[ONESHOT] Last Autumn

last autumn ok

Last Autumn

Stalkim98||Kim Myungsoo, Jung Soojung||AU, romance, mistery(?)||pg-17||Oneshot (4810w)

Summary: Myungsoo langsung tertarik dengan gadis yang membantunya tentang musim gugur terakhir, dan penyesalannya pun datang saat musim gugur terakhir.

Desclaimer: Cast hanya milik Tuhan dan saya hanya pinjam nama. Plot 100% pure hasil pemikiran saya. Happy reading^^

Warning: Typo(s), weird

 .

.

Musim gugur masih menyapa Seoul. Angin dingin menyentuh kulit dan membuat bulu-bulu berdiri. Daun-daun yang sudah berganti warna–menjadi kuning atau jingga–menghiasi pinggiran jalan. Beberapa keluarga melangkah pelan sambil menenteng payung panjang–takut jika hujan tiba-tiba turun– sambil berbincang. Suara tawa anak-anak turut menghiasi taman duduk di tepi jalan.

Sepasang kaki melangkah pelan. Rambut ekor kudanya bergoyang ke kanan-ke kiri. Wajah sang empunya sedikit muram tatkala menoleh ke sekeliling jalan–yang dihiasi dengan kebahagiaan beberapa keluarga. Matanya tampak sayu. Bibirnya tidak bergerak–masih lurus–, enggan menunjukkan sebuah senyuman di pagi yang damai. Tangannya mengeratkan jaket biru tua yang menutupi seragam cokelatnya.

Kepala gadis itu kini lurus memandang ke depan. “Eomma, Appa, ah, aku begitu kesepian,” lirihnya.

.

Satu detik setelah ia membuang napas kecewanya.

Duarrr!!!

 

Suara jeritan seorang gadis menyeruak ke seluruh jalan.

Arghhh…” erang gadis itu sambil memegang kakinya yang sangat sakit. Kepalanya menoleh, menatap seorang pengendara sepeda motor yang baru saja menabraknya.

Dilepasnya jaket biru tuanya dan ia letakkan kepala ‘sang tersangka’ di atasnya. Tangannya menepuk-nepuk pipi yang sedikit chubby itu.

Semua orang yang ada di pinggiran jalan berhambur mengerubungi dua orang asing di jalan yang seketika menjadi lebih ramai. Seseorang di antaranya sudah menempelkan ponselnya dan memanggil ambulan.

Gwaenchanha-yo?” Matanya menatap mata laki-laki yang juga menatapnya sebelum tertutup.

Gwaenchanha-yo?” Kim Myungsoo masih mendengar suara itu. Suara gadis yang ia sendiri tidak tahu siapa. Ia ingin menjawab pertanyaan itu, tetapi lidahnya kelu. Bibirnya pun tidak bisa digerakkan. Matanya menatap mata gadis yang tengah menepu-nepuk pipinya, sebelum semuanya menjadi gelap.

Beberapa orang segera membawa Kim Myungsoo masuk ke dalam ambulan yang baru saja datang. Tidak lupa, gadis yang menjadi korban Myungsoo pun ikut serta karena kaki kanannya yang terluka parah. Beberapa orang lainnya–wanita-wanita–yang ada di sana menutupi mata anak-anaknya, ada pula yang sudah menggendongnya karena sudah menangis melihat banyak darah yang bercucuran.

Polisi pun mulai berdatangan dan mengamankan sepeda motor besar milik Myungsoo. Seorang pria 30 tahunan sedang diwawancarai mengenai kejadian yang membuat musim gugur yang damai menjadi riuh dan penuh luka.

“Saya hanya mendengar gadis tadi menjerit dan pria yang mengendarai motor sudah jatuh, sedikit jauh dari motornya,” ucapnya jujur.

Seorang perawat menutup sebuah pintu kamar yang cukup besar. Ia tersenyum sambil membungkuk sedikit pada gadis yang juga membungkuk padanya.

Sebuah tangan mungil membuka pintu kamar Myungsoo. Ia melangkah dengan susah payah. Kaki kanannya dibebat. Langkahnya terus menimbulkan suara karena bergesekan dengan lantai. Baju seragam cokelatnya masih menempel pada badannya.

Ditariknya sebuah kursi di samping tempat tidur Myungsoo. Ia membuang napasnya panjang. Matanya tidak luput dari wajah Myungsoo yang penuh dengan luka.

Gadis itu menghela napasnya–lagi–. “Dasar pria gila! Bagaimana bisa aku harus menanggung semua ini? Kau yang menabrakku, tapi aku yang membayar seluruh biaya rumah sakitmu?” Ia menghentikan makiannya sebentar. “Aku bahkan tidak tahu siapa namamu. Ah, merepotkan saja!” Ia mengusap wajahnya kasar. Sesaat kemudian senyumnya mengembang sambil ditatapnya wajah Myungsoo yang sedikit membuatnya damai–hanya sedikit–. “Tapi bagaimana pun juga aku harus berterima kasih padamu. Berkat kau, orang tuaku akan menghabiskan sisa hari ini bersamaku,” ucapnya kemudian.

Musim gugur yang berlangsung sejak bulan September lalu membuat suasana damai di tiap penjuru negeri. Tak terkecuali pada sepasang kekasih yang tengah bercengkerama di taman kota. Angin bertiup lembut dan membuat tangan sang gadis menyelipkan beberapa rambutnya yang terjuntai ke belakang telinga.

“Sooji-ah, apa harapanmu hari ini?”

