Take A Note (#1)

64132-Tree-House

lilvitamin presents

Take A Note (#1)

length: chaptered // genre: AU, slice of life // rating: T

.

Keduanya merencanakan hal-hal aneh yang seru untuk dilakukan bersama di rumah pohon eks Laboratorium Pangeran Katak.

.

Soojung memang anak yang aneh. Julukan ‘Penyihir Aneh’ dialamatkan padanya bahkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia disebut penyihir karena tampangnya yang judes dan tidak bersahabat, meski perilakunya bertolak belakang. Ramah, itu betul. Tapi selain itu ada tingkah aneh dan tidak biasa yang kerap kali ia lakukan.

Myungsoo tahu jika rumah pohon yang dibuatkan oleh ayah Soojung dulunya dinamai ‘Laboratorium Pangeran Katak’. Soojung memelihara katak yang banyak ia temukan di danau dekat gunung. Katak-katak itu kemudian ia tempatkan satu per satu dalam stoples. Seminggu sekali, gadis itu akan bereksperimen dengan mencium para katak tersebut. Ia ingin membuktikan jika satu di antara katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran yang gagah rupawan. Kabar itu kemudian terdengar santer hingga ke seluruh penjuru sekolah.

Tidak hanya ‘Laboratorium Pangeran Katak’, Myungsoo juga pernah mendengar kabar miring lain tentang gadis bertubuh kurus itu. Misalnya soal Soojung yang suka bawa bawang putih ke mana-mana. Soojung mengaku jika darahnya manis dan ia kerap merasa takut vampir akan mendatanginya, maka ia meletakkan bawang putih hampir di setiap tempat. Di kamarnya, di dalam tas, di rumah pohon, bahkan ada yang dikalungkan di setang sepedanya.

Soojung baru resmi menanggalkan gelar Penyihir Aneh setelah ia lulus SMP. Saat menjadi siswi SMU, ia perlahan-lahan mulai berhenti melakukan hal-hal tak lazim. Di umur yang beranjak dewasa ini, ia mengaku pada Myungsoo, tidak suka menjadi bahan olok-olokan.

Tapi, bagi Myungsoo, justru keanehan Soojung itulah yang membuatnya tertarik. Tingkah Soojung yang tidak biasa itu seperti medan magnet, sementara ia cuma batang besi yang patuh dengan hukum alam.

Pubertas membawa perubahan pada diri Myungsoo. Setidaknya untuk saat ini, ke arah yang baik. Tinggi tubuhnya bertambah hingga hampir sepuluh senti begitu duduk di bangku SMU. Berkat itu, kabut pesimisme yang sempat menggantung di dalam tempurung kepalanya raib. Ia percaya, modal untuk bisa diterima menjadi anggota klub basket sekolah telah ia dapatkan.

Kasak-kusuk kemudian terjadi di antara para supporter klub basket sekolah. Mereka geger ada anak kelas satu yang tahun ini masuk di klub basket inti—klub yang dikirim sekolah untuk diadu dengan sekolah lain. Anggota baru itu bernama Kim Myungsoo. Kemudian terdengar berita bahwa, di suatu kesempatan bertanding, Myungsoo adalah satu-satunya yang mampu menjebloskan bola ke dalam ring lawan. Membuat posisi sekolah mereka imbang dengan sekolah lain di babak pertama dan berbeda tiga poin di babak kedua. Tebak siapa yang menciptakan three-point shoot di detik-detik terakhir? Kim Myungsoo.

Tidak ada yang menyana pula, Kim Myungsoo si pencetak three-point dan satu-satunya pemain junior, akan tunduk pada pesona garis miring keanehan Jung Soojung. Dan, itu bahkan sudah terjadi sejak nama Penyihir Aneh ditujukan pada gadis itu.

Mereka langsung bertanya-tanya, melirik satu sama lain, melongo tidak percaya. “Tunggu … Jung Soojung itu yang mana? Kelas berapa? Mukanya seperti apa?”

Myungsoo, yang ditanya, cuma senyum-senyum. Mengambil handuk di tangan seorang gadis yang barusan mengaku sebagai penggemar sejatinya, mencintainya, dan rela melakukan apa saja. Ia bahkan rela digebok dengan bola basket, asal itu dilakukan oleh Myungsoo.

///

Soojung tentu tahu jika ia punya alias yang diberikan oleh orang-orang di lingkungan sekolah, yang kemudian merembet hingga ke lingkungan rumahnya. Ia sempat menyesal lahir dan tinggal di sebuah kota kecil yang penduduknya mungkin tidak lebih dari lima puluh kepala keluarga ini. Sebuah gosip—jenis apa pun itu, baik ataupun buruk—akan dengan cepat menyebar. Seolah gosip-gosip itu ibarat selai dan ada pisau roti raksasa transparan yang membantu meratakannya.

