[CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode)

MP_6

geaarifin ©2016 present

Marriage Proposal

staring; Krystal Jung-L Kim-Bae Suzy-Kim Kai
genre; romance-sad-complicated-AU-marriage life
lenght; chapter
rated; pg +19

review; intro // Ep. 01 // Ep. 02 // Ep. 03  (3A3B)// Ep. 04 // Ep. 05 // Ep. 06 // Last Ep.

“It’s like the cruel in our marriage, can you save me?”

Aku merindukanmu, sangat.

Bila waktu berhenti satu detik saat itu.

Mungkin aku masih bisa merangkulmu.

Meskipun aku tahu,

Aku akan mati bersamamu.

Jung Soojung merasa lelah, ikatan pada kedua tangannya begitu erat –terlebih dengan saputangan yang kini membekap mulutnya. Ia ingin meronta lebih keras, namun tenaga yang dimilikinya sudah terkuras. Di depannya, Kang Minhyuk memasang wajah iba.

“Kau tahu, Jung. Aku akan segera menikah.”

Soojung memalingkan wajah, ia sama sekali tak tertarik untuk mendengar cerita Minhyuk.

“Oh, aku belum memberitahumu’kan, dengan siapa aku akan menikah?” Pria itu beranjak dari kursinya. “Kau ingat Seolhyun, teman satu kelasmu dulu? Aku akan menikah dengannya.” Minhyuk melanjukan ceritanya, “Bagiku, Seolhyun bukan lah wanita yang aku cintai. Cih, ini semua karena wanita sial itu yang memaksa untuk dijodohkan denganku.” Diakhiri tawa hambar, Minhyuk mendekatkan wajahnya pada Soojung.

“You are still the one, Jung.” Bisiknya.

“Tapi kau tak semenarik dulu, Jung. Aku membawamu kemari bukan untuk merayumu, aku hanya ingin membalaskan dendamku pada Kim Myungsoo.”

Soojung menatap tajam Minhyuk, beberapa kali ia mencoba menendang pria itu –meskipun ia tahu jika usahanya akan berakhir sia-sia, tubuh terikatnya sedang tak bisa melakukan apapun saat ini.

Ahh! Bukannya kau sedang hamil? Aku harus memberikan ucapan selamat untuk Myungsoo saat dia datang nanti.” Soojung ingin menangis saat Minhyuk mengelus perutnya, ‘Pria brengsek’ –umpatnya. Tanpa ia sadari air mata itu sudah menetes dari kedua matanya, ia tak sudi atas apa yang dilakukan Minhyuk padanya tadi.

Uljima, Jung Soojung. Aku berjanji tak akan menyakitimu dan kandunganmu. Aku hanya butuh bersenang-senang sedikit dengan Myungsoo.”

Kim Myungsoo sudah memarkirkan mobilnya di luar kawasan gedung tua, dia yakin jika bekas gudang pabrik ini adalah tempat dimana Minhyuk menyandera Soojung. Pria itu bergegas menuju gudang yang telah disebutkan Minhyuk dalam pesan terakhir yang dikirimnya. Dengan emosi yang sudah tak bisa ia ajak kompromi lagi, Myungsoo bertekad untuk membunuh Minhyuk jika terjadi suatu hal buruk pada Soojung dan calon anaknya.

“Gudang lima kosong tujuh, aku rasa memang disini.” Myungsoo memastikan jika gudang itu adalah gudang yang benar.

Gudang itu gelap, Myungsoo sempat merasa sanksi untuk masuk. Namun cahaya temaram di sudut gedung membuatnya semakin yakin jika di dalam sana lah Soojung disekap.

“Kang Minhyuk!”

Myungsoo berjalan tergesa, rasa panik dan marah sudah menguasai pikiran dan batinnya.

“Kang Minhyuk, keluar kau bajingan!!”

Siluet seseorang muncul dari balik pencahayaan yang minim itu. Ia berjalan menghampiri Myungsoo dengan langkah yang santai, si pemilik siluet akhirnya menampakan dirinya di depan pria itu.

Myungsoo terdiam di tempatnya.

Lee Hyorin berada di depannya sekarang. Myungsoo menahan amarahnya, ia merasa dipermainkan. Lantas dimana Kang Minhyuk? Sepersekian sekon Myungsoo baru menyadari sesuatu. Lee Hyorin dan Kang Minhyuk melakukan kerjasama untuk mempermainkannya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Myungsoo. Ugh, aku sangat menyesal pertemuan kita seperti ini.”

Myungsoo jelas geram, terlihat dari kedua matanya.

“Dimana Soojung?”

Lee Hyorin berjalan mendekat. “Bagaimana kabarmu, Myungsoo?”

Myungsoo memalingkan wajahnya. Kebenciannya terhadap wanita di depannya itu kini bertambah, tapi ia tahu jika saat ini bukan lah waktu yang tepat untuk meluapkan emosinya. Ia harus tenang untuk menghadapi Hyorin saat ini –demi Soojung.

Jebal –aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Dimana Soojung?”

Hyorin mengangkat sudut bibirnya.

“Dia sedang bersama Minhyuk, aku tidak tahu dimana mereka sekarang.”

“Oh, apa Minhyuk memintamu untuk memilih? Apakah Soojung atau calon anakmu yang akan menjadi saksi malam ini, Myungsoo?” Lanjut Hyorin.

“Cukup!”

Cinta tak harus memiliki.

Benarkah?

Terlalu naif jika setiap orang menyetujui hal itu.

Dadanya terasa sesak, ia menangis di dalam kamarnya yang gelap.

Tangannya bergetar saat meraih ponsel miliknya yang terletak di atas nakas, Bae Sooji –sambil terisak ia menghubungi seseorang yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.

Sambungan telpon itu terus didengarnya, ia putus asa kemudian. Dalam hatinya ia terus berharap jika orang yang dihubunginya itu akan mengangkat telponnya. Lama, cukup lama sampai Sooji merasa usahanya akan sia-sia.

“Yeoboseyo?”

Tuhan mengerti akan hatinya yang sedang gusar dan ketakutan. Gadis itu mengucap syukur tanpa henti.

“Sooji-ya?” Lagi seseorang disebrang sana berucap.

Bae Sooji mengusap air matanya dengan kasar, ia menekan suaranya agar terdengar biasa saja. “Kai-ya.