Gadis yang dipanggil Sooji memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan. “Semoga kau mendapat kekasih yang baik.”

Kim Myungsoo, yang ada di hadapan Sooji tertawa kecil. “Kau selalu mengatakan hal itu. Aku sudah memilikinya, Sooji-ah.”

Sooji hanya tersenyum dan menatap mata Myungsoo.

Abeoji! Abeoji!” Myungsoo terduduk lemas sambil berusaha meraih tangan ayahnya yang mulai menjauh bersama polisi yang baru saja mengobrak-abrik rumah mewahnya.

Badannya yang lemas direngkuh ibunya. Ia terus menangis. Matanya menatap pada ayahnya yang mulai menghilang dan sesekali memalingkannya pada seorang pria tua dengan kacamata hitam yang menutupi mata tengah menyesap rokoknya.

Eomma! Eomma!” Myungsoo berteriak memanggil ibunya. Biasanya, saat ia pulang dari sekolah, ibunya akan menyambutnya dengan pelukan hangat dan semangkuk sup sapi kesukaannya.

Telepon rumah yang ada di dekatnya tiba-tiba berbunyi. Tangan kanannya langsung meraih gagang teleponnya dan menempelkannya pada telinganya.

Eomma…” lirih Myungsoo.

“Kim Myungsoo-ssi? Ini dari pihak rumah sakit jiwa. Jangan khawatir, ibumu ada di sini bersama kami. Saat ini beliau tidak bisa dijenguk.”

Tanpa memberikan lawan bicaranya kesempatan bicara, sambungan telepon diputuskan secara sepihak.

Senyuman miring tercetak di wajah Myungsoo. Ia mendengus sambil menatap gadis di hadapannya.

“Kau menuduhku tanpa bukti, Sooji-ah.”

Sooji menggeleng. “Aku tidak berpikir seperti itu. Jelas-jelas aku melihatmu dengan Son Naeun sedang berpandangan dan wajah kalian sangat dekat, lalu aku pikir–“

“Baek Sooji, hentikan omong kosongmu itu!” bentak Myungsoo.

Sooji menatap kea rah lain. “Kau yang berbicara omong kosong Myungsoo. Bahkan kau tidak punya alasan untuk itu, kan?”

“Sooji-ah–“

Sooji mendorong kursinya ke belakang dan memutus ucapan Myungsoo–yang baru saja mengucapkan namanya–. “Aku mau pulang.”

Myungsoo hanya menatap punggung kekasihnya yang mulai mengecil. Ia mendesah keras.

Satu menit.

Dua menit.

Sepuluh menit.

Ia berdiri dan merutuki hidupnya yang sudah tidak memiliki harapan. Myungsoo mulai menaiki sepeda motornya dan melaju dengan kencang.

Pagi itu, angin musim gugur berhembus cukup kuat. Menyentuh kulit dan membuat bulu-bulu berdiri. Daun-daun yang sudah berganti warna–menjadi kuning atau jingga–menghiasi pinggiran jalan. Myungsoo tetap mengabaikan daun-daun yang menghujani tubuhnya. Ia tetap melajukan motornya dengan cepat. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang sudah siap jatuh dari pelupuk.

BRUKKK!!!

Myungsoo merasa tubuhnya menghantam jalanan yang cukup keras. Wajahnya juga terasa perih dan sangat sakit. Ia ingin berteriak meminta tolong. Meminta tolong untuk membunuhnya, karena ia sadar ia masih hidup.

Seorang gadis tiba-tiba menepuk pipinya. Lembut. Itulah yang dirasakan Myungsoo. Matanya masih sedikit terbuka dan menatap gadis dengan mata bulat yang meneduhkan. Ia bisa melihat rambut bergelombang milik gadis itu ketika gadis itu sedang menoleh mencari bantuan.

Gwaenchanha-yo?”

Sedetik kemudian, mata mereka bertemu.

“KIM MYUNGSOO-SSI!”

Kedua mata Myungsoo mengerjap. Dahinya mengernyit melihat seorang gadis yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar. Matanya menyipit. Ia mengamati gadis berambut panjang bergelombang dan berusaha mengingatnya.

“Apa aku mengenalmu?” tanya Myungsoo.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

“Kau mengenalku?”

Kepala gadis itu mengangguk. “Geureom!” sahutnya cepat.

Neo, nuguya?”

“Krystal.”

Myungsoo semakin mengernyitkan dahinya. Ia memandang ke jendela besar yang ada di kamarnya.

Krystal mendesah melihat tingkah Myungsoo. “Kau masih ingin duduk di ranjangmu atau mau ikut denganku?”

Myungsoo sedikit terkejut. Matanya menatap Krystal yang juga menatapnya tajam. “Memang kita mau ke mana?”

Krystal mendengus. “Kita harus menyelesaikan sebuah misi, Kim Myungsoo-ssi,” ucapnya sambil menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Melihat Myungsoo yang semakin mengernyitkan dahinya, Krystal langsung menarik lengan Myungsoo.

Myungsoo berdiri dan meraih coat cokelat yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Ia berjalan mengikuti gadis yang juga mengenakan coat senada dengan milik Myungsoo. Myungsoo memerhatikan langkah kaki Krystal. Ia bisa melihat kaki kecil gadis itu karena rok 3 senti di atas lutut yang sangat pantas dikenakan gadis itu. Kakinya tampak baik-baik saja, tetapi langkahnya terseok-seok. Myungsoo mengernyit, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah terakhir kali membuka matanya saat….

