pria itu melirik si bartender kemudian melihat kursi di sampingnya yang telah kosong. Ugh. Bahkan si gadis yang menemaninya kini sudah menghilang entah kemana.

“Jika kau menjadi aku. Apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan hati sahabatmu sendiri –yang sepertinya tertarik untuk rujuk dengan mantan suaminya, Yeol­-ah?”

“Membawanya kabur ke luar negeri.”

YA! Park Chanyeol, aku serius!”

Si bartender terkekeh. “Siapa sahabatmu, Kai-ya.. Jung Soojung?”

Kim Kai menenggak habis minuman yang terasa membakar tenggorokannya itu. “Aku tidak menyebut nama Jung Soojung.”

Chanyeol menepuk keras kepala Kai –suatu kebiasaan yang tak pernah hilang saat ia akan tertawa kencang. “Di dunia ini sahabat perempuan yang dekat denganmu hanya Soojung, bukan? Dan kau –ingin mendapatkannya. Apa kau lupa siapa aku, eoh?

Kai mendelik tajam pada teman lamanya itu.

“Aku tidak dalam mood  yang bagus, Park Chanyeol.”

Chanyeol memasukan beberapa minuman ke dalam sebuah botol, mencampurkannya dengan sangat lihai khas seorang bartender. Pria itu tersenyum jenaka, membuatnya mendapatkan tatapan penasaran dari Kai.

“Kau hanya perlu mendapatkan perhatiannya, Kai. Salah satu caranya adalah –dengan kau yang selalu memberikan perhatian lebih padanya. Bukan kah setiap wanita suka diperhatikan?”

“Tapi Soojung bukan tipe wanita seperti itu, Yeol­-ah.” Keluh Kai. Pria itu menumpukan kepala di atas lipatan tangannya di atas meja. “Belum lagi dengan Kim Myungsoo. Pria itu benar-benar ingin kembali pada Soojung.”

Park Chanyeol mengerutkan keningnnya samar. “Sepertinya pria bernama Kim Myungsoo sangat terkenal sekarang.” Ujarnya sambil mengisi gelas milik Kai.

Kai mengangkat kepalanya. “Pria dengan nama Kim Myungsoo itu bisa lebih dari satu, Chanyeol.”

Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya. “L’s Bravo. Beberapa hari lalu aku mendengar beberapa orang yang memesan suit room disini menyebutkan nama latin itu dan nama Kim Myungsoo. Ugh, aku benar-benar tak sengaja mendengarnya karena saat itu aku yang melayani mereka.”

Kim Kai menegakkan punggungnya. Pria itu tentunya sangat penasaran bagaimana temannya itu tahu tentang perusahaan milik Myungsoo. “Apalagi yang kau dengar, Yeol-ah?”

Chanyeol mencoba mengingat malam di mana dia mendapat tamu VIP yang memesan suit room di bar tersebut. “Molla –aku tidak mendengar lebih jauh lagi. Tapi dari pakaian yang mereka kenakan, aku hanya dapat menyimpulkan jika keenam pria itu adalah anak buah dari seorang wanita dengan pakaian glamour –yang berada di tengah-tengah mereka.”

“Jadi semuanya ada tujuh orang?”

Chanyeol mengangguk mantap. “Memangnya ada apa?”

Kai hanya menggeleng pelan.

“Satu lagi, Kai-ya.”

Kai kembali melirik teman lamanya itu.

“Aku mendengar mereka menyebutkan kata ‘habisi’. Mungkin aku salah dengar tapi –aku sangat yakin jika wanita itu mengatakannya.”

Soojung. Nama wanita itu terlintas dengan cepat di benak Kai. Jika sesuatu akan terjadi pada Myungsoo –dan itu hal yang buruk, maka tak menutup kemungkinan jika

.. seolma.

“Chanyeol-ah, jika kau mereka datang lagi –cari tahu semua apa yang mereka lakukan atau bicarakan, arra. Jebbal, Chanyeol-ah.”

Setelah menitipkan pesan pada Chanyeol, Kai segera meninggalkan bar itu dengan tergesa. Ia harus cepat bertemu dengan Soojung.

Kim Myungsoo berdiri di depan pintu apartemen yang bertuliskan angka limabelas kosong tujuh. Di mana unit apartemen itu adalah milik seorang wanita yang menjadi Ibu tirinya. Myungsoo mencoba untuk menenangkan diri dengan mengambil nafas dalam –dia hanya merasakan satu hal, sesak. Ditemani oleh Bae Sooji, Myungsoo memaksakan dirinya untuk datang menemui Lee Hyorin. Bahkan mengingat nama wanita itu sudah membuat hatinya tak karuan.

Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya pintu bercat brownie gold itu terbuka. Lee Hyorin menyambut mereka dengan senyuman yang merekah.

Sudah hampir tujuh tahun Myungsoo tak bertemu dengan wanita yang menjadi madu Ibu kandungnya itu. Myungsoo masih merasakan sakit hati dan kesedihan Ibunya saat tahu jika sang Ayah tega membawa wanita lain dan anaknya ke rumah saat itu. Dan kini, di ia mencoba untuk duduk dengan tenang di depan wanita yang sangat dibencinya, yang telah membuat ia tak ingin menemui Ayahnya lagi.

“Aku senang kau mau menemuiku, Myungsoo.” Lee Hyorin menyimpan bantal kursi di pahanya. “Jadi, sepenting apa kah keperluanmu sampai mau menemuiku?”

Kim Myungsoo memalingkan wajahnya. Dia sungguh enggan untuk bertatap muka dengan wanita paruh baya di depannya. Sementara itu Bae Sooji hanya duduk di sampingnya dengan kepala yang tertunduk.

“Sepertinya aku tahu maksud kedatanganmu, uri adeul.”

“Kau tidak memberikanku kesempatan untuk bicara. Lagi pula –aku bukan anakmu. Jangan memanggilku seperti itu.” Penggal Myungsoo –dengan nada dingin –sebelum Hyorin kembali membuka mulutnya.

“Mari untuk tidak berbasa-basi lebih lama lagi. Aku hanya ingin memberitahumu jika –aku tak peduli pada perusahaan Ayahku. Jika kau ingin mengambilnya –maka ambil lah. Jangan pernah melibatkan Soojung dalam masalah ini.”

Lee Hyorin menyunggingkan sebuah senyum yang tak bisa diartikan oleh Myungsoo. Pria itu menatap tajam wanita di depannya, menilik lebih dalam raut wajah sang Ibu tiri. Namun Myungsoo tak menemukan apapun.

“Kau menyerah? Bukan kah akan lebih menarik jika kita meneruskan permainan ini?” Gurau Hyorin.

Apa yang direncanakannya?

“Permainan?! Kau sudah menghancurkan pernikahan kedua orang tuaku dan kini kau sudah menghancurkan pernikahanku. Kau menganggap semua ini permainan? Terlalu murah harga dirimu jika kau mempermainkan keluargaku seperti ini hanya demi sebuah saham.” Buku jarinya memutih akibat kepalan tangannya yang terlalu kuat. Myungsoo mencoba untuk menahan amarahnya.

“Myungsoo!”

Sesuatu telah membuat pipinya memanas. Bentakan dan sebuah tamparan dari Sooji membuat Myungsoo melirik gadis itu.

“Sooji­-ya.”

Myungsoo menyadari sesuatu. Meskipun Lee Hyorin adalah Ibu tirinya –tapi wanita itu pun adalah Ibu kandung dari Bae Sooji –gadis yang menjadi alat balas dendam untuk keluarganya. Sooji pasti merasa sedih saat mendengar ucapan Myungsoo.-yang terdengar mengumpat dengan kasar.

Kedua kalinya untuk hari ini –Myungsoo melihat Sooji menangis. Myungsoo tak menyangka jika Sooji semudah itu untuk menitikan air mata. Myungsoo tahu jika Sooji adalah gadis yang tegar –asam manis kehidupannya hingga saat ini bisa ia lewati dengan sangat baik. Bahkan gadis itu terlalu ceria bila orang lain tahu masa lalunya bersama sang Ibu.

“Jika alasanmu untuk bertemu dengan Ibuku adalah untuk mengumpatnya –sebaiknya kau pergi, Myungsoo.” Gadis itu berkata dengan lemah.

“Tapi Sooji-ya..”

Sooji meninggalkan Myungsoo. Gadis itu masuk ke dalam kamar Ibunya.

Sementara Lee Hyorin dengan begitu tenangnya ia menyesap teh jasmin miliknya. “Kau tahu, bagaimana untuk menghentikan permainan ini tanpa harus mengakhirinya, Myungsoo?”

Kim Myungsoo menghela nafas.

“Katakan.”

..

“Menikah dengan putriku, Myungsoo.”

Myungsoo ingin sekali memaki wanita yang berada di hadapannya itu. Namun ia masih memikirkan Bae Sooji yang mungkin bisa mendengar percakapannya dengan sang Ibu. Myungsoo tak ingin menyakiti perasaan gadis itu lagi. Cukup lah Sooji kecewa pada sikapnya beberapa menit lalu.

“Tidak akan pernah. Aku akan mengikuti permainanmu.” Myungsoo  memantapkan langkahnya untuk pergi dari apartemen itu, sebelum amarahnya kian memuncak.