YA! Bae Sooji, gwaenchana? Ada apa denganmu?”

Ia tak mampu meredam suaranya, isakannya terus terdengar di telinga Kai. Namja itu menunggu Sooji untuk mengatakan sesuatu.

“Soo-jung. Myung-soo.. ”

“Katakan yang benar, Sooji. Ada apa dengan mereka, kau ada di mana sekarang?”

“Selamatkan mereka –jebal.

Sooji tahu –ia kini tahu, bahwa ia tak akan bisa memiliki Myungsoo. Bagaimana bisa ia bahagia bersama Myungsoo dibawah tekanan Ibunya? Keselamatan pria itu adalah yang terpenting sekarang. Sooji mengerti, kebahagiaan Myungsoo adalah Soojung. Sooji meredam keegoisannya, ia memilih kebahagiaan Myungsoo.

Dorr!

Suara peluru yang dilepaskan itu menggema di seluruh sudut ruang.

Perhatian Hyorin dan Myungsoo teralihkan.

Kang Minhyuk ada disana, di depan pintu akses untuk masuk ke gudang tersebut. Kim Myungsoo lantas dengan langkah tidak sabarnya menghampiri pria itu.

“Kau! Beraninya kau melakukan semua ini!”

Genggaman Myungsoo teramat erat di kerah jaket Minhyuk –sementara pria itu tersenyum tajam.

“Dimana Soojung?” Myungsoo meredam suaranya.

“Bermain bersamaku terlebih dulu, Myungsoo.” Gumam Minhyuk, nada bicara pria itu begitu tenang, membuat Myungsoo bena-benar geram.

Minyuk menghempaskan dengan keras tangan Myungsoo dari kerah jaketnya, membuat Myungsoo terdorong cukup keras.

Myungsoo memandang kesekelilingnya –mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk ‘bermain’ bersama Minhyuk. Namun ia tak menemukan apapun –dan keberadaan Hyorin pun sudah taka da disana. Myungsoo memikirkan Soojung saat ini, bagaimana jika Hyorin menghilang untuk menyakiti Soojung? Myungsoo tak bisa berpikir jernih untuk saat ini, pikirannya terbagi atas Soojung dan Minhyuk.

Bugh!

Kim Myungsoo mengerang kesakitan saat pundaknya menerima pukulan benda tumpul dengan begitu keras. Ia berbalik dan Minhyuk kembali memukulnya dengan pistol yang ia bawa –untuk kedua kalinya, Myungsoo tak bisa berkonsentrasi.

‘Soojung’

Bugh!

“Soo –jung, eo –odiseo?” Rintih Myungsoo.

Minhyuk tak lagi melepaskan pukulannya pada Myungsoo, pria itu merasa cukup ‘bermain’ dengan melihat Myungsoo yang sama sekali tak melawannya.

“Kau tidak perlu khawatir, aku sudah berjanji pada Soojung untuk tak menyakitinya. Aku sudah menyerahkannya pada Hyorin.”

Kang Minhyuk tak berlama-lama, ia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Myungsoo yang tersungkur di lantai.

Lantas Myungsoo tak tinggal diam –ia segera bangkit untuk menghampiri Minhyuk.

Bugh!

Kali ini Minhyuk yang terjatuh dengan rahang kanannya  yang terasa perih.

“Sampai Soojung terluka akibat ulah Hyorin –aku akan membunuhmu, Kang Minhyuk!”

Minhyuk menarik sudut bibirnya. Tangannya mengeluarkan pistol dari saku jaketnya.

“Ambilah. Kau akan membutuhkan ini –untuk berhadapan dengan Hyorin.”

Myungsoo menatap tajam Minhyuk.

“Sebenarnya apa tujuanmu, Kang Minhyuk?”

Minhyuk mencoba untuk berdiri. “Cih. Sudah ku bilang –aku hanya mengajakmu bermain, Myungsoo. Tapi kau sama sekali tak membalasku –aku hanya butuh memukulmu untuk kemenanganmu saat kuliah dulu. Anggap saja pukulanku tadi adalah bentuk balas dendamku.”

Kai telah sampai di depan tempat yang Sooji katakan. Bersama dengan gadis itu –mereka berdua turun dari mobil dan segera menuju bangunan tempat dimana Soojung disekap oleh Hyorin.

Di daerah pabrik yang sudah tak terpakai itu mereka mencari kesetiap gudang dan berusaha agar tak terlihat oleh Hyorin dan anak buahnya.

“Aku tidak peduli denganmu, Jung Soojung. Kau telah merebut kebahagian anakku.”

Sooji berhenti melangkahkan kakinya –ia dapat mendengar suara Ibunya dari balik gudang. Kai yang melihat Hyorin sedang berdiri di depan Soojung tak tahan ingin menghampiri wanita paruh baya itu, namun Sooji menahannya. Sooji mengisyaratkan pada Kai untuk tidak tergesa-gesa, karena di sekeliling Hyorin ada dua anak buahnya yang berbadan tegap sedang menjaga sang Ibu.

“Kita lihat dulu apa yang akan dilakukan Ibuku, aku tidak ingin kau habis dipukuli anak buahnya. Arrachi?” Bisik Sooji pada Kai.

Kai termenung. Saat dalam perjalanan menuju kemari, Bae Sooji menceritakan semua yang sedang terjadi –dan parahnya Lee Hyorin adalah Ibu kandungnya. Kai tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Sooji –hatinya berkata jika Sooji tak akan sekejam Ibunya. Tapi –bukan kah selama ini gadis itu tahu apa yang dilakukan Ibunya, lantas kenapa dia hanya diam saja?

Kai menarik nafas dalam. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan Sooji –ia harus menyekamatkan Soojung dan Myungsoo.

Tapi dimana Myungsoo?

“Sebenarnya apa tujuanmu, Kang Minhyuk?”

Cih. Sudah ku bilang –aku hanya mengajakmu bermain, Myungsoo. Tapi kau sama sekali tak membalasku –aku hanya butuh memukulmu untuk kemenanganmu saat kuliah dulu. Anggap saja pukulanku tadi adalah bentuk balas dendamku.”

Percakapan di gudang yang berada bersampingan dengan tempat Sooji dan Kai bersembunyi. Sooji dapan mendengar dengan jelas suara siapa disana.