“Kau mengalami kecelakaan dua hari yang lalu.” Krystal menghentikan langkahnya saat sampai di tepi jalan dengan pohon besar yang berdiri kokoh dan tengah menggugurkan daun, menimpa kepala Krystal juga Myungsoo. “Kau tersangka dalam kecelakaan itu,” ucapnya lagi. Ia berhenti untuk melihat reaksi Myungsoo. Krystal tersenyum miring saat Kim Myungsoo memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan tatapan jelaskan-padaku-bagaimana-aku-menjadi-tersangka. “Kau sudah menabrak seorang gadis.”

“Aku tidak ingat.”

Krystal tidak menanggapi ucapan Myungsoo dan langsung berbalik. Kakinya mulai melangkah. Myungsoo yang melihatnya hanya mendengus dan menyumpahi gadis yang berjalan dengan langkah gontai.

“Sebenarnya kau siapa, Krystal-ssi? Dan bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul seperti tadi?”

Krystal menoleh dan mendapati Myungsoo sedang menyejajarkan langkah di sampingnya. Krystal menggedikkan bahunya. “Entahlah, tapi kupikir aku di sini karena Ayah dan Ibumu.”

Myungsoo memiringkan wajahnya. “Ayah dan ibu?”

Krystal mengangguk. “Dan aku adalah malaikat.”

Kim Myungsoo tertawa keras dan membuat Krystal menatap tajam padanya. Sesaat setelah menyadari gadis di sebelahnya menatap tajam padanya, Myungsoo menghentikan tawanya. Ia tersenyum kaku pada Krystal dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Langkah Krystal kembali terdengar berat. “Kau tidak percaya padaku? Aku bisa membantumu mendapatkan hidupmu seperti sebelumnya.” Krystal mengatakannya tanpa berniat menatap Myungsoo. “Kau ingin pergi ke masa lalumu?”

Myungsoo merentangkan kedua tangannya di hadapan Krystal. Ia menghentikan langkah gadis itu. “Ke masa lalu? Maksudmu saat aku masih kecil?” Myungsoo memiringkan wajahnya sambil memasang wajah bingung. “Kau bercanda?”

Krystal memukul pelan kepala Myungsoo dengan jari telunjuknya. “Bukan itu, Bodoh! Saat kau ditinggal ayah dan ibumu.”

Perlahan kedua tangan Myungsoo melemas dan kembali sejajar dengan tubuhnya. “Kau bisa?” Matanya menatap sendu pada Krystal. Yang ditatap hanya mengangguk. “Bagaimana caranya?”

“Kau hanya bisa melakukannya saat musim gugur terakhir tiba. Saat tanggal 22 November. Hanya itu kesempatanmu.”

Mata Myungsoo terbelalak mendengar jawaban Krystal. Kedua tangannya sudah berada di bahu Krystal dan mengguncangnya. “Kapan musim gugur terakhir itu datang?”

“Dua hari lagi.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Myungsoo mengatupkan bibirnya, menanti jawaban Krystal. Matanya kembali melebar, ia mengingat sesuatu. “Sooji–terakhir kali aku bertemu dengannya, ia sangat marah padaku. Aku juga harus memperbaiki hubunganku dengannya.”

Krystal menggeleng. “Kau lebih baik memutuskannya.”

Wae?” Kedua manik mata Myungsoo menatap tajam mata Krystal. “Bukankah kau seharusnya mengatakan hal yang lebih baik dari itu? Kau bilang kau malaikat? Tetapi mengapa kau mengatakan hal yang tidak ingin kudengar? Bahkan, jalanmu saja tidak becus!” Myungsoo melangkah menjauh, meninggalkan Krystal. Meski telah beberapa kali Krystal berteriak memanggil Myungsoo, pria itu tidak juga menghentikan langkahnya.

“Seharusnya kubiarkan saja kau mati dengan membawa sejuta penyesalan! Ya! Neo-NEO NAPPEUN NAMJA! PRIA BODOH! MYUNGSOO-AH KEMARI, KAU TIDAK BISA MEMILIH JALAN YANG SALAH! MYUNGSOO-AH!”

Myungsoo menghentikan langkahnya.

YA! AKU MEMANG TIDAK BECUS BERJALAN. NEO ARA? INI SEMUA KARENA PRIA BODOH YANG SALAH MEMILIH JALANNYA! PRIA BODOH YANG–“ Krystal mulai terisak. “Tidak bisakah kau kembali? Bukankah caramu berjalan lebih baik daripada aku? Aku benar-benar tidak bisa menyusulmu.”

Myungsoo mendesah kecil sebelum akhirnya berbalik. Ia berlari kecil menuju Krystal yang sudah terduduk di tengah jalan dengan daun-daun yang menghiasi seluruh jalan.

Disejajarkannya tingginya dengan tinggi Krystal. Kedua tangannya ia tangkubkan di kedua pipi Krystal, lalu mengangkatnya agar manik mata indah milik gadis yang mengaku malaikat itu dapat disambangi matanya.

“Aku baru tahu jika malaikat bisa menangis.” Setelah mengatakan satu kalimat yang membuat Krystal mengusap pipi, Myungsoo berjongkok membelakangi Krystal. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggungnya. Seakan mengerti maksud Myungsoo, Krystal naik ke punggung Myungsoo.

“Ah, apa menjadi malaikat menyenangkan? Kau berat sekali, pasti kau banyak makan,” goda Myungsoo sambil terkekeh kecil. Krystal hanya diam dan tidak mengeluarkan bunyi apapun, kecuali bunyi napasnya yang dapat dirasakan pria itu.

