[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06)

MP_7

geaarifin ©2016 present

Marriage Proposal

staring; Krystal Jung-L Kim-Bae Suzy-Kim Kai
genre; romance-sad-complicated-AU
lenght; chapter
rated; pg +17

review; Intro // Ep.01 // Ep.02 // Ep.03 (A/B) // Ep.04 // Ep.05 // Ep.06 

“It’s like a cruel in our marriage, can you save me?”

Benteng itu sudah terlampau tinggi untuk dipanjat oleh siapapun. Begitu lah yang dirasakan oleh wanita yang tengah termenung di dalam kamarnya saat ini. Ditemani dengan lampu temaram, waktu menunjukkan pukul dua dini hari –dan ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya barang sebentar. Pikirannya begitu jauh saat memikirkan apa yang harus dilakukannya saat benteng itu ingin ia capai.

Benteng yang dibangun oleh sang Ibu sudah terlampau tinggi dan keras, sehingga ia tak bisa lagi meruntuhkannya jika hanya menggunakan kekuatan dirinya yang tak bisa menyamai kuasa sang pendiri benteng tersebut.

Ia termenung begitu lama.

Hanya dua pilihan yang berada di tangannya sekarang; Menghancurkan benteng itu dari dalam, atau menghancurkannya dari luar.

Tak ada pilihan yang ingin diambil, sebab keduanya memiliki resiko yang sama.

Pada akhirnya nanti –ia akan menyakiti Ibunya.

Marriage Proposal
Ep. 06

A Contract

Kala itu sedang sore hari. Di mana ia dibawa ke sebuah rumah mewah nan megah. Gadis berseragam sekolah menengah pertama –ditemani oleh seorang pria tegap berseragam hitam, yang merupakan kali pertama baginya didampingi pria tersbut yang ternyata seorang bodyguard –duduk di sofa, di ruangan yang menurutnya menjadi ruang keluarga karena tempatnya berada di bagian tengah rumah dengan sofa yang mengelilingi meja –lengkap dengan tv besar. Perasaan gadis itu bercampur aduk. Tak pernah ia mengunjungi rumah itu sebelumnya. Si gadis melihat ke sekeliling rumah. Benar-benar seperti istana karena di sana pula terdapat ornamen-ornamen mahal yang tertata dengan sangat rapi.

“Di mana Ibuku, Ahjussi?” Ia terlihat sangat gugup. Sementara itu sang bodyguard tersenyum ramah.

“Nyonya sedang berada di kamar Nyonya besar.” Jawabnya. Gadis itu kembali diam.

“Ahjumma, simpan tas ku!!”

Seorang bocah lelaki –seusia gadis itu –masuk ke dalam rumah dengan berteriak, tanpa mengucapkan salam. Seluruh pakaian seragam yang dikenakannya nampak kotor. Di tangannya pun terdapat bola basket yang terlihat hampir serupa dengan seragamnya -kumal.

Seorang Ahjumma –yang sepertinya salah satu pelayan di rumah megah itu –berlari dengan tergesa menghampiri sang Tuan Muda.

“Aigoo~ Jangan sampai Tuan besar melihat Anda seperti ini, Myungsoo doryeonim.” Sang Ahjumma lekas mendorong tuan mudanya dengan lembut untuk cepat menuju kamarnya. Sambil tertawa-tawa, Kim Myungsoo –sang Tuan muda –menceritakan apa saja yang dilakukannya sehabis pulang sekolah pada sang Ahjumma sambil menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya.

Sementara itu, si gadis diam-diam memerhatikan tuan muda di rumah itu –tanpa sadar ia tersenyum begitu manis.

Kim Myungsoo mengangkat box cake yang baru saja dibelinya siang itu. Tekadnya sudah bulat –ia akan datang pada Soojung hari ini. Meski pun wanita itu akan mengusirnya, ia akan tetap berdiri di depan pintu apartemen Soojung. Sampai besok jika diperlukan. Cheese cake –kesukaan Soojung sudah tersimpan dengan apik di dalam kotak yang pegangnya saat ini. Setidaknya Soojung tak akan bisa menolak makanan kesukaannya, kan?

Beberapa blok lagi maka ia akan sampai di apartemen Soojung. Sesekali Myungsoo bersiul –menyemangati dirinya sendiri.

“Myungsoo?”

Choi Sulli adalah orang yang pertama kali ia jumpai setelah menekan bel pintu apartemen Soojung. Ia hampir lupa jika mantan istrinya itu tinggal bersama sahabatnya. Pria itu mengangkat tangan yang terbebas dari kotak kue. “Eoh, Sulli-ya. Apa kabar?” Ujarnya.

“Baik –seperti biasanya.”

“Aku ingin menemui Soojung. Apa dia ada? Tadi aku ke Millicent –tapi Daniel bilang Soojung tidak masuk kerja hari ini.”

Sulli ragu untuk sesaat, dalam pikirannya ia ingin mengajak Myungsoo untuk masuk –karena Soojung memang mengambil cuti beberapa hari. Tapi hatinya sudah terikat janji dengan Soojung. Ia tak bisa membiarkan sahabatnya itu merasa terganggu –meski pun seharusnya tidak terganggu dengan Ayah dari calon bayinya- dengan kehadiran Myungsoo.

Tapi..

“Masuk lah. Soojung ada di dalam.”

Maafkan aku, Soojung-ah, ini demi kebaikan keponakanku yang ada di dalam perutmu sekarang –batinnya penuh harap.

*

Jung Soojung sedang membaca majalah Ibu dan Bayi di ruang tengah. Betapa kagetnya dia begitu melihat Myungsoo muncul dari arah pintu. Kehadiran mantan suaminya yang secara tiba-tiba itu membuatnya kelabakan dan dengan tergesa menyelipkan majalah yang sedang dibacanya ke bawah sofa.

“Myungsoo?”