*

*

Hening menyelimuti setelah kepergian Myungsoo. Sooji tak kunjung keluar dari kamar, dan Lee Hyorin kini berdiri di depan jendela besar apartemennya –memandang puncak-puncak gedung kota yang nampak kecil jika dilihat dari tempatnya sekarang. Tangan kanannya mengangkat ponsel miliknya setelah menekan beberapa digit angka.

Sambungan telpon sudah terdengar. Wanita itu menanti jawaban dari sebarang sana.

“Yeoboseyo, na-ya…”

“Dua jam lalu dia berada disini. Bisa kau lakukan sekarang? Anak itu mungkin sedang menuju kantor Ayahnya.”

“Jangan bertindak gegabah. Serahkan padaku –hidup-hidup.”

Flip.

Sambungan telpon pun terputus beberapa detik kemudian.

Eomma.”

“Jangan memanggilku dengan merajuk seperti itu, Sooji-ya. Kau tidak bisa menghentikaku sekarang.”

Jung Soojung menenggak habis air minum dalam botol untuk mendorong pil masuk ke tenggorokanya lebih cepat. Wanita itu kemudian mendudukan diri di atas sofa apartemenya. Kedua matanya terpejam rapat, ia butuh istirahat lebih di akhir minggu ini.

Choi Sulli menyentuh kening Soojung. “Kau demam Soojung-ah.”

Kening Soojung berkerut. “Rasanya lemas sekali.” Gumamnya.

“Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit, Soojung?”

Soojung memilih untuk meringkuk di atas sofa dan menyalakan televisi. “Aku tidak suka bau rumah sakit. Lagi pula kau ini seorang dokter –kau bisa merawatku.”

Choi Sulli menggeleng. “Kau harus membayarku untuk merawatmu, Jung Soojung.”

Soojung tahu jika sahabatnya itu sedang bercanda, namun sekarang ia tak memiliki selera humor untuk tertawa, maka ia hanya mengulas senyum tipis saat melihat Sulli berjalan ke arah dapur. Soojung memerhatikan Sulli yang sedang membereskan meja makan dan mencuci piring. Untung saja ada Choi Sulli yang bisa merawatnya –meskipun bubur yang dimasak oleh Sulli tak senikmat buatannya Ibunya, namun Soojung tetap merasa bersyukur karena memiliki Sulli sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.

Ting tong

Ting tong

Ting tong

Ting tong

 

Suara bel pintu yang tak sabaran itu membuat kedua wanita yang sedang asik dengan acara tv kesukaan mereka merasa terganggu. Untuk beberapa saat mereka tak peduli –mungkin hanya seorang tukang pos yang mengirim surat. Tapi bel pintu apartemen mereka terus berbunyi.

Ugh. Siapa yang datang sampai tidak sabar seperti itu, eoh?” Sulli beranjak dari depan tv –dengan sedikit kesal dan berjalan dengan tergesa menuju pintu.

Seorang pria jangkung berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar. “Annyeong Sulli-ya.”

“Akhir-akhir ini kau rajin sekali datang kemari, Kai-ya.”

Ternyata Kim Kai. Pria itu menerobos begitu saja ke dalam apartemen kedua orang temannya. Diikuti dengan Sulli yang masih menggurutu sebal di belakangnya. “Lain kali cukup menekan bel dua kali, bodoh.”

Aroma dari dua kotak pizza di ruangan itu membuat Sulli dan Soojung tergoda untuk menyantapnya. Jika saja Kai datang dengan tangan kosong, maka Sulli siap untuk memakinya. Namun gadis dengan mata berbinar itu memilih untuk mengambil sepotong pizza dan melahapnya daripada harus memaki Kai.

“Bisakah aku mencicipinya sedikit?”

“Sebaiknya kau tidak memakan ini dulu, Soojung.”

Jung Soojung tak menghiraukan saran dari Sulli, wanita itu mengambil sepotong pizza lainnya dan memakannya dengan lahap.

“Kalian begitu kejam, hanya peduli pada pizza yang aku bawa. Kalian tak menanyakan kabarku, eoh?” Kai yang merasa diacuhkan di ruangan itu akhirnya membuka mulutnya. Pria itu merajuk kepada dua temannya yang sibuk dengan makanan yang ia bawa.

Ohh, mianhae Kai-ya. Jadi bagaimana kabarmu?” Tanya Sulli dengan mulut yang penuh.

Kai mencibir. “Aku membawa berita gembira.”

Mwoya?

“Aku sudah membeli unit apartemen di depan apartemen kalian –mulai besok kita akan jadi tetangga, chingudeul!