“Krys, apa sebelumnya kita pernah bertemu?”

Krystal masih diam sambil menyandarkan dagunya pada bahu Myungsoo dan membuat pria itu sedikit menggeliat.

“Sebenarnya mau ke mana kita?” Tidak juga mendengar jawaban dari pertanyaannya, Myungsoo menghentikan langkahnya. “Kau marah? Apa malaikat bisa marah? Kalau kau tidak menjawabku, aku akan pulang.”

“Terserah kau jika kau masih ingin hidup seperti ini.”

“Apa maksudmu seperti ini, eoh?” Myungsoo menolehkan kepalanya tepat di depan wajah Krystal yang menyembul dari balik bahunya.

Krystal menarik kepalanya perlahan. “Ambil kanan,” ucapnya kemudian.

Myungsoo menghela napasnya pelan dan memperbaiki posisi Krystal. Kakinya melangkah ke arah kanan di jalan bercabang yang dipenuhi daun-daun berwarna kuning dan jingga–daun khas musim gugur.

Kedua mata Kim Myungsoo melebar. Mulutnya sedikit terbuka. Ia menurunkan Krystal tanpa sengaja. Krystal yang mengerti maksud Myungsoo menoleh pada Myungsoo. Ia menatap sedikit lama pada pria itu sebelum menjelaskan apa yang ada di hadapan mereka.

Kepala Myungsoo berputar menghadap Krystal. “Di mana kita? Dan siapa mereka?” tanya Myungsoo sambil menolehkan kembali kepalanya pada bangunan besar di hadapannya dan di dalamnya ada dua orang laki-laki tua bersetelan hitam-hitam.

Krystal menyelipkan rambutnya ke belakang saat angin meniuonya. Ia lalu tersenyum kecil dan mengikuti arah pandang Myungsoo. “Teman kerja ayahmu. Bukankah kau pernah melihat yang itu?” Jari telunjuknya terarah ke salah satu laki-laki dengan kacamata hitam yang menutup matanya dan tengah menyesap rokoknya.

Bahu Myungsoo terangkat. “Entahlah, kurasa begitu.” Myungsoo menoleh cepat. “Apa hubungan mereka dengan misi kita ini, Krys?”

“Ayo ikut aku.”

Myungsoo mulai melangkah di belakang Krystal.

“Kau ingin masuk?” tanya Krystal saat mereka berada di samping dinding besar bangunan itu.

Myungsoo mengerjapkan matanya, menimang-nimang pertanyaan Krystal. “Bagaimana kalau mereka melihat kita?”

Krystal menatap Myungsoo sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat. “Kau tidak ingin?”

“Aku hanya takut.”

Sebuah senyuman tersungging di wajah gadis yang ada di hadapan Myungsoo. “Apa yang kau takuti? Bagaimana kau bisa hidup jika kau takut akan hal kecil? Kau seperti sedang meragukan dirimu sendiri.”

Myungsoo menghela napas. “Baiklah, aku ingin masuk.”

Senyuman di wajah Krystal lebih lebar. “Myungsoo-ah, tidak ada yang perlu kau takuti di dunia ini, kecuali satu hal: rasa takut itu sendiri.” Krystal meraih tangan Myungsoo dan menariknya.

“Rincian dananya sudah kuubah. Kau tidak perlu khawatirkan itu. Rincian dana yang asli sudah tersimpan dengan baik.”

Kepulan asap keluar dari dalam mulut pria berkacamata hitam. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Aku sudah memberikannya pada anak buahku. Dan kurasa polisi sedang dalam perjalanan menuju rumah Kim Jin Woo.” Tangannya terulur meraih sebuah cangkir berisi kopi hitam.

Sepasang mata menatap mereka tajam. Kedua tangannya sudah mengepal.

“Krys, di mana mereka menyimpannya?”

Yang dipanggil segera mendongakkan kepalanya–meninggalkan kakinya yang sangat lelah. Ia menoleh menatap dua pria tua yang tengah berhadapan sambil menyunggingkan sebuah seringaian. “Aku juga tidak tahu. Kita tunggu saja sampai mereka membicarakannya.”

Han Hyung Wook lagi-lagi menyesap rokoknya dan mengembuskan asap dengan keras. “Di mana berkas-berkas itu sekarang?”

Tangannya terjulur dan meletakkan kopi yang baru beberapa kali disesapnya. Sebuah seringaian lagi-lagi tersungging di wajahnya. “Untuk saat ini ada di rumahku.”

“Kau gila?! Bagaimana jika polisi juga menggeledah rumahmu? Aku pasti akan tertangkap, Bodoh!”

“Tenag saja. Aku akan menempatkannya di tempat yang lebih aman. Tunggu saja beberapa hari lagi, setelah aku menjadi direktur. Tanggal dua puluh satu aku akan melakukan perjalanan bisnis selama satu minggu ke Busan dan setelah itu aku akan mengeluarkannya dari laci meja tempat kerjaku.”

Tangan kanan Han Hyung Wook mengepal. “Kau benar-benar licik, Oh Joon Gyu.”

“Myungsoo-ah, neo gwaenchanha? Apa kita harus menghentikan misi ini?”

Myungsoo menggeleng. “Aku hanya masih memikirkan di mana rumah Oh Joon Gyu.”

Krystal tersenyum. “Itu tugasmu. Kau harus mencarinya saat kau sudah sadar, Myungsoo-ah.”

Dahi Myungsoo mengernyit, tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

Krystal enggan menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia malah menarik tangan kiri Myungsoo agar mengikutinya. Sebenarnya, kaki Krystal masih sakit. Sangat sakit. Tapi, misi adalah misi. Mereka harus segera menyelesaikannya agar Krystal bisa pergi.