“Minhyuk?”

Kai melirik Sooji. “Minhyuk –nugu?

Sooji mengajak Kai untuk menghampiri gudang di sebelah –dengan berjalan mengendap-endap.

“Myungsoo, Minhyuk!”

Minhyuk dan Myungsoo melihat ke arah dimana seseorang memanggil mereka.

“Sooji. Bagaimana kau bisa sampai kemari?” Minhyuk menatap pria yang berdiri di samping Sooji dengan kening berkerut.

Plak!

Kang Minhyuk memegang pipinya yang terasa panas. Sooji berhasil menampar pria itu hingga meninggalkan bekas kemerahan.

“Beraninya kau kembali menjadi anak buah Ibuku?!”

Myungsoo meredakan amarah Sooji –karena sangat terlihat jika gadis itu ingin membunuh Minhyuk saat ini.

“Sooji-ya, Minhyuk tak bermaksud menjadi anak buah Ibumu lagi. Dia –hanya ingin membalas dendam padaku, melalui Ibumu. Kami sudah menyelesaikan masalalu kami, Sooji-ya. Tenanglah.”

Kai kemudian meraih pergelanga tangan Sooji agar kembali berdiri di sampingnya.

“Jadi Myungsoo, apa yang harus kita lakukan sekarang? Soojung berada di gudang sebelah –bersama dengan Hyorin. Mereka dijaga oleh dua anak buah Hyorin.”

“Kalian menemukan Soojung? Syukurlah ..”

Setidaknya Myungsoo bisa bernafas lega untuk sekarang.

“Jung Yunho.”

Pria itu menegakkan tubuhnya.

Kim Jae Sook menghela nafas dalam. Pria paruh baya itu menggoreskan tinta di atas kertas yang ada di hadapannya.

“Apakah ini akan berhasil?”Tanyanya.

Yunho hanya duduk dengan tenang di depan Jae Sook. Ia mengangguk, mengiyakan.

“Mudah saja, Ahjussi. Kontrak diantara kedua grup akan dibatalkan setelah kau menandatangani surat pembatalan kontrak itu.”

Kembali pria paruh baya itu melirik kertas yang sudah ditandatangani olehnya.

“Aku tahu jika perusahaanmu yang akan lebih merugi, tapi –aku harap kau memperdulikan hidup anakmu, Ahjussi. Selama ini kau hanya hidup dibalik meja kerjamu. Bagaimana dengan pertumbuhan Kim Myungsoo, apa kau pernah datang ke sekolah untuk mengambil raport miliknya? Perusahaan keluarga kami tentu akan mengalami kerugian juga –tapi kedua orangtua ku dan Soojung akan lebih mengorbankan pencapaiannya demi kehidupan anak-anak mereka agar bahagia.” Ucap Yunho. Tidak ada penekanan atau paksaan dalam nada bicaranya.

“Lalu bagaimana dengan Hyorin, Yunho-ya? Kita tahu jika wanita itu begitu picik. Jika dia mengajukan gugatan untuk menuntutan saham –apa yang harus aku lakukan, sementara kerugian perusahaan yang keluargaku tanggung begitu besar?”

Jung Yunho mengulas senyum.

“Serahkan saja padaku, Ahjussi.” Setelah itu Yunho meninggalkan ruangan Kim Jae Sook –meninggalkan pria itu yang kini mulai termenung.

Suasana ruangannya terasa sangat sepi, Jae Sook merenungkan apa yang diucapkan  oleh Yunho. Bagaimana dulu ia bisa serakah atas pekerjaannya sehingga melupan Istrinya dan Myungsoo. Lee Hyorin kala itu benar-benar membuatnya terjerumus pada hutang-hutang bisnis –meskipun berhasil, tapi jika pada akhirnya seperti ini –Jae Sook benar-benar menyesal.

Jung Soojung terlalu lelah meronta –tubuhnya sudah tidak kuat, terlebih ada jiwa lain di dalam dirinya yang harus ia jaga. Soojung ingin menangis –bukan karena pasrah, Soojung menitikan air mata bersalah atas apa yang telah terjadi sehingga janinnya harus terlibat seperti ini.

Di hadapannya –Hyorin hanya berdiri dengan kedua matanya yang seolah menelanjangi tubuh Soojung. Wanita itu berdecak pelan. “Seharusnya dari awal kau tidak pernah berhubungan dengan Myungsoo, Soojung-ssi. Aku yakin sekarang kau menyesal, pria itu –bukankah kini menjadi petaka untukmu? Mungkin kau tidak akan berada disini jika dulu kau tidak menikah dengan Myungsoo.” Ucapnya.

Mendengar ucapan Hyorin membuat Soojung lebih sakit hati. Setelah memikirkan apa yang dilakukannya pada Myungsoo –yaitu menjauhi pria itu, Soojung kini yakin jika –ia masih mencintai Myungsoo. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada mantan suaminya itu.

Hyorin membuka kain yang membekap Soojung.

“Ada kalimat terakhir yang ingin kau ucapkan, Soojung-ssi?

Soojung tak ingat sejak kapan suaranya mulai merendah. Ia terus berusaha untuk mengatakan sesuatu.

“Jangan sakiti Myungsoo, jebal. Jebal –

“Hentikan, Lee Hyorin!!”

Kekuatan Soojung seperti kembali –ia bernafas dengan tenang. Sosok yang berdiri tak jauh darinya itu membuat senyum terbit dari bibirnya.

Kim Myungsoo ada di sana –di depan matanya, dengan bercak darah di kening dan lebam di sudut bibirnya.

“Myungsoo!”

Myungsoo terseok saat menghampirinya. Namun kedua anak buah Hyorin tak tinggal diam –mereka bersiap untuk menghabisi Myungsoo. Lantas Myungsoo tak mungkin membiarkan kedua pria dengan badan yang besar itu menyentuhnya begitu saja. Myungsoo mengangkat pistol yang diambilnya dari Minhyuk.

“Jangan ada yang mendekatiku –atau peluru dalam pistol ini akan menembus kepala kalian, brengsek!”

Mereka juga memiliki senjata. Sial! Kedua anak buah Hyorin sudah dibekali pistol di balik jaket hitam mereka.