“Hi –Soojung. Lama tak berjumpa.” Myungsoo tersenyum kikuk –pria itu merasa sangat canggung dengan tatapan Soojung yang seolah tak percaya akan kedatangannya.

Soojung merasakan sesuatu yang menusuk indera penciumnya. Terasa sangat menyengat –seperti ketika ia mencium bau sampah. Perutnya terasa bergolak.

Apa yang salah?

Soojung –dengan gerakan tangan yang menutup hidung. Menimbulkan kecemasan di raut wajah Myungsoo.

“Apa yang kau bawa, Myungsoo. Kenapa bau sekali?” Seru Soojung.

Myungsoo teringat Cheese Cake yang dibawanya. Ia menyimpan box kue itu ke atas meja. “Ohh, aku membawakanmu cheese cake yang kau sukai.” Myungsoo mendekatkan hidungnya pada box kue tersebut, namun ia tak mencium sesuatu –seperti bau yang dikatakan oleh Soojung. Ia mencium aroma cheese cake yang menggoda, menurutnya.

“Tapi itu bau sekali –ugh.” Ringis Soojung. Wanita itu segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

Sulli yang memerhatikan kedua temannya itu dari ambang pintu kamarnya merasa resah. Bagaimana jika Myungsoo mengetahui keadaan Soojung –yang sekarang sedang terkena sindrom Ibu hamil? –Satu sisi ia menginginkan Myungsoo mengetahui kehamilan Soojung, namun sisi lainnya begitu bertentangan karena ia sudah terikat janji dengan Soojung.

Ugh, ini semua bisa membuatnya gila.

*

*

Sudah lebih dari satu jam. Soojung tak merasa mual lagi. Namun ia masih enggan untuk membuka bingkisan yang dibawa oleh Myungsoo. Entah bagaimana kesukaannya pada cheese cake menghilang begitu saja. Bahkan mencium wanginya saja Soojung sudah tak bisa karena akan terasa mual lagi. Alhasil cheese cake malang itu harus mengendap dulu di dalam kulkas –mungkin nanti Sulli saja yang akan memakannya.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo sekali lagi pada Soojung. Wanita itu hanya bergumam.

“Sudah periksa ke dokter? Muka mu pucat sekali, Soojung.”

“Sulli adalah seorang dokter. Dia sudah memeriksa dan merawatku.” Ujarnya.

Myungsoo mengangguk –namun tetap saja ia merasa cemas melihat keadaan Soojung yang nampak tak segar.

“Aku sampai lupa. Kedatanganku kemari untuk meminta maaf –malam itu..”

Soojung bisa menebak ke arah mana pembicaraan Myungsoo. Maka dengan cepat ia memenggal ucapan Myungsoo sebelum pria itu berbicara lebih jauh –mengenai hal yang tak ingin Soojung ingat lagi. “Ugh.. gwaenchana, Myungsoo-ya. Gwaenchana. Tidak ada yang perlu dimaafkan –aku, sudah melupakan semuanya.”

Myungsoo menegakkan posisi duduknya. “Tapi –Soojung. Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi begitu saja. Tidak semudah itu.” Myungsoo menarik nafas dalam –dia tak ingin nada bicaranya naik satu oktaf di depan Soojung. “Akibat dari kejadian itu –kau jadi menjauhiku. Bukah kah begitu? Kau menghindar dariku, Soojung. Aku menyadarinya.” Akhirnya pria itu bisa mengeluarkan unek-uneknya selama beberapa bulan ini.

Meskipun Myungsoo mengucapkan kalimatnya dengan begitu tenang, tapi Soojung dapat merasakan tekanan di setiap kata yang diucapkan pria di depannya itu.

Keduanya duduk terdiam di atas sofa. Tak ada satu pun dari mereka yang ingin lebih dulu membuka suara. Begitu sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Choi Sulli yang baru kembali dari supermarket, hanya menggelengkan kepala melihat kedua orang yang saling termenung di depan tv.

“Tidak ada kah salah satu dari kalian yang ingin berbicara? Atau kalian sedang bermain permainan bisu dan yang paling lama tak bersuara yang jadi pemenangnya?”

Sulli dibuat gemas karena tak ada satu pun dari Soojung dan Myungsoo yang menjawab. Pada akhirnya gadis itu meninggalkan apartemen dengan kantong belanjaannya. “Ugh, kalian membuatku gila. Apa Kai sudah pulang? Lebih baik aku masak di rumahnya saja.”

BLAM

Pintu apartemen tertutup dengan kasar.

Kim Myungsoo menghela nafas panjang dan dalam. Pada akhirnya ia memutuskan untuk bertanya –dengan pertanyaan yang sama, pertanyaan yang sampai saat ini membelenggu hati dan pikirannya mengenai perceraian mereka.

Membenarkan duduknya, Myungsoo kini bisa melihat Soojung karena posisi duduk pria itu kini menghadap wanita yang duduk di sampingnya. “Bisa kah, kali ini kau mengatakan padaku –alasan sebenarnya kau meminta perceraian?”

Myungsoo hampir putus asa karena Soojung tak kunjung menjawab pertanyaannya. Sempat Myungsoo berpikir bahwa ia tak akan menanyakan lagi pertanyaan tersebut pada Soojung –karena wanita itu tak pernah memberikan jawaban yang pasti.

Soojung menatap mata Myungsoo lamat-lamat, –ini adalah kali pertamanya setelah mereka berpisah –dan Myungsoo merasakan sesuatu –sesuatu yang pernah hilang dalam hidupnya. Sesuatu yang tak karuan, membuat detak jantungnya tak terkendali.

Jung Soojung –masih memesona hatinya.

“Saat itu –genggaman tanganmu tak lagi sama, tak lagi hangat, Myungsoo.” Ucap Soojung sepelan mungkin –seperti berbisik, namun Myungsoo dapat mendengarnya karena ia terfokus pada wanita di hadapannya. Soojung tersenyum –namun senyum yang dipaksakan. Myungsoo mengartikan senyuman Soojung adalah kesakitan yang baru kali ini ia bisa menyadarinya. Myungsoo mencoba untuk memahami Soojung saat ini.