HOEEKS

Soojung merasa sesuatu mengocok perutnya –terasa sangat mual. Sesuatu seperti –entahlah yang jelas dia butuh ke kamar mandi sekarang.

“Soojung-ah!

Sulli berlari menyusul Soojung ke kamar mandi untuk memastikan keadaan sahabatnya. Sementara itu Kai merasa terkejut karena ia pikir Soojung mual akibat berita yang disampaikannya. Lantas pria itu menyusul kedua temannya.

“Soojung-ah, gwaenchana?”

Sulli menepuk-nepuk pundak Soojung yang masih berusaha mengeluarkan sesuatu yang membuat perutnya terasa mual.

Hoeeks..

Hoeeks..

*

*

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Namun Soojung masih belum bisa menutup matanya. Kepalanya terasa sangat pening, belum lagi rasa mual yang selalu muncul secara tiba-tiba seperti tadi siang.

Kenapa tubuhku begitu lemah akhir-akhir ini? Batinnya. Matanya tak henti memandangi langit-langit kamarnya yang bercat putih bersih itu. Apa yang dilihatnya kini di langit-langit itu membuatnya menggelengkan kepala dengan keras.

Anniyeo. Tidak mungkin aku memikirkannya sekarang. Kau sudah gila, Jung Soojung! Bagaimana mungkin kau memikirkan Kim Myungsoo di saat seperti ini? Ugh.” Memikirkan Myungsoo membuat kepalanya terasa semakin berat. Soojung menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.

Keesokan paginya suara gaduh terdengar dari luar apartemen. Beberapa tukang angkut barang terlihat begitu sibuk memindahkan perabotan dari mobil angkut ke dalam unit apartemen yang berada di depan unit milik Sulli dan Soojung.

Sementara itu sang pemilik unit apartemen sibuk mengatur letak barang-barangnya. Dibantu oleh Sulli dan Soojung –Kai –yang membutuhkan waktu hampir tiga jam –akhirnya bisa menemukan letak dimana semua perabotan miliknya itu akan disimpan. Ketiganya kini berada di ruang tengah. Beberapa kali Sulli memijat pinggangnya yang terasa pegal.

Ugh. Bukannya kau sudah memiliki apartemen mewah di Gangnam-gil, eoh?

Kai mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sulli. Pria itu menuangkan minuman dingin ke dalam tiga gelas yang berada di permukaan meja.

“Lalu kenapa ingin pindah kemari?”

“Aku hanya –merasa kesepian. Jika aku tinggal dekat dengan kalian –aku tidak akan kesepian lagi. Ahh, dan aku bebas mendapat makan dari kalian berdua. Hahaha… Aww!!”

Kai harus meringin kesakitan saat Sulli memukul kepalanya cukup keras.

“Enak saja! Siapa yang akan memberimu makan gratis, Kkamjong-ssi?”

“Kau ini pelit sekali! Pantas saja tidak memiliki kekasih, ugh.

“Kau juga tidak punya!”

“Kau menjengkelkan, dasar hitam!”

“Kau ini rasis sekali! Dasar tiang listrik!”

Soojung yang sedari tadi hanya diam kemudian mengulas senyum memerhatikan kedua temannya yang bertengkar seperti anak kecil di depannya. Ada bagusnya juga Kai pindah ke depan unit apartemennya. Mereka bisa berkumpul setiap hari –meskipun hanya sekedar ngobrol dan minum seperti saat ini.

Hari senin.

Setiap orang mungkin berpikir –kenapa hari Minggu begitu cepat bertemu dengan Senin, tapi hari Senin membutuhkan enam hari untuk sampai di hari Minggu? –begitu pula dengan Soojung saat ini. Untung saja demamnya kemarin sudah membaik, sehingga Soojung tak perlu menyeret tubuhnya untuk datang ke kantor pagi ini.

Seperti biasa, Daniel selalu datang lebih awal daripada dirinya. Setelah menyapa Daniel dengan hanya tersenyum singkat, Soojung menarik kursi kerjanya dan mendudukan diri di sana.

“Lemas sekali. Kau sedang sakit?”

Soojung menggeleng. Daniel semakin curiga saat melihat lingkar hitam di mata Soojung yang membuatnya terlihat sedikit pucat. “Kau membutuhkan vitamin, Jung.”

Soojung menghela nafas panjang. “Ini akibat semalaman aku muntah terus menerus. Makanya aku tidak bisa tidur, Daniel-ah.”

Soojung tidak berbohong. Ia memang menghabiskan malamnya dengan mondar mandir ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. “Kemarin aku sempat demam. Tapi saat demamku turun –aku malah mual-mual.”

Kening Daniel mengerut samar. “Sudah periksa ke dokter?”

Soojung menggeleng lemah. “Aku tidak suka dokter.”

