Take A Note (#2)

64132-Tree-House

lilvitamin presents

Take A Note (#2)

length: chaptered // genre: AU, slice of life // rating: T

.

Belakangan ini ia seperti sedang berhadapan dengan dua Soojung berbeda.

.

Soojung tidak pernah benar-benar ingin pergi jauh dari kota kecil ini. Kota ini adalah kota tempat ia dilahirkan, kota di mana ia menempati rumahnya, dan mungkin kota yang akan menjadi saksi ketika masa hidupnya berakhir.

Namun, semuanya berubah ketika sang paman datang dari kota lain dan membawa satu dus penuh berisi buku-buku bekas. Second-hand, koreksi pamannya, karena menurutnya terlalu kejam menyebut sebuah buku sebagai barang bekas. Ilmu yang ada di dalamnya tidak akan pernah menjadi bekas, selama buku itu tetap diurus dan dijaga. Buku-buku itu masih layak baca—jauh di atas layak, Soojung mengira semua buku itu masih baru. Ketika itu, mata dan hatinya serta-merta terbuka: bumi terlalu luas untuk diarungi. Hidupnya tidak boleh hanya berpijak di kota ini saja!

Sejak saat itu, ia benar-benar ingin pergi jauh dari kota kecil ini.

“Soojung, berhenti.”

“… Eiffel, Maladewa, Hawaii, Hutan Amazon. Bukankah ini menyedihkan? Selama delapan belas tahun hidupku, baru kali ini aku menemukan sesuatu yang begitu memesona. Aku sampai takjub.” Mata gadis itu berkaca-kaca. Entah karena mengantuk, kesal, atau saking bahagianya—Myungsoo tidak paham.

Myungsoo mengingat-ingat lagi percakapan panjangnya semalam dengan dara bersurai cokelat itu, hingga ia jengkel sendiri. Telinganya sakit, hatinya dongkol. Soojung terus membangga-banggakan pamannya yang datang sebulan sekali membawa satu dus buku second-hand untuk keponakannya tersayang. Bulan depan, pamannya janji memberi bonus satu buku baru jika Soojung berhasil membaca seluruh buku yang ia bawa bulan ini.

“Aku tidak akan melupakanmu, kok,” ucapan yang keluar dari celah bibir gadis itu tadi malam, keluar lagi pagi ini. Soojung meletakkan panekuk yang baru matang di atas piring milik Myungsoo. “Spasi di memori otakku masih banyak, jangan takut terhapus dari situ.”

Myungsoo mengangkat sebelah bahunya, bersikap seolah tak begitu menganggap serius omongan gadis itu. Konyol, ia merasa dikalahkan oleh lembar-lembar kertas tak hidup. Ia pikir, ia hampir tidak pernah punya rival dalam rangka memenangkan hati Soojung. Namun, teorinya ternyata terbantahkan. Diam-diam, ia menaruh iri pada tiap buku yang Soojung letakkan di bawah bantal, yang disisipkan di antara piring-piring di dapur, ataupun yang ada di rumah pohon tempat mereka biasa menghabiskan sore bersama.

Satu hal yang ia kenal betul tentang dirinya sendiri: ia tidak suka kalah. Myungsoo akan berubah ambisius jika itu berkaitan dengan kompetisi apa pun. Pada akhirnya yang menyabet gelar juara haruslah dirinya. Satu-satunya cara agar dapat memenangkan hati Soojung kembali adalah dengan berpura-pura antusias terhadap buku. Taruh kecintaan palsu terhadap benda satu itu di hadapan Soojung, maka Myungsoo akan berada selangkah lebih dekat menuju tujuannya.

///

“Siapa nama kucing itu?”

“Schrödinger! Diambil dari Paradoks Kucing Schrödinger—paradoks terbesar dalam dunia fisika,” Soojung menyahuti pertanyaan Myungsoo dengan wajah berseri. Tangannya sibuk mengusap puncak kepala kucing lusuh yang baru ia temukan di pinggir ladang gandum ayahnya tadi siang.