“Bukan kah sudah jelas. Kau meninggalkanku lebih dulu. Kau pergi –perasaanmu berubah saat itu –itu yang ku maksud, Myungsoo. Tidak bisa kah kau menyadarinya sendiri?”

Kening pria itu berkerut samar.

“Aku –maaf. Tapi –aku tidak mengerti Soojung. Kau tidak menjelaskannya padaku secara rinci.”

Seperti sekarang. Soojung tak bisa mengungkapkan perasaannya. Karena semua lelaki itu sama saja. Mereka tak pernah ingin mengerti –selalu meminta kejelasan yang pasti tanpa mau berusaha memahami. Bagi Soojung –sepenggal kalimat yang diucapkannya sudah sangat bisa dimengerti oleh bahasa manusia. Tidak –Soojung tidak membenci Myungsoo hanya karena pria itu tak dapat menerjemahkan bahasanya –hanya saja, Soojung sedang dalam keadaan yang tak bisa menambah kadar kesabarannya.

“Bisa kah kau memahami kalimatnya seperti ini saja; Kau berubah. Sebelum menikah kau begitu membuatku jatuh cinta kepadamu –karena kelembutan tutur kata dan perilakumu. Tapi setelah bersamamu dalam ikatan rumah tangga –kau berubah –belangmu semakin terlihat –kau sering membentakku –mengacuhkan aku.”

Kim Myungsoo mendesah berat. Jika dari awal Soojung mengatakan hal serinci itu padanya –mungkin mereka tak akan seperti ini sekarang. Mungkin mereka sudah hidup bahagia bersama satu orang atau dua orang anak atau bahkan tiga. Dan urusan dengan Lee Hyorin –mungkin tak akan serunyam ini.

Tunggu –anak?

Sepintas satu kalimat itu membuat Myungsoo merasa mengasihani dirinya sendiri. Seandainya mereka punya seorang anak, apa mungkin Soojung akan dengan mudah kembali padanya, atau bahkan tidak pernah meminta perceraian darinya? Myungsoo menyesali keputusannya saat awal pernikahan mereka, –menunda untuk memiliki anak, sehingga Soojung harus mengikuti salah satu program di rumah sakit saat itu.

Ugh, kepalanya seperti akan meledak.

“Aku rasa itu adalah hal sepele, Soojung. Kita bisa membicarakannya dengan baik.” Ujar Myungsoo.

Soojung menggeleng pelan.

“Tidak, Myungsoo. Itu bukan hal sepele –maksudku..” Soojung menghela nafas sebelum melanjutkan. “Bagi seorang wanita –berubahnya sifat seorang pria yang dicintainya –adalah masalah besar. Wanita lebih sensitif akan hal seperti itu, Myungsoo. Kau boleh menghakimiku egois –atau apapun. Tapi, setiap wanita akan berfikiran sama jika berada di posisiku saat itu.”

Kim Myungsoo menatap lamat-lamat wanita yang baru saja menjawab pertanyaannya. Pria itu mencoba untuk merenungkan ucapan Soojung.

.. benarkah?

Jung Yunho –hanya membiarkan makan malamnya tak tersentuh sama sekali. Di ruang makan yang besar itu ia termenung. Betapa kesepiannya ia saat ini. Pria tampan itu menghela nafas berat.

Doryeonim, ada surat untuk anda.”

Salah seorang pelayan menghampirinya dan memberikan sebuah amplop besar yang masih tersegel dengan rapih. Pria itu segera merobek bagian atas amplop dan mengeluarkan surat dari dalam sana.

“Lee Hyorin.” Gumamnya pelan. Dengan cermat Yunho membaca isi surat yang ternyata dikirim oleh Lee Hyorin dan tak butuh waktu lama untuk Yunho memahami maksud dari surat yang dikirim oleh wanita paruh baya itu. Dengan cepat Yunho meraih ponsel yang berada tak jauh darinya –kemudian memilih salah satu kontak dalam smartphone miliknya itu dan menelpon seseorang.

“Jangan menatapku seperti itu. Begitu kah caramu memandang Ayahmu sendiri, Kim Myungsoo?”

Myungsoo memalingkan wajahnya saat sang Ayah menatap tajam kedalam matanya. Ia tak pernah suka ditatap seperti itu. “Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku.”

Kim Jae Sook menyesap kopinya. “Aku sudah lelah mengikutimu, Myungsoo.”

Kening Myungsoo terlihat mengkerut. “Apa maksudmu, Abeoji?”

“Masalahmu, Soojung, dan Lee Hyorin. Bagaimana bisa aku tidak ikut campur, apalagi ini semua berurusan dengan sahamku? Aku sangat berharap kau dan Soojung –bisa menyelesaikannya dan kalian bisa memberiku seorang cucu –untuk menyelamatkan perusahaanku.”

Kim Myungsoo mencoba untuk menahan emosinya saat berbicara dengan Ayahnya. Myungsoo tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa berbicara santai dengan Ayahnya. Ia lupa jika Ayahnya dulu adalah seorang yang ramah dan mudah tersenyum –apalagi untuknya. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu ia dan Ayahnya menghabiskan waktu untuk pergi mancing bersama dan –ia lupa bagaimana sang Ayah membahagiakannya dulu.

Semuanya terasa berbeda saat sang Ayah membawa seorang wanita yang lebih muda dari istrinya –dan mengenalkan wanita itu sebagai istri kedua Ayahnya –padahal ibu Myungsoo sedang dirawat di rumah sakit.

Dunia Kim Myungsoo berubah saat itu.