Sejujurnya, kabar burung yang beredar luas tentang dirinya itu separuh benar dan sisanya betul. Maksud Soojung, ia sungguhan mencium katak-katak dari danau di kaki gunung dan mengalungkan bawang putih di setang sepedanya. Memangnya kenapa? Apa yang salah? Tiap-tiap orang melalui masa kecil bahagia dengan caranya masing-masing.

Gara-gara dicap aneh, Soojung jadi harus merelakan masa kecilnya bahagia meski dengan jumlah relasi sosial yang hampir mengkhawatirkan. Ketika SD, saat berita Penyihir Aneh sedang derasnya mengalir tanpa bisa ia hentikan, tidak ada yang mau duduk sebangku dengannya. Kumbang macan yang sering hinggap satu atau dua di jendela dekat bangkunyalah yang menjadi teman Soojung kecil hingga masa sekolah dasar berakhir. Ketika SMP, barulah dia datang.

Namanya Kim Myungsoo. Celah matanya yang sempit seringkali tertutup saat lelaki itu tertawa. Baru makhluk ini satu-satunya yang tidak panik saat Soojung mendekat. Kata Myungsoo, ia telah mengenal Soojung sejak SD. Soojung bilang, tentu saja, tidak ada yang tidak kenal dengan Penyihir Aneh di masa-masa itu. Selama ini, Soojung menganggap bahwa hal-hal aneh yang ia lakukan itu menyenangkan. Namun, ternyata rasanya akan berkali-kali menyenangkan bila ada yang menemaninya.

Soojung memang tidak lagi menciumi katak-katak. Tapi ia masih meninggalkan beberapa siung bawang putih di meja belajar dan di dalam sarung bantalnya. Myungsoo ikut melakukan hal itu, tetapi dengan menceburkan beberapa permen ke dalam tasnya dan tas Soojung. Gadis itu menuangkan dua sendok perasan limun ke dalam cangkir kopinya, begitu juga dengan Myungsoo. Mereka membunyikan bel tiap rumah di kota dan lari sekencang yang mereka bisa sebelum pemiliknya keluar. Keduanya merencanakan hal-hal aneh yang seru untuk dilakukan bersama di rumah pohon eks Laboratorium Pangeran Katak. Dan, di lain waktu, Soojung baru tahu bahwa tidak melakukan apa-apa di rumah pohon akan terasa sebegini menyenangkannya jika ada yang menemani.

Lulus dari SMP, Soojung ditawari untuk tinggal bersama dengan pamannya yang berdomisili di Seoul. Kota itu jelas lebih ‘kota’, lebih segala-gala ketimbang kota ini. Ia sempat tercenung lama mendengar perkataan ibunya. Jika ia mengiyakan, maka ia harus mengucapkan selamat tinggal pada kota ini. Pada rumah pohon, daftar hal-hal aneh bersama Myungsoo yang beberapa sudah dicentang, dan Myungsoo—ia akan meninggalkan itu semua.

Soojung lalu jatuh sakit dan harus meringkuk di bawah selimut selama dua hari penuh. Kendati dokter hanya mendiagnosis bahwa ini adalah demam biasa, keluarganya mengatakan ada faktor lain. Putri mereka satu-satunya ini sedang kalut.

“Tidak apa jika memang kau tidak mau ke Seoul, Soojung.” Soojung kemudian merasakan puncak kepalanya dielus lembut oleh sang ayah. Setelah itu, kamarnya kembali sepi. Hanya ada dirinya, pikirannya, dan beberapa siung bawang putih yang ia genggam, entah untuk apa.

Soojung tahu betul, ini semua hanya tawaran belaka. Ia diperbolehkan menerima maupun sebaliknya. Ironisnya, meski kita dibebaskan memilih, tetap saja kita akan terikat oleh apa pun konsekuensi yang ada dibalik pilihan itu. Soojung antara siap dan tidak dengan pilihan tinggal di kota ini. Di kota mungil ini, hanya ada sebuah SD dan SMP yang kedua gedungnya jadi satu. Bila ingin menuntut ilmu lebih lanjut, diharuskan mengambil ke SMU di kota sebelah atau ke sebelahnya lagi. Dan, jika ingin lanjut lagi, pilihannya hanya ke kota sebelahnya sebelah sebelah.