Myungsoo meremas lututnya yang terbungkus celana kain. Ia tidak mau berbagi Soojung dengan siapa pun. Tidak dengan buku ataupun dengan kucing gembul itu.

“Tapi aku belum tahu apakah ia jantan atau betina,” Soojung buka suara lagi.

Ada jeda sebentar, sebelum Myungsoo akhirnya meneruskan, “Tadi kau bilang dia jantan?”

“Aku tidak bilang begitu!”

“Kau bilang begitu. Sesaat setelah kau masuk ke dapur bersamaku lewat pintu belakang, kau histeris lalu mengatakan bahwa kucing itu jantan, Soojung.”

“Aku tidak pernah histeris,” balas gadis itu. Wajah jelitanya yang tadi berseri kini tertekuk-tekuk.

“Kau histeris soal ending novel yang kauanggap menyayat hati.”

“Novel apa, sih? Aneh sekali. Sudahlah, aku mau mandi,” selepas berkata begitu, Soojung naik ke lantai dua dan meninggalkan Myungsoo yang melongo.

Sebuah pemikiran tiba-tiba bertengger di benaknya dan urung pergi meski Myungsoo berusaha tak menggubrisnya. Belakangan ini ia seperti sedang berhadapan dengan dua Soojung berbeda. Satunya kalem luar biasa, satunya meletup-letup dengan emosi yang tidak keruan labilnya. Tiap wanita memang mengalami fase seperti itu setidaknya dalam kurun waktu seminggu tiap bulannya—kau tentu tahu yang dimaksud Myungsoo—tapi Soojung melakukannya hampir setiap hari. Pergantian mood itu setidaknya terjadi paling sedikit tiga kali dalam sehari. Seperti minum obat batuk saja, pikir pemuda itu.

Dan, kalian baru saja berkenalan dengan Soojung yang kedua—yang luapan emosinya bisa meledak kapan saja bagai bom waktu.

“Soojung, aku sudah selesai membaca Dunia Sophie. Kuletakkan di mana buku ini?” tanya Myungsoo dengan suara agak keras karena ia sekarang duduk di dapur, sedangkan Soojung sedang mandi di kamar mandi lantai dua. Sebelah tangannya bertumpu pada meja, yang lain digunakan untuk membolak-balik halaman novel tanpa terdapat sedikit minat pun.

Derap langkah Soojung menuruni tangga terdengar tak lama kemudian. “Berikan padaku, aku belum membacanya.”

Myungsoo melongo. Entah sudah berapa kali dalam sehari ini bibirnya membundar tanpa ada suara yang keluar. Tangan Soojung yang terulur untuk menjumput buku bersampul biru pupus di sebelah cangkir teh milik Myungsoo terhenti di udara. Myungsoo menggeser Dunia Sophie menjauh. “Kau sudah membacanya dua kali,” ujar pemuda itu dengan air muka yang campur aduk—bingung, tercengang, tidak paham.

“Benarkah?” Soojung cuma mengerjap, iris legamnya menatap Myungsoo. “Baiklah, aku lupa,” katanya lagi.

“Kau sering lupa belakangan ini. Ada apa? Ada yang kaupikirkan?”

Myungsoo melihat Soojung yang seperti sedang mencari-cari jawaban dalam dirinya sendiri. “Tidak ada,” ada jeda beberapa detik sebelum terucap jawaban tersebut. Ketidakyakinan tergambar jelas dalam suara jernih gadis itu.

Jika boleh menyombongkan diri, maka Myungsoo akan melabeli dirinya sebagai sahabat terbaik yang dimiliki Soojung sepanjang masa. Ia bisa saja mendepak Tracey ke peringkat nomor dua karena status boneka bebek itu yang merupakan teman imajiner, sedangkan dirinya sendiri adalah teman yang nyata. Riil dan ada, bukan semu dan maya.