Kim Jae Sook menatap lamat-lamat pada anaknya. “Jika setengah sahamku berada di tangan Hyorin –apa yang akan aku katakan pada Ibu mu setelah dia kembali dari pengobatannya di Jerman? Lalu pikirkan apa yang akan dikatakan keluarga besar Soojung atas kehilangan saham yang mereka tanamkan juga di perusahaan keluarga? Kau ingin melihatku dan Ibu mu masuk ke dalam penjara, Myungsoo?”

Myungsoo jelas merasa geram saat Ayahnya membawa Ibunya ke dalam masalah ini. Kemana Ayahnya dulu saat Ibu Myungsoo berada di rumah sakit –dan malah membawa Hyorin ke rumah mereka. “Lalu –apa yang bisa kau jadikan sebagai solusi dari semua masalah ini, Abeoji?”

“Jung Yunho menelponku beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan jika Hyorin mengirimnya sebuah surat perjanjian. Wanita itu tak akan menuntut haknya –dalam kata lain, dia tak akan mempermasalahkan saham lagi dan bahkan tak akan meminta saham apapun –asal .. Kau mau menikah dengan Sooji.”

“Menikah lah denganku, Myungsoo.”

Myungsoo ingat apa yang dikatakan Sooji beberapa waktu lalu. Gadis itu pun memberikan solusi yang sama untuk menyelesaikan masalah yang menurutnya terlalu pelik.

Andwae, Aboeji. Aku tidak bisa menikah dengan Sooji.”

Pria paruh baya itu nampak tenang di kursinya. “Lalu, bisa kah kau memberiku seorang cucu dalam waktu singkat? Kau sudah satu tahun menikah dengan Soojung –sampai kalian bercerai, Myungsoo.”

Kim Myungsoo terdiam ditempatnya.

Harus kah, aku menikah dengan Sooji?

“Soojung, sudah hampir dua hari mengurung diri di kamarnya, Oppa. Dia hanya menghabiskan air mineral dan tak menyentuh makanannya sama sekali. Aku dan Kai –kami sama sekali tak bisa membujuknya untuk keluar.”

Jung Yunho saat itu sedang berkunjung ke apartemen Soojung untuk melihat kondisi sang Adik. Sulli memberinya kabar kemarin jika Soojung sedang sakit dan tentu saja dia masih merahasiakan kehamilan Soojung dari Yunho –sesuai pesan sahabatnya itu. Sepertinya Soojung masih belum bisa memberitahukannya pada siapapun.

Yunho menghela nafas dalam. “Aku akan menemuinya.” Pria itu pun berjalan menuju kamar Soojung, untung saja kamar itu tak dikunci dari dalam.

“Aku tidak lapar, Sulli.”

“Jungi-e, ini aku. Oppamu.”

Wanita itu  lekas membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Dengan badan yang terlihat lemas, Soojung berusaha bangkit dari tempat tidur. “Oppa, sejak kapan kau datang?”

Yunho menghampiri Soojung dan duduk di samping Adiknya, tak lupa ia pun mengusap puncak kepala Soojung. “Bagaimana kabarmu, Jungi-e?”

Soojung menatap ujung sendal bunny –yang biasa ia kenakan di dalam apartemen. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Yunho –jika ia berkata kabarnya baik-baik saja, Yunho pasti tak akan percaya, melihat kondisinya yang seperti saat ini. Dan Soojung pasti tahu bagaimana reaksi Yunho jika ia mengatakan keadaan sebenarnya.

Pintu kafe bercat coklat tua itu terbuka dan seorang pria dengan cardigan abunya masuk ke dalam cafe –mengambil tempat duduk yang tak jauh dari sana. Seseorang telah menunggunya, –seorang wanita. Pria itu menempatkan cardigan miliknya di atas kursi, di sampingnya.

“Sudah lama sekali, Choi Jonghyun.”

Pria itu adalah Choi Jonghyun.

“Kau benar, Noona. Terakhir kali kita bertemu saat –kau menolakku di Tamsan Tower, untuk kesekian kalinya. Bye the way, aku sangat terkejut saat kau menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Apa kau sudah merasa menyesal telah menolak seorang dokter muda –sepertiku, hm?

Wanita di depannya itu hanya mengulas senyum.

“Itu lah yang membuatku selalu menolakmu, Jonghyun-ah. Kau terlalu percaya diri.”

Jonghyun mengangkat kedua bahunya. “Bukan kah sifat kita hampir sama, Noona?”

Melihat lawa bicaranya menaikkan sebelah alis –tanda bahwa ia sedang berpikir, Jonghyun kembali membuka suara.

“Aku tidak yakin –tapi, bukan kah alasan kau ingin bertemu denganku karena aku adalah dokter yang sedang menangani, Jung Soojung-ssi. Apa benar tebakanku –Noona?”

Wanita itu tak bergeming tidak pula menampakkan rasa kaget –begitu tenang.

“Ada hubungan apa kau dengan pasienku, Noona?

“Darimana kau tahu jika aku menemuimu karena Soojung?”

Jonghyun menyandarkan punggungnya. “Aku melihatmu –di rumah sakit. Aku ingin menghampirimu, tapi kau berjalan terus mengikuti Soojung-ssi sampai ke taman. Kau memperhatikan dia dari jauh. Lagi pula salah seorang suster di rumah sakit memberitahuku jika kau menanyakan tentang Soojung-ssi padanya. Jadi ada hubungan apa kau dengan pasienku, Noona?”

“Jonghyun-ah, beritahu aku apa terjadi pada Soojung. Aku hanya ingin menanyakan hal itu.”

Kening Jonghyun berkerut samar. “Bukan kah kau mengenalnya? Kenapa kau tidak menanyakannya sendiri, Noona?”

“Kami –hubungan kami tak sebaik yang kau kira, Jong-ah. Cepat beritahu aku –karena tidak mungkin dia akan memberitahukan kondisinya padaku.”

Jonghyun menghela nafas. “Geure. Soojung-ssi hanya melakukan pemeriksaan, karena sudah beberapa hari dia muntah-muntah.”

