A Thousand Words of Thank You #1: Jung Soojung

thousand words of thank you

sorry for the simple cover. I just want to write an entertaining and heart-warming short-story for everyone before the damn national exams, huehehe.

A Thousand Words of Thank You

#1: Jung Soojung

presented by kihyukha

in the future, it will become a series, short-and-short stories, with Kim Myungsoo (INFINITE’s L) & Jung Soojung (f(x)’s Krystal)

AU // Family // Fluff // Slice of Life // Marriage-life (MAAF MESKI SAYA BELUM MENIKAH—)// Romance // Sad  .  G

++

“Myungsoo, hari ini kita….”

Ketika Soojung berkata begitu, aku tahu satu hari ini akan menjadi luar biasa.

… untaian kisah dalam jurnal portabel milik Kim Myungsoo mengenai istrinya, Soojung. Ide-ide eksentriknya; polahnya yang mampu berejawantah dari seorang gadis kecil hingga seorang wanita dewasa berwawasan luas; pikiran beserta pandangannya mengenai dunia, cinta, dan suami yang dianggapnya seperti kilauan matahari.

 ++

Sabtu, 25 Januari 2016

ENTRY #1

Um, halo.

Baru kali ini aku mengisi jurnal portabel.

Kata Soojung—dia istriku, ngomong-ngomong, kami baru menikah dua bulan lalu—jurnal ini asyik untuk dinikmati, setidaknya oleh diri sendiri. Katanya, “Kita bisa membuat semacam album foto berisi kisah-kisah kehidupan kita dan mencetaknya kelak sebagai album foto betulan!” Yah, tentu saja, menarik sekali mendapat ide mengisi hal semacam ini dari wanita yang menggunakan jurnal portabelnya untuk membuat cerita dongeng mengenai bocah ompong dan ban renang ajaib. Katanya, anak kami akan suka itu. Tetapi menurutku, bocah yang berkeliling dunia hanya dengan celana renang bukan hal bagus untuk pendidikan anak kami.

Oh, kami belum punya anak, kalau itu yang ingin kalian tanyakan.

Sejujurnya aku tak tahu harus bercerita apa, jadi kurasa aku hanya akan bercerita mengenai kehidupan sehari-hariku saja.

Aku dan Soojung bekerja di sebuah event organizer. Ide-ide Soojung aneh, namun kebanyakan teman kami menyukainya—dia selalu bisa memetik ide bagus dari hal sederhana yang dilihatnya, makanya dia berkutat di bagian perencanaan. Sementara teman-temanku memercayakan aku untuk mewujudkan ide-ide Soojung—iya, aku di bagian pelaksana, lebih tepatnya divisi artistik.

Aku bertemu Soojung di Sekolah Menengah Atas. Tidak ada yang khusus, sebetulnya, aku mulai mengenalnya ketika kami lima belas tahun. Aku tahu mengenai Jung Soojung yang eksentrik, kami tak sengaja satu kelompok di acara angkatan, sempat mengobrol, dan akhirnya pergi bersama beberapa kali dengan teman-teman yang lain.

Lalu, Jiyoung, sahabat Soojung, mengajakku bicara.

“Soojung itu, walaupun bebas, tapi ceroboh,” kata Jiyoung saat itu.

“Oh, iya,” jawabku seadanya.

“Kau mengerti maksudku atau tidak?” Dia bertanya sengit.

Tentu saja aku tidak tahu, bagaimana mungkin kau bisa tahu apa yang dimaksud wanita kalau sejak dulu kau dicap kurang peka?

“Maksudku, aku melihat kau bisa membimbing dan memerhatikan Soojung dengan baik. Secara natural.” Dia melanjutkan, dengan nada suara yang entah kenapa mengingatkanku kepada seorang ibu ketika bicara ke anak balitanya.

Ho-oh.”

“Kau tidak menganggap Soojung kurang cantik, ‘kan?”

Sekadar informasi, cara bicara Jiyoung selalu bisa membuatku berkeringat dingin tanpa sebab. Dia memang begitu.

“Tidak, tidak. Dia cantik, tentu, dengan caranya sendiri.”

Jiyoung tersenyum puas. “Jujur saja, apa kau tidak berpikiran untuk bersamanya, Myungsoo? Aku melihat kau peduli kepadanya lebih dari kepada gadis-gadis lain. Jangan bilang aku salah, awas saja kau—intuisiku ini hal paling utama yang kubanggakan.”

Sejak saat itu, aku mulai benar-benar memikirkan perasaanku terhadap Jung Soojung.

Boleh dibilang, Soojung adalah wanita yang mengagumkan—dia tipe wanita yang lelaki mana pun tak ingin mendekatinya lantaran dia terlalu berbeda dari wanita kebanyakan. Soojung selalu bisa dekat dengan semuanya, namun dia ‘terlalu jauh dari jangkauan’. Soojung sangat cerdas—ini akan kubuktikan nanti, jika hari di mana Soojung menjadi Soojung yang berusia dua puluh tiga tahun. Dia cantik, punya rambut cokelat panjang berantakan yang bagus, bertubuh ramping, pandai berolahraga, pondasi agamanya kuat, punya intuisi bagus dalam seni, cepat belajar, mencintai alam namun menikmati kenyamanan sebuah ruangan yang dipenuhi orang, dan tahu begitu banyak hal sehingga dia bisa bicara dengan siapa saja tentang apa saja. Para laki-laki menganggapnya terlalu jauh di atas mereka—mereka merasa akan kelihatan bodoh dan sebagainya kalau bersanding dengan Jung Soojung yang aneh, dorky, namun luar biasa.