Ia memahami Soojung, bahkan lebih daripada gadis itu memahami dirinya sendiri. Pemuda itu belum pernah mencecap studi mengenai micro expression, tetapi ia paham betul dan sanggup membedakan air muka Soojung yang sedang marah, senang, sedih, atau sakit perut. Dan, barusan, Soojung baru saja menjawab pertanyaannya dengan ragu.

Keesokan harinya setelah ia pulang dari bekerja di kota sebelah, ia menemui Soojung di rumah pohon. Seperti sore-sore belakangan ini, Soojung ditemani oleh sebuah novel dalam genggamannya.

“Soojung,” panggil Myungsoo dan gadis itu terdistraksi dari kegiatannya. Myungsoo sempat menahan napas sejenak. Alasannya dua. Satu, karena serpihan jingga senja merembes dari kisi-kisi dinding rumah pohon dan menimpa gadis itu, hingga membuatnya lebih jelita dari objek mana pun. Dua, karena ia sedang memerangi batinnya sendiri dan rasanya perih. Iris legam gadis itu menatap Myungsoo, menunggunya menjelaskan. “Ayo, ikut aku ke Seoul,” lanjut pemuda itu kemudian.

///

Untuk sementara ini, skornya dengan tumpukan buku di rak Soojung adalah seri. Dalam sekejap, Myungsoo telah merebut kembali posisi nomor satu di hati gadis itu.

Mereka sudah lama meninggalkan tradisi mengisi daftar kegiatan aneh yang akan dilakukan saat senggang. Soojung berdalih, hal itu sudah terlampau tak lazim untuk ukuran dua orang yang beranjak dewasa. Gadis itu kemudian mengusulkan sebuah ide. Ide itu serupa dengan membuat sebuah daftar, tetapi alih-alih sebuah daftar kegiatan aneh.

“Daftar itu akan kita isi dengan tempat-tempat yang ingin aku—eh, kita, maksudku—kunjungi. Bagaimana?”

“Maksudmu … tempat-tempat yang bahkan namanya susah dieja itu?” wajah Myungsoo lantas berubah mengerut mendengar ide yang dicanangkan Soojung.

“Tentu saja!”

Lalu, Myungsoo membiarkan telinganya panas disisipi ocehan Soojung yang meluap-luap soal tempat-tempat indah yang ada di luar negeri. Ia, yang telah beradaptasi dengan perubahan mood Soojung secara tiba-tiba, tidak terkejut saat mendengar gadis itu mulai berbicara dengan kecepatan setara kereta api maglev.

Mungkin Soojung salah sangka mengira Seoul adalah gerbang menuju sebuah kegiatan traveling. Kenyataannya, Myungsoo tidak menggondol pergi Soojung ke sini untuk alasan itu. Sama sekali tidak.

“Kita akan bicarakan lagi masalah jalan-jalan ini lain waktu, ya?” sela Myungsoo. Jujur, ia sendiri tak rela membiarkan harapan gadis yang begitu ia kagumi ini pupus.

Soojung diam sebentar. “Kau khawatir soal biaya? Dengar, sebenarnya kita tidak perlu risau sama sekali soal hal itu. Kita harus mengantisipasi pelajaran besar yang diajarkan sebuah momen traveling pada kita. Pelajaran itu justru tidak akan kita cari, ia akan datang seperti bola salju yang mengejar kita dari belakang. Lama-lama makin besar dan makin cepat. Kemudian ia akan menubruk kita dan boom! Traveling mengajarkan kita banyak hal, Myungsoo.”

Tidak ada yang bisa Myungsoo lakukan selain menampakkan sebuah senyum di bibirnya. Ia tidak percaya bagaimana Soojung bisa menyaingi kecepatan bicara seorang wartawan yang tengah menyampaikan berita paling kini, paling hangat, dan paling-paling lainnya. Ingin ia sampaikan sebuah pertanyaan pada Soojung, “Kau tadi sempat mengambil napas tidak, selama bicara?” tapi ia urungkan. Takut dikira mengalihkan topik perbincangan mereka.