Well, Kim Myungsoo. Kau sudah bertemu dengan Minhyuk rupanya. Bocah bodoh itu sangat tidak telaten untuk menghabisimu, uh?” Seru Hyorin.

Wanita itu berdiri disamping Soojung.

“Kau ingin menyelamatkan wanita ini, Myungsoo?” Tangan Hyorin menyentuh dagu Soojung dan mengangkatnya dengan kasar. Soojung berpaling untuk melepaskan diri.

“Persetan dengan kedua anak buahmu ini, Hyorin. Kau yang akan lebih dulu ku bunuh!”

 

Door!!

Door!!

“ANDWAE!!”

Kim Myungsoo membaringkan tubuhnya diatas rerumputan bukit –yang jaraknya tak terlalu jauh dari sekolah. Matahari menjelang senja hari itu sedikit tertutup oleh awan-awan yang beriak –menggantung di atas langit dengan begitu damai. “Indah” –pikirnya. Disamping tubuhnya Jung Soojung tengah membaca sebuag buku fiksi yang dipinjam saat jam istirahat, gadis itu begitu serius dengan bacaannya.

Myungsoo sangat menyukainya. Ia sangat menyukai suasana seperti ini, menikmati langit sore di atas bukit kecil di belakang sekolah bersama dengan Soojung, gadis yang dicintainya dan baru menjadi kekasihnya selama satu bulan.

“Mau cookies?”

Sesuatu berbentuk bulat dengan permukaannya yang tak datar dan wangi chocochip itu menyentuh pipinya. Myungsoo membuka mata, Soojung sedang menempelkan cookies yang selalu dibawa gadis itu di dalam tas. Lantas Myungsoo tersenyum kemudian membuka mulutnya, minta disuapi. Soojung tersenyum –amat manis, dan Myungsoo benar-benar terpesona.

“Kau membawa buku kemari?”

Myungsoo melirik buku yang baru saja Soojung baca, gadis itu mengangguk. “Aku suka membaca buku, dengan itu aku bisa menghabiskan waktuku tanpa merasa bosan.”

Myungsoo berjengit. “Ohh ayolah, kau sedang bersamaku. Aku tidak ingin diduakan dengan buku.” Bibir Myungsoo mengerucut, ‘lucu’ pikir Soojung.

Soojung terkekeh melihat ekspresi Myungsoo. “Baiklah-baiklah, aku akan menyimpan buku ini.” Myungsoo kemudian duduk disamping Soojung sambil menikmati cookiesnya.

“Soojung.” Panggil Myungsoo.

“Hm?”

Myungsoo mendekatkan dirinya, “Aku selalu kesini, setiap aku merasa sedih.” Ucap Myungsoo sambil terus mengamati awan.

“Jadi –kau sedang merasa sedih sekarang?”

Kepala Myungsoo terjatuh di pundak Soojung. Kedua matanya terpejam, Myungsoo merasa sangat nyaman berada di pundak Soojung saat ini. “Sedikit. Aku –sedikit sedih.”

Soojung mengusap surai Myungsoo dan bertanya dengan perlahan. “Apa yang membuatmu sedih?”

Masih dengan posisinya, kali ini Myungsoo menarik tangan Soojung dan menggenggamnya dengan sangat erat. “Berjanji lah untuk terus mencintaiku –apapun yang akan terjadi di kemudian hari, Jung Soojung.”

Soojung mengangguk pelan. Ia tak yakin jika kalimat itu keluar dari mulut Myungsoo, kenapa kekasihnya ini berkata seserius itu? Tapi Soojung tak ingin membuat Myungsoo lebih sedih lagi jika ia mengatakan tidak, maka Soojung hanya mengangguk. Dalam benak gadis itu ia berpikir jika masa depan mereka masih panjang.

5 bulan kemudian.

 

“Tinggal satu bulan. Apa tidak apa-apa jika kau keluar seperti ini, Jung –ie?

Jung Soojung mengelus perutnya yang sudah terlalu besar. Ini adalah bulan kesembilan, dimana bayinya akan lahir. Tapi Soojung tetap bersemangat untuk berjalan-jalan di luar, pergi ke supermarket, bahkan terakhir kali Yunho mendapati adiknya sedang berbelanja pakaian bayi di Dongdaemun-gu sendirian.

Gwaenchana, Oppa. Aku ingin mengunjungi Sooji di rumah sakit.”

Yunho menggelengkan kepalanya –ia sudah malas menasehati adiknya itu. Ia hanya memberikan pelukan hangat pada Soojung.

Mianhae, aku tidak bisa menemanimu hari ini, Jung –ie. Ahh, perlukah aku meminta Sulli untuk menjagamu selama disana?”

Soojung menggeleng sambil terkekeh. “Tidak perlu, Oppa. Sulli sangat sibuk –aku sudah menelponnya tadi pagi dan dia bilang memiliki jadwal operasi hari ini.”

Yunho kemudian menepuk pundak Soojung. “Keure. Berhati-hatilah, aku tidak ingin keponakanku dalam perutmu itu kesakitan.”

Arraseo.”

Soojung sebal saat flat shoesnya mulai terasa kecil akibat kakinya yang membengkak –dan itu membuatnya kesulitan untuk berjalan. Berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa kakinya itu akan kembali normal setelah ia melahirkan nanti. ‘Gwanchana, Soojung. Sepatumu akan segera muat kembali.’ Pikirnya.

Soojung telah sampai di depan pintu ruangan inap sebuah rumah sakit. Dengan bucket bunga yang dibawanya –Soojung kemudian menggeser pintu rungan inap dengan nomor 402 tersebut.

Bae Sooji terbaring di atas tempat tidurnya dengan mata tertutup dan alat pembantu nafas yang masih dipasang pada hidungnya.

Soojung –seperti telah terbiasa, ia mengganti bunga yang berada dalam vas dengan bunga yang ia bawa.

“Sudah lima bulan, Sooji-ya.” Soojung duduk di samping tempat tidur Sooji, tangan wanita itu mengusap kening Sooji.

Selama lima bulan –setelah kejadian mengerikan yang menimpa dirinya, Myungsoo, dan Sooji. Soojung selalu datang untuk menjenguk Sooji di rumah sakit. Jika bukan karena wanita itu, Soojung tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan Myungsoo.

Malam itu saat Myungsoo akan menyelamatkan Soojung.