Kali ini wajah Myungsoo benar-benar merah. Ia menatap tajam pada Han Hyung Wook yang sedang berdiri di ambang pintu sebuah kamar putih sambil menyesap rokok. Tangannya mengepal. Ia melangkah maju agar bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan Han Hyung Wook dengan seorang perawat sambil menatap seorang wanita berumur 40-an yang tengah duduk di atas ranjang.

Krystal menepuk bahu Myungsoo. “Apa yang ini kau juga tidak tahu?”

Myungsoo mengangguk. “Kurasa begitu. Aku hanya tahu ibuku masuk rumah sakit jiwa, tanpa tahu alasannya. Dan ternyata Han Hyung Wook keparat itu yang sudah menghancurkan keluargaku!”

“Jangan sampai kau menghubungi siapapun. Aku sudah membayarmu mahal, dan uruslah wanita itu. Anak buahku juga akan berjaga di depan kamarnya.”

Rahang Myungsoo mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat.

“Krys, bagaimana aku menyelesaikan yang ini?” Myungsoo memutar kepalanya menghadap Krystal.

Gadis itu pun sudah lebih dulu menatap Myungsoo. Matanya menelusuri manik mata Myungsoo. Ia tahu bahwa pria itu sedang sangat resah. “Myungsoo-ah, kau tahu kan, kau harus menyelesaikan ini setelah kau sadar? Aku hanya dibebani misi ini, dan kau yang harus menyelesaikannya sendiri.”

Air mata sudah menggumpal di pelupuk pemilik mata elang itu. Tesss. “Neo–jangan katakan, Krys. Kau yang mengajakku memulai misi ini, dan sekarang maksudmu aku harus menyelesaikannya sendiri?”

Krystal tersenyum getir dan mengangguk. “Myungsoo. Kau harus yakin dengan dirimu sendiri. Kau pasti bisa melakukannya, eoh? Ingat, kau hanya bisa melakukannya saat musim gugur terakhir, dan itu akan berlangsung dua hari lagi, tepat tanggal 22 November. Aku percaya padamu, Myungsoo-ah,” ucap Krystal.

Myungsoo diam. Ia menghela naps berat. Sesaat kemudian bibirnya terbuka. “Kuharap begitu, Krys,” ucapnya lirih. “Kemana kita sekarang?”

“Kau harus pulang dan bangun dari tidurmu.”

“Lalu, bagaimana dengan Sooji?” tanya Myungsoo. Angannya sudah diletakkan di atas bahu Krystal dan mengguncangnya pelan.

“Aku sudah katakan ,bukan, kau lebih baik memutuskannya.”

“Kau berbicara seperti itu lagi. Tidak bisakah kau memberi tahu jalan lain selain mengakhiri hubungan lain. Aku masih mencintainya!”

“Kau yang mencintainya, tetapi ia tidak, Myungsoo-ah. Kalau kau masih bersikukuh, saat musim gugur terakhir, datanglah ke Kafe di pinggiran sungai Han pukul tiga sore, Sooji ada di sana.” Krystal menghela napas pendek. “Sudahlah, ayo pulang, aku sudah sangat lelah. Dan kita sudah pergi sehari penuh. Aku sampai tidak sadar ini sudah malam.” Krystal mendongak, memerhatikan langit. Bibirnya tersenyum tipis. Kedua tangannya merapatkan coat yang membungkus tubuhnya. Ia benar-benarmerasa begitu dingin.

Sedangkan Myungsoo sudah berbalik hendak melangkah. Sebelum langkah pertamanya berhasil dilakukannya, suara Krystal sudah memenuhi telinganya.

“Aku sangat lelah, Myungsoo-ah, tidak bisakah kau menggendongku seperti tadi pagi?”

Myungsoo sudah berjongkok di hadapan Krystal. Gadis itu langsung naik tanpa diberi aba-aba. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Myungsoo.

“Sedikit hangat.”

Mereka berjalan dalam hening. Hanya suara angin yang berbisik pelan. Suasana damai musim gugur begitu terasa. Sepanjang jalan yang mereka lewati, selalu berhiaskan pepohonan yang masih setia membiarkan daun-daunnya berjatuhan.

“Kau tahu, Myungsoo-ah, apa yang paling indah dari musim gugur?” Krystal diam sejenak. Ia lalu melanjutkan, “aku bisa bertemu denganmu.”

Myungsoo tersenyum miring. “Apa hanya itu yang ada di pikiranmu, Bodoh? Aku bahkan sangat tidak bersyukur bisa bertemu dengan gadis yang mengaku malaikat sepertimu. Merepotkan saja,” ucapnya.

Krystal memukul kepala Myungsoo dan membuat pria itu menringis kesakitan. Myungsoo tidak membalas bahkan dengan kata-kata sekalipun.

“Myungsoo-ah, jika kau sudah sadar, apa kau masih mengingatku?” Krystal menangkubkan dagunya ke bahu Myungsoo. “Aku sangat berterima kasih padamu, Myung.”

Myungsoo menghentikan langkahnya dan menurunkan Krystal saat sampai di depan rumah Myungsoo. Rumah yang setiap hari menjadi saksi hidupnya terasa asing baginya. Suasana yang sangat berbeda.

“Masuklah, aku akan pergi.” Krystal tersenyum. Ia melambaikan tangan pada Myungsoo yang masih diam menatapnya. Kakinya melangkah dengan sedikit berat.