“Lalu hasil pemeriksaanya?”

Jonghyun mendekatkan wajahnya. “Jelas kau tahu jika aku adalah seorang dokter spesialis wanita dan kandungan. Jadi menurutmu?”

Sooji berdecak kesal. “Jangan bermain teka-teki denganku sekarang, Choi Jonghyun.”

Jonghyun terkekeh pelan. “Kau masih saja lucu jika sedang kesal, Noona.”

“Jadi –apa dia mengidap kanker atau hamil?” Tanya Sooji hati-hati.

Ugh, kejam sekali jika wanita secantik Soojung-ssi mengidap kanker.”

Sooji tercenung di tempatnya.

Seolma ..

Jonghyun menyesap kopi hitam miliknya yang masih mengepul dengan pelan-pelan, kemudian menatap tajam Sooji dengan senyumannya yang khas. Sooji telah salah menolak pria itu semasa sekolahnya. “Apa yang kau pikirkan sekarang benar, Noona. Soojung-ssi tengah hamil.”

Soojung membuka kulkas untuk menemukan apa saja yang bisa dimasaknya hari ini. Tadi pagi Sulli terlambat bangun dan tergesa menuju rumah sakit tempatnya bekerja, alhasil tak ada satupun makanan di atas meja makan karena biasanya Sulli yang memasak –selama Soojung masih mengambil cuti untuk beristirahat.

Eo, Daniel-ah. Mianhae, tidak bisa menemanimu ke Busan dan melewatkan acara yang sudah kutunggu-tunggu itu –ahh, bagaimana dengan Y Magazine –apa mereka puas dengan semua desainnya? Ugh, aku sangat bahagia berada satu team denganmu, Daniel­-ah, saranghae~

Sambil mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas, Soojung masih berinteraksi dengan Daniel melalui telpon. “Ne, sepertinya aku sudah mulai bosan berada di rumah. Mungkin minggu depan aku sudah bisa masuk kantor. Hm, sampaikan salamku untuk Jihyo sajang. Annyeong.

Soojug baru menyadari jika bahan-bahan makanan yang dikeluarkan dari kulkas sudah tak layak lagi untuk dimasak. Wanita itu berjengit dan menyingkirkan daun bayam yang sudah mulai menghitam itu dari atas meja dapur. “Sepertinya aku harus ke supermarket.”

Soojung hanya membutuhkan tas belanja dan dompet serta ponsel untuk pergi ke supermarket. Karena jaraknya tak begitu jauh maka wanita itu hanya akan berjalan beberapa blok saja. “Baiklah, Jung Soojung. Saatnya untuk keluar dari rumah.” Gumamnya sambil mengunci pintu apartemen.

*

Soojung menikmati waktunya berbelanja, memilih-milih bahan makanan untuk dimasak di rumah. Wanita itu sudah mengumpulkan beberapa daun bawang, tofu dan beberapa bumbu masak karena sudah ada beberapa toples bumbu masak di rumah yang kosong.

Merasa ada yang aneh, Soojung memelankan langkahnya saat mendorong trolly belanjanya. Soojung menghentikan langkah saat berada di dekat rak yang menyediakan berbagai macam mie instan. Ia melirik ke belakang punggungnya, namun tak mendapati sesuatu yang terasa aneh baginya. Soojung mengangkat kedua bahu dan kembali mendorong trolly.

Eonni. Bisakah kau menolongku?”

Seorang anak perempuan menarik-narik ujung hoodie yang dikenakan Soojung, wanita itu lantas melirik anak perempuan di sampingnya. Soojung tersenyum dan berjongkok untuk menyetarakan tinggi dengan anak perempuan tersebut.

“Apa yang bisa Eonni bantu untukmu, adik kecil?”

Anak perempuan itu menarik tangan Soojung dan mendekati rak berbagai macam snack di ujung lorong.

“Aku tidak bisa menjangkaunya,” Tunjuk anak itu pada snack biskuit yang disimpan di rak paling tinggi. Soojung merasa ragu, apakah ia bisa mencapainya atau tidak. Tapi ia berusaha sebisa mungkin sampai bisa menjangkaunya.

HAP!

AAWW!!

Soojung merasakan sesuatu menghantam tengkuknya. Untuk beberapa saat ia merasa sangat kesakitan dibagian belakang lehernya dan melihat seorang pria dengan benda tumpul ditangannya, sebelum terjatuh dan semuanya menjadi gelap.

Kim Myungsoo sedang berada di ruangan kerjanya sore hari itu. Pria itu tengah sibuk dengan email yang begitu membanjiri inboxnya. Salah satunya adalah dari Kang Minhyuk. Kening Myungsoo berkerut samar –Kang Minhyuk?

“Pria itu –akhirnya akan menikah juga.” Myungsoo bergumam saat melihat file yang dikirimkan oleh Minhyuk, sebuah undangan pesta pernikahan. Myungsoo menyandarkan punggungnya yang terasa pegal sambil menggurat senyum di bibirnya saat memerhatikan undangan pernikahan Minhyuk –ia teringat dengan pesta pernikahannya dengan Soojung yang hampir melewati satu tahun setengah itu.

Myungsoo tak menampik jika saat ini –dalam pikirannya dipenuhi oleh Soojung. Entah apa yang membuatnya semakin memikirkan jawaban Soojung saat itu. Pria itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Mungkin aku harus bertemu dengannya lagi, batinnya.

Kim Myungsoo melirik jam dinding. Sudah waktunya untuk pulang, maka ia mengemasi semua barangnya. Saat itu pula sekretarisnya mengetuk pintu.

“Myungsoo sajang, ada yang ingin menemui dengan Anda.”

“Bukan kah seharusnya jam kerjamu habis, Mina-ssi. Kenapa masih menerima tamu?”

Joseonghaeyo, saya baru akan pulang, tapi seseorang datang dan ingin menemui Anda.”