Daniel berdecak pelan. “Kau ini. Jangan dibiarkan terus. Bagaimana jika semakin parah?” Daniel tak menakuti –hanya saja dia merasa khawatir. “Mau ku temani? Kebetulan aku punya teman seorang dokter.”

“Tidak perlu. Temanku pun seorang dokter.”

Daniel beranjak dari meja kerjanya, menghampiri meja kerja Soojung dan duduk di depannya. “Jangan keras kepala, Jung.” Ujarnya.

Soojung nampak berpikir. Jika mualnya itu tidak bisa berhenti, maka sakitnya itu bisa mengganggu pekerjaannya juga. Memang tidak bisa dibiarkan.

Keurae. Kau mau menemaniku ke rumah sakit?”

“Bagaimana setelah makan siang?”

Soojung mengangguk. “Okey.”

*

*

Teman Daniel yang berprofesi sebagai dokter ahli di rumah sakit itu adalah Choi Jonghyun –satu tahun lebih muda dari pria di samping Soojung –Ahn Daniel. Sang dokter memiliki senyum yang manis dengan bentuk rahang yang tegas. Ugh, Soojung sempat ‘geli melihat teman dari Daniel itu. Wajahnya terlalu polos jika harus disebut sebagai dokter –apalagi dia adalah dokter ahli di bidang bedah dan kandungan –siapa sangka memiliki dua gelar tersebut?

Lagi pula kenapa Daniel harus membawanya ke dokter ahli, bukan ke dokter umum saja?

“Kau bercanda jika membawaku kemari, Daniel.”

“Aku rasa tidak.”

Soojung tak peduli –dia hanya butuh pemeriksaan biasa –dan Daniel bersikukuh jika dokter ahli dulunya juga adalah seorang dokter umum.

Perdebatan kecil mereka akhirnya selesai saat Jonghyun masuk kembali ke ruangannya dengan beberapa lembar –hasil pemeriksaan –ditangannya.

Kening sang dokter berkerut.

“Daniel –kau bilang jika Soojung-ssi bukan istrimu.”

Daniel mengangguk. “Aku hanya mengantarnya, sudah ku bilang dia teman kerjaku. Jadi bagaimana hasilnya?”

Soojung menyikut Daniel. “Kau ini –yang sakit itu aku. Kenapa kau yang menanyakan hasilnya, eoh?”

Ugh. Mian.

Choi Jonghyun melipat kedua tangannya di atas meja. “Uhm. Kalau begitu .. Daniel-ah, bisa kah kau keluar sebentar. Ini akan jadi urusan dokter dengan pasiennya –dan kau tak diharuskan untuk tahu –karena kau bukan keluarga dari Soojung-ssi.”

“Tidak bisa kah aku tahu juga?”

Jonghyun menatap senngit Daniel –suatu kebiasaannya saat Daniel mencampuri urusannya. Pria itu terkekeh kemudian beranjak dari kursi. “Okey, aku keluar sekarang.”

“Jung-ah. Aku tunggu di mobil.”

Hening untuk beberapa saat – setelah kepergian Daniel, tak membuat Soojung melepaskan tangannya yang terus menggenggam ponselnya dengan erat. Ia merasa cemas dengan hasil pemeriksaannya.

“Tidak usah terlihat tegang begitu, Soojung-ssi.”

Sebuah senyuman dari sang dokter tampan pun tak bisa menghilangkan kecemasan Soojung saat ini.

Berlebihan mungkin. Tapi entah mengapa Soojung merasakan sesuatu yang mengusik perasaannya.

Sekali lagi.

Untuk kesekian kalinya Myungsoo menekan dial number untuk Soojung –namun hasilnya selalu sama. Tidak aktif.

Tidak mungkin dia memblokir nomorku –batinnya.

Pria itu nampak gusar –dia tak bisa duduk dengan tenang di balik meja kerjanya. Hampir tiga bulan –dan Myungsoo tak pernah tahu lagi kabar Soojung.

“Mengganggu waktumu?”

Seseorang muncul begitu saja dari balik pintu ruangannya. Kim Myungsoo bernafas lega saat tahu jika Kang Minhyuk lah yang datang menemuinya.

“Tidak.”

Pria bertubuh lebih tinggi dari Myungsoo itu mendudukan diri di sofa –di tengah-tengah ruangan kerja milik Myungsoo. “Aku sudah mengetuk pintu –tapi sepertinya kau tak mendengar.”

Myungsoo menyusul Minhyuk dan duduk di depan temannya itu. “Sudah lebih dari sebulan –sepertinya Soojung menghindariku.” Ucapnya. Myungsoo sudah tak segan lagi untuk bercerita pada Minhyuk –toh pria juga butuh tempat untuk berbagi, bukan berbagi dengan perempuan –layaknya seorang wanita yang membutuhkan tempat untuk bisa menampung keresahannya, begitu pun pria –meskipun wanita lebih dominan untuk menuangkan segala perasaannya.