Krystal sedikit terkejut saat sebuah tangan mencekal tangan kanannya dan membuatnya berputar. Myungsoo kini berdiri di hadapannya.

“Bisa aku menarik ucapanku, Krys?” Sebelah alis Krystal terangkat, tidak mengerti dengan maksud ucapan Myungsoo. Myungsoo menghela napas. “Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu.” Sedetik kemudian Myungsoo menarik tangan Krystal dan memagutkan bibirnya pada bibir gadis itu.

Seorang gadis menutup pintu sebuah ruangan di rumah sakit. Sudah tiga hari sejak kecelakaan itu, ia terus mengunjungi pria yang masih terbaring di ranjang. Ia melangkah dengan kaki yang masih dibebat. Langkahnya gontai. Rambut panjangnya yang terurai bergoyang ke kanan ke kiri. Tangan kanannya menempelkan ponselnya di telinga.

Eomma, Appa masih belum menemukan identitasnya?” tanyanya pada seseorang di seberang.

Ia menghela napas berat. “Arasseo. Eo, ini aku akan pulang. Kondisinya sudah lebih baik.”

Setelah meletakkan ponselnya di dalam tas bahunya, ia pergi meninggalkan rumah sakit.

Sepasang mata mengerjap. Kepalanya menoleh, memerhatikan ruangan yang ditempatinya. Tangannya kemudian terangkat, memperlihatkan punggung tangannya yang masih terbalut infuse. Ia lalu menghela napas pelan.

Didudukkannya dirinya di atas ranjang tidurnya. Kepalanya menggeleng. Diturunkannya kakinya pada lantai yang sangat dingin. Ia melepas infuse dan segala peralatan medis yang menempel padanya. Ia tidak merasa sakit sama sekali, hanya saja ia masih tidak mengerti.

Jeogi–sekarang tanggal berapa, ya?” tanyanya pada salah seorang pengunjung.

“Dua puluh satu,” jawab orang itu singkat.

Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera pergi meninggalkan rumah sakit. Memang bukan hal yang rasional, mengingat ia sendiri tidak tahu apakah biaya rumah sakitnya sudah lunas atau belum. Yang ada di pikirannya adalah musim gugur terakhir. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat orang lain selain gadis yang mengaku malaikat padanya; Krystal.

Kim Myungsoo memandang ke sekitar rumahnya. Suasana yang berbeda saat terakhir kali ia menginjakkan kakinya bersama Krystal. Myungsoo yakin, Krystal bukanlah mimpi. Gadis itu benar, mengenai Han Hyung Wook dan Oh Joon Gyu. Tapi ia sama sekali tidak mendengar ucapan Krystal mengenai Sooji, kekasihnya.

Kedua tangannya merapatkan coat berwarna cokelat–yang diingatnya berwarna senada dengan milik Krystal saat ia bertemu dengan gadis itu. Ia melangkah dalam keheningan malam musim gugur yang hampir berakhir. Ia tidak peduli saat angin menyentuh wajahnya atau saat daun-daun dari pepohonan di tepi jalan menimpa dirinya. Tangannya menggenggam sebuah kertas berisi alamat sebuah rumah.

Sebuah senyuman tercetak di wajah Myungsoo yang masih penuh dengan luka memar. Ia mengamati sebuah rumah besar yang berdiri di tengah rumah-rumah elit lainnya.

“Han Hyung Wook, Oh Joon Gyu, besok adalah waktu yang tepat. Kebenaran akan segera terungkap. Keluarga yang kalian hancurkan akan kembali untuh, dan keluarga kalian lah yang akan hancur.”

Kepalanya mendongak menatap langit. “Krys, aku akan melakukannya sendiri. Kau masih percaya padaku, kan?”

Musim gugur terakhir. Tepat pukul delapan SKT, Myungsoo memencet bel sebuah rumah yang malam tadi ia perhatikan.

“Ada perlu apa?”

“Aku kemari ingin mengambil barangku yang terbawa Tuan Oh Joon Gyu. Katanya aku bisa langsung mengambilnya di ruang kerjanya.”

Myungsoo menapaki setiap anak tangga dengan perasaan yang tidak karuan.

“Apa perlu kuambilkan?”

Myungsoo menoleh kea rah wanita tua yang berdiri di sampingnya. “Ah, sebenarnya ya, tapi apa pekerjaanmu tidak banyak?”

Wanita tua itu mengibaskan tangannya. “Ayo masuk,” ucapnya setelah membuka pintu. “Apa Tuan memberitahumu di mana barang itu?”

Myungsoo mengangguk. “Di laci meja kerjanya. Tapi, apa tidak apa-apa kita membukanya?”

Gwaenchanha, aku sudah dua puluh tahun tinggal di sini. Kemarilah, kau cari sendiri, aku tidak mengerti barang seperti apa yang kau cari.”

Myungsoo melangkah mendekat. Tangannya mengambil sebuah amplop cokelat besar dan tebal yang diyakininya sebagai bukti. Dibukanya amplop itu. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya.

Ahjumma, gomawoyo.”

“Kau sudah mendapatkannya?”

Myungsoo mengangguk dan tersenyum. “Ya. Aku pamit dulu.”

“Kau tidak mau minum dulu?”

“Tidak terima kasih.” Myungsoo meninggalkan sebuah senyuman sebelum melangkah keluar dari rumah besar itu.