Myungsoo berdecak pelan. “Suruh dia masuk, dan kau boleh pulang.”

Sang sekretaris membungkuk dan meninggalkan ruangan atasannya itu. “Permisi, Sajangnim.”

Myungsoo duduk di sofa yang berada di tengah ruangan dan menunggu tamunya.

“Kim Myungsoo!”

Pria itu melirik ke arah pintu dengan sebelah alis yang terangkat.

“Choi Sulli?”

Wanita jangkung yang mengenakan Stilleto hitam itu –dengan langkah tergesa menghampiri Myungsoo. Sulli nampak cemas, itu yang dilihat Myungsoo saat ini.

Wae geure, tumben sekali kau datang ke kantorku?”

Sulli menghela nafas panjang. “Apa Soojung menemuimu?”

“Soojung, anniyo. Waeyo?

Tangan Sulli terlihat bergetar, jelas sekali jika ia sedang panik dan Myungsoo mencurigainya. “Ada apa, Choi Sulli?”

“Soojung tidak ada di rumah. Aku terus menelponnya tapi ponselnya tak aktif, dan aku sudah mencarinya ke kantor –tapi Daniel bilang dia tidak masuk kerja, aku juga sudah menanyakan keberadaannya pada Yunho Oppa, tapi ia tidak tahu apa Soojung ada di rumah atau tidak karena Yunho Oppa sedang berada di Hongkong.”

“Kau sudah pergi ke rumah Soojung?”

“Rumah itu dalam keadaan kosong, Myungsoo. Hanya ada Ahn Ahjumma disana. Soojung belum pulang ke rumahnya beberapa bulan ini. Dan Kai –belum melihatnya hari ini.”

“Mungkin Soojung sedang pergi ke taman atau supermarket. Kita tunggu sampai malam, jika dia belum pulang –kita akan mencarinya lagi. Jangan panik seperti ini, Sulli. Soojung sudah dewasa, ia tidak akan membahayakan dirinya sendiri.” Myungsoo mencoba menenangkan Sulli yang kini mulai berkeringat dingin.

Sulli semakin merasa panik. Gadis itu tahu bagaimana Soojung, sahabatnya itu sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil. Ia begitu ingat wajah kecewa Soojung saat menerima hasil pemeriksaannya di rumah sakit. Sahabatnya merasa putus asa, bagaimana jika Soojung pergi ke dekat jembatan dan sesuatu yang tidak diingkan terjadi pada Jung Soojung. Sulli tidak akan membiarkan sahabatnya itu mencelakai dirinya sendiri.

“Sulli, tenanglah. Kepanikanmu hanya akan membuatmu berpikir negatif.”

Sulli menatap tajam Myungsoo.

“Kau tidak tahu, Kim Myungsoo!! Kau tidak tahu kondisi Soojung.”

“Aku tahu jika Soojung sedang sakit. Mungkin dia butuh keluar rumah untuk mencari udara segar. Kau tidak perlu panik seperti itu.”

Tatapan Sulli benar-benar tak bersahabat pada Myungsoo. “Kau egois, Myungsoo. Kau pria teregois yang pernah aku temui.”

“Kenapa kau menilaiku seperti itu? Apa ada sikapku yang salah padamu?”

Sulli berdecak. “Bukan padaku, Myungsoo. Tapi pada Soojung. Kau hanya mementingkan perasaanmu untuk bisa kembali bersama Soojung, tapi kau tak pernah bertanya tentang apa yang dirasakan oleh Soojung. Kau tidak pernah tahu apa yang dialami oleh Soojung, Myungsoo!! Kau terlalu egois.”

“Bagaimana jika Soojung mencelakai dirinya sendiri? Bagaimana ini? Aku tidak bisa menemukannya.” Kali ini Sulli menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya begetar.

Myungsoo merasa aneh dengan sikap Sulli. Ia tahu jika Sulli adalah sahabat dekat Soojung, tapi kenapa gadis di depannya itu begitu histeris saat ponsel Soojung tak bisa dihubungi. Soojung bisa saja sedang berjalan-jalan di taman.

“Sulli, tenanglah.”

“Bagaimana aku bisa tenang saat Soojung dan janin dalam kandungannya pergi tanpa memberi kabar dan tak bisa dihubungi, katakan padaku bagaimana aku bisa tenang??!!!”

“Apa yang kau katakan, Choi Sulli?”

“Soojung tengah mengandung anakmu, Kim Myungsoo! Dia sangat tertekan saat menerima hasil pemeriksaan di rumah sakit tempo hari. Emosinya sedang tak stabil. Dan sekarang dia pergi entah kemana. Kita harus mencarinya, Myungsoo.”

Bagai disambar petir –mungkin itu ungkapan yang pas bagi Myungsoo saat ini. Pria itu terduduk dengan lemas di kursinya. “Jung –Soojung.”

Mwoga? Kau berada di kantor Myungsoo? Geure, aku akan menjemputmu sekarang. Chankkam.”

Kim Kai segera memutus sambungan telpon. Pria itu segera mengenakan jaket dan beranjak dari kursi kerjanya.

Bae Sooji yang baru saja akan menemui Kai menahan pria yang sedang terburu-buru itu. “Kau akan pergi? Sebentar lagi kita ada pertemuan dengan presdir.”

Mianhae, sepertinya kau bisa menemuinya sendiri. Soojung hilang –aku, Myungsoo dan Sulli akan mencarinya. Aku harus segera pergi sekarang.”

Sooji menahan lengan Kai. “Jung Soojung hilang? Tidak mungkin. Dia terlalu dewasa untuk dikatakan hilang, Kai. Biarkan Myungsoo dan temanmu itu yang mencarinya, ini pertemuan penting.”

Kai menepis tangan Sooji yang menahannya. “Aku tidak bisa, Sooji! Soojung lebih penting untukku.”