Kang Minhyuk mengangguk. “Sudah coba temui di kantor?”

“Beberapa kali. Bahkan sempat hampir diusir oleh security karena Soojung terus-terusan sibuk katanya.”

Seorang sekretaris Myungsoo masuk ke ruangannya dengan membawakan dua cangkir teh jasmin hangat dan menyimpannya di atas permukaan meja –yang berada di tengah-tengah kedua pria itu.

Uhm. Kapan kalian terakhir bertemu –maksudku dalam keadaan seperti apa terakhir kalian bertemu? Biasanya kau tak akan menemui orang lain lagi setelah kesan pertama atau kesan terakhir, bukan?”

Myungsoo mengangguk-angguk. Mengingat kesan terakhir mereka bertemu –di apartemen, dengan kondisi keduanya di atas tempat tidur, Myungsoo yang terbangun dengan memeluk Soojung –membuat Myungsoo tidak ingin menceritakannya pada Minhyuk. Myungsoo hanya menceritakan sebagian kecilnya saja –mungkin saat mereka berjalan-jalan di Collage Street.

“Mungkin Soojung tak ingin jatuh cinta padamu lagi, Myungsoo.” Ujar Minhyuk. Pria itu menyesap tehnya. “Karena kencan kalian itu –mungkin Soojung bisa saja jatuh cinta lagi. Tapi dia tak menginginkan hal itu –bisa jadi salah satu faktornya.”

“Jangan bercanda, Kang Minhyuk.” Nada bicara Myungsoo terdengar pelan. Pria itu sibuk mendalami pikirannya sekarang.

Apa mungkin seperti itu?

Rasanya ingin mati saja.

Sepenggal kalimat itu terus membelenggu pikirannya. Jung Soojung terduduk dengan lemas di salah satu bangku panjang –yang terdapat di taman belakang rumah sakit. Beberapa menit lalu ia sempat menelpon Daniel dan meminta pria itu untuk pulang duluan saja dengan alasan ia bertemu dengan temannya di rumah sakit. Daniel mengiyakan, sehingga pria itu mungkin sudah berada di kantor atau malah pulang ke rumahnya.

*

*

“Aku tidak bermaksud bertanya lebih jauh, Soojung-ssi. Boleh kah aku bertanya sesuatu?”

Soojung menatap Jonghyun yang masih sibuk membuka lembar demi lembar hasil pemeriksaan miliknya. Sang dokter bertanya tanpa melihat Soojung, sehingga wanita itu tak perlu gugup untuk bertatap wajah dengan Jonghyun. Soojung merasa ragu –ia hanya bergumam singkat.

“Apa kau memiliki seorang suami?”

Soojung menegakkan duduknya, setelah menarik nafas dalam ia menjawab. “Aku sudah bercerai dengan suamiku –beberapa bulan lalu.”

Choi Jonghyun merapikan lembaran kertas yang sangat ingin Soojung ketahui isinya. Pria berjas putih itu membuka salah satu laci di meja kerjanya –mengambil sesuatu dan menyerahkannya pada Soojung.

“Aku tidak yakin. Maksudku –aku tidak yakin dengan hasil pemeriksaan ini –tapi bisa kah kau menggunakan ini, Soojung-ssi? Aku tunggu hasilnya besok siang –setelah itu, kita adakan pemeriksaan ulang.”

“Kenapa harus besok? Tidak bisa kah aku melakukan pemeriksaan sekali lagi? Bahkan jika aku harus menggunakan benda ini sekarang –aku akan melakukannya.”

Apa kau yakin?

Soojung tertegun. Bahkan sudah enampuluh persen Soojung bisa menebak hasilnya –meskipun Jonghyun tak memberitahunya secara nyata. Perasaan wanita itu bercampur aduk sekarang. Bagaimana jika hal yang sangat ditakutkannya terjadi?

*

*

“Apa yang membuatmu melamun seperti itu, Jung Soojung?”

Choi Sulli datang di waktu yang tidak tepat. Meskipun Soojung meminta Sulli untuk menjemputnya –tapi bukan berarti Sulli harus datang secepat itu, di saat Soojung masih dipenuhi dengan pikiran beratnya. Setidaknya sampai dia bisa mengulas senyum –seperti biasannya di depan sahabatnya itu.

Anniyeo.

Sulli yang bermata cukup jeli tak bisa mengalihkan perhatiannya dari amplop yang bagian atasnya sudah dirobek. “Igeo mwoya?” Tunjuknya pada amplop yang berada di atas pangkuan Soojung.