Senyum di wajah Myungsoo mengembang kala melihat seorang lelaki berumur 50-an muncul dari pintu. Ia tahu ia hanya punya waktu tiga menit untuk berbicara pada orang yang sudah delapan belas tahun ia panggil dengan sebutan Abeoji itu.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya ayah Myungsoo–Kim Jin Woo– dari balik kaca yang ada di hadapan Myungsoo.

Myungsoo tersenyum kecil, mengingat luka-luka lebam di wajahnya yang belum menghilang. “Gwaenchanhayo Abeoji. Aku hanya jatuh dari sepeda motor,” ucap Myungsoo berusaha menenangkan ayahnya. “Mianhae, aku sekarang tidak tahu di mana sepeda motor yang Abeoji berikan saat umurku tujuh belas tahun. Saat aku membuka mataku, sepeda motor itu sudah tidak ada.”

Ayah Myungsoo mengibaskan tangannya. “Asal kau sudah tidak apa-apa, Myungsoo-ah.”

Myungsoo tersenyum getir. “Abeoji, ada yang ingin kutanyakan?” Myungsoo mengambil jeda. “Apa yang Abeoji lakukan ketika di dalam penjara?”

Dahi ayah Myungsoo berkerut. “Apa kau bertanya tentang kau?” Laki-laki itu tertawa kecil. “Selama aku di sini, aku selalu berdo’a dan berharap agar kau lekas mengunjungiku. Hanya wajahmu yang ingin sekali kulihat. Bahkan Ibumu kalah selangkah darimu.” Ia terkekeh pelan. “Kau tidak kemari dengan neo eomma?”

Air mata Myungsoo mulai menetes pelan. Ia segera mengusapnya. “Mianhae Abeoji, aku baru bisa mengunjungi Abeoji hari ini, dan Eomma tidak bisa ikut.” Myungsoo menyunggingkan senyuman tipis. “Abeoji, apa Abeoji mengenal Han Hyung Wook dan Oh Joon Gyu?” tanya Myungsoo sebelum ia lupa akan hal penting ang menjadi seharusnya menjadi pokok pembicaraannya bersama ayahnya–juga agar ayahnya tidak bertanya lebih jauh mengenai ibunya.

Kepala Ayah Myungsoo mengangguk pelan. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan-memang-ada-apa-dengan-mereka?

“Mereka yang menjebak Abeoji. Dan Han Hyung Wook yang membuat Eomma tidak bisa kemari.” Kepala Myungsoo menunduk. Ia menghela napas panjang. Myungsoo tersenyum lagi menatap ayahnya. Dilihatnya raut kecewa dari wajah yang tampak lesu itu. “Abeoji, jangan khawatir. Aku sudah menemukan bukti bahwa mereka yang salah. Polisi sedang menyelidikinya, dan sebentar lagi Abeoji bisa keluar dari sini.”

Setelah mengatakan hal itu, Myungsoo melihat ayahnya yang menganggukkan kepala sambil tersenyum haru. Dan sedetik kemudian seorang polisi memberi pemberitahuan pada Myungsoo dan ayahnya bahwa waktu mereka sudah habis.

Seorang wanita segera menutup jendela yang ada di sebuah ruangan serba putih itu. Ia berhambur memeluk anak semata wayangnya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Kedua tangannya menangkub pipi milik pria delapan belas tahun yang juga meneteskan air matanya.

“Bagaimana kau bisa tahu, Myungsoo-ah?”

Myungsoo tersenyum. “Ada seseorang yang memberitahuku, Eomma,” jawabnya jujur.

Ibunya kembali memeluknya. “Siapapun itu, aku sangat berterima kasih padanya. Eomma sangat merindukanmu. Eomma pernah bermimpi buruk tentangmu.”

“Mimpi seperti apa, Eomma?” tanya Myungsoo sembari mengajak wanita itu duduk di atas ranjang dengan seprai berwarna putih.

“Kau mengalami kecelakaan,” jawab ibunya lirih.

Mendengar jawaban ibunya, Myungsoo tersenyum tipis. “Beberapa hari yang lalu aku mengalami kecelakaan, Eomma. Dan karena kecelakaan itu aku bisa melihat Eomma sekarang ini.” Senyum Myungsoo semakin mengembang. “Eomma, apa Eomma juga ingin aku menjenguk Eomma?”

Kepala ibu Myungsoo menggeleng.

“Aneh sekali,” gumam Myungsoo.

Eomma tidak ingin kau hanya mengunjungiku, Myungsoo-ah. Eomma ingin kau membawa Eomma keluar dari sini.”

Myungsoo tersenyum sambil memeluk ibunya. “Jangan khawatir, Eomma. Aku sudah melapor pada polisi. Sebentar lagi polisi akan segera kemari.” Ia menatap wajah ibunya yang menyiratkan kebahagiaan. “Aku harus pergi sekarang, Eomma, masih ada satu hal yang harus kulakukan.”

Seorang gadis tengah mencari novel terbaru dari penulis favoritnya. Selain itu, ia juga tengah memilah beberapa novel yang dianggapnya menarik dan juga mencari buku resep makanan edisi terbaru titipan ibunya yang saat ini sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan. Ia tahu hal itu, tapi ibunya berkata akan meluangkan waktu akhir pecan untuk membuatkannya pancake kesukaannya.

Ia berpindah dari satu rak ke rak yang lainnya dengan kaki yang masih dibebat. Langkahnya sedikit berat. Kalau saja ayahnya bisa melupakan perjalanan bisnis dan menemaninya saat itu, pastilah ia tidak perlu bersusah payah, bahkan untuk pergi ke toko buku.