Kedua pria yang menjadi anak buah Lee Hyorin menarik pelatuk pistolnya, sehingga suara tembakan itu bisa didengar oleh Soojung dengan sangat nyaring dan menggema. Soojung masih melihat Myungsoo saat itu. Namun saat ia membuka mata –Bae Sooji lah yang terkena tembakan kedua anak buah Hyorin. Sooji tiba-tiba saja ada disana, melindungi Myungsoo dari beberapa tembakan. Setelah itu polisi dan ambulans datang.

Setelah itu juga Sooji dan Myungsoo dibawa ke rumah sakit. Sementara Soojung, Kai, dan Minhyuk dimintai keterangan sebagai saksi dan korban –Hyorin? Jelas ia ditangkap polisi, selain kasus penyekapan, Hyorin pun telah dilaporkan oleh Yunho kepada pihak berwajib atas tuduhan pemalsuan kontrak antara kedua perusahaan besar milik keluarga Jung dan keluarga Kim. Malang bagi Sooji, setelah mendapat operasi pengangkatan peluru yang hampir mengenai ulu hatinya –gadis itu harus koma selama lima bulan.

Sementara Myungsoo ..

“Astaga, Jung Soojung!”

Soojung yang sedang membaca buku mendongak saat seseorang membuka pintu ruangan inap dengan langkah terburu-buru.

“Myungsoo?”

Kim Myungsoo dengan terburu-buru menghampiri Soojung. Pria itu baru saja mendarat dari perjalanan bisnisnya dan langsung datang ke rumah sakit saat mendapat telpon dari Yunho jika Soojung pergi sendirian ke rumah sakit.

“Bagaimana bisa kau pergi sendirian dengan perut seperti ini, Soojung?”

Soojung memicingkan matanya dan menepis tangan Myungsoo dari pundaknya. “Ugh. Kau sama saja seperti Yunho Oppa. Aku baik-baik saja, Myungsoo. Kau tidak perlu khawatir.”

Myungsoo menghela nafas. “Aku mengkhawatirkan anakku, Soojung.”

Soojung merengut, ia kesal pada Myungsoo. “Jadi kau tidak khawatir padaku?”

Myungsoo ingin sekali menggoda Soojung, maka ia tak menjawab pertanyaan Soojung dan langsung mendudukan diri di sofa yang ada di ruangan itu.

“Kau gugup?”

Suara itu mengalihkan fokus Soojung.

“Sama sekali tidak.” Sergah Soojung dengan cepat, suara wanita itu memelan. Sebenarnya –ia sangat gugup. Beberapa jam lagi ia akan memasuki ruang operasi.

Myungsoo mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Soojung –memberikan dukungan sebisa mungkin. Bahkan ia pun merasa lebih gugup dari pada Soojung.

“Jonghyun –bagaimana kau mengenal Choi Jonghyun?”Myungsoo sedikit mengalihkan perhatian Soojung yang sedari tadi mengelus-elus perutnya dengan wajah cemas.

Soojung berpikir sejenak.

“Kau ingat Daniel? Dokter yang menanganiku itu adalah temannya. Aku dikenalkan pada Jonghyun oleh Daniel, waeyo?

Myungsoo menggeleng. “Eopsseoyo, dulu aku –Sooji dan Jonghyun pernah satu sekolah. Jonghyun menyukai Sooji dan beberapakali menyatakan perasaannya, tapi Sooji terus menolaknya. Sooji selalu memintaku untuk jadi kekasih palsunya di depan Jonghyun.”

Soojung megangguk-angguk. “Ahh, jadi begitu. Pantas saja tatapan Jonghyun padamu sangat tidak bersahabat, haha ..”

Myungsoo mengangkat pundak –tak perduli.

“Baiklah, Soojung-ssi. Maaf menunggu lama, kami sudah mempersiapkan ruang operasinya. Apa kau sudah siap?”

Kali ini Soojung yang mengeratkan pegangan tangan Myungsoo. Pria itu membantu Soojung untuk menurunkan sandaran pada tempat tidurnya.

“Hm, Saem –bolehkah ..”

“Jonghyun. Panggil saja Jonghyun. Kita sudah lama saling mengenal bukan, Hyung?

Meskipun tatapan Jonghyun masih sama –begitu dingin padanya, tapi Myungsoo tahu jika Jonghyun sangatlah baik. Myungsoo lantas mengulas seyum. “Baiklah, Jonghyun. Jadi boleh kah aku masuk ke ruang operasi?”

Jonghyun menyelipkan kedua tangannya pada saku baju operasi yang dikenakannya. “Aku rasa tidak, Hyung. Yang berhak masuk ruang operasi adalah suami Soojung-ssi.

Myungsoo membelalakan kedua matanya. ‘Yang benar saja.’ Pikirnya,

“Tapi aku –aku Ayah dari anak yang dikandung Soojung.”

“Aku hanya mengikuti prosedur, Hyung. Soojung-ssi, saat di awal pemeriksaan kandungannya hanya mendaftarkan diri sebagai single parent. Mianhae, Hyung. Kau bisa menunggu di depan ruang operasi –aku janji tidak akan lama.”

Myungsoo melirik Soojung.

“Aku tidak tahu jika akan seperti ini.” Ucap Soojung, wanita itu berpaling dari tatapan tajam Myungsoo.

Ugh. Baiklah –aku menunggu di luar.”

“Bagaimana bisa kau memilih warna pink untuk bayi laki-laki, Choi Sulli?”

Gadis jangkung itu tak memperdulikan gerutuan seseorang yang sedang ikut –atau dipaksa ikut berbelanja baju bayi di sebuah toko perlengkapan bayi dengannya. Ia terlalu sibuk memilih-milih pakaian untuk calon keponakannya. Sebuah keranjang belanja pun telah terisi penuh, namun Sulli masih enggan beranjak ke kasir untuk membayarnya –sepertinya satu keranjang belanja tak cukup baginya. Sulli benar-benar excited dengan kelahiran anak Soojung.

“Choi Sulli, lihat! Disini masih banyak warna untuk bayi laki-laki.”

“Kau bisa diam atau tidak, Kai? Aku sedang mencari baju hangat untuk keponakanku. Lagi pula kau tidak bisa memutuskan bayi perempuan atau laki-laki yang akan dilahirkan Soojung.”