Sooji mengerutkan keningnya, lantas ia menahan lengan Kai lagi. “Jika Soojung lebih penting bagimu –biarkan Myungsoo yang mencarinya, aku rasa Soojung akan lebih bahagia jika Kim Myungsoo yang menemukannya.” Sooji melepaskan tangan Kai dan pergi begitu saja.

Sementara itu Kai terlalu cepat untuk mengandalkan logikanya. “Bae Sooji!” Kai memutar langkahnya, dengan cepat menyusul Sooji yang sudah berada di dalam lift.

Beruntung pintu lift itu belum tertutup. Kai segera menarik tangan Sooji agar wanita itu keluar dari lift, Kai mencengkram lengan Sooji. “Apa maksud dari ucapanmu barusan?”

Sooji menatap tajam Kai. “Apa yang kau inginkan?”

“Katakan padaku, apa maksud dari ucapanmu barusan padaku.” Kai menatap lurus ke dalam mata Sooji, ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan wanita di depannya itu. Di dalam mata Sooji tersimpan ketakutan, namun sikapnya seperti mengatakan hal lain. Lantas Kai melonggarkan cengkramannya pada lengan Sooji.

“Tak ada maksud apapun.”

Kai memilih untuk melepaskan lengan Sooji dan membiarkan wanita itu berlalu begitu saja. Kai tidak ingin memaksa karena ia harus segera menjemput Sulli.

Pintu lift itu terbuka di lantai paling atas gedung kantor. Bae Sooji melangkahkan kakinya menuju sudut lorong. Disana terdapat pintu darurat dengan undakan anak tangga menuju rooftop gedung kantor tersebut.

Disana seorang pria dengan jaket yang membalut kaos tipisnya tengah berdiri di dekat pagar pembatas. Kedua matanya tertutup kacamata hitam tapi Sooji menyadari tatapan misterius di balik kacamata hitam yang dikenakannya. Pria itu mengulas senyum tipis saat Sooji menghampirinya.

“Kang Minhyuk?”

Pria itu –adalah Kang Minhyuk –memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunggu Sooji untuk sampai di hadapannya.

“Ibu mu memintaku untuk menjemputmu, Bae Sooji.” Ucap pria itu.

Eomma? Bukan kah dia sedang pergi ke Jepang?”

Kang Minhyuk mengangguk. “Dia memberiku pesan untuk menjemputmu, dan memintamu untuk tetap diam di apartemen sampai ia menelponmu.”

Kening Sooji berkerut. “Seharusnya dia bisa menghubungiku sendiri. Kenapa harus menghubungimu dan membuatmu repot-repot untuk menjemputku?”

Kang Minhyuk mendekat pada Sooji. Pria itu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Sooji dengan hati-hati. “Karena jika aku tak menjemputmu –kau pasti akan segera berlari dan menyelamatkan Myungsoo yang sedang mencari Soojung saat ini.”

Bae Sooji terdiam di tempatnya, untuk beberapa saat tubuhnya menegang. Kang Minhyuk semakin mengulas senyum dan langsung menyergap kedua tangan Sooji. Wanita itu tak sadar jika tangan Minhyuk memegang borgol dan kini benda itu sudah melingkari pergelangan tangannya.

Wae, Kang Minhyuk. Wae?!! Kenapa kau kembali pada Ibuku, Minhyuk? Kenapa kau kembali menjadi anak buah Ibuku?!!” Sooji meronta dengan begitu keras, namun suaranya tak sanggup didengar orang lain karena jaraknya yang sedang berada di rooftop.

Minhyuk menutup mulut Sooji dengan sebuah kain yang sudah ia siapkan disaku celananya. “Ini semua karena Kim Myungsoo. Pria itu terlalu naif karena sudah dengan mudah melupakan masalalu. Tapi aku tidak –aku tidak bisa melupakan apa yang sudah dilakukannya padaku.”

Hati Sooji terasa kebas. Ia mengingat percakapan dengan Ibunya semalam.

*

“Eomma.”

“Uhm? Kau membutuhkan sesuatu, ttal-ah?”

Sooji terdiam sebentar sebelum melanjutkan percakapan mereka. “Bisakah, kali ini kau mendengarkan aku dan mengikuti kemauanku?”

“Apa yang ingin kau katakan, Bae Sooji?”

“Aku –sepertinya aku tak ingin menikah dengan Myungsoo.”

“Kau yakin? Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

“Aku tidak tahan jika harus bahagia diatas penderitaan orang lain, Eomma. Myungsoo –kini dia adalah calon Ayah dari janin yang dikandung oleh Soojung.”

Sooji menarik nafas dalam.

“Andaikan aku berada di posisi Soojung saat ini –mungkin aku akan menderita karena jika kelak anaknya lahir tanpa memiliki Ayah, Soojung maupun anaknya akan terus menderita.”

Hyorin, disebrang sana menunggu Sooji melanjutkan ucapannya.

“Eomma, aku mohon. Lupakan dendam mu pada keluarga Myungsoo. Bukan kah kau mencintai Tuan Kim?”

“Sama sepertimu yang mencintai Myungsoo, Sooji-ya. Tapi aku tak bisa melepaskan Jae Sook begitu saja. Dan aku tak ingin melihatmu menderita sama sepertiku, kau harus bahagia, Sooji. Aku tahu kau hanya bisa bahagia jika bersama dengan Myungsoo. Maka aku akan melakukan apapun untuk kebahagianmu. Kau bilang Soojung sedang mengandung? Lupakan!  Janin itu masih tetap berupa janin. Semuanya bisa berubah, Sooji.”

“Eomma!”

Tut

Tut

Tut.

*

Bunyi gemuruh yang begitu kencang datang dari arah alin. Sebuah halikopter mendarat tak jauh dari posisi Minhyuk dan Sooji saat ini. Kang Minhyuk segera menyeret tubuh Sooji untuk masuk ke dalam helikopter tersebut.