Tangan kanannya tenggelam ke dalam saku coat berwarna cokelat dan meraih ponselnya. Ia menghela napas saat tahu sudah hampir empat puluh lima menit ia berkeliling toko buku.

“Pantas aku sangat lelah. Baiklah, aku akan berhenti sepuluh menit lagi, tepat pukul tiga.”

Myungsoo mengangkat tangan kanannya. Jam di tangannya menunjukkan pukul tiga lebih tujuh menit. Ia penasaran apakah ucapan Krystal saat itu benar. Ia sudah tidak sabar menemui kekasihnya. Ia lupa apa ia punya janji dengan gadisnya itu.

Tepat saat Myungsoo membuka pintu kafe, matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah tertawa di depan seorang pria. Satu detik kemudian laki-laki itu berdiri dan mencium kilat bibir gadis itu.

Tanpa aba-aba lagi, Myungsoo segera pergi menjauh dari tempat itu. Ia merapatkan coat cokelat yang dipakainya saat bertemu Krystal. Tangannya meraih ponsel hitamnya dan mengetikkan sebuah pesan.

Sooji-ah, aku mengirimimu ini bukan karena aku merasa bersalah pada pertengkaran kita saat itu, ah, bahkan aku tidak pernah merasa melakukan hal itu. Aku hanya merasa bersalah bahwa aku sudah sangat mencintaimu dan tidak mengindahkan perkataan orang yang sangat peduli padaku. Kita akhiri saja semuanya sekarang. Aku sudah melihatmu berciuman dengan pria lain.

 

Myungsoo meredam amarahnya. Sekuat mungkin ia tidak berteriak dan bertindak gegabah lagi seperti terakhir kalinya. Satu hal yang sangat disesalinya; ia tidak percaya–bahkan berteriak pada Krystal hanya untuk membela perasaannya saat itu. Ia sangat menyesal. Dalam hati Myungsoo berharap bisa bertemu dengan Krystal dan mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal.

Langkah Myungsoo terhenti. Matanya menatap lurus ke tempat penyeberangan. Satu titik yang menjadi fokusnya; gadis dengan rambut panjang bergelombang, memakai coat berwarna senada dengannya, rok 3 senti di atas lutut, dan langkah kaki yang gontai. Dari jarak kurang dari tujuh meter ia dapat melihat kaki gadis itu dibebat. Hanya itu yang berbeda. Selain itu, semua milik gadis itu sama dengan Krystal.

Myungsoo segera berlari menyeberang padahal waktu yang tersisa kurang dari sepuluh detik.

Tangan kanan Myungsoo mencekal pergelangan tangan seorang gadis dan membuat gadis itu berbalik. Tas plastik yang semula dibawa gadis itu jatuh tanpa sengaja. Myungsoo dapat menyadari bahwa mata gadis itu melebar. Ia masih diam memerhatikan setiap lekuk wajah gadis itu.

“Krys,” lirihnya. Tangannya langsung menarik gadis itu lalu mendekapnya erat. Meskipun ada perlawanan dari gadis itu, Myungsoo tidak juga melepaskannya. Ia malah semakin erat mendekapnya. “Mianhae Krys, aku sangat menyesal karena tidak memercayaimu. Aku–“ Myungsoo mulai terisak. “Aku senang bisa bertemu denganmu lagi.”

Jeogi–“ gadis yang masih dipeluk Myungsoo berkata lirih. “Gwaenchanhayo? Apa kau sudah baik-baik saja?”

Myungsoo melepas pelukannya tetapi tetap berdekatan dengan gadis itu. Kepalanya mengangguk. “Aku tidak apa-apa, Krys. Mianhae, jeongmal mianhae.” Ia tersenyum tipis pada gadis yang masih diyakininya adalah Krystal.

Gadis itu mengangguk kecil sambil memandang bingung pada Myungsoo. Kepalanya tiba-tiba mendongak bersamaan dengan Myungsoo saat air langit mulai turun. Ia hendak berlari, tapi Myungsoo memegang tangannya begitu kuat sampai hujan benar-benar membasahinya.

“Kudengar ini musim gugur terakhir tahun ini, tapi aku tidak tahu kalau akan turun hujan. Bukankah sebaiknya kita pergi berteduh?” tanya gadis itu hati-hati.

Myungsoo masih menatap dalam matanya. Ia mengerjap beberapa kali saat dipandang dengan tatapan seperti itu. Ada sedikit perasaan tidak nyaman ketika pria itu menyimpan sebuah harapan di manik mata elangnya.

“Kau berkata tentang musim gugur terakhir lagi, Krys.” Myungsoo tersenyum tulus.

“Sebenarnya siapa yang kau panggil ‘Krys’? Tuan penabrak, namaku Jung Soojung.”

Myungsoo masih tersenyum dan mencerna kalimat gadis itu–Soojung. Ia tidak peduli dengan hujan yang sudah membasahinya. Sedang pikirannya masih bekerja, dalam hati ia masih penasaran, bagaimana gadis itu bisa ada dalam mimpinya dan mengatakan segalanya tentang musim gugur terakhir.

.

.

FIN

.

.

A/N: Annyeong^^ sebenernya ff ini sudah lama dibuat dan baru bisa dipublish di sini. maaf kalau ada kata atau kalimat yang kurang berkenan di hati, dan maaf tentang alur yang enggak banget dan maaf lagi idenya aneh gitu :’3 terima kasih untuk yang sudah baca dan berkenan memberi komentar, stalkim undur diri^^

One response to “[ONESHOT] Last Autumn

  1. Pingback: [Oneshot] Last Autumn – starsfinitelyz·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s