“Aku melihat hasil USG-nya, Nona Choi. Bayinya laki-laki!”

Sulli berdecak.

“Aku juga melihat hasil USG-nya tempo hari, Tuan Kim. Bayinya perempuan!”

“Tidak mungkin! Jelas laki-laki.” Kai seolah tak ingin mengalah pada Sulli.

“Perempuan.” Sulli pun tak ingin mengalah pada Kai. Perempuan itu kini berkacak pinggang di depan Kai.

“Laki-laki!”

“Perempuan!”

Seolma ..

Keduanya terdiam –seolah menyadari sesuatu. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum keduanya sama-sama memekik.

“Kembar!!”

Salah seorang pelayan menghampiri mereka.

“Maaf Tuan, Nyonya. Bisa kah kalian tidak ribut di tempat kami? Pengunjung lainnya merasa terganggu.” Ujar Sang pelayan –yang akhirnya menyadarkan Kai dan Sulli.

“Ohh Maaf. Ini salah kami –kami akan pergi sekarang, setelah membayar tentu saja.”

Kai segera menarik tangan Sulli menuju kasir, mereka harus segera menuju rumah sakit.

Empat jam telah berlalu.

Myungsoo hampir tertidur di kursi tunggu. Lampu diatas pintu ruangan operasi masih menyala. Dalam hatinya Myungsoo selalu bertanya kapan lampu itu akan segera mati. Perasaannya sungguh tak tenang saat harus meninggalkan Soojung sendirian di dalam sana, tak jarang Myungsoo mengeluarkan keringat saking gugupnya.

“Myungsoo.”

Ia mendapati Sulli dan Kai yang baru datang. Sulli mendudukan diri di samping Myungsoo.

“Bagaimana dengan Soojung?” Tanya Sulli.

Myungsoo menggeleng. Kedua tangannya yang saling bertautan menunjukkan kecemasan pria itu. “Sudah hampir lima jam, tapi aku tidak tahu kondisi Soojung. Tak terdengar apapun dari ruang operasi.”

“Soojung pasti bisa melewatinya sendirian, Myungsoo. Percayalah.” Kai mencoba menyemangati Myungsoo. Kai sangat tahu jika Soojung bukanlah wanita yang lemah.

Kreek.

Myungsoo tersentak. Pintu ruangan operasi itu terbuka. Beberapa suster membawa blankar dengan Soojung yang tak sadarkan diri diatasnya. Myungsoo menghampiri suster-suter itu.

“Apa yang terjadi dengan Soojung? Kenapa dia tak sadarkan diri?”

Seorang suster berhenti, membiarkan perawat lainnya mengantarkan Soojung ke ruangan inap.

“Tenanglah. Soojung-ssi baik-baik saja. Dia masih tertidur akibat bius yang disuntikan pada tubuhnya setelah melahirkan. Dia cukup kewalahan, untuk itu dokter menyuntikan obat tidur agar Soojung-ssi beristirahat. Mungkin dia akan terbangun setelah dua jam.”

“Lalu bagaimana dengan anakku?”

“Kau bisa menemui Dokter Choi, beliau sedang membersihkan kedua anakmu.” Perawat itu kemudian meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam. Lutut pria itu seolah lemas, namun ia ingin segera melihat kedua anaknya.

Tunggu, apa yang dikatakan perawat itu padanya barusan?

Kedua anaknya?

Kim Myungsoo segera masuk ke ruang operasi. Disana ia melihat Jonghyun sedang mengawasi kedua perawat yang sedang menggendong satu bayi di dalam gendongan mereka.

“Oh, Hyung.” Seru Jonghyun saat melihat Myungsoo masuk.

Cukkhaeyo, Hyung. Anakmu kembar.”

Myungsoo menghampiri kedua perawat tersebut.

Benar, bayi yang dilahirkan oleh Soojung adalah sepasang anak kembar. Ia sangat bersalah karena tak pernah mengetahuinya. Tapi rasa penyesalan itu kini terbayar oleh rasa bahagia yang menyelimutinya sekarang. Ia terlampau bahagia.

Waktu berlalu begitu cepat.

Jung Soojung menyesap teh hangatnya, ia menikmati waktu sore harinya di balkon apartemennya –apartemen yang ditinggalinya bersama Myungsoo sebelum mereka bercerai dulu. Pemandangan indah di depannya membuat Soojung mensyukuri hidup yang ia miliki. Rasanya dulu tak seindah ini –dimana Soojung hanya menunggu Myungsoo pulang kerja sendirian, begitu sepi dan tak menyenangkan. Sampai ia melahirkan kedua bayi kembarnya yang kini sedang tertidur di baby box mereka, ia tak merasa kesepian lagi.

“Bagaimana dengan afternoon tea-mu, Nyonya?”

Segurat senyum terbit dibibir cantik Soojung saat Myungsoo duduk di sampingnya. Pria itu –masih lengkap dengan stelan kerjanya, ia baru pulang. Dulu Myungsoo akan sangat larut untuk tiba sampai di rumah, namun kini pria itu berjanji untuk pulang lebih awal. Sebenarnya saat Myungsoo sampai di kantor pada pagi hari, tak butuh waktu satu jam baginya untuk merindukan rumah –karena ia selalu ingin melihat kedua anak kembarnya –Soojung juga, ia sangat merindukan Soojung.

“Menyenangkan –sangat menyenangkan bisa kembali ke apartemen ini.” Ucap Soojung, jemarinya menyentuh rambut dan menyelipkannya kebelakang telinga.

Myungsoo menyentuh tengkuknya. “Hm, Soojung.”

“Hm?”

Myungsoo menggeser tempat duduknya agar semakin dekat dengan Soojung. Pria itu meraih kedua tangan Soojung dan menggenggamnya dengan erat.

“Sampai kapan –aku harus menunggu. Myung Jin dan Soo Ah –sebelum mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, bukankah kita harus segera menikah –untuk kedua kalinya?”

Soojung menunduk. Ia tak ingin melihat manik mata Myungsoo yang sedang menatapnya dengan intens. Soojung hanya gugup, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Myungsoo sekarang. Wanita itu beranjak dari tempatnya.

“Aku –harus melihat si kembar, mungkin mereka sudah bangun.”