Sialnya tangan Soojung tak memiliki reflek yang lebih cepat dari pada Sulli. Wanita jangkung itu lantas ingin mengeluarkan kertas dari dalam amplop, namun Soojung mencoba untuk menghentikannya. “Andwae!” Sulli sempat terkejut dengan aksi Soojung. Selama ini –Soojung tak pernah bermain rahasia dengannya, dan aksinya barusan membuat Sulli menarik cepat amplop yang hampir diambil oleh Soojung.

Wae irae, Soojung-ah? Kau melakukan pemeriksaan di rumah sakit ini –dan kau tidak membiarkanku tahu hasil dari pemeriksaanmu? Sebegitu parah kah sakit mu sampai kau tidak ingin memberitahuku –sahabatmu sendiri?” Ucapan Sulli terdengar menekan membuat Soojung merasa sedikit bersalah karena sempat tak membiarkannya tahu hasil dari pemeriksaannya.

Wajah Soojung nampak cemas. Ia khawatir akan reaksi Sulli. Lagi pula –Soojung pun masih tak mempercayai hasil pemeriksaannya. “Sulli-ya, berjanji padaku satu hal.”

Choi Sulli menatap sahabatnya itu dengan tulus. “Aku tidak akan pernah mengkhianati janjiku padaku padamu, Soojung-ah.”

“Jangan pernah memberitahu siapapun mengenai kondisiku saat ini. Aku hanya akan membiarkanmu dan keluargaku saja yang tahu.”

Sulli mengangguk mantap. “Hmm!

Keheningan menyelimuti kedua wanita yang sedang menikmati aroma coklat hangat di salah satu kafe di dekat rumah sakit. Udara yang semakin dingin membuat keduanya ingin menghangatkan tubuh mereka dengan secangkir coklat –di temani dengan sepotong pie apel dan tiramisu.

Salah satu dari mereka menyesap coklat hangat miliknya –dan yang satunya sibuk dengan sendok kecil yang terus memotong pie apel tanpa memakannya.

“Seandainya saja –kalian masih bersama. Bukan kah ini akan jadi berita yang menggembirakan.” Mencoba menghibur, Choi Sulli tak ingin berteriak gembira di depan sahabatnya yang terus nampak merenung. Gadis itu bahagia –sangat. Mengingat temannya telah mengandung janin di dalam rahimnya, Sulli sangat gembira akan menjadi seorang Imo. Namun ia tak bisa meluapkan kegembiraannya saat ini –jika melihat Soojung yang sama sekali tak merasa antusias –bahkan awan mendung seperti menyelimuti mata Soojung.

“Aku sedang tidak ingin berandai-andai, Sulli-ya.”

“Bagaimana dengan Myungsoo? Dia juga berhak tahu mengenai ini.”

Kim Myungsoo.

Kini nama pria itu semakin ingin ia jauhkan dari pikirannya. Soojung tak membenci Myungsoo, dia hanya menghindar dari perasaannya yang menggebu-gebu saat berdekatan dengan mantan suaminya itu.

“Aku –aku ingin merahasiakan ini dari Myungsoo, Sulli-ya.”

Choi Sulli tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Soojung. “Bagaimana mungkin kau akan menjauhkan seorang anak dari ayah biologisnya sendiri nanti jika janin dalam rahim Soojung sudah lahir?”

“Aku tidak mendukungmu untuk hal seperti itu, Soojung. Suatu hari Myungsoo akan mengetahuinya juga.” Lanjutnya.

Jung Soojung mendesah berat. Bukan ini yang dia inginkan –ia pun masih merasa gelisah tentang apa yang harus dilakukannya sekarang. Kejadian malam itu –tidak pernah ia prediksi akan sejauh ini. Kenyataan bahwa hasil pemeriksaannya itu menunjukkan dia hamil –baru satu minggu –membuatnya benar-benar tak percaya.

.. dan janin dalam kandungannya sekarang adalah anak dari Kim Myungsoo –mantan suaminya.

 

To be continue ……….