Sementara aku… yah, aku bangga terhadap diriku, dan aku tidak merasa berdiri berdua dengan Soojung di halte bus sambil mendengarkan musik membuatku kelihatan tolol. Aku sendiri menyukai orang-orang eksentrik—mereka menonjol dengan cara mereka masing-masing. Jung Soojung tentu saja berada di puncak barisan manusia jenis ini. Barangkali itulah kualitas yang mendorong Jiyoung untuk menyuruhku bersama Soojung. Dia pasti tidak mau sobatnya jadi perawan tua.

“Oke, boleh juga kupikirkan,” kataku waktu itu.

Dan aku benar-benar memikirkannya.

Ngomong-ngomong, aku dan Soojung tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Soojung tak pernah punya pacar, sedangkan aku pernah punya sekali, tapi aku sudah lupa wajah perempuan itu karena saat itu aku masih sekolah dasar.

Yah, kurasa kalau akhirnya topik bahasan mengarah kepada istriku dan hubunganku dengannya, aku harus menceritakan ini:

Suatu hari saat usia kami sudah dua puluh dua, Jiyoung menyuruhku menemani Soojung ke taman bermain karena Soojung sedang ingin naik roller coaster. Sungguh impian yang bagus untuk wanita berusia dua puluh dua. Karena aku juga suka roller coaster, jadi aku mau-mau saja. Saat kami duduk, dia menoleh padaku dengan mata cokelatnya yang bersinar jail. Aku sudah tahu kalau dia memasang tampang begitu, dia pasti punya seuntai ide gila di dalam kepalanya. Apa pun ide milik Soojung, dia akan melakukan apa saja untuk meluruskan untaian itu menjadi benang utuh.

“Myungsoo, hari ini kita harus melakukan sesuatu saat roller coaster jungkir balik,” katanya sembari mengangkat iPhone S5-nya. “Selca.”

“Wow, cara yang bagus untuk membuang handphone,” timpalku. “Aku ikut.”

Jadi, kami betul-betul mempersiapkan handphone Soojung dan menunggu-nunggu kereta kami berputar. Aku yang memegang.

Grek! Grek! Grek! Kami meluncur, sama-sama berteriak girang. Aku bersusah payah meluruskan tangan dan mengatur jempolku untuk menekan dan memantapkan posisi layar, yang ternyata susah juga jika dilakukan sambil melawan angin dan dilanda turbulensi gila-gilaan.

“Myungsoo!” Soojung berteriak. “Akan kugilas kau jadi bubur lembek kalau handphone-ku lepas dari tanganmu!”

“Jangan menyalahkanku, Nona!”

Aku bersusah payah. Kurasakan Soojung di sampingku sebisa mungkin memasang gaya terbaik, sembari menggeser-geser kepalanya supaya wajahnya masuk ke layar.

Ceklik!

“YEAAAAAAAH!” Kami berdua berteriak lagi. Aku menoleh ke sampingku, memandang Jung Soojung yang tertawa bahagia.

Dan, aku bersumpah di situ dia sangat memesona.

Dengan ditimpa lampu taman yang berpendar kuning lantaran sudah nyaris malam, aku melihat bahwa jika aku tidak gesit merengkuh gadis ini, dia bisa saja hilang entah ke mana, mengikuti ide-ide gilanya yang lain. Bukan mustahil untuk Soojung kalau dia berpikir untuk terbang ke Saudi Arabia, menyelusup ke jalur politiknya, dan menikahi pangeran termuda negeri sana.

“Soojung!” Aku memekik. “Aku memikirkan satu permainan, tapi harus selesai sebelum kereta kita berhenti!”

“Apa, Myungsoo?”

“Kau mau ikut atau tidak?”

“Aku ikut!”

“Oke! Kau harus gunakan logika dan perasaanmu dalam menimpali pertanyaanku—siap?”

“Siap!”

“Oke! Kau menyukaiku, ya atau tidak?”

“Ya, ya, tentu saja!”

“Aku juga menyukaimu, kau senang atau tidak?”

“Aku senang! Trims!”

“Kau akan menikah denganku, oke atau tidak?”

“Oke!”

Kereta kami berhenti. Aku bisa jamin suara derak kereta sudah mulai berkurang ketika aku meneriakkan pertanyaan terakhirku, karena sekarang semua orang menolah-nolehkan kepala dan memandang kami. Aku nyaris kehabisan napas dan terendam rasa malu, sementara Soojung sendiri hanya berdiri dan tersenyum kepadaku.

Aku bertanya dengan ragu-ragu, “Kau… dengar pertanyaan terakhirku. Ya…, atau tidak?”

“Ya.”

“Soojung, kau… oke dengan itu?”

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya, “Kapan kita menikah, Myungsoo?”

Dan begitulah aku melamarnya.

Setelah itu, kami mengulang naik roller coaster berkali-kali sampai aku nyaris muntah. Dari semua foto yang kami ambil, kesemuanya kabur. Soojung akhirnya menyerah setelah aku berhasil meyakinkannya bahwa sampai kami sekarat pun hasilnya akan tetap begitu, dan pada akhirnya aku dipaksa berjanji untuk selca sambil kayang di atas ayunan rusak.

——– END of Entry #1 ———

17 responses to “A Thousand Words of Thank You #1: Jung Soojung

  1. FIKHAA MAAFKAN AKU BARU BACA INI haha
    duh soojung mah jadi gimana aja seraahh. myungsoo juga tetep ga jelas aja :”””)) tapi hasilnya jadi maniiss. mereka ga perlu deket untuk jadi jodoh :”””))
    ah mau ngomong apalah akuu. sukses aja deh buat kamuu { }

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s