Myungsoo memandangi punggung Soojung yang mulai menghilang di balik pintu kamar si kembar. Wajah pria itu nampah cerah, ia bahagia. Meskipun Soojung tak menjawab pertanyaannya, tapi Myungsoo sudah tahu pasti apa jawaban atas pertanyaannya tersebut.

Soojung sedang bersenandung pelan sambil menggendong Soo Ah –putrinya yang berpipi gempal, sementara Myungjin –putranya, masih tertidur di boxnya. Soojung memperhatikan wajah kedua buah hatinya kemudian ia tersenyum. “Kalian benar-benar manis. Wajah kalian pun hampir sama –mimpi yang indah, Myungjin-ie, Soo Ah-ya.

Setelah menyimpan Soo Ah ke dalam box bayinya, Soojung kemudian mendapati Myungsoo yang sedang berdiri di ambang pintu sambil bersedakap. Pria itu menghampiri Soojung dan mengusap puncak kepala wanita di depannya.

“Kau terlihat sangat telaten menjaga mereka, Soojung. Kau pasti kelelahan menjaga si kembar.” Ujar Myungsoo.

Aniyo –aku senang.”

Myungsoo menatap lembut kedua mata Soojung, pria itu merasa bahagia. Tatapan lembutnya itu dibalas oleh Soojung. Wanita itu meraih pergelangan tangan Myungsoo dan menggenggamnya dengan erat.

“Myungsoo.” Panggil Soojung. Sudah sangat lama tangan Soojung tak menggenggam tangan Myungsoo seerat ini, perasaannya bercampu –senang dan terharu. Kedua manata Myungsoo masih sangat memikatnya –sama seperti pertamakali mereka bertemu. Soojung mendekatkan dirinya pada Myungsoo.

“Ya?”

Cup!

Myungsoo tertegun akibat kecupan kilat di bibirnya yang dilakukan oleh Soojung, sementara wanita itu berdehem setelah berjinjit untuk mencium Myungsoo.  Untuk sepersekian detik akhirnya Myungsoo tersadar.

“Kau menggodaku, Soojung?”

Soojung terkekeh, meskipun Myungsoo bertanya seperti itu dengan suara yang dalam –menjaga imagenya, Soojung bisa melihat wajah Myungsoo yang memerah dengan sangat jelas.

“Aku tidak sedang menggodamu, tapi mukamu memerah seperti udang rebus, Kim Myungsoo.”

Myungsoo berdecak pelan, ia akan melakukan aksi protes akibat ciuman mendadak yang diterimanya barusan. Pria itu menarik Soojung agar semakin dekat dengannya, lantas kedua tangannya kini tak bertautan dengan Soojung lagi. Tangan Myungsoo sudah merengkuh pipi Soojung –dan Myungsoo memberikan ciuman yang dalam pada wanitanya itu.

Myungsoo akan melepaskan tautan bibir mereka, namun Soojung yang pada awalnya tak merespon –kini membalas ciuman Myungsoo. Tangan Myungsoo kini mulai turun ke bahu Soojung, mengelus tengkuk wanita itu dengan lembut. Soojung merasa sangat nyaman dengan perlakukan Myungsoo, kedua tangannya pun kini sudah melingkari leher pria itu. Mereka mungkin tak pernah sadar sedalam apa ciuman lembut itu yang kini menjadi lebih dalam dan panas dari sebelumnya.

Soojung bisa merasakan tangan Myungsoo yang kini menyelinap kedalam kaus yang dikenakannya, mengelus perutnya yang datar kemudian menjalar ke punggungnya yang halus–ciumannya pun sudah berpindah tempat ke lehernya. Soojung tak memikirkan apapun kecuali apa yang akan dilakukan mereka berdua setelah ini. Kim Myungsoo –mungkin pria itu sudah berpikir untuk membawa Soojung ke atas kasur di kamar utama. Sayang –setelah Soojung melahirkan si kembar, keduanya memang tidur terpisah. Soojung yang menginginkannya karena wanita itu berfikir jika mereka belum menikah –lagi. Bukan kah sekarang adalah waktu yang tepat untuk ..

Suara tangisan bayi dari dalam kamar si kembar terdengar begitu meraung. Soojung segera melepas tautan bibirnya dengan Myungsoo, meninggalkan pria itu yang masih berdiri, menghembuskan nafas berat ke udara. Myungsoo segera menyusul Soojung yang meniggalkannya begitu saja.

“Myungsoo, cepat kau gendong Soo Ah. Aku akan menggendong Myungjin.” Seru Soojung yang terlihat panik, pasalnya kedua bayi itu menangis bersamaan secara tiba-tiba. Si kembar –oh, bagaimana mereka bisa terlihat kompak saat kedua orangtua mereka sedang menikmati fantasi dan bayangan liar bersama.

Myungsoo merengut, ia masih berdiri di dekat baby box Soo Ah. “Ugh. Kali ini kau mengecewakanku, Jung Soojung.” Ujar Myungsoo sambil menggendong Soo Ah dengan hati-hati.

Soojung ingin tertawa melihat raut wajah Myungsoo.

Mereka berdua larut dalam keheningan, sementara si kembar sudah kembali tertidur. Setelah Soojung meletakan Myungjin di dalam box, ia lantas keluar kamar dan menyusul Myungsoo yang sudah duduk di depan tv. Soojung mendudukan diri di samping Myungsoo.

“Apa kau lapar, Myung?” Tanya Soojung.

Myungsoo mengangguk. “Sedikit. Kau akan memasakan sesuatu untukku?” Kedua mata Myungsoo menatap Soojung dengan penuh harap. Sementara Soojung hanya tersenyum kemudian mengangguk.

“Bagaimana jika pasta untuk makan malam?”

“Baiklah. Aku menunggu pasta buatanmu.”

Soojung hendak akan berdiri, namun Myungsoo meraih pergelangan tangannya.

“Waeyo, kau ingin makan yang lain?” Soojung kembali terduduk.

Myungsoo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak kecil berwarna merah beludru kini ada di hadapan Soojung. Myungsoo membuka kotak itu, disana terdapat sepasang cincin yang sudah sangat Soojung kenal –cincin pernikahan mereka dulu.

“Myungsoo?”