“Pelan-pelan,” akhirnya Myungsoo menyahuti. Ia mengaduk-aduk vanilla latte di hadapannya. Minuman ini tidak pernah ada di daerah rumahnya. Yang ia tahu, cangkir di hadapannya ini diisi oleh kopi berbau harum dan kelihatan mahal, gula, serta entah apa lainnya yang digerus dan dikocok jadi satu. Tidak peduli, yang jelas ia menikmatinya.

Keduanya sempat bertukar pandang sejenak. Soojung hanya mengangkat bahunya. “Maaf, aku bertingkah aneh lagi,” ia bergumam.

“Kau tahu, aku tak pernah mempermasalahkannya. Bertingkahlah aneh dan jadilah dirimu sendiri—jadilah Soojung.”

“Kau memang tak mempermasalahkannya, tapi aku.” Soojung memang menunduk, bidang visinya kini teralih pada genangan hitam dalam cangkir di hadapannya. Namun, Myungsoo tahu ekspresinya mengeras. Ia kembali bertingkah sebagai Soojung yang kedua—yang sensitif minta ampun.

Take a chill pill, Soojung,” Myungsoo mengimitasi dialog yang pernah ia dengar dari sebuah film Barat. Kemudian dengan bersusah payah ia putar balik dialog itu menjadi bahasa Korea. Tak sangka, ia kini berkesempatan menggunakannya.

“Aku tidak bisa bertemu dengan pamanmu dalam keadaan begini,” Soojung menggeleng, “salah-salah nanti aku malah mengacaukan pertemuan ini.”

Pemuda itu buru-buru menyela, “Kita tidak bisa membatalkan janji. Pamanku sudah dalam perjalanan ke kafe ini.” Dua kalimat itu cukup untuk membuat Soojung yang hendak beranjak, kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi. “Tujuanku mengajakmu ke sini, kan, memang supaya kau bertemu dengan pamanku,” Myungsoo menambahkan.

“Tapi aku tidak bisa menjamin sebuah kesopanan berbicara saat suasana hati sedang buruk.”

“Pamanku tak akan mempermasalahkannya, aku yakin.”

///

“Selamat malam, Myungsoo.”

Selepas berucap demikian, Soojung menghilang ke dalam kamar tamu yang sementara diklaim sebagai kamarnya. Di Seoul, untuk beberapa hari ke depan, mereka menempati rumah paman Myungsoo yang sudah lama tak dihuni. Rumah yang berlokasi di pinggiran kota itu tak memudahkan pamannya untuk mencari kendaraan umum di pagi hari. Paman Myungsoo, beserta keluarganya, kini tinggal di pusat kota Seoul. Sesekali mereka datang ke rumah yang tak dihuni ini untuk sekadar membersihkannya.

Myungsoo butuh setidaknya sekitar setengah jam untuk mengumpulkan keberanian. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya dan mengetik deretan angka yang diberikan sang paman saat mereka bertemu sore tadi.

Terdengar nada sambung. Myungsoo panik setengah mati. Hal pertama yang ia ingin dengar ketika pamannya mengangkat telepon adalah sebuah kabar baik.

“Rumah Sakit Umum Chungmu, Seoul. Ada yang bisa kami bantu?”

Myungsoo tidak langsung menjawab. “Ini bukan nomor telepon milik Kim Daebin?”

“Bukan, Pak. Tapi dr. Kim adalah salah satu dokter yang bekerja di sini.”

“Apa malam ini beliau ada jadwal jaga? Boleh minta nomor teleponnya?” telinga Myungsoo sedikit gatal begitu mendengar dirinya dipanggil ‘Pak’. Padahal ia baru saja berumur sembilan belas tahun pada Februari lalu.