Myungsoo, Sulli dan Kai kini berada di taman kota, tak jauh dari apartemen tempat tinggal Sulli dan Soojung. Sulli semakin panik saat jam dalam ponselnya menunjukkan pukul sepuluh malam dan Soojung masih belum bisa dihubungi. Sementara Myungsoo tak bisa diam di tempatnya terus mondar-mandir di depan Kai yang sedang menelpon beberapa rekannya yang bekerja dibidang intelektual dan meminta mereka untuk menemukan ponsel Soojung.

Getar pada ponsel yang berada pada blazernya tak ia hiraukan, Myungsoo terlalu panik sampai tak bisa berpikir apa-apa lagi. Merasa kesal karena panggilan terus masuk dalam ponselnya, Myungsoo mengeluarkan benda itu dari dalam saku blazernya.

Soojung’s Calling . .

Melihat Soojung menelponnya, Myungsoo dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.

“Jung Soojung! Kau berada di- Kang Minhyuk?”

“Soojung sedang berada bersamaku, Myungsoo.

Kening Myungsoo berkerut saat ia mendengar Minhyuk yang menelponnya melalui ponsel Soojung. Minhyuk berbiacara dengan nada yang begitu santai. “Kalian berada dimana?”

“Kami berada di kawasan distrik, Gwanggi-do. Bisakah kau menjemput kami, Myungsoo? Ban mobilku pecah dan disini tak ada siapapun.”

Geure. Aku akan men -”

“JANGAN KEMARI, MYUNGSOO!! ANDWAE!!”

“Soojung?!!” Tubuh Myungsoo menegang saat mendengar teriakan Soojung dari sebrang telponnya. Sesuatu terjadi pada Soojung dan Minhyuk ada di sana. “Kang Minhyuk!! Apa yang terjadi?”

“Ugh, sayang sekali wanitamu ini berteriak. Aku tidak akan berbasa-basi, Myungsoo. Datang lah kemari dan jemput Soojung. Tapi ingat, jangan bawa siapapun bersamamu, arrachi?”

Sambungan telpon terputus begitu saja. Beberapakali Myungsoo mencoba untuk menelpon kembali, namun nomor ponsel Soojung sudah tak aktif lagi. Pria itu begitu panik sekarang.

“Apa yang dikatakan Soojung, Myungsoo?”

Kedua tangan Myungsoo mengepal, rahang pria itu pun mengeras. “Soojung, disandera oleh Kang Minhyuk.”

“Kang Minhyuk? Kang Minhyuk seonbae? Bukan kah Minhyuk seonbae adalah temanmu, Myungsoo? Bagaimana mungkin? Selamatkan Soojung, Myungsoo!” Sulli menekap mulutnya.

BUGH!

Rahang Myungsoo memanas setelah Kai meninjunya.

“Ini semua karenamu, Myungsoo! Kau menempatkan Soojung dalam bahaya.”

Kim Myungsoo tak tahu harus membalas Kai atau bagaimana lagi. Kini ia hanya mengkhawatirkan Soojung dan –kandungan wanita itu.

 

To be continue . . . . . . . . . .

 

n/b; ekhem, okey. First, i wanna say thanks to all of assignment that I have in this semesters. Beneran, jadi mahasiswi semi tingkat akhir itu gak enak bangeeeeet, banyak banget tugas dan bimbingan sana sini, laporan coret sana sini T____T sampe buat lanjutin ff ini aja harus curi-curi waktu, karena kalo beneran sama aku dipause, jalan ceritanya pasti ancur dan terlupakan, hukse. Gak ada unsur curhat disini, maafkan.

Tapi – I took update-ing this story forever, right? Really deep sorry😦 aku pun pengen banget cepet beres dan .. yeah, karena ep.06 ini udah mendekati episode terakhir, aku bakal usahain buat update dua minggu sekali, keep support meehh😉

Secondly, kalian pasti tahu kan konfirmnya dating Krystal dan Kai? Ugghhh, itu juga yang jadi salah satu moodbreaker-ku buat update😦 cuma bisa bilang, sudahlah~ aku masih mencintai MYUNGSOOJUNG😉 kalian juga kan?

Last~ Silahkan buat mengkritik dan kasih saran yang panjang-panjang buat aku di episode kali ini, karena jujur aku ngerasa episode kali ini kurang memuaskan dan alurnya kecepetan. silahkan koreksi juga jika kalian ngerasa ada yang salah sama ceritanya :D 

Makasih banget banget banget buat kalian yang mau nungguin kelanjutan MP, luv you gaaeess. I heart You pokoknya, sampai ketemu di episode 7 ppai ppai

 

from me, with luv❤

10 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Ep.06)

  1. WOW… akhirnya update juga…
    gk nyangka di chapter ini myungsoo bakal tau soojung hamil. dan Kang minhyuk dia itu punya masalah apa sih sma myung?? .

    sempet ngira MP gk akan di lanjut karena Krystal …. ya sudahlah…

    semangat buat authornim ngelanjutin MP’a! FIGHTING!!!

  2. yaa ampun kak update-nya 2 minggu sekali??? daebak lamanya kak kak -_- iya kak dating-nya itu bikin aku nyesek ~_= okay kak aku juga masih myungsoojung kok kak berharap mereka bisa bersama hihihi ^^

  3. Akhirnya Myungsoo udah tau kalau Soojung hamil, tapi Soojungnya diculik sama Minyuk.. Eotokaji?😦
    Kirain Minhyuk disini baik, tapi ternyata… Hmm!
    Next chapter jangan lama2 thor, please.. Aku suka banget soalnya baca ff myungstal disini.. Jadi sering2 update ya..🙂

  4. Jangan lupa banyakin myungstal moment-nya thor, buat penghilang rasa sakit akibat berita dating itu. Huhuhu😦

  5. huh.. akhirnya… penantian panjang.. ff ini buat obat karena acara dating si kaistal.. myungsoo oppa yg sabar yaa..😦 next..

  6. Pingback: [CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode) | myungsOOjung·

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s