Myungsoo mengeluarkan salah satu cincin dari dalam kotak itu, memasangkannya di jari manis Soojung. “Aku tak ingin mendengar penolakan darimu, Jung Soojung. Menikahlah –lagi denganku besok.”

Soojung tersenyum sangat manis kemudian memeluk Myungsoo, kedua matanya pun menitikan air mata tanpa ia sadari. Ia terharu –atas apa yang terjadi pada pernikahannya dulu, dan kini semua kejadian pahit itu sudah ia lewati bersama Myungsoo. Soojung berjanji pada dirinya sendiri, sepahit apapun masa yang akan ia lewati –ia akan tetap tegar, karena Myungsoo berada disisinya.

 

You can hate it, you can force it, but love –is everything you need.

The End.

Marriage Proposal

start; 15 November 2015
end; 23 Juli 2016

Akhirnya selesai juga pelunasan ff yang tadinya mau dibikin 10 episode, tapi harus aku ending di ep. 7. Kenapa? Karena honestly  di ep ini aja mereka udah mulai hidup bahagia /i’m so excited/ Yaps! Please tinggalin komen apapun di episode terakhir ini, karena episode ini jadi penentu buat aku post epiloge sama sequel dari Marriage Proposal :’)
Hmm, jangan tanya kenapa alurnya sangat kecepetan. Karena -yaps, feelku cuma nyampe disini aja. Failed? Banget kalo aku bilang, tapi ada unsur kesengajaan disini, makanya aku buat MP selesai sampai disini.

Big thanks buat reader semua yang udah setiaaaa banget buat nungguin ff ini sampe selesai; baik yang udah perhatian sama ff absurd ini lewat komen-komen kalian, (sorry karena di ep kemaren komennya belum aku bales :’), buat sider yang hmm aku harap di next project ff ku kalian bisa meninggalkan jejak, kalian dabestt!! Semoga kalian tetep betah nongkrongin MYUNGSOOJUNG disini. Daaan terakhir, thanks untuk photoshop yang udah bantuin aku bikin poster buat ff ini (apalah dayaku jika tak ada kau/gilaak/jangan dianggep) 

Sampai jumpa di next project ff ku selanjutnya😉
Annyeong!

17 responses to “[CHAPTER] Marriage Proposal (Last Episode)

  1. aaaaaaaaaaaaaa akhirnya setelah sekian lama ku menunggu ini ff akhirnya keluar juga keundae bener uni udah end sampai sini aja -__- ahh sayang ~___~ tapi apalah daya aku karena sebagai readers aja wkakwk ditunggu epilognya yah😀

    • “aaaaaaaa akhirnya ..”
      jujur aku seneng banget ada yang komen kaya gini, beneran deh *hukseu* maafkan aku yang cuma bisa kasih segini gininya buat last ep :”) karena yaaa, pas nulis ep ini tuh aku malah kepikiran buat bikin ff myungsoojung yang lain..
      well untuk epilog, mari saksikan respon yang lain soal ep terakhir ini. kalo responnya *ekhem* lumayan, mungkin aku bisa cepet ngepos epilognya😀

      • epilognya mungkin bakal aku post akhir agustus -semoga bisa tepat waktu ya /.\ soalnya masih sibuk bimbingan ..
        daaannn aku sebenernya gak bisa bikin enceeh kaaakk, tolong dakuu >,<

  2. Ya ampun thor akhirnya 😢 Tau gak sih thor, bolak-balik nongkrongin wp ini cuma mau tau, ini ff udah dipost apa belum dan BOOM! Finally! 🎉 #curhatdikit
    Tolong dong dong thor, ngepostnya jangan lama-lama, hayati terlalu haus akan belaian MyungStal 😂
    Dan itu, si MyungStal gagal NC 😂😢 *serius baca, taunya…. 😂🔫

  3. yaampun jangan panggil thor ahh, aku gak bawa palu😄
    makasih loh udah perhatian sama ff ini, super terharu :”)
    maaf ya kalo ngepost suka lama-lama gitu, gak maksud kok *deep bowing*

    “Dan itu, si MyungStal gagal NC 😂😢 *serius baca, taunya…. 😂🔫”
    janganlah serius2 bacanya, nanti gak sesuai ekspektasi(?) dan satu lagi …… karena aku gak bisa bikin NC T_____T

  4. Haloo aku reader baru, 00 line. Baru sempet komen disini nih. Ada epilog? Di tunggu banget. Semangat ya!

  5. Haiiii adek. Aku sangat sangat sukaaaa sama karya kamu… feel nya dapet banget. Aku bisa senyum2 sendiri dan nangis baca cerita kamu dari awal sampek ending. Bener bener karya yg bagus. Tapi maaf sebelumnya saya mau koreksi sedikit. Operasi caecar itu hanya kurang lebih 1 jam ya dek. Kalo bayi kembar kurang lebih 1 setengah jam. Dan selebihnya pasien setelah operasi akan stay di kamar operasi sampai kondisi stabil. Itu jg kurang lebih 1 jam. . Selebihnya cerita kmu kerennn bgtttt… aku tunggu karya karya kmu yg lain yaaaa… 😘

  6. Aku sering bolak balik buka ini buat liat kmu udah update marriage proposal apa belum … O iya. Aku berharap banget kmu buatin sequel ff ini. Heheh. Atau kmu post ff myungstal yang lain. *myungstal hard shipper.*. Dan Menunggu NC yang gagal dilanjutkan itu. Hihi 😅.

    • haloo Kak Tyas, salken yaa🙂
      makasih loh udah baca ff absurdku ini :”)
      makasih juga loh buat info dan koresksinya, it’s help meeh so much ^^ doakan semoga epilognya aku pos cepet ya kak, untuk sequel nanti aku pikirkan lagi hehe..

  7. Anyyeong ! wah..aku udah nunggu dari lama bangett,pantengin web ini akhirnya mariege proposal update juga,
    sukaaa banget, dari awal sampe akhir, feelnya kerasa, dari segi alur indah banget dan bahasamu mudah dimengerti ^^
    sequel ya , ditunggu🙂
    jiwa myungstal shipper tak terkalahkan ini !!

    • Haloo~
      makasih loh udah mau baca mp sampe akhir, padahal di beberapa ep banyak ngawurnya :’)
      sampai ketemu di epilognya ya ^^

What Do You Think? Write Down Here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s