“Ada. Tapi, maaf, kami dilarang memberikan informasi pribadi karyawan kepada pihak yang belum diketahui. Saya bisa menyambungkan Anda ke telepon di ruangan dr. Kim, jika Anda berkenan.”

Myungsoo cepat-cepat mengangguk, meski tahu operator rumah sakit tentu tak bisa melihatnya. “Tolong sambungkan, terima kasih.”

Setelah menunggu kurang dari lima menit, pamannya akhirnya menjawab panggilan Myungsoo. “Myungsoo? Maaf, tadi aku sedang menunggu hasil rontgen.”

Ekspresi wajah Myungsoo lantas mengeras. Namun, seperti operator rumah sakit tadi, Kim Daebin pasti tak bisa melihatnya. Kabut ketegangan menggantung di ruang tengah tempatnya berdiri. “Lalu …” pemuda itu berdeham, tenggorokannya terasa kering, “apa hasilnya?”

“Dari gejala yang dialami temanmu, … Jung Soojung, kecurigaanku ternyata benar. Ia mengidap demensia. Untuk kasus ini, penyebabnya adalah alzheimer.”

Myungsoo harus segera duduk di sofa jika tidak ingin kehilangan keseimbangannya. “Alzheimer hanya dialami oleh orang-orang tua, Paman. Umur Soojung tidak jauh beda denganku.”

“Itu bisa saja terjadi,” sela Kim Daebin, “alzheimer sangat amat mungkin menyerang mereka yang usianya di bawah empat puluh tahun. Penyakit memang akan terus berkembang, Myungsoo.”

“Apakah mungkin …” pandangan Myungsoo kini tertambat pada pintu kamar tamu. Ia harus mengatur napas dan ritme debum jantungnya yang lebih cepat dua kali dari biasanya. “Apa mungkin ada cara untuk menyembuhkannya?” pemuda itu bertanya seolah-olah tidak ada hal yang mungkin dilakukan untuk mengangkat penyakit itu dari Soojung dan ia menyesalinya.

“Tidak ada,” cetus pamannya. “Alzheimer adalah penyakit progresif, bertahap dari waktu ke waktu, dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Gejalanya akan berubah menjadi parah seiring berjalannya waktu.”

Myungsoo tidak bisa menerima kenyataan jika nantinya Soojung lambat laun akan melupakan dirinya. Pengidap alzheimer, yang ia ketahui, biasanya akan kehilangan memori, mengalami perubahan suasana hati, dan punya masalah dengan komunikasi. Dan, memang benar, Soojung telah mengalami setidaknya dua dari gejala tersebut. Gadis itu sering lupa dengan hal-hal yang baru saja dilakukannya dan acap kali mengalami perubahan mood yang drastis.

“Myungsoo,” suara pamannya menarik Myungsoo kembali pada realitas, “apa Soojung pernah mengalami cedera di bagian kepala atau leher?”

Pemuda itu serta-merta terlempar kembali ke masa lalu. Soojung pernah mengalami kecelakaan saat mereka berada di rumah pohon. Saat itu, rak kayu yang menempel di dinding rumah pohon terlepas dan menabrak kepala Soojung. Esoknya, Soojung langsung demam selama dua hari. Peristiwa itu terjadi ketika mereka baru saja lulus SMP. Myungsoo pikir, Soojung sakit karena merasa galau antara ingin ikut seorang saudaranya di Seoul atau menetap di kota tempatnya dilahirkan. Ternyata bukan?

“Bisa jadi itu adalah awal mula penyakit ini. Selain itu, bisa juga karena faktor genetik ….” Suara Kim Daebin di ujung sambungan telepon terdengar makin kecil, lalu akhirnya menghilang. Myungsoo ditelan bulat-bulat oleh kesunyian ruang tengah.

.

.

.

to be continue …

4 responses to “Take A Note (#2)

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s