 

n/b; Cek cek, alohaaaa ‘-‘)/ adakah yang merindukan ff ini? *enggak ada* okey gapapa :’) 
cukup lama juga gak update apa-apa, hukse T^T
Well, akhirnya ngepost ff ini juga setelah melewati masa; tugas-wb-malas-dll pokoknya. Maafkan kalo eps ini gak enak dibaca sama sekali, banyak yang terlalu maksa di beberapa adegan soalnya T___T Maaf juga kalo plotnya kecepetan, udh greget pengen ke klimaks hihihi :’)

Okey, sampai disini dulu. Kelanjutan mp mungkin bakal aku pos dua minggu lagi😉
sampai ketemu di ep berikutnya *lambai-lambai*

jangan lupa saran dan kritiknya ^^

27 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep. 05)

  1. Akhirnya soojung hamil yeaaayyy.. bahagia.. semoga myungsoo segera tahu…
    Btw ibu tirinya myungsoo ambisius banget.. kesel sendiri jadinya.. aduuh.. sooji.. harusnya kamu menentang ibumu doong.. dia udah kelewat batas tuuh..
    Ditunggu lanjutannya…

  2. astagaaaaaa, tengah malem aku baca dan glesot2 sendiri di pojokan kasur pas baca bagian ‘aku mendengarmu, myungsoo’. dan pas bagian soojung nunggu hasil aku ikut deg2an :3 terus–soojung hamil??!!!!! aaa myungie apa yg kau lakukan setelah hidung kalian bersentuhan?/mikirkeras/
    kai pacaran sm tiang listrik aja gimana? lucu gitu ejek2annya :3
    EONNI INI MAKIN DAEBAK!!! tp jujur dari awal baca aku nunggu bagian ‘malam itu’ diceritain/halahhh/ aku suka bgt pembawaannya, seperti biasa ini santai dan menyenangkan^^ ditunggu chapter selanjutnyaaa, maafin panjang komennya :3 hwaiting!!!❤

    • Duhh aku aja gak kuat nulisnya, makanya agak belibet buat jelasin kalo soojung hamil wkwk .. jebbal jangan dipikirin, aku bingung mau bikin side story yg pas ‘malem itu’ hahaha *spoiler dikit* muehehe …
      Ohh harus kah aku bikin kai jadian sama tiang listrik? Padahal aku mau jadi calonnya kai *lhaa* ><

      • tapi sukses banget weheeeee sukasukaaaaa. gasabar nunggu eps 6 nya huhuuuu
        ya nggak harus sih eon, kalo mau masukin stalkim juga gapapa :3

  3. Aww aww soojung hamil, harus segera balik ke myungsoo tuh >.< hhuaaa udah gak sabar nunggu next chapternya !! Di post nya minggu depan aja thor gmna ? Minta diskon seminggu *plak pakek acara nawar* hhihii
    Author-nim jjaanngg !!

    • Mari tebar confeti buat kehamilan soojung *duaaarr* hahaha .. soojung masih ngeyel tuh, padahal udh didorong dorong biar balik ke myung *lelah hayati kasih taunya* :’)
      Diskonnya jangan kebanyakan ya, nanti aku bangkrut trus gelar tikar, ohh tidaaaak *lha*😄

  4. yeay!!! soojung hamil…
    Kai sama Sulli aja tuh, gk usah ngejar ngejar soojung lagi!
    dan do’a ku
    semoga myungsoo cepat tau soojung hamil, semoga author bisa post mp tepat waktu kalo bisa lebih cepet ,dan semoga aku ada kuota AMINNNN….

    semangat ya author!

    • Yeayyy~
      Mesti tumpengan kah buat kehamilannsoojung? Haha😄 biar lah si myung cari tau sendiri muahaha..
      Maafkan keterlambatan ngepost selama ini hehehe .. harus kah kai sama suli? Padahal aku mau nawarin diri buat jadi pacarnya kai :’)
      Btw, thanks komen dan doanya hahaaa

  5. kaya chapter2 sebelumnya, ceritanya menarik banget buat dibaca.
    soojung ini tipikal lead female character banget yah di drama. haha. kayanya bakal ada sesuatu yg terjadi deh ke soojung, diliat dari percakapannya lee hyori itu.
    next chapter ditunggu yaa.

    • Ouwhuuu, thanks before ^^
      Yaaps, aku suka banget bikin soojung jadi lead female hehe .. pantes aja gtu buat dia 😀

  6. author, please lanjut ff ini.. udah 2 minggu lebih loh..😦
    penasaran sama lanjutannya, pkoknya myungsoo harus tau kalo soojung lg hamil anak dia, biar mereka bisa cepet rujuk..
    next chapter jangan lama2 ya thor😦

    • halooo~
      waah maaf yaa, aku lagi uts .. makanya belum update mp, ku pun sedih😦
      mp nya masih dalam tahap revisi yaaa, gak akan lama lagi kok😉 yang ini beneran janji :’)

  7. Thor kok sampai maret belum ada lanjutannya hiks:’3 soojung hamil haha akhirnya udh balik ajaa

    • hai~
      maaf yaaa, mp nya belum diupdate .. aku masih uts, jadi belum bisa update apapun hukse😦
      stay tune yaa, gomawoo~

  8. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06) | myungsOOjung·

  9. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s