Setelah sembuh total dari demamnya, ia bertemu dengan Myungsoo di rumah pohon. Lelaki itu bercerita jika ia akan meneruskan pendidikannya ke SMU kota sebelah. Ia mengaku akan merasa sangat kesepian jika Soojung benar-benar pergi ke Seoul.

Soojung serta merta turun dari rumah pohon dan berlari ke rumahnya. “Ibu, aku tidak akan pernah meninggalkan kota ini! Bilang ke Paman, Bu, Jung Soojung akan terus berada di sini!” serunya, kemudian dilempari serbet dapur oleh Ibu karena teriakannya bisa terdengar sampai kaki gunung.

Duduk di bangku SMU, secara perdana, ia telah benar-benar menanggalkan gelar Penyihir Aneh di belakang namanya. Alumnus SMP-nya banyak yang memilih SMU kota sebelahnya sebelah dan yang memilih SMU kota sebelah hanya beberapa gelintir saja. Ia dan Myungsoo termasuk ke dalam beberapa gelintir tersebut.

Ia perlahan-lahan mulai berhenti melakukan hal-hal tak lazim. Di umur yang beranjak dewasa ini, ia sudah tidak mau menjadi bahan olok-olokan. Tidak lagi. Apalagi setelah ia mengaku pada Tracey—boneka bebek yang selalu jadi tempat curahan hatinya—bahwa ia menyukai Myungsoo. Soojung berjanji ia akan menjadi wanita anggun yang diidamkan oleh pemuda itu.

///

“Ke mana bawang putih yang biasa kaubawa?” tanya Myungsoo saat ia mengaduk isi tas Soojung. Tujuan awalnya adalah mencari permen rasa susu yang hampir tak pernah alpa di dalam tas gadis itu, tapi malah heran begitu tak melihat eksistensi bawang putih.

“Aku tidak lagi membawanya,” jelas yang ditanya. Singkat, padat, tetapi tidak begitu jelas apa penyebabnya bagi Myungsoo.

“Selama ini kau membawa bawang putih agar terhindar dari vampir,” Myungsoo bersuara lagi dan Soojung mengangguk, “kalau kau sudah tak membawanya lagi, maka vampir bisa dengan leluasa mengisap darahmu. Kau tidak takut?”

Soojung tertawa. “Hello, earth to Myungsoo? Kita sudah umur berapa? Hampir lulus SMU,” tandasnya, setelah gelak mereda. “Vampir itu hanya isapan jempol.”

Baiklah, batin Myungsoo. Selepas hari itu, seperti Soojung, ia tak lagi menyimpan bawang putih ke dalam tasnya, tak lagi menuang perasan limun ke dalam cangkir kopinya, dan tidak lagi iseng menekani bel tiap rumah di kota. Lama-lama, mereka sudah tak lagi melirik daftar hal-hal aneh yang tertempel di salah sisi dinding rumah pohon. Dan, lama-lama, entah ini hanya perasaan Myungsoo saja atau bukan, Soojung berubah … normal.

Kenormalan itu justru membuat Myungsoo seperti bicara dengan gadis dari antah berantah. Ia seperti tidak sedang berbincang dengan Soojung yang sekarang sering bicara dengan kalem, kontras dengan kebiasaannya yang suka bercerita dengan menggebu-gebu.

“Ada apa?” Myungsoo kerap kali bertanya demikian pada Soojung.

Mendengar itu, terbentuklah lipatan-lipatan di dahi Soojung yang mulus, “Apanya yang ada apa?” ia bertanya balik.

Myungsoo sendiri kadang tidak paham. Ada begitu banyak ‘ada apa’ yang ingin ia tanyakan. Ada apa dengan kebiasaan bercocok tanam yang tadinya tak pernah kaulakukan, ada apa dengan tumpukan buku resep memasak padahal kau paling tidak suka memasak, ada apa denganmu. Namun, tak ada suara yang keluar dari celah bibir Myungsoo. Ia hanya menggeleng. Ketika gadis itu menawarkan sebuah muffin yang baru ia buat, Myungsoo menerimanya.

Mari kita anggap bahwa Myungsoo sudah sepenuhnya ikhlas kehilangan si Penyihir Aneh. Ia kini telah menerima Soojung yang bertransisi. Berubah atau tidak, aneh atau tidak, ia tetap Soojung yang merebut hati Myungsoo sejak hari pertama kepindahannya ke kota kecil ini.

.

.

.

to be continue …

3 responses to “Take A Note (#1)

  1. bagus ffnya…
    ngakak sama kelakuan soojung..
    ditunggu kelanjutannya..

    fighting